Arsip Kategori: special article

Arsitektur kontekstual dan faktor penentu kebijakan

SELAMAT TAHUN BARU 2012!

astudioarchitect.com Konteks merupakan batasan yang berkaitan erat dengan lokasi sebuah obyek arsitektural, karena arsitektur bisa didesain sesuai atau tidak dengan konteks. Konteks penting karena pengguna rancangan adalah mereka yang terelasikan oleh konteks arsitektural. Konteks arsitektural bisa berarti sejarah, lokasi, arkeologi maupun ekologi disekitar lokasi arsitektur. Konteks mendefinisikan hubungan antara arsitektur dan lokasi serta waktu.  Baik disadari ataupun tidak, arsitektur memiliki hubungan dengan keseluruhan lingkungannya serta selalu memberikan dampak. Arsitektur menjadi penting menyangkut seberapa jauh perancang mengerti tentang hubungan arsitektur dan lingkungannya, untuk mengerti konteks adalah langkah awal dari sebuah desain.

Merupakan suatu konsensus bahwa arsitektur sebaiknya berdampak positif bagi lingkungannya, menaikkan nilai lingkungan melalui keberadaan arsitektur. Terdapat beberapa prioritas yang sebaiknya diperhatikan saat mendesain arsitektur berdasarkan konteks:

Memperkuat komunitas lokal
untuk meyakinkan bahwa pengembangan bangunan yang direncanakan akan memperkuat dan bukan memperlemah komunitas lokal serta mendukung proyek yang sukses bagi perancang, pemilik maupun masyarakat dan lingkungan. Arsitektur tidak bisa berdiri sendiri seperti sebuah tiang yang angkuh dan tidak berdaya guna, sebaiknya arsitektur sedapat mungkin memiliki fungsi meningkatkan komunitas lokal, yang berarti manusia dalam lingkungan tersebut.

Apabila dapat mewujudkan arsitektur kontekstual yang memperhatikan lokalitas serta partisipasi masyarakat, akan menjadi arsitektur yang berguna bagi lebih banyak orang dan lingkungannya.

Menciptakan arsitektur yang berkarakter
mendapatkan inspirasi dari arsitektur lokal bisa membawa kita kepada arsitektur yang ‘berkarakter lokal’, mungkin sebuah pilihan yang bisa diambil bila dibandingkan jenis arsitektur non kontekstual yang sifatnya ‘internasional’ dan ‘bisa ditempatkan dimana saja’. Karakter lokal bisa didapatkan dari tradisi, nilai lokal, kontemplasi tempat ataupun material lokal, yang pada akhirnya mendapatkan karakter yang bisa dihubungkan dengan lingkungan. Dewasa ini metode perancangan yang diajarkan melalui dunia akademis masuk melalui tunnel ‘modern’ yang minim nilai-nilai lokal, namun disaat yang sama arsitek dapat mengadaptasi konteks ‘lokal’ dalam karakter arsitektural.

Memperhatikan potensi dalam site
dengan mengenal konteks lahan, maka arsitek dapat menggali potensi dalam lahan yang berupa topografi, view, drainase, energi matahari dan angin, air, dan sebagainya untuk memperoleh arsitektur yang berkelanjutan.

Integrasi dengan infrastruktur dalam lingkungan
Menemukan integrasi dengan lingkungan menggunakan material, bentuk dan elemen landskap yang memperhatikan lokalitas, jalan-jalan tembusan dan jalan setapak, jalan raya dan jalan kampung yang berkaitan dengan lokasi dan struktur arsitektur. Dengan memperhatikan lebih detail bagaimana pencapaian ke arah site, kemudian memperkirakan ulang saat bangunan sudah terbangun agar selaras dengan infrastruktur yang ada.

Memperhatikan faktor ekonomi
Sebuah bangunan dengan arsitekturnya seharusnya direncanakan dengan memperhatikan aspek ekonomi sehingga dapat terbangun dan memenuhi persyaratan pembangunan. Namun dalam memperhatikan faktor ekonomi seyogyanya tidak melupakan faktor estetika dalam perancangannya.

Memiliki sebuah Visi
Visi yang diemban rancangan arsitektur berfokus pada aspirasi komunitas, serta menyediakan tujuan jangka panjang yang mengandung strategi masa depan.

Dalam mendesain arsitektur dengan konteks, sebaiknya desain yang dihasilkan bisa merangsang tumbuhnya lingkungan yang lebih baik, dimana akan membutuhkan apresiasi terhadap kebiasaan hidup masyarakat lokal yang ditingkatkan. Komunitas masyarakat dalam skala lokal selalu memiliki cara pandang tertentu berkaitan dengan tradisi apabila masih dipegang teguh ataupun sebagian. Pada masyarakat yang lebih modern tradisi lokal kurang diperhatikan karena mengadopsi nilai-nilai yang lebih universal.

Gambaran akan arsitektur lokal biasanya muncul dari tradisi dan cara membangun vernakular, dimana terdapat bahasa tertentu untuk arsitektur lokal ini yang bisa diadaptasi baik sebagai pelengkap ataupun keseluruhan konsep arsitektur yang kontekstual. Arsitektur bisa didesain untuk melengkapi tradisi lokal yang ada sehingga dapat melengkapi identitas budaya lokal. Namun terkadang arsitektur tradisional bisa juga diteruskan dengan mengangkat unsur lokal seperti material dan cara membangun, bisa juga unsur lainnya seperti hierarki, bentukan, dan nilai filsafatnya. Kesemuanya masih bisa dikatakan sebagai ‘konteks lokal’ apabila masih memiliki karakter tertentu yang diteruskan meskipun merupakan ‘re-imaging’.

Masyarakat sebaiknya dilibatkan dalam penentuan kebijakan untuk menentukan desain arsitektur terutama bagi bangunan publik / pemerintahan / konservasi cagar budaya.

Terlebih bagi arsitektur yang melayani banyak orang seperti gedung pemerintahan, nilai lokal adalah kebanggaan yang sebaiknya dan setidaknya menjadi sebuah tolak ukur akan penghargaan terhadap budaya lokalnya sendiri. Masyarakat perlu dimintai pertimbangan dalam keputusan desain agar dapat lebih aspiratif, antara lain dengan cara mengumpulkan pendapat menjadi sebuah saran bagi desain arsitektur yang akan dibuat.

Tabel Penentuan Kebijakan 
Dalam menentukan kebijakan akan bangunan terutama bangunan publik, sebaiknya diperhatikan beberapa subyek berikut:

Area subyek:              Pertimbangan:
Profil komunitas          - Pemilik Proyek
                                  – Pandangan lokal, aspirasi
                                  – Struktur organisasi
                                  – data statistik
                                  – karakter budaya
                                  – faktor keamanan

Kebijakan lokal          - Desain
                                  – pandangan strategis
                                  – Rencana Tata Guna Lahan (RTH)
                                  – Rencana transportasi
                                  – Peraturan Daerah
                                  – Peraturan dalam lahan

Konservasi                 – Area konservasi
                                  – bangunan konservasi
                                  – monumen / peninggalan
                                  – Arkeologi
                                  – situs menarik
                                  – obyek alam/ ekologis
                                  – flora dan fauna yang dilindungi
                                  – area konservasi, cagar alam

kebijakan dan             – Petunjuk perencanaan
inisiatif lain                     * framework pengembangan
                                     * Petunjuk mendesain
                                     * peraturan penggunaan lahan
                                  – Peraturan Pemda yang relevan
                                  – Peraturan untuk swasta lain
                                  – inisiatif lokal

Melihat banyaknya unsur yang mungkin terlibat dalam penentuan kebijakan menyangkut arsitektur yang kontekstual, bisa kita pahami bahwa merupakan kebutuhan untuk memiliki sebuah identitas lokal bahkan dalam skala terkecilnya, terkecuali bagi bangunan-bangunan yang diharapkan menjadi non konvensional dengan tujuan prestise, identitas lokal sebaiknya ditunjukkan untuk memberi ciri khas akan ‘akar’ suatu tempat yang kuat. Dengan memperhatikan bahwa perubahan sangat mungkin ada, maka konteks lokalitas akan merujuk pada unsur-unsur arsitektur maupun nilai-nilai yang dapat dipertahankan pada bangunan lama dan bangunan baru.

