Arsip Kategori: x English version special article

Bangunan yang Iconic / Iconic Buildings

astudioarchitect.com Seringkali sebuah arsitektur bangunan dikatakan sebagai Icon dari sebuah kawasan, menjadi sebuah cara untuk mengungkapkan keberadaan sebuah bangunan yang memberi warna, pengaruh, serta kepentingan di sebuah kawasan. Sebagai contoh: Monas adalah Icon kota Jakarta. Patung Sura (hiu) dan Baya (buaya) adalah Icon kota Surabaya. Burj Dubai merupakan Icon kota Dubai. Icon adalah simbol dari sesuatu yang penting dalam memberi identitas sebuah kawasan, kota, bahkan sebuah negara. Sangat sering orang yang berjalan-jalan atau ‘plesir’ ke tempat atau kota tertentu akan mengunjungi bangunan, tempat, atau kawasan yang menjadi Icon dari sebuah kota, barangkali untuk menandai sebuah kunjungan agar lebih bermakna, ‘bahwa saya pernah ke kota tersebut’.

Desain bangunan oleh astudio architect.

Icon seringkali mengandung peran penting sebagai penanda sebuah kawasan, misalnya: “Bila Anda melewati bangunan dengan bentuk bulat, maka Anda sudah sampai di kota anu”. Artinya bangunan berbentuk bulat memberi penanda yang jelas akan sebuah kota. Bisa dikatakan Icon memberi makna tertentu sehubungan dengan interpretasi dari persepsi visual yang diterima pengamat. Berkaitan dengan semiotika dan simbol, icon merupakan sebuah satuan makna yang harus diinterpretasikan, misalnya, untuk memahami bahwa Monas adalah Icon Jakarta, kita harus memahami proses untuk melihat Monas memiliki makna yang bisa diinterpretasikan bahwa Monas bentuknya seperti itu, dan hanya ada di Jakarta.

Photo by AyAres151 on Flickr

Kadangkala, begitu kuatnya sebuah Icon, maka sebuah bangunan atau arsitektur bisa menjadi simbol dari tempat, kawasan, kota bahkan negara. Monas, atau Suramadu, merupakan simbol kota Jakarta dan Surabaya, bila setiap kali melihat ‘image’ dari bangunan tersebut, diasosiasikan sebagai ‘Jakarta’, atau ‘Surabaya’. Misalnya, dalam sebuah gambar peta, gambar Monas menjadi simbol Jakarta, dan Suramadu, menjadi simbol Surabaya.

Arsitektur memang bisa dan memungkinkan untuk dibuat menjadi sebuah icon, meskipun demikian, setiap Icon akan memberi pengaruh atau peran dalam area tertentu sebagai penanda yang sifatnya terbatas sesuai dengan tingkat pengaruh yang dimilikinya. Setiap orang yang ‘tahu’ tentang patung ‘sura’ dan ‘baya’ sebagai icon dari ‘Wonokromo’ atau ‘Surabaya’ akan mendapat makna setiap kali melihat bentukan atau imagery patung ‘sura dan baya’ untuk dikaitkan dengan kawasan Wonokromo atau kota Surabaya pada umumnya. Arsitektur yang sangat kuat pengaruhnya sebagai icon, bisa menjadi penanda untuk sebuah kawasan, dan banyak contoh yang bisa kita temukan dalam arti arsitektur sebagai ‘bangunan’ bukan sebuah sculpture atau patung.

Banyak arsitek sangat menyukai kesempatan mendapatkan proyek desain yang bisa menjadi Icon bahkan simbol dari sebuah kawasan, misalnya: merancang bangunan yang bernilai tinggi bagi lingkungan. Merancang bangunan dengan tingkat pengaruh yang tinggi bisa mempertinggi tingkat pengaruh arsitek di masyarakat, artinya ego arsitek juga dipengaruhi dalam kondisi ini. Peran arsitek menjadi sangat penting bila ia harus mendesain bangunan yang akan menjadi Icon sebuah kawasan.

Seberapa pentingkah sebuah bangunan menjadi sebuah Icon?
Inilah sebuah jawaban mengapa arsitektur Mall selalu atau kebanyakan didesain dengan warna cerah, menarik, unik, dan menawarkan sesuatu yang berbeda dari lingkungannya. Hal ini bisa dipahami sebagai suatu cara menjadikan Mall sebagai penanda suatu tempat, yaitu lingkungan disekitar mall tersebut. Dari ‘sesuatu yang berbeda’ tersebut setiap orang (pengamat) yang melihat dan memahami perbedaan tersebut bisa membuat asosiasi tertentu berkaitan dengan imagery yang didapatkannya.

“Kamu tahu, mall yang bentuknya kotak-kotak, miring-miring”

Kalimat diatas bisa diasosiasikan sebagai ‘Mall EX’ di Bundaran HI Jakarta, atau bisa jadi mall yang baru rubuh di sebuah kota, tergantung dari asosiasi pengamat :) Arsitek bisa mendesain bangunan menjadi sebuah Icon yang sangat dikenal. Persoalan yang timbul dari arsitektur ‘iconic’ adalah dari dampak arsitektur ‘iconic’ itu sendiri.

Keinginan untuk memiliki bangunan yang iconic sangat menggoda bagi para pemilik bangunan terutama untuk jenis bangunan komersial, sebabnya adalah keberadaan bangunan yang bisa menjadi icon yang bisa mendongkrak sisi komersial. Di tepi jalan komersial, selalu kita dapati berbagai bangunan komersial berlomba-lomba menciptakan bangunan yang iconic, sehingga jalan komersial dipenuhi oleh bangunan dengan desain dan tipe yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Karena setiap bangunan didesain untuk menjadi berbeda maka jalan akan dipenuhi oleh arsitektur yang beragam, bisa jadi cenderung chaos, tanpa regulasi khusus seperti ketinggian bangunan, sempadan, KDB dan KLB, tema atau gaya arsitektur yang digunakan, material, dan sebagainya.

Selain itu arsitektur yang dibuat untuk menjadi iconic sering memiliki kekurangan akibat perhatian arsitek yang terlalu bertujuan memaksimalkan ‘imagery’ yang ditampilkan oleh fasade bangunan. Ruko, mall, restoran, dan sebagainya dibuat dengan arsitektur yang semenarik mungkin agar menjadi icon suatu kawasan, tapi arsiteknya sering melupakan banyak faktor lain, diantaranya adalah tanggung jawab sosial dan lingkungan. Begitu pentingnya untuk mengolah fasade agar menarik, misalnya, bisa membuat banyak hal yang terkait arsitektur lainnya menjadi terbengkalai.

ENGLISH VERSION:


An architectural icon of a region, becomes a way to reveal the existence of a building that gives color, influence, and interests in a region. For example: Monas monument is the Icon of Jakarta. Statue of Sura (shark) and Baya (crocodile) is the Icon of Surabaya. Burj Dubai is an icon of Dubai. Icon is a symbol of something important in giving the identity of a region, city, even a country. Very often people who take a walk or vacation to a place or a particular city will visit the building, place, or area that became icons of a city, perhaps to mark a visit to make it more meaningful, ‘that I’ve been to the city’.




