Arsip Bulanan: September 2010

Mengatasi Kerusakan Rumah Tanpa Tukang

astudioarchitect.com Sebuah rumah, seiring dengan waktu tentunya juga bisa mengalami kemunduran kualitas, kerusakan baik kecil maupun besar. Adakalanya kita memiliki waktu untuk memperbaiki sendiri kerusakan tersebut, namun adakalanya kita tidak mengetahui bagaimana mengatasi kerusakan rumah tanpa tukang. Buku ‘Mengatasi Kerusakan Rumah Tanpa Tukang’ ini ditulis oleh Danang Kusjuliadi untuk membantu Anda dalam mengatasi kerusakan rumah dengan usaha sendiri (tanpa tukang), mungkin bisa menjadi aktivitas menarik bagi Anda di akhir pekan atau saat sedang ada waktu luang.

Kutipan: Kerusakan Ringan, Mudah Diperbaiki. Tidak semua kerusakan pada rumah diakibatkan oleh kesalahan konstruksi yang tentu saja rnembutuhkan penanganan yang cukup berat. Ada kalanya kerusakan rumah hanyalah berupa kerusakan-kerusakan ringan.Termasuk dalam kerusakan ringari dimulai dan yang berwujud keretakan sampai dengan yang berwujud kebocoran. Kerusakan-kerusakan ringan ini bisa terjadi di setiap bagian dalam rumah tinggal baik pada Iantai, dinding, penutup atap, serta beberapa lokasi yang lain.
o Kerusakan ringan pada lantai biasanya berwujud lepasnya keramik dan spesi (adukan semen sebagal perekat di bawahnya), rontoknya nat keramik, atau keramik yang kopong.
o Kerusakan ringan pada dinding biasanya berwujud dinding retak, dinding rembes, hingga plesteran dinding rontok.
o Kerusakan ringan pada atap blasanya berwujud kebocoran, balk pada penutup atap, nok/wuwungan, talang air, ban-banan, atau pun kebocoran pada dak beton.
o Kerusakan nngan pada plafon seperti plafon lepas, retak, atau berlubang,
o Kerusakari ringan pada cat seperti cat mengelupas, menggelembung, menjamur, ataupun belang-belang,
o Kerusakan ringan pada Instalasi air seperti kebocoran pada pipa, keran air, bak mandi, sampai dengan kasus mampetnya wastafel atau bak cuci.
o Kerusakan ringan pada pintu dan jendela biasanya berwujud pintu seret ketika dibuka, pintu/jendela berderit, atau kunci pintu rusak.
o Beberapa kerusakan ringan pada rumah tinggal di atas bisa muncul akibat beberapa faktor, antara lain
o faktor kondisi cuaca,
o kualitas bahan bangunan yang kurang baik,
o kesalahan pada saat pelaksanaan pembangunan rumah,
o kesalahan pada saat finishing.
Kerusakan-kerusakan ringan di atas termasuk kerusakan-kerusakan yang tergolong mudah untuk diperbaiki. Mengapa kerusakan-kerusakan tersebut mudah diperbaiki? Ada beberapa
alasan, di antaranya ialah
a tidak berhubungan dengan sistem struktur maupun konstruksi bangunan,
a volume kerusakan relatif kecil, tidak terlalu besar dan tidak terlalu luas.
a bisa diatasi dengan cepat praktis. dan kuat.

Menjadi tukang di rumah sendiri tentunya bisa menjadi cara untuk memperkecil biaya dalam memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil dalam rumah kita. Simak bukunya dibawah ini (di blog astudioarchitect.com)

http://books.google.com/books?id=3CGkNDa8pbkC&lpg=PP1&dq=rumah&pg=PP1&output=embed

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bahan material lama dari bongkaran rumah yang bisa dipakai lagi

astudioarchitect.com Merenovasi rumah seringkali membuat kita mengeluarkan banyak biaya, apalagi bila kita merombak keseluruhan bangunan, meskipun demikian ada cara yang bisa Anda pertimbangkan untuk memperkecil biaya pembangunan, yaitu menggunakan bahan material dari bangunan lama untuk digunakan kembali. Beberapa bahan material memang bisa digunakan kembali seperti kayu, besi, batu kali maupun kusen.

Cara ini tentunya menghemat biaya, bahkan kita bisa menanyakan pada rumah orang lain yang sedang dipugar atau direnovasi, barangkali bersedia untuk menjual material bekas rumah dengan harga murah. Kadangkala bila beruntung, kita bisa memakai kusen jati lama yang masih bagus, atau besi dan kayu lainnya, baik untuk bekisting maupun keperluan lainnya.

