Kaliandra, reconjuct the Asia Pacific Civilization


http://bopswave.googlepages.com/indonesiaflag.jpg Bahasa Indonesia

“Campursari music is a way for Javanese traditional music to survive in the modern world”, I heard someone said that once. Campursari is a new music genre in Indonesia, combining traditional music instruments with modern ones, and this new music seems to blend very well. I Agree with what I heard. Traditional architecture can also be presented in modern world, to have a continuation. Kaliandra is a cultural area with a vision; “The creation of self-sufficient, civilized and sustainable human being” (hopefully I have translated this well). The concept of Kaliandra seems like the concept of old time European land owner, with the workers work in the land, but in this case in a very way of humanity. Kaliandra website is www.kaliandrasejati.org




This is one example when local development can appear in a smart environmental paradigm. Along with the realism of local and traditional architecture, local society development can produce many benefit, for the surrounding society as job creations, Indonesian (and international) society as a way to comprehend culture, and for the owner of the organization to support the activities inside Kaliandra

It would be unfair for me only to mention Kaliandra as one example inside this article to support one thought that Nusantara is a territorial part of bigger civilization around Asia Pacific. Kaliandra is just one example of many examples around Indonesia, that if we are willing to learn more about the many culture in each part of Nusantara, is a chain of pearls and diamonds of plural and similar civilization in Asia Pacific.

In a more contemporary design, Kaliandra brings back the glory of Javanese (precisely East Javanese) architecture in buildings considered as connected to ancient civilization.


Established in a new order, the landscape concept of Kaliandra was inspired by the glory of ancient East Javanese architecture

Tradition can be stopped if there is no regeneration. It’s a good news that East Java tradition still exist in the mind of east javanese people, especially they who live in villages. The culture can be traced back from the past. Different from the life in the modern cities in East Java, where modern civilization takes a big part in the life of its society intensely. Love for local culture for East Javanese society that is not really touched by modern civilization is still enormous and becoming their flesh and blood.

Traditional architecture is known to be used in daily life by the society because it has an appropriate context to their life. It is because architecture is near to their daily life, life philosophy and their daily habit, traditional architecture is used. If it is appropriate to their daily life, traditional vernacular architecture will be abandoned. Unless for monumental architecture where philosophy and values are preserved, like architecture in keraton (Javanese royal palace). While modern architecture is used by societies which are open to culture from modern people, like TV, media, and others.

Kaliandra’s concept as developer of local societies is a good example for contribution of investors to the society, not only in cultural aspect, bt also in intellectual and economical development. In Kaliandra, societies are involved in many occasions as operational workers, frequently Kaliandra host seminars for local communities and certain professions. Zuraida (in [Ref. 3]) argue that developing city is not only making benefit for the local village, but also for the intellectual level of them, because with higher economic level, it is possible that the education will be higher, too. In other condition, other local communities with their specific potential are in the same chance to develop this kind of concept. Like developing village of crafters, seaside villages, agrobusiness and agrowisata, with the system involving society to higher their capabilities in economy, social and culture.

Traditional Javanese Architecture (and Nusantara) as a part of world’s civilizations.

Modern architecture evolved in a different way of traditional architecture, because each has different root, that modern way of life can be different from way of life of societies that is still holding their tradition. There is a traditional house in Indonesia that has no window, which from modern perspective will be considered as unhealthy house. In this case, the house was made without windows, indeed, because the interior is only used at night and to keep save the owner’s treasury like jewels, vehicles, even animals. Traditional architecture in this kind of manner can not be considered false from government’s recommendation about healthy houses, for instance, because of different contexts.

Below is the diagram of Javanese civilization

http://astudioimages.googlepages.com/javanese-architecture-diagram.JPG


THIS PART IS NOT YET TRANSLATED:

Sejarah Jawa Timur menunjukkan dinamisme dalam kehidupan bernegara yang ada dalam kerajaan-kerajaan masa lalu, yang menyebarkan tradisi lokal Jawa Timur ke berbagai daerah, serta mendapatkan pengaruh dari banyak daerah lain di Nusantara, Asia Pasifik, dan dunia. Arsitektur candi di Jawa Tengah patut disimak, karena arsitektur Jawa Tengah berkembang lebih dulu daripada Jawa Timur. Peradaban di Jawa berkembang dengan pengaruh India dengan agama Hindu – Budha dimana dari perkembangan ini terjadi suatu peradaban yang sangat terorganisir; kerajaan-kerajaan besar.