                                                       

________________________________________________
by Probo Hindarto,
dirangkum dari berbagai sumber
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Kaliandra dan telaah tradisi arsitektur Nusantara

astudioarchitect.com 16 Desember 2007



 ’Musik campursari adalah suatu cara agar musik tradisional Jawa bisa survive di jaman modern’, sayup-sayup saya mendengar seseorang berbicara hal itu. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Arsitektur tradisional bisa juga hadir dalam konteks baru di jaman modern ini, agar tetap memiliki kelangsungan hidup. Kaliandra adalah sebuah kawasan budaya dengan visi; “Terciptanya manusia yang mandiri, berbudaya dan berkelanjutan”. Konsep Kaliandra mirip seperti konsep bangsawan tuan tanah di Eropa jaman dahulu, dengan para pekerja yang bekerja di tanah tersebut. Website Kaliandra dapat diakses melalui www.kaliandrasejati.org





Ini adalah salah satu contoh dimana pemberdayaan lokal hadir dalam wawasan lingkungan. Bersama dengan diwujudkannya arsitektur lokal dan tradisional, pemberdayaan masyarakat lokal melalui budaya melahirkan manfaat, bagi masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian, masyarakat sebagai wahana mengenal budaya dan peradaban, serta bagi pemilik yayasan Kaliandra sebagai bagian dari profit yayasan, untuk menghidupi segala kegiatan didalamnya.


Kaliandra hanya salah satu contoh dari berbagai contoh lain disekitar kita, yang bila ditelaah akan memberikan pengertian yang lebih baik tentang peradaban Nusantara pada umumnya. Demikian pula dengan Arsitektur Jawa Timur, sebagai suatu peradaban kedaerahan yang spesifik, hanya salah satu contoh saja dari berbagai peradaban di Nusantara yang masing-masing, adalah sebuah untaian mutiara dari keberagaman sekaligus kemiripan peradaban disekitar Asia Pasifik.


Dalam wujud yang lebih kontemporer, Kaliandra mengusung peradaban arsitektur Jawa Timur dalam wacana bangunan-bangunan yang dapat diapresiasi sebagai bagian dari menyambung kembali peradaban masa lalu.

Hadir dengan tatanan baru, konsep landscape dan bangunan di Kaliandra terinspirasi oleh kejayaan arsitektur masa lalu Jawa Timur.

Tradisi terputus karena tidak adanya regenerasi, atau proses mengenalkan pada generasi selanjutnya, sehingga tradisi seharusnya merupakan sesuatu yang di’getok-tular’kan dari generasi ke generasi. Untungnya tradisi Jawa Timur masih kuat melekat pada sebagian masyarakatnya, terutama yang hidup didesa-desa, apalagi yang hidup didaerah terpencil. Bahkan kebudayaan yang berkembang bisa diurut kembali ke masa lalu. Lain halnya dengan daerah-daerah perkotaan di Jawa Timur, dimana peradaban modern mengambil bagian dari kehidupan masyarakat dengan cukup intens, tingkat kecintaan masyarakat yang kurang tersentuh oleh hasil peradaban modern terhadap tradisi lokal sangat besar dan mendarah-daging.

Arsitektur tradisional dapat melekat kuat dan dipergunakan sehari-hari oleh masyarakat karena memiliki konteks yang sesuai untuk diri mereka. Justru karena arsitektur ini dekat dengan keseharian, filsafat hidup dan kebiasaan sehari-hari mereka, sehingga arsitektur tradisional digunakan. Bila tidak sesuai dengan keseharian, arsitektur vernakular tradisional akan ditinggalkan. Kecuali bagi arsitektur yang monumental dan menjadi prasasti dari filsafat hidup atau keagungan nilai-nilai yang dilestarikan, seperti arsitektur di keraton. Biasanya arsitektur modern dan pendekatan perancangan modern digunakan bagi sebagian masyarakat yang telah berada dalam lingkungan peradaban modern.

Konsep Kaliandra sebagai pemberdaya masyarakat lokal merupakan contoh baik bagi kontribusi penyandang dana bagi lingkungan, tidak hanya dari unsur budaya, namun juga pemberdayaan intelektualitas dan ekonomi masyarakat sekitar. Di Kaliandra, masyarakat sekitar dilibatkan dalam berbagai acara sebagai pekerja operasional, secara berkala Kaliandra juga menyelenggarakan seminar dan sarasehan gratis maupun berbayar bagi masyarakat lokal, komunitas, atau profesi tertentu. Zuraida (dalam [Ref. 3]) berpendapat bahwa desa yang berkembang tidak hanya bermanfaat bagi ekonomi desa itu saja, namun juga bagi tingkat intelektualitas masyarakatnya, karena dengan ekonomi yang lebih baik, sangat mungkin pendidikan bisa lebih maju. Dalam kondisi, wilayah lain dengan potensi lokal berbeda hal seperti ini juga bisa dilakukan. Misalnya; membuat pemberdayaan potensi desa pengrajin, desa tepi pantai, desa agrobisnis dan agrowisata, dengan sistem yang melibatkan masyarakat, yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam ekonomi, sosial dan budaya.

Arsitektur Tradisional Jawa (dan Nusantara) sebagai bagian dari peradaban dunia

Arsitektur modern dibuat dengan cara pandang berbeda daripada arsitektur tradisional, karena akar desainnya didapat dari kebutuhan dan gaya hidup masa kini yang boleh jadi berbeda dari yang digunakan masyarakat dengan tradisi yang kental. Sebagai contoh; ada rumah tradisional yang minim bahkan tanpa jendela, yang dipandang dari sisi arsitektur modern akan dipandang sebagai rumah tidak sehat. Dalam hal ini, ternyata rumah tersebut memang dibuat tanpa jendela, karena ruang dalam hanya digunakan untuk malam hari (tidur), dan digunakan untuk menyimpan segala harta benda seperti perhiasan, kendaraan, bahkan ternak. Arsitektur tradisional dengan wacana semacam ini tidak bisa dipandang sebagai menyalahi peraturan pemerintah tentang rumah sehat, misalnya, karena konteks tradisi berbeda.

Diagram sejarah peradaban Jawa dibawah ini dibahas untuk memperjelas beberapa hal dibawahnya;


Sejarah Jawa Timur menunjukkan dinamisme dalam kehidupan bernegara yang ada dalam kerajaan-kerajaan masa lalu, yang menyebarkan tradisi lokal Jawa Timur ke berbagai daerah, serta mendapatkan pengaruh dari banyak daerah lain di Nusantara, Asia Pasifik, dan dunia. Arsitektur candi di Jawa Tengah patut disimak, karena arsitektur Jawa Tengah berkembang lebih dulu daripada Jawa Timur. Peradaban di Jawa berkembang dengan pengaruh India dengan agama Hindu – Budha dimana dari perkembangan ini terjadi suatu peradaban yang sangat terorganisir; kerajaan-kerajaan besar.

Candi Dieng di Jawa Tengah, Indonesia.
Sumber gambar: http://www.ecesty.cz/cestopisy/1998cks/obrazky/indonesie/ri_dieng_chramy.jpg

Mengambil contoh arsitektur candi Dieng (ini berada di Jawa Tengah), dengan bentuk candi punden berundak (candi dengan hierarki depan – belakang, bagian belakang lebih tinggi), candi ini memiliki relief yang bila diperhatikan, akan menunjukkan sesuatu fakta sejarah. Reliefnya menunjukkan frame konstruksi kayu, yang menggambarkan bahwa konstruksi kayu adalah jenis konstruksi yang sangat penting dan banyak digunakan waktu candi ini dibuat (sebuah hal yang luar biasa; bangunan berkonstruksi batu yang menggambarkan konstruksi kayu), berbeda dengan candi di India yang hingga abad kesepuluh tidak menunjukkan arsitektur kayu. Hal ini menunjukkan arsitektur candi di Indonesia tidak sepenuhnya diimpor dari India. Sistem konstruksi yang digunakan adalah berasal dari India, namun arsitektur lokalnya berbeda, memiliki gaya tersendiri. Sama seperti saat ini dimana kita mengimpor sistem konstruksi modern yang banyak berasal dari luar negeri terutama dari Belanda, arsitektur masa candi mengambil teknologi konstruksi dari India dan mengembangkan gaya arsitekturnya sendiri. Hal ini mengukuhkan bahwa Jawa tidak terlalu ‘silau’ dengan kebudayaan yang datang dari India, melainkan mengembangkan diri sesuai karakter lokal yang ada.

