Author Archives: bopswave

An Imaginary Conversation with Vitruvius

http://bopswave.googlepages.com/indonesiaflag.jpg Bahasa Indonesia

1 March 2008
Finally, Vitruvius has his way to come to the 21st century riding a time machine made by Leonardo Da Vinci, who invented a time machine to pick up Vitruvius and ask his explanation to finish his legendary work; the Vitruvian man. But it is another story. This time Vitruvius came to Indonesia to be interviewed about architect and architecture, and some relation to Indonesian context. Because he just wrote “The Ten Books of Architecture”, then it is the hottest topic to discuss right now.


First, I’d like to congratulates your country; Rome, for the victory of Caesar.
Hey, thanks. But when I see everything in the future, in the 21 century back then, the early part my writing in the past is just for political reason.
As you see here now, people are still in amusement of Roman architecture.
Oh yes I see. Indeed, it’s astonishing to see our culture spread worldwide. I’ve heard that modern architecture takes its base in Roman Architecture. Something that I see here too in Indonesia.
Considering that, would you agree that your culture infiltrate or even interrupt our culture.
That is a very critical question. I certainly will let go my responsibility to answer this question. It is not our fault that our culture is so powerful compared to the rest of the world.
Your work; The Ten Books of Architecture, is still learned in Universities. Even though not many people in Indonesia, I believe, read your work, the academics still base their idea of education based on your writing.
About theory and practice? Yes, because I can see that it’s really universal. You can not abandon theory based practice. Every architect should have the theory, in order to create the practice.
Is it always in that order?
There is always theory based practice. Even when an architect is pushed to the boundaries of explaining his work, then it is always a combination of knowledge and skill, which are obtained from education. Knowledge represent explainable materials. But the rest can be unexplainable, which is part of the skill.
You explain too that education will let students to know more about their own history. How do you see education here in Indonesia?
It’s a pity. You have your own culture but you don’t know it very well. I heard that not many Indonesian students know the basic principles of Indonesian temples, for instance. And why it is not taught in Universities.
Like the Caryatides ornaments in Roman building?
Yes, like that. So that the the knowledge they have about their own culture and buildings are based on a kind of a ‘root’ of architecture. Not just being self assuming, because all his work will be determined by that.
And leads to a certain reputation he will obtain?
No, not that. Reputation is something else; a good will of his works recognized by the society.
And what else should an architect know?
Orders, like music. It helps architect understand the basis of the architectural orders that they use.
Something that Pythagoras have said before; about architecture as the frozen music?
Precisely, it is. And don’t forget; the study of medicine that will bring knowledge to healthy environment.
We have a specific subject for that now. Even special term for that; sustainability.
Oh that has become a specific science? That’s good news.
About the fundamental principles of Architecture.
My favorite.
What are the fundamentals?
It’s written in the book; Order, arrangement, rhythm, symmetry, propriety, and economy. I don’t have to explain this, right? Read it for yourself here
About propriety; Greek propriety is not suitable anymore for modern buildings nowadays.
Yes, I can see that. You guys are all screwed… I don’t understand your principles of propriety. You said modern architecture takes its base on Roman architecture, but I don’t see Dorics anymore. Don’t you believe in Gods?
Oh, don’t worry, in this modern age, we are all insane. And we separate architecture from faith.
But I see here in Indonesia, mosques and churches. I like Indonesian temples because they have deep root to the history of your nation.
Thanks, and if you value nowadays architecture with the value of your propriety, there will be many buildings inappropriate. Reading your writing on proprietary, is a high standard, even for now.
That’s not what I mean. What I wrote about proprietary is for high class buildings, high class architecture.
In your time?
Yes. But of course, there’s another fundamental; which is the economy factor. It determines how a building will be made, architecturally. Okay, now… will you excuse me, I have a plane to catch. Going to Europe again and see my previous work, is it still there?
Okay then, be careful.


***

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Arsitektur Kolonial Indonesia

16 Pebruari 2008

Artikel dalam halaman ini dibuat oleh tiga penulis; Yulia Eka Putrie, Probo Hindarto, dan Jolanda Atmadjaja Herlambang. Terimakasih pada para penulis yang bersedia meluangkan waktunya dalam penulisan artikel tentang arsitektur kolonial ini.

Arsitektur dan Perjalanan Sejarah
oleh : Yulia Eka Putrie
Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

…dan ketika sebuah bangsa telah lengah,
yang tersisa dari sejarah
hanya dinding-dinding bisu yang berdarah
(anonim)


Dokumentasi arsitektur kolonial di Malang di masa lalu

Tiga baris puisi di atas mengandung pesan yang dalam tentang nilai sejarah bagi sebuah bangsa. Nyatalah bahwa kemampuan untuk menghargai sejarah dan mengambil pelajaran darinya ternyata sangat penting bagi kelangsungan hidup bangsa itu sendiri. Sebuah kalimat yang telah sering kita dengar menyampaikannya lebih singkat, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”

Di dalam setiap sejarah berkumpul berbagai unsur pembentuknya: manusia, peristiwa, waktu, dan tempat. Keempatnya bersinergi membentuk informasi yang utuh bagi keberlanjutan sebuah sejarah. Walaupun demikian, telah nyata bahwa manusia tak dapat hidup selamanya, peristiwa pun datang dan pergi hanya sekali, sementara waktu tak dapat berputar kembali. Hanya tempat yang bertahan menjadi saksi bagi sejarah. Hanya tempat yang tetap tinggal dan dijadikan wadah persinggahan waktu. Ketika sejarah tidak lagi memiliki makna di hati sebuah bangsa, seperti diungkapkan baris-baris puisi di atas, maka yang tersisa dari suatu tempat (place) hanyalah ruang (space) yang tidak lagi punya makna.

Lalu, apakah peran arsitektur bagi sebuah sejarah? Arsitektur hadir sebagai bagian dari tempat, sebagai salah satu unsur pembentuk sejarah. Arsitektur merupakan penanda yang memberikan identitas bagi sebuah tempat. Ia lantas memiliki peran yang signifikan bagi keberlanjutan sejarah dalam memori generasi berikutnya. Kecuali sebuah bangsa telah kehilangan penghargaannya terhadap sejarah, arsitektur dari masa lalu semestinya tetap dapat memberikan pelajaran berharga bagi bangsa itu di episode-episode generasi selanjutnya.


Dokumentasi arsitektur kolonial di Malang di masa lalu

Arsitektur Kolonial, Perlukah Dipertahankan?
Jika uraian singkat di atas kita hubungkan dengan fenomena perubahan besar-besaran pada wajah kota di Indonesia, maka sekilas akan dapat kita tarik kesimpulan sepihak: Bangsa ini tampaknya makin kehilangan penghargaannya terhadap sejarah. Kesimpulan ini mungkin masih bersifat sangat subyektif. Walaupun begitu, ia tetap dapat dijadikan bahan refleksi berharga bagi setiap usaha untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang besar, bukan semata-mata dalam jumlah penduduknya, namun lebih pada kualitas kepribadiannya.


Pasar besar Malang, bangunan tua kolonial


Yang telah digantikan wajah baru arsitektur modern

Arsitektur kolonial, sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air, merupakan salah satu bagian wajah kota yang kian tercarut oleh keadaan ini. Salah satu contoh; di kota Malang, usaha-usaha peremajaan kota yang hanya mempertimbangkan faktor ekonomi dan bisnis telah mengorbankan banyak pertimbangan lainnya, di antaranya faktor kesejarahan. Meskipun demikian, masih dapat kita lihat sisa-sisa peninggalan arsitektur kolonial yang berdiri dengan tegar, walaupun sebagian besar berada dalam kondisi seadanya dan kurang terurus.


Dokumentasi arsitektur kolonial di Malang di masa lalu

Diakui atau tidak, masa kolonial Belanda sedikit banyak telah memberi pengaruh positif dalam perkembangan arsitektur kota ini. Dibandingkan dengan arsitektur tahun 90-an, jejak-jejak arsitektur kolonial terasa lebih banyak memberikan warna yang khas bagi kota Malang hingga saat ini. Karakteristiknya yang kuat menjadikan arsitektur kolonial sebagai langgam yang sangat dikenal, bahkan oleh orang-orang yang lahir jauh setelah masa kemerdekaan.


Sebuah bangunan indah karya arsitek Belanda di Malang, yang digunakan sebagai tempat berkumpul para bangsawan Belanda.


Digantikan oleh arsitektur modern “kamar mandi” (karena berlapis keramik putih dan merah seperti kamar mandi), sekarang telah berubah wajah sekali lagi, menjadi ‘arsitektur Mall’

Dalam wacana arsitektur, langgam arsitektur ini bukannya sama sekali terbebas dari kontroversi. Beragam pertanyaan dan pernyataan mengenai perlu tidaknya mempertahankan bangunan-bangunan yang notabene merupakan peninggalan para penjajah kerap kali muncul di dalam forum-forum diskusi. Sebagian pihak mempertanyakan hal ini dengan semangat nasionalisme yang tinggi, namun sebagian lainnya tampaknya lebih memanfaatkan wacana ini sebagai kedok yang sempurna bagi kepentingan pribadi dan keuntungan ekonomi mereka.

Terlepas dari berbagai wacana di atas, sudut pandang keilmuan arsitektur dengan segala pertimbangan komposisi, estetika, proporsi dan sebagainya, tampaknya bersepakat akan tingginya ’nilai arsitektural’ bangunan-bangunan kolonial ini. Diakui ataupun tidak, kekuatan karakteristik yang ditampilkan oleh obyek-obyek arsitektur kolonial itu memang telah benar-benar mempercantik wajah kota kita. Kenyataan ini mestinya dapat menggugah usaha kita untuk tetap mempertahankannya. Jika tidak, mungkin inilah saatnya membuktikan kebenaran pepatah yang mengatakan bahwa sesuatu yang benar-benar indah akan dapat bertahan dengan sendirinya. Thus the real beauty will last after all…

***

.

.
Memori akan sebuah Penjajahan

Oleh; Probo Hindarto

Penjajahan tidaklah menyenangkan, meskipun bangunan-bangunan itu indah dan sejarah tidak terlupakan, tetap teringat sebuah kondisi bangsa, rakyat dan hak manusia dimanipulasi sedemikian rupa, sehingga membuat tubuh bangsa ini kering seperti tak bernyawa. Kolonialisme dari sisi kolonial membawa keuntungan ekonomis berlipat ganda, namun dari sisi pribumi Nusantara, membawa dampak pemiskinan dan perbudakan. Barangkali, dengan itu kita menjadi emosional, bila melihat bangunan-bangunan kolonial itu, menyisakan sebuah rasa iba, yang belum terobati kecuali dengan menata kembali tubuh negeri yang porak-poranda, dan kita tak mampu pula merobohkannya; sebuah memori yang pahit sekaligus patut dikenang. Meski ada pula mereka yang cukup tega, merobohkan sisa-sisa dinding yang menceritakan seribu cerita.


Perbudakan, dilegalisasi oleh VOC, keramah-tamahan sebuah negeri perawan yang disalahgunakan…
(Sumber; http://www.swaramuslim.com/galery/sejarah/index.php?page=VOC)


Sebuah pawai bangsawan di negeri pribumi

Namun dengan mencoba memikirkan kembali, apakah kita masih bermental ‘terjajah’ atau ‘merdeka’, adalah sebuah keputusan; untuk mengagumi atau melecehkan, mendukung atau merobohkan, menghadap atau berpaling,…

finally; we have a choice

Masih teringat beberapa waktu lalu, dalam mailing list AMI, sebuah petisi penolakan pembongkaran bangunan Pasar Johar di Semarang, diikuti oleh ratusan anggota mailing list, yang didukung oleh ketua IAI Jakarta; Ahmad Djuhara serta berbagai tokoh dari kalangan arsitektur, dan menarik perhatian anggota milis lain yang tersebar di pelosok Indonesia, bahkan terdapat email yang menyertakan beberapa puluh orang yang berkonsensus untuk menolak rencana pembongkaran pasar Johar. Pasar Johar adalah contoh nasib sebuah bangunan kolonial di tangan negeri yang ditinggalkan koloni penjajahnya, membuat kita berjibaku dengan peninggalan-peninggalan yang megah yang belum mampu lagi kita bangkitkan kejayaannya, karena intelektual dibalik pembangunan itu, ikut juga bersama perginya si kolonial, menyisakan puing yang mampu membuat kita terkagum-kagum.


Pasar Johar, Semarang.
Sumber; http://www.semarang.go.id/cms/pemerintahan/dinas/pariwisata/gedung/johar.php

Bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial memang patut disimak, karena keberadaannya menyiratkan perkembangan desain arsitektur modern di Indonesia. Pada masa-masa tersebut, para arsitek Belanda banyak membawa pengaruh Eropa di tanah Indonesia, sehingga keberadaan bangunan-bangunan ini juga memberi pengaruh besar bagi arsitektur modern saat ini. Salah satu bukti pengaruh ini adalah bangunan-bangunan terkini kebanyakan mengambil sistem konstruksi yang biasa digunakan dalam arsitektur dari negeri Belanda. Selain itu, bangunan-bangunan tua merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dalam kesehariannya, dimana wajah arsitektur kolonial turut mewarnai sebagian wajah kota, yang menjadi identitas kota. Bangunan-bangunan saat ini juga banyak yang memakai gaya arsitektur kolonial sebagai inspirasi dari desain-desain baru, misalnya desain ruko.

Ketika satu-persatu bangunan-bangunan tua ini roboh, atau sengaja dirobohkan, kadang-kadang tanpa suara, tanpa cerita, berganti dengan wajah baru yang terlihat lebih masa kini, pertanyaan-pertanyaan bermunculan; apakah layak bangunan yang menyimpan sejarah itu dirobohkan? Beberapa alasan dikemukakan; kota tidak dapat berdiri dengan bangunan yang itu-itu saja, mempersempit ruang perubahan. Karena itu banyak bangunan tua beralih fungsi, bahkan dihancurkan.

Sisi lain yang patut diperhitungkan dari arsitektur Kolonial;
setidaknya kita tahu mengapa kita mempertahankannya!

Selain sisi bangunan sebagai obyek apresiasi dan mengerti lebih jauh sistem konstruksi yang mendasari sebagian besar sistem konstruksi bangunan yang ada saat ini, arsitektur kolonial juga menyimpan sebuah tantangan untuk dipahami secara lebih dalam. Karena ia adalah representasi dari kehadiran kolonial, yang dari situasi itu terdapat berbagai metafora yang dapat diambil maknanya, maka keberadaan arsitektur kolonial yang dilestarikan membawa kemungkinan adanya kesadaran lebih akan sebuah jatidiri bangsa.

Bukan sebuah jatidiri dimana kita mengekor karya-karya monumental ‘nan agung’ pada jamannya tersebut, namun lebih kepada melihat kembali, sebuah reposisi akan situasi dimana kita tidak lagi berada dalam kondisi terjajah, namun dalam kondisi merdeka yang mampu melihat kembali kepada masa silam, dan dengan itu menentukan masa depan. Karenanya, bila kita dapat menyadari hal ini, kita dapat memposisikan diri, melihat arsitektur kolonial tidak hanya sebagai ‘architectural delight‘, namun akhirnya menjadi sesuatu yang bermakna, sebuah simbol.

Simbol apakah kiranya yang dapat diambil dari arsitektur kolonial, sebuah memori akan penjajahan? Secara umum, dari perspektif bangsa, masa kolonial menyimpan rasa duka, rasa terjajah, tidak bebas, diperbudak, dan sisi gelap sebuah penjajahan. Keberadaannya adalah sebagai ‘monumen’ bangsa penjajah, maka melihat kembali ‘monumen’ itu akan mengingatkan kita pada sebuah masa suram, sebuah ‘holocaust’ seperti masa kekejaman NAZI. Memang tidak sekejam itu, namun dukalara karena lamanya penjajahan mungkin bisa menjadi pembandingnya, belum pula korban dari si terjajah.

Untuk itu, maka keberadaan ‘monumen-monumen’ ini menjadi penting untuk mengingatkan kita, pada kesadaran, setidaknya adanya ‘masa-masa suram’ yang tidak boleh terjadi lagi dalam kehidupan negeri ini, dengan cara apapun kita berusaha tidak memperbolehkan adanya kolonialisme.

***

.

.

.

Arsitektur Kolonial sebagai ‘Jiwa’ Jaman
oleh : Jolanda Atmadjaja Herlambang
Staff Pengajar Jurusan T. Arsitektur – Univ. Gunadarma Depok

Arsitektur kolonial tidak sekedar romantisme masa lalu. Tidak sekedar jadi saksi sejarah dan warisan budaya. Arsitektur peninggalan masa kolonial merupakan penanda jaman dan keberadaannya menjadikan arsitektur di Indonesia – secara tidak langsung – sebagai bagian dari perkembangan arsitektur dunia. Terlebih dari itu arsitektur kolonial telah menjadi ‘jiwa’ bagi keberlangsungan kehidupan, dilatarbelakangi beragam kisah pembangunnya, dilema antara idealisme dan pemenuhan kebutuhan kekuasaan politis dari pemerintah Belanda.