Bahan besi termasuk material yang bisa dipakai kembali karena besi bisa dipotong dan dipakai untuk begel atau kolom untuk ukuran yang panjang. Material kayu atap dari bagian bagiannya bisa digunakan kembali seperti gording, usuk, reng. Material batu kali dari bongkaran pondasi bisa dipakai ulang untuk membuat pondasi baru karena batu tidak berubah bentuk. Untuk dinding, bila masih bagus bisa dipertahankan namun bila berjamur, berlumut atau lembab maka perlu diperiksa biasanya tidak terdapat sloof atau tembok trasraam di bagian bawahnya. Kita bisa menambahkan lapisan trasraam untuk tembok yang lembab dan melapisi dengan cat yang tidak tembus air (jenis watershield, wheathercoat, dan sebagainya).

Dengan cara-cara ini diharapkan merenovasi bisa lebih rendah biayanya dengan cara memakai material lama.

________________________________________________

by Probo Hindarto © Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

Feng Shui Rumah Tinggal Hoki

astudioarchitect.com Sebagai orang timur, tak jarang kita menemui (atau bahkan kita sendiri) menyukai saran-saran yang diberikan oleh ahli Feng Shui tentang rumah kita. Saran yang diberikan dipercaya bisa menghindarkan kita dari berbagai kesusahan, musibah, dan bisa membuat kita percaya diri dalam mengarungi hidup karena sudah sesuai dengan Feng Shui. Bila Anda menyukai dan menggunakan prinsip-prinsip Feng Shui, ada baiknya Anda membaca buku ini sebagai referensi Anda, buku berjudul “Feng Shui; Rumah Tinggal Hoki” yang ditulis oleh Koh Wang Hen Hau.

Kutipan: Pnnsip dan Bagian-bagian Terpenting Feng Shui Rumah Tinggal
Berikut mi diuraikan prinsip dasar dan bagian-bagian terpenting dan Feng Shui terhadap rurnah atau bangunan, sesual dong in garis besarnya, sehingga Anda bisa rnernperoleh gambaran yang Iebih jelas dan Iengkap.
1. Rumah yang dibangun di puncak gunung atau di mulut lembah, pengaruhnya buruk.
2. Rumah yang dibangun di sudut atau di persimpangan jalan, memiliki pengaruh yang sangat buruk.
3. Di bagian barat bangunan ada jalan raya, pengaruhnya sangat balk.
4. Di depan atau muka pintu tumbuh pohon besar, pengaruhnya buruk.
5. Di bagian barat bangunan atau rurnah turnbuh pohon, pengaruhnya sangat balk.
6. Putra putri pemilik rumah tinggal di bangunan lain, tapi masili termasuk ke dalani bidang tanah yang sama, pengaruhnya buruk.

7. Memperbaiki rumah yang dihuni wanita hamil, pengaruhnya bunik.
8. Tanah di bagian belakang lebih tinggi dari depan rumah, pengaruhnya baik.
9. Bila ada tanah bergelombang di timur laut dan barat daya dan bangunan atau rumah, pengaruhnya buruk.
10. Bila ada tanah lapang di selatan rumah atau bangunan pengaruhnya baik.
11. Bangunan atau rumah yang berbentuk segitiga, pengaruhnya buruk.
12. Membangun kamar yang besar di rumah yang sempit, pengaruhnya buruk.
13. Membangun gedung yang tinggi/bertingkat di tanah yang lembab atau bekas rawa, pengaruhnya buruk.
14. Menanam pohon yang cepat tinggi di halaman rumah, pengaruhnya buruk.
15. Menanam pohon dan meinbangun kolarn di ruang tengah, pengaruhnya buruk.
16. Halaman rumah penuh dengan batu koraL pengaruhnya buruk.
17. Saluran air got dan kontrolnya berada dalam bangunan, pengaruhnya huruk.
18. Tembok halaman yang terlampau tinggi, pengaruhnya buruk.
19. Tembok luar yang hampir menempel dengan rurnah, pengaruhnya buruk.
20. Sedikit orang menghuni rumah yang luas, pengaruhnya buruk.
21. Rumah kecil sederhana, dihuni banyak orang, pengaruhnya baik.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Desain eksterior dan interior rumah dengan tema warna putih

astudioarchitect.com Warna putih bila diaplikasikan pada tampilan eksterior (luar) bangunan rumah akan sangat dominan, sehingga efek kaku dan dingin begitu terasa. Rumah yang berwarna putih sekali tidak direkomendasikan untuk eksterior rumah, karena bila panas matahari menimpa ia akan terlihat terlalu cemerlang dan menyilaukan. Warna putih bisa diaplikasikan pada tampilan depan rumah tapi tidak semuanya warna putih, mungkin bisa digabungkan dengan warna abu-abu, krem, atau warna material seperti warna kayu dan batu alam. Warna apapun terlihat berbeda bila disandingkan dengan warna putih. Terutama warna hitam yang bisa ddapatkan dari warna batu alam, bisa menetralisir warna putih agar tidak terlihat monoton. Selain itu warna putih bisa diaplikasikan ke bagian lain seperti kusen, kolom, lis profil, atau pada aksen material seperti batu tempel. 