.
Candi Dieng di Jawa Tengah, Indonesia.
Sumber gambar: http://www.ecesty.cz/cestopisy/1998cks/obrazky/indonesie/ri_dieng_chramy.jpg

Mengambil contoh arsitektur candi Dieng (ini berada di Jawa Tengah), dengan bentuk candi punden berundak (candi dengan hierarki depan – belakang, bagian belakang lebih tinggi), candi ini memiliki relief yang bila diperhatikan, akan menunjukkan sesuatu fakta sejarah. Reliefnya menunjukkan frame konstruksi kayu, yang menggambarkan bahwa konstruksi kayu adalah jenis konstruksi yang sangat penting dan banyak digunakan waktu candi ini dibuat (sebuah hal yang luar biasa; bangunan berkonstruksi batu yang menggambarkan konstruksi kayu), berbeda dengan candi di India yang hingga abad kesepuluh tidak menunjukkan arsitektur kayu. Hal ini menunjukkan arsitektur candi di Indonesia tidak sepenuhnya diimpor dari India. Sistem konstruksi yang digunakan adalah berasal dari India, namun arsitektur lokalnya berbeda, memiliki gaya tersendiri. Sama seperti saat ini dimana kita mengimpor sistem konstruksi modern yang banyak berasal dari luar negeri terutama dari Belanda, arsitektur masa candi mengambil teknologi konstruksi dari India dan mengembangkan gaya arsitekturnya sendiri. Hal ini mengukuhkan bahwa Jawa tidak terlalu ‘silau’ dengan kebudayaan yang datang dari India, melainkan mengembangkan diri sesuai karakter lokal yang ada.


Gambaran arsitektur kayu dalam arsitektur konstruksi batu di candi Perwara, Plaosan, Jawa Tengah.
Sumber: [Ref. 4]


Bangunan-bangunan berkonstruksi kayu yang ada di relief candi Borobudur, Indonesia. Menunjukkan konstruksi rumah panggung yang di Jawa tidak populer, namun di pulau-pulau lain populer seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lain-lain, menunjukkan dikenalnya peradaban dari wilayah Nusantara lainnya di Jawa pada waktu Borobudur didirikan.
Sumber gambar; [Ref. 4]

Keunikan bangunan candi juga dapat diambil dari tipologi bangunan candi yang unik dan memberi gambaran hubungan dengan bangsa lain di masa lalu. Candi Sukuh adalah candi yang cukup unik juga di Jawa Tengah, bahkan sangat unik karena jenis arsitektur yang digunakan tidak lazim terdapat di Jawa ataupun India. Candi ini berbentuk piramid terpancung.


Candi Sukuh di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Sumber gambar: http://www.tournonsensemble.com/indonesie/indonesie_photos.htm


Piramid Kebudayaan Maya, Amerika Selatan
sumber gambar; http://www.whitebison.org/magazine/2003/volume4/images/vol4no21/photo1.jpg

Dari sisi bentuk, arsitektur candi ini tidak dapat ditemui di mana saja di Nusantara dan Asia, namun hanya ditemukan di bangunan-bangunan tua di Amerika Selatan. Hal ini merupakan suatu hal yang dapat menunjukkan kemungkinan kuat adanya hubungan antara Jawa dengan Amerika selatan jauh di masa silam. Selain itu bentuk patung-patungnya juga hampir mirip (bentuk estetika patungnya mirip). Bentuk patung dan relief dengan proporsi patung ‘tak lazim’ juga ditemukan di berbagai kebudayaan, antara lain; Jawa, Timur Leste, Batak, Kalimantan, Minahasa, dan sebagainya dimana hal ini menunjukkan kemungkinan pernah terjadinya hubungan budaya antara berbagai peradaban tersebut. Banyak peninggalan berasal dari masa megalithikum (peradaban batu besar). Patung-patung ini tentunya memiliki estetika yang tidak sama dengan patung-patung di Eropa.


Relief Candi Sukuh, Solo, Indonesia

sumber gambar; http://www.geocities.com/javakeris/kerisologi.htm


Patung-patung di Candi Sukuh, Jawa Tengah; estetika patung yang ‘tak lazim’ yang mirip dengan patung-patung dari kebudayaan Maya Inca, di Amerika Selatan.