Kita kenal Henry Maclaine Pont, CF Wolff Schoemaker, Herman Thomas Karsten, dkk. sebagai arsitek yang mampu menjembatani kepentingan politik, sosial, ekonomi dari pemerintah, idealisme pribadi dan kearifan lokal. Mereka secara fleksibel mampu merancang bangunan sesuai konteks lingkungan, peruntukan, pengguna, dll. sekaligus menjadi penentu kebijakan perencanaan kota dan bangunan. Secara aktif membangun dan menerapkan akulturasi juga pendekatan alam dan budaya lokal pada arsitektur, seperti pada bangunan ITB, Villa Isola, gereja Katolik Pohsarang, dll. Kekuatan struktur, kejujuran bahan, juga keoptimalan tata kondisi cahaya dan penghawaan menjadi pertimbangan penting.

Kekuatan konsep yang diterapkan dalam arsitektur kota dan bangunan di masa kolonial mencakup aspek fungsi, struktur dan estetika, menjadikan desain utuh, integral, kontekstual. Tidak hanya arsitektur yang dibangun para arsitek setelah abad ke-19, arsitektur yang dibangun sebelum abad ke-19 memiliki kekuatan yang sama. Gaya bangunan yang diterapkan tidak semata-mata berdasar selera ataupun sebagai media penunjukan kekuasaan politis, seperti melulu memilih gaya Klasik Eropa saja tanpa pertimbangan aspek teknis dan kegunaan. Ada keunikan sendiri yang mendasari pemilihan gaya bangunan. Estetika bangunan bersifat kontekstual.

Sebagai contoh pada bangunan gereja masa kolonial yang dibangun di sekitar pusat pemerintahan cenderung menerapkan gaya Eropa (Gotik,Renaisans,Yunani,dll.). Kecenderungan penerapan Gotik sebagai gaya bangunan pada bangunan gereja Katolik, seperti Katedral Jakarta dan Bandung, dilatarbelakangi masa puncak orientasi iman pada Gereja Katolik di Abad Pertengahan (era Gotik) sebagai acuan. Sementara gaya Renaisans, Barok, Klasik Baru cenderung diterapkan pada bangunan gereja Kristen Protestan, seperti GPIB ‘Immanuel’ Jakarta, Bandung dan gereja ‘Blendhug’ Semarang. Hal ini mengacu pada masa Renaisans, yang diawali oleh reformasi terhadap kekuasaan Gereja Katolik yang dianggap telah menyimpang dan akhirnya melahirkan ajaran Kristen Protestan.


Katedral Jakarta (1891-1901)
arsitek : Anton Dijkmans SJ, Marius J. Hulstwit, van Es
(
Sumber gambar : http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Katedral_Jakarta)

Gaya Gotik diterapkan melalui penerapan menara, ruang tengah (nave), arcade, triforium, bentuk dasar salib, kaca patri, ribbed-vault, rose marry window, bentuk pointed-arch pada dinding, kolom dengan ornamen tumbuhan (foliated-capital)


Sumber gambar: http://dipotret.blogspot.com/2007_02_01_archive.html


GPIB ‘Immanuel’ Gambir – Jakarta (1835 – 1839)
Penerapan gaya Renaisans, Klasik Baru pada tiang-tiang bergaya Yunani seperti dorik, struktur kubah, denah lingkaran, detail interior lain
Sumber gambar : http://members.tripod.com/alifuru/jakarta/ts_mbetawi.htm

Sementara untuk rumah tinggal dan bangunan publik cenderung menerapkan perpaduan arsitektur tropis dengan gaya Eropa. Pada banyak kasus konsep tradisional Hindu Jawa seperti orientasi Utara-Selatan juga diterapkan. Penerapan bahan alam, kejujuran konstruksi, pertimbangan optimal tata cahaya alami dan penghawaan cenderung pula diterapkan.

Sebagai penanda jaman arsitektur kolonial secara tidak langsung telah memberi kontribusi bagi perkembangan arsitektur dunia. Di akhir abad ke-19 saat arsitektur di Eropa menerapkan konsep eklektik – arsitektur di Indonesia diwarnai pula dengan munculnya beragam penerapan gaya seperti Gotik pada bangunan Katedral, Renaisans pada gereja Protestan dan beberapa bangunan museum. Di saat konsep purisme merebak – di Bandung banyak didirikan bangunan bergaya Art Deco, seperti Hotel Savoy Homann, bangunan di Braga, dll.

Hal-hal tersebut menjadi bukti bahwa keterlibatan arsitek Belanda dalam pembangunan kota dan bangunan di Indonesia memberi kontribusi tidak hanya dalam bentuk pengolahan potensi budaya lokal, namun pula memberi wacana tentang perkembangan arsitektur mutakhir di masa tersebut. Suatu upaya besar yang wajib kita hargai dan lestarikan baik secara fisik maupun spiritual.

Selain banyaknya kasus pembongkaran bangunan kolonial, hal memprihatinkan tentang warisan masa lalu yang terjadi di masa kini antara lain adalah pergeseran fungsi alun-alun. Konsep simbolik (orientasi Utara – Selatan, profan – sakral, peletakan Mesjid di Barat,dll.) pada alun-alun masa kerajaan di Jawa dipertahankan keberadaannya di masa kolonial, walau dengan perubahan pada fungsi pusat pemerintahan. Pada saat ini fungsi alun-alun cenderung tergantikan oleh dominasi sebagai pusat ekonomi. Alun-alun sebagai pusat dari segala bentuk pergerakan kehidupan kota, baik spiritual maupun material, seolah telah kehilangan ‘keseimbangan’nya.

Arsitektur kolonial adalah sumber belajar. Terlepas dari latar belakang politis yang melingkupi kemunculannya pada masa lalu, konsep arsitektural yang diterapkan merupakan pemikiran yang menyeluruh tentang manusia, ruang, lingkungan dan waktu. Arsitektur kolonial adalah jiwa jaman.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Is This (No) Architecture?

09 Pebruari 2008
oleh : Yulia Eka Putrie
Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri (UIN) Malang





Pernahkah, pada satu waktu yang tidak terduga, kita menemukan gubuk semacam ini di tengah-tengah lingkungan kota yang penuh dengan bangunan-bangunan kokoh dan berdinding bata? Jika ya, apakah yang terlintas dalam benak kita ketika melihatnya? Apakah kita sempat berpikir tentangnya? Atau gubuk sesederhana ini bahkan tidak mampu mencuri perhatian kita walau sejenak? Ia mungkin hanya tertangkap oleh mata kepala, tanpa pernah sampai ke mata hati kita.

Sebagian orang mungkin akan menggeleng penuh rasa iba jika memikirkan nasib orang-orang yang mendiami gubuk ini. Sebagian lagi bisa jadi berpikir tentang betapa tidak layaknya gubuk ini untuk dijadikan tempat berhuni. Sementara kita, orang-orang yang berkecimpung di dunia arsitektur, mungkin akan mempertanyakan apakah bangunan ini pantas diklasifikasikan sebagai arsitektur, ataukah hanya pantas menduduki posisi sebagai “bangunan” belaka. Jika ia bukan dianggap bagian dari arsitektur, maka alangkah kejam rasanya ilmu ini mendepaknya keluar dari ruang lingkup keilmuan dan kepeduliannya. Sebaliknya, jika ia merupakan bagian dari arsitektur, maka aspek mana sajakah dari dirinya yang dapat memenuhi kriteria untuk disebut sebagai sebuah “arsitektur”?

Tentu saja, tulisan ini terlalu singkat dan dangkal untuk memberikan vonis apakah hunian di atas merupakan bagian dari arsitektur ataukah berada di luar ranah keilmuan ini. Tulisan ini sesungguhnya hanya ingin memberikan sedikit gambaran tentang pergeseran-pergeseran dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam cara pandang kita terhadap apa sebenarnya yang disebut sebagai arsitektur, sembari mencoba untuk menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan yang mungkin ada secara lebih bijak.

Jika kita kembali kepada pertanyaan di atas –apakah ia merupakan bagian dari arsitektur ataukah tidak?– maka bisa jadi akan muncul berpuluh jawaban, beserta alasan yang dikemukakan untuk memperkuatnya. Pada masa Vitruvius dulu (hingga saat ini!?), ketika arsitektur masih didefinisikan berdasarkan kekokohan, kegunaan dan keindahannya, bisa jadi bangunan hunian di atas tidak memenuhi satu aspek pun dari ketiganya. Ia mudah rubuh tertiup angin kencang, ia sangat terbatas dalam menampung aktivitas penghuninya, dan ia juga tidak indah –terutama jika keindahan yang dijadikan tolok ukur adalah keindahan yang extravagant–. Pendapat senada mungkin juga akan diungkapkan oleh Nikolaus Pevsner yang menganggap arsitektur hanya pantas disematkan pada bangunan-bangunan yang dirancang dengan pertimbangan-pertimbangan akan daya tarik estetis (Pevsner dalam Ballantyne, 2002: 11). Dengan pandangannya ini, Pevsner ini tentu dengan sangat tegas akan menyingkirkan gubuk di atas dari ranah arsitektur. Bisa jadi, ada pula yang memasukkannya ke dalam ruang lingkup arsitektur, namun dengan berbagai peryaratan yang harus dipenuhi sebelumnya, layaknya seseorang yang hendak melamar menjadi anggota sebuah klub. Misalnya saja, bentuk dan materialnya yang harus sesuai standar, luas ruang yang harus memenuhi ketentuan minimal, dan sebagainya. Sebaliknya, bagi Diogenes –seorang filsuf Yunani yang digambarkan hidup di dalam sebuah gentong yang hanya sedikit lebih besar dari tubuhnya (the pithos)–, bangunan di atas bahkan bisa jadi terlalu mewah untuk dijadikan sebagai tempat berhuni.

Sebagian arsitek ada pula yang berpendapat bahwa hanya bangunan yang dirancang oleh arsiteklah yang pantas disebut sebagai arsitektur. Pendapat ini bisa jadi benar dalam konteks tertentu. Walau begitu, ia tampaknya lebih banyak menggambarkan ego dan kebutuhan para arsitek untuk diakui di masyarakat. Secara logis, sebenarnya hanya seseorang yang dapat menghasilkan sebuah “arsitektur”lah yang pantas disebut sebagai seorang “arsitek”, bukan sebaliknya. Dalam jagad keilmuan arsitektur, perbincangan hangat mengenai hubungan antara arsitektur dan arsitek ini kemudian memunculkan istilah-istilah seperti “architecture without architect”, dan sebaliknya “architect without architecture”. Istilah pertama menggambarkan pengakuan akan keberadaan obyek-obyek arsitektur, yang walaupun tidak dirancang oleh arsitek profesional, namun memiliki “kadar arsitektural” yang sangat tinggi, dan dengan demikian pantas disebut sebagai “arsitektur”. Sementara itu, istilah “architect without architecture” tampaknya lebih merupakan sindiran halus kepada orang-orang yang merasa dirinya arsitek profesional, namun tidak mampu menghasilkan satu pun bangunan yang dapat diklasifikasikan sebagai arsitektur. Shame on us, isn’t it? ^_^

Perubahan dan pergeseran cara pandang memang merupakan sesuatu yang niscaya di dalam dunia yang dipenuhi oleh manusia-manusia yang senantiasa berpikir. Di tahun 1990-an, ketika industrialisasi di Eropa telah sampai kepada titik jenuh akan pertimbangan-pertimbangan materialistik semata, muncul keinginan-keinginan di ranah pemikiran arsitektur untuk kembali kepada dunia perancangan yang mempertimbangkan aspek etika sebagai bagian tidak terpisahkan darinya. Etika yang dimaksud di sini tentulah tidak semata-mata etika terhadap sesama manusia, melainkan juga kepada makhluk hidup lain dan lingkungan alam. Tentu saja, termasuk pula di dalamnya etika terhadap Tuhan yang Maha Menciptakan Alam Semesta; salah satu ranah etika yang paling sering terlupakan. Kepedulian akan lingkungan alam, yang disebut sebagai “pihak yang paling lemah” oleh Galih Widjil Pangarsa di dalam bukunya “Merah Putih Arsitektur Nusantara”, mulai memperoleh gaungnya. Walaupun masih lebih sering berada di ranah filosofis yang sering dituding sebagai utopian (Pangarsa, 2006: 53), tampaknya pemikiran ini berimbas cukup besar kepada cara pandang sebagian arsitek dan akademisi terhadap arsitektur dan ruang lingkupnya. Lingkungan alam, ujar Prof. Mohd. Tajuddin Mohd. Rasdi di dalam salah satu tulisannya, harus mulai dipandang sebagai ‘the spaceship Earth’, sehingga apapun yang terjadi terhadap pesawat itu, manusia sebagai kru di dalamnya langsung merasakan pula akibatnya (Tajuddin, 2003). Pandangan-pandangan semacam ini memasukkan pertimbangan akan keberlangsungan alam sebagai aspek yang penting dari arsitektur.

Jika perubahan paradigma mengenai apa yang disebut sebagai arsitektur di atas berimbas pula pada penilaian terhadap gubuk hunian ini, maka gubuk inilah yang bisa jadi justru “lebih arsitektural” daripada bangunan-bangunan mewah yang memenuhi tiga kriteria Vitruvius di atas. Bayangkanlah, betapa sedikit dampak negatif dari gubuk beralas tanah dan berukuran kecil ini terhadap lingkungan alam, jika dibandingkan dengan dampak negatif yang diakibatkan deretan rumah besar yang membelakanginya itu. Penutupan seluruh bidang tapak yang masif pada rumah-rumah mewah itu sebenarnya bukan disebabkan oleh permasalahan keterbatasan lahan perkotaan –sebuah alasan klasik untuk menutup habis tanah yang mereka miliki–. Tampaknya, fenomena semacam ini lebih merupakan cerminan dari kemasabodohan manusia-manusia yang merancang, membangun dan mendiaminya, akan keseimbangan dan keberlanjutan lingkungan alam.

Lebih jauh, gubuk di atas bahkan dapat disebut sebagai “sangat arsitektural”, karena hanya dengan menatapnya saja, manusia dapat mengambil pesan dan memperoleh pelajaran akan keseimbangan hubungan manusia dan alam. Manusia harusnya mengambil seperlunya saja dari alam dan masih menyisakan “udara segar” agar tanah yang kita pijak ini masih tetap dapat bernafas. Pelajaran seindah ini bahkan dapat kita peroleh dari dua pohon pisang yang masih dapat tumbuh segar di halaman belakang gubuk ini. Once again shame on us, isn’t it? ^_^ Andrew Ballantyne di dalam Introduction buku “What is architecture?” menyatakan: “Such buildings are informative and philosophically interesting, because they can be seen to be testing an idea, and they therefore tend to be discussed and revisited in commentaries, even if they are not particularly beautiful or good to live in. They are valuable because we can learn something from them.” (Ballantyne, 2002: 3-4). Mereka bernilai karena kita dapat mempelajari sesuatu dari mereka, ujar Ballantyne. Hmm, adakah pelajaran sebaik ini dapat kita raih dari deretan rumah mewah yang memunggungi gubuk itu?
Satu lagi pendapat menarik tentang arsitektur, adalah apa yang didefinisikan Spiro Kostof sebagai bukan sesuatu yang inheren di dalam bangunan itu sendiri, melainkan sebagai permasalahan kultural yang melibatkan bangunan. “The buildings turn into architecture when we feel that we should notice them and treat them with respect, and this can happen to any building.” (Ballantyne, 2002: 12). Dalam pandangan ini, persepsi kitalah yang memegang peranan untuk menentukan apakah sebuah bangunan cukup berarti bagi kita untuk kita anggap sebagai arsitektur ataukah tidak. Sebuah bangunan dapat dianggap sebagai sebuah arsitektur oleh sebagian orang, dan sebaliknya, bahkan tidak dipersepsi sama sekali oleh sebagian yang lain. Dalam kasus di atas, sebuah gubuk pun dapat kita anggap sebagai arsitektur jika ia memiliki arti tertentu bagi kita, sebaliknya, rumah-rumah mewah yang tidak memiliki arti dan kesan apa-apa bagi kita hanya akan berakhir sebagai bangunan belaka.

Adalah menarik untuk menyadari bahwa perdebatan-perdebatan semacam ini tampaknya tidak akan pernah sampai pada satu kesimpulan besar mengenai apakah gerangan arsitektur itu dan seberapa besarkah ruang lingkupnya. Walaupun begitu, setiap pendapat yang mencoba mendefinisikan hal ini selalu menarik untuk diselami, karena dari sanalah kita dapat mengambil nilai-nilai kebenaran dan kebijaksanaan yang mungkin terkandung di dalamnya. Dengan memahami dan membandingkan setiap pendapat yang ada, kita dapat pula memperoleh keluasan pengetahuan akan konteks dan keterbatasan dari masing-masing definisi. Lebih jauh, pada akhirnya kita dapat pula menggali dan menemukan latar belakang dan cara pandang dari para pencetusnya, yang bersembunyi di balik setiap pernyataan yang mereka lontarkan.

Daftar Pustaka
Ballantyne, Andrew (2002), What is Architecture, London: Routledge
Mohd. Tajuddin, Mohd. Rasdi (2003), “Islamic Architecture in Malaysia: a Case of Middle Eastern Inferiority Complex”, Crisis in Islamic Architecture, The KALAM Papers June 2006. Malaysia: Fakulti Alam Bina UTM
Pangarsa, Galih Widjil (2006), Merah Putih Arsitektur Nusantara, Yogyakarta: Penerbit Andi

_____________________________________________


Considering Tacit Knowledge in Architecture
Written by Probo Hindarto

The above article by Yulia Eka Putrie question the presence of vernacular architecture, in the world of modern architecture in Indonesia, especially in urban areas. There is always a gap between the rich and the poor, and both parties have their own ‘kind’ of architecture. The rich are they who are able to adapt and simulate modern lifestyle, as well as modern architecture. What is called ‘modern’ in new urban cities and lifestyle in Indonesia is often a transformation from traditional to a more international lifestyle, which is mostly architecture influenced by modern architecture in western tradition. Even for the poor, quite often modern architecture and its glamorous look attracts them to use modern architecture idioms whenever possible. New housing developments adapt this modern style into small houses called ‘minimalist houses’, a term which is very popular lately.