Warna putih sesuai bagi orang yang menyukainya, tapi bila tidak menyukainya, adakalanya putih terlihat terlalu dingin, ada kecenderungan terlalu putih memiliki efek dingin yang sering diasosiasikan dengan warna ‘es’ terutama dalam desain interior. Usahakan memilih perabot yang tepat karena bila keliru memilih akan terlihat aneh dan sangat menonjol di ruangan berwarna putih. Kalaupun ingin memberi sentuhan sedikit, entah memberikan sentuhan warna berbeda. Biasanya perabot yang cocok juga memiliki sedikit atau sebagian warna putih pada desainnya.

Pemilihan warna cushion disandingkan dengan ruang yang catnya serba putih bisa bermacam macam, karena warna putih sesuai disandingkan dengan semua warna, maka tidak menutup kemungkinan disandingkan dengan warna warna lainnya, tapi perlu diingat, bahwa untuk aksesoris seperti gorden sebaik mungkin diusahakan agar serasi dengan warna putih tersebut dan untuk aksesoris lainnya seperti furniture kecil-kecil dan pajangan bisa dengan bermacam-macam warna agar tidak monoton (tapi tetap harus saling serasi satu sama lain).

Untuk bagian seperti plafon dan lantai bisa juga putih semua, karena temanya memang putih, tapi bisa juga dengan menggunakan aksen warna baik sebagai bagian yang terlihat solid atau hanya bagian seperti garis pada plafon atau dinding.

Designed by BAKOKO, on Flickr
Some rights reserved

Bila menggunakan wallpaper, kita bisa menggunakan wallpaper dengan warna dasar putih, sedikit abu-abu atau putih dengan sedikit campuran warna. Untuk motifnya usahakan yang terlihat lembut, seperti motif kecil-kecil dengan warna pastel, atau warna yang cenderung perak.

Bila diinginkan untuk gradasi warna putih bisa menggunakan sedikit warna abu abu atau warna lain yang dicampurkan sedikit.

Untuk cahaya di ruang yang dominan putih bisa menggunakan cahaya berwarna putih atau kuning, karena warna putih masih bisa terlihat menarik baik dengan skema cahaya putih ataupun kuning.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tips merenovasi rumah menjadi tempat usaha / Add a business place in a house

astudioarchitect.com Bagi banyak orang, membuka usaha di rumah merupakan alternatif yang sangat baik untuk memperbaiki perekonomian keluarga. Terutama sebuah keluarga terdiri dari ayah yang bekerja diluar, ibu rumah tangga dan anak anak, kadangkala ada keinginan agar sang Ibu bisa membuka usaha dirumah. Hal ini sangat lazim terutama bagi mereka yang memang memiliki rumah di daerah yang cukup padat atau potensial untuk membuka usaha. Apa saja yang perlu kita perhatikan saat ingin membuka usaha di rumah terutama dari segi desain dan arsitektur?

Rumah dengan tempat usaha di bagian depan yang nampak asri
desain rumah: Ibu Bambang Sudibyo

For many people, opening a business at home is an excellent alternative to improve the family economy. Especially a family consisting of a father who worked outside, housewives and children, sometimes there is a desire for the mother to open a business at home. This is very common especially for those who do have homes in dense areas or the potential to open a business. What should we consider when trying to open a business at home, especially in terms of design and architecture?

Salah satu usaha yang paling diminati antara lain adalah membuka usaha kecil seperti:

  • toko kelontong
  • wartel
  • laundry
  • warung/ depot/ restoran
  • butik/ toko baju
  • warnet
  • praktek dokter, arsitek, konsultan, dsb
  • kantor notaris
  • usaha foto copy, alat tulis dan penjilidan
  • biro perjalanan
  • toko buah
  • kafe mahasiswa/ pelajar
  • toko makanan khas
  • rental VCD dan DVD
  • mini market
  • dan sebagainya

Terdapat beberapa faktor yang bisa mempengaruhi desain arsitektur dari sisi perubahan bangunan rumah menjadi ruang usaha, karena tentunya dengan bertambah atau berubahnya ruang dalam rumah atau bagian rumah menjadi tempat usaha, maka terdapat pula penyesuaian dari segi arsitektur dan interior. Kadangkala ada keluarga yang merubah salah satu ruangan seperti ruang garasi menjadi ruang usaha. Kadangkala ada juga yang merubah ruang tamu menjadi tempat usaha, dimana perubahan ini tidak jarang menimbulkan konflik dari segi desain arsitektur dan interior karena bercampurnya berbagai aktivitas dalam rumah dan usaha.