Sumber gambar; blontankpoer.blogsome.com


Dua estetika berbeda; timur dan barat. Patung Durga dari kerajaan Singhasari (Malang, Indonesia) yang sekarang ada di Belanda, dan patung hiasan di gedung opera di Paris. Yang satu berlandaskan kepekaan dimensi kosmologis metafisik, yang lain berlandaskan realisme estetika erotisme fisik.
Sumber; Wasthu Citra

Kata ‘Rumah’ adalah kata yang menarik dipandang dari sisi penggunaan kata ini oleh berbagai peradaban disekitar Asia Pasifik. Dalam bahasa Jawa, Rumah adalah o-mah. Di Nias disebut o-mo, di Batak disebut huma, di NTT disebut u-me. Di kepulauan Pasifik sebutan untuk rumah banyak memiliki persamaan, seperti amo, oma. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban Jawa adalah sebuah bagian besar dari peradaban Asia Pasifik, dimana Nusantara menjadi area sirkulasi yang sangat padat di masa lalu sebagai penghubung antara Mesir dan Asia Pasifik.

Untuk melihat kemiripan estetika hasil budaya di Nusantara dan salah satu kepulauan di Pasifik, kita bisa melihat contoh dari Papua dan kepulauan Easter.


Salah satu patung modern di Papua, terlihat estetika patung ‘tak lazim’ yang masih dipelihara hingga saat ini. Bandingkan kemiripan estetika ini dengan patung di kepulauan Easter dibawah ini.
Sumber foto: http://www.papuaweb.org/gb/foto/muller/ecology/05/index.html


Patung-patung dari jaman Megalith di Easter Islands, Pasifik. Jenis estetika ‘dunia Timur’.

Kata lain yang dapat menunjukkan yang disebut ‘kata yang menggambarkan persatuan peradaban Nusantara adalah kata Ratu dalam bahasa Jawa, Datu dalam bahasa Melayu (atau Datuk), Ratu dalam bahasa Fiji, dan semacam itu yang digunakan dalam peradaban sekitar Asia Pasifik, serta masih digunakan di Jawa [Ref. 8]. Peradaban ini dalam sejarah linguistik disebut sebagai Austronesian, yang merupakan wilayah penyebaran bahasa Astronesian yang tersebar, dari Asia ke Pasifik [Ref. 9]. Bahkan pada 1500 AD, Austronesian telah mengambil bagian dari hampir separuh dunia dalam perkembangan tutur bahasa, dari Madagaskar hingga kepulauan Easter. Tak heran bila dalam perkembangan itu juga berbagai budaya saling bersentuhan dan ditularkan. Indonesia berada dalam arus lalu lintas yang menghubungkan Asia dan Pasifik, tentunya pengaruh yang datang ke Indonesia tidak hanya dari Asia Tenggara saja, namun juga dari Kepulauan Pasifik, Micronesia, India dan wilayah-wilayah lain dalam area ini.

Tidak mengherankan pula bila Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat kaya, karena merupakan bagian dari peradaban Asia Pasifik. Disamping itu, faktor sedikit terisolasinya pulau-pulau mencetuskan kebudayaan masing-masing daerah yang sangat unik dan beragam, serta memiliki karakter kuat untuk masing-masing daerahnya. Perkembangan Austronesia menurut tumpang-tindihnya kebiasaan (overlapping behaviour) bertutur bahasa memang tidak bisa dengan mudah dikaitkan dengan penyebaran budaya, namun ada kaitan yang sangat erat antara penyebaran dan percampuran bahasa dengan kemungkinan penyebaran budaya yang dapat terjadi seiring hal tersebut. Perkembangan ini diindikasi telah berlangsung dalam 6000 tahun, sejak jaman sebelum sejarah [Ref. 8].


Akar budaya Nusantara, berakar dan berhubungan dengan India, Asia, Nusantara, Australia, Mikronesia, dan lebih jauh; Amerika Selatan.

Dalam contoh lingkup yang dibahas dalam artikel ini, arsitektur rumah di Jawa Timur mengalami banyak perubahan. Pada dasarnya arsitektur rumah dan bangunan lainnya adalah arsitektur kayu, dimana menurut relief candi-candi di Jawa, adalah bangunan yang mendominasi di tanah Jawa, dan Nusantara pada umumnya. Arsitektur kayu adalah arsitektur dengan bahan dasar dasar dan konstruksi kayu, sedangkan arsitektur batu seperti arsitektur Eropa dan candi-candi di Indonesia dan India dibuat dari konstruksi massa (mass construction) berbahan dasar batu. Arsitektur rumah memiliki banyak jenis rumah berdasarkan bentuk atapnya. Ada rumah Tajug, Rumah Kapung (bukan Kampung), Rumah Limansap (bukan Limasan), Joglo, dan sebagainya. Menurut Prijotomo [Ref. 1], Joglo adalah tipe bangunan yang termuda, karena joglo tidak pernah digambarkan dalam candi-candi di Jawa. Hal ini menunjukkan arsitektur Joglo yang sekarang masih ada di Jawa Timur dan Jawa pada umumnya merujuk pada ‘tren’ arsitektur Jawa termuda, yaitu joglo. Joglo yang banyak di Jawa ternyata tidak hanya berada di Jawa melainkan juga di daerah-daerah lain di Nusantara, seperti di Sumba, Lombok, dan lain-lain. Bentuk joglo di Sumba dan Lombok sudah ada sebelum abad ke-15 sehingga hal ini menunjukkan hubungan antara Jawa dengan Indonesia Timur, dimana arsitektur Joglo boleh jadi ‘terinspirasi’ oleh arsitektur dari wilayah Indonesia Timur tersebut.


