Memilih arsitek yang baik


astudioarchitect.com Sebuah email pertanyaan dari sahabat astudio Bapak Surya Adi Setiawan: Saya berencana membangun rumah dan saya bermaksud menggunakan jasa arsitek. Berdasarkan apa yang saya pernah dengar, bahwa jasa arsitek sebenarnya nggak perlu2 amat karena mereka cuman membantu kita menggambar 3D ruang2 yang telah kita rencanakan dari awal. Dan setelah saya lihat hasilnya (rumahnya ketika jadi) memang lebih banyak menggunakan ide dasar dari pemilik rumah dan tukang tanpa ada sentuhan2 ilmu arsitektur. Rumahnya juga menurut saya biasa2 aja dalam artian nggak ada bedanya pake arsitek ataupun tidak. Namun demikian saya masih yakin bahwasannya ilmu akan membedakan hasil dan saya menganggap mungkin saja seseorang tersebut dapat arsitek yang kurang bagus. 




Pertanyaan…
1. Apa yang perlu kita pertimbangkan sebelum kita memutuskan bekerja dengan atau memilih satu arsitek dibandingkan arsitek yang lain?
2. Bagaimana kita meyakinkan diri (dalam tahap pra kontrak) bahwa arsitek yang kita pilih ini akan memperkaya konsep kita tentang rumah idaman yang kita impikan dengan sentuhan2 ilmu arsitektur (bukan hanya sebagai tukang gambar 3D dari ruang2 yang telah kita rencanakan sebelumnya), hal tersebut berkaitan dengan DP yang harus kita setor dulu sebelum desain dikerjakan.

Terima kasih atas masukannya.

Salam Hangat,
Surya Adi Setiawan

Jawaban:


Dear pak Surya,
Memilih arsitek bisa berarti memilih orang yang akan membuatkan desain rumah buat kita, artinya selera yang kita miliki dicoba untuk diselaraskan dengan selera arsitek dalam mendesain, adakalanya tidak sesuai selera, adakalanya malah melebihi selera. Arsitek sebagai manusia seperti profesi lainnya memiliki banyak kelebihan dan kekurangan, kalau kekurangannya banyak ya hasil desainnya kurang bagus, kalau kelebihannya banyak boleh jadi sesuai atau lebih dari keinginan.

Kemampuan dan Pengetahuan
Untuk pertanyaan Bapak:
1. yang perlu dipertimbangkan adalah kemampuan dan contoh hasil kerja arsitek, serta apa arsitek tersebut bisa membantu dalam arti waktunya ada, kemampuan ada, dan bersedia membantu. Kadangkala ada arsitek yang mampu, tapi tidak ada waktu. Kadangkala ada arsitek yang mau dan ada waktu, tapi kemampuannya dibawah keinginan kita. Cara terbaik adalah melihat hasil karya arsitek yang bersangkutan. Tidak ada cara yang terbaik untuk mengetahui kemampuan seorang arsitek selain yang saya sebutkan ini.

2. Arsitek yang baik biasanya memiliki pengetahuan dan naluri yang baik untuk ‘ruang’ bukan ‘bentuk’, dalam arti dia tidak melihat ‘bentuk’ dari bangunan saja, tapi juga mampu memprediksikan aspek-aspek ruang bila bangunan tersebut diwujudkan. Jadi arsitektur yang dihasilkan itu bukan hanya 3D atau gambar kerja saja, tapi juga merupakan prediksi dari ruang dan bagaimana ruang tersebut berpengaruh pada kehidupan kita, tidak hanya dari sisi tampilan saja atau ‘terlihat bagus’ tapi juga ‘nyaman dihuni’ dimana kita bisa beraktivitas dengan baik.

Aspek lainnya seperti pengetahuan tentang penataan ruang, hubungan dengan ruang luar, material, bentuk, ruang, rasa, vegetasi, dan sebagainya, serta tidak kalah penting yang Bapak sebutkan sebagai ‘bagus’ bisa diartikan secara visual ‘menarik’ tidak hanya dari depan, tapi juga dari dalam terutama saat kita merasakan dan menghuni ruang tersebut.

‘Bagus’ bukan berarti tampilan sajatapi juga kualitas dari berbagai aspek, bukan hanya terlihat ‘cling’, megah, mewah, minimalis, atau