One of the most sought after among others is to open small businesses such as:

  • grocery store
  • telephone kiosk
  • Laundry
  • shop / depot / restaurant
  • boutique / clothing store
  • cafe
  • practice for doctors, architects, consultants, etc.
  • notary offices
  • photocopy business, stationery and bindery
  • travel agency
  • fruit shop
  • cafe student / student
  • typical food store
  • VCD and DVD rental
  • mini market
  • etc.

There are several factors that can influence the architectural design of the building that may change the home into business space, because certainly with increasing or changing rooms inside the house it becomes a place of business, then there are also adjustments in terms of architecture and interiors. Sometimes there are families who change one of the rooms like the garage space into business space. Sometimes there is also a changing room into a place of business, which may cause a conflict in terms of architecture and interior design because the mixing of the various activities at home and businesses.

Yang harus diperhatikan dalam desain renovasi rumah untuk usaha adalah bagaimana desain ruang usaha tersebut bisa maksimal baik dari segi fungsi maupun dari segi tampilan, serta tidak atau kecil kemungkinan mengganggu aktivitas dalam rumah. Untuk menyiasatinya ada beberapa cara sebagai berikut:

- Pilih area yang paling tidak mengganggu aktivitas rumah, misalnya di bagian pojok lahan yang berbatasan dengan jalan. Adakan akses yang baik bila memungkinkan yaitu area parkir kendaraan minimum satu mobil dan beberapa motor. Rumah usaha yang baik selalu memperhatikan hal ini bila memungkinkan. Setidaknya ada parkir untuk beberapa motor terutama bila sasaran konsumen adalah kaum muda.

- Buka bagian depan atau tampilan depan bagian ruang usaha tersebut sehingga terlihat dari jalan dengan baik, misalnya dengan membuat etalase kaca, papan nama atau letter yang cukup besar, bisa juga menggunakan perbaikan dan penampilan fasad yang modern, misalnya tema gaya modern.

- Sediakan akses ke dalam ruang rumah yang langsung ke ruang bersama, bila memungkinkan misalnya ruang keluarga, meskipun bisa juga dengan diberi sedikit ruang misalnya taman diantara ruang rumah dan ruang usaha. Adakalanya ruang usaha perlu dilengkapi dengan kamar mandi khusus misalnya untuk praktek dokter atau bila Anda memiliki karyawan yang menjaga ruang usaha tersebut

- Bagi ruang usaha yang memerlukan renovasi, pertimbangkan untuk membuat ruang yang cukup besar dengan rencana penggunaan partisi untuk ruang-ruangnya, dengan harapan nantinya bila berubah jenis usaha, akan bisa dirubah ruangnya dengan mengubah partisi tanpa merenovasi strukturnya.

- Usahakan tetap memperhatikan garis sempadan bangunan, konsultasikan dengan arsitek atau kontraktor Anda, serta uruslah IMB terlebih dahulu agar tidak terjadi masalah dengan PemKot di kemudian hari. Perhatikan pula bagaimana aliran air, peresapan air tanah dengan menggunakan paving dan bukan plester yang menutupi seluruh area parkir, dengan demikian kita membantu agar air hujan bisa terserap ke lahan kita dan tidak turut menyumbang banjir.

- Perhatikan sanitasi, jangan menutupi bagian depan tempat usaha dengan cor beton atau merusak riol kota, atau menutupi riol / saluran air kota tersebut dengan beton atau rabatan. Hal ini bisa disiasati dengan menutup riol kota dengan jembatan dari besi berlubang-lubang yang masih bisa dilewati mobil atau motor dan tidak mengganggu sanitasi didepan ruang usaha.

- Perlunak tampilan ruang usaha dengan unsur tanaman yang hijau dan menyenangkan.

That must be considered in the design for house remodeling is how to design space to be a maximum both in terms of function and appearance, and having no or little possibility of disturbing activities within the home. To cope with that there are several ways as follows:

- Select an area that mostly will not interfere with home activities, such as in the corner of the land that borders the road. Hold a good access when possible ie the minimum vehicle parking one car and several motorcycles. A good home business always pay attention to this when possible. At least there is parking for several motorcycles especially when the target consumers are young people.

- Open the front view of business space to be visible from the road, for example by making glass storefront windows, signage or letter that is big enough, could also use improvement and the appearance of a modern facade, for example, the theme of modern style.

- Provide access into the space directly into the house together, where possible such as the family room, although it could also be given a little space between spaces such as a garden. Occasionally a business space need to be equipped with a special bathroom for example for the doctor practice space or if you have employees who maintain business space

- For business space that needs renovation, consider making a large enough space with the plan of partition to create rooms, in order that later on when changing the type of business, will be altered by changing the partition space without renovating the structure.