Menyerapnya informasi serta perkembangan industri, teknologi, dan perdagangan telah merubah mereka menjadi masyarakat penikmat, dan pemakai hasil arsitektur. Di mana masyarakat awam sendiri hanya mengikuti apa yang terjadi, tidak tahu menahu tentang asl usul bentuk arsitektur rumahnya, bahkan juga konsep serta ide-ide dasarnya.

The absorption of industrial development, technology, and commerce has changed them into consumer societies, and users of architectural products. In a state where common people themselves just follow what is in progress, unable to find out the origin of the form of their houses, even the concept and the basic ideas

(Antariksa, in http://antariksaarticle.blogspot.com/2008/02/arsitektur-dan-pemiskinan-budaya.html)

It is not the first time architecture styles occur in Indonesia, previously there are ‘Jengki style’, ‘Spanish style’, ‘classic style’ and ‘Mediterranean style’. But this is not the most important phenomena, there is a condition, where society desperately try to look forward to find new idioms of modernism. There is no question regarding changes of architecture styles, like in term of fashion, it will continuously happen. But traditional architecture stays the same, with very little changes.

Architecture as a part of aspects that is influenced by this new way of thinking shows somehow big differences from traditional architecture, or in the case that Yulia wrote, from vernacular architecture. The society leaves their own traditional and vernacular architecture due to influences, showing their premature stage of accepting influences. Several aspects of tacit knowledge in traditional and vernacular architecture will certainly be lost.

Some aspects of these changes are caused by architects, and the slogans they bring, deeply rooted by education they obtain from universities. Education still is, very influenced by western philosophy and science, naturally when facing the face of local architecture, doesn’t promise much harmonious relationship. Something presence from vernacular architecture has bigger thing behind its presence, the tacit knowledge being the background. Traditions which are mostly in tacit knowledge, mostly are not recognized by modern way of thinking. There is always a question, whether this is a process of demolition of these tacit knowledge?

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Arsitektur dan musik

‘Menikmati’ Pemikiran Broadbent, Mangunwijaya, Jencks dan Kurokawa

15 Januari 2008
oleh : Jolanda Atmadjaja Herlambang

Kegiatan ‘berpikir’ dalam mendesain tentunya merupakan hal yang wajib dilakukan setiap desainer. Sebagai tahapan dalam proses desain – filosofi desain umum divisualisasikan, secara praktis diwujudkan dan ‘dinikmati’ pengguna desain melalui produk desain yang dihasilkan. Begitu pula dengan desain arsitektur, ‘buah pikir’ dapat dinikmati di antaranya melalui pengalaman ruang dan kegiatan apresiasi bentuk arsitektur.

Di awal abad ke-20 kita kenal Frank Lloyd Wright dengan konsep Organik-nya, Mies van der Rohe dengan Less is More –nya juga Le Corbusier dengan konsep ‘Five points of a New Architecture’ dan sculptural concrete architecture – nya. Di akhir abad ke 20 kita kenal Peter Eisenman dengan Arsitektur Dekonstruksi – nya, juga gerakan Metabolis yang dirintis Kisho Kurokawa, dkk. (untuk selanjutnya Kurokawa mengembangkan konsep Simbiosis) dan masih banyak arsitek pemikir yang fenomenal.

Lalu bagaimana dengan pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan? Akankah juga mampu memberi ‘kenikmatan’ tersendiri pada pembaca seperti halnya pengalaman estetis dalam menikmati karya arsitektur dan karya desain lainnya?

Sepanjang pengalaman ‘membaca’ saya di antara banyak tulisan di bidang desain arsitektur ada tulisan 4 orang arsitek pemikir fenomenal yang dipublikasikan pasca tahun 1970-an yang menggugah pikiran dan kesadaran saya : Geoffrey Broadbent, Charles Jencks, YB Mangunwijaya, dan Kisho Kurokawa.

Secara umum melalui pemikiran ke 4 tokoh ini proses desain dan estetika bentuk, khususnya, dipandang sebagai suatu yang utuh. Desain merupakan keterkaitan segala aspek dalam obyek desain, obyek desain dengan lingkungannya, sekaligus juga hubungan desainer, obyek desain dengan pengguna, penikmat desain. Desain merupakan media penyampai pesan, selain memiliki dimensi – seperti kata Vitruvius – fungsi, struktur dan estetika.

Sementara estetika bentuk merupakan ‘keseimbangan’ dari segala aspek dalam desain, cenderung bersifat kontekstual dan merupakan ‘jiwa’ desain. Estetika bentuk tidak dipandang hanya melalui tampilan atau keindahan fisik atau pun melalui hasil komposisi dari unsur rupa (garis,bidang,bentuk 3d,tekstur,dll.) dengan penerapan prinsip desain (kesatuan,keseimbangan,irama,dll.) saja. ‘Meaning’ dalam desain dengan tingkatannya (denotatif atau pun konotatif) merupakan aspek penting estetika bentuk.

Geoffrey Broadbent


Sumber gambar : http://www.wessex.ac.uk/news/architecture.html

Kita kenal Broadbent dengan bukunya ‘Design in Architecture’ (1980) yang memuat hal-hal mendasar dalam desain arsitektur dan menjadi pegangan wajib mahasiswa, akademisi, arsitek maupun peminat desain arsitektur lain. Arsitektur dengan pendekatan manusia, pemikiran sistematis dan menyeluruh, mencakup aspek logis, intuitif dan kreativitas yang dibutuhkan dalam mendesain diurai secara mendetail dalam buku ini.

Hal fundamental dan menarik untuk dikembangkan yang dipaparkan pula oleh Broadbent adalah pendekatan bentuk. Broadbent membagi pendekatan bentuk ke dalam empat kategori (1973 : 25 – 54)
Pragmatik – pendekatan melalui tahap percobaan, trial and error

  • Ikonik (selanjutnya dikembangkan menjadi Tipologik) – pendekatan melalui tradisi, kebiasaan yang telah umum dilakukan atau berdasar
    kesepakatan sosial
  • Analogik – pendekatan analogi alam, atau segala sesuatu (kerja tubuh
    manusia, teori fisika, dsb.)
  • Kanonik/Geometrik (menurut Broadbent dalam makalah seminar arsitektur di Univ. Parahyangan tahun 1987 pendekatan Kanonik
    dikembangkan menjadi Sintaksis) – pendekatan sistem geometris, matematis, keteraturan, modul, dsb.

Selanjutnya Broadbent mengembangkan konsep bentuk nya dalam konteks semiotika (ilmu tanda) berdasar teori Peirce dan Piaget dalam buku ‘Sign, Symbol, and Architecture’ (1980 : 311 – 330)

  • Pragmatik sebagai Indeks
    dikategorikan dapat merupakan petunjuk sesuatu dan sebagai tanda – pesan dapat direspon secara langsung
  • Analogik dan Kanonik sebagai Ikon,
    hasil olah bentuk baik secara matematis, metafora, dsb. dan sebagai tanda – obyek menunjukkan maksud yang ingin disampaikan
  • Tipologik sebagai Simbol
    merupakan hasil kesepakatan sosial, kebiasaan umum, dan sebagai tanda – pesan dapat diketahui maksudnya dengan melihat hubungan obyek dengan lingkungan yang ada di sekitar juga hubungan-hubungan dalam obyek, bersifat kontekstual

Melalui telaah bentuk kita mengetahui bahwa aspek komunikasi merupakan hal penting dalam arsitektur. Arsitektur sebagai bahasa dan merupakan kumpulan ‘tanda’. Pernyataan ini diuraikan pula oleh Jencks dalam buku yang sama (1980 : 107 – 110) bahwa arsitektur sebagai tanda dapat merupakan indeks, ikon maupun simbol. Arsitektur sebagai a way of life sign, pernyataan status sosial ekonomi, pernyataan dari kepercayaan, tradisi, makna antropologis yang mencerminkan kondisi sosial ekonomi suatu wilayah, tanda dari fungsi dan aktivitas dalam bangunan, fungsi sosial, psychological motivation, struktur, temperature control, environmental service, pernyataan konsep ruang, komunikasi bentuk tiga dimensional – a sign of formal articulation.

Hal ini membuka pikiran untuk melihat desain sebagai bagian dari proses sosial budaya dan aspek bentuk merupakan salah satu media komunikasi visual, yang dapat menjembatani desainer dengan masyarakat pengguna dan pengamat.

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya


Sumber gambar : http://id.wikipedia.org/wiki/Y.B._Mangunwijaya

Pemikiran menyeluruh dan kontekstual, paduan seimbang logika, intuisi dan kreativitas serta muatan sosial budaya desain terangkum pula dalam pemikiran ‘guna dan citra’ oleh YB Mangunwijaya dalam buku ‘Wastu Citra’ (1988). Mangunwijaya menekankan pula bahwa kearifan budaya lokal mampu menjadi solusi desain yang ‘membumi’, ramah lingkungan dan lebih bersifat ‘abadi’.

Citra arsitektur tidak terlepas dari potensi-potensi alam, sifat manusia yang ada di sekitarnya, menunjukkan keselarasan dengan alam sekelilingnya. Arsitektur yang baik, yang indah tidak terlepas dari ekspresi dan realisasi diri, bukan hanya penonjolan aspek fisik saja. Oleh karena itu arsitektur, yang berasal dari kata architectoon / ahli bangunan yang utama, lebih tepat disebut vasthu / wastu (norma, tolok ukur dari hidup susila, pegangan normatif semesta, konkretisasi dari Yang Mutlak ), karena wastu lebih bersifat menyeluruh / komprehensif, meliputi tata bumi (dhara) , tata gedung (harsya ), tata lalu lintas (yana) dan hal-hal mendetail seperti perabot rumah, dll.

Total-architecture tidak hanya mengutamakan aspek fisik saja, yang bersifat rasional, teknis, berupa informasi tetapi mengutamakan pula hal-hal yang bersifat transendens, transformasi, pengubahan radikal ke-ada-an manusia. Oleh sebab itu citra merupakan bagian yang sangat penting dalam berarsitektur.Citra menunjuk pada sesuatu yang transendens, yang memberi makna. Arti, makna, kesejatian, citra mencakup estetika, kenalaran ekologis, karena mendambakan sesuatu yang laras, suatu kosmos yang teratur dan harmonis.

( YB Mangunwijaya, Wastu Citra, 1988 : 326 – 337 )

Pemikiran Mangunwijaya yang kontekstual, peka terhadap kearifan lokal, ‘membumi’ diwujudkan dalam karya-karyanya seperti area ziarah umat Katolik di Sendang Sono, Muntilan ataupun pemukiman tepi Kali Code, Yogyakarta ( kini sudah tidak terawat lagi ). Kejujuran fungsi, bahan dan struktur menentukan estetika bentuk bangunan dan kawasan karya Mangunwijaya yang menunjukkan kesatuan dengan alam dan merupakan konsistensi perwujudan konsep guna dan citra yang dicetuskannya.


Sendang Sono, Muntilan, Jawa Tengah
sumber gambar :
http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/places-of-interest/sendang-sono/

Charles Jencks


Sumber gambar : http://www.charlesjencks.com/biography.html


DNA for KEW Gardens, London (2003)
Sumber gambar : http://www.charlesjencks.com/kew.html

Sementara Jencks dalam karyanya ‘The Architecture of The Jumping Universe’ (1996) menjadikan teori-teori kontemporer tentang alam semesta seperti teori chaos dengan butterfly effect-nya, fractal, kompleksitas, nonlinearity, dll. sebagai dasar pemikiran arsitektur. Memadukan sain dengan perkembangan arsitektur dengan tujuan memberi pemahaman bahwa arsitektur mencerminkan pula pandangan tentang alam semesta. Jencks menggunakan pula istilah Form Follow World View.

The Butterfly Effect – little changes can have extraordinary and unpredictable consequences.

The universe is much more like a butterfly than a Newtonian machine. The universe is self-organizing, unpredictable, creative, and self-transforming. Every living thing has the property of self-repair, a small version of its great power of self-organizing.

As buildings reveal a way of life, this new world view will be most visibly expressed in architecture. Architects express the ideals of an age. Architecture is built meaning. We may speak or write our thoughts.

Architecture reveals what we believe, how we want to live. It fatefully expresses who we are. ( Charles Jencks, The Architecture of The Jumping Universe, 1996 : 11 – 13 )

Fraktal merupakan struktur yang memiliki substruktur yang masing-masing substruktur memiliki substruktur lagi dan seterusnya. Setiap substruktur adalah replika kecil dari struktur besar yang memuatnya. Contoh fraktal dalam arsitektur adalah penerapan permainan perulangan bentuk geometris dengan keragaman dimensi dan peletakan sebagai bagian struktur , atau juga denah dengan bentuk dasar lingkaran dengan 2 ukuran berbeda bertumpu pada pergerakan spiral pada susunan tangga, dll.

Bagi Jencks karya Frank O. Gehry, Vitra International Headquarters, di Birsfelden, Switzerland (1992 – 4), dianggap memiliki kedalaman dan kreativitas melalui paduan yang saling melengkapi antara bentuk-bentuk dinamis, biomorfik pada bangunan dengan fungsi ruang ceremonial meeting dengan bentuk-bentuk formal, teratur, grid pada bangunan fungsi kantor. Struktur dalam bangunan menentukan dan memiliki kesatuan dengan bentuk luarnya. Setiap putusan desain merupakan hasil pertalian antar aspek di dalamnya.



Vitra International Headquarters, Birsfelden, Switzerland (1992 – 4)
Sumber gambar : http://www.netropolitan.org/gehry/vitra.html

Sedangkan karya Peter Eisenman menunjukkan kedinamisan alam melaluipemanfaatan kemajuan teknologi komputer sebagai bagian dari proses desain. Kita ketahui Eisenman sebagai salah satu pencetus Arsitektur Dekonstruksi cenderung memanfaatkan pendekatan bentuk pragmatis (menurut kategorisasi bentuk Broadbent) dalam karya-karyanya.

Pada tahun 1997 (Yakob Sutanto, Arsitektur + Tempo, Kompas 17 April 2005 : 33) Eisenman Architects di New York menjadikan kedinamisan tempo sebagai konsep dalam ‘Virtual House’ melalui simulasi digital.


Virtual House (1997)
Sumber gambar : http://prelectur.stanford.edu/lecturers/eisenman/

Prinsip arsitektur yang perlu diterapkan di tengah kompleksitas jaman ini menurut Jencks (1996 : 167 – 169) adalah :

  • Alam dan ‘bahasa alam’ merupakan pendekatan desain. Desainer sebagai the originators of the second nature, melakukan penyesuaian
    dengan alam juga beradaptasi dengan kemajuan teknologi
  • Representasi kedinamisan sifat dasar alam semesta
  • Kreativitas memuat permainan imajinasi dan pendekatan intelektual. Desain berkait dengan organizational depth, multivalence, kompleksitas dan the edge of chaos, serta merupakan ‘higher organization out of order and chaos’
  • Penerapan keragaman, bottom-up participatory system , yang mampu memaksimalkan perbedaan.
    • If the universe is a whole and societies as parts, are inherently self-organizing and in the end chaotic, the survival strategy will depend on a variety of models, species and approaches. The conclusion must be that one should foster a difference which will reach a maximum point of ‘self-organizing criticality’, that is, just before it explodes in complication
  • Keragaman, perbedaan pemikiran desain dapat dipadukan melalui metodemetode yang mampu mengakomodir keragaman
  • Beragam kebijakan berorientasi lingkungan dan kearifan lokal menjadi dasar desain.
  • Arsitektur memuat kompleksitas permasalahan, mengakomodir beragam tuntutan yang kontradiktif. Sebagai bahasa – arsitektur mengadopsi simbol, makna alam, baik lokal maupun universal
    • It should have a double-coding of these concerns with aesthetic and conceptual codes
  • Sain, khususnya sain kontemporer sebagai penyingkap tanda-tanda alam dijadikan pendekatan dalam arsitektur.
    • A cosmogenic architecture must embody imagination in action, it must dramatize creative processes, or it is nothing. Its spiritual role is to portray the laws and be emergent – that is surprise

Pemikiran Jencks membuka peluang kita untuk lebih luas memandang arsitektur sebagai mikrokosmos yang mencerminkan makrokosmos, seperti yang telah dipaparkan Mangunwijaya. Pandangan tentang alam semesta selalu berubah dinamis sejalan perkembangan jaman, begitu pula dengan pemikiran dalam arsitektur. Perkembangan sain dan teknologi dapat menjadi sumber inspirasi dan penunjang utama dalam proses desain, selain juga aspek ekologis (konsep ekodesain).
( Informasi lain tentang Jencks dapat diakses di http://www.charlesjencks.com )

Khiso Kurokawa


Sumber gambar : http://www.kisho.co.jp/page.php/4

Mikrokosmos sebagai pencerminan dari makrokosmos dijabarkan pula oleh Kisho Kurokawa. Kurokawa menyatakan bahwa arsitektur menjelang dan awal abad ke 21 berada dalam periode Age of Life di mana proses kehidupan : metabolisme, metamorfosis dan simbiosis dapat dicerminkan dalam perwujudan arsitektur. Kita ketahui Kurokawa merupakan salah satu pencetus gerakan Arsitektur Metabolis di
tahun 1960-an.

