Belajar dari arsitektur kampung perkotaan (bagian 1)


[artikel khusus] astudioarchitect.com Artikel ini menjadi bahasan awal dari keinginan untuk belajar kembali sendi-sendi pemikiran arsitektur untuk mendapatkan makna. Sebagai ‘tukang desain’ banyak hal yang masih perlu dipelajari, dan tidak ada kata berhenti belajar untuk perancang, setidaknya untuk saya sendiri. Bagi banyak arsitek, untuk mempelajari “arsitektur kampung” adalah hal yang jarang atau bahkan tidak ingin dilakukan, mengingat tempat-tempat ini kondisinya “kurang layak”, terbatas ekonomi, lahan, serta dalam standar arsitektur sekarang, lebih baik digilas saja diganti yang baru.

Pengamatan yang dilakukan adalah pada daerah perkampungan padat disekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Alih alih melihat hanya yang besar, bagus, mahal, menurut saya akan lebih baik bila kita juga tahu sisi lain dari arsitektur. Tujuannya adalah melihat bagaimana sisi lain itu mempertahankan diri dan menggunakan resource sebaik-baiknya. Saya menyukai datang dan menikmati arsitektur yang terbatas dan penuh try and error, karena justru dari arsitektur seperti ini kita bisa melihat material, konstruksi, penggunaan ruang yang paling optimal dengan berbagai keterbatasan. Sebuah hukum logika terbalik: Daripada melihat rumah rumah bagus yang berusaha menggunakan resource sebanyak banyaknya…. sempatkan kita melihat rumah-rumah kecil dengan keterbatasan yang menggunakan resource terbatas. Misalnya: rumah-rumah di perkampungan padat dan lahan terbatas, menggunakan tembok, material terbatas, dan murah untuk membangun. Efisiensinya bisa kita pelajari untuk mengenal karakter bahan lebih jauh. Material adalah unsur utama arsitektur yang seakan menjadi partikel terkecilnya, agar bisa menjadi arsitektur yang lebih besar.

Melalui kepekaan pikiran, kita bisa melihat bagaimana arsitektur dibuat agar dapat bertahan dalam keterbatasan, materi dari bangunan muncul dengan lugas dan gamblang. Karakternya timbul seakan menjadi penguat jatidiri arsitekturnya. Ditambah dengan keinginan untuk melihat apa yang ada sebagai bagian dari hidup oleh pemiliknya. Nrimo ing pandum… sebuah filsafat Jawa yang berarti “menerima pemberian yang Kuasa”, saat menyadari bahwa keterbatasan tidak harus menjadi penghalang bagi kebanggaan berada atau memiliki sebuah rumah dan bangunan lainnya. Karena untuk memperlihatkan bahwa pemilik rumah bangga dengan rumahnya sendiri, ada juga cara sederhana, seperti menuliskan kata-kata “Happy Home” dikaca pintu rumah. Apakah yang membuat rumah bisa menjadi “Happy Home’ meskipun hanya sederhana saja…

Apakah sebuah rumah harus didesain dengan begitu megah agar pemiliknya bisa menuliskan “happy Home” didepan rumahnya? Ini tingkat kejujuran yang tinggi🙂 Sesuatu yang cukup itu sebenarnya sudah cukup bila dirasa cukup bukan? Arsitektur yang sederhana, saat dirasa cukup, akan menjadi cukup. Bahwa banyak orang masih belum punya rumah, jadi bila sudah punya rumah akan terasa nikmat. Bukankah ini impian seorang arsitek? Agar rumah-rumah atau bangunan dapat membantu pemiliknya merasa bahagia… Ini seperti berusaha memahami sebuah misteri🙂

Dari pengamatan sederhana yang dilakukan dalam mengunjungi daerah aliran sungai yang dimanfaatkan sebagai permukiman, saya melihat tiga hal:

  • Pertama, kenyataan bahwa banyak orang terpaksa menggunakan daerah aliran sungai sebagai tempat hidup yang tentunya tidak layak karena berbahaya saat hujan deras.
  • Kedua, kerusakan lingkungan yang terjadi akibat daerah aliran sungai yang dipakai permukiman karena tidak adanya penyerapan air dan erosi tanah terus menerus. Karena itu aturan pemerintah tidak memperbolehkan seseorang membangun di daerah aliran sungai (aturan yang sekedar aturan yang bisa dilanggar?)
  • Ketiga: kenyataan bahwa daerah aliran sungai justru menimbulkan jenis arsitektur rakyat / arsitektur kampung yang memiliki jenis estetikanya sendiri.

Saya mungkin akan menganggap bahwa apa yang ketiga, terlihat oleh saya adalah bagian terbaik dari fenomena daerah aliran sungai. Bukan karena saya sengaja setuju dengan menggunakan daerah aliran sungai untuk dipakai sebagai permukiman, tapi karena dalam kondisi tempat yang seperti ini saya masih melihat banyak estetika desain yang muncul karena kekhasan kondisi lahannya.


