Monthly Archives: Juli 2010

Kanopi melindungi rumah dari panas dan hujan / canopy to protect house from heat and rain

kanopi melindungi dari panas dan hujan (karya Yoyok Sudibyo)

astudioarchitect.com Berada di daerah beriklim tropis panas yang lembab, rumah-rumah di Indonesia harus didesain sesuai dengan iklim. Untuk mengatasi sinar matahari yang terik, tak jarang kita harus menggunakan pelindung jendela dan pintu yang disebut dengan kanopi. Apakah kanopi itu dan bagaimana penggunaannya? Artikel ini ditulis berdasarkan wawancara dengan saya di Koran Seputar Indonesia. 

Being in the tropical area of humid heat, the houses in Indonesia should be designed in accordance with the climate. To cope with the scorching sun, often we must use the protective window and door called the canopy. Is the canopy, and how it is used? This article was written based on interviews with me on the Koran Seputar Indonesia.

MEMPERCANTIK rumah tidak harus merombaknya secara total. Namun, kita bisa menambah beberapa atribut, salah satunya dengan menggunakan kanopi. Sebaiknya pilih kanopi yang unik atau sesuai dengan interior rumah agar terlihat lebih menarik.

Menurut arsitek Probo Hindarto, kanopi merupakan sebuah bangunan menjorok ke depan seperti rumah, kantor, bahkan restoran. Fungsi utamanya adalah memberi perlindungan bagi rumah untuk jendela, pintu, dan ventilasi udara dari segala jenis cuaca panas dan hujan. Seiring perkembangan zaman, bahan kanopi menjadi kian beragam, misalnya dari genting, bahan sirap (kayu), vinil, polikarbonat, kain, plastik, dak beton, seng, dan fiber semen. Beragamnya jenis bahan ini memudahkan konsumen dan arsitek memilih sesuai kebutuhan.

Lantas, bagaimana menentukan bahan yang terbaik untuk kanopi? Probo mengungkapkan, dari berbagai jenis bahan tersebut, keunggulan dan kekurangannya terletak pada kekuatan dan daya tahan bahan material. Bahan yang kuat seperti besi atau metal tentunya bisa bertahan lebih lama dibandingkan jenis bahan lain.

Sementara itu, kelemahan bahan penutup ini biasanya harus sering diganti secara berkala, terutama bila dari bahan yang lentur atau mudah rusak seperti kain dan plastik.
Jefry, pemilik bengkel pembuatan kanopi, mengatakan ada beberapa keunggulan dari setiap jenis bahan kanopi. Misalnya bahan stainless steel, jenis ini lebih tahan karat, lebih elegan, dan tidak repot untuk perawatan. Namun, harganya relatif mahal, yakni sekitar Rp400.000 hingga Rp550.000. Tidak heran, diperlukan pengelasan yang cukup profesional sehingga hasilnya tidak cacat. Jika ada cacat, bahan ini tidak dapat ditutup dengan menggunakan dempul ataupun sejenisnya.

Hal berbeda saat kanopi yang digunakan terbuat dari bahan besi. Memang biayanya lebih murah. ”Hanya, untuk finishing, bahan dari besi tetap harus dicat dengan zinchromate dan cat besi agar tidak terlalu cepat diserang karat,” tambahnya. Namun, kanopi berbahan besi mudah berkarat sehingga dibutuhkan perawatan ekstra. Sebelum mendirikan kanopi, sebaiknya pemilik rumah memperhatikan beberapa aspek, antara lain kebutuhan. Kanopi biasanya didesain karena pemilik rumah membutuhkan sesuatu yang dapat melindungi rumah dari perubahan cuaca, seperti arah sinar matahari langsung yang bisa merusak elemen-elemen penunjang rumah seperti pintu dan jendela.

(artikel bersambung di bagian bawah)

To beautify a house does not mean totally renovating it. However, we can add some attributes, one of them by using canopy. We recommend that you select a unique canopy or in accordance with the interior of the house to make it look more attractive.

According to architect Probo Hindarto, canopy is a building element that protects from sun ray for buildings like home, office, and even restaurants. Its main function is to provide protection for the house, for windows, doors, ventilation and air from all types of hot weather and rain. As the development of the age, the canopy becomes increasingly diverse materials, such as from roof tiles, shingles materials (wood), vinyl, polycarbonate, fabric, plastic, not concrete, zinc, and fiber cement. The diversity of these materials facilitate the consumers and architects to choose the material as needed.

So, how to determine the best material for the canopy? Probo revealed, from various types of such materials, their advantages and drawbacks lies in the strength and endurance of material. Strong materials such as iron or metal can certainly last longer than other types of materials.

Meanwhile, the weakness of this sealing material usually must often be replaced periodically, especially when the material is flexible or easily damaged, such as cloth and plastic.
Jeffery, making a canopy garage owner, said there are several advantages of each type of fabric canopy. For example stainless steel, this type is more resistant to corrosion, more elegant, and did not bother to care. However, relatively expensive, which is about Rp400.000 to Rp550.000.

It is different when the canopy is made of iron? “Only, for finishing, materials and equipment for iron should be painted with metal paint zinchromate and not too quickly attacked by rust,” he added. However, a canopy made from simple iron, so extra care needed. Prior to founding the canopy, home owners should consider several aspects, among other needs. Canopy are usually designed for home owners needed something that could protect the house from weather changes, such as the direction of the direct sunlight that can damage the supporting elements such as doors and windows of the house.

Probo menyarankan, jika ingin mengaplikasikan kanopi pada jendela atau pintu maka sesuaikan kanopi dengan ukuran jendela. Artinya, ukuran kanopi lebih lebar dari jendela atau pintu. Semakin lebar kanopi maka jendela akan semakin terlindungi. ”Tapi harus juga dibarengi dengan banyak unsur tanaman di sekitar rumah yang membantu menyejukkan udara dalam rumah,” saran Probo.

Probo juga menyarankan untuk memilih desain gambar kanopi sesuai dengan model bangunan rumah. Misalnya, model rumah modern biasanya berkanopi dengan jenis sederhana seperti dak beton tanpa banyak hiasan. Sementara itu, model gaya klasik/mediterania biasanya memiliki lis profil yang memperindahnya.

”Pada bagian atapnya bisa menggunakan polikarbonat, terdapat juga berbagai macam tipe bergantung kebutuhan konsumen. Tersedia juga plastik fiber. ”Biasanya konsumen yang memilih bahan plastik karena harganya yang relatif murah,” tutur Jefry, pemilik jasa pembuatan kanopi. Sementara untuk talang airnya, jika menggunakan bahan besi, biasanya dilengkapi dengan talang air PVC dan bahan stainless yang langsung dilas dengan rangka kanopi.

Untuk pemilihan warna, biasanya disesuaikan dengan warna bangunan rumah. Sebab, pengaplikasian kanopi sebagai dekoratif sekaligus pelindung rumah.

”Menurut estetika, bangunan kanopi biasanya menjadi elemen pelengkap yang memperindah bangunan,” tandas pengasuh www. astudioarchitect.com ini. Begitu pun saat penghuni mengaplikasikan cahaya pada kanopi. Lampu bisa diletakkan di bagian bawah yang menghadap jendela atau pintu.

”Cahaya putih yang cenderung kuning karena efek lampu bisa memberikan kesan ‘hangat’ dan nyaman untuk area di bawah kanopi,” imbuh Probo.