In the age of life, it is the very plurality of life that possesses a superior and rich worth. The rising interest in the environment and the new importance given ecology aim at preserving the diversity of life.

Life is the creation of meaning. The life of the individual and the diversity each species possesses is linked to the diversity of all of the different human cultures, languages, traditions, and arts that exist on the earth. In the coming age, the machine-age ideal of universality will be exchanged for a symbiosis of different cultures. ( Informasi lain tentang Kurokawa dapat diakses di www.kisho.co.jp )

Filosofi simbiosis dalam arsitektur dijabarkan Kurokawa secara mendetail dalam bukunya Intercultural Architecture – The Philosophy of Symbiosis (1991). Arsitektur simbiosis sebagai analogi biologis dan ekologis memadukan beragam hal kontradiktif, atau keragaman lain, seperti bentuk plastis dengan geometris, alam dengan teknologi, masa lalu dengan masa depan, dll. Seperti dikatakan Jencks (sebagai pembuka tulisan), arsitektur simbiosis merupakan konsep both-and, mix and match dan bersifat inklusif. Kurokawa mengadaptasi sain kontemporer (the non-linear, fractal, dll.) pun mengambil hikmah dari pemikiran Claude Levi Strauss berkait dengan pernyataan bahwa tiap tempat, wilayah, budaya punya autonomous value dan memiliki struktur masing-masing walau dengan ciri yang berbeda. Dengan demikian mengakomodir keragaman adalah suatu keharusan. Perlu ada jalan untuk menjembatani perbedaan karakter wilayah, budaya dll. Simbiosis diupayakan untuk secara kreatif menjaga hubungan harmonis antar tiap perbedaan, merupakan intercultural, hybrid
architecture.

Dalam karyanya pemukiman di Al-Sarir, Libya 1979 – 84 (1991, 93 -94) Kurokawa memadukan teknologi baru dengan alam padang pasir, antara lain dengan memanfaatkan bahan dasar bangunan sand-bricks, dipadukan dengan materi prefabrikasi untuk bahan atap, juga pengaturan sirkulasi udara, dll. Tiap lay out dan desain diupayakan memenuhi keinginan tiap penghuni sehingga tiap rumah memiliki bentuk yang berbeda walau dengan bahan dan struktur yang sama.


KL International Airport – Selangor, Malaysia
Sumber gambar : http://www.kisho.co.jp/page.php/223

Merupakan perpaduan struktur geometric hasil teknologi dengan bentuk kubah sebagai simbol tradisi Islam (dalam bentuk hyperbolic paraboloid shell) juga area hijau seperti penerapan taman dalam airport serta lansekap hutan tropik

Kondisi alam yang semakin tidak pasti di jaman konseptual dan high touch seperti sekarang menjadikan pemikiran desain mengarah pada kebijakan dalam mengolah alam, sustainable construction, eko desain. Konsep simbiosis Kurokawa, uraian Mangunwijaya dalam Wastu Citra, pemikiran Green Architecture Jencks dan Broadbent (pada perkembangan terakhir Broadbent pun terlibat pada pemikiran Green Architecture) secara jelas dan komprehensif menyoroti masalah tersebut.

Benang merah dari ciri pemikiran Broadbent, Jencks, Mangunwijaya dan Kurokawa (selain mampu memberi gambaran lebih luas, menyeluruh dan multidimensi tentang estetika bentuk dan proses desain pada umumnya) adalah kemampuan berpikir metaforis. Bagi saya hal ini yang mampu menjadikan pemikiran-pemikiran keempat tokoh ini fenomenal, memiliki visi masa depan dan memenangkan benak saya sebagai ‘penikmat’ pemikiran sekaligus merupakan pengalaman estetis. Seperti juga kata Twyla Tharp yang dikutip oleh Daniel H. Pink dalam bukunya Misteri Otak Kanan (judul asli adalah A Whole New Mind – 2007), metafor adalah kekuatan yang vital dan pemberi hidup dari semua seni. Selanjutnya Pink menguraikan (2007 : 182 -188)

Proses pemikiran manusia pada umumnya adalah metaforis.
Dalam sebuah dunia yang kompleks penguasaan kiasan-kemampuan otak yang utuh yang disebut oleh sebagian saintis kognitif sebagai rasionalitas imajinatif – menjadi semakin lebih bernilai.

Pemikiran metaforis dapat membantu kita tuk memahami orang lain dan diri kita,
juga menyadari makna. Imajinasi metaforis penting untuk menempa hubunganhubungan empatik dan mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman.

Era konseptual juga menuntut kemampuan untuk memahami suatu hubungan diantara hubungan-hubungan, atau dikenal pula dengan istilah pemikiran sistem, pemikiran struktur, pemikiran holistik ataupun melihat keseluruhan perspektif.

Pengenalan pola, pemikiran keseluruhan perspektif dengan bergantung pada penalaran kontekstual yang intuitif memungkinkan para pemimpin untuk memilih kecenderungan-kecenderungan yang bermakna dari campuran informasi di sekitarnya dan berpikir secara strategis jauh ke masa depan.

Saat menelaah proses berpikir metaforis arsitek-arsitek tersebut kita akan menemukan bahwa beragam teori yang dijabarkan punya ‘value’. Dalam hal ini ‘value’ mengarah pada kemampuan membentuk pola pikir kita menjadi lebih menyeluruh dan integral, sekaligus juga membangun kesadaran akan kompleksitas dan konteks permasalahan desain sesuai tuntutan kondisi jaman.

Kekuatan pemikiran desain (yang memberi pula perspektif baru tentang estetika bentuk) ditunjang oleh perwujudan nyata dalam karya oleh arsitek pemikir seperti Mangunwijaya, Jencks, Kurokawa, dkk. menunjukkan bahwa keseimbangan otak kiri dan kanan yang menentukan kekuatan logika, intuisi dan kreativitas kita sungguh penting dalam mendesain. Pada akhirnya membangun perenungan kita untuk berupaya lebih bijak menyikapi beragam permasalahan desain yang semakin kompleks dan tidak pasti.

Daftar Pustaka :
1. Broadbent, Geoffrey, Design In Architecture , John Willey & Sons, Chichester : 1980 (cetakan pertama tahun 1973)
2. Broadbent, Geoffrey; Bunt, Richard ; Jencks, Charles , Sign, Symbol and Architecture, John Willey & Sons, Chichester : 1980
3. YB Mangunwijaya, Wastu Citra, PT. Gramedia, Jakarta : 1988
4. Jencks, Charles , The Architecture of the Jumping Universe, Academy Group Ltd., London : 1996 (cetakan pertama tahun 1995)
5. Kurokawa, Kisho, Intercultural Architecture, A Philosofy of Symbiosis , Academy Group Ltd. and Khiso Kurokawa, London : 1991
6. Pink, Daniel H. , Misteri Otak Kanan (judul asli A Whole New Mind , Riverhead Books, New York : 2006), Penerbit Think, Yogyakarta : 2007
7. Broadbent, Geoffrey, Design In Architecture, makalah seminar Universitas Parahyangan Bandung, 6 Juni 1987
8. Yakob Sutanto, Arsitektur + Tempo, Kompas 17 April 2005 : 33
9. Situs-situs tersebut pada tulisan dan gambar

Copyright artikel diatas pada Jolanda Atmadjaja Herlambang.


Ditulis awal pada 13 Januari 2008
Diedit terakhir pada 15 Januari 2008

Akar mendesain via berpikir logis 1

Catatan Probo Hindarto:

13 Januari 2008 Sebagai bagian dari kelanjutan proses berpikir saya akan profesi saya saat ini, artikel ini digulirkan. Premis pertama saya untuk membuka wacana ini adalah; Mendesain adalah berpikir.

Jadi saya akan membedakannya dari mendesain adalah bekerja, bermain, dan sebagainya. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa pemikiran saya ini akan dilanjutkan nantinya dengan premis lain seperti eksklusifitas premis saya tersebut dengan parameter yang berbeda. Jadi saya mohon maklum terlebih dulu bila terjadi kesan pemikiran yang agak dangkal dalam wacana ini, disebabkan seharusnya logika dalam mendesain tidak lengkap tanpa unsur rasa, jiwa, dan sebagainya yang terkenal dalam dunia timur. Seingat saya dalam web ini dan artikel-artikel saya yang lain terdapat banyak premis eksklusif yang dapat dikategorikan ‘the origin of designing’ dalam perspektif saya, namun saya membutuhkan waktu untuk mengurai itu semua.

15 Januari 2008 Hari ini saya diberi wacana artikel diatas oleh Jolanda Atmadjaja Herlambang, yang tulisannya terdahulu bisa juga diakses disini. Agak surprise bagi kedua penulis dalam artikel ini karena topik yang diambil hampir sama, seputar arsitek dan ‘berpikir’.



Sketsa Probo Hindarto, 13 Januari 2008

Arsitek sebaiknya mencoba sebaik mungkin mengerti klien. Klien dan arsitek memiliki realitas berbeda, sehingga berusaha mengerti berarti mencoba memahami dan menghargai realitas klien, termasuk utopia klien. Meskipun itu hanyalah salah satu saja dari sekian banyak aspek yang musti diperhatikan oleh seorang arsitek. Ada harga yang cukup besar dari ‘mengerti’ apa yang diinginkan manusia lain, karena dalam dunia rasional; mengerti berarti pengakhiran dari ketidaktahuan, musuh utama dunia rasional yang dianggap sebagai sumber dari segala penderitaan. Penghargaan pada realitas yang dianggap lebih besar; seperti utopia klien, sebaiknya menjadi pendorong arsitek bekerja demi realitas tersebut.

Sebagai sebuah metode reasoning, logika dalam mendesain bisa jadi dan seharusnya berakar dari pengetahuan dan pengalaman seorang arsitek, dengan dibantu oleh berbagai aspek lain yang patut dipertimbangkan. Pengetahuan mendefinisikan bagaimana seorang arsitek berpikir dalam rancangannya, menentukan apakah desain akan cukup ‘matang’ atau masih ‘mentah’. Selain itu, logika sebagai bagian dari filsafat bisa menjadikan arsitek memiliki peran ganda dalam profesinya; sebagai arsitek, dan sebagai filsuf. Sebagai arsitek ia harus mendesain dengan berbagai batasan secara logis, yang kemudian secara logis pula memiliki berbagai konsekuensi. Sebagai filsuf, ia memiliki alur logika bagian dari filsafat desain yang dimilikinya, yang akan menentukan nilai sebuah desain berdasarkan nilai-nilai yang juga dihasilkan oleh filsafat.


Ekspresi bangunan mengandung akar logika berpikir dan filsafat yang dimiliki orang-orang dibalik berdirinya sebuah bangunan.
Foto oleh Probo Hindarto. Lokasi: Green Hills Residence

Salah satu tokoh yang bisa dikategorikan menjadi arsitek sekaligus filsuf adalah Y.B. Mangunwijaya. Didalam arsitektur ‘berfilsafat’ yang dihasilkan olehnya, dapat ditemukan berbagai kebijaksanaan (wisdom – pencapaian tertinggi filsafat) dari hasil memaknai segala fenomena. Kearifan muncul sebagai sekresi positif dari kesadaran diri dan lingkungan (saya menyebutnya sebagai sekresi karena ia adalah hasil keluaran dari sebuah tubuh; tubuh pikiran seorang manusia). Banyak bangunan yang dibuat oleh Mangunwijaya merupakan bangunan-bangunan ramah lingkungan, ramah sosial.

Memang banyak ragam sekresi filsafat, seperti bagaimana bangunan bergaya dekonstruksi merupakan hasil dari sekresi filsafat dekonstruksi, atau arsitektur Jawa sebagai hasil sekresi filsafat Jawa. secara tak sadar wujud bangunan, perumahan, apartmen, mall, kantor bertingkat adalah wujud dari logika dan sekresi filsafat itu. Menentukan seberapa kedalaman hasil berpikir arsitektur perancangnya, atau bila bileh dikaitkan dengan konteks bahwa arsitektur perumahan, apartemen dan sebagainya itu adalah hasil dari logika berpikir orang-orang yang membangunnya, wujud dari hasil berpikir manusianya sendiri.

Jadi desain dengan rasio perhitungan rupiah akan menghasilkan rupiah. Desain berdasarkan kearifan filsafat akan menghasilkan arsitektur yang arif. Berpikir dalam mendesain akan menentukan nilai desain.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Rumah Komali dengan Titik Pusat Tiang Petumbu; Perwujudan “Kalo”, simbol kesatuan-persatuan manusia & alam Suku Tolaki

29 Desember 2007
arnus


Kendari dilihat melalui software Google Earth. Klik disini untuk mendownload file .kmz kota Kendari.
Kota Kendari yang mayoritas penduduknya adalah Suku Tolaki, salah satu suku terbesar yang ada di Propinsi Sulawesi Tenggara di samping Suku Buton dan Suku Muna.
Kota Kendari mengelilingi Teluk Kendari. Apakah posisi geografis ini berhubungan dengan konsep “kalo”? Sungguh tak mudah untuk memastikan, meskipun kenyataannya memang geografi Kendari seolah membentuk kalo. (Sumber: Rencana Tata Ruang Kota Kendari 1999/2000, Dinas Tata Kota Kendari)


Kalo: lingkaran konsep dasar


Kalo dari rotan dengan anyaman bambu dan kain putih (Sumber: Tarimana, 1993:208)

Apakah kalo? Secara harfiah “Kalo” adalah suatu benda yang berbentuk lingkaran, cara-cara mengikat yang melingkar, dan pertemuan-pertemuan atau kegiatan bersama di mana para pelaku membentuk lingkaran. Kalo dapat dibuat dari rotan, emas, besi, perak, benang, kain putih, akar, daun pandan, bambu dan dari kulit kerbau. Pembuatan kalo pada dasarnya adalah dengan jalan mempertalikan atau mempertemukan kedua ujung dari bahan-bahan tersebut pada suatu simpul. Kalo meliputi osara (adat istiadat) yang berkaitan dengan adat pokok dalam pemerintahan, hubungan kekeluargaan-kemasyarakatan, aktivitas agama- kepercaya-an, pekerjaan-keahlian dan pertanian (Tarimana 1993: 20).

Dari berbagai jenis kalo, yang dikenal luas adalah yang terbuat dari rotan, kain putih dan anyaman. Lingkaran rotan adalah simbol dunia atas, kain putih adalah simbol dunia tengah dan wadah anyaman adalah simbol dunia bawah. Kadang-kadang juga ada yang mengatakan bawah lingkaran rotan itu adalah simbol matahari, bulan dan bintang-bintang; Kain putih adalah langit dan wadah anyaman adalah simbol permukaan bumi. Mereka juga mengekspresikan bahwa lingkaran rotan adalah simbol Sangia Mbu’u (Dewa Tertinggi), Sangia I Losoanooleo (Dewa di Timur) dan Sangia I Tepuliano Wanua (Dewa penguasa kehidupan di bumi), dan wadah anyaman adalah simbol Sangia I Puri Wuta (Dewa di Dasar Bumi). Kalo juga adalah simbol manusia: lingkaran rotan adalah simbol kepala manusia, kain putih adalah simbol badan dan wadah anyaman adalah simbol tangan dan kaki (angota).

Demikianlah kalo pada pola pikir dan mentalitas Tolaki menyangkut seluruh aspek kehidupan mereka. Kalo juga merupakan ekspresi konsepsi orang Tolaki mengenai unsur-unsur manusia, alam, masyarakat dan hubungan selaras antarmanusia dan antara manusia dengan unsur-unsur tersebut, termasuk dalam komunitas dan pola permukiman, organisasi kerajaan dan adat dan norma agama yang mengatur tata kehidupan mereka. Akhirnya dapat dikatakan bahwa kalo melambangkan keselarasan dalam kesatuan-persatuan antara segala hal yang bertentangan dan tampak bertentangan dalam alam tempat berhuni manusia Tolaki.

Melihat apa yang dapat disumbangkan konsep kalo tersebut bagi pengembangan filsosofi arsitektur permukiman rakyat, sudah sepantasnya untuk diketahui lanjut dari manakah asal-usul kalo.

Asal-usul orang Tolaki dan kalo: dari Cina?


Rumah anakea dari Lambuya dengan bentuk atap lengkung, merendah di bagian tengah. (Sumber: Sarasin dalam Bungalaw, 1994, dikutip Tarimana, 1993)

Untuk menjawabnya, perlu dilihat dahulu gambaran umum masyarakat Tolaki. Suku Tolaki, salah satu suku terbesar yang ada di Propinsi Sulawesi Tenggara di samping Suku Buton dan Suku Muna, tersebar di Kab. Kendari dan Kab. Kolaka; yang berada di Kab. Kolaka mendiami daerah Mowewe, Rate-rate dan Lambuya sedangkan yang berada di Kab. Kendari mendiami daerah Asera, Lasolo, Wawotobi, Abuki dan Tinanggea. Orang Tolaki pada mulanya menamakan dirinya Tolohianga (orang dari langit). Menurut Tarimana (1993), mungkin yang dimaksud “langit” adalah “kerajaan langit” sebagaimana dikenal dalam budaya Cina (Granat, dalam Needhan 1973 yang dikutip Tarimana). Dalam dugaannya, ada keterkaitan antara kata “hiu” yang dalam bahasa Cina berarti “langit” dengan kata “heo” (Tolaki) yang berarti “ikut pergi ke langit”.

