Masjid-masjid Raya – kontemplasi kumpulan foto


astudioarchitect.com (ditulis pada 29 Juni 2007)

red at the dawn prayer

leads to sunshine

entering the world in a new day

full of blessing

.

Masjid-masjid di Indonesia banyak memiliki tipologi bangunan yang khas. Masyarakat memahami arsitektur masjid kebanyakan sebagai bangunan berkubah, atau berjoglo dengan aturan-aturan tertentu yang berkembang di masyarakat. Kebanyakan memiliki pandangan bahwa sebuah masjid seharusnya berkubah, atau berjoglo. Meskipun sebenarnya arsitektur sebuah masjid didefinisikan melalui penataan ruang akibat adanya aktivitas sholat, image tentang sebuah masjid memang telah melekat dalam masyarakat dalam bantuk bangunan bertipe tertentu. Masjid banyak diorientasikan untuk mengemban vocabulary arsitektur dari daerah Timur Tengah. Hal ini tidak mengherankan, karena pusat dari peradaban Islam berasal dari Timur Tengah.

Sebagaimana disebutkan oleh Mangunwijaya, sebuah imaji tentang bangunan ibadah biasanya bila diurut kembali dari asalnya, kadang bukanlah kesan yang sebenarnya beralasan kuat. Bentuk kubah sebenarnya bukanlah melulu suatu bagian dari tipologi masjid, dan tidak selalu melambangkan sebuah masjid.

Tetapi apakah suatu keyakinan yang mendalam tidak akan mengendap juga ke dalam citra bangunan-bangunan ciptaannya? Tentulah itu begitu. Tetapi tidak dalam arti dangkal, seolah-olah ada daftar inventaris yang berisi segudang bentuk yang sudah dicap ini Islam itu Kristen, Hindu atau agama lain. (Mangunwijaya, dalam Wastu Citra)

Dalam masyarakat, suatu perlambang tidak dapat berubah dengan cara yang cepat, kecuali telah ada kesiapan untuk menerima simbol-simbol baru dalam bangunan keagamaan (inilah yang terjadi dalam jaman terkini, sebagian masyarakat telah dapat menerima perubahan-perubahan akibat pergeseran paradigma, sebagai konsekuensi pertukaran informasi yang demikian cepat). Perlu bertahun-tahun, mungkin satu dua abad untuk menggeser sebuah paradigma yang mengakar di masyarakat. Kita dapat melihat dalam masyarakat kita ‘kelambanan’ untuk mengikuti sebuah aturan baru setelah suatu aturan dipahami sebagai konsensus. Barangkali ini bisa dipahami sebagai bukti bahwa tradisi yang mengakar tidak bisa sembarangan saja dirubah.

Simbol-simbol… memiliki makna yang dapat terbawa kedalam bagaimana seseorang menggunakan sebuah bangunan. Sebagai contoh patung-patung dapat menjadi ‘simbol’ bagi suatu poros keyakinan. Sesuatu yang sebelumnya batu atau bahan lain, bila dirubah bentuknya dan diberikan makna, dapat menyentuh tombol-tombol keyakinan dan spiritualisme (dalam pikiran). Terkadang icon membawa dampak sangat besar bagi bagaimana seseorang beribadah.

Namun apa yang hadir sebagai karya manusia, memang tidak bisa dibandingkan dengan karya Tuhan. Bila seseorang mempercayai Tuhan, maka kehidupan memiliki sebuah pusat dan dengan pusat itu hidupnya ditambatkan. Apa yang hadir dalam hubungan dengan Tuhan seseorang, dapat sedikit dihadirkan melalui karya manusia, dalam pola yang dipahami oleh akal dapat membawanya menuju spiritualisme yang dikehendaki.

Masjid-masjid dalam artikel ini juga memiliki kekhasan unsur yang dianggap mewakili simbolisme sebuah masjid. Hal ini tidak bisa dianggap remeh, karena masjid biasanya memiliki arti yang besar dalam kehidupan sebagian besar masyarakat kita, sehingga simbolisme boleh jadi merupakan hal terpenting untuk diperhatikan dalam proses perancangan. Masih bisa ditemui, warga berkumpul untuk membicarakan hal-hal penting di masjid, ibu-ibu lebih erat berbincang-bincang di selasar masjid sambil menunggu waktu sholat berikutnya tiba, dan sebagainya.