Probo suggest, if you want to apply the canopy on the window or door will match the canopy with window size. That is, the size of the canopy is wider than the window or door. Widening the window of the canopy will be more protected. “But it must also be accompanied by many of the plants around the house to help cool the air inside the house,” suggested Probo.

Probo also advised to choose the design drawings in accordance with the canopy of the building model houses. For example, a model of modern houses are usually canopied with simple types such as no concrete without much decoration. Meanwhile, the model of classical style / Mediterranean usually have lis memperindahnya profile.

“In the section could use a polycarbonate roof, there are also many different types of dependent needs of consumers. There are also plastic fiber. “Typically the consumer who chooses a plastic material because its price is relatively cheap,” said Jeffery, owner of the canopy making services. While for the gutter water, if using an iron material, usually equipped with PVC guttering and stainless welded directly to the framework of the canopy.

For color selection, color is usually adjusted for house building. Therefore, the application of the protective canopy as well as home decorative.

“According to the aesthetics, building canopies usually become complementary elements that adorn the building,” said the governess www. This astudioarchitect.com. So even when the occupants to apply a light in the canopy. Lights can be placed at the bottom facing the window or door.

“The white light which tends to yellow because the light effects could give the impression of ‘warm’ and convenient to the area below the canopy,” added Probo.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

Masjid-masjid Raya – kontemplasi kumpulan foto

astudioarchitect.com (ditulis pada 29 Juni 2007)

red at the dawn prayer

leads to sunshine

entering the world in a new day

full of blessing

.

Masjid-masjid di Indonesia banyak memiliki tipologi bangunan yang khas. Masyarakat memahami arsitektur masjid kebanyakan sebagai bangunan berkubah, atau berjoglo dengan aturan-aturan tertentu yang berkembang di masyarakat. Kebanyakan memiliki pandangan bahwa sebuah masjid seharusnya berkubah, atau berjoglo. Meskipun sebenarnya arsitektur sebuah masjid didefinisikan melalui penataan ruang akibat adanya aktivitas sholat, image tentang sebuah masjid memang telah melekat dalam masyarakat dalam bantuk bangunan bertipe tertentu. Masjid banyak diorientasikan untuk mengemban vocabulary arsitektur dari daerah Timur Tengah. Hal ini tidak mengherankan, karena pusat dari peradaban Islam berasal dari Timur Tengah.

Sebagaimana disebutkan oleh Mangunwijaya, sebuah imaji tentang bangunan ibadah biasanya bila diurut kembali dari asalnya, kadang bukanlah kesan yang sebenarnya beralasan kuat. Bentuk kubah sebenarnya bukanlah melulu suatu bagian dari tipologi masjid, dan tidak selalu melambangkan sebuah masjid.

Tetapi apakah suatu keyakinan yang mendalam tidak akan mengendap juga ke dalam citra bangunan-bangunan ciptaannya? Tentulah itu begitu. Tetapi tidak dalam arti dangkal, seolah-olah ada daftar inventaris yang berisi segudang bentuk yang sudah dicap ini Islam itu Kristen, Hindu atau agama lain. (Mangunwijaya, dalam Wastu Citra)

Dalam masyarakat, suatu perlambang tidak dapat berubah dengan cara yang cepat, kecuali telah ada kesiapan untuk menerima simbol-simbol baru dalam bangunan keagamaan (inilah yang terjadi dalam jaman terkini, sebagian masyarakat telah dapat menerima perubahan-perubahan akibat pergeseran paradigma, sebagai konsekuensi pertukaran informasi yang demikian cepat). Perlu bertahun-tahun, mungkin satu dua abad untuk menggeser sebuah paradigma yang mengakar di masyarakat. Kita dapat melihat dalam masyarakat kita ‘kelambanan’ untuk mengikuti sebuah aturan baru setelah suatu aturan dipahami sebagai konsensus. Barangkali ini bisa dipahami sebagai bukti bahwa tradisi yang mengakar tidak bisa sembarangan saja dirubah.

Simbol-simbol… memiliki makna yang dapat terbawa kedalam bagaimana seseorang menggunakan sebuah bangunan. Sebagai contoh patung-patung dapat menjadi ‘simbol’ bagi suatu poros keyakinan. Sesuatu yang sebelumnya batu atau bahan lain, bila dirubah bentuknya dan diberikan makna, dapat menyentuh tombol-tombol keyakinan dan spiritualisme (dalam pikiran). Terkadang icon membawa dampak sangat besar bagi bagaimana seseorang beribadah.

Namun apa yang hadir sebagai karya manusia, memang tidak bisa dibandingkan dengan karya Tuhan. Bila seseorang mempercayai Tuhan, maka kehidupan memiliki sebuah pusat dan dengan pusat itu hidupnya ditambatkan. Apa yang hadir dalam hubungan dengan Tuhan seseorang, dapat sedikit dihadirkan melalui karya manusia, dalam pola yang dipahami oleh akal dapat membawanya menuju spiritualisme yang dikehendaki.

Masjid-masjid dalam artikel ini juga memiliki kekhasan unsur yang dianggap mewakili simbolisme sebuah masjid. Hal ini tidak bisa dianggap remeh, karena masjid biasanya memiliki arti yang besar dalam kehidupan sebagian besar masyarakat kita, sehingga simbolisme boleh jadi merupakan hal terpenting untuk diperhatikan dalam proses perancangan. Masih bisa ditemui, warga berkumpul untuk membicarakan hal-hal penting di masjid, ibu-ibu lebih erat berbincang-bincang di selasar masjid sambil menunggu waktu sholat berikutnya tiba, dan sebagainya.

Di banyak kota, masjid memiliki peran untuk menjadi icon sebuah kota. Hal ini menjadikan sebuah masjid berperan dalam hidup masyarakat sekitarnya sebagai sebuah pusat, bahkan alun-alun bila perlu. Masyarakat memerlukan sebuah tempat dimana terdapat sebuah ‘tema’ dalam penghubungannya dengan sebuah bangunan, karena karakter dari masyarakat itu sendiri telah menganggap penting keberadaan rumah ibadah, sebagai hubungan langsung dengan sistem budaya yang ada.

Masjid Raya Jawa Tengah, Semarang
Fotografer: Yogi (Awang) Diwangkoro

Suasana area masjid sebagai icon sebuah kota atau wilayah. Hampir mirip seperti sebuah alun-alun, dimana masyarakat tidak hanya datang untuk beribadah, namun juga berkumpul dan bahkan berekreasi. Hal ini karena obyek arsitektural dapat menjadi monumen penanda suatu tempat, dan pemberi makna tempat. (Penjelasan lebih mudahnya; bila seseorang belum datang ke suatu obyek arsitektur di suatu kota, kadang ada perasaan ‘belum pernah datang’ ke sebuah kota)

Masyarakat memerlukan suatu tempat dimana ia dapat merefleksikan dirinya dalam hubungannya dengan masyarakat. Icon-icon yang ditawarkan sebuah monumen dapat memberi hubungan dengan suatu tempat.

Icon-icon ditambahkan sebagai penguat karakter suatu obyek arsitektural.

Terlihat kemegahan dari tampilan unsur-unsur arsitektur.

Kala senja.

Selasar masjid.

Bagian dalam aula utama masjid. Terdapat susunan lampu yang unik membentuk lingkaran. Terdapat kesan perpanjangan dari kubah diatasnya.