Gambaran arsitektur kayu dalam arsitektur konstruksi batu di candi Perwara, Plaosan, Jawa Tengah.
Sumber: [Ref. 4]


Bangunan-bangunan berkonstruksi kayu yang ada di relief candi Borobudur, Indonesia. Menunjukkan konstruksi rumah panggung yang di Jawa tidak populer, namun di pulau-pulau lain populer seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lain-lain, menunjukkan dikenalnya peradaban dari wilayah Nusantara lainnya di Jawa pada waktu Borobudur didirikan.
Sumber gambar; [Ref. 4]

Keunikan bangunan candi juga dapat diambil dari tipologi bangunan candi yang unik dan memberi gambaran hubungan dengan bangsa lain di masa lalu. Candi Sukuh adalah candi yang cukup unik juga di Jawa Tengah, bahkan sangat unik karena jenis arsitektur yang digunakan tidak lazim terdapat di Jawa ataupun India. Candi ini berbentuk piramid terpancung.

Candi Sukuh di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.
Sumber gambar: http://www.tournonsensemble.com/indonesie/indonesie_photos.htm





Piramid Kebudayaan Maya, Amerika Selatan
sumber gambar; http://www.whitebison.org/magazine/2003/volume4/images/vol4no21/photo1.jpg

Dari sisi bentuk, arsitektur candi ini tidak dapat ditemui di mana saja di Nusantara dan Asia, namun hanya ditemukan di bangunan-bangunan tua di Amerika Selatan. Hal ini merupakan suatu hal yang dapat menunjukkan kemungkinan kuat adanya hubungan antara Jawa dengan Amerika selatan jauh di masa silam. Selain itu bentuk patung-patungnya juga hampir mirip (bentuk estetika patungnya mirip). Bentuk patung dan relief dengan proporsi patung ‘tak lazim’ juga ditemukan di berbagai kebudayaan, antara lain; Jawa, Timur Leste, Batak, Kalimantan, Minahasa, dan sebagainya dimana hal ini menunjukkan kemungkinan pernah terjadinya hubungan budaya antara berbagai peradaban tersebut. Banyak peninggalan berasal dari masa megalithikum (peradaban batu besar). Patung-patung ini tentunya memiliki estetika yang tidak sama dengan patung-patung di Eropa.

Relief Candi Sukuh, Solo, Indonesia
sumber gambar; http://www.geocities.com/javakeris/kerisologi.htm






Patung-patung di Candi Sukuh, Jawa Tengah; estetika patung yang ‘tak lazim’ yang mirip dengan patung-patung dari kebudayaan Maya Inca, di Amerika Selatan.
Sumber gambar; blontankpoer.blogsome.com






Dua estetika berbeda; timur dan barat. Patung Durga dari kerajaan Singhasari (Malang, Indonesia) yang sekarang ada di Belanda, dan patung hiasan di gedung opera di Paris. Yang satu berlandaskan kepekaan dimensi kosmologis metafisik, yang lain berlandaskan realisme estetika erotisme fisik.
Sumber; Wasthu Citra

Kata ‘Rumah’ adalah kata yang menarik dipandang dari sisi penggunaan kata ini oleh berbagai peradaban disekitar Asia Pasifik. Dalam bahasa Jawa, Rumah adalah o-mah. Di Nias disebut o-mo, di Batak disebut huma, di NTT disebut u-me. Di kepulauan Pasifik sebutan untuk rumah banyak memiliki persamaan, seperti amo, oma. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban Jawa adalah sebuah bagian besar dari peradaban Asia Pasifik, dimana Nusantara menjadi area sirkulasi yang sangat padat di masa lalu sebagai penghubung antara Mesir dan Asia Pasifik.

Untuk melihat kemiripan estetika hasil budaya di Nusantara dan salah satu kepulauan di Pasifik, kita bisa melihat contoh dari Papua dan kepulauan Easter.

Salah satu patung modern di Papua, terlihat estetika patung ‘tak lazim’ yang masih dipelihara hingga saat ini. Bandingkan kemiripan estetika ini dengan patung di kepulauan Easter dibawah ini.
Sumber foto: http://www.papuaweb.org/gb/foto/muller/ecology/05/index.html



Patung-patung dari jaman Megalith di Easter Islands, Pasifik. Jenis estetika ‘dunia Timur’.
sumber gambar: http://www.easterislandquest.com/img-welcome-easter-island.jpg

Kata lain yang dapat menunjukkan yang disebut ‘kata yang menggambarkan persatuan peradaban Nusantara adalah kata Ratu dalam bahasa Jawa, Datu dalam bahasa Melayu (atau Datuk), Ratu dalam bahasa Fiji, dan semacam itu yang digunakan dalam peradaban sekitar Asia Pasifik, serta masih digunakan di Jawa [Ref. 8]. Peradaban ini dalam sejarah linguistik disebut sebagai Austronesian, yang merupakan wilayah penyebaran bahasa Astronesian yang tersebar, dari Asia ke Pasifik [Ref. 9]. Bahkan pada 1500 AD, Austronesian telah mengambil bagian dari hampir separuh dunia dalam perkembangan tutur bahasa, dari Madagaskar hingga kepulauan Easter. Tak heran bila dalam perkembangan itu juga berbagai budaya saling bersentuhan dan ditularkan. Indonesia berada dalam arus lalu lintas yang menghubungkan Asia dan Pasifik, tentunya pengaruh yang datang ke Indonesia tidak hanya dari Asia Tenggara saja, namun juga dari Kepulauan Pasifik, Micronesia, India dan wilayah-wilayah lain dalam area ini.
Tidak mengherankan pula bila Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat kaya, karena merupakan bagian dari peradaban Asia Pasifik. Disamping itu, faktor sedikit terisolasinya pulau-pulau mencetuskan kebudayaan masing-masing daerah yang sangat unik dan beragam, serta memiliki karakter kuat untuk masing-masing daerahnya. Perkembangan Austronesia menurut tumpang-tindihnya kebiasaan (overlapping behaviour) bertutur bahasa memang tidak bisa dengan mudah dikaitkan dengan penyebaran budaya, namun ada kaitan yang sangat erat antara penyebaran dan percampuran bahasa dengan kemungkinan penyebaran budaya yang dapat terjadi seiring hal tersebut. Perkembangan ini diindikasi telah berlangsung dalam 6000 tahun, sejak jaman sebelum sejarah [Ref. 8].

Akar budaya Nusantara, berakar dan berhubungan dengan India, Asia, Nusantara, Australia, Mikronesia, dan lebih jauh; Amerika Selatan.