Di banyak kota, masjid memiliki peran untuk menjadi icon sebuah kota. Hal ini menjadikan sebuah masjid berperan dalam hidup masyarakat sekitarnya sebagai sebuah pusat, bahkan alun-alun bila perlu. Masyarakat memerlukan sebuah tempat dimana terdapat sebuah ‘tema’ dalam penghubungannya dengan sebuah bangunan, karena karakter dari masyarakat itu sendiri telah menganggap penting keberadaan rumah ibadah, sebagai hubungan langsung dengan sistem budaya yang ada.

Masjid Raya Jawa Tengah, Semarang
Fotografer: Yogi (Awang) Diwangkoro

Suasana area masjid sebagai icon sebuah kota atau wilayah. Hampir mirip seperti sebuah alun-alun, dimana masyarakat tidak hanya datang untuk beribadah, namun juga berkumpul dan bahkan berekreasi. Hal ini karena obyek arsitektural dapat menjadi monumen penanda suatu tempat, dan pemberi makna tempat. (Penjelasan lebih mudahnya; bila seseorang belum datang ke suatu obyek arsitektur di suatu kota, kadang ada perasaan ‘belum pernah datang’ ke sebuah kota)

Masyarakat memerlukan suatu tempat dimana ia dapat merefleksikan dirinya dalam hubungannya dengan masyarakat. Icon-icon yang ditawarkan sebuah monumen dapat memberi hubungan dengan suatu tempat.

Icon-icon ditambahkan sebagai penguat karakter suatu obyek arsitektural.

Terlihat kemegahan dari tampilan unsur-unsur arsitektur.

Kala senja.

Selasar masjid.

Bagian dalam aula utama masjid. Terdapat susunan lampu yang unik membentuk lingkaran. Terdapat kesan perpanjangan dari kubah diatasnya.

Ornamentasi dengan gaya Arabesque yang terpengaruh oleh gaya dekorasi khas Jawa.

Beduk, salah satu tambahan dalam tradisi arsitektur masjid. Mendapatkan porsi yang cukup kuat dalam penataan desain.

Unsur air hadir seperti kebiasaan adanya air dalam bangunan-bangunan di Timur Tengah. Mungkin juga karena kualitas reflektif yang dimiliki air juga disenangi untuk menggambarkan kesan reflektif sanubari manusia. Air merupakan entitas yang diwahyukan sebagai penyuci dari hal-hal yang kotor.


Masjid Agung Tuban

Fotografer: Yogi (Awang) Diwangkoro

Suasana depan masjid saat petang. Masjid ini juga memiliki karakter khas yang disebut sebagai bangunan masjid, antara lain adanya kubah, minaret, dekorasi khas, dan sebagainya.


Suasana dalam plasa masjid.


Suasana interior masjid.


Masjid Dian Al-Mahri, “Masjid Emas”

Depok, Jawa Barat. Fotografer: Nur Indah

Masjid dalam sequence pejalan kaki menuju masjid.

Kubah emas yang cukup mengagumkan warga sekitar maupun mereka yang ingin melihat langsung kemewahan masjid tersebut. Beberapa kali masjid ini juga masuk berita televisi, karena kubah emasnya.

Landscape masjid.

Interior kubah emas.

Suasana dalam masjid.

Banyak pendatang dan mereka yang ingin menikmati suasana masjid tersebut.

—————————————————————————–

Catatan pribadi Probo Hindarto:
Masjid-masjid ini merepresentasikan bahasa arsitektur tertentu, meskipun sebenarnya tidak selalu eksklusif milik orang islam. Tidak lama sebelum datang kesadaran bahwa arsitektur yang berkeinginan unuk menjadi ‘transeden’ itu menjadi sedemikian universal, tidak lagi ada bahasa arsitektur semacam ini yang lagi eksklusif.


Namun tentunya bukanlah mengherankan lagi, idiom-idiom itu jatuh pada pilihan tertentu di dalam masyarakat. Masjid dihubungkan dengan citra tertentu yang melekat pada masyarakat. Sebagai desainer, yang paling menjanjikan untuk dilakukan adalah merefleksikan kembali citra itu kedalam arsitektur masjid agar desain dapat diterima dengan baik di masyarakat, sebelum terdapat perubahan cara pandang.


Terimakasih untuk teman-teman saya Yogi Diwangkoro dan Nur Indah yang sudah mengijinkan gambar2 foto dimasukkan dalam artikel ini.
Blog Yogi Diwangkoro: http://awanginvedderism.multiply.com/
Blog Nur Indah: http://www.tokombaknurin.multiply.com

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s