Arsip Kategori: architecture technology

Memproduksi listrik sendiri dirumah dengan panel surya

astudioarchitect.com Kebutuhan listrik rumah tinggal bisa menggunakan energi alternatif yaitu sistem pembangkit listrik tenaga surya menggunakan panel surya. Panel surya bisa bertahan hingga 20 tahun lebih sehingga merupakan investasi jangka panjang. Biaya pengadaan sistem mungkin cukup besar, namun cukup setara dengan biaya listrik selama waktu penggunaan panel yaitu 20an tahun. Sistem panel surya sangat baik bila dikombinasikan dengan lampu LED.

Listrik diperlukan untuk menyalakan berbagai peralatan dalam rumah seperti lampu, televisi, komputer, pemanas air, dan sebagainya. Dalam mendapatkan sumber listrik, kita sangat bergantung pada PLN sebagai penyedia listrik rumah tangga. Namun saat ini, pilihan lain sudah ada untuk memiliki energi listrik secara independen dan tidak tergantung pada PLN, diantaranya adalah listrik dari panel surya (Solar Panel), listrik dari energi angin, dan air. Kesemuanya merupakan energi terbarukan yang bisa kita panen dari negeri yang kaya raya ini. Artikel ini membahas tentang energi listrik dari panel surya.

Picture by Jim Tetro/U.S. Department of Energy Solar Decathlon

Saat ini semakin banyak penyedia panel surya yang bisa menyediakan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan ini. Terutama bagi Anda yang tinggal di daerah yang sering terjadi pemadaman bergilir, ada baiknya untuk mempertimbangkan energi alternatif ini. Beberapa hari lalu saya berkesempatan mengunjungi penyedia panel surya dan melakukan beberapa perbandingan pada harga dan paket yang mereka tawarkan. Artikel ini ditulis berdasarkan pengetahuan sementara saya tentang panel surya dan mungkin memerlukan penyuntingan.

Panel surya bekerja dengan cara mengumpulkan energi melalui panel yang terbuat dari bahan silikon atau bahan lain penangkap cahaya matahari dan mengubahnya menjadi listrik. Pada sistem panel surya, bagian yang berperan adalah panel surya yang berisi banyak sel surya, inverter, konektior dan baterai. Sel surya memproduksi listrik melalui proses photovoltaic yang dibuat dari kristal silikon, menghasilkan listrik yang dialirkan melalui konduktor non magnetik seperti perak, perunggu, dan sebagainya. Panel surya menangkap sinar matahari namun tidak seluruh spektrum sinar seperti ultraviolet atau infrared.

Jenis arus listrik

Untuk penggunaan rumah tinggal, saat ini terdapat kelemahan pada sistem yang teramat sederhana yang ditawarkan oleh penyedia panel surya, yaitu bahwa energi listrik yang dihasilkan panel surya adalah arus DC yang berbeda dari arus listrik PLN yang berupa arus AC. Arus DC mengharuskan peralatan listrik menggunakan tipe peralatan yang menggunakan arus DC. Untuk mengatasi masalah ini, penyedia panel surya biasanya juga menjual inverter listrik DC ke AC, sehingga bisa digunakan untuk peralatan listrik AC. Namun disebutkan oleh penyedia panel surya tersebut bahwa penggunaan inverter listrik yang kurang bagus akan berakibat kerusakan peralatan listrik. Contoh yang disebutkan adalah menggunakan listrik AC dari inverter listrik membuat baterai laptop rusak. Inverter harus memiliki kualitas dan spesifikasi fungsi yang baik agar listrik AC yang dihasilkan aman untuk peralatan listrik.

Untuk penggunaan skala lebih besar, jumlah panel surya bisa ditambahkan sehingga menghasilkan jumlah watt listrik yang dibutuhkan untuk sehari, misalnya bila rumah memiliki banyak peralatan listrik yang ingin dihidupkan dengan listrik tenaga surya, seperti TV, komputer, lemari es, dan sebagainya. Jumlah watt listrik yang dihasilkan menjadi tidak terbatas bila jumlah panel surya ditambahkan juga, tentunya dengan ditambahkan inverter untuk mengubah arus DC ke AC.