Sedikit fenomena linguistik itu memang sangat mudah memancing komparasi karakter tektonik arsitektur Tolaki ke Cina, sehingga ada beberapa pihak yang memperban-dingkan bubungan atap lengkung gaya komali dengan kurva atap kelenteng Cina. Namun atap lengkung bukan monopoli Cina. Dari rumah adat Yulong di Vietnam, Minangkabau sampai yang terdekat dengan tempat kediaman orang Tolaki yaitu tongkonan Toraja, kesemuanya memakai atap berbubungan lengkung.

Jadi sebetulnya tak terlalu mudah untuk menghubungkan peradaban Tolaki dengan Cina. Hipotesis tentang hubungan kesejarahan Tolaki-Cina tampaknya masih sangat perlu didukung oleh kajian antropologi linguistik dan sejarah etnografi arsitektural yang lebih memadai. Apalagi jika yang hendak dikaji bukan hanya bentuk tektoniknya saja tetapi pandangan hidup dan kehidupan masyarakat Tolaki. Pertanyaan penting antara lain: dapatkah melacak sejarah mentalitas yang dikandung konsep kalo ke Cina, mengingat unsur konsepsual utama budaya konfusian Cina adalah kesetimbangan dualitas yin-yang dan bukan keselarasan lingkaran kehidupan dalam kesatuan-persatuan sebagaimana kalo? Apapun wacana yang dapat dikembangkan, asal-usul budaya dan peradaban Tolaki tampaknya lebih mudah diterima jika dikaitkan dengan pola migrasi neo-litikum yang lebih umum: bangsa-bangsa Sulawesi bermigrasi dari jalur Asia Tenggara ke Kepulauan Pilipina; sedangkan mereka yang datang dari arah Selatan bisa jadi berasal dari Pulau Jawa lewat Pulau Buton.

Selain asal-usulnya, hal yang juga sukar diketahui dengan pasti adalah masa pemerintahan raja-raja dalam legenda rakyat tentang dua kerajaan besar lokal: Konawe dan Mekongga. Menurut tradisi tutur, raja Sangia Ngginoburu (Konawe) dan raja Sangia Nibandera (Mekongga) diperkirakan memerintah pada saat Islam telah diterima (Tarimana 1993).

Rekonstruksi: Tiang Petumbu sebagai pusat Rumah Komali

Rumah adat Tolaki telah lenyap. Upaya rekonstruksi digalakkan, antara lain lewat Seminar Penelusuran Arsitektur Tradisional Tolaki Fak. Tek. Universitas Haluoleo, Maret 2004 . Dari studi intensif dan keterangan para nara sumber yang ada, beberapa hal dapat disimpulkan (Faslih, 2004).



Rekonstruksi sistem struktur rumah komali. (Sumber: Hasil Seminar Penelusuran Arsitektur Tradisional Tolaki Fakultas Teknik Universitas Haluoleo, Maret 2004)

Antara lain, bahwa rumah adat Tolaki dapat berupa komali (rumah istana raja) atau laika (rumah tempat orang tinggal). Namun antara rumah raja dan rumah rakyat, yang membedakan adalah besar dan luasnya saja: rumah raja 40 depa rumah rakyat minimal 3 depa. Rumah hanya salah satu dari beberapa jenis shelter dalam peradaban arsitektur Tolaki, yaitu: tempat berlindung sementara (pineworu), pondok berlantai tanah ditengah ladang (laikawatu), tempat berlindung yang dipindah-pindahkan (payu), dangau (patande) dan lumbung (o ala). Pola tatanan permukiman pun tak lepas dari konsep kalo: konsentrik dengan posisi rumah raja/kepala suku berada di bagian tengah (Tarimana 1993).


Rekontekstualisasi tradisi? Rumah tinggal dengan arah masuk dari sisi pendek bangunan (atas) dan gerbang Terminal Powatu, Kendari (bawah) . Apapun, itu adalah salah satu upaya pelestarian yang perlu dihargai. (Foto: Yusfan, 2005)

Menurut para nara sumber adat dalam hasil studi arsitektural dan etnografi, yang menjadi core element dalam rumah adat Tolaki adalah 9 jajar tiang dengan diperkuat balok melintang (powuatako) dan memanjang (nambea). Dalam jajaran tiang ini terdapat satu tiang utama yang disebut dengan tiang petumbu yang terletak ditengah baris dan lajur ke-9 tiang ini. Tiang petumbu adalah tiang yang pertama kali ditanam dan pemasangannya dilakukan pada waktu subuh (sebelum matahari terbit). Setelah petumbu didirikan, 4 hari atau lebih baru didirikan tiang-tiang lainnya dengan maksud untuk melihat dalam jangka waktu tertentu apakah akan terjadi sesuatu pada tiang petumbu. Jika tidak terjadi sesuatu maka dilakukan pemasangan ke-9 tiang yang lainnya.

Setelah ke-9 tiang berdiri yang pertama dipasang adalah balok powuatako (A) pada sisi dalam tiang arah bagian belakang rumah, selanjutnya balok B dan C. Setelah balok powuatako dipasang selanjutnya pemasangan balok nambea (1) dimulai dari arah kanan rumah, kemudian menyusul nambea 2 dan nambea 3. Semua Powuatako dan nambea, baik yang melintang maupun yang memanjang yang menempel pada tiang dipinggir luar badan bangunan, harus ditempatkan di belakang tiang. Agar setelah dinding dipasang tiang tak akan kelihatan dari luar, karena terhalang oleh dinding.

Rumah Komali berbentuk rumah panggung yang menggunakan tiang-tiang bundar (tusa), tidak menggunakan pondasi seperti halnya rumah-rumah adat yang lain. Tiang ditanam sedalam satu hasta, tiang yang akan ditanam ke dalam tanah sebelumnya dibakar pada bagian selubung (permukaan tiang) hingga menjadi arang, selanjutnya tiang yang dibakar tadi dibungkus dengan ijuk dan diikat persegmen dengan menggunakan rotan. Makna kedalaman satu hasta tidak ada, hanya terkait dengan kemudahan penggalian dan pengang-katan tanah ke permukaan. Tiamh dibakar dan dibung-kus bertujuan agar permukaan selubung tiang menjadi arang agar tiang tidak mudah dimakan rayap dan agar arang tersebut tetap melekat pada selubung tiang.

Tinggi tiang dari permukaan tanah hingga ke permukaan lantai diperkirakan kerbau bisa masuk dibawahnya, kurang lebih 2 m. Jumlah tiang untuk Komali adalah 40 tiang di luar tiang dapur dan tiang teras. Makna dari jumlah 40 tiang ini terkait dengan suatu jumlah yang disaratkan dalam meminang yaitu 40 pinang dan 40 lembar daun sirih. Jadi perwujudan ini diejawantahkan dalam tiang-tiang penopang rumah. Jika dianalisis dari segi fungsi maka jumlah 40 tiang merupakan jumlah tiang yang mewakili satu rumah besar, yang hanya dibangun oleh tokoh tertinggi adat (Mokole).

Hubungan antara balok powuatako, nambe dengan tiang, diikat dengan rotan. Cara mengikat; pertama rotan pengikat diikatkan pada powuatako atau nambea bukan pada tiang. Putaran pertama kali silang ke arah kanan sebanyak 4 putaran selanjutnya pada arah silang kiri sebanyak 3 kali putaran terakhir di tinohe di antara tiang dan powuatako atau nambea. Setelah pemasangan kesembilan tiang ini barulah bisa dilakukan pemasangan tiang-tiang tambahan lainnya sesuai dengan luasan dan kebutuhan yang dikehendaki.

Kesembilan tiang yang merupakan core element dalam rumah adat Tolaki merupakan symbol dari siwolembatohu yaitu delapan penjuru mata angin. Tiang petumbu merupakan pusat dari siwolembatohu. Oleh karena itu, inilah yang menjadi dasar pemikiran mengapa tiang petumbulah yang pertama kali dibangun bahkan dalam pemasangannya diikuti oleh upacara ritual dan pada bagian puncaknya diberi ramuan guna memohon kepada Tuhan agar seisi rumah yang menempati rumah ini dapat terhindar dari berbagai bahaya yang datang dari delapan penjuru mata angin.

Rekontekstualisasi kalo

Kalo sebagai lambang kesatuan/persatuan suku Tolaki adalah lambang kebersamaan diiringi oleh ketulusan tanpa egoisme, untuk hidup dalam suatu situasi yang dinamis, di mana setiap orang dalam berbagai perbedaan suku, ras dan agama hidup dalam satu lingkaran yang terjalin dan tersimpul dengan kuat. Dan tentunya hal ini harus dipahami sebagai bentuk kebersamaan yang tidak mudah lepas hanya karena adanya perbedaan pemikiran yang mengakibakan timbulnya kesalahpahaman atau bahkan yang lebih parah dari itu, yakni timbulnya pertikaian. Kesimpulan: konsep kesatuan-persatuan yang dikandung kalo wajib direkontekstualisasikan secara nyata —tak hanya dalam masyarakat Tolaki, tetapi juga menjadi pelajaran bagi masyarakat bangsa ini— setelah rangkaian perhelatan seminar digelar dan hasilnya ditumpuk-arsipkan.

.

Copyright, teks dan gambar dari/pada:
· Kompilator: Yusfan Adeputra; Nurma Yunita; Iqbal Radikal; Ika Aprilia; Dian Permata, Maruna Sari, Titis Primita
· Editor: Galih W. Pangarsa
Tim Arsitektur Nusantara

Buka situs Arsitektur Nusantara www.arsitek-nusa.brawijaya.ac.id

***

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Kaliandra; menyambung kembali peradaban Asia Pasifik

http://bopswave.googlepages.com/englishflag.jpg English Version

16 Desember 2007
Catatan Probo Hindarto:
A nation without culture is a nation without history.

‘Musik campursari adalah suatu cara agar musik tradisional Jawa bisa survive di jaman modern’, sayup-sayup saya mendengar seseorang berbicara hal itu. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Arsitektur tradisional bisa juga hadir dalam konteks baru di jaman modern ini, agar tetap memiliki kelangsungan hidup. Kaliandra adalah sebuah kawasan budaya dengan visi; “Terciptanya manusia yang mandiri, berbudaya dan berkelanjutan”. Konsep Kaliandra mirip seperti konsep bangsawan tuan tanah di Eropa jaman dahulu, dengan para pekerja yang bekerja di tanah tersebut, namun dalam hal ini dalam konteks yang sangat manusiawi. Website Kaliandra dapat diakses melalui www.kaliandrasejati.org


Ini adalah salah satu contoh dimana pemberdayaan lokal hadir dalam wawasan lingkungan yang cerdik. Bersama dengan diwujudkannya arsitektur lokal dan tradisional, pemberdayaan masyarakat lokal melalui budaya melahirkan manfaat yang banyak, bagi masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian, masyarakat Indonesia sebagai wahana mengenal budaya dan peradaban, serta bagi pemilik yayasan Kaliandra sebagai bagian dari profit yayasan, untuk menghidupi segala kegiatan didalamnya.

Tentu saja kurang adil bagi saya bila menyebutkan hanya Kaliandra sebagai contoh dalam artikel ini untuk menunjang suatu pemikiran bahwa Nusantara adalah sebuah satuan teritorial dari sebuah peradaban yang lebih besar disekitar Asia Pasifik. Kaliandra hanya salah satu contoh dari berbagai contoh lain disekitar kita, yang bila ditelaah akan memberikan pengertian yang lebih baik tentang peradaban Nusantara pada umumnya. Demikian pula dengan Arsitektur Jawa Timur, sebagai suatu peradaban kedaerahan yang spesifik, hanya salah satu contoh saja dari berbagai peradaban di Nusantara yang masing-masing, adalah sebuah untaian mutiara dari keberagaman sekaligus kemiripan peradaban disekitar Asia Pasifik.

Dalam wujud yang lebih kontemporer, Kaliandra mengusung peradaban arsitektur Jawa Timur dalam wacana bangunan-bangunan yang dapat diapresiasi sebagai bagian dari menyambung kembali peradaban masa lalu.


Hadir dengan tatanan baru, konsep landscape dan bangunan di Kaliandra terinspirasi oleh kejayaan arsitektur masa lalu Jawa Timur./

Tradisi terputus karena tidak adanya regenerasi, atau proses mengenalkan pada generasi selanjutnya, sehingga tradisi seharusnya merupakan sesuatu yang di’getok-tular’kan dari generasi ke generasi. Untungnya tradisi Jawa Timur masih kuat melekat pada sebagian masyarakatnya, terutama yang hidup didesa-desa, apalagi yang hidup didaerah terpencil. Bahkan kebudayaan yang berkembang bisa diurut kembali ke masa lalu. Lain halnya dengan daerah-daerah perkotaan di Jawa Timur, dimana peradaban modern mengambil bagian dari kehidupan masyarakat dengan cukup intens, tingkat kecintaan masyarakat yang kurang tersentuh oleh hasil peradaban modern terhadap tradisi lokal sangat besar dan mendarah-daging.

Arsitektur tradisional dapat melekat kuat dan dipergunakan sehari-hari oleh masyarakat karena memiliki konteks yang sesuai untuk diri mereka. Justru karena arsitektur ini dekat dengan keseharian, filsafat hidup dan kebiasaan sehari-hari mereka, sehingga arsitektur tradisional digunakan. Bila tidak sesuai dengan keseharian, arsitektur vernakular tradisional akan ditinggalkan. Kecuali bagi arsitektur yang monumental dan menjadi prasasti dari filsafat hidup atau keagungan nilai-nilai yang dilestarikan, seperti arsitektur di keraton. Biasanya arsitektur modern dan pendekatan perancangan modern digunakan bagi sebagian masyarakat yang telah berada dalam lingkungan peradaban modern.

Konsep Kaliandra sebagai pemberdaya masyarakat lokal merupakan contoh baik bagi kontribusi penyandang dana bagi lingkungan, tidak hanya dari unsur budaya, namun juga pemberdayaan intelektualitas dan ekonomi masyarakat sekitar. Di Kaliandra, masyarakat sekitar dilibatkan dalam berbagai acara sebagai pekerja operasional, secara berkala Kaliandra juga menyelenggarakan seminar dan sarasehan gratis maupun berbayar bagi masyarakat lokal, komunitas, atau profesi tertentu. Zuraida (dalam [Ref. 3]) berpendapat bahwa desa yang berkembang tidak hanya bermanfaat bagi ekonomi desa itu saja, namun juga bagi tingkat intelektualitas masyarakatnya, karena dengan ekonomi yang lebih baik, sangat mungkin pendidikan bisa lebih maju. Dalam kondisi, wilayah lain dengan potensi lokal berbeda hal seperti ini juga bisa dilakukan. Misalnya; membuat pemberdayaan potensi desa pengrajin, desa tepi pantai, desa agrobisnis dan agrowisata, dengan sistem yang melibatkan masyarakat, yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam ekonomi, sosial dan budaya.

Arsitektur Tradisional Jawa (dan Nusantara) sebagai bagian dari peradaban dunia

Arsitektur modern dibuat dengan cara pandang berbeda daripada arsitektur tradisional, karena akar desainnya didapat dari kebutuhan dan gaya hidup masa kini yang boleh jadi berbeda dari yang digunakan masyarakat dengan tradisi yang kental. Sebagai contoh; ada rumah tradisional yang minim bahkan tanpa jendela, yang dipandang dari sisi arsitektur modern akan dipandang sebagai rumah tidak sehat. Dalam hal ini, ternyata rumah tersebut memang dibuat tanpa jendela, karena ruang dalam hanya digunakan untuk malam hari (tidur), dan digunakan untuk menyimpan segala harta benda seperti perhiasan, kendaraan, bahkan ternak. Arsitektur tradisional dengan wacana semacam ini tidak bisa dipandang sebagai menyalahi peraturan pemerintah tentang rumah sehat, misalnya, karena konteks tradisi berbeda.

Diagram sejarah peradaban Jawa dibawah ini dibahas untuk memperjelas beberapa hal dibawahnya;

http://astudioimages.googlepages.com/javanese-architecture-diagram.JPG

Sejarah Jawa Timur menunjukkan dinamisme dalam kehidupan bernegara yang ada dalam kerajaan-kerajaan masa lalu, yang menyebarkan tradisi lokal Jawa Timur ke berbagai daerah, serta mendapatkan pengaruh dari banyak daerah lain di Nusantara, Asia Pasifik, dan dunia. Arsitektur candi di Jawa Tengah patut disimak, karena arsitektur Jawa Tengah berkembang lebih dulu daripada Jawa Timur. Peradaban di Jawa berkembang dengan pengaruh India dengan agama Hindu – Budha dimana dari perkembangan ini terjadi suatu peradaban yang sangat terorganisir; kerajaan-kerajaan besar.