- Try to keep attention to the building demarcation line, consult with your architect or contractor, as well as take care of IMB in advance to avoid problems with the municipal government in the future. Notice also how the flow of water, ground water recharge using paving and not the plaster that covered the entire parking lot, so we help keep rain water can be absorbed into our land and do not contribute to flooding.

- Notice to sanitation, do not cover the front of the place with cast concrete or damaging the city sewers, or to cover sewers / drains of the city with concrete. This could be managed by closing the city sewers with an iron bridge from which holes can still be passed by a car or motorcycle and do not interfere with business space in front of sanitation.

- Soften the facade view of your business space with elements of green plants.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

man’s cave / Guanya pria

astudioarchitect.com Man’s Cave, atau ‘gua’ para pria merupakan sebuah fenomena dalam rumah tinggal yang biasanya merupakan ruangan khusus tempat seorang pria ingin menyendiri atau melakukan sesuatu sendirian. Normalkah? Konon ruang khusus pria ini bisa membuat pria kreatif, bahkan menyelamatkan sebuah perkawinan. Simak artikel berikut tentang tanya jawab dengan wartawan dari U-Magz dengan saya sebagai narasumber. Bila Anda ingin membaca versi artikel di majalah U-Magz tersebut, klik gambar dibawah ini:

Man’s Cave, or ‘cave’ men are a phenomenon in which a house is usually a special room where a man wants to be alone or do something alone. Is it normal? It is said that special room of a man can make a man more creative, and even save a marriage. Consider the following article about the question and answer with reporters from the U-Magz by me as a resource. If you want to read the article in the magazine version of the U-Magz, click the image above:

1. Seberapa besar kebutuhan akan man’s cave ini di Indonesia, terutama bagi kaum pria?
Mengingat ini adalah kebutuhan psikologis menurut saya setiap pria membutuhkan ruang semacam ini. Tapi bila melihat kondisi dari tatanan sosial dalam masyarakat dan norma keluarga yang ideal, adakalanya man’s cave ini harus diabaikan kebutuhannya dalam penataan sebuah rumah. Tapi biasanya man’s cave tetap hadir meskipun tidak dalam sebuah ruang khusus. Man’s cave boleh jadi merupakan suatu cara agar pria lebih produktif, yaitu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, atau bekerja mandiri secara lebih produktif dengan ruang yang tidak selalu terpisah kadang-kadang juga bercampur dengan ruang lainnya bahkan ruang luar.

2. Biasanya, bagaimana bentuk yang umum dari pojok pribadi kaum lelaki ini?
Ruang paling umum yang diminta untuk didesain dengan kebutuhan khusus untuk seorang pria umumnya adalah ruang kerja, dimana didalamnya terdapat suatu cara atau kondisi dimana seorang pria bisa menyibukkan diri dengan kegemaran atau hobi pribadi. Ruang ini juga biasanya harus dapat diakses pula oleh teman-teman seorang pria, misalnya untuk melihat film atau acara TV bersama.

Ruang ini bisa berarti sebuah ruang kerja yang umum, workshop atau studio pribadi dengan perlengkapan hobi atau entertainment, bisa juga ruang yang punya konotasi maskulin seperti bengkel mobil pribadi yang biasanya didalam garasi atau terpisah, atau mungkin sebuah ruang terbuka di taman untuk mengerjakan hobi seperti membuat do-it-yourself furniture.

3. Biasanya, ruang apa saja yang bisa disulap menjadi ‘sarang’ para pria? Dan bagaimana mewujudkannya?
Ruang yang paling sering menjadi man’s cave adalah ruang kerja, karena disini tidak terlalu ekstrim pengertian untuk mendapatkan ‘sarang’ bagi seorang pria, ruang lain yang biasa menjadi ‘man’s cave’ adalah ruang entertainment atau ruang berkumpul khusus untuk pria dan teman-temannya dimana ia bersosialisasi dengan teman-temannya.

Ruang yang paling sesuai untuk mewujudkan sebuah man’s cave adalah ruang yang didesain atau ditata sendiri oleh pria tersebut dengan perlengakapan apapun yang dibutuhkannya, misalnya peralatan olahraga, sofa, TV, dan komputer. Pria yang percaya diri cenderung memiliki keinginan untuk mengatur sebuah area ini dengan apapun yang diinginkannya, seperti pemilihan cat, bahan material pelapis dinding, ukuran bed, bentuk sofa, maupun benda-benda yang ingin diletakkan didalamnya.

4. Jika kita bicara soal desain interior, produk-produk interior apa sajakah yang bisa dimasukkan di dalamnya? Jika harus ada penyesuaian, seperti apa bentuknya?