Harga sistem pembangkit listrik surya

Anggapan bahwa listrik menggunakan panel surya adalah listrik yang lebih mahal memang terbukti dari investasi awal saat membeli sistem panel surya penghasil listrik ini. Untuk satuan panel yang menghasilkan satu WP (Watt Peak), kita harus merogoh kocek sekitar Rp30.000,-. Untuk tipe pembangkit listrik surya terkecil yang ditawarkan berupa satu panel penghasil 50WP lengkap dengan konektor, fitting peralatan listrik DC dihargai Rp 3juta hingga Rp 4juta. Sedangkan untuk penghasil 80WP seharga Rp5-6 juta.

sumber gambar: http://www.daviddarling.info

Keterangan gambar:
Solar cells = sel surya yang fungsinya menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi tenaga listrik
DC Power = tenaga listrik dalam bentuk arus searah (DC)
Charge controller = pengatur arus listrik agar lebih stabil dan bisa disalurkan secara langsung ke peralatan listrik arus searah (DC loads)
DC Loads = Peralatan listrik seperti lampu dsb yang menggunakan arus DC bisa menggunakan secara langsung arus DC dari baterai / aki.
Batteries = Baterai, dalam bentuk baterai aki atau baterai kering yang bisa di charge.
Inverter = Pengubah arus DC menjadi AC agar bisa digunakan untuk peralatan listrik yang menggunakan arus AC, seperti lemari es, lampu, kompor listrik, dan sebagainya.
AC Loads = Peralatan listrik yang menggunakan arus AC.

Memilih arus DC atau AC?

Sistem panel surya paling sederhana terdiri dari panel surya, konektor dan langsung ke peralatan listrik arus DC. Peralatan yang lebih lengkap dilengkapi dengan inverter arus DC ke AC. Seperti diketahui, arus DC yang dihasilkan panel surya disimpan dalam aki atau baterai kering yang mengeluarkannya dalam bentuk arus DC biasanya 12 volt. Arus ini bisa digunakan untuk peralatan seperti lampu neon, LED, laptop, dan sebagainya yang menggunakan arus DC. Peralatan listrik yang menggunakan arus DC secara langsung mungkin akan lebih stabil menggunakan arus DC daripada arus AC yang diubah inverter. Pada sistem panel surya yang teramat sederhana (arus DC), akan lebih baik menggunakannya untuk peralatan listrik seperti lampu dsb yang menggunakan arus DC.

Waktu pengumpulan dan penggunaan Listrik Matahari

Kapasitas penangkapan energi oleh sel surya dinyatakan dengan WP atau Watt Peak, merupakan satuan untuk menggambarkan berapa Watt listrik yang ditangkap dalam waktu satu jam. Untuk kapasitas panel 50WP, maka satu jamnya akan menangkap energi 50Watt, sehingga bila perkiraan jangka penyinaran minimum adalah 5 jam, maka menghasilkan 250Watt atau lebih. Energi disimpan dalam aki atau baterai kering yang menghasilkan arus DC tegangan 12 volt.

Penggunaan listrik dari aki atau baterai kering dapat dihitung dari berapa banyak listrik yang dihasilkan, kemampuan penangkapan energi listrik dan penyimpanan oleh aki tersebut. Aki dapat dikondisikan untuk memberikan energi listrik selama 8-10 jam sesuai kebutuhan, yang dipengaruhi juga oleh berapa watt listrik peralatan yang kita gunakan.