Dalam contoh lingkup yang dibahas dalam artikel ini, arsitektur rumah di Jawa Timur mengalami banyak perubahan. Pada dasarnya arsitektur rumah dan bangunan lainnya adalah arsitektur kayu, dimana menurut relief candi-candi di Jawa, adalah bangunan yang mendominasi di tanah Jawa, dan Nusantara pada umumnya. Arsitektur kayu adalah arsitektur dengan bahan dasar dasar dan konstruksi kayu, sedangkan arsitektur batu seperti arsitektur Eropa dan candi-candi di Indonesia dan India dibuat dari konstruksi massa (mass construction) berbahan dasar batu. Arsitektur rumah memiliki banyak jenis rumah berdasarkan bentuk atapnya. Ada rumah Tajug, Rumah Kapung (bukan Kampung), Rumah Limansap (bukan Limasan), Joglo, dan sebagainya. Menurut Prijotomo [Ref. 1], Joglo adalah tipe bangunan yang termuda, karena joglo tidak pernah digambarkan dalam candi-candi di Jawa. Hal ini menunjukkan arsitektur Joglo yang sekarang masih ada di Jawa Timur dan Jawa pada umumnya merujuk pada ‘tren’ arsitektur Jawa termuda, yaitu joglo. Joglo yang banyak di Jawa ternyata tidak hanya berada di Jawa melainkan juga di daerah-daerah lain di Nusantara, seperti di Sumba, Lombok, dan lain-lain. Bentuk joglo di Sumba dan Lombok sudah ada sebelum abad ke-15 sehingga hal ini menunjukkan hubungan antara Jawa dengan Indonesia Timur, dimana arsitektur Joglo boleh jadi ‘terinspirasi’ oleh arsitektur dari wilayah Indonesia Timur tersebut.




Joglo khas Sumba
sumber gambar; http://bp2.blogger.com/_aojIvnG7-SA/RrLpc2DvQOI/AAAAAAAAABU/rbhAj3lMQ6E/s1600-h/rmh+sumba.jpg

Melestarikan tradisi arsitektur dalam konteks baru di jaman modern
Dalam hal ini berarti turut serta melestarikan rentetan peradaban arsitektur di sepanjang Asia Pasifik, dalam lingkup kecilnya; budaya lokal Jawa – Nusantara yang menjadi bagian dari peradaban yang lebih besar. Kelangsungan ini menunjukkan tidak terputusnya tradisi, dapat dipelajari di masa depan sebagai ‘menghadirkan kembali kejayaan masa lalu’ seperti halnya kelahiran kembali peradaban Eropa di masa Renaissance. Bentuk Joglo dipakai dalam sebagian bangunan di Kaliandra, dimana bentuk ini merupakan ciri khas bangunan Jawa Timuran yang dibuat dengan konstruksi dan konteks modern.




Pendopo di bagian depan kawasan





Pendopo dan landscaping di area depan Kaliandra





Pendopo bagian ‘atas’ kawasan





Arsitektur kayu di Kaliandra, berhubungan atau terinspirasi dari arsitektur khas Jawa lainnya, seperti seperti bangunan di keraton Jogja.





Digunakannya batu-bata sebagai pelapis dinding dan lantai mengingatkan kita pada arsitektur candi peninggalan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur

Kaliandra memiliki keunikan dalam bangunan-bangunannya, dimana selain tradisi arsitektur lokal Jawa dihadirkan dalam bentuk bangunan, terdapat pula pengaruh arsitektur Eropa yang hadir dalam ornamentasi dan detail bangunannya. Bahkan terdapat pula arsitektur bangunan yang ‘sangat Eropa’.









Bangunan-bangunan yang ‘sangat Eropa’ di Kaliandra.

Akulturasi




Akulturasi dalam bangunan ini saja; sistem konstruksi modern, tata nilai arsitektur Jawa, patung bentuk ‘tak lazim’ dari kebudayaan primitif banyak peradaban di seluruh dunia, patung tembikar gaya eropa diatas kolom-kolom bata candi Trowulan.





Patung tembikar di Kaliandra, yang sudah agak meninggalkan ciri khas patung estetika ‘tak lazim’ dari dunia timur, menuju ideal barat.

Sketsa






(Probo Hindarto)

***

REFERENSI
Materi Seminar
[1] Materi seminar ‘Arsitektur Jawa Timuran’ oleh Joseph Prijotomo, 15 Desember 2007; “‘Sejarah’ dan Perkembangan Arsitektur di Jawa Timur – Tantangan untuk Re-orientasi Pemahaman”

Buku
[2] Ismunandar. Joglo, 2007. Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Penerbit Effhar, Semarang.
[3] Silas, Johan, dkk. 2000. Rumah Produktif, dalam dimensi Tradisional dan Pemberdayaan. UPT Penerbitan ITS, Surabaya.
[4] Atmadi, Parmono. 1988. Some Architectura Design Principles of Temples in Java; A Study through the Buildings Projection on the Reliefs of Borobudur Temple. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
[5] Mangunwijaya, 1992. Wasthu Citra. Penerbit Gramedia, Jakarta.

Foto-foto
[6] Perjalanan ke Kaliandra, 15-16 Desember 2007. Seluruh foto oleh Probo Hindarto, kecuali disebutkan sumber lainnya.
Sketsa-sketsa
[7] Sketsa Probo Hindarto, Desember 2007

EXTERNAL LINKS:




 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

>Menata kumpulan bangunan, dan taman agar tercipta ruang positif

>

astudioarchitect.com Bila kita mendesain sebuah bangunan, kadangkala terdapat satu atau lebih massa bangunan, yang biasanya disebut sebagai blok bangunan. Apakah itu rumah tinggal, kawasan perumahan, ataupun sebuah blok kecil ditengah kota, berupa mall atau kumpulan bangunan. Tahukah Anda bahwa kumpulan bangunan memiliki dampak pada bagaimana bangunan dan areanya bagi kita? Ini adalah artikel yang berkelanjutan untuk mempelajari tentang penataan bangunan, yang pada akhirnya berpengaruh pada kota.

Photo by: PictureNinja.com

Photo by SFBC Operations, CC by

Photo by Lesley Middlemass, CC by

Semua bangunan berpengaruh pada bentuk dan fungsi ruang luar atau lingkungan dari bangunan tersebut. Untuk mencapai lingkungan yang baik, maka bangunan harus diintegrasikan dengan lingungan sehingga tidak terkesan berdiri sendiri. Misalnya: disekitar bangunan seperti di kampung, misalnya, terdapat berbagai aktivitas seperti berjalan di taman, bersepeda, menikmati bangunan dari luar atau dari sekitar bangunan, menaiki kendaraan baik motor ataupun mobil.

Selain itu dalam sebuah lingkungan luar kita selalu mendapati adanya tanaman, taman, perkerasan, trotoar, dan street furniture yang lain. Bentuk penataan dari blok bangunan berpengaruh langsung terhadap kesan dari bangunan. Kita tidak bisa menutup mata terhadap kesan bangunan, apakah terdapat pohon atau taman didepannya, ataukah benar-benar gersang tanpa tanaman, dimana ruang luar hanya diperuntukkan bagi mobil dan motor semata.

Tata bangunan seperti pada gambar menciptakan ruang negatif atau positif. Ruang negatif terbentuk saat dua massa bangunan, misalnya dua rumah berdekatan, tanpa adanya cara untuk memperbaiki lingkungan dengan taman ataupun tempat berkumpul. Dengan menambahkan bangunan, pohon, dinding atau pagar, maka bisa meningkatkan kesan lingkungan yang jauh lebih baik dengan ruang positif. Cara ini misalnya seperti yang banyak ada di kota-kota kita misalnya alun-alun kota, sebuah area publik yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan sehingga bisa dipakai oleh penduduk kota berinteraksi dan bercengkerama.

Dalam skala lebih kecil, bisa diwujudkan misalnya dengan memperbaiki desain lingkungan kampung, menciptakan area untuk berkumpul misalnya playground, taman kampung, trotoar, dan sebagainya. Karena dengan lingkungan yang baik dimana kita bisa berjalan-jalan, berkumpul dengan tetangga dan saling menyapa, maka penduduk akan semakin bahagia.

Inilah yang semakin hilang dari kota-kota di Indonesia, dimana untuk menentukan dimana taman kota, adalah peran pemerintah. Sayangnya pemerintah lebih suka memperhatikan tentang bangunan saja, namun kurang memperhatikan lingkungan, akibatnya adalah pohon-pohon banyak berkurang, taman kota dijual sebagai area perumahan dan mall, trotoar tidak diperhatikan, lebih mementingkan bangunan komersial dan menggagalkan tujuan utama perancangan kota, yaitu bermanfaat dan berguna bagi warga kebanyakan.