Daerah aliran sungai biasanya berkontur, terkadang sangat curam dan karena itu menjadikan rumah-rumah dibangun memiliki kontur atau mengikuti kontur. Terlebih saat pemilik rumah tidak mampu membuat pondasi yang baik, maka rumahnya terkadang masuk atau turun dibawah badan jalan. Terkadang rumah harus naik dengan tangga yang sangat curam dan karena itu menimbulkan nuansa ruang yang tidak sewajarnya diatur melalui standar standar baku arsitektur. Banyaknya arsitektur dan ruang yang ‘eksperimental’ ini menimbulkan pengetahuan arsitektur yang tidak bisa didapatkan dari buku.

Arsitektur kampung juga sering membuat kita menyadari bahwa pada kondisi tertentu, manusia dapat beradaptasi. Seperti misalnya, tangga tinggi naik yang tidak ada bordes, atau anak tangga setinggi 30 bahkan 40cm, membayangkan betapa susahnya bagi orang yang sudah tua untuk hidup di daerah seperti ini. Bahan material seadanya juga menjadi jenis arsitektur trial and error yang patut diperhatikan.

(bersambung…)
_______________________________________________

by Probo Hindarto

ENGLISH VERSION: Learning from Urban Vernacular Architecture

This article is an astudioarchitect.com initial discussion of the desire to learn again the joints of thoughts to find meaning in architecture. As ‘building desingers’ many things still need to be studied, and no word to stop studying for an architect, at least for my own. For many architects, to study the “architecture of the village” is a rare or even do not want to do, considering these places conditions “less eligible”, in limited economy, land, and the architectural standards. Now, most people think it’s better just replaced then with the new buildings.

Observations made are in the area surrounding the compact settlements around Watershed (DAS). Rather than seeing only the great, good, and expensive, in my opinion it would be better if we also know the other side of the architecture. The goal is to see how the other side to defend themselves and use the best resources. I like to come and enjoy a limited architecture and try and error architecture, just because from this kind of architecture we can see the materials, construction, and use the optimal space to various limitations. A law of inversed logic: Instead of seeing nice houses that try to use as much resources …. why don’t we see small houses with the limitations of using limited resources. For example: the houses in compact settlements and limited land, using the wall, the material that is limited, and cheap to build. Efficiency is the key to learn about the characters of material. Material is a key element of architecture that seems to be the smallest particles, in order to become a larger architecture.

Through the sensitivity of mind, we can see how this architecture for the poor is made in order to survive in the limited, material from the building appeared to direct and straightforward. Character arising as a booster identity of the architecture. Coupled with a desire to see what was there as part of life by their owners. “Nrimo ing pandum” … a philosophy in Java, which means “the power to accept gifts”, while realizing that the limitations should not be a barrier for the pride of being or having a house and other buildings. Because to show that home owners take pride in their own homes, there is also a simple way, like writing the words “Happy Home” on the glass door of the house. Does that make a house can be a “Happy Home ‘, although only simple …

Must a house be designed with so grand structure and material that the owner can write “Happy Home” in front of his house? This is a high level of honesty:) Something that is enough is enough when considered quite enough, yes? A simple architecture, when considered enough, would be enough. That many people still do not have a house, so when they got a simple house, they will feel good already. Is this not an architect’s dream? In order houses or buildings can help owners feel happy … It’s like trying to understand a mystery:)

From the simple observation made in the watershed visit that was used as a settlement, I saw three things:

    * First, the fact that many people were forced to use the watershed as a place to live is certainly not feasible because it is dangerous during heavy rains.
    * Second, the environmental damage caused by watershed used settlements in the absence of absorption of water and soil erosion continually. Therefore the government rules do not allow anyone to build in the watershed (rules just rules could be violated?)
    * Third: the fact that the watershed it was a cause of folk architecture / architecture of homes that have their own aesthetic.

I may think that what the third, seen by me is the best part of the watershed phenomenon. Not because I accidentally agreed to use the river basin to be used as a settlement, but because of conditions like this place I still see a lot design aesthetic that comes from the uniqueness condition of the land.

Watershed typically contoured, sometimes very steep and because it makes the houses have been built following the contours. Especially when the owner is not able to make a good foundation, the house sometimes stands below the level of the road. Sometimes homes have to be with very steep stairs and because it raises the nuances that are not naturally regulated through a standard architecture standards. The number of architecture and space creaded from ‘experimental’ knowledge of architecture was created, and it is not something that can be obtained from books.

Village architecture also often makes us realize that in certain circumstances, humans can adapt. Like for example, high-rise staircase with no landing, or ladder as high as 30 even 40cm, imagine how difficult it is for older people to live in such areas. Raw materials to be improvised, too. The type of architecture of trial and error which should be noted.

__________________________
By Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s