Ornamentasi dengan gaya Arabesque yang terpengaruh oleh gaya dekorasi khas Jawa.

Beduk, salah satu tambahan dalam tradisi arsitektur masjid. Mendapatkan porsi yang cukup kuat dalam penataan desain.

Unsur air hadir seperti kebiasaan adanya air dalam bangunan-bangunan di Timur Tengah. Mungkin juga karena kualitas reflektif yang dimiliki air juga disenangi untuk menggambarkan kesan reflektif sanubari manusia. Air merupakan entitas yang diwahyukan sebagai penyuci dari hal-hal yang kotor.


Masjid Agung Tuban

Fotografer: Yogi (Awang) Diwangkoro

Suasana depan masjid saat petang. Masjid ini juga memiliki karakter khas yang disebut sebagai bangunan masjid, antara lain adanya kubah, minaret, dekorasi khas, dan sebagainya.


Suasana dalam plasa masjid.


Suasana interior masjid.


Masjid Dian Al-Mahri, “Masjid Emas”

Depok, Jawa Barat. Fotografer: Nur Indah

Masjid dalam sequence pejalan kaki menuju masjid.

Kubah emas yang cukup mengagumkan warga sekitar maupun mereka yang ingin melihat langsung kemewahan masjid tersebut. Beberapa kali masjid ini juga masuk berita televisi, karena kubah emasnya.

Landscape masjid.

Interior kubah emas.

Suasana dalam masjid.

Banyak pendatang dan mereka yang ingin menikmati suasana masjid tersebut.

—————————————————————————–

Catatan pribadi Probo Hindarto:
Masjid-masjid ini merepresentasikan bahasa arsitektur tertentu, meskipun sebenarnya tidak selalu eksklusif milik orang islam. Tidak lama sebelum datang kesadaran bahwa arsitektur yang berkeinginan unuk menjadi ‘transeden’ itu menjadi sedemikian universal, tidak lagi ada bahasa arsitektur semacam ini yang lagi eksklusif.


Namun tentunya bukanlah mengherankan lagi, idiom-idiom itu jatuh pada pilihan tertentu di dalam masyarakat. Masjid dihubungkan dengan citra tertentu yang melekat pada masyarakat. Sebagai desainer, yang paling menjanjikan untuk dilakukan adalah merefleksikan kembali citra itu kedalam arsitektur masjid agar desain dapat diterima dengan baik di masyarakat, sebelum terdapat perubahan cara pandang.


Terimakasih untuk teman-teman saya Yogi Diwangkoro dan Nur Indah yang sudah mengijinkan gambar2 foto dimasukkan dalam artikel ini.
Blog Yogi Diwangkoro: http://awanginvedderism.multiply.com/
Blog Nur Indah: http://www.tokombaknurin.multiply.com

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Masjid-masjid Raya – kontemplasi kumpulan foto

astudioarchitect.com (ditulis pada 29 Juni 2007)

red at the dawn prayer

leads to sunshine

entering the world in a new day

full of blessing

.

Masjid-masjid di Indonesia banyak memiliki tipologi bangunan yang khas. Masyarakat memahami arsitektur masjid kebanyakan sebagai bangunan berkubah, atau berjoglo dengan aturan-aturan tertentu yang berkembang di masyarakat. Kebanyakan memiliki pandangan bahwa sebuah masjid seharusnya berkubah, atau berjoglo. Meskipun sebenarnya arsitektur sebuah masjid didefinisikan melalui penataan ruang akibat adanya aktivitas sholat, image tentang sebuah masjid memang telah melekat dalam masyarakat dalam bantuk bangunan bertipe tertentu. Masjid banyak diorientasikan untuk mengemban vocabulary arsitektur dari daerah Timur Tengah. Hal ini tidak mengherankan, karena pusat dari peradaban Islam berasal dari Timur Tengah.

Sebagaimana disebutkan oleh Mangunwijaya, sebuah imaji tentang bangunan ibadah biasanya bila diurut kembali dari asalnya, kadang bukanlah kesan yang sebenarnya beralasan kuat. Bentuk kubah sebenarnya bukanlah melulu suatu bagian dari tipologi masjid, dan tidak selalu melambangkan sebuah masjid.

Tetapi apakah suatu keyakinan yang mendalam tidak akan mengendap juga ke dalam citra bangunan-bangunan ciptaannya? Tentulah itu begitu. Tetapi tidak dalam arti dangkal, seolah-olah ada daftar inventaris yang berisi segudang bentuk yang sudah dicap ini Islam itu Kristen, Hindu atau agama lain. (Mangunwijaya, dalam Wastu Citra)

Dalam masyarakat, suatu perlambang tidak dapat berubah dengan cara yang cepat, kecuali telah ada kesiapan untuk menerima simbol-simbol baru dalam bangunan keagamaan (inilah yang terjadi dalam jaman terkini, sebagian masyarakat telah dapat menerima perubahan-perubahan akibat pergeseran paradigma, sebagai konsekuensi pertukaran informasi yang demikian cepat). Perlu bertahun-tahun, mungkin satu dua abad untuk menggeser sebuah paradigma yang mengakar di masyarakat. Kita dapat melihat dalam masyarakat kita ‘kelambanan’ untuk mengikuti sebuah aturan baru setelah suatu aturan dipahami sebagai konsensus. Barangkali ini bisa dipahami sebagai bukti bahwa tradisi yang mengakar tidak bisa sembarangan saja dirubah.

Simbol-simbol… memiliki makna yang dapat terbawa kedalam bagaimana seseorang menggunakan sebuah bangunan. Sebagai contoh patung-patung dapat menjadi ‘simbol’ bagi suatu poros keyakinan. Sesuatu yang sebelumnya batu atau bahan lain, bila dirubah bentuknya dan diberikan makna, dapat menyentuh tombol-tombol keyakinan dan spiritualisme (dalam pikiran). Terkadang icon membawa dampak sangat besar bagi bagaimana seseorang beribadah.

Namun apa yang hadir sebagai karya manusia, memang tidak bisa dibandingkan dengan karya Tuhan. Bila seseorang mempercayai Tuhan, maka kehidupan memiliki sebuah pusat dan dengan pusat itu hidupnya ditambatkan. Apa yang hadir dalam hubungan dengan Tuhan seseorang, dapat sedikit dihadirkan melalui karya manusia, dalam pola yang dipahami oleh akal dapat membawanya menuju spiritualisme yang dikehendaki.

Masjid-masjid dalam artikel ini juga memiliki kekhasan unsur yang dianggap mewakili simbolisme sebuah masjid. Hal ini tidak bisa dianggap remeh, karena masjid biasanya memiliki arti yang besar dalam kehidupan sebagian besar masyarakat kita, sehingga simbolisme boleh jadi merupakan hal terpenting untuk diperhatikan dalam proses perancangan. Masih bisa ditemui, warga berkumpul untuk membicarakan hal-hal penting di masjid, ibu-ibu lebih erat berbincang-bincang di selasar masjid sambil menunggu waktu sholat berikutnya tiba, dan sebagainya.

Di banyak kota, masjid memiliki peran untuk menjadi icon sebuah kota. Hal ini menjadikan sebuah masjid berperan dalam hidup masyarakat sekitarnya sebagai sebuah pusat, bahkan alun-alun bila perlu. Masyarakat memerlukan sebuah tempat dimana terdapat sebuah ‘tema’ dalam penghubungannya dengan sebuah bangunan, karena karakter dari masyarakat itu sendiri telah menganggap penting keberadaan rumah ibadah, sebagai hubungan langsung dengan sistem budaya yang ada.