 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

>Arsitektur dan musik

>Penjelasan Konstruksi Bambu

>

astudioarchitect.com Dewasa ini bambu banyak dipakai sebagai bahan bangunan, seiring dengan makin mahalnya kayu dan besi. Meskipun dianggap sebagai material murah yang kurang bergengsi, bambu ternyata menyimpan banyak potensi sebagai bahan bangunan misalnya material untuk tambahan pada rumah tinggal dan sebagainya, berdasarkan penelitian para ahli, bambu ternyata bisa dipakai untuk bangunan dengan kualitas material melebihi baja dalam beberapa aspek. Artikel ini dibuat berdasarkan seminar Profesor Morisco, seorang ahli dari Yogyakarta yang mendalami tentang bambu.

Picture source: Flickr, with CC lisence.

Selama ini sambungan bambu yang umum digunakan adalah menggunakan tali ijuk untuk sambungannya, padahal bila dibuat dengan lebih canggih misalnya menggunakan baut maka akan menjadi sesuatu yang lebih baik.


on Flickr, under CC lisence.

Hutan merupakan kebutuhan agar disehatkan kebali dengan menghentikan penebangan, memelihara hutan agar kembali hijau, dengan demikian kita perlu mengganti kayu dan menggantinya dengan bahan pengganti kayu, dimana kita mencari tanaman yang cepat tumbuh, misalnya bambu.Bambu adalah tanaman untuk konstruksi yang paling cepat tumbuh, dimana bahan ini adalah bahan terbaharui dan murah.

Cycle penanaman adalah 3 tahun dengan tidak terlalu sulit untuk ditanam dimana bambu bisa memperbaharui diri melalui tunas. Bambu mudah ditanam di lahan basah maupun kering. Bambu juga bisa ditebang setiap tahun tanpa merusakkan hutan, dalam umur 3 tahun kualitas bambu sudah baik dan memenui persyaratan sebagai bahan bangunan. Dengan menanam bambu memiliki lebih bahnyak harapan. “Bambu mempunyai sifat mekanik yang sangat baik”, merupakan kualitas bambu yang paling mencengangkan.

Kulit bambu putus 450 mega pascal. Satu ukuran jari ditarik dengan 4,5ton, baru putus, hal ini bisa melebihi kemampuan baja tulangan yang konvensional, dimana kekuatan tariknya sekitar 330mega pascal, menurut penelitian Bapak Morisco.

design by Morisco, on Flickr under CC lisence.

Budidaya bambu petung.
Tanpa memikirkan budidaya, bambu juga akan habis. Tanaman bambu yang ada saat ini hanya warisan dari nenek moyang. Lahan berkurang karena dipakai untuk perumahan. Pada jaman pak Harto, bambu dianggap dan dikatakan sebagai tanaman yang kotor dan tidak sehat.

Semua generasi bambu sebaiknya ditananam dalam 3-2-1 tahun, dengan 6-8 batang bambu yang seumur, dimana satu rumpun terdapat 24-32 batang bambu
satu hektar lahan dapat ditanam 250 rumpun bambu petung, satu rumpun bisa menghasilkan 8 batang per tahun.
Satu hektar bisa menghasilkan 2000 batang per tahun.

Petani kurang tertarik untuk menanam bambu petung meskipun terdapat potensi, sehingga menurut Prof Morisco seharusnya pemerintah yang menjadi pelopor untuk budidaya ini.

Ketahanan bambu cukup tinggi, bahkan dibakar hingga habis, bambu masih bisa tumbuh lagi tunasnya. Beberapa peluang usaha dari bambu terbuka sangat luas. Seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap green building, bambu termasuk material yang paling diminati untuk pagar bangunan. Peluang usaha juga termasuk pembuatan gazebo untuk pasaran ekspor. Satu gazebo nilainya bisa mencapai 70-90 juta rupiah. Hal ini menjadi nilai tambah yang sangat tinggi. Pangkal bambu juga bisa dipakai untuk kerajinan, alat musik (angklung), hiasan, mebel seperti tempat tidur dan sofa.

Segala yang dibuat dari bambu perlu diawetkan. Kendala dari penggunaan bambu adalah kesan bahwa rumah bambu adalah rumah orang miskin. Bambu juga perlu diawetkan, dimana teknologinya tidak dimiliki banyak produsen bambu.

——————————–

Untuk melengkapi artikel ini, saya memilihkan buku karangan Heinz Frick yang bisa memperluas wawasan kita tentang bambu sebagai material bangunan:

http://books.google.com/books?id=L8c4eO0VHeMC&lpg=PA80&dq=konstruksi%20bambu&pg=PP1&output=embed

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

>Pembangunan di wilayah Ngibikan, Jogja … pasca bencana gempa.

>

astudioarchitect.com

Slide ini adalah presentasi Eko Prawoto yang diupload oleh Muh. Darman dari Ruang17. Eko Prawoto adalah seorang arsitek dan budayawan yang tinggal di Jogjakarta saat mendedikasikan diri membantu korban bencana gempa di Ngibikan. Dalam slide ini digambarkan kondisi setelah bencana, dimana terdapat kehancuran hidup dan harapan, setelah itu digambarkan Ngibikan bangkit melalui gotong royong. Slide-slide akhir kondisi setelah setahun rumah-rumah tersebut ditinggali, tampaknya terdapat beberapa perubahan, namun masih terasa suasana desa yang kental dan asri.

Silahkan jalankan slide tersebut…. mode fullscreen juga tersedia lewat menu > view fullscreen

(bila Anda mengakses dari Facebook, mungkin perlu melihat di blog astudio :)
terimakasih.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

>Pasar tradisional

>

astudioarchitect.com pasar seperti ini merupakan pasar rakyat yang makin tergantikan oleh ‘mart’2 yang selalu berusaha menggantikan keberadaan mereka. Kondisinya kurang layak, sempit, terlihat berserakan, becek, tidak modern, terkesan kotor/kumuh, parkir seenaknya, sampah berserakan dan penuh di tong-tongnya. Dengan mudah akan digantikan oleh ‘mart2′ besar ataupun dekat dengan jalan paling dekat dengan permukiman penduduk.

Bila kita lihat sedikit kebijakan pemerintah daerah pasti akan sangat berpengaruh, baik itu kebijakan yang negatif ataupun positif terhadap eksistensi mereka. Kebijakan yang dimaksud adalah jarak minimum untuk pasar tradisional dan pasar modern (kata ganti untuk supermarket), dimana seharusnya terdapat jarak minimum antara kedua jenis pasar tersebut untuk melindungi keberadaan pasar tradisional, sekaligus melindungi heritage kebudayaan dari tangan-tangan kapitalisme.

Contoh kasus pasar ini berada di dekat pusat perbelanjaan kecil dengan tipe supermarket modern dimana pengunjung akan dimanjakan dengan fasilitas modern yang bersih, mudah, dan terlihat jauh lebih elegan.

Kebijakan pemerintah yang seringkali mengabaikan keberadaan pasar tradisional akan berakibat pasar seperti ini tidak laku dengan adanya ‘mart2′ yang berlomba-lomba muncul dan merajai pasar.

Meskipun demikian, masyarakat miskin banyak yang lebih nyaman untuk membeli kebutuhan di pasar tradisional sehubungan dengan beberapa hal seperti adanya kemungkinan menawar, tidak adanya ‘gap’ image kelas ekonomi, dan kebiasaan.

Solusi yang mungkin dibuat secara arsitektural adalah perbaikan sarana dan citra pasar tradisional dengan fasilitas seperti

- selasar yang lebih baik,
- pencahayaan dan penghawaan yang memadai
- sanitasi
- sistem pembuangan sampah
- manajemen pasar tradisional yang terintegrasi dengan pariwisata daerah, dengan mengangkat potensi wisata yang dipadukan dengan citra tradisional yang akan memperkuat keberadaan pasar tradisional tersebut.

Satu faktor yang tak kalah pentingnya: manajemen pasar yang selama ini ada terlihat kasar dan tidak manusiawi, menunjukkan ketidak-seriusan pemerintah dengan berbagai kasus korupsinya.