Untuk sistem panel surya 50WP, perkiraan bisa menghidupkan 3-4 buah lampu 20 Watt selama kurang lebih 8-10 jam. Pada penggunaan untuk rumah tinggal skala kecil seperti tipe 21 dan 36, sistem ini bisa meniadakan kebutuhan listrik untuk penerangan dalam rumah di malam hari. Karena dewasa ini berkembang juga lampu-lampu LED dimana lampu LED 4 Watt setara dengan terangnya lampu bohlam 20 Watt, maka lampu-lampu LED bisa digunakan untuk memperpanjang waktu penggunaan listrik.

Kelebihan

Panel surya penghasil listrik diklaim memiliki masa pakai lebih dari 20 tahun, berarti kita bisa menggunakannya untuk jangka waktu yang cukup lama. Karena itu panel yang berisi sel-sel surya ini merupakan investasi untuk jangka panjang. Sistem pembangkit listrik independen ini juga menyediakan alternatif listrik selain PLN yang dapat diandalkan pada waktu PLN tidak dapat diandalkan seperti kerusakan jaringan, pemadaman sementara atau pemutusan listrik.

Perbandingan dengan pemakaian 4 buah lampu 20 Watt selama sebulan dapat dihitung sebagai berikut:

  • Pemakaian listrik PLN (konvensional) rata-rata pemakaian 8 jam
  • 4 buah lampu 20 Watt / bulan = 4 lampu x 20 Watt x 8 jam x 30 hari = 19.200 Watt atau 19,2kW
  • Biaya listrik perbulan untu pemakaian 4 buah lampu = 19,2kW x Rp795,- = Rp 15.264
  • Biaya listrik per 20 tahun dengan standar TDL saat ini = Rp 15.264,- x 12 bulan x 20 tahun = Rp 3,6 juta

Dari ilustrasi diatas, maka penggunaan panel surya 50WP dengan 4 lampu LED biayanya akan relatif sama dengan biaya investasi awal pembelian sistem pembangkit listrik surya 50WP, tentunya bila kita realistiskan dengan kemungkinan kenaikan TDL di tahun-tahun mendatang, maka biaya listrik untuk 4 buah lampu 20 Watt kemungkinan lebih besar dari investasi awal panel surya tersebut.

Kekurangan

Menyebutkan kekurangan sistem pembangkit listrik tenaga surya atau solar panel ini, maka kita akan sampai pada masalah kepraktisan dan kebutuhan mendasar dari memiliki sistem ini:

  • Panel surya diklaim bisa bertahan hingga lebih dari 20 tahun sebelum berkurang kemampuannya dalam menyerap energi surya, namun peralatan pendukungnya seperti baterai aki bertahan kira-kira 3-4 tahun. 
  • Bila menggunakan aki maka maintenance yang dilakukan adalah menambah cairan aki pada waktu berkurang/ habis dan perawatan aki bila diperlukan. 
  • Sistem arus DC dan AC pada sistem panel surya sederhana tidak bisa diintegrasikan dengan sistem PLN beserta kabel-kabelnya, yang berarti kita harus menggunakan kabel baru untuk sistem listrik khusus yang mengalirkan listrik dari panel surya ke peralatan listrik. 
  • Peralatan untuk arus DC harus diadakan secara khusus, yaitu lampu DC, adaptor, dan sebagainya, kecuali bila menggunakan inverter arus DC ke AC. 

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas, bisa kita pahami bahwa kebutuhan listrik rumah tinggal bisa menggunakan energi alternatif yaitu sistem pembangkit listrik tenaga surya menggunakan panel surya. Panel surya bisa bertahan hingga 20 tahun lebih sehingga merupakan investasi jangka panjang. Biaya pengadaan sistem mungkin cukup besar, namun cukup setara dengan biaya listrik selama waktu penggunaan panel yaitu 20an tahun. Sistem panel surya sangat baik bila dikombinasikan dengan lampu LED.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

>Pembangunan di wilayah Ngibikan, Jogja … pasca bencana gempa.