Masjid Raya Jawa Tengah, Semarang
Fotografer: Yogi (Awang) Diwangkoro

Suasana area masjid sebagai icon sebuah kota atau wilayah. Hampir mirip seperti sebuah alun-alun, dimana masyarakat tidak hanya datang untuk beribadah, namun juga berkumpul dan bahkan berekreasi. Hal ini karena obyek arsitektural dapat menjadi monumen penanda suatu tempat, dan pemberi makna tempat. (Penjelasan lebih mudahnya; bila seseorang belum datang ke suatu obyek arsitektur di suatu kota, kadang ada perasaan ‘belum pernah datang’ ke sebuah kota)

Masyarakat memerlukan suatu tempat dimana ia dapat merefleksikan dirinya dalam hubungannya dengan masyarakat. Icon-icon yang ditawarkan sebuah monumen dapat memberi hubungan dengan suatu tempat.

Icon-icon ditambahkan sebagai penguat karakter suatu obyek arsitektural.

Terlihat kemegahan dari tampilan unsur-unsur arsitektur.

Kala senja.

Selasar masjid.

Bagian dalam aula utama masjid. Terdapat susunan lampu yang unik membentuk lingkaran. Terdapat kesan perpanjangan dari kubah diatasnya.

Ornamentasi dengan gaya Arabesque yang terpengaruh oleh gaya dekorasi khas Jawa.

Beduk, salah satu tambahan dalam tradisi arsitektur masjid. Mendapatkan porsi yang cukup kuat dalam penataan desain.

Unsur air hadir seperti kebiasaan adanya air dalam bangunan-bangunan di Timur Tengah. Mungkin juga karena kualitas reflektif yang dimiliki air juga disenangi untuk menggambarkan kesan reflektif sanubari manusia. Air merupakan entitas yang diwahyukan sebagai penyuci dari hal-hal yang kotor.


Masjid Agung Tuban

Fotografer: Yogi (Awang) Diwangkoro

Suasana depan masjid saat petang. Masjid ini juga memiliki karakter khas yang disebut sebagai bangunan masjid, antara lain adanya kubah, minaret, dekorasi khas, dan sebagainya.


Suasana dalam plasa masjid.


Suasana interior masjid.


Masjid Dian Al-Mahri, “Masjid Emas”

Depok, Jawa Barat. Fotografer: Nur Indah

Masjid dalam sequence pejalan kaki menuju masjid.

Kubah emas yang cukup mengagumkan warga sekitar maupun mereka yang ingin melihat langsung kemewahan masjid tersebut. Beberapa kali masjid ini juga masuk berita televisi, karena kubah emasnya.

Landscape masjid.

Interior kubah emas.

Suasana dalam masjid.

Banyak pendatang dan mereka yang ingin menikmati suasana masjid tersebut.

—————————————————————————–

Catatan pribadi Probo Hindarto:
Masjid-masjid ini merepresentasikan bahasa arsitektur tertentu, meskipun sebenarnya tidak selalu eksklusif milik orang islam. Tidak lama sebelum datang kesadaran bahwa arsitektur yang berkeinginan unuk menjadi ‘transeden’ itu menjadi sedemikian universal, tidak lagi ada bahasa arsitektur semacam ini yang lagi eksklusif.


Namun tentunya bukanlah mengherankan lagi, idiom-idiom itu jatuh pada pilihan tertentu di dalam masyarakat. Masjid dihubungkan dengan citra tertentu yang melekat pada masyarakat. Sebagai desainer, yang paling menjanjikan untuk dilakukan adalah merefleksikan kembali citra itu kedalam arsitektur masjid agar desain dapat diterima dengan baik di masyarakat, sebelum terdapat perubahan cara pandang.


Terimakasih untuk teman-teman saya Yogi Diwangkoro dan Nur Indah yang sudah mengijinkan gambar2 foto dimasukkan dalam artikel ini.
Blog Yogi Diwangkoro: http://awanginvedderism.multiply.com/
Blog Nur Indah: http://www.tokombaknurin.multiply.com

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Foyer sebagai ruang transisi teras dan ruang tamu / Foyer as transition space

astudioarchitect.com Foyer merupakan jenis ruangan yang diletakkan didepan ruang tamu, atau sebagai ruang antara teras dan ruang tamu. Bila pemilik rumah tidak memiliki ruang tamu, bisa juga berfungsi sebagai ruang penghubung antara teras dan ruang keluarga. Artikel ini dimuat di Koran Seputar Indonesia beberapa waktu lalu dengan saya sebagai narasumber 🙂

Foyer is a type of room that is placed in front of the living room, or as a space between the porch and living room. If the homeowner does not have a living room, can also serve as a liaison between the terrace room and family room. This article was published in the newspaper Seputar Indonesia some time ago with me as a resource:)

DALAM KORAN SINDO:

Foyer yang Mempercantik Hunian

KEPRIBADIAN pemilik rumah bisa tercermin dari area muka di dalam hunian yang disebut foyer. Bagaimana Anda harus menatanya agar terlihat menarik?

Menurut arsitek Probo Hindarto, foyer merupakan ruang peralihan antara teras dan ruang tamu. Area ini berfungsi sebagai ruang penerima, di mana tamu bisa dipersilahkan menunggu atau masuk ke ruang tamu.

Dewasa ini fungsi foyer mulai berkembang, tak hanya seperti yang sebutkan di atas. Kini, foyer juga dapat berfungsi sebagai area yang memperkuat privasi penghuni rumah. ”Dalam hal ini, ada kalanya tamu yang datang atau orang lain, tidak bisa sembarangan dimasukkan ke dalam rumah,” ujar Probo. Selain itu, foyer bisa juga berfungsi sebagai ruang tambahan yang mampu mempercantik rumah, dalam arti kesan ruang menjadi lebih bersahabat.

Lalu, seberapa penting kehadiran foyer di dalam rumah? Probo menjelaskan, sebenarnya foyer tidak dipandang terlalu penting, kecuali bagi rumah yang didesain dengan foyer karena ruang yang ada memungkinkan dan dibutuhkan. Misalnya, sebut Probo, si empunya rumah membangun foyer karena lahan yang dibutuhkan memang ada dan cukup memungkinkan untuk foyer dimasukkan ke dalam denah, plus ditunjang pula oleh ketersediaan dana.

“Ada beberapa faktor yang membuat foyer tidak harus ada dalam sebuah rumah, misalnya karena sempit. Bila sangat sempit, ya tidak usah dipaksakan menggunakan foyer,” imbuh Probo. Namun, bagi penghuni yang memang memiliki rumah berlahan cukup luas dan punya dana cukup, tak ada salahnya membangun foyer. Tentu dengan penataan yang menarik pula.

Sebuah ruangan akan tercermin nilai estetikanya jika ditata semenarik mungkin. Konon, penataan ruang berpengaruh besar terhadap mood si pengguna. Maka itu, sebelum membangun foyer, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Yang pertama, perhatikan dulu letak pintu utama serta hubungan dengan ruang tamu.
“Biasanya antara pintu dan ruang tamu ada sekat dalam foyer, bahkan bisa juga menggunakan dinding permanen. Sekat atau dinding lazimnya menutupi pandangan ke arah ruang tamu, tapi ada pula yang terkesan terbuka dengan penyekat yang banyak unsur kacanya atau sekat lemari hias,” terang Probo.