BEBERAPA GAMBARAN PASAR TRADISIONAL


Pasar tradisional di Seoul, Korea
source: http://blog.bandar360.com


Pasar tradisional di Kaohsiung, Taiwan
source: http://www.travelpod.com

Some rights reserved by [Jezza] on Flickr

Pasar tradisional yang manusiawi bisa menjadi tempat yang sarat dengan unsur kultural, mengingat pasar tradisional adalah peninggalan budaya masing-masing daerah di seluruh dunia. Kebudayaan dan keberagaman terpancar dengan sangat kuat melalui pasar tradisional. 

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bangunan yang Iconic / Iconic Buildings

astudioarchitect.com Seringkali sebuah arsitektur bangunan dikatakan sebagai Icon dari sebuah kawasan, menjadi sebuah cara untuk mengungkapkan keberadaan sebuah bangunan yang memberi warna, pengaruh, serta kepentingan di sebuah kawasan. Sebagai contoh: Monas adalah Icon kota Jakarta. Patung Sura (hiu) dan Baya (buaya) adalah Icon kota Surabaya. Burj Dubai merupakan Icon kota Dubai. Icon adalah simbol dari sesuatu yang penting dalam memberi identitas sebuah kawasan, kota, bahkan sebuah negara. Sangat sering orang yang berjalan-jalan atau ‘plesir’ ke tempat atau kota tertentu akan mengunjungi bangunan, tempat, atau kawasan yang menjadi Icon dari sebuah kota, barangkali untuk menandai sebuah kunjungan agar lebih bermakna, ‘bahwa saya pernah ke kota tersebut’.

Desain bangunan oleh astudio architect.

Icon seringkali mengandung peran penting sebagai penanda sebuah kawasan, misalnya: “Bila Anda melewati bangunan dengan bentuk bulat, maka Anda sudah sampai di kota anu”. Artinya bangunan berbentuk bulat memberi penanda yang jelas akan sebuah kota. Bisa dikatakan Icon memberi makna tertentu sehubungan dengan interpretasi dari persepsi visual yang diterima pengamat. Berkaitan dengan semiotika dan simbol, icon merupakan sebuah satuan makna yang harus diinterpretasikan, misalnya, untuk memahami bahwa Monas adalah Icon Jakarta, kita harus memahami proses untuk melihat Monas memiliki makna yang bisa diinterpretasikan bahwa Monas bentuknya seperti itu, dan hanya ada di Jakarta.

Photo by AyAres151 on Flickr

Kadangkala, begitu kuatnya sebuah Icon, maka sebuah bangunan atau arsitektur bisa menjadi simbol dari tempat, kawasan, kota bahkan negara. Monas, atau Suramadu, merupakan simbol kota Jakarta dan Surabaya, bila setiap kali melihat ‘image’ dari bangunan tersebut, diasosiasikan sebagai ‘Jakarta’, atau ‘Surabaya’. Misalnya, dalam sebuah gambar peta, gambar Monas menjadi simbol Jakarta, dan Suramadu, menjadi simbol Surabaya.

Arsitektur memang bisa dan memungkinkan untuk dibuat menjadi sebuah icon, meskipun demikian, setiap Icon akan memberi pengaruh atau peran dalam area tertentu sebagai penanda yang sifatnya terbatas sesuai dengan tingkat pengaruh yang dimilikinya. Setiap orang yang ‘tahu’ tentang patung ‘sura’ dan ‘baya’ sebagai icon dari ‘Wonokromo’ atau ‘Surabaya’ akan mendapat makna setiap kali melihat bentukan atau imagery patung ‘sura dan baya’ untuk dikaitkan dengan kawasan Wonokromo atau kota Surabaya pada umumnya. Arsitektur yang sangat kuat pengaruhnya sebagai icon, bisa menjadi penanda untuk sebuah kawasan, dan banyak contoh yang bisa kita temukan dalam arti arsitektur sebagai ‘bangunan’ bukan sebuah sculpture atau patung.

Banyak arsitek sangat menyukai kesempatan mendapatkan proyek desain yang bisa menjadi Icon bahkan simbol dari sebuah kawasan, misalnya: merancang bangunan yang bernilai tinggi bagi lingkungan. Merancang bangunan dengan tingkat pengaruh yang tinggi bisa mempertinggi tingkat pengaruh arsitek di masyarakat, artinya ego arsitek juga dipengaruhi dalam kondisi ini. Peran arsitek menjadi sangat penting bila ia harus mendesain bangunan yang akan menjadi Icon sebuah kawasan.

Seberapa pentingkah sebuah bangunan menjadi sebuah Icon?
Inilah sebuah jawaban mengapa arsitektur Mall selalu atau kebanyakan didesain dengan warna cerah, menarik, unik, dan menawarkan sesuatu yang berbeda dari lingkungannya. Hal ini bisa dipahami sebagai suatu cara menjadikan Mall sebagai penanda suatu tempat, yaitu lingkungan disekitar mall tersebut. Dari ‘sesuatu yang berbeda’ tersebut setiap orang (pengamat) yang melihat dan memahami perbedaan tersebut bisa membuat asosiasi tertentu berkaitan dengan imagery yang didapatkannya.

“Kamu tahu, mall yang bentuknya kotak-kotak, miring-miring”

Kalimat diatas bisa diasosiasikan sebagai ‘Mall EX’ di Bundaran HI Jakarta, atau bisa jadi mall yang baru rubuh di sebuah kota, tergantung dari asosiasi pengamat :) Arsitek bisa mendesain bangunan menjadi sebuah Icon yang sangat dikenal. Persoalan yang timbul dari arsitektur ‘iconic’ adalah dari dampak arsitektur ‘iconic’ itu sendiri.

Keinginan untuk memiliki bangunan yang iconic sangat menggoda bagi para pemilik bangunan terutama untuk jenis bangunan komersial, sebabnya adalah keberadaan bangunan yang bisa menjadi icon yang bisa mendongkrak sisi komersial. Di tepi jalan komersial, selalu kita dapati berbagai bangunan komersial berlomba-lomba menciptakan bangunan yang iconic, sehingga jalan komersial dipenuhi oleh bangunan dengan desain dan tipe yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Karena setiap bangunan didesain untuk menjadi berbeda maka jalan akan dipenuhi oleh arsitektur yang beragam, bisa jadi cenderung chaos, tanpa regulasi khusus seperti ketinggian bangunan, sempadan, KDB dan KLB, tema atau gaya arsitektur yang digunakan, material, dan sebagainya.

Selain itu arsitektur yang dibuat untuk menjadi iconic sering memiliki kekurangan akibat perhatian arsitek yang terlalu bertujuan memaksimalkan ‘imagery’ yang ditampilkan oleh fasade bangunan. Ruko, mall, restoran, dan sebagainya dibuat dengan arsitektur yang semenarik mungkin agar menjadi icon suatu kawasan, tapi arsiteknya sering melupakan banyak faktor lain, diantaranya adalah tanggung jawab sosial dan lingkungan. Begitu pentingnya untuk mengolah fasade agar menarik, misalnya, bisa membuat banyak hal yang terkait arsitektur lainnya menjadi terbengkalai.

ENGLISH VERSION:


An architectural icon of a region, becomes a way to reveal the existence of a building that gives color, influence, and interests in a region. For example: Monas monument is the Icon of Jakarta. Statue of Sura (shark) and Baya (crocodile) is the Icon of Surabaya. Burj Dubai is an icon of Dubai. Icon is a symbol of something important in giving the identity of a region, city, even a country. Very often people who take a walk or vacation to a place or a particular city will visit the building, place, or area that became icons of a city, perhaps to mark a visit to make it more meaningful, ‘that I’ve been to the city’.




Design an iconic building, by astudio architect.




Icon often contain important role as a marker of a region, for example: “When you pass through the building with a round shape, then you’ve arrived at the city”. This means that round-shaped building will provide a clear marker of a town. Icon can be said to give a specific meaning in connection with the interpretation of visual perception received by the observer. In relation to semiotics and symbol, icon is a unit of meaning that must be interpreted, for example, to understand that the Monas is the Icon of Jakarta, we must understand the process to see the monument has a meaning that could be interpreted that the monument shaped like that, and only in Jakarta.