Design an iconic building, by astudio architect.




Icon often contain important role as a marker of a region, for example: “When you pass through the building with a round shape, then you’ve arrived at the city”. This means that round-shaped building will provide a clear marker of a town. Icon can be said to give a specific meaning in connection with the interpretation of visual perception received by the observer. In relation to semiotics and symbol, icon is a unit of meaning that must be interpreted, for example, to understand that the Monas is the Icon of Jakarta, we must understand the process to see the monument has a meaning that could be interpreted that the monument shaped like that, and only in Jakarta.


Sometimes, an Icon can be so strong, then a building or architecture could be a symbol of place, regions, cities and even countries. Monas, or Suramadu, is a symbol of Jakarta and Surabaya, every time we see the ‘images’ of the building, it can be associated as ‘Jakarta’, or ‘Surabaya’. For example, in a map, the image of Monas became a symbol of Jakarta, and Suramadu, became the symbol of Surabaya.


Architecture is able and allowed to be made into an icon, even so, every icon will give the effect or role in certain areas as markers that are limited in accordance with the degree of influence of the building. Every person who ‘knows’ about the statue of ‘Sura’ and ‘Baya’ as an icon of ‘Wonokromo’ or ‘Surabaya’ will have that meaning every time he saw the formation or imagery of the sculpture ‘sura and baya’ to be associated with Wonokromo region or city of Surabaya in general . Architecture is very powerful as an icon, can be a marker for a region, and many examples can be found in the sense of architecture as a ‘building’ rather than a sculpture or statue.


Many architects love the opportunity to get a design project that can become an Icon even symbols of a region, for example: designing buildings of high value for the environment. Designing a building with a high degree of influence that could enhance the influence of the architect in society, meaning the architect’s ego is also affected in this condition. The role of the architect becomes very important when he has to design a building that would become icons of a region.


How important a building became an icon?
This is the answer to why the architecture of malls are always or mostly designed with bright colors, interesting, unique, and offer something different from their surroundings. This can be understood as a way to make the Mall as a place marker, namely the environment around the mall. From the ‘something different’ is any person (observer) who see and understand these differences can make certain associations related to the acquisition of imagery.


“You know, the mall that is shaped tilted boxes”


The sentence above can be associated as the ‘Mall EX’ at Roundabout HI Jakarta, or could be a new mall that collapsed in a city, depending on the associated observer :) The architect can design a building into an icon that is known. Problems arising from architectural ‘iconic’ architecture is the impact of ‘iconic’ itself.


The desire to have an iconic building is very tempting for the owners of the building primarily for commercial building types, why is the existence of buildings that could become the icon that could boost the commercial side. On the commercial side of the road, we always find a variety of commercial buildings competing to create an iconic building, so that commercial street full of buildings with different designs and different types of buildings to achieve that goal. Because each building is designed to be different then the street will be fulled by a variety of architecture, which could be inclined chaos, with no special regulations such as building height, border, KDB and outbreaks, theme or style of architecture used, material, and so forth.


Architecture designed to be iconic often have a shortage due to the attention of architects who too aim to maximize the ‘imagery’ that is displayed by the facade of the building. Commercial, shopping malls, restaurants, etc. are made with architecture as attractive as possible in order to become a regional icon, but architects often forget the many other factors, such as social and environmental responsibility. Once the importance to treat the facade in order to attract, for example, can make a lot of things related to other architectural become dormant.

________________________________________________

Picture credit (from top to bottom):
- from http://www.opus-dubai.com
- by AyAres151 on Flickr
- by kersy83 on Flickr.com

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Rumah Kampung Palembang / Kampong houses in Palembang

astudioarchitect.com Dari perjalanan Nasrul Amin di Palembang, Sumatera Selatan. Pada umumnya, rumah adat di Indonesia adalah rumah panggung. Yang kemudian tradisi tersebut masih terus dilakukan pada rumah tinggal yang berada diperkampungan. Dengan bahan yang sederhana yaitu kayu, rumah itu didirikan. Begitupun dari pengamatan rumah-rumah di Palembang, sebagian besar rumah disana adalah rumah panggung dan terbuat dari kayu. Kondisi tanah yang basah (rawa) maka desain rumah panggung merupakan suatu pemecahan yang tepat. Atau karena kondisi suhu lingkungan yang panas, bisa jadi desain rumah panggung memberi penghawaan ruang yang baik. Dan biasanya rumah-rumah tersebut memiliki bentuk dan desain yang sama.

Mostly, traditional houses in Indonesia are ‘stage houses’ (houses that are raised above ground level). The tradition kept to be used in dwellings in kampongs (the calling for group of houses). With simple material like woods, the house stood. And that what we saw in Palembang, mostly the houses are stage houses and made of woods. The condition of wetland made the people need a good solution. Or because of the hot climate, the stage houses give good airflow inside the rooms. Usually the houses have certain kind of shape and designs.

Area bawah dari rumah tersebut juga difungsikan oleh pemakainya, sebagai tempat penyimpanan, kandang dan lain sebagainya sesuai dengan aktivitas pemakainya. Dulunya area ini adalah area terbuka, namun saat ini sebagian besar rumah disana telah menjadikan area ini tertutup,dijadikan sebagai tempat usaha, ruang lain untuk ditinggali dan sebagainya. Kondisi lingkungan, kebutuhan, kemajuan zaman merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan bentuk dari rumah-rumah tersebut. Sulitnya bahan baku kayu, yang menjadikannya mahal. Kebutuhan dari pemakai yang semakin meningkat. Dan perkembang zaman yang mempengaruhi pola pikir manusia. Pemakaian bahan bangunan selain kayu seperti beton, kaca, besi dan sebagainya sudah banyak dilakukan disana. Perubahan-perubahan tersebut terus terjadi, yang pada akhirnya akan menghilangkan identitas permukiman tersebut dan juga identitas karya arsitekturnya. Terlepas dari benar dan salah, inilah fakta yang terjadi. 
Suasana ruang dalam dalam sebuah rumah yang menggunakan material kayu untuk bahan dinding dan konstruksi rumah panggung. Perhatikan bahwa ruangan tidak dilengkapi dengan berbagai furniture berat, namun hanya alas seadanya untuk meminimalkan beban hidup bangunan.

interior. The situation inside a house which uses wood material for the wall and the construction of the ‘stage house’. Notice that the room is not completed with heavy furniture, but a simple mat to minimize the live load of the building.

The wetland area of the house could also have a function, as a storey, animal storey and other function according to the user. Usually the area was opened area, but now these lower part of the houses are closed, made to be store, other room to live, or other purposes. The condition of the environment, the need and the changes of mindset are factors to influence the shape and functional transformations of the houses. The lack of timber, made it more expensive. The possible way is to use other material instead of wood, like concrete, glasses, iron and other. These changes are kept going on, that finally may loosen the local architectural identity. This is fact going on.

new monument.
masjid akulturasi arsitektur barat, cina, lokal (Sumatra), yang berpadu harmonis. 