.
Candi Dieng di Jawa Tengah, Indonesia.
Sumber gambar: http://www.ecesty.cz/cestopisy/1998cks/obrazky/indonesie/ri_dieng_chramy.jpg

Mengambil contoh arsitektur candi Dieng (ini berada di Jawa Tengah), dengan bentuk candi punden berundak (candi dengan hierarki depan – belakang, bagian belakang lebih tinggi), candi ini memiliki relief yang bila diperhatikan, akan menunjukkan sesuatu fakta sejarah. Reliefnya menunjukkan frame konstruksi kayu, yang menggambarkan bahwa konstruksi kayu adalah jenis konstruksi yang sangat penting dan banyak digunakan waktu candi ini dibuat (sebuah hal yang luar biasa; bangunan berkonstruksi batu yang menggambarkan konstruksi kayu), berbeda dengan candi di India yang hingga abad kesepuluh tidak menunjukkan arsitektur kayu. Hal ini menunjukkan arsitektur candi di Indonesia tidak sepenuhnya diimpor dari India. Sistem konstruksi yang digunakan adalah berasal dari India, namun arsitektur lokalnya berbeda, memiliki gaya tersendiri. Sama seperti saat ini dimana kita mengimpor sistem konstruksi modern yang banyak berasal dari luar negeri terutama dari Belanda, arsitektur masa candi mengambil teknologi konstruksi dari India dan mengembangkan gaya arsitekturnya sendiri. Hal ini mengukuhkan bahwa Jawa tidak terlalu ‘silau’ dengan kebudayaan yang datang dari India, melainkan mengembangkan diri sesuai karakter lokal yang ada.


Gambaran arsitektur kayu dalam arsitektur konstruksi batu di candi Perwara, Plaosan, Jawa Tengah.
Sumber: [Ref. 4]


Bangunan-bangunan berkonstruksi kayu yang ada di relief candi Borobudur, Indonesia. Menunjukkan konstruksi rumah panggung yang di Jawa tidak populer, namun di pulau-pulau lain populer seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lain-lain, menunjukkan dikenalnya peradaban dari wilayah Nusantara lainnya di Jawa pada waktu Borobudur didirikan.
Sumber gambar; [Ref. 4]

Keunikan bangunan candi juga dapat diambil dari tipologi bangunan candi yang unik dan memberi gambaran hubungan dengan bangsa lain di masa lalu. Candi Sukuh adalah candi yang cukup unik juga di Jawa Tengah, bahkan sangat unik karena jenis arsitektur yang digunakan tidak lazim terdapat di Jawa ataupun India. Candi ini berbentuk piramid terpancung.


Candi Sukuh di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Sumber gambar: http://www.tournonsensemble.com/indonesie/indonesie_photos.htm


Piramid Kebudayaan Maya, Amerika Selatan
sumber gambar; http://www.whitebison.org/magazine/2003/volume4/images/vol4no21/photo1.jpg

Dari sisi bentuk, arsitektur candi ini tidak dapat ditemui di mana saja di Nusantara dan Asia, namun hanya ditemukan di bangunan-bangunan tua di Amerika Selatan. Hal ini merupakan suatu hal yang dapat menunjukkan kemungkinan kuat adanya hubungan antara Jawa dengan Amerika selatan jauh di masa silam. Selain itu bentuk patung-patungnya juga hampir mirip (bentuk estetika patungnya mirip). Bentuk patung dan relief dengan proporsi patung ‘tak lazim’ juga ditemukan di berbagai kebudayaan, antara lain; Jawa, Timur Leste, Batak, Kalimantan, Minahasa, dan sebagainya dimana hal ini menunjukkan kemungkinan pernah terjadinya hubungan budaya antara berbagai peradaban tersebut. Banyak peninggalan berasal dari masa megalithikum (peradaban batu besar). Patung-patung ini tentunya memiliki estetika yang tidak sama dengan patung-patung di Eropa.


Relief Candi Sukuh, Solo, Indonesia

sumber gambar; http://www.geocities.com/javakeris/kerisologi.htm


Patung-patung di Candi Sukuh, Jawa Tengah; estetika patung yang ‘tak lazim’ yang mirip dengan patung-patung dari kebudayaan Maya Inca, di Amerika Selatan.

Sumber gambar; blontankpoer.blogsome.com


Dua estetika berbeda; timur dan barat. Patung Durga dari kerajaan Singhasari (Malang, Indonesia) yang sekarang ada di Belanda, dan patung hiasan di gedung opera di Paris. Yang satu berlandaskan kepekaan dimensi kosmologis metafisik, yang lain berlandaskan realisme estetika erotisme fisik.
Sumber; Wasthu Citra

Kata ‘Rumah’ adalah kata yang menarik dipandang dari sisi penggunaan kata ini oleh berbagai peradaban disekitar Asia Pasifik. Dalam bahasa Jawa, Rumah adalah o-mah. Di Nias disebut o-mo, di Batak disebut huma, di NTT disebut u-me. Di kepulauan Pasifik sebutan untuk rumah banyak memiliki persamaan, seperti amo, oma. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban Jawa adalah sebuah bagian besar dari peradaban Asia Pasifik, dimana Nusantara menjadi area sirkulasi yang sangat padat di masa lalu sebagai penghubung antara Mesir dan Asia Pasifik.

Untuk melihat kemiripan estetika hasil budaya di Nusantara dan salah satu kepulauan di Pasifik, kita bisa melihat contoh dari Papua dan kepulauan Easter.


Salah satu patung modern di Papua, terlihat estetika patung ‘tak lazim’ yang masih dipelihara hingga saat ini. Bandingkan kemiripan estetika ini dengan patung di kepulauan Easter dibawah ini.
Sumber foto: http://www.papuaweb.org/gb/foto/muller/ecology/05/index.html


Patung-patung dari jaman Megalith di Easter Islands, Pasifik. Jenis estetika ‘dunia Timur’.

Kata lain yang dapat menunjukkan yang disebut ‘kata yang menggambarkan persatuan peradaban Nusantara adalah kata Ratu dalam bahasa Jawa, Datu dalam bahasa Melayu (atau Datuk), Ratu dalam bahasa Fiji, dan semacam itu yang digunakan dalam peradaban sekitar Asia Pasifik, serta masih digunakan di Jawa [Ref. 8]. Peradaban ini dalam sejarah linguistik disebut sebagai Austronesian, yang merupakan wilayah penyebaran bahasa Astronesian yang tersebar, dari Asia ke Pasifik [Ref. 9]. Bahkan pada 1500 AD, Austronesian telah mengambil bagian dari hampir separuh dunia dalam perkembangan tutur bahasa, dari Madagaskar hingga kepulauan Easter. Tak heran bila dalam perkembangan itu juga berbagai budaya saling bersentuhan dan ditularkan. Indonesia berada dalam arus lalu lintas yang menghubungkan Asia dan Pasifik, tentunya pengaruh yang datang ke Indonesia tidak hanya dari Asia Tenggara saja, namun juga dari Kepulauan Pasifik, Micronesia, India dan wilayah-wilayah lain dalam area ini.

Tidak mengherankan pula bila Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat kaya, karena merupakan bagian dari peradaban Asia Pasifik. Disamping itu, faktor sedikit terisolasinya pulau-pulau mencetuskan kebudayaan masing-masing daerah yang sangat unik dan beragam, serta memiliki karakter kuat untuk masing-masing daerahnya. Perkembangan Austronesia menurut tumpang-tindihnya kebiasaan (overlapping behaviour) bertutur bahasa memang tidak bisa dengan mudah dikaitkan dengan penyebaran budaya, namun ada kaitan yang sangat erat antara penyebaran dan percampuran bahasa dengan kemungkinan penyebaran budaya yang dapat terjadi seiring hal tersebut. Perkembangan ini diindikasi telah berlangsung dalam 6000 tahun, sejak jaman sebelum sejarah [Ref. 8].


Akar budaya Nusantara, berakar dan berhubungan dengan India, Asia, Nusantara, Australia, Mikronesia, dan lebih jauh; Amerika Selatan.

Dalam contoh lingkup yang dibahas dalam artikel ini, arsitektur rumah di Jawa Timur mengalami banyak perubahan. Pada dasarnya arsitektur rumah dan bangunan lainnya adalah arsitektur kayu, dimana menurut relief candi-candi di Jawa, adalah bangunan yang mendominasi di tanah Jawa, dan Nusantara pada umumnya. Arsitektur kayu adalah arsitektur dengan bahan dasar dasar dan konstruksi kayu, sedangkan arsitektur batu seperti arsitektur Eropa dan candi-candi di Indonesia dan India dibuat dari konstruksi massa (mass construction) berbahan dasar batu. Arsitektur rumah memiliki banyak jenis rumah berdasarkan bentuk atapnya. Ada rumah Tajug, Rumah Kapung (bukan Kampung), Rumah Limansap (bukan Limasan), Joglo, dan sebagainya. Menurut Prijotomo [Ref. 1], Joglo adalah tipe bangunan yang termuda, karena joglo tidak pernah digambarkan dalam candi-candi di Jawa. Hal ini menunjukkan arsitektur Joglo yang sekarang masih ada di Jawa Timur dan Jawa pada umumnya merujuk pada ‘tren’ arsitektur Jawa termuda, yaitu joglo. Joglo yang banyak di Jawa ternyata tidak hanya berada di Jawa melainkan juga di daerah-daerah lain di Nusantara, seperti di Sumba, Lombok, dan lain-lain. Bentuk joglo di Sumba dan Lombok sudah ada sebelum abad ke-15 sehingga hal ini menunjukkan hubungan antara Jawa dengan Indonesia Timur, dimana arsitektur Joglo boleh jadi ‘terinspirasi’ oleh arsitektur dari wilayah Indonesia Timur tersebut.


Joglo khas Sumba

sumber gambar; http://bp2.blogger.com/_aojIvnG7-SA/RrLpc2DvQOI/AAAAAAAAABU/rbhAj3lMQ6E/s1600-h/rmh+sumba.jpg

Melestarikan tradisi arsitektur dalam konteks baru di jaman modern
Dalam hal ini berarti turut serta melestarikan rentetan peradaban arsitektur di sepanjang Asia Pasifik, dalam lingkup kecilnya; budaya lokal Jawa – Nusantara yang menjadi bagian dari peradaban yang lebih besar. Kelangsungan ini menunjukkan tidak terputusnya tradisi, dapat dipelajari di masa depan sebagai ‘menghadirkan kembali kejayaan masa lalu’ seperti halnya kelahiran kembali peradaban Eropa di masa Renaissance. Bentuk Joglo dipakai dalam sebagian bangunan di Kaliandra, dimana bentuk ini merupakan ciri khas bangunan Jawa Timuran yang dibuat dengan konstruksi dan konteks modern.


Pendopo di bagian depan kawasan


Pendopo dan landscaping di area depan Kaliandra


Pendopo bagian ‘atas’ kawasan


Arsitektur kayu di Kaliandra, berhubungan atau terinspirasi dari arsitektur khas Jawa lainnya, seperti seperti bangunan di keraton Jogja.


Digunakannya batu-bata sebagai pelapis dinding dan lantai mengingatkan kita pada arsitektur candi peninggalan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur

Kaliandra memiliki keunikan dalam bangunan-bangunannya, dimana selain tradisi arsitektur lokal Jawa dihadirkan dalam bentuk bangunan, terdapat pula pengaruh arsitektur Eropa yang hadir dalam ornamentasi dan detail bangunannya. Bahkan terdapat pula arsitektur bangunan yang ‘sangat Eropa’.


Bangunan-bangunan yang ‘sangat Eropa’ di Kaliandra.

Akulturasi


Akulturasi dalam bangunan ini saja; sistem konstruksi modern, tata nilai arsitektur Jawa, patung bentuk ‘tak lazim’ dari kebudayaan primitif banyak peradaban di seluruh dunia, patung tembikar gaya eropa diatas kolom-kolom bata candi Trowulan.


Patung tembikar di Kaliandra, yang sudah agak meninggalkan ciri khas patung estetika ‘tak lazim’ dari dunia timur, menuju ideal barat.

Sketsa

(Probo Hindarto)

***

REFERENSI

Materi Seminar
[1] Materi seminar ‘Arsitektur Jawa Timuran’ oleh Joseph Prijotomo, 15 Desember 2007; “‘Sejarah’ dan Perkembangan Arsitektur di Jawa Timur – Tantangan untuk Re-orientasi Pemahaman”

Buku
[2] Ismunandar. Joglo, 2007. Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Penerbit Effhar, Semarang.
[3] Silas, Johan, dkk. 2000. Rumah Produktif, dalam dimensi Tradisional dan Pemberdayaan. UPT Penerbitan ITS, Surabaya.
[4] Atmadi, Parmono. 1988. Some Architectura Design Principles of Temples in Java; A Study through the Buildings Projection on the Reliefs of Borobudur Temple. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
[5] Mangunwijaya, 1992. Wasthu Citra. Penerbit Gramedia, Jakarta.

Foto-foto
[6] Perjalanan ke Kaliandra, 15-16 Desember 2007. Seluruh foto oleh Probo Hindarto, kecuali disebutkan sumber lainnya.

Sketsa-sketsa
[7] Sketsa Probo Hindarto, Desember 2007

Web
[8] http://epress.anu.edu.au/austronesians/austronesians/mobile_devices/ch15s03.html
[9] http://en.wikipedia.org/wiki/Austronesian


EXTERNAL LINKS:

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Kaliandra, reconjuct the Asia Pacific Civilization

http://bopswave.googlepages.com/indonesiaflag.jpg Bahasa Indonesia

“Campursari music is a way for Javanese traditional music to survive in the modern world”, I heard someone said that once. Campursari is a new music genre in Indonesia, combining traditional music instruments with modern ones, and this new music seems to blend very well. I Agree with what I heard. Traditional architecture can also be presented in modern world, to have a continuation. Kaliandra is a cultural area with a vision; “The creation of self-sufficient, civilized and sustainable human being” (hopefully I have translated this well). The concept of Kaliandra seems like the concept of old time European land owner, with the workers work in the land, but in this case in a very way of humanity. Kaliandra website is www.kaliandrasejati.org




This is one example when local development can appear in a smart environmental paradigm. Along with the realism of local and traditional architecture, local society development can produce many benefit, for the surrounding society as job creations, Indonesian (and international) society as a way to comprehend culture, and for the owner of the organization to support the activities inside Kaliandra

It would be unfair for me only to mention Kaliandra as one example inside this article to support one thought that Nusantara is a territorial part of bigger civilization around Asia Pacific. Kaliandra is just one example of many examples around Indonesia, that if we are willing to learn more about the many culture in each part of Nusantara, is a chain of pearls and diamonds of plural and similar civilization in Asia Pacific.

In a more contemporary design, Kaliandra brings back the glory of Javanese (precisely East Javanese) architecture in buildings considered as connected to ancient civilization.


Established in a new order, the landscape concept of Kaliandra was inspired by the glory of ancient East Javanese architecture

Tradition can be stopped if there is no regeneration. It’s a good news that East Java tradition still exist in the mind of east javanese people, especially they who live in villages. The culture can be traced back from the past. Different from the life in the modern cities in East Java, where modern civilization takes a big part in the life of its society intensely. Love for local culture for East Javanese society that is not really touched by modern civilization is still enormous and becoming their flesh and blood.

Traditional architecture is known to be used in daily life by the society because it has an appropriate context to their life. It is because architecture is near to their daily life, life philosophy and their daily habit, traditional architecture is used. If it is appropriate to their daily life, traditional vernacular architecture will be abandoned. Unless for monumental architecture where philosophy and values are preserved, like architecture in keraton (Javanese royal palace). While modern architecture is used by societies which are open to culture from modern people, like TV, media, and others.

Kaliandra’s concept as developer of local societies is a good example for contribution of investors to the society, not only in cultural aspect, bt also in intellectual and economical development. In Kaliandra, societies are involved in many occasions as operational workers, frequently Kaliandra host seminars for local communities and certain professions. Zuraida (in [Ref. 3]) argue that developing city is not only making benefit for the local village, but also for the intellectual level of them, because with higher economic level, it is possible that the education will be higher, too. In other condition, other local communities with their specific potential are in the same chance to develop this kind of concept. Like developing village of crafters, seaside villages, agrobusiness and agrowisata, with the system involving society to higher their capabilities in economy, social and culture.

Traditional Javanese Architecture (and Nusantara) as a part of world’s civilizations.

Modern architecture evolved in a different way of traditional architecture, because each has different root, that modern way of life can be different from way of life of societies that is still holding their tradition. There is a traditional house in Indonesia that has no window, which from modern perspective will be considered as unhealthy house. In this case, the house was made without windows, indeed, because the interior is only used at night and to keep save the owner’s treasury like jewels, vehicles, even animals. Traditional architecture in this kind of manner can not be considered false from government’s recommendation about healthy houses, for instance, because of different contexts.

Below is the diagram of Javanese civilization

http://astudioimages.googlepages.com/javanese-architecture-diagram.JPG


THIS PART IS NOT YET TRANSLATED:

Sejarah Jawa Timur menunjukkan dinamisme dalam kehidupan bernegara yang ada dalam kerajaan-kerajaan masa lalu, yang menyebarkan tradisi lokal Jawa Timur ke berbagai daerah, serta mendapatkan pengaruh dari banyak daerah lain di Nusantara, Asia Pasifik, dan dunia. Arsitektur candi di Jawa Tengah patut disimak, karena arsitektur Jawa Tengah berkembang lebih dulu daripada Jawa Timur. Peradaban di Jawa berkembang dengan pengaruh India dengan agama Hindu – Budha dimana dari perkembangan ini terjadi suatu peradaban yang sangat terorganisir; kerajaan-kerajaan besar.