Setelah itu, ukur ruang yang ingin dijadikan foyer. Probo menyarankan, sebaiknya ukuran foyer disesuaikan dengan lahan dan yang pasti cukup untuk menerima kedatangan tamu. Misalnya ruang 1 x 2 meter. Menurut Probo, luas lahan sekian sudah cukup dipakai untuk foyer. Tapi, foyer yang baik biasanya memiliki area cukup luas seperti ruang pada umumnya.

Langkah selanjutnya adalah peletakan furnitur. Jenis furnitur yang umum diletakkan pada ruang transisi tersebut antara lain satu atau dua kursi saja, atau alternatif lain dengan menggunakan furnitur yang mampu memberi kesan welcome, seperti bufet dan rangkaian bunga. Namun, tak jarang pula penghuni yang mengaplikasikan ambalan di dinding, lukisan, serta cermin. Benda-benda tersebut juga bisa memperkuat kesan estetis sebuah foyer.

Begitupun dengan hiasannya. Probo menyebutkan, hiasan yang sesuai untuk foyer antara lain hiasan dinding, ambalan, rangkaian bunga, vas, kain etnik, dan sebagainya yang tidak membutuhkan banyak tempat. Sebab, biasanya foyer adalah ruang yang kecil, tidak seperti ruang tamu.

(Artikel bersambung di bagian bawah)

IN THE SINDO NEWSPAPER:

Foyer for a beautiful Residence

PERSONALITY of the homeowners can be reflected in a residential area called the foyer. How you should set it to make it look interesting?

According to architect Probo Hindarto, foyer is a transitional space between the porch and living room. This area serves as a receiving room, where guests could be asked to wait or to go into the living room.

Today, function of foyer began to flourish, not only as mentioned above. Now, the foyer can also serve as an area to strengthen the privacy of residents. “In this case, there are times when guests came, or anyone else, can not arbitrarily asked to come into the house,” said Probo. In addition, the foyer can also serve as an additional room that can beautify the home, in the sense of space has become more friendly impression.

So, how important the presence of foyer in a house? Probo explained, it is not considered very important, except for a house designed if the space allows and requires to. For example, said Probo, the owner of the house building needed foyer because there was quite possible for the foyer to be put into the plans, plus supported also by the availability of funds.

“There are several factors that make the foyer not to exist in a house, such as narrow land. When you have a very narrow land, do not force yourself to use a foyer,” added Probo. However, for residents who do have home with large enough land and have enough funds, there’s nothing wrong in building foyer. Of course with an interesting arrangement, too.

A room will be reflected in its aesthetic value, if arranged as attractive as possible. It is said, the arrangement of space greatly affect the mood of the user. Thus, before making foyer, there are several aspects that need attention. The first, first note the location of the main door and the relationship with the living room.

“Usually between the door and the living room there is insulation in the foyer, even can also use a permanent wall. Partition or wall typically cover the view to the living room, but some are openly impressed with the many elements of the glass partition or decorative cabinet,” explained Probo .

After that, measure the space that is intended to be the foyer. Probo suggested, should be adjusted to the size of the foyer area and certainly enough to accept the arrival of guests. For example 1 x 2 meter space. According to Probo, it is enough area used for the foyer. But it will be better if you have a foyer which is large enough in general.

The next step is the laying of furniture. Common types of furniture that is placed on the transition space between the other one or two seats only, or alternatively by using furniture that is able to give the welcoming impression, such as buffet and flower arrangements. These objects could also strengthen the aesthetic impression of a foyer.

Likewise with the decorations. Probo mention, we can use ornaments such as wall hangings, shelves, wreaths, vases, ethnic fabrics, etc., that does not require a lot of places. Because, usually a small foyer is a small space, unlike the living room.

Anda yang bosan dengan desain-desain pada umumnya, mungkin bisa mengaplikasikan karpet. Menurut Probo, memasang karpet sangat dianjurkan. Namun, corak karpet usahakan yang sesuai dengan tema ruang. Contoh, karpet dengan motif bergaya klasik untuk rumah bertema klasik, atau karpet dengan garis-garis modern untuk rumah bertema modern.

Sementara, penghuni rumah yang ingin mengaplikasikan wallpaper sebaiknya memadukan warna pelapis dinding tersebut dengan furnitur yang terdapat di dalam foyer. Hanya, pesan Probo, usahakan ada warna yang kontras. Misalnya warna putih dan hitam, tapi dipermanis dengan warna abu-abu sebagai warna antara. Bisa juga dengan menerapkan paduan warna monokromatik atau gradasi warna. Cara ini bisa dibilang paling ”aman”, sehingga ruangan tetap enak dipandang mata. Memadukan warna furnitur juga harus mempertimbangkan warna wallpaper dengan jenis corak yang sesuai.

Lantas, seperti apa warna yang pas untuk foyer? Yang cerah atau netral? Probo menjelaskan, warna bisa dipilih dari yang paling sesuai untuk ruangan tersebut. Warna cerah boleh dipakai untuk foyer yang agak sempit supaya ruangan jadi terkesan lapang dan terang. Warna netral juga bisa dipilih sesuai dengan warna gaya modern yang diminati saat ini.


image: london art deco interior: Dagenham Civic Centre, 1936
by Mermaid 99. Under CC lisence

Meski demikian, lanjut pengasuh blog astudioarchitect.com itu, warna lain jelas tidak menutup kemungkinan untuk digunakan. Hanya, biasanya mata lebih nyaman memandang dinding berwarna pastel atau cenderung gelap sekalian. Probo tidak menyarankan penggunaan warna yang sangat mencolok, seperti merah atau hijau muda.

Begitu pun dengan pencahayaan. Sumber cahaya alias lampu mesti diletakkan pada tempat yang tepat, yakni yang memang membutuhkan banyak cahaya, seperti ruang belajar anak dan ruang tamu. Lampu yang cocok untuk foyer adalah lampu hias, misalnya lampu gantung dan lampu tempel.

If You are bored with your foyer design in general, it might be good to apply a carpet. According to Probo, installing carpet is recommended. However, make sure the carpet pattern that matches the theme of space. For example, classical-style carpet with the motif for the classic-themed homes, or carpets with modern lines for a modern themed home.

Meanwhile, residents who want to apply wallpaper wall coverings should combine these colors with furniture that was contained in the foyer. Only, the Probo quote, try to have a contrasting color. For instance white and black colors, but sweetened with a gray color as color between. Can also blend colors by applying a monochromatic or color gradations. This method is practically the most “secure” blend of colors, so the room remains comfortable to the eye. Blending the colors of furniture should also consider the color of the wallpaper with the appropriate furniture type style.

So, what’s the right color for the foyer? Bright or neutral? Probo explains, the color can be chosen from the most appropriate color for the room. Bright colors should be used for a rather narrow foyer of the room so it will be roomy and bright. Neutral colors can also be selected in accordance with the color of the modern style of interest at this time.

Nevertheless, continued the Probo, the owner and writer of astudioarchitect.com blog, other colors certainly have a lot of possibility for use. Only, the eyes are usually more comfortable looking at the pastel walls or tend to be dark as well. Probo does not recommend to use color which is striking or vivid, such as red or light green.