________________________________________________
Written and photography:
by Nasrul Amin
© Copyright 2008 Nasrul Amin.
All rights reserved.

experi[mental] – architecture experiment by Probo Hindarto, astudio

astudioarchitect.com experi[mental] is one activity in astudio to sharpen design intuition by doing small experiments with various materials, tools, miniature, etc. The album and the slideshow will continue to be updated with the latest experiment by astudio. All experiments carried out and spearheaded by Probo Hindarto. Come back to visit the exhibition of experiments on this flickr album later to see the latest serial of experi[mental].

experi[mental] adalah salah satu aktivitas di astudio untuk mempertajam intuisi desain dengan melakukan eksperimen desain dengan berbagai material, alat, miniatur, dan sebagainya. Album dan slideshow ini akan terus diupdate dengan experimen terbaru astudio. Semua experimen dilakukan dan dimotori oleh Probo Hindarto. Datanglah kembali mengunjungi pameran experimen pada halaman ini nanti untuk melihat serial experi[mental] terbaru astudio.

________________________________________________

 by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Candi Singosari / Singhasari (Temple)

astudioarchitect.com Sisa-sisa peninggalan ini berasal dari kerajaan Singhasari di masa lalu. Konstruksinya dibuat dari struktur lapisan batu. Menghadap kearah barat, bagian-bagian candi antara lain:
  • Bagian terbawah, dikenal sebagai ‘batur’, berbentuk kotak
  • Bagian “Kaki” dari candi, tempat arca-arca diletakkan
  • Bagian ‘tubuh’ dari candi yang langsing dengan empat lubang ditiap sisinya
  • atap atau bagian atas dari candi yang menjulang dan mengecil di bagian atas
  • Berdasarkan dogma Hindu, candi adalah replika candi Himalaya di India, dimana keempat puncaknya disebut “Gaurisangkar” dan dipercaya sebagai tempat tinggal para dewa, juga dikenal sebagai Meru.

The remains was made of layered stone structures heading to west. Parts of the Candi (temple) are;
lowest level called ‘batur’ box shaped
‘the foot’ of the Candi and the place for the arcas (statues)
‘the body’ of the Candi in slim shape with four holes on each side
roof or the top of Candi that rises and becoming smaller to the top
According to the Hindu dogma, Candi is a replica of mount Himalaya in India, where there are four tops called ‘Gaurisangkar’ and believed to be the residence of the Gods, also known as Meru.


Denah candi berdasarkan gambar H.L. Leydie Melville. Denahnya berbentuk segi empat. Sebuah ruang ditengah berfungsi sebagai ruang utama, sedangkan ruang lainnya disetiap sisinya merupakan tempat diletakkan patung dewa.

Plan of the temple / candi, according to H.L. Leydie Melville. The plan is four edged. One room is in the middle and serve as the main room, while the other rooms on each side are place for statues of Gods.

Bagian depan dari candi Singhasari yang menghadap barat.

The front facade of Candi Singosari that is heading westward.

Lebih dekat kepada tampak depan.

The closer look at the front facade.

 

Pintu utama menuju ruang utama.

The main doorway to the main room.

Salah satu sisi pemandangan menakjubkan dari Candi Singhasari.

One of the great look of Candi Singosari.

Kepala Kala, penjaga pintu utama.

The head of KALA, the guardian of the entrance of the main room.

Melihat dari dalam ruang utama ke taman.

View from the main room to the yard.

Penanda “restauratie’ atau pemugaran tertanggal 1937.

The mark ‘Restauratie’ or restoration dated 1937.

Salah satu sisi level ‘batur’ atau lapisan terbawah candi.

One of the edge at the ‘batur’ level or the lowest level of the temple.

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

Dampak Dokumen Digital terhadap Budaya Tulis/ Impact of digital documentation on Written Culture

Digital vs Analogastudioarchitect.com Budaya menggambar dengan meja gambar layaknya arsitek jaman dahulu semakin ditinggalkan, dan digantikan dengan alat-alat baru yaitu komputer dan sarana digital. Para arsitek tidak lagi memegang gambar kerja, tetapi dokumen digital yang dianggap instan dan memudahkan, karena itu transfer pengetahuan tidak lagi berdasarkan transfer analog tetapi digital, yang menempatkan arsitek dalam mentalitas tertentu.

Drawing culture like architects in the old times on drawing tables is being abandoned, and replaced with new tools of computers and digital tools. The architects are no longer holding the hand drawings, but the digital documents that are considered instant and easy, because it is no longer based on analogue knowledge transfer but digital transfer, which places the architect in a certain mentality.

Mentalitas itu adalah apresiasi terhadap gambar kerja maupun sketsa yang semakin hilang dari peredaran, dan menyebabkan sentuhan seni dalam arsitektur juga semakin hilang, tanpa sentuhan seni tangan ahli, arsitektur menjadi rekayasa komputer dalam imajinasi 3D, bukan lagi seni merancang berdasarkan imajinasi 2D dengan sentuhan kemanusiaan yang kental. Dokumen tidak lagi disimpan dalam bentuk file kertas yang memiliki nilai karena makna, keberadaan, maupun usianya, seperti dokumen berharga lainnya. Dokumen menjadi turun nilainya karena dapat digandakan dengan mudah, serta dapat dicopy paste melalui karakter fabrikasi yang sama.

Bentuk-bentuk yang cenderung cepat dan mendukung industrialisme juga dikembangkan seperti bentuk kotak-kotak, minimalis, modern, dan fabrikasi. Memang keduanya tampak sangat serasi mengingat dengan ‘push pull bar’ atau ‘extrude’, seorang arsitek bisa membuat simulasi cepat bentukan yang cenderung kaku, tetapi ritmis, mirip karakteristik fabrikasi.

Kekuatan karakter pribadi seorang arsitek yang juga seniman, misalnya detail kolom, detail ukiran, bahan-bahan non fabrikasi seperti tegel lama atau bata ekspos seakan dengan mudah digantikan oleh dinding putih mulus, sofa, jendela copy-paste, elemen-elemen yang siap digunakan tanpa harus merekayasa dahulu dalam pikiran (imajinasi).

The mentality of working drawings and sketches appreciation which is progressively disappearing, and cause touch of art in architecture to be also progressively lost, without a touch of artist expert, architecture becomes 3D computer engineering in the imagination, not based on imagination on 2D art design with a strong touch of humanity. Documents are no longer stored in the form of paper files that have value because of the meaning, presence, and its age, like other valuable documents. Documents are decreased in value because they can be duplicated easily, and can be copied and pasted the character of the same fabrication.

The forms which tend to be quickly built and support this phenomena are also developed as forms of industrialism boxes, minimalist, modern, and fabrication. Indeed the two seemed very harmonious remembering with the ‘push-pull bar’ or ‘extrude’, an architect can make rapid simulations that tend to form stiff, but rhythmically, like a fabrication characteristics.