Produk interior yang sesuai untuk kebutuhan ini biasanya yang memiliki karakter maskulin yang kuat seperti furniture dengan garis garis kuat non ornamental, furniture dan wallpaper dengan gaya rustic, benda-benda limited edition dengan nilai jual tinggi atau langka, perlengkapan yang sifatnya fungsional non dekoratif misalnya seperti lemari pajangan koleksi, dan sebagainya. Benda yang sifatnya entertaining seperti televisi, audio set, dan papan permainan adalah perlengkapan yang harus ada dalam ruang khusus pria.

Penyesuaian yang ada, kemungkinan yang terpenting adalah sebuah benda yang dimasukkan dalam ruang ini sebaiknya memiliki fungsi khusus dan bukan sekedar pajangan, dan bila merupakan pajangan biasanya memiliki nilai yang tinggi.

1. How big is the need for what’s called man’s cave?
Considering this is a psychological need in my opinion every man needs a space like this. But when looking at the condition of social order in society and the norm of the ideal family, sometimes a man’s cave is to be ignored in the arrangement needs a home. But usually the man’s cave still present, although not in a special room. Man’s cave may be a way to make men more productive, that is the problem with a head cold, or work independently in a more productive with a separate space that is not always sometimes also mixed with other space and even outer space.

2. Usually, how a common form of male private corner of this?
The most common space required for the designed with special needs for a man generally is a work space, in which there is a way or a condition where a man can occupy himself with passion or personal hobbies. This space also typically must be accessible also by friends of a man, for example, to see a movie or TV show together.

This space can mean a common workspace, workshops or private studio with a hobby or entertainment equipment, can also have the connotation of masculine spaces such as private car garage which is usually in the garage or separate, or perhaps an open space in the park to work on hobbies such as making do-it-yourself furniture.

3. Usually, any space can be transformed into a ‘nest’ of men? And how did it happen?
Space that most often become man’s cave is the den, because here is not too extreme sense to get a ‘nest’ for a man, another room used to be a ‘man’s cave’ is room entertainment or space gathered specifically for the man and his friends where he socializing with friends.

The most appropriate space to fulfill a man’s cave is a space that is designed or arranged by the man himself with whatever he needed equipment, such as sports equipment, sofa, TV, and computers. Men who are confident tend to have a desire to regulate this area with whatever they want, like choosing the paint, siding materials, size bed, a sofa, or objects that want to be placed therein.

4. If we are talking about interior design, interior products What could be included in it? If there should be adjustments, such as what form?

Interior product that is suitable for this requirement is usually that have a strong masculine characteristics such as furniture with a strong line-line non-ornamental, furniture and wallpaper with a rustic style, limited edition items with high selling value or the rare, non-functional nature of equipment such as decorative showcase collections, and so forth. Objects that are entertaining such as televisions, audio sets, and board games is the equipment that must exist in a special room guy.

Adjustment of existing, possibly the most important is an object that is inserted in this space should have a specific function and not merely ornamental, and if it were a display usually have high value.

5. Bagi mereka yang belum memiliki ruangan sendiri, bagaimana tips kepada mereka bagaimana membuat ruangan itu? Bukan saja mendekorasinya, tapi juga membuat lay-out ruangan yang mereka bisa betah di dalamnya.

Ruangan tersebut tidak harus diwujudkan dalam ruang yang benar-benar terpisah apalagi bila luasan rumah tidak terlalu besar, karena bisa jadi merupakan sebuah bagian dari ruang yang memberi keleluasaan bagi pria untuk melakukan hal-hal tertentu seperti bekerja atau menikmat hiburan dan memiliki fasilitas yang dibutuhkan untuk itu.

Bagi mereka yang memiliki lahan dan dana cukup untuk membuat ruang semacam ini agar lebih produktif juga sebaiknya dibuat menjadi ruang kerja sehingga tidak hanya bersifat hiburan semata. Lay out ruangan sebaiknya didesain dengan memperhatikan bagaimana kebutuhan dalam aktivitasnya terpenuhi, misalnya dengan menyediakan fasilitas hiburan, penyimpanan makanan, penyimpanan file, serta furniture yang cukup baik untuk bekerja atau menerima tamu dari sahabat dekatnya.

Akan lebih baik bila ruang ini bisa produktif dengan tidak hanya membuatnya sebagai ruang menyendiri atau berkumpul dengan teman semata, tapi yang produktif dengan fasilitas kerja, lebih baik lagi dengan mengadopsi konsep SOHO (Small Office Home Office).

6. Bagimana meletakkan hal-hal penting seperti toilet, akses (pintu mungkin harus lebih dari satu), sofa besar untuk istirahat dan tidur, sarana hiburan agar tidak bosan, peralatan kerja dan sambungan internet, buku, dll?