The same thing with the lighting, or lamp light source should be placed at appropriate places. Foyer lights are suitable for decorative lighting such as chandeliers and downlight lamps.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Foyer sebagai ruang transisi teras dan ruang tamu / Foyer as transition space

astudioarchitect.com Foyer merupakan jenis ruangan yang diletakkan didepan ruang tamu, atau sebagai ruang antara teras dan ruang tamu. Bila pemilik rumah tidak memiliki ruang tamu, bisa juga berfungsi sebagai ruang penghubung antara teras dan ruang keluarga. Artikel ini dimuat di Koran Seputar Indonesia beberapa waktu lalu dengan saya sebagai narasumber 🙂

Foyer is a type of room that is placed in front of the living room, or as a space between the porch and living room. If the homeowner does not have a living room, can also serve as a liaison between the terrace room and family room. This article was published in the newspaper Seputar Indonesia some time ago with me as a resource:)

DALAM KORAN SINDO:

Foyer yang Mempercantik Hunian

KEPRIBADIAN pemilik rumah bisa tercermin dari area muka di dalam hunian yang disebut foyer. Bagaimana Anda harus menatanya agar terlihat menarik?

Menurut arsitek Probo Hindarto, foyer merupakan ruang peralihan antara teras dan ruang tamu. Area ini berfungsi sebagai ruang penerima, di mana tamu bisa dipersilahkan menunggu atau masuk ke ruang tamu.

Dewasa ini fungsi foyer mulai berkembang, tak hanya seperti yang sebutkan di atas. Kini, foyer juga dapat berfungsi sebagai area yang memperkuat privasi penghuni rumah. ”Dalam hal ini, ada kalanya tamu yang datang atau orang lain, tidak bisa sembarangan dimasukkan ke dalam rumah,” ujar Probo. Selain itu, foyer bisa juga berfungsi sebagai ruang tambahan yang mampu mempercantik rumah, dalam arti kesan ruang menjadi lebih bersahabat.

Lalu, seberapa penting kehadiran foyer di dalam rumah? Probo menjelaskan, sebenarnya foyer tidak dipandang terlalu penting, kecuali bagi rumah yang didesain dengan foyer karena ruang yang ada memungkinkan dan dibutuhkan. Misalnya, sebut Probo, si empunya rumah membangun foyer karena lahan yang dibutuhkan memang ada dan cukup memungkinkan untuk foyer dimasukkan ke dalam denah, plus ditunjang pula oleh ketersediaan dana.

“Ada beberapa faktor yang membuat foyer tidak harus ada dalam sebuah rumah, misalnya karena sempit. Bila sangat sempit, ya tidak usah dipaksakan menggunakan foyer,” imbuh Probo. Namun, bagi penghuni yang memang memiliki rumah berlahan cukup luas dan punya dana cukup, tak ada salahnya membangun foyer. Tentu dengan penataan yang menarik pula.

Sebuah ruangan akan tercermin nilai estetikanya jika ditata semenarik mungkin. Konon, penataan ruang berpengaruh besar terhadap mood si pengguna. Maka itu, sebelum membangun foyer, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Yang pertama, perhatikan dulu letak pintu utama serta hubungan dengan ruang tamu.
“Biasanya antara pintu dan ruang tamu ada sekat dalam foyer, bahkan bisa juga menggunakan dinding permanen. Sekat atau dinding lazimnya menutupi pandangan ke arah ruang tamu, tapi ada pula yang terkesan terbuka dengan penyekat yang banyak unsur kacanya atau sekat lemari hias,” terang Probo.

Setelah itu, ukur ruang yang ingin dijadikan foyer. Probo menyarankan, sebaiknya ukuran foyer disesuaikan dengan lahan dan yang pasti cukup untuk menerima kedatangan tamu. Misalnya ruang 1 x 2 meter. Menurut Probo, luas lahan sekian sudah cukup dipakai untuk foyer. Tapi, foyer yang baik biasanya memiliki area cukup luas seperti ruang pada umumnya.

Langkah selanjutnya adalah peletakan furnitur. Jenis furnitur yang umum diletakkan pada ruang transisi tersebut antara lain satu atau dua kursi saja, atau alternatif lain dengan menggunakan furnitur yang mampu memberi kesan welcome, seperti bufet dan rangkaian bunga. Namun, tak jarang pula penghuni yang mengaplikasikan ambalan di dinding, lukisan, serta cermin. Benda-benda tersebut juga bisa memperkuat kesan estetis sebuah foyer.

Begitupun dengan hiasannya. Probo menyebutkan, hiasan yang sesuai untuk foyer antara lain hiasan dinding, ambalan, rangkaian bunga, vas, kain etnik, dan sebagainya yang tidak membutuhkan banyak tempat. Sebab, biasanya foyer adalah ruang yang kecil, tidak seperti ruang tamu.

(Artikel bersambung di bagian bawah)

IN THE SINDO NEWSPAPER:

Foyer for a beautiful Residence

PERSONALITY of the homeowners can be reflected in a residential area called the foyer. How you should set it to make it look interesting?

According to architect Probo Hindarto, foyer is a transitional space between the porch and living room. This area serves as a receiving room, where guests could be asked to wait or to go into the living room.

Today, function of foyer began to flourish, not only as mentioned above. Now, the foyer can also serve as an area to strengthen the privacy of residents. “In this case, there are times when guests came, or anyone else, can not arbitrarily asked to come into the house,” said Probo. In addition, the foyer can also serve as an additional room that can beautify the home, in the sense of space has become more friendly impression.

So, how important the presence of foyer in a house? Probo explained, it is not considered very important, except for a house designed if the space allows and requires to. For example, said Probo, the owner of the house building needed foyer because there was quite possible for the foyer to be put into the plans, plus supported also by the availability of funds.

“There are several factors that make the foyer not to exist in a house, such as narrow land. When you have a very narrow land, do not force yourself to use a foyer,” added Probo. However, for residents who do have home with large enough land and have enough funds, there’s nothing wrong in building foyer. Of course with an interesting arrangement, too.

A room will be reflected in its aesthetic value, if arranged as attractive as possible. It is said, the arrangement of space greatly affect the mood of the user. Thus, before making foyer, there are several aspects that need attention. The first, first note the location of the main door and the relationship with the living room.

“Usually between the door and the living room there is insulation in the foyer, even can also use a permanent wall. Partition or wall typically cover the view to the living room, but some are openly impressed with the many elements of the glass partition or decorative cabinet,” explained Probo .

After that, measure the space that is intended to be the foyer. Probo suggested, should be adjusted to the size of the foyer area and certainly enough to accept the arrival of guests. For example 1 x 2 meter space. According to Probo, it is enough area used for the foyer. But it will be better if you have a foyer which is large enough in general.

The next step is the laying of furniture. Common types of furniture that is placed on the transition space between the other one or two seats only, or alternatively by using furniture that is able to give the welcoming impression, such as buffet and flower arrangements. These objects could also strengthen the aesthetic impression of a foyer.

Likewise with the decorations. Probo mention, we can use ornaments such as wall hangings, shelves, wreaths, vases, ethnic fabrics, etc., that does not require a lot of places. Because, usually a small foyer is a small space, unlike the living room.

Anda yang bosan dengan desain-desain pada umumnya, mungkin bisa mengaplikasikan karpet. Menurut Probo, memasang karpet sangat dianjurkan. Namun, corak karpet usahakan yang sesuai dengan tema ruang. Contoh, karpet dengan motif bergaya klasik untuk rumah bertema klasik, atau karpet dengan garis-garis modern untuk rumah bertema modern.