.
Candi Dieng di Jawa Tengah, Indonesia.
Sumber gambar: http://www.ecesty.cz/cestopisy/1998cks/obrazky/indonesie/ri_dieng_chramy.jpg

Mengambil contoh arsitektur candi Dieng (ini berada di Jawa Tengah), dengan bentuk candi punden berundak (candi dengan hierarki depan – belakang, bagian belakang lebih tinggi), candi ini memiliki relief yang bila diperhatikan, akan menunjukkan sesuatu fakta sejarah. Reliefnya menunjukkan frame konstruksi kayu, yang menggambarkan bahwa konstruksi kayu adalah jenis konstruksi yang sangat penting dan banyak digunakan waktu candi ini dibuat (sebuah hal yang luar biasa; bangunan berkonstruksi batu yang menggambarkan konstruksi kayu), berbeda dengan candi di India yang hingga abad kesepuluh tidak menunjukkan arsitektur kayu. Hal ini menunjukkan arsitektur candi di Indonesia tidak sepenuhnya diimpor dari India. Sistem konstruksi yang digunakan adalah berasal dari India, namun arsitektur lokalnya berbeda, memiliki gaya tersendiri. Sama seperti saat ini dimana kita mengimpor sistem konstruksi modern yang banyak berasal dari luar negeri terutama dari Belanda, arsitektur masa candi mengambil teknologi konstruksi dari India dan mengembangkan gaya arsitekturnya sendiri. Hal ini mengukuhkan bahwa Jawa tidak terlalu ‘silau’ dengan kebudayaan yang datang dari India, melainkan mengembangkan diri sesuai karakter lokal yang ada.


Gambaran arsitektur kayu dalam arsitektur konstruksi batu di candi Perwara, Plaosan, Jawa Tengah.
Sumber: [Ref. 4]


Bangunan-bangunan berkonstruksi kayu yang ada di relief candi Borobudur, Indonesia. Menunjukkan konstruksi rumah panggung yang di Jawa tidak populer, namun di pulau-pulau lain populer seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lain-lain, menunjukkan dikenalnya peradaban dari wilayah Nusantara lainnya di Jawa pada waktu Borobudur didirikan.
Sumber gambar; [Ref. 4]

Keunikan bangunan candi juga dapat diambil dari tipologi bangunan candi yang unik dan memberi gambaran hubungan dengan bangsa lain di masa lalu. Candi Sukuh adalah candi yang cukup unik juga di Jawa Tengah, bahkan sangat unik karena jenis arsitektur yang digunakan tidak lazim terdapat di Jawa ataupun India. Candi ini berbentuk piramid terpancung.


Candi Sukuh di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Sumber gambar: http://www.tournonsensemble.com/indonesie/indonesie_photos.htm


Piramid Kebudayaan Maya, Amerika Selatan
sumber gambar; http://www.whitebison.org/magazine/2003/volume4/images/vol4no21/photo1.jpg

Dari sisi bentuk, arsitektur candi ini tidak dapat ditemui di mana saja di Nusantara dan Asia, namun hanya ditemukan di bangunan-bangunan tua di Amerika Selatan. Hal ini merupakan suatu hal yang dapat menunjukkan kemungkinan kuat adanya hubungan antara Jawa dengan Amerika selatan jauh di masa silam. Selain itu bentuk patung-patungnya juga hampir mirip (bentuk estetika patungnya mirip). Bentuk patung dan relief dengan proporsi patung ‘tak lazim’ juga ditemukan di berbagai kebudayaan, antara lain; Jawa, Timur Leste, Batak, Kalimantan, Minahasa, dan sebagainya dimana hal ini menunjukkan kemungkinan pernah terjadinya hubungan budaya antara berbagai peradaban tersebut. Banyak peninggalan berasal dari masa megalithikum (peradaban batu besar). Patung-patung ini tentunya memiliki estetika yang tidak sama dengan patung-patung di Eropa.


Relief Candi Sukuh, Solo, Indonesia

sumber gambar; http://www.geocities.com/javakeris/kerisologi.htm


Patung-patung di Candi Sukuh, Jawa Tengah; estetika patung yang ‘tak lazim’ yang mirip dengan patung-patung dari kebudayaan Maya Inca, di Amerika Selatan.

Sumber gambar; blontankpoer.blogsome.com


Dua estetika berbeda; timur dan barat. Patung Durga dari kerajaan Singhasari (Malang, Indonesia) yang sekarang ada di Belanda, dan patung hiasan di gedung opera di Paris. Yang satu berlandaskan kepekaan dimensi kosmologis metafisik, yang lain berlandaskan realisme estetika erotisme fisik.
Sumber; Wasthu Citra

Kata ‘Rumah’ adalah kata yang menarik dipandang dari sisi penggunaan kata ini oleh berbagai peradaban disekitar Asia Pasifik. Dalam bahasa Jawa, Rumah adalah o-mah. Di Nias disebut o-mo, di Batak disebut huma, di NTT disebut u-me. Di kepulauan Pasifik sebutan untuk rumah banyak memiliki persamaan, seperti amo, oma. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban Jawa adalah sebuah bagian besar dari peradaban Asia Pasifik, dimana Nusantara menjadi area sirkulasi yang sangat padat di masa lalu sebagai penghubung antara Mesir dan Asia Pasifik.

Untuk melihat kemiripan estetika hasil budaya di Nusantara dan salah satu kepulauan di Pasifik, kita bisa melihat contoh dari Papua dan kepulauan Easter.


Salah satu patung modern di Papua, terlihat estetika patung ‘tak lazim’ yang masih dipelihara hingga saat ini. Bandingkan kemiripan estetika ini dengan patung di kepulauan Easter dibawah ini.
Sumber foto: http://www.papuaweb.org/gb/foto/muller/ecology/05/index.html


Patung-patung dari jaman Megalith di Easter Islands, Pasifik. Jenis estetika ‘dunia Timur’.

Kata lain yang dapat menunjukkan yang disebut ‘kata yang menggambarkan persatuan peradaban Nusantara adalah kata Ratu dalam bahasa Jawa, Datu dalam bahasa Melayu (atau Datuk), Ratu dalam bahasa Fiji, dan semacam itu yang digunakan dalam peradaban sekitar Asia Pasifik, serta masih digunakan di Jawa [Ref. 8]. Peradaban ini dalam sejarah linguistik disebut sebagai Austronesian, yang merupakan wilayah penyebaran bahasa Astronesian yang tersebar, dari Asia ke Pasifik [Ref. 9]. Bahkan pada 1500 AD, Austronesian telah mengambil bagian dari hampir separuh dunia dalam perkembangan tutur bahasa, dari Madagaskar hingga kepulauan Easter. Tak heran bila dalam perkembangan itu juga berbagai budaya saling bersentuhan dan ditularkan. Indonesia berada dalam arus lalu lintas yang menghubungkan Asia dan Pasifik, tentunya pengaruh yang datang ke Indonesia tidak hanya dari Asia Tenggara saja, namun juga dari Kepulauan Pasifik, Micronesia, India dan wilayah-wilayah lain dalam area ini.

Tidak mengherankan pula bila Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat kaya, karena merupakan bagian dari peradaban Asia Pasifik. Disamping itu, faktor sedikit terisolasinya pulau-pulau mencetuskan kebudayaan masing-masing daerah yang sangat unik dan beragam, serta memiliki karakter kuat untuk masing-masing daerahnya. Perkembangan Austronesia menurut tumpang-tindihnya kebiasaan (overlapping behaviour) bertutur bahasa memang tidak bisa dengan mudah dikaitkan dengan penyebaran budaya, namun ada kaitan yang sangat erat antara penyebaran dan percampuran bahasa dengan kemungkinan penyebaran budaya yang dapat terjadi seiring hal tersebut. Perkembangan ini diindikasi telah berlangsung dalam 6000 tahun, sejak jaman sebelum sejarah [Ref. 8].


Akar budaya Nusantara, berakar dan berhubungan dengan India, Asia, Nusantara, Australia, Mikronesia, dan lebih jauh; Amerika Selatan.

Dalam contoh lingkup yang dibahas dalam artikel ini, arsitektur rumah di Jawa Timur mengalami banyak perubahan. Pada dasarnya arsitektur rumah dan bangunan lainnya adalah arsitektur kayu, dimana menurut relief candi-candi di Jawa, adalah bangunan yang mendominasi di tanah Jawa, dan Nusantara pada umumnya. Arsitektur kayu adalah arsitektur dengan bahan dasar dasar dan konstruksi kayu, sedangkan arsitektur batu seperti arsitektur Eropa dan candi-candi di Indonesia dan India dibuat dari konstruksi massa (mass construction) berbahan dasar batu. Arsitektur rumah memiliki banyak jenis rumah berdasarkan bentuk atapnya. Ada rumah Tajug, Rumah Kapung (bukan Kampung), Rumah Limansap (bukan Limasan), Joglo, dan sebagainya. Menurut Prijotomo [Ref. 1], Joglo adalah tipe bangunan yang termuda, karena joglo tidak pernah digambarkan dalam candi-candi di Jawa. Hal ini menunjukkan arsitektur Joglo yang sekarang masih ada di Jawa Timur dan Jawa pada umumnya merujuk pada ‘tren’ arsitektur Jawa termuda, yaitu joglo. Joglo yang banyak di Jawa ternyata tidak hanya berada di Jawa melainkan juga di daerah-daerah lain di Nusantara, seperti di Sumba, Lombok, dan lain-lain. Bentuk joglo di Sumba dan Lombok sudah ada sebelum abad ke-15 sehingga hal ini menunjukkan hubungan antara Jawa dengan Indonesia Timur, dimana arsitektur Joglo boleh jadi ‘terinspirasi’ oleh arsitektur dari wilayah Indonesia Timur tersebut.


Joglo khas Sumba

sumber gambar; http://bp2.blogger.com/_aojIvnG7-SA/RrLpc2DvQOI/AAAAAAAAABU/rbhAj3lMQ6E/s1600-h/rmh+sumba.jpg

Melestarikan tradisi arsitektur dalam konteks baru di jaman modern
Dalam hal ini berarti turut serta melestarikan rentetan peradaban arsitektur di sepanjang Asia Pasifik, dalam lingkup kecilnya; budaya lokal Jawa – Nusantara yang menjadi bagian dari peradaban yang lebih besar. Kelangsungan ini menunjukkan tidak terputusnya tradisi, dapat dipelajari di masa depan sebagai ‘menghadirkan kembali kejayaan masa lalu’ seperti halnya kelahiran kembali peradaban Eropa di masa Renaissance. Bentuk Joglo dipakai dalam sebagian bangunan di Kaliandra, dimana bentuk ini merupakan ciri khas bangunan Jawa Timuran yang dibuat dengan konstruksi dan konteks modern.


Pendopo di bagian depan kawasan


Pendopo dan landscaping di area depan Kaliandra


Pendopo bagian ‘atas’ kawasan


Arsitektur kayu di Kaliandra, berhubungan atau terinspirasi dari arsitektur khas Jawa lainnya, seperti seperti bangunan di keraton Jogja.


Digunakannya batu-bata sebagai pelapis dinding dan lantai mengingatkan kita pada arsitektur candi peninggalan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur

Kaliandra memiliki keunikan dalam bangunan-bangunannya, dimana selain tradisi arsitektur lokal Jawa dihadirkan dalam bentuk bangunan, terdapat pula pengaruh arsitektur Eropa yang hadir dalam ornamentasi dan detail bangunannya. Bahkan terdapat pula arsitektur bangunan yang ‘sangat Eropa’.


Bangunan-bangunan yang ‘sangat Eropa’ di Kaliandra.

Akulturasi


Akulturasi dalam bangunan ini saja; sistem konstruksi modern, tata nilai arsitektur Jawa, patung bentuk ‘tak lazim’ dari kebudayaan primitif banyak peradaban di seluruh dunia, patung tembikar gaya eropa diatas kolom-kolom bata candi Trowulan.


Patung tembikar di Kaliandra, yang sudah agak meninggalkan ciri khas patung estetika ‘tak lazim’ dari dunia timur, menuju ideal barat.

Sketsa

(Probo Hindarto)

***

REFERENSI

Materi Seminar
[1] Materi seminar ‘Arsitektur Jawa Timuran’ oleh Joseph Prijotomo, 15 Desember 2007; “‘Sejarah’ dan Perkembangan Arsitektur di Jawa Timur – Tantangan untuk Re-orientasi Pemahaman”

Buku
[2] Ismunandar. Joglo, 2007. Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Penerbit Effhar, Semarang.
[3] Silas, Johan, dkk. 2000. Rumah Produktif, dalam dimensi Tradisional dan Pemberdayaan. UPT Penerbitan ITS, Surabaya.
[4] Atmadi, Parmono. 1988. Some Architectura Design Principles of Temples in Java; A Study through the Buildings Projection on the Reliefs of Borobudur Temple. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
[5] Mangunwijaya, 1992. Wasthu Citra. Penerbit Gramedia, Jakarta.

Foto-foto
[6] Perjalanan ke Kaliandra, 15-16 Desember 2007. Seluruh foto oleh Probo Hindarto, kecuali disebutkan sumber lainnya.

Sketsa-sketsa
[7] Sketsa Probo Hindarto, Desember 2007

Web
[8] http://epress.anu.edu.au/austronesians/austronesians/mobile_devices/ch15s03.html
[9] http://en.wikipedia.org/wiki/Austronesian


EXTERNAL LINKS:


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Dari Banjarmasin, Kalimantan selatan

24 Nopember 2007

Dadang Mulyadi, seorang arsitek yang memiliki kepedulian pada arsitektur lokal Banjar, meskipun berasal dari Jawa, mengirimkan kepada astudio banyak informasi yang ingin dibagi dengan para pembaca astudio.



Museum Wasaka, Banjarmasin, wujud dari tradisi lokal yang dimonumenkan, guna melestarikan nilai-nilai bagi kelangsungan tradisi. Dalam gambar diatas, terlihat bahwa bangunan ini memiliki akses kepada lalu lintas sungai.

Menurut Seman dan Irhamna [Ref. 1], Arsitektur Banjar, adalah arsitektur tradisional yang memiliki karakter;

  • Berbahan konstruksi kayu, karena di Kalimantan terdapat banyak sekali hutan. Arsitektur tradisional yang berakar dari ‘arsitektur kayu’ ini berkembang dalam tradisi Banjar karena menggunakan semen tidak dikenal dimasa lalu
  • Merupakan arsitektur rumah panggung, yaitu struktur rumah yang ‘ditinggikan’, ditopang oleh konstruksi kayu yang kebanyakan adalah kayu ulin (atau kayu besi). Struktur utama adalah kayu yang menopang dari tanah hingga atap, dan ada juga balok-balok penopang yang membantu menguatkan lantai.
  • Memiliki prinsip tampak yang simetris, sama bentuk dan jumlah jendela pada kedua sisinya.
  • Sebagian bangunan memiliki Anjung, yaitu bagian menonjol pada kedua sisi kanan dan kirinya dan letaknya ada di bagian belakang bangunan.
  • Atap yang digunakan adalah atap sirap yang dibuat dari kayu ulin. Atap rumbia dari daun sagu juga dikenal. Konstruksi atapnya berbentuk pelana.
  • Memiliki tangga di bagian depan dan belakang, dengan jumlah anak tangga ganjil; lima, tujuh, atau sembilan
  • Pintu keluar juga hanya didepan dan dibelakang, tidak ada pintu lain karena bentuk rumah yang simetris.

Terdapat banyak sekali jenis-jenis rumah adat Banjar, antara lain tipe Bubungan tinggi, Gajah Baliku, Palimasan, dan sebagainya. Artikel ini memberikan contoh bangunan tertua diatas yaitu Bubungan Tinggi yang merupakan rumah istana sultan Banjar. Beberapa contoh rumah dengan ciri-ciri rumah tradisional yang dapat ditemui;

wpe1.jpg (108836 bytes)
Peta penyebaran sample rumah adat dalam wilayah sample, Sungai Jingah (1). Klik gambar untuk memperbesar

wpe5.jpg (112891 bytes)
Peta penyebaran sample rumah adat dalam wilayah sample, Sungai Jingah (2). Klik gambar untuk memperbesar


Masjid Sultan Suriansyah


Rumah tradisional yang masih memiliki hiasan bermotif khas Banjar


Rumah dengan atap pelana, berkarakter rumah tradisional antara lain ditinggikan (rumah panggung, tampilan simetris, dengan tangga yang langsung menuju pintu utama.

Transformasi

Dalam konteks bangunan-bangunan baru, serapan dan transformasi setelah mengalami pengaruh dari bahan-bahan yang sebelumnya belum ada pada arsitektur tradisional, seperti beton, semen, kaca, dan sebagainya, menghasilkan bentuk-bentuk bangunan yang memiliki perbedaan, meskipun masih memiliki karakter tradisional, seperti dibawah ini;


Rumah yang meninggalkan karakter rumah panggung, namun menyisakan motif desain tradisional. Rumah baru berbahan bata dan semen merubah pula cara membangun yang ada sebelumnya.


Kantor pos, dengan tampilan yang mirip seperti karakter rumah adat yaitu kesan simetris, atap pelana dan gabungan perisai, namun dalam material baru dengan bahan dasar batu; semen, bata, beton. Karakter yang dibawa dari rumah adat berbahan kayu sedikit banyak masih tampak dan memberikan pengaruh pada bangunan ini, meskipun terlihat bahwa banyak hal berubah. Kita dapat melihat ‘yang lama’ dalam konteks baru.