>

astudioarchitect.com

Slide ini adalah presentasi Eko Prawoto yang diupload oleh Muh. Darman dari Ruang17. Eko Prawoto adalah seorang arsitek dan budayawan yang tinggal di Jogjakarta saat mendedikasikan diri membantu korban bencana gempa di Ngibikan. Dalam slide ini digambarkan kondisi setelah bencana, dimana terdapat kehancuran hidup dan harapan, setelah itu digambarkan Ngibikan bangkit melalui gotong royong. Slide-slide akhir kondisi setelah setahun rumah-rumah tersebut ditinggali, tampaknya terdapat beberapa perubahan, namun masih terasa suasana desa yang kental dan asri.

Silahkan jalankan slide tersebut…. mode fullscreen juga tersedia lewat menu > view fullscreen

(bila Anda mengakses dari Facebook, mungkin perlu melihat di blog astudio :)
terimakasih.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Dampak Dokumen Digital terhadap Budaya Tulis/ Impact of digital documentation on Written Culture

Digital vs Analogastudioarchitect.com Budaya menggambar dengan meja gambar layaknya arsitek jaman dahulu semakin ditinggalkan, dan digantikan dengan alat-alat baru yaitu komputer dan sarana digital. Para arsitek tidak lagi memegang gambar kerja, tetapi dokumen digital yang dianggap instan dan memudahkan, karena itu transfer pengetahuan tidak lagi berdasarkan transfer analog tetapi digital, yang menempatkan arsitek dalam mentalitas tertentu.

Drawing culture like architects in the old times on drawing tables is being abandoned, and replaced with new tools of computers and digital tools. The architects are no longer holding the hand drawings, but the digital documents that are considered instant and easy, because it is no longer based on analogue knowledge transfer but digital transfer, which places the architect in a certain mentality.

Mentalitas itu adalah apresiasi terhadap gambar kerja maupun sketsa yang semakin hilang dari peredaran, dan menyebabkan sentuhan seni dalam arsitektur juga semakin hilang, tanpa sentuhan seni tangan ahli, arsitektur menjadi rekayasa komputer dalam imajinasi 3D, bukan lagi seni merancang berdasarkan imajinasi 2D dengan sentuhan kemanusiaan yang kental. Dokumen tidak lagi disimpan dalam bentuk file kertas yang memiliki nilai karena makna, keberadaan, maupun usianya, seperti dokumen berharga lainnya. Dokumen menjadi turun nilainya karena dapat digandakan dengan mudah, serta dapat dicopy paste melalui karakter fabrikasi yang sama.

Bentuk-bentuk yang cenderung cepat dan mendukung industrialisme juga dikembangkan seperti bentuk kotak-kotak, minimalis, modern, dan fabrikasi. Memang keduanya tampak sangat serasi mengingat dengan ‘push pull bar’ atau ‘extrude’, seorang arsitek bisa membuat simulasi cepat bentukan yang cenderung kaku, tetapi ritmis, mirip karakteristik fabrikasi.

Kekuatan karakter pribadi seorang arsitek yang juga seniman, misalnya detail kolom, detail ukiran, bahan-bahan non fabrikasi seperti tegel lama atau bata ekspos seakan dengan mudah digantikan oleh dinding putih mulus, sofa, jendela copy-paste, elemen-elemen yang siap digunakan tanpa harus merekayasa dahulu dalam pikiran (imajinasi).

The mentality of working drawings and sketches appreciation which is progressively disappearing, and cause touch of art in architecture to be also progressively lost, without a touch of artist expert, architecture becomes 3D computer engineering in the imagination, not based on imagination on 2D art design with a strong touch of humanity. Documents are no longer stored in the form of paper files that have value because of the meaning, presence, and its age, like other valuable documents. Documents are decreased in value because they can be duplicated easily, and can be copied and pasted the character of the same fabrication.