Sementara, penghuni rumah yang ingin mengaplikasikan wallpaper sebaiknya memadukan warna pelapis dinding tersebut dengan furnitur yang terdapat di dalam foyer. Hanya, pesan Probo, usahakan ada warna yang kontras. Misalnya warna putih dan hitam, tapi dipermanis dengan warna abu-abu sebagai warna antara. Bisa juga dengan menerapkan paduan warna monokromatik atau gradasi warna. Cara ini bisa dibilang paling ”aman”, sehingga ruangan tetap enak dipandang mata. Memadukan warna furnitur juga harus mempertimbangkan warna wallpaper dengan jenis corak yang sesuai.

Lantas, seperti apa warna yang pas untuk foyer? Yang cerah atau netral? Probo menjelaskan, warna bisa dipilih dari yang paling sesuai untuk ruangan tersebut. Warna cerah boleh dipakai untuk foyer yang agak sempit supaya ruangan jadi terkesan lapang dan terang. Warna netral juga bisa dipilih sesuai dengan warna gaya modern yang diminati saat ini.


image: london art deco interior: Dagenham Civic Centre, 1936
by Mermaid 99. Under CC lisence

Meski demikian, lanjut pengasuh blog astudioarchitect.com itu, warna lain jelas tidak menutup kemungkinan untuk digunakan. Hanya, biasanya mata lebih nyaman memandang dinding berwarna pastel atau cenderung gelap sekalian. Probo tidak menyarankan penggunaan warna yang sangat mencolok, seperti merah atau hijau muda.

Begitu pun dengan pencahayaan. Sumber cahaya alias lampu mesti diletakkan pada tempat yang tepat, yakni yang memang membutuhkan banyak cahaya, seperti ruang belajar anak dan ruang tamu. Lampu yang cocok untuk foyer adalah lampu hias, misalnya lampu gantung dan lampu tempel.

If You are bored with your foyer design in general, it might be good to apply a carpet. According to Probo, installing carpet is recommended. However, make sure the carpet pattern that matches the theme of space. For example, classical-style carpet with the motif for the classic-themed homes, or carpets with modern lines for a modern themed home.

Meanwhile, residents who want to apply wallpaper wall coverings should combine these colors with furniture that was contained in the foyer. Only, the Probo quote, try to have a contrasting color. For instance white and black colors, but sweetened with a gray color as color between. Can also blend colors by applying a monochromatic or color gradations. This method is practically the most “secure” blend of colors, so the room remains comfortable to the eye. Blending the colors of furniture should also consider the color of the wallpaper with the appropriate furniture type style.

So, what’s the right color for the foyer? Bright or neutral? Probo explains, the color can be chosen from the most appropriate color for the room. Bright colors should be used for a rather narrow foyer of the room so it will be roomy and bright. Neutral colors can also be selected in accordance with the color of the modern style of interest at this time.

Nevertheless, continued the Probo, the owner and writer of astudioarchitect.com blog, other colors certainly have a lot of possibility for use. Only, the eyes are usually more comfortable looking at the pastel walls or tend to be dark as well. Probo does not recommend to use color which is striking or vivid, such as red or light green.

The same thing with the lighting, or lamp light source should be placed at appropriate places. Foyer lights are suitable for decorative lighting such as chandeliers and downlight lamps.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Menata ruang kerja bergabung dengan kamar tidur / Setting up workspace inside bedroom

Work station

astudioarchitect.com Dewasa ini banyak orang bekerja dirumah, karena profesi yang memungkinkan, misalnya profesi arsitek, blogger, penulis, konsultan, dan sebagainya. Termasuk penulis sendiri juga bekerja dan berkantor dirumah. Terkadang dibutuhkan ruang kerja di rumah yang bisa berdiri sendiri, atau digabung dengan ruang lain, seperti misalnya ruang tidur. Bisakah menggabungkan ruang tidur dengan ruang kerja?

Today many people work at home, for a profession that allows, for example, professional architects, bloggers, writers, consultants, and so forth. Including myself, I also work inside a home office located at my home. Sometimes it takes work space at home that could stand alone, or combined with other spaces, such as bedroom. Can we combine workspace with bedroom?

Sebaiknya ruang kerja tetap dipisahkan dengan kamar tidur menggunakan sekat atau semacam itu. Lebih baik lagi bila dipisahkan. Tapi kadangkala karena keterbatasan maka kedua ruang tersebut dicampur. Tidak apa2 bila dicampur, tapi tentunya dengan rancangan yang baik, misalnya meja kerja tidak menghadap tempat tidur karena bisa menimbulkan rasa ingin beristirahat. Meja kerja menghadap taman atau bahkan kolam ikan tidak apa-apa, karena bisa menambah kesenangan bekerja dan unsur refreshing.

Apa yang menjdi alasan sehingga si penghuni menggabungkan dua ruang tersebut adalah kebanyakan karena keterbatasan ruang, bisa juga karena kemudahan mencapai ruang kerja.

Tips menata ruang kerja yang dekat dengan ruang tidur.
Bila dua ruang itu ingin disatukan, apa saja yang harus diperhatikan?
Perhatikan arah hadap meja kerja bila memungkinkan jangan menghadap ke arah tempat tidur. berikan kabinet atau penyimpan yang khusus untuk file kerja sehingga tidak berserakan / bercampur dengan benda lain dalam ruang tidur seperti pakaian.

Bila digabungkan, mana yang harus ditonjolkan, fungsi ruang kerja atau ruang tidurnya?
Kedua fungsi tetap dapat ditonjolkan melalui desain interior yang tepat guna, dan menarik.

Bagaimanakah menciptakan ruang tidur sekaligus ruang kerja yang nyaman?

  • Pertama, letakkan furniture yang paling sesuai di tempat yang sesuai pula, perkirakan tempat meletakkan meja kerja yang tidak mengganggu area tidur, dan sebaliknya.
  • Pilih dari jenis furniture yang baik dan sesuai untuk kedua fungsi tersebut berikut tempat penyimpan/kabinet yang cukup.
  • Pilih suasana ruang dengan warna, cahaya, dan tekstur material yang diinginkan.

Work space should remain a bedroom separated by using a partition or something. Better yet when separated. But sometimes because of limited space, the two rooms are mixed. It is OK when mixed, but certainly with a good design, such as don’t put a table facing the bed because it can cause you to feel sleepy! Desk overlooking the garden or even a fish pond will be okay, because it can add a refreshing element of work and pleasure.

What are the reasons that the residents combine these two spaces is mostly due to limited space, could also be because it is easy to reach the working space.

Tips to organize work space near the bedrooms.
When the two spaces that want to put together, what should be considered?
Note the direction towards the desk whenever possible not facing the bed. give a special cabinet or storage for work files, so it will not littered / mingled with other items such as clothing in the bedroom.

When combined, which must find, functional work space or sleeping space?
Both functions have to be combined to find the appropriate interior design.

How to create sleeping space as well as a comfortable working space?

  • First, place the most appropriate furniture in the appropriate places too, put a desk that does not disturb the sleeping area, and vice versa.
  • Choose the type of furniture which is good and suitable for both functions of the following storage / cabinet to be enough.
  • Choose an atmosphere of space with color, light, and texture of the desired material.

