Arsitektur Eklektik – Esai Bagian 2


astudioarchitect.com Artikel untuk arsitek dan akademisi
Ornamentasi dari tradisi arsitektur sebuah wilayah di Indonesia (atau di daerah manapun juga) berakar kuat terhadap budaya dan cara hidup masyarakat di suatu tempat. Karena ornamentasi biasanya merupakan kumpulan simbol dari berbagai cara pandang dan kepercayaan adat dari sebuah masyarakat lokal. Ornamentasi dalam arsitektur tradisional, sebagaimana sistem kontruksi bangunan dan nilai-nilai yang termuat dalam arsitektur, merupakan akulturasi dari berbagai budaya arsitektur yang pernah berhubungan dengan masyarakat lokal.

Dalam sebuah esai saya tentang arsitektur Jawa Timur, saya mengetahui bahwa arsitektur tradisional Jawa Timur memiliki hubungan dengan arsitektur dari wilayah lain seperti Madura, pulau-pulau lain di Indonesia serta kebudayaan lain di belahan dunia, yang tidak pernah dibayangkan bahwa hubungan tersebut bisa terjadi di masa lampau. Arsitektur Jawa Timur bisa dihubungkan dengan arsitektur dari Jepang, Filipina, Mikronesia, bahkan dengan Amerika selatan.

Ornamentation in the architectural tradition of regions in Indonesia (or in any part of the world as well) is firmly rooted to the culture and way of life of citizens in a place. Because the ornamentation is usually a collection of symbols from various world views and beliefs of the indigenous local communities. Ornamentation in traditional architecture, as building construction system and the values embodied in architecture, is the acculturation of the various architectural culture contact with the local community.

In an essay I wrote about the architecture of East Java, I know that the traditional architecture of East Java has a relationship with the architecture of other areas such as Madura, other islands in Indonesia and other cultures around the world, most people will never imagined that such relationship could occur in the past. East Java architecture can be linked with the architecture of Japanese, the Philippines, Micronesia, and even with the South American.

 
http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Sebuah contoh ekstrim adalah adanya sebuah hubungan dari bentuk arsitektur candi Sukuh di Solo Jawa Tengah dengan bentuk arsitektur Piramid kebudayaan Maya arsitektur di Amerika selatan. Bentuk arsitektur candi yang tidak ditemukan di candi di Jawa, Nusantara dan Asia. Adalah menakjubkan bahwa jenis arsitektur tersebut hanya didapati di Amerika selatan. Hal ini merupakan suatu kemungkinan hubungan kuat dari Jawa dengan Amerika selatan di masa silam.
Arsitektur eklektik, kemudian apabila sebutan tersebut bisa mewakili fenomena arsitektur yang sudah terjadi di zaman lampau, kebanyakan diinterpretasikan sebagai pemilihan secara bebas dari berbagai unsur dalam suatu rancangan arsitektur.

An extreme example is the existence of a relationship of the architectural form of temple “Sukuh” in Solo in Central Java with the architecture of Mayan pyramids culture in the South American. Architectural form of the temple is not found in other temples in Java, Nusantara and Asia. It is amazing that this type of architecture is only found in south America. This is a strong possibility of relationship between Java and South America in the past.

Eclectic architecture, and if it can be represented as architectural phenomenon that has happened in the past, many interpret as an election, independently of various elements in architectural design. The existence of this method when used naively may reduce the value of architecture who produced it, in terms of cultural preservation of archipelago (Nusantara) architecture. How do we connect the European architecture that is used in homes with Indonesian architectur? A quick question that the answer is not simple, can be solved by using the term eclectic architecture as a temporary answer.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Keberadaan metode ini bila digunakan secara naif dapat menurunkan nilai dari arsitektur yang menghasilkannya, ditinjau dari sudut pelestarian kebudayaan arsitektur nusantara. Bagaimana kita menghubungkan arsitektur Eropa yang digunakan di rumah-rumah tinggal dengan arsitektur Indonesia? Sebuah pertanyaan singkat yang jawabannya tidak sederhana, bisa diselesaikan dengan menggunakan istilah arsitektur eklektik sebagai jawaban sementara.
Kebudayaan berornamentasi yang sudah ada sejak jaman dulu dalam arsitektur nusantara digabung dengan materialisme, hedonisme, dan keinginan untuk memperlihatkan kemampuan ekonomi dalam membangun, adalah fenomena yang berkaitan dengan kultural/sosio/ekonomi dan ditunjang oleh arsitektur eklektik sebagai metode untuk mewujudkan keinginan semunya.

Ornamented culture that existed from earlier times in the archipelago (Nusantara) architecture combined with materialism, hedonism, and the desire to show the economy’s ability to build, is a phenomenon related to cultural / social / economy and is supported by an eclectic architecture as a method to realize the quasi desires.

The fact that some parties use different types of architecture that had nothing to do with the traditional architecture of Indonesian architectural culture is an obvious example that tradition still plays an important role, namely as part of the ornamentation of traditional architecture, found its modern form through acculturation or adoption of other architectures such as ornamented architecture of European Classics and Mediterranean architecture.

Kesukaan berbagai pihak untu menggunakan berbagai jenis arsitektur yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan arsitektur tradisional negara kita adalah sebuah contoh nyata sebenarnya bahwa tradisi tetap memegang peranan penting, yaitu ornamentasi sebagai bagian dari arsitektur tradisional menemukan bentuk modernnya melalui akulturasi atau adopsi arsitektur berormentasi lainnya semisal arsitektur mediterania dan klasik.
Sebenarnya adalah suatu yang memungkinkan untuk menggunakan metode eklektik sebagai metode masyarakat yang lebih berwawasan tradisional yaitu apabila perancangan menerapkan arsitektur eklektik dengan menggabungkan unsur-unsur yang tidak jauh dari unsur tradisional arsitektur yang sudah ada. Arsitektur jenis ini dapat lebih diterima dalam konteks pelestarian tradisi. Eklektisme yang berasal dari budaya lokal dapat menjadi bentuk baru dari tradisi yang lebih kontemporer dengan cara menggabungkan berbagai unsur arsitektur tradisional dengan unsur arsitektur baru, yang dapat membawa arsitektur tradisional ke tingkat yang lebih tinggi yang dapat diterima di dunia modern.

Actually it is possible to use an eclectic method as the method that is more traditional-looking design, when implemented by combining eclectic architectural elements that are not far from the traditional elements of the existing architecture. This type of architecture may be more acceptable in the context of preservation of tradition. Eclecticism that comes from the local culture can become a new form of a more contemporary tradition by combining the various elements of traditional architecture with new architectural elements, which can bring the traditional architecture to a higher level that is acceptable in the modern world.

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s