Agar produktif sebaiknya ruang khusus ini tidak terisolasi dari ruang lainnya. Hal ini agar seorang pria tidak terpisah dari sosialisasi dengan anggota keluarga lainnya. Namun bila memang dibutuhkan karena kondisi, misalnya agar memudahkan proses bekerja atau hobi khususnya makan perlu adanya tempat istirahat khusus seperti sofa bed, sarana hiburan dsb. Akan lebih baik bila dilengkapi dengan peralatan bekerja dan sambungan internet bila ia membutuhkan informasi.

7. Bagaimana membuat sebuah ruangan itu menjadi enak dibuat kerja, bisa dijadikan tempat istirahat (semi kamar tidur), menghibur, dan independen (mungkin perlu pantry kecil dan kulkas)?

Tingkat kenyamanan perlu diperhatikan yaitu furniture yang ada sebaiknya dibuat pas, ergonomis, dalam ruang yang ada. Ruang tersebut juga sebaiknya bisa menampung kebutuhan akan seberapa luas yang dibutuhkan. Kadangkala, ruang tersebut harus besar karena hobi tertentu seperti bilyard, bisa juga hanya kecil seperti ruang kerja bila ia menyukai bekerja didepan komputer.

Bila tempat tersebut diinginkan agar menjadi tempat yang ‘independen’ dari keseluruhan rumah maka perlu diberi fasilitas khusus seperti pantry, kulkas, dan kamar mandi. 

5. For those who do not yet have their own room, how to tips to them how to make the room? Not only decorate, but also makes room lay-out which they can feel at home in it.

The room was not to be realized in the space completely separate area of the house, especially when not too large, because it could have been a part of space that gives more flexibility for men to do certain things such as work or menikmat entertainment and have the facilities needed for it.

For those who own land and sufficient funds to make this kind of space to be more productive space should also be made to work so that not only is the entertainment only. Lay out of the room should be designed with attention to how those needs are met in their activity, for example by providing entertainment facilities, food storage, file storage, and furniture that was good enough to work or receive visitors from nearby companions.

It would be better if this space could be productive by not only make it as a space to be alone or just hanging out with friends, but productive with work facilities, better yet, by adopting the concept of SOHO (Small Office Home Office).

6. How do put important things like toilets, access (doors may need more than one), a large sofa to rest and sleep, so as not to get bored entertainment facilities, equipment and working internet connection, books, etc.?

To be productive in this special space should not isolated from other rooms. This is so a man is not separate from socializing with other family members. But if it is required because of conditions, eg in order to simplify the process of work or hobbies, especially to eat there should be a special resting place, such as sofa bed, entertainment facilities etc.. It would be better if it is equipped with working equipment and Internet connection when she needed information.

7. How to make a nice room to be made to work, could be a place to rest (semi-bedrooms), entertaining, and independent (may need a small pantry and fridge)?

Level of comfort should be noted that the existing furniture should be made to fit, ergonomic design, the existing space. The space should also be able to accommodate the need for the necessary extent. Sometimes, that space must be big because of certain hobbies such as pool, could also just as small as work space when he likes working in front of the computer.

If the place wants to be a place that ‘independent’ of the whole house will need to be given special facilities like pantry, refrigerator, and bathroom.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

‘Konsep rumah tumbuh’ artikel di koran Sindo / ‘Growing house’ concept

astudioarchitect.com Membangun rumah dengan bertahap atau lazimnya disebut ‘konsep rumah tumbuh‘ merupakan pilihan yang tidak tergantikan dewasa ini, mengingat banyak keluarga memiliki lahan terbatas dan luas rumah yang terbatas pula. Perbedaan dengan rumah ‘tambal sulam’ adalah rumah ‘tambal sulam’ tidak didesain dengan baik dari awal sehingga proses tambal sulamnya seringkali tidak menghasilkan desain yang baik dan sehat. Dalam artikel ini saya sertakan hasil wawancara Koran Sindo dengan saya sebagai narasumber. 

Building a house gradually or commonly called ‘the concept of growing home’ is an irreplaceable option nowadays, because many families have limited land and limited area of the house as well. The difference with a ‘patchwork’ home concept is that ’patchwork’ home is not well designed from the beginning so that the process often not patch a good and healthy design. In this article I include the results of my interview with the newspaper Sindo as a resource.

Trik Mengaplikasikan Konsep Rumah Tumbuh

ANDA ingin membangun rumah, tetapi dana terbatas? Caranya dengan mengaplikasikan konsep rumah tumbuh yang telah direncanakan dengan baik sejak awal membangun rumah.

Rumah tumbuh sesuai dengan namanya adalah pengembangan atau pembangunan rumah secara bertahap atau bertumbuh. Secara umum, konsep pengembangan rumah tumbuh dibagi menjadi dua, yakni tumbuh secara vertikal dan horizontal.

Ada beberapa alasan orang ingin mengaplikasikan konsep ini ke dalam huniannya. Arsitek Probo Hindarto menyebutkan, alasan pertama, biasanya karena keterbatasan biaya.