Sometimes, an Icon can be so strong, then a building or architecture could be a symbol of place, regions, cities and even countries. Monas, or Suramadu, is a symbol of Jakarta and Surabaya, every time we see the ‘images’ of the building, it can be associated as ‘Jakarta’, or ‘Surabaya’. For example, in a map, the image of Monas became a symbol of Jakarta, and Suramadu, became the symbol of Surabaya.


Architecture is able and allowed to be made into an icon, even so, every icon will give the effect or role in certain areas as markers that are limited in accordance with the degree of influence of the building. Every person who ‘knows’ about the statue of ‘Sura’ and ‘Baya’ as an icon of ‘Wonokromo’ or ‘Surabaya’ will have that meaning every time he saw the formation or imagery of the sculpture ‘sura and baya’ to be associated with Wonokromo region or city of Surabaya in general . Architecture is very powerful as an icon, can be a marker for a region, and many examples can be found in the sense of architecture as a ‘building’ rather than a sculpture or statue.


Many architects love the opportunity to get a design project that can become an Icon even symbols of a region, for example: designing buildings of high value for the environment. Designing a building with a high degree of influence that could enhance the influence of the architect in society, meaning the architect’s ego is also affected in this condition. The role of the architect becomes very important when he has to design a building that would become icons of a region.


How important a building became an icon?
This is the answer to why the architecture of malls are always or mostly designed with bright colors, interesting, unique, and offer something different from their surroundings. This can be understood as a way to make the Mall as a place marker, namely the environment around the mall. From the ‘something different’ is any person (observer) who see and understand these differences can make certain associations related to the acquisition of imagery.


“You know, the mall that is shaped tilted boxes”


The sentence above can be associated as the ‘Mall EX’ at Roundabout HI Jakarta, or could be a new mall that collapsed in a city, depending on the associated observer :) The architect can design a building into an icon that is known. Problems arising from architectural ‘iconic’ architecture is the impact of ‘iconic’ itself.


The desire to have an iconic building is very tempting for the owners of the building primarily for commercial building types, why is the existence of buildings that could become the icon that could boost the commercial side. On the commercial side of the road, we always find a variety of commercial buildings competing to create an iconic building, so that commercial street full of buildings with different designs and different types of buildings to achieve that goal. Because each building is designed to be different then the street will be fulled by a variety of architecture, which could be inclined chaos, with no special regulations such as building height, border, KDB and outbreaks, theme or style of architecture used, material, and so forth.


Architecture designed to be iconic often have a shortage due to the attention of architects who too aim to maximize the ‘imagery’ that is displayed by the facade of the building. Commercial, shopping malls, restaurants, etc. are made with architecture as attractive as possible in order to become a regional icon, but architects often forget the many other factors, such as social and environmental responsibility. Once the importance to treat the facade in order to attract, for example, can make a lot of things related to other architectural become dormant.

________________________________________________

Picture credit (from top to bottom):
- from http://www.opus-dubai.com
- by AyAres151 on Flickr
- by kersy83 on Flickr.com

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Memahami Efek Rumah Kaca dan Hubungannya dengan Arsitektur

astudioarchitect.com Memahami mekanisme

Efek Rumah Kaca

dan hubungannya dengan arsitektur dan konstruksi bangunan bisa membuat kita makin jeli dalam mendesain bangunan. Efek rumah kaca merupakan efek yang ditimbulkan oleh gas yang berada di atmosfer, keberadaannya merupakan sesuatu yang positif dalam level normal, tapi menjadi negatif ketika ada gas-gas tertentu yang mengganggu keseimbangan. Efek rumah kaca diperlukan untuk mempertahankan suhu diatas kerak bumi atau di udara tempat kita hidup dalam ambang normal, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Bila gas tertentu makin banyak, maka suhu bumi akan meningkat. Sejak terjadinya revolusi industri, emisi gas yang berpengaruh pada efek rumah kaca menjadi makin tinggi.



Gas-gas yang dimaksud adalah sebagai berikut:


- Uap air (H2O)
- Karbon dioksida (CO2)
- gas Metan (CH4)
- Ozon (O3)


Gas-gas diatas berkontribusi untuk mempertahankan suhu diatas bumi menjadi nyaman ditinggali manusia dalam arti tidak terlalu panas. Gas-gas ini memiliki kemampuan menyerap dan memancarkan radiasi panas gelombang infrared panjang (Long Wavelength Infrared) yang dimiliki oleh gas-gas tersebut.


Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan suhu karena ketidak-seimbangan gas-gas yang berkontribusi pada efek rumah kaca, namun perubahan terbesar disebabkan oleh emisi karbon dioksida (CO2) yang ditimbulkan oleh hasil pembakaran bahan bakar fosil, atau minyak dan gas bumi. Peningkatan CO2 juga disebabkan oleh pembakaran hutan untuk pertanian dan industrialisasi.





Terutama dari hasil pembakaran bahan bakar fosil, CO2 menyumbang peningkatan suhu dalam efek rumah kaca yang terbesar, terutama setelah adanya revolusi industri. Selama 800.000 tahun, kadar CO2 dalam udara diatas bumi selalu konstan dalam kisaran 180ppm dan 280ppm, dan meningkat dengan drastis dalam 250 tahun terakhir (wikipedia).


Peningkatan suhu disebabkan perubahan efek rumah kaca menyebabkan banyak perubahan dalam sistem biologis dan ekologis diatas bumi yang kebanyakan merupakan perubahan bersifat destruktif. Antara lain: peningkatan suhu menyebabkan es kutub menncair dan mempertinggi level permukaan air laut, dalam 30 tahun kedepan akan mengakibatkan banyak pulau dan bagian daratan tenggelam.


Beberapa penyebab utama dari peningkatan kadar CO2 disebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca dalam berbagai sektor:


- Pembangkit tenaga listrik berbahan bakar minyak (21,3%)
- Proses Industri ((16,8%)
- Transportasi (14%)
- Agroindustri (12,5%)
- Pemrosesan minyak dan distribusinya (11,3%)
- Rumah tinggal, bangunan komersil, dsb (10,3%)
- Penggunaan tanah dan pembakaran tanaman (10%)
- Pengolahan sampah (3,4%)


Bisa diperhatikan bahwa bidang konstruksi menyumbang sekitar 10% dari emisi CO2 yang meningkatkan suhu dalam efek rumah kaca. Sumber dari rumah tinggal dan bangunan banyak disebabkan oleh penggunaan AC, konsumsi listrik, dan transportasi. Jangan lupa bahwa dengan faktor uap air yang bisa meningkatkan suhu bumi dalamefek rumah kaca, maka menguapnya air yang lebih banyak berarti juga mempengaruhi subu bumi, dalam hal ini adalah agroindustri, meningkatnya uap air dari meningkatnya lahan sawah dan kebun.

Indonesia termasuk 5 besar
penyumbang emisi karbon dioksida

dengan peringkat sebagai berikut:


- China, per tahun menyumbang 17%
- USA, per tahun menyumbang 16%
- Uni Eropa, pertahun menyumbang 11%
- Indonesia, pertahun menyumbang 6%
- India, pertahun menyumbang 5%


Jadi bagaimana sebuah negara yang ‘berkembang’ seperti Indonesia menyumbang 6% dari kadar CO2 dalam udara di bumi?