The forms which tend to be quickly built and support this phenomena are also developed as forms of industrialism boxes, minimalist, modern, and fabrication. Indeed the two seemed very harmonious remembering with the ‘push-pull bar’ or ‘extrude’, an architect can make rapid simulations that tend to form stiff, but rhythmically, like a fabrication characteristics.

Dampak utama dari sistem berpikir dan mendesain yang ‘terfabrikasi’ ini, adalah menghilangnya potensi dari sentuhan personal dan sentuhan material non fabrikasi karena model penggambaran dan desain yang juga terfabrikasikan. Karakter unik dari arsitektur vernakular atau arsitektur yang didapat dari ‘tacid knowledge’ semakin menghilang, akibatnya gap antara arsitektur vernakular dan modern akan semakin tinggi, memaksa para tukang dari kalangan ‘tacid knowledge’ tertatih-tatih berusaha memahami sistem fabrikasi. Misalnya, keterampilan pertukangan kayu semakin menghilang karena semakin banyak material fabrikasi pengganti kayu seperti alumunium dan beton.

The strength of personal character of an architect who is also an artist, for example detail columns, detailed carvings, non-fabricated materials such as exposed brick tiles as long or be easily replaced by a smooth white wall, sofa, windows by copy-paste, the elements that are ready for use without imagination first in the mind.

The main impact of this thinking systems and designing which is also ‘fabricated’ is the potential of disappearance of personal touch and the touch of non-fabricated material for drawing and designing. The unique character of vernacular architecture or architecture that is obtained from ‘tacid knowledge’ increasingly disappearing, as a result of the gap between vernacular and modern architecture will be higher, forcing the builders of the ‘tacid knowledge’ hobbled attempts to understand the system of fabrication. For example, carpentry skills increasingly disappearing as more and more wood substitute materials such as fabricated aluminum and concrete.

Diskusi:
Artikel tersebut dimasukkan dalam mailing list AMI (Arsitek Muda Indonesia) dan terdapat diskusi dari beberapa anggota mailing list sebagai berikut:

Pendapat Setyo Eko:
Kalau menurut saya setiap jaman punya tantangan dan solusinya sendiri. Kita
tidak bisa menutup mata terhadap teknologi. Karena jika kembali ke naturenya
sebuah teknologi hanyalah sebuah alat untuk memudahkan manusia menyelesaikan
pekerjaannya. Tak terkecuali arsitek

Yang kedua adalah efisiensi kerja. Mungkinkan sebuah tower memiliki 10000 jenis
jendela yang tidak sama. Berapa lama waktu konstruksi yang di butuhkan dan
berapa dana yang akan dihabiskan. Lagi2 ini adalah masalah efisiensi. Di
arsitektur vernakular pun tidak mungkin kita menemukan 10 jenis aechitrave yang
berbeda jenis. Dalam sebuah bangunan. Inilah standarisasi. Walaupun setiap
design memiliki standar yang berbeda2. saya pikir juga banyak teman2 disibi yang
tidak akan terjebak kepada copy n paste belaka.

Soal kecenderungan membawa dokumen digital. Ya karena lagi2 lebih praktis aja.
Saya yang bekerja dengan partner 2 yang online di jkt. Jogja, makassar, menado,
medan merasa lebih dimudahkan dalam koordinasi. Tinggal share file di YM. Email.
BB dsb whichever available.

Salam
SE
—————————————————-

Pendapat Rafael Arsono:

Representasi gambar-dokumentasi digital-material fabrikasi

Gambar tangan memang terlihat personal dan mengakar, tp yg dicari kan bukan
menggambar manual dengan meja gambar supaya sekedar terlihat bagus. Buat saya yg
perlu dikhawatirkan adalah derasnya image rendering yang tersedia di internet
dan kecepatan menghasilkan image arsitektur oleh komputer membuat kita hanya
melihat rendering hanya sebagai sebuah gambar hasil akhir arsitektur, bukan
sebuah representasi dari arsitekturnya. Rendering sbg representasi arsitektur
adalah menunjukkan pilihan terbaik yg dipertimbangkan berdasarkan arah
arsitekturnya. Render maksut saya disini touch up gambar, termasuk kolase,
sketsa cat warna Holl, sampai sketsa hitam-putih frank ching, bahkan video,
MVRDV merasa ide2 utopianya lebih pragmatis dijelaskan dg video, dan mereka
bikinnya bagus, bayar artis untuk seriusan bikin, dll.