Beberapa penghuni mungkin saat membangun rumah terhambat dengan biaya pembangunan yang terbatas, sementara rumah tetap perlu dibangun. Akhirnya bujet yang ada hanya cukup untuk membangun sebagian rumah. Karena itu, konsep rumah tumbuh yang harus dipilih.

Alasan kedua, konon karena kebutuhan belum mendesak sehingga konsep ini kerap diaplikasikan saat membangun rumah. Biasanya hal ini terjadi pada keluarga muda yang saat membangun atau membeli rumah belum terpikirkan nantinya rumah itu akan ditempati berapa jumlah anggota keluarga. Begitu pun rumah untuk masa depannya. Alasan yang terakhir, konsep ini sesuai untuk perencanaan sematang mungkin, tapi tidak menutup kemungkinan adanya perubahan rencana. Perencanaan atau konsep rumah tumbuh sejak awal yang baik adalah kunci sukses dari konsep ini. Karena itu, banyak orang memilih merencanakan rumah tumbuh.

“Inilah yang menjadi pembeda konsep rumah tumbuh dengan konsep rumah tambal sulam adalah kalau rumah tambal sulam itu tidak direncanakan dengan baik dari awal, sementara rumah tumbuh sebaliknya, perencanaan awalnya selalu dipikirkan secara matang dan baik,” katanya.

Menilik kelebihannya, konsep rumah tumbuh bisa memprediksi kebutuhan ruang, sistem konstruksi, dan biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan bertahap. Sementara, kekurangannya cenderung tidak ada.

YOU want to build a house, but limited funds? You can do this by applying the concept of ‘growing home’ which has been well planned from the beginning of building the house.

‘Growing House’ as the name implies is the development or construction of houses which is growing gradually. In general, the concept of  ’growing home’ development is divided into two, namely to grow vertically and horizontally.

There are several reasons why people want to apply this concept into their house. Architect Probo Hindarto mention, the first reason, usually due to limited funds.

Some residents may now build the home hampered by the limited development costs, while the house still needs to be built. Finally there was only enough budget to build some part of the house. Therefore, the concept of ‘growing home’ can be selected.

The second reason, presumably because the need of more space is not urgent, so the concept is often applied when building houses. Usually this happens to young families when building or buying a home that they never thought the house would be occupied later with how many family members. The last reason, this concept is suitable for planning as good as possible, but not closing the possibility of changing plans. Planning ‘growing home’ since the beginning is the key to success of this concept. Therefore, many people choose to build this way.

“This is the distinguishing concept of ‘growing home’ with the concept of ‘patchwork home’ in sense of patchwork if the house was not well planned from the beginning, while ‘growing home’ is on the contrary, early planning is always mature and well thought out,” he said.

Given its advantages, the concept of ‘growing home’ can predict the space requirement, the system construction, and cost required to develop gradually. Meanwhile, the less likely does not exist.

Probo menyebutkan, konsep ini sebenarnya merupakan sebutan yang lebih khusus untuk “merencanakan rumah yang baik dan bisa dikembangkan sejak awal hingga perubahan selanjutnya sesuai dengan kondisi penghuni”.

Pada pola perencanaannya, konsep rumah tumbuh berbeda dengan konsep rumah pada umumnya. Dalam hal ini, pola perencanaan biasanya memperhatikan perkembangan dari jumlah atau umur anggota keluarga. Menurut Probo, bila berubah atau bertambah, baik dari jumlah maupun umur, tentu akan memengaruhi kebutuhan akan ruang.

Karena itu, pola perencanaan yang terbaik adalah dengan merencanakan sedini mungkin untuk memperkirakan pengembangan yang mungkin terjadi pada masa depan.

Misalnya, saat jumlah anak bertambah, atau umurnya bertambah, maka biasanya anak membutuhkan kamar sendiri. Demikian pula bila ada tambahan anggota keluarga dari sanak famili atau lain-lainnya.

”Pola perencanaannya bisa pengembangan secara horizontal atau mengikuti besar lahan dan ketersediaan lahan. Untuk pengembangan secara vertikal, berarti penambahan ruang ke atas atau tingkat,” katanya.

Probo mentioned, this concept is actually a more specific term for “plotting a good home and can be developed from the beginning till the next change in accordance with the conditions of the inhabitants.”

In its design pattern, different from the concept of house development concept in general. In this case, the pattern usually pay attention to the development planning of the number or ages of family members. According to Probo, if changed or added, the number and age, will certainly influence the need for space.

Therefore, it is best to design patterns with a plan as early as possible to forecast the development that may occur in the future.

For example, when the number of children increases, or age increases, then the child usually needs his own room. Similarly, if there are additional family members from relatives or others.

“The pattern of development planning can be horizontally or following land availability. To develop vertically, means additional space up or level, “he said.
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.