Dampak utama dari sistem berpikir dan mendesain yang ‘terfabrikasi’ ini, adalah menghilangnya potensi dari sentuhan personal dan sentuhan material non fabrikasi karena model penggambaran dan desain yang juga terfabrikasikan. Karakter unik dari arsitektur vernakular atau arsitektur yang didapat dari ‘tacid knowledge’ semakin menghilang, akibatnya gap antara arsitektur vernakular dan modern akan semakin tinggi, memaksa para tukang dari kalangan ‘tacid knowledge’ tertatih-tatih berusaha memahami sistem fabrikasi. Misalnya, keterampilan pertukangan kayu semakin menghilang karena semakin banyak material fabrikasi pengganti kayu seperti alumunium dan beton.

The strength of personal character of an architect who is also an artist, for example detail columns, detailed carvings, non-fabricated materials such as exposed brick tiles as long or be easily replaced by a smooth white wall, sofa, windows by copy-paste, the elements that are ready for use without imagination first in the mind.

The main impact of this thinking systems and designing which is also ‘fabricated’ is the potential of disappearance of personal touch and the touch of non-fabricated material for drawing and designing. The unique character of vernacular architecture or architecture that is obtained from ‘tacid knowledge’ increasingly disappearing, as a result of the gap between vernacular and modern architecture will be higher, forcing the builders of the ‘tacid knowledge’ hobbled attempts to understand the system of fabrication. For example, carpentry skills increasingly disappearing as more and more wood substitute materials such as fabricated aluminum and concrete.

Diskusi:
Artikel tersebut dimasukkan dalam mailing list AMI (Arsitek Muda Indonesia) dan terdapat diskusi dari beberapa anggota mailing list sebagai berikut:

Pendapat Setyo Eko:
Kalau menurut saya setiap jaman punya tantangan dan solusinya sendiri. Kita
tidak bisa menutup mata terhadap teknologi. Karena jika kembali ke naturenya
sebuah teknologi hanyalah sebuah alat untuk memudahkan manusia menyelesaikan
pekerjaannya. Tak terkecuali arsitek

Yang kedua adalah efisiensi kerja. Mungkinkan sebuah tower memiliki 10000 jenis
jendela yang tidak sama. Berapa lama waktu konstruksi yang di butuhkan dan
berapa dana yang akan dihabiskan. Lagi2 ini adalah masalah efisiensi. Di
arsitektur vernakular pun tidak mungkin kita menemukan 10 jenis aechitrave yang
berbeda jenis. Dalam sebuah bangunan. Inilah standarisasi. Walaupun setiap
design memiliki standar yang berbeda2. saya pikir juga banyak teman2 disibi yang
tidak akan terjebak kepada copy n paste belaka.

Soal kecenderungan membawa dokumen digital. Ya karena lagi2 lebih praktis aja.
Saya yang bekerja dengan partner 2 yang online di jkt. Jogja, makassar, menado,
medan merasa lebih dimudahkan dalam koordinasi. Tinggal share file di YM. Email.
BB dsb whichever available.

Salam
SE
—————————————————-

Pendapat Rafael Arsono:

Representasi gambar-dokumentasi digital-material fabrikasi

Gambar tangan memang terlihat personal dan mengakar, tp yg dicari kan bukan
menggambar manual dengan meja gambar supaya sekedar terlihat bagus. Buat saya yg
perlu dikhawatirkan adalah derasnya image rendering yang tersedia di internet
dan kecepatan menghasilkan image arsitektur oleh komputer membuat kita hanya
melihat rendering hanya sebagai sebuah gambar hasil akhir arsitektur, bukan
sebuah representasi dari arsitekturnya. Rendering sbg representasi arsitektur
adalah menunjukkan pilihan terbaik yg dipertimbangkan berdasarkan arah
arsitekturnya. Render maksut saya disini touch up gambar, termasuk kolase,
sketsa cat warna Holl, sampai sketsa hitam-putih frank ching, bahkan video,
MVRDV merasa ide2 utopianya lebih pragmatis dijelaskan dg video, dan mereka
bikinnya bagus, bayar artis untuk seriusan bikin, dll.

Koolhaas sudah ngomong tentang ini 10 tahun lalu,
http://www.pritzkerprize.com/laureates/2000/ceremony_speech1.html
“…After four thousand years of failure, Photoshop and the computer create
utopias instantly.”

bgmnpun jg, komputer jg bs membantu representasi arsitektur scr personal dan
berkarakter jg. sprti ‘angle’ aneh ala Zaha Hadid (lihat karya2 awalnya, the
peak, kufurstendam, dll). Gambar rendering komputer Tadao Ando tidak jauh beda
dari sketsa berskala yang biasanya menunjukkan potongan perspektif (srg di
majalah GA), karena cara ini terbaik untuk menunjukkan kestabilan, keteraturan
dan presisi ruangnya. Terlepas dari kita suka atau enggak, pilihan rendering
tersebut telah menghasilkan sebuag karya yg indah bgt – lebih dr sekedar gambar.

Render ‘aneh’ yg indah lainnya ada juga di Superstudio, bagaimana man-made
‘menginvasi’ alam. dan banyak gambar top lainnya disini
http://butdoesitfloat.com/index/filter/architecture

Tidak ada yang salah dengan digital archiving, menurut pendapat saya, ke
depannya makin lebih banyak lagi institusi formal akan merger sm arsitek untuk
pendokumentasian digital (semacam internet library). coba liat archigram
archival project, luar biasa bgmn data mereka bisa diakses orang di seluruh
dunia. http://archigram.westminster.ac.uk/
I’d love to see this kind on Romo Mangun, Silaban, etc….

rendahnya budaya tulis terhadap literatur arsitektur jg membuat kt (dan generasi
arsitek di masa depan) menengok informasi arsitektur via internet yg
kredibilitasnya diragukan. Tp saya nggak mau masuk terlalu dalam kesitu, mari kt
terus nulis yg benar ttg apa dan siapa saja (saya jg sdg melakukannya). Saya
banyak lihat tulisan2 ttg kota dan arsitektur jaman baheula ditulis sm anak2
muda yg skrg menjelma arsitek2 bagus, dan tulisan2 itu berguna bwt generasi2 yg
lbh muda utk mengetahui ttg objek tulisan maupun si penulis.

Material fabrikasi ada untuk mendukung budaya bangun dan cara pandang arsitektur
tertentu. Mungkin perlu lihat contoh yang lebih tepat untuk ‘kontemplasi
arsitektur’, dalam hal material fabrikasi, bisa liat dari master builder yg
ekspresionis macam Piano, Rogers,…atau, yang cenderung ‘diam’ seperti
Chipperfield, SANAA.