Meskipun memaksakan diri, karakter tradisional ditampilkan dalam bangunan ini, yang tidak memiliki denah yang cukup sesuai dengan kebiasaan berarsitektur tradisional, denah bundar dari gedung arena olahraga. Terlihat pada gambar diatas, bangunan dengan denah melingkar ini memiliki unsur atap pelana yang hendak ditunjukkan untuk mewakili unsur tradisional, atau secara naluriah sebagai pengaruh dari arsitektur tradisional.


Sebuah bangunan masjid, yaitu Masjid Raya Banjarmasin, adalah contoh bangunan yang tidak lagi memiliki kaitan dengan arsitektur lokal dari sisi desain eksteriornya. Terlihat dalam gambar diatas, bangunan ini memiliki bentuk-bentuk baru yang hanya dapat dicapai melalui bahan bangunan baru, seperti tembok, beton dan baja. Unsur lengkung pada kubah sangat mungkin diadaptasi dari arsitektur dari wilayah Mediterania. Minaret, dapat menjadi salah satu ciri masjid yang sebenarnya juga menjadi ciri gereja. Berikut ini interior masjid tersebut;


Interior masjid yang memiliki unsur ornamentasi khas Banjar yang diadaptasi menjadi ornamentasi elemen baru dalam bangunan; hiasan diatas lampu-lampu masjid.


Motif hiasan yang diadaptasi dari motif tradisional menjadi penghubung antara luar dan dalam, sebagaimana antara masa lalu dan masa kini.

Adanya transformasi menunjukkan kecenderungan bahwa masyarakat berubah seiring waktu, dan arsitektur menjadi pembawa icon perubahan peradaban. Transformasi yang ada menuju masa depan yang belum terdefinisikan dapat membawa arsitektur tradisional semakin hilang ditelan globalisasi, sehingga apa yang tersisa adalah monumen, prasasti yang dibuat untuk mempertahankan nilai-nilai warisan budaya nenek moyang. Dalam peradaban Banjar yang terus berubah, terlihat melalui serial foto ini kondisi transformasi tersebut. Transformasi dalam berbagai aspek dapat dipandang sebagai hal yang positif atau negatif.

***


Urban public space recurement; Penataan Kawasan Produktif PUSAT PERDAGANGAN SENI DAN BUDAYA, Lapangan kamboja Banjarmasin
Oleh Dadang Mulyadi, ST, teks disempurnakan oleh Probo Hindarto

Lapangan Kamboja adalah sebuah area yang kurang terpelihara di Banjarmasin, dimana lahan yang ada tidak digunakan dan dibiarkan dalam kondisi kurang memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Latar belakang proposal penataan kawasan produktif di lapangan Kamboja antara lain sebagai berikut;

  • Ketiadaan Ruang Terbuka Kota yang berfungsi sebagai tempat rekreasi publik sekaligus mempunyai fungsi yang produktif
  • Lahan yang ada dapat dimanfaatan sebagai ruang terbuka, Lapangan Kamboja dapat menjadi lebih ‘hidup’ dan bernilai guna
  • Kurang tersedianya wadah atau sarana yang representatif di kawasan sekitarnya untuk penyelenggaraan even-even tertentu (seperti; Pasar Wadai Ramadhan, Pameran, Pertunjukan, panggung hiburan, dll)
  • Lapangan Kamboja setelah selesai dibangun dapat menjadi alternatif pusat perdagangan kaki lima di sekitar lingkungan Lapangan Kamboja atau lainnya di dalam Kota Banjarmasin

Kondisi lapangan Kamboja pada waktu proposal dibuat;

Kondisi yang diharapkan

wpeB.jpg (141133 bytes)
Klik gambar untuk memperbesar. Gambar rancangan oleh Dadang Mulyadi

wpeD.jpg (108842 bytes)
Klik gambar untuk memperbesar. Gambar rancangan oleh Dadang Mulyadi


Perspektif mata burung kawasan yang direncanakan. Gambar rancangan oleh Dadang Mulyadi


Perspektif dalam kawasan yang direncanakan. Gambar rancangan oleh Dadang Mulyadi

Konsep dalam pengelolaan kawasan ini meliputi tiga pihak yang berperan, yaitu pihak sponsor, pemerintah dan para pedagang. Sponsor akan memberikan dana untuk membangun kawasan dan sebagai penghargaan atas kontribusinya diberikan kesempatan untuk memasang logo, pamflet, banner, neon box dan sebagainya disekitar bangunan yang dibangunnya dalam jangka waktu tertentu. Para pedagang dapat menyewa kios-kios yang ada. Pemerintah dapat memberikan bantuan berupa hal-hal yang sifatnya operasional seperti kebersihan, perawatan, pengelolaan, dan sebagainya. Dalam hal ini, proyek ini dapat memberikan keuntungan dan keberlanjutan bagi masing-masing pihak yang terlibat. Masyarakat juga diberi kesempatan untuk memiliki ruang terbuka dan area beraktivitas yang cukup kondusif, serta memiliki arti bagi lingkungan sekitarnya agar taraf kehidupan sosial masyarakat dapat terangkat.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Apakah kota kita sustainable? (Sustainable Architecture – Arsitektur Berkelanjutan 2)

24 Nopember 2007

catatan Probo Hindarto;
Baru-baru ini saya mepresentasikan sebuah utopia atau visi masa depan kota-kota Indonesia bersama Nino (Haris Wibisono), Alex Buechi, Imelda Akmal dan teman-teman SAMM, dalam acara yang disponsori Holcim. Dari sisi environmental sustainability, khususnya menyangkut air dan tanah, memperhatikan lagi rencana visioner seperti yang dilakukan Tony Garnier (dengan Cite Industrielle) atau Le Corbusier (dengan Villa Radieus), Indonesia memerlukan utopia masa depan agar memacu tumbuhnya ide-ide baru untuk kota-kota baru yang lebih baik di masa depan.


Artikel ini bukan isi yang saya presentasikan dalam acara tersebut, melainkan pemikiran yang ada didalam lingkup presentasi saya. Adalah sebuah masa yang cukup ‘menggugah’ rasa dalam diri saya. Artikel ini memuat foto-foto dari sebagian kota yang mendukung pemikiran ini untuk diketengahkan ke khalayak pembaca.

Terimakasih saya ucapkan pada pak San Soesanto, yang berdiskusi dengan saya untuk mengembangkan wacana ini. Bagi pembaca sekalian, mohon luangkan waktu menulis komentar agar wacana ini dapat berkembang.

Memperhatikan kota, tentunya tidak lepas dari berbagai hal yang berlangsung dalam kota. Dinamisme sosial yang terjadi di kota-kota saat ini patut untuk direnungkan kembali, sebagai langkah menuju masa depan yang lebih baik. Konsep sustainable construction, green architecture, eco architecture dan sebagainya yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini merupakan topik yang menarik dan patut dipelajari dan diaplikasikan dalam berbagai skala oleh para arsitek.

Konsep sustainable construction perlu dikeluarkan dari skala bangunan, sehingga dapat lebih menyentuh masyarakat kebanyakan, karena masyarakat kebanyakan adalah mereka dengan jumlah yang lebih besar daripada para pemilik bangunan yang memiliki dana. Adakah kota kita cukup sustainable bagi semua orang? Ataukah sudah demikian biasa kita menemukan banyak hal yang tidak lagi menjadi perhatian dan pertanyaan bagi kita? Apakah kota-kota baru akan tumbuh dengan cara yang sama seperti kota-kota pendahulunya, dimana banyak kota besar telah memiliki masalah dalam ruang-ruang kotanya akibat kurang adanya perencanaan desain yang matang, serta implementasi yang konsisten.

Selain itu terdapat pemikiran, bahwa penanganan masalah dan perencanaan kota masa depan perlu kita lihat dari sisi dinamisme yang terjadi dalam masyarakat kita, tidak melulu melalui teksbook, apalagi retorika tanpa aksi. Kita perlu menyadari bahwa kota-kota kita tidak dibangun dengan cara yang sama seperti kota-kota yang besar di luar negeri, misalnya Paris, London, New York. Banyak hal yang perlu dipikirkan tidak hanya mencaplok pemikiran luar negeri dan diterapkan untuk konteks bangsa kita. Berbagai latar budaya, peralihan jaman dan kondisi mental masyarakat merupakan hal-hal yang patut dipertimbangkan.

Sanitasi misalnya, sebagai hal yang sangat penting menyangkut hajat hidup orang banyak merupakan hal yang seharusnya ditangani secara konsisten oleh pemerintah, karena demikian termaktub dalam Undang-undang Dasar negara kita. Setidaknya perencanaan yang matang perlu dipelajari kembali dan dalam rentang waktu yang memungkinkan, saat ini dan masa depan, implementasi sebaiknya dilaksanakan dengan terencana dan berorientasi masa depan.

Dalam mencoba mempelajari berbagai hal tentang sanitasi kota, saya mencoba untuk memperhatikan ‘apa yang ada’ dalam salah satu kota di Indonesia dan berharap hal-hal ini dapat diperhatikan para perencana kota.


Sebagian kota, dalam pertumbuhan yang kurang terencana, akan menghasilkan daerah-daerah dengan kondisi semacam ini.

Padatnya penduduk dalam satu lingkungan kota, merupakan salah satu hal akibat kurangnya implementasi peraturan tata kota. Hal-hal semacam ini rawan menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan peresapan air, pembuangan air dan masalah sanitasi lainnya. Selain itu juga merupakan tempat bertumbuhnya kerawanan sosial.

Dampak kurangnya perencanaan kota
Dampak yang terjadi dalam perkembangan kota selanjutnya, adalah ketidak-sesuaian antara harapan dan kenyataan. Seiring pertumbuhan kota menjadi kota lebih besar akibat dana yang lebih memungkinkan, keharusan ditumbuhkannya berbagai fasilitas baru seperti gedung bertingkat, dukungan kepada kota yang lebih sehat, dan keinginan dari ‘kaum berduit’ menemukan kota-kota yang lebih sesuai dengan standar mereka menumbuhkan cara-cara penyelesaian yang dipandang dari sisi sosial merupakan hal yang kurang tepat; penggusuran, penindasan kaum terpinggir kota, dan sebagainya.

Dampak ini bukan berarti bahwa kota tidak memihak kaum miskin, namun bahwa kota telah berkembang dalam skala yang tidak dapat diikuti kaum miskin. Ketertinggalan kaum miskin dalam ‘mengejar’ utopia kaum kaya untuk membangun berbagai fasilitas yang mendukung kepentingan kaum kaya adalah fenomena yang terlihat; justru merupakan hambatan utopia menuju kota yang lebih baik, akibat perencanaan dan implementasi tata kota yang kurang berpihak pada ‘keberlanjutan (sustainability) untuk semua’.


Awal dari bibit-bibit kekacauan kota, penggunaan fasilitas kota yang kurang sesuai, akibat kebutuhan dan desakan ekonomi. Di satu sisi, penjual mendapatkan kehidupan dari berjualan, disisi lain, kepentingan masyarakat untuk menggunakan trotoar jadi terganggu.

Memang, harus diakui, kebutuhan ekonomi mengakibatkan banyak orang berbondong-bondong mengambil langkah yang kurang menguntungkan, seperti berjualan atau membangun bangunan di tempat yang tidak seharusnya. Hal ini patut disadari sebagai kondisi buah simalakama; “jualan kepentingan masyarakat mati, tidak jualan anakku mati”. Nampaknya, suatu saat di masa depan, sebuah keputusan pahit akibat kurangnya konsistensi implementasi kebijakan tata kota harus terjadi; penggusuran paksa, pemberian uang ganti rugi “lahan yang sebenarnya bukan milik mereka” yang menghabiskan uang rakyat dari hasil pajak.


Sebuah bagian kota dengan permasalahan klise; kebutuhan hidup, keharusan untuk ‘sustainable’ dalam ekonomi, kurangnya konsistensi implementasi tata kota, telah merusak sebuah bagian kota, sekaligus menjadi wajah keprihatinan yang belum berujung. Lihatlah kerusakan alam yang terjadi; erosi (pengikisan tanah akibat aliran air), pendangkalan sungai, kerawanan banjir, dan hilangnya potensi estetika lingkungan.

Namun melihat bagaimana masyarakat dalam situasi menghimpit hidup dan bertahan hidup, adalah perasaan yang membawa simpati, karena kondisi inilah representasi dari sebagian besar penduduk Indonesia, yang hidup dibawah kemiskinan. Sementara itu, kemewahan terjadi dalam bangunan-bangunan tinggi, yang belum bisa terjamah oleh kaum pinggiran.


Masyarakat dalam kondisi yang kurang menguntungkan, juga memiliki cara-cara khusus untuk hidup dan berkehidupan, dengan membangun kesadaran hidup bersama, yang sebenarnya telah ada dalam filsafat ‘gotong-royong’ dalam masyarakat Indonesia.

Kesadaran tentang cara-cara hidup yang lebih menguntungkan dalam situasi yang kurang menguntungkan adalah hal yang bisa dikembangkan dalam mencapai sustainability dalam jangka pendek. Masyarakat perlu difasilitasi dan ditumbuhkan keinginannya memiliki kepedulian lingkungan, seperti menanami area sungai dengan tumbuh-tumbukan yang dapat memperkecil erosi dan menghijaukan kota.


Sustainability melalui arsitektur vernakular. Masyarakat kita sebenarnya cukup mengetahui bagaimana dan apa yang dimaksud ‘hijau’ demi kepentingan dan kenyamanan hidup, dalam contoh foto ini, rumah yang didepannya dipakai menggantung dan menanam berbagai macam tanaman sehingga menyerupai ‘tembok tanaman’ yang mengurangi panas, disamping itu kehijauannya menyerap sinar ultraviolet dalam proses fotosintesis.


Keinginan membuat ‘space’ atau ruang yang sustainable secara sosial dan lingkungan (environment and social sustainability); dengan membuat atap seadanya, dan memenuhi perkerasan halaman dengan pot-pot tanaman, lalu memakainya untuk berinteraksi sosial, adalah bentuk dari upaya lebih ‘sustainable’ secara vernakular, yang sebenarnya ada dan menjadi bagian dari tradisi vernakular (bagian dari ilmu pengetahuan yang tidak tertuliskan, namun ada secara nyata dalam masyarakat)


Entah, dengan caranya sendiri, kehijauan diupayakan hadir dalam situasi yang kurang menguntungkan. Hal-hal seperti ini yang luput dari konsep ilmu pengetahuan textbook.


Kehijauan alam liar, sedikit yang tersisa, perlu diupayakan lagi untuk ditumbuhkan lebih banyak, barangkali dengan memberikan penyuluhan dan sedikit dana untuk bibit dan penumbuhan, bagi masyarakat sekitar, demi alam yang lebih ramah dan hijau.

Bukanlah merupakan hal yang bijak menyalahkan masyarakat yang kurang responsif akan alam, karena bukan mereka tidak mengenal konsep sustainability itu, namun karena kurangnya kesempatan dan dorongan melakukannya. Masyarakat juga bukan merupakan pihak yang saat ini benar-benar menyadari, atau dalam proses bisa membuat perubahan penting, bahwa kondisi mereka merupakan turunan dari proses ‘pembangunan’ tak berwawasan lingkungan dari para pembangun yang ‘memiliki dana namun kurang memiliki kepedulian’.

Hingga kapankah waktu terpecahnya ‘utopia kaum bangsawan’ dan ‘ketertinggalan kaum bawah’, yang melanda seluruh kehidupan di negeri ini? Hendaknya konsistensi implementasi tata kota perlu diwujudkan bagi kota-kota baru.

Saya pula, meski berharap kota-kota dapat tumbuh lebih baik, masih berdiri dalam skala terendah dalam kontribusi terhadap kota; dalam skala bangunan. Saya berharap ide-ide baru dapat mulai didengarkan oleh para pengambil keputusan. Disamping itu, tetap dengan keinginan untuk mempromosikan konsep ‘hijau’ dalam lingkungan binaan.


Dengan manfaat besar… berapakah dana yang dibutuhkan untuk menghijaukan area sekitar sungai. Bayangkan betapa banyak sumbangan yang bisa diberikan bila area ini hijau, bagi kesehatan kota… dan pencegahan global warming!

Galeri

Melihat kembali ‘celah-celah’ kota kita
Memperhatikan beberapa contoh berikut, kita dapat memetik kesadaran akan banyak hal yang terjadi dalam kota kita.

Kemana air mengalir?


Sedikit sekali dan kecil saluran airnya.


Minus sanitasi, minus penyerapan air


cukupkah?


Kasihan…


Desain dengan perencanaan kurang baik, harus dibongkar dalam beberapa tahun karena tidak memperhatikan tumbuhnya pohon. Betapa berharganya nilai desain yang hanya sederhana!


Ada gorong-gorong dibawah, mengapa ditutup?


Bisakah air mengalir sendiri ke level lebih tinggi dari jalan menuju lubang air?

Sisi sosial kota


secara ekonomi; berkelanjutan (sustainable), namun secara environment; mengganggu pengguna trotoar


buah simalakama dalam jaring-jaring berbagai sistem.


Ibu ini lebih memerlukan konsep sustainability (tidak hanya dalam lingkup bangunan saja)… karena ia berada dipinggir jalan ini tiap hari, terpapar oleh debu dan polusi jalan. Kondisi yang dapat terkurangi, seandainya ada konsep sederhana untuk menyelesaikan itu; seperti pagar tanaman pembatas dari jalan.


Jalan ramai, tidak ada zebra cross, dan orang juga tidak mengerti zebra cross.


Menaik-turunkan penumpang seenaknya di tengah jalan

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.