Hal ini karena di Indonesia tidak ada regulasi untuk mengatur jumlah emisi karbon dengan peraturan perindustrian yang tidak jelas dan tidak adanya pembatasan kendaraan bermotor. Selain itu beberapa faktor lain berkaitan dengan arsitektur dan bangunan
adalah sebagai berikut:



- Pemakaian bahan material ‘mahal’ yang membutuhkan energi fosil lebih banyak dalam proses produksi dan distribusinya. Contohnya: ‘Marmer Italy’, mengapa harus dari Italy bila dari lokal sudah ada? Proses produksi di negara yang tidak memiliki energi fosil yang melimpah, contohnya: Indonesia mengekspor baja, diproduksi oleh Jepang, Jepang mendapatkan minyak dari Indonesia, kemudian dikirim kembali ke Indonesia dalam bentuk material atau barang. Keseluruhan produksi memakan energi yang sangat besar dan emisi karbonnya juga jauh lebih tinggi.
- Penggunaan AC untuk mengkondisikan udara, baik menjadi lebih dingin atau lebih hangat, merupakan proses yang mengeluarkan O3 atau gas ozon yang berdampak pada peningkatan suhu bumi. Satu AC di rumah kita mungkin berpengaruh sangat besar bagi peningkatan suhu bumi, karena itu, dari awal sebaiknya dipikirkan bagaimana membuat rumah yang bisa sejuk tanpa AC





- Proses konstruksi yang tidak efisien energi, menghasilkan lebih banyak CO2, misalnya: renovasi yang tidak diperlukan atau tanpa perencanaan, proses renovasi menimbulkan emisi CO2 dari gas buang kendaraan dalam proses produksi dan distribusi material.
- Pemakaian barang elektronik membutuhkan energi listrik, dan banyak energi listrik dibangkitkan oleh pembangkit listrik berbahan minyak / fosil. Proses menghasilkan energi listrik menimbulkan pencemaran CO2.
- Arsitektur bangunan yang tidak didesain dengan baik membutuhkan penerangan dan penghawaan buatan yang membutuhkan energi dari pembakaran fosil untuk menghasilkan listrik tersebut.
- Pemilihan jenis rumah, dimana jenis rumah yang berdiri sendiri menurut penelitian memerlukan listrik lebih banyak daripada jenis rumah-rumah townhouse
- Tidak adanya pepohonan dan tanaman yang mencukupi di area bangunan atau rumah tinggal menyebabkan panas yang dipantulkan ke udara dan ditangkap oleh gas rumah kaca yaitu H2O, CO2, CH4, dan O3. Disamping itu kurangnya pepohonan berarti berkurangnya H2O atau uap air dan CO2 yang ditangkap oleh daun tanaman dalam proses fotosintesis.
- Menutupi area tanah dengan bangunan dan perkerasan, menyebabkan tidak adanya tanaman.

________________________________________________

by Probo Hindarto (artikel ini mungkin belum lengkap)
Picture credit (from top to bottom):
- by Daryl Marquardt
- by chooyutshing
- by rockriver
Pictures are used under Creative Commons Lisence.

© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Suramadu, potensi daerah dan arsitektur khas Madura

astudioarchitect.com Jembatan Suramadu merupakan jembatan laut terpanjang di Indonesia dan merupakan jembatan yang indah, secara arsitektural maupun pamornya. Tak heran saat ini Suramadu menjadi salah satu obyek wisata paling menarik di Surabaya dan Madura. Apa yang membuatnya menarik? Yang pertama adalah skala jembatan ini, yang sangat besar dan panjang, merupakan obyek bangunan yang jarang ada dan karena itu menjadi unik. Menghubungkan dua wilayah Surabaya dan Madura yang terpisah oleh laut berarus deras. Saya berkesempatan mengunjungi Suramadu dengan teman Ken Ridho.

Dari sisi arsitektural merupakan sebuah obyek bangunan yang skalanya terlalu besar bagi manusia, karena itu menjadi ‘Grandiose’ dalam skala manusia yang kecil seperti kita menyebabkan kualitas ruang yang terlalu besar untuk dipahami secara utuh, kecuali dilihat dari jauh. Cakupan persepsi untuk memahami obyek yang terlalu besar ini sangat terdistorsi dalam jarak dekat, mengingat manusia atau orang hanya bisa memahami secuil dari jembatan ini. Namun, baik dari sisi Surabaya ataupun Madura, kita bisa melihat jembatan dari jauh.

Foto Konstruksi kabel jembatan Suramadu, dari sisi pengendara sepeda motor.

Serial vision dari pemandangan jembatan Suramadu. Foto oleh Probo Hindarto

Serial vision dari pemandangan di sisi Madura. Disini kita tidak disambut oleh ruko, atau pemandangan penuh dengan area komersial gaya investor kelas berat, tapi disuguhkan pemandangan eksotik khas; yaitu kaki lima. Siap menunggu perubahan daerah ini menjadi lebih maju (mungkin lebih semrawut?). Klik untuk memperbesar gambar.
Didekat jembatan ini sebenarnya terdapat patung raksasa tertinggi setelah patung Liberty di New York, yaitu Jalesveva Jayamahe yang merupakan kebanggan maritim Indonesia, tapi mengingat daerah Jalesveva itu tidak dapat diakses oleh kalangan umum sehubungan dengan letaknya berada dilingkungan angkatan bersenjata AL, sangat disayangkan tidak bisa melengkapi keberadaan Suramadu ini. Letaknya juga terlalu jauh untuk bisa terlihat dari Suramadu.

Monumen Jalesveva Jayamahe seharusnya bisa melengkapi keberadaan jembatan Suramadu, sayang, ternyata tidak. Sumber gambar: printscreen Google Search.
GEO CULTURE
Hal menarik melalui pengamatan mata sehubungan dengan budaya orang Madura yang khas bisa terlihat langsung perbedaannya dari Surabaya yang terlihat cantik, glamour, bergedung tinggi, dan rapi (di bagian kotanya), maka memasuki Madura dari jembatan Suramadu kita akan disambut oleh khas kaki lima yang berderet disisi jalan disisi Madura. Tak heran karena didaerah ini belum terlihat terjamah investor meskipun dekat dengan Surabaya, kemungkinan menunggu beberapa tahun kedepan. Namun beberapa indikasi menunjukkan Bangkalan Madura mengalami peningkatan ekonomi dan migrasi disebabkan keberadaan jembatan ini.

Jembatan Suramadu menghubungkan Surabaya dan Madura. Sumber: Google Earth.

Arsitektur khas rumah Madura

Rumah khas Madura dibuat dari bata dan bata kapur, dikapur putih dan memiliki atap joglo seperti yang dijumpai di Nusa Tenggara maupun di Jawa. Atap bangunan dalam budaya Madura mirip di Jawa yaitu merupakan atap naungan yang sifatnya lebar, melindungi dari terik matahari serta memberikan pembayangan bagi penghuni sehingga merasa nyaman. Sedangkan bangunan-bangunan semi permanen dari pedagang-pedagang Madura tampaknya merupakan fenomena yang khas, biasanya dibuat dari bambu.

Denah paling sederhana dari rumah tradisional Madura. Sketsa oleh Probo Hindarto

Gambaran sederhana dari tipologi denah rumah adat Madura, kamar tidur bisa berjumlah lebih sesuai kemampuan dari pemilik rumah. Skema ini bisa berubah karena kemampuan membangun dan inovasi yang sedikit banyak menghilangkan tipologi tradisional ini. Sketsa oleh Probo Hindarto


Gambaran tipologi bangunan tradisional Madura, yang terpenting adalah memperhatikan bentuk atap khas Madura ini. Sketsa oleh Probo Hindarto

Tipologi rumah dengan atap joglo yang terpengaruh oleh adat Jawa, meskipun demikian joglo lebih dahulu ada di Madura. Sketsa oleh Probo Hindarto.

Pola penataan ruang rumah khas Madura merupakan pemisahan yang cukup jelas antara ruang tamu, kamar tidur, dan ruang belakang sebagai ruang bersama dan dapur. Beberapa varian diantaranya bila ada kamar-kamar tidur lebih banyak maka penataan sedikit banyak berubah, namun polanya masih sama yaitu ruang publik, privat dan semi privat; ruang tamu, kamar tidur, dapur. Sebagian rumah mungkin memiliki teras sehubungan dengan naungan atap yang menjorok kedepan seperti arsitektur rumah di Jawa Timur atau Jawa Tengah. Adapun kamar mandi seringkali dibuat terpisah dari rumah. Material yang digunakan seputar material lokal yang mudah didapat yaitu batu, bata, bata kapur, kayu lokal, bambu, dan genteng tanah liat.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.