Namun, kembali ke representasi image, perlu disadari ketika browsing, bahwa ada
‘gap’ budaya bangun di lokasi gambar yg sdg kt liat di internet (sprti contoh
arsitek2 di atas), yang tidak kt ketahui melalui gambar tersebut. trgntung
lokasi, dan waktu jg, cara bangun jaman dulu dg skrg tntunya berbeda. Kotak atau
‘blob’ terjadi krn proses dan pilihan yg seringnya terlewatkan dr ‘browsing’ kt
td (bnyk jg media yg tdk memaparkan hal ini dg jelas dan tuntas). Jadi
‘kontemplasi’ td perlu dilakukan, mksutnya perlu sortir website/majalah apa yg
kt liat dan jgn diserap mentah2 gt, apalagi di tengah derasnya image2 td lewat
internet dan media lainnya.

salam hangat,
Rafael Arsono

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

Keheninganmu, Candi Trowulan (Your Silence, Trowulan temple)

astudioarchitect.com Puisi oleh Probo Hindarto

Aku duduk dalam keheningan suasana hening yang syahdu
diantara sosokmu yang sederhana, tidak mengada-ada.
Kau jujur, kau mengatakan padaku tentang jernihnya air,
memandang kedalamnya seolah aku tertarik
dalam nuansa yang hitam, menyejukkan.

I was sitting in a deep and breezing ambiance
in front of your simple appearance, not to show off.
You are honest, you tell me about the pureness of the water,
seeing inside it made me drowned
in the black nuance, refreshing.

Kini aku tahu apa yang kau maksud dengan gemerisik dedaunan.
Aku tahu yang kau maksud dengan manunggal dengan alam.
Aku melihatmu disana, tidak Menyolok, tapi kau tampak agung.
Kau bersahaja, tapi engkau bermakna.
Kau jauh dari hingar bingar, tapi kau… keren abis!
Aku bisa duduk disini, memandangmu seharian.
Kau disini, riakmu menghanyutkanku.
Aku terbawa.

Aku tahu bahkan engkau sangat lembut.
Kau bahkan tidak menghendaki mereka menyesuaikan
keadaan dirimu. Kaulah yang mengerti diri.
Kau tak pernah merusak ciptaan Tuhan yang lain.
lihatlah bagaimana kau bersahaja,
dengan memandang kesekelilingmu,
kau membuatnya sangat berkesan.

“Now I know what you meant by the breeze of the leaves.
I know what you meant by becoming one with nature.
I see you there, not showing off, but you look wonderful.
You are simple, but you are meaningful.
You’re far from crowds, but you are… cool!”
I could just sit here, watching you all day.
You are here, your ripples drown me.
I was carried …

Jadi diantara gemerisik dedaunan, kau berbisik,
dengan suara airmu seirama dengan aliran angin.
Kau menunduk, tapi kau sangat menarik.
Banyak orang datang, untuk mendapati dirimu,
tenang disini, seakan memahami setiap orang.
Tahukah kau, kau telah menghubungkanku dengan alam,
kau telah menghubungkanku dengan gemerisik dedaunan,
kau telah membuatku bercermin,
adakalanya, kau melepaskan penatku.

Aku tak mengerti, kenapa ada orang menganggapmu kampungan,
padahal kau sangat indah.
Padahal kau adalah penghubung alam semesta.
Padahal dengan hanya memandangmu saja,
aku bisa menjadi tenteram …
Aku selalu menanti saat-saat bisa memandangmu lagi.
Agar aku bisa merasakan perasaan ini lagi ….

(puisi bebas ini dikarang 17 April 2004. didunia ini selalu terdapat sesuatu yang terdiri dari dua hal yang berpasangan. Apakah kompleksitas itu buruk. Saya tidak mengatakan demikian. Kompleksitas diperlukan untuk hal-hal tertentu. Tapi, sesuatu yang sederhana dapat lebih menarik perhatian orang daripada sesuatu yang kompleks.)

I know that you are so soft.
You don’t even want them to adapt to you.
You know yourself. You never ruin any other God’s creature.
Look at how simple you are, by seeing your surrounding,
you made it very impressive.
So between the breeze of the leaves, you are whispering,
with your water sound that rhyme the wind breeze.
You look down, but you are very attractive.
Many people came here, to see you, right here,
like understanding every person.
Don’t you know, you have connected me to nature,
you have connected me to the breeze of the leaves,
you made me look at the mirror,
sometimes, you let go of my grieves.

I don’t understand, why there are people see you
old fashioned, while you are so beautiful.
While you are the connector to the universe.
I just wait to see you again.
So I could feel this feeling again.
________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

Obyek arsitektur makam Bung Karno, Blitar / Tomb of Bung Karno

astudioarchitect.com Kompleks makam Bung Karno di Blitar telah menjadi icon di kota kecil tersebut, berdasarkan pengamatan saya. Hal ini karena bangunan ini adalah salah satu landmark termodern dari sisi arsitektur yang dibuat dengan pendekatan a’la modern kota besar, yang dibuat di kota kecil. Keberadaannya seakan menjadi pembuka lembaran arsitektur modern di kota tersebut. Secara politis memiliki makna kuat dihubungkan dengan sejarah Proklamator negeri Indonesia. Artikel ini dibuat berdasarkan apa yang saya tulis pada tahun 2007, diangkat kembali karena posting lamanya banyak foto hilang :)

Bung Karno’s grave complex in Blitar has become the icon in the town, based on my observations. This is because this building is one of the most modern architectural landmarks created with a modern approach a’la big city, built on a small town. Its existence was as a welcome piece of modern architecture in the city. Politically has a strong sense of history associated with the Indonesian independence Proclaimers. This article is based on what I wrote in 2007, was reappointed for his old post because lots of photos missing:)

April 2007

Kompleks makam Bung Karno sebelumnya merupakan satu kompleks dengan arsitektur khas Jawa yaitu bangunan joglo. Sejak 2004 telah ditambahkan bangunan baru yang menjadi satu kompleks dengan makam Bung Karno tersebut. Tim arsitek bangunan baru diketuai oleh Pak Pribadi Widodo dan Pak Baskoro Tedjo dari ITB. Sejak kami memasuki area makam ini, sebuah bangunan disamping makam menarik perhatian kami.

April 2007


Bung Karno’s grave complex was previously a single complex with unique architecture that is Javanese joglo. Since 2004 has added new buildings into a complex with the Bung Karno’s grave. The team is headed by the architects of new buildings and Pak Pak Widodo Personal Baskoro Tedjo from ITB. Since we are entering the tomb, a building beside the tomb of our attention.


Gerbang/ gate


Saya waktu itu membuat sebuah sketsa anatomi kawasan yang didasarkan pada apa yang terlintas di benak saya waktu itu. Secara tidak langsung diagram diatas mewakili apa yang saya lihat dan rasakan, meskipun mungkin tidak seperti yang diinginkan oleh perancang bangunannya sendiri.

I then made a sketch of the anatomy of the region based on what occurred to me that time. Indirectly, the above diagram to represent what I see and feel, though perhaps not as desired by the designer of the building itself.

Gerbang kompleks lama, yang berbentuk seperti candi dengan ukuran besar. Tampaknya terdapat keinginan menarik masa lalu ke masa sekarang yang dimulai dari kompleks lama ini, dalam bentuk yang sangat mirip (atau dimiripkan) dengan bangunan candi masa lalu, demikian pula dengan bahan bangunannya menggunakan batuan. Sistem konstruksi massa, namun kami ingin mengetahui apakah bagian dalam bangunan ini diisi dengan sistem konstruksi beton, tampaknya demikian.