Berapa persen dari ruangan yang bisa dipakai untuk ruang kerjanya?
Tidak bisa ditentukan, karena berbagai aspek terutama dalam bekerja memerlukan luas ruang yang berbeda beda. Misalnya, bila Anda seorang pelukis, maka ruang kerjanya mungkin seperti sebuah studio yang besar. Bila seorang arsitek, perlu meja kerja, komputer, dan sebagainya. Bila seorang penulis, mungkin perlu sebuah meja yang nyaman untuk sekaligus menyimpan file2 kertas yang sangat banyak, serta sebuah komputer. Luas ruang bisa bervariasi misalnya 3x3m, 3x6m, atau bahkan sebuah studio 6x9m untuk pelukis dan pematung.

Yang lebih perlu diperhatikan tentunya ruang tidur yang nyaman dan ruang kerja sebenarnya tidak bisa dicampurkan karena fungsinya jelas berbeda. Tapi pemisahan grup furniture, misalnya area ruang tidur yaitu bed, kabinet, meja rias, dalam satu area, sedangkan furniture meja, meja gambar, peralatan, tempat file bekerja disatukan grupnya dibagian lain.

How much part of the room could be used for office?
It could not be determined, because many aspects, especially in the area of work requires a different room character. For example, if you’re a painter, then your office might be like a big studio. if you are an architect, you will need desks, computers, and so forth. When you are a writer, you may need a table convenient for storing files and papers, and a computer. Space can vary widely eg 3x3m, 3x6m, 6x9m, or even a studio room for painters and sculptors.

What needs to be considered to create a comfortable sleeping space and work space really can not be mixed because its function is clearly different. But the separation of a group of furniture, such as the bedroom area of bed, closet, dressing table, in one area, while the furniture desk, drawing table, equipment, where the files are put together its own group to work elsewhere.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

Menata ruang kerja bergabung dengan kamar tidur / Setting up workspace inside bedroom

Work station

astudioarchitect.com Dewasa ini banyak orang bekerja dirumah, karena profesi yang memungkinkan, misalnya profesi arsitek, blogger, penulis, konsultan, dan sebagainya. Termasuk penulis sendiri juga bekerja dan berkantor dirumah. Terkadang dibutuhkan ruang kerja di rumah yang bisa berdiri sendiri, atau digabung dengan ruang lain, seperti misalnya ruang tidur. Bisakah menggabungkan ruang tidur dengan ruang kerja?

Today many people work at home, for a profession that allows, for example, professional architects, bloggers, writers, consultants, and so forth. Including myself, I also work inside a home office located at my home. Sometimes it takes work space at home that could stand alone, or combined with other spaces, such as bedroom. Can we combine workspace with bedroom?

Sebaiknya ruang kerja tetap dipisahkan dengan kamar tidur menggunakan sekat atau semacam itu. Lebih baik lagi bila dipisahkan. Tapi kadangkala karena keterbatasan maka kedua ruang tersebut dicampur. Tidak apa2 bila dicampur, tapi tentunya dengan rancangan yang baik, misalnya meja kerja tidak menghadap tempat tidur karena bisa menimbulkan rasa ingin beristirahat. Meja kerja menghadap taman atau bahkan kolam ikan tidak apa-apa, karena bisa menambah kesenangan bekerja dan unsur refreshing.

Apa yang menjdi alasan sehingga si penghuni menggabungkan dua ruang tersebut adalah kebanyakan karena keterbatasan ruang, bisa juga karena kemudahan mencapai ruang kerja.

Tips menata ruang kerja yang dekat dengan ruang tidur.
Bila dua ruang itu ingin disatukan, apa saja yang harus diperhatikan?
Perhatikan arah hadap meja kerja bila memungkinkan jangan menghadap ke arah tempat tidur. berikan kabinet atau penyimpan yang khusus untuk file kerja sehingga tidak berserakan / bercampur dengan benda lain dalam ruang tidur seperti pakaian.

Bila digabungkan, mana yang harus ditonjolkan, fungsi ruang kerja atau ruang tidurnya?
Kedua fungsi tetap dapat ditonjolkan melalui desain interior yang tepat guna, dan menarik.

Bagaimanakah menciptakan ruang tidur sekaligus ruang kerja yang nyaman?

  • Pertama, letakkan furniture yang paling sesuai di tempat yang sesuai pula, perkirakan tempat meletakkan meja kerja yang tidak mengganggu area tidur, dan sebaliknya.
  • Pilih dari jenis furniture yang baik dan sesuai untuk kedua fungsi tersebut berikut tempat penyimpan/kabinet yang cukup.
  • Pilih suasana ruang dengan warna, cahaya, dan tekstur material yang diinginkan.

Work space should remain a bedroom separated by using a partition or something. Better yet when separated. But sometimes because of limited space, the two rooms are mixed. It is OK when mixed, but certainly with a good design, such as don’t put a table facing the bed because it can cause you to feel sleepy! Desk overlooking the garden or even a fish pond will be okay, because it can add a refreshing element of work and pleasure.

What are the reasons that the residents combine these two spaces is mostly due to limited space, could also be because it is easy to reach the working space.

Tips to organize work space near the bedrooms.
When the two spaces that want to put together, what should be considered?
Note the direction towards the desk whenever possible not facing the bed. give a special cabinet or storage for work files, so it will not littered / mingled with other items such as clothing in the bedroom.

When combined, which must find, functional work space or sleeping space?
Both functions have to be combined to find the appropriate interior design.

How to create sleeping space as well as a comfortable working space?

  • First, place the most appropriate furniture in the appropriate places too, put a desk that does not disturb the sleeping area, and vice versa.
  • Choose the type of furniture which is good and suitable for both functions of the following storage / cabinet to be enough.
  • Choose an atmosphere of space with color, light, and texture of the desired material.

Berapa persen dari ruangan yang bisa dipakai untuk ruang kerjanya?
Tidak bisa ditentukan, karena berbagai aspek terutama dalam bekerja memerlukan luas ruang yang berbeda beda. Misalnya, bila Anda seorang pelukis, maka ruang kerjanya mungkin seperti sebuah studio yang besar. Bila seorang arsitek, perlu meja kerja, komputer, dan sebagainya. Bila seorang penulis, mungkin perlu sebuah meja yang nyaman untuk sekaligus menyimpan file2 kertas yang sangat banyak, serta sebuah komputer. Luas ruang bisa bervariasi misalnya 3x3m, 3x6m, atau bahkan sebuah studio 6x9m untuk pelukis dan pematung.

Yang lebih perlu diperhatikan tentunya ruang tidur yang nyaman dan ruang kerja sebenarnya tidak bisa dicampurkan karena fungsinya jelas berbeda. Tapi pemisahan grup furniture, misalnya area ruang tidur yaitu bed, kabinet, meja rias, dalam satu area, sedangkan furniture meja, meja gambar, peralatan, tempat file bekerja disatukan grupnya dibagian lain.

How much part of the room could be used for office?
It could not be determined, because many aspects, especially in the area of work requires a different room character. For example, if you’re a painter, then your office might be like a big studio. if you are an architect, you will need desks, computers, and so forth. When you are a writer, you may need a table convenient for storing files and papers, and a computer. Space can vary widely eg 3x3m, 3x6m, 6x9m, or even a studio room for painters and sculptors.

What needs to be considered to create a comfortable sleeping space and work space really can not be mixed because its function is clearly different. But the separation of a group of furniture, such as the bedroom area of bed, closet, dressing table, in one area, while the furniture desk, drawing table, equipment, where the files are put together its own group to work elsewhere.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.