Koolhaas sudah ngomong tentang ini 10 tahun lalu,
http://www.pritzkerprize.com/laureates/2000/ceremony_speech1.html
“…After four thousand years of failure, Photoshop and the computer create
utopias instantly.”

bgmnpun jg, komputer jg bs membantu representasi arsitektur scr personal dan
berkarakter jg. sprti ‘angle’ aneh ala Zaha Hadid (lihat karya2 awalnya, the
peak, kufurstendam, dll). Gambar rendering komputer Tadao Ando tidak jauh beda
dari sketsa berskala yang biasanya menunjukkan potongan perspektif (srg di
majalah GA), karena cara ini terbaik untuk menunjukkan kestabilan, keteraturan
dan presisi ruangnya. Terlepas dari kita suka atau enggak, pilihan rendering
tersebut telah menghasilkan sebuag karya yg indah bgt – lebih dr sekedar gambar.

Render ‘aneh’ yg indah lainnya ada juga di Superstudio, bagaimana man-made
‘menginvasi’ alam. dan banyak gambar top lainnya disini
http://butdoesitfloat.com/index/filter/architecture

Tidak ada yang salah dengan digital archiving, menurut pendapat saya, ke
depannya makin lebih banyak lagi institusi formal akan merger sm arsitek untuk
pendokumentasian digital (semacam internet library). coba liat archigram
archival project, luar biasa bgmn data mereka bisa diakses orang di seluruh
dunia. http://archigram.westminster.ac.uk/
I’d love to see this kind on Romo Mangun, Silaban, etc….

rendahnya budaya tulis terhadap literatur arsitektur jg membuat kt (dan generasi
arsitek di masa depan) menengok informasi arsitektur via internet yg
kredibilitasnya diragukan. Tp saya nggak mau masuk terlalu dalam kesitu, mari kt
terus nulis yg benar ttg apa dan siapa saja (saya jg sdg melakukannya). Saya
banyak lihat tulisan2 ttg kota dan arsitektur jaman baheula ditulis sm anak2
muda yg skrg menjelma arsitek2 bagus, dan tulisan2 itu berguna bwt generasi2 yg
lbh muda utk mengetahui ttg objek tulisan maupun si penulis.

Material fabrikasi ada untuk mendukung budaya bangun dan cara pandang arsitektur
tertentu. Mungkin perlu lihat contoh yang lebih tepat untuk ‘kontemplasi
arsitektur’, dalam hal material fabrikasi, bisa liat dari master builder yg
ekspresionis macam Piano, Rogers,…atau, yang cenderung ‘diam’ seperti
Chipperfield, SANAA.

Namun, kembali ke representasi image, perlu disadari ketika browsing, bahwa ada
‘gap’ budaya bangun di lokasi gambar yg sdg kt liat di internet (sprti contoh
arsitek2 di atas), yang tidak kt ketahui melalui gambar tersebut. trgntung
lokasi, dan waktu jg, cara bangun jaman dulu dg skrg tntunya berbeda. Kotak atau
‘blob’ terjadi krn proses dan pilihan yg seringnya terlewatkan dr ‘browsing’ kt
td (bnyk jg media yg tdk memaparkan hal ini dg jelas dan tuntas). Jadi
‘kontemplasi’ td perlu dilakukan, mksutnya perlu sortir website/majalah apa yg
kt liat dan jgn diserap mentah2 gt, apalagi di tengah derasnya image2 td lewat
internet dan media lainnya.

salam hangat,
Rafael Arsono

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.