Gate of the old complex, which is shaped like a temple with a large size. Apparently there is a desire interesting past to the present starting from the complex recently, in a form very similar with the temple of the past, so it is with building materials using a rock. System of mass construction, but I wanted to know whether the inside of the building was filled with concrete construction system, it seems that way.



Bangunan yang memayungi makam Bung Karno. Bentuknya pendopo memayungi makam. Bangunan joglo lebih kekinian daripada bangunan candi.

The building that covers the tomb of Bung Karno. The shape of ‘pendopo’ (traditional Javanese terrace house) covers the tomb. The Joglo form is more recent than the ‘candi’ form.

Space penghubung antara kompleks lama dengan bangunan baru, bersifat menghubungkan, menyegarkan.


The space that connect the old and the new building is conjucting, refreshing.




‘Bangunan modern dari kompleks baru. Kaidah desain fungsional dengan memasukkan unsur tradisi masa lalu dalam pemakaian batuan untuk dinding luarnya’.

The modern building from the new complex. The functional ideas put in the past traditional ideas with the use of stones for the outer wall.

PHOTOS by Yogi Diwangkoro:

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

Arsitektur tropis bangunan tinggi Ken Yeang / High Rise tropical Architecture of Ken Yeang

[artikel khusus] astudioarchitect.com Arsitektur yang memperhatikan lingkungan merupakan arsitektur masa depan, karena dalam arsitektur jenis ini akan didapatkan penyelesaian yang baik untuk menanggapi iklim tanpa menggunakan lebih banyak resource sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui seperti minyak bumi untuk mempertahankan kondisi ideal bangunan, misalnya suhu, kelembaban, serta pencahayaan dan penghawaan. Kali ini kita akan mempelajari arsitektur tropis untuk bangunan tingkat tinggi yang dikembangkan oleh arsitek Ken Yeang, seorang arsitek kelahiran Malaysia yang belajar di Inggris dan Amerika. Belum banyak arsitektur high rise yang memperhatikan iklim tropis dan memberdayakannya dalam bangunan seperti Ken Yeang, dan karena itu jenis arsitektur ini menjadi unik untuk dipelajari.


Architecture that cares for the environment is the future of architecture, because architecture of this type will create good solution to respond to climate without using more non renewable resources such as oil to maintain the ideal condition of the building, such as temperature, humidity, and lighting. This time we will study tropical architecture for high rise building by Ken Yeang, a Malaysian-born architect who studied in England and America. Currently many high-rise architecture is concerned to respond to tropical climate and empower them in buildings such as Ken Yeang, and therefore this type of architecture unique to learn.

Sebagaimana jenis arsitektur yang berkembang pada akhir abad 20, Menara Mesiniaga dibuat dari konstruksi baja dan kaca yang prefabricated dan mempercepat masa konstruksi. Memperhatikan iklim tropis, Yeang menempatkan tangga dan lift pada bagian timur menara, dan ruang-ruang pada sisi barat yang dilindungi oleh kisi-kisi penahan panas. Tujuannya agar sinar matahari pagi cukup maksimal dan cahaya sore yang panas bisa ditahan oleh kisi-kisi tersebut.

Perhatian Yeang adalah pada hubungan antara lingkungan binaan (built environment) dengan lingkungan alam yang diwujudkan dalam adaptasi terhadap cahaya matahari dan angin melalui studi yang mendalam untuk mendapatkan bangunan tingkat tinggi dengan pencahayaan dan penghawaan alami. Aliran udara dimasukkan dalam bangunan melalui innercourt dan ‘dinding angin’ yang juga memasukkan cahaya alami.
Beberapa bagian bangunan yang berfungsi sebagai ‘buffer’ atau penahan untuk angin, sinar matahari dan sebagainya diwujudkan dalam kisi-kisi, tabir, balkon, atau buffer tanaman yang disarankan oleh Yeang dalam upaya beradaptasi dengan lingkungan tropis.



As a type of architecture developed in the late 20th century, Mesiniaga tower was made of steel and glass construction of prefabricated materials to accelerate the construction period. Taking into account the tropical climate, Yeang put stairs and elevators on the east side of the tower, and the spaces on the west side is protected by grille retaining heat. The purpose is to get morning sunlight.


Yeang’s attention is on the relationship between the built environment with the natural environment, realized in the adaptation to sun and wind through a deep study to obtain high-rise building with natural lighting and air. The flow of air through the building included in inner court and ‘wall of wind’ which also includes natural light.


Some parts of the building that serves as a buffer or barrier to wind, sunlight and so realized in the lattice, screen, balcony, or buffer of plants recommended by Yeang in an effort to adapt to the tropical environment. 

Konsep Ken Yeang tentang pencakar langit yang disebutnya ‘Artificial Land in the Sky’ merupakan konsep pencakar langit (high rise building) yang dapat ‘hidup’ dan beradaptasi dengan lingkungannya seperti halnya mahluk hidup. Struktur bangunan berfungsi sebagai bingkai dan lantai-lantainya dapat berfungsi berbeda beda, seperti menjadi taman bermain, mall, cafe atau yang lainnya. Konsep ini tak ubahnya seperti mendefinisikan lantai-lantai pencakar langit menjadi seperti sebuah lahan kosong yang bisa diisi berbagai fungsi seperti perumahan, taman, serta tempat-tempat komersial pada umumnya.
“Bangunan akan harus didesain bukan sebagai sistem terbuka berenergi tinggi yang polutan, tapi sebagai tiruan dari ekosistem urban yang berhubungan dengan imput, output dan operasi didalam konteks tersebut dan membawa kapasitas ekosistem dalam biosfer…”

Ken Yeang concept of skyscraper called ‘Artificial Land in the Sky’ is a skyscraper concept (high-rise building) that can be ‘alive’ and adapt to the environment as living beings. The structure serves as a frame building and the floors can vary different functions, such as a playground, mall, cafe or other. This concept is like defining the ground-floor skyscraper to be like an empty lot that can fill a variety of functions such as housing, parks, and commercial places in general.


“Buildings will need to be designed not as high-energy polluting open systems but as mimetic urban ecosystems that relate their inputs, outputs and operations within the context and carrying capacities of the ecosystems in the biosphere…”

Lingkungan binaan (built environment) akan berinteraksi dengan lingkungannya dalam hubungan yang lebih organik dan alami, serta mengurangi dampak dari arsitektur yang inorganik atau artifisial. Hal ini berarti, mendefinisikan kembali sistem-sistem dalam bangunan tinggi yang selama ini banyak menggunakan sistem buatan seperti penghawaan buatan (air conditioning/AC) menjadi penghawaan alami, melalui proses-proses yang biasa didapatkan dari alam secara langsung.
Hal ini bisa berarti membawa unsur tanaman hijau dalam lingkungan vertikal pencakar langit, yaitu memberikan rasio perbandingan antara ruang yang inorganik dan organik agar mencapai keseimbangan layaknya diatas tanah. Inilah yang disebut Ken Yeang sebagai “Artificial Land in the Sky”. Peniruan terhadap ekosistem ini bisa dianalogikan seperti sarang semut diatas tanah yang dalam skala semut berarti adalah sebuah pencakar langit. Analogi lainnya: seseorang yang memakai payung disaat hujan menerpa, yang merupakan perlindungan terhadap variasi perubahan iklim eksternal, disebutnya sebagai ‘cybernetic enclosural system’.