Joglo khas Sumba

sumber gambar; http://bp2.blogger.com/_aojIvnG7-SA/RrLpc2DvQOI/AAAAAAAAABU/rbhAj3lMQ6E/s1600-h/rmh+sumba.jpg

Melestarikan tradisi arsitektur dalam konteks baru di jaman modern
Dalam hal ini berarti turut serta melestarikan rentetan peradaban arsitektur di sepanjang Asia Pasifik, dalam lingkup kecilnya; budaya lokal Jawa – Nusantara yang menjadi bagian dari peradaban yang lebih besar. Kelangsungan ini menunjukkan tidak terputusnya tradisi, dapat dipelajari di masa depan sebagai ‘menghadirkan kembali kejayaan masa lalu’ seperti halnya kelahiran kembali peradaban Eropa di masa Renaissance. Bentuk Joglo dipakai dalam sebagian bangunan di Kaliandra, dimana bentuk ini merupakan ciri khas bangunan Jawa Timuran yang dibuat dengan konstruksi dan konteks modern.


Pendopo di bagian depan kawasan


Pendopo dan landscaping di area depan Kaliandra


Pendopo bagian ‘atas’ kawasan


Arsitektur kayu di Kaliandra, berhubungan atau terinspirasi dari arsitektur khas Jawa lainnya, seperti seperti bangunan di keraton Jogja.


Digunakannya batu-bata sebagai pelapis dinding dan lantai mengingatkan kita pada arsitektur candi peninggalan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur

Kaliandra memiliki keunikan dalam bangunan-bangunannya, dimana selain tradisi arsitektur lokal Jawa dihadirkan dalam bentuk bangunan, terdapat pula pengaruh arsitektur Eropa yang hadir dalam ornamentasi dan detail bangunannya. Bahkan terdapat pula arsitektur bangunan yang ‘sangat Eropa’.


Bangunan-bangunan yang ‘sangat Eropa’ di Kaliandra.

Akulturasi


Akulturasi dalam bangunan ini saja; sistem konstruksi modern, tata nilai arsitektur Jawa, patung bentuk ‘tak lazim’ dari kebudayaan primitif banyak peradaban di seluruh dunia, patung tembikar gaya eropa diatas kolom-kolom bata candi Trowulan.


Patung tembikar di Kaliandra, yang sudah agak meninggalkan ciri khas patung estetika ‘tak lazim’ dari dunia timur, menuju ideal barat.

Sketsa

(Probo Hindarto)

***

REFERENSI

Materi Seminar
[1] Materi seminar ‘Arsitektur Jawa Timuran’ oleh Joseph Prijotomo, 15 Desember 2007; “‘Sejarah’ dan Perkembangan Arsitektur di Jawa Timur – Tantangan untuk Re-orientasi Pemahaman”

Buku
[2] Ismunandar. Joglo, 2007. Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Penerbit Effhar, Semarang.
[3] Silas, Johan, dkk. 2000. Rumah Produktif, dalam dimensi Tradisional dan Pemberdayaan. UPT Penerbitan ITS, Surabaya.
[4] Atmadi, Parmono. 1988. Some Architectura Design Principles of Temples in Java; A Study through the Buildings Projection on the Reliefs of Borobudur Temple. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
[5] Mangunwijaya, 1992. Wasthu Citra. Penerbit Gramedia, Jakarta.

Foto-foto
[6] Perjalanan ke Kaliandra, 15-16 Desember 2007. Seluruh foto oleh Probo Hindarto, kecuali disebutkan sumber lainnya.

Sketsa-sketsa
[7] Sketsa Probo Hindarto, Desember 2007

Web
[8] http://epress.anu.edu.au/austronesians/austronesians/mobile_devices/ch15s03.html
[9] http://en.wikipedia.org/wiki/Austronesian


EXTERNAL LINKS:


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s