Picture source: http://www.garycolquhoun.com.au/barkly_tableland.htm

Built environment will interact with the natural environment in a more organic and natural relationship, and reduce the impact of the architecture of inorganic or artificial. This means redefining systems in high buildings including uses of artificial systems such as artificial air conditioning into natural air conditioning, through direct use of natural air.


This could mean bringing elements of green plants in a vertical environment skyscrapers, which gives a ratio between the inorganic and the organic in order to achieve a balance as above ground. This is what called by Ken Yeang as “Artificial Land in the Sky”. Impersonation of this ecosystem could be analogous to such as high ground nests of ants, which in the ant scale means is a skyscraper. Another analogy: a person with an umbrella in rain, which is a protection against variations of external climate change, called the ‘enclosural cybernetic system’.

(bersambung ke bagian 2/ to be continued at part 2)

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

What style are you?

stam - prada skirt[artikel khusus] astudioarchitect.com Gaya atau style, seperti gaya arsitektur modern, gaya arsitektur minimalis, gaya arsitektur klasik, seringkali kita dengar. Esensi dari ‘gaya’ yang dipahami saat ini seringkali dimaksudkan sebagai tampilan, atau cara, atau sesuatu yang memberikan kita image atau gambaran tentang seni, apakah itu arsitektur atau seni lainnya. Artikel ini saya buat untuk memikirkan kembali makna ‘gaya’ dan ‘modern’. Meskipun keduanya tidak secara langsung berhubungan, tapi ‘modern’ seringkali disebut sebagai ‘gaya’, meskipun sebenarnya lebih berkaitan dengan metode dan pola pikir mendesain. Apa yang terpikir disini juga bukan sebuah jawaban atas apakah kita butuh ‘bergaya’ atau tidak.

Gaya modern, terdiri dari dua kata yang melambangkan makna berbeda, dalam kata majemuk ini, modern merupakan keterangan terhadap gaya, seperti ‘klasik’ memberikan keterangan terhadap gaya dalam kata majemuk ‘gaya klasik’. Seseorang yang memiliki gaya atau style, disebut dengan kata sifat ‘stylish’ atau ‘bergaya’. Stylish adalah kata sifat yang diambil dari bahasa Inggris style. Style dapat diartikan sebagai berikut:

Quality that marks out something done or made as superior, fashionable or distinctive (kualitas yang menandai sesuatu dikerjakan atau dibuat sebagai superior, fashionable atau mudah dikenali)
Fashion in dress, etc (fashion dalam pakaian, dan sebagainya)
General appearance, form or design, kind or sort (tampilan secara umum, bentuk atau desain, macam)
(Hornby, 1974)

Arti dari kata tersebut memberi gambaran tentang kualitas rancangan yang sifatnya lebih dari biasanya, kadangkala dihubungkan dengan fashionable, atau modis. Meskipun demikian, gaya tidak selalu sesuai atau selaras dengan keinginan atau interpretasi pengamat. Misalnya: orang yang memakai ‘gaya punk’ dalam fashionnya, mungkin tidak terlalu appealing di mata mereka yang menyukai ‘gaya konvensional’ dalam berpakaian.

Ladies' Conversation
Ingatlah bahwa (kiri): ‘gaya’ tidak selalu terlihat sesuai, tapi digunakan karena disukai. Atau bisa juga (kanan): sebenarnya tidak ingin bergaya, tapi karena sudah ada gaya dalam apa yang fungsional, maka seperti itulah gayanya yang ‘irresistible’

stam - prada skirt
Gaya yang baik, terkadang dikatakan ‘baik’ karena sesuai masa dan tempatnya.

Demikian pula dalam arsitektur, ‘gaya modern’ mungkin bagus atau appealing bagi satu orang, tapi tidak bagi yang lain. ‘Gaya klasik’ mungkin disukai golongan tertentu, tapi tidak untuk golongan lainnya. Seperti musik, ada yang menyukai musik jazz, ada pula yang dangdut. Dalam konteks desain bangunan, rupanya hal ini juga berlaku.

Buka patchworks
Perbedaan pada masing-masing ‘gaya’ arsitektur, yang terkadang mencoba tampil paling ‘wah’ diantara yang lain, banyak dikritik oleh budayawan.

Gaya arsitektur, terlepas dari digunakan atau tidaknya, sebenarnya merupakan faktor tambahan dalam desain, yang seperti jenis baju atau busana yang dipakai. Semua orang memakai baju, tapi dengan gaya yang berbeda-beda. Arsitektur juga memiliki fungsi yang kurang lebih sama melalui proses programatik ruangnya, tapi gaya arsitekturnya dapat berbeda, sebagai finishingnya. Tapi faktor lain disamping gaya arsitektur, sebenarnya cukup banyak.

What style are you?
________________________________________________

by Probo Hindarto

ENGLISH VERSION: What style are you?

Style, like the style of modern architecture, minimalist architecture, classic architectural style, we often hear. The essence of ‘style’ is often understood to be intended as a displayed facade, or something that gives us imagery or picturesque of art, whether it’s architecture or other arts. I created this article to rethink the meaning of ‘style’ and ‘modern’. Although they are not directly related, but the ‘modern’ is often referred to as ‘style’. What occurred here is not an answer to whether we need a ‘style’ or not.

Modern style, consisting of two words that symbolize different meanings, modern in this compound word, is a description of the modern style, such as ‘classic’ provides information of the style in the compound word ‘classic style’. Someone who has a style, called with the adjective ‘stylish’. Style can be defined as follows:

Quality that marks out something done or made as superior, fashionable or Distinctive
Fashion in dress, etc (fashion in clothing, etc.)
General appearance, form or design, kind or sort
(Hornby, 1974)

The meaning of the word stylish is more than usual, sometimes associated with being fashionable. However, style is not always consistent or in harmony with the desire or the interpretation of the observer. For example: people who wear ‘punk’ fashion, probably not too appealing in the eyes of those who love ‘conventional style’ of fashion.

picture: Ladies’ Conversation

Remember that the (left): ‘style’ does not always look appropriate, but is used as preferred. Or it could be (right): really do not want to style, but because there is force in what is functional, then that’s his style which is ‘irresistible’

picture: Stam – prada skirt

Good style, sometimes said to be ‘good’ because it is in appropriate time and place.

Similarly, in architecture, ‘modern style’ may be good or appealing to one person, but not for others. ‘Classical style’ might be for a particular group, but not for other groups. Like music, some like music like jazz, some like dangdut. In the context of building design, this is apparently true.

picture: Open patchworks

Differences in each ‘style’ of architecture, which sometimes tries to appear to be the best among others, much criticized by humanists.

Style of architecture, regardless of whether or not used, is actually an additional factor in designing, which is like the kind of clothes. Everyone dressed, but with a different style. Architecture also has a function more or less the same through the process of programmatic spaces, but may be different architectural styles, as a finish. But other factors besides the architectural style, is actually quite a lot.

What style are you?

____________________________

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Arsitektur Eklektik – Esai Bagian 2

astudioarchitect.com Artikel untuk arsitek dan akademisi
Ornamentasi dari tradisi arsitektur sebuah wilayah di Indonesia (atau di daerah manapun juga) berakar kuat terhadap budaya dan cara hidup masyarakat di suatu tempat. Karena ornamentasi biasanya merupakan kumpulan simbol dari berbagai cara pandang dan kepercayaan adat dari sebuah masyarakat lokal. Ornamentasi dalam arsitektur tradisional, sebagaimana sistem kontruksi bangunan dan nilai-nilai yang termuat dalam arsitektur, merupakan akulturasi dari berbagai budaya arsitektur yang pernah berhubungan dengan masyarakat lokal.

Dalam sebuah esai saya tentang arsitektur Jawa Timur, saya mengetahui bahwa arsitektur tradisional Jawa Timur memiliki hubungan dengan arsitektur dari wilayah lain seperti Madura, pulau-pulau lain di Indonesia serta kebudayaan lain di belahan dunia, yang tidak pernah dibayangkan bahwa hubungan tersebut bisa terjadi di masa lampau. Arsitektur Jawa Timur bisa dihubungkan dengan arsitektur dari Jepang, Filipina, Mikronesia, bahkan dengan Amerika selatan.

Ornamentation in the architectural tradition of regions in Indonesia (or in any part of the world as well) is firmly rooted to the culture and way of life of citizens in a place. Because the ornamentation is usually a collection of symbols from various world views and beliefs of the indigenous local communities. Ornamentation in traditional architecture, as building construction system and the values embodied in architecture, is the acculturation of the various architectural culture contact with the local community.

In an essay I wrote about the architecture of East Java, I know that the traditional architecture of East Java has a relationship with the architecture of other areas such as Madura, other islands in Indonesia and other cultures around the world, most people will never imagined that such relationship could occur in the past. East Java architecture can be linked with the architecture of Japanese, the Philippines, Micronesia, and even with the South American.

 

Sebuah contoh ekstrim adalah adanya sebuah hubungan dari bentuk arsitektur candi Sukuh di Solo Jawa Tengah dengan bentuk arsitektur Piramid kebudayaan Maya arsitektur di Amerika selatan. Bentuk arsitektur candi yang tidak ditemukan di candi di Jawa, Nusantara dan Asia. Adalah menakjubkan bahwa jenis arsitektur tersebut hanya didapati di Amerika selatan. Hal ini merupakan suatu kemungkinan hubungan kuat dari Jawa dengan Amerika selatan di masa silam.
Arsitektur eklektik, kemudian apabila sebutan tersebut bisa mewakili fenomena arsitektur yang sudah terjadi di zaman lampau, kebanyakan diinterpretasikan sebagai pemilihan secara bebas dari berbagai unsur dalam suatu rancangan arsitektur.

An extreme example is the existence of a relationship of the architectural form of temple “Sukuh” in Solo in Central Java with the architecture of Mayan pyramids culture in the South American. Architectural form of the temple is not found in other temples in Java, Nusantara and Asia. It is amazing that this type of architecture is only found in south America. This is a strong possibility of relationship between Java and South America in the past.

Eclectic architecture, and if it can be represented as architectural phenomenon that has happened in the past, many interpret as an election, independently of various elements in architectural design. The existence of this method when used naively may reduce the value of architecture who produced it, in terms of cultural preservation of archipelago (Nusantara) architecture. How do we connect the European architecture that is used in homes with Indonesian architectur? A quick question that the answer is not simple, can be solved by using the term eclectic architecture as a temporary answer.

Keberadaan metode ini bila digunakan secara naif dapat menurunkan nilai dari arsitektur yang menghasilkannya, ditinjau dari sudut pelestarian kebudayaan arsitektur nusantara. Bagaimana kita menghubungkan arsitektur Eropa yang digunakan di rumah-rumah tinggal dengan arsitektur Indonesia? Sebuah pertanyaan singkat yang jawabannya tidak sederhana, bisa diselesaikan dengan menggunakan istilah arsitektur eklektik sebagai jawaban sementara.
Kebudayaan berornamentasi yang sudah ada sejak jaman dulu dalam arsitektur nusantara digabung dengan materialisme, hedonisme, dan keinginan untuk memperlihatkan kemampuan ekonomi dalam membangun, adalah fenomena yang berkaitan dengan kultural/sosio/ekonomi dan ditunjang oleh arsitektur eklektik sebagai metode untuk mewujudkan keinginan semunya.

Ornamented culture that existed from earlier times in the archipelago (Nusantara) architecture combined with materialism, hedonism, and the desire to show the economy’s ability to build, is a phenomenon related to cultural / social / economy and is supported by an eclectic architecture as a method to realize the quasi desires.

The fact that some parties use different types of architecture that had nothing to do with the traditional architecture of Indonesian architectural culture is an obvious example that tradition still plays an important role, namely as part of the ornamentation of traditional architecture, found its modern form through acculturation or adoption of other architectures such as ornamented architecture of European Classics and Mediterranean architecture.

Kesukaan berbagai pihak untu menggunakan berbagai jenis arsitektur yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan arsitektur tradisional negara kita adalah sebuah contoh nyata sebenarnya bahwa tradisi tetap memegang peranan penting, yaitu ornamentasi sebagai bagian dari arsitektur tradisional menemukan bentuk modernnya melalui akulturasi atau adopsi arsitektur berormentasi lainnya semisal arsitektur mediterania dan klasik.
Sebenarnya adalah suatu yang memungkinkan untuk menggunakan metode eklektik sebagai metode masyarakat yang lebih berwawasan tradisional yaitu apabila perancangan menerapkan arsitektur eklektik dengan menggabungkan unsur-unsur yang tidak jauh dari unsur tradisional arsitektur yang sudah ada. Arsitektur jenis ini dapat lebih diterima dalam konteks pelestarian tradisi. Eklektisme yang berasal dari budaya lokal dapat menjadi bentuk baru dari tradisi yang lebih kontemporer dengan cara menggabungkan berbagai unsur arsitektur tradisional dengan unsur arsitektur baru, yang dapat membawa arsitektur tradisional ke tingkat yang lebih tinggi yang dapat diterima di dunia modern.

Actually it is possible to use an eclectic method as the method that is more traditional-looking design, when implemented by combining eclectic architectural elements that are not far from the traditional elements of the existing architecture. This type of architecture may be more acceptable in the context of preservation of tradition. Eclecticism that comes from the local culture can become a new form of a more contemporary tradition by combining the various elements of traditional architecture with new architectural elements, which can bring the traditional architecture to a higher level that is acceptable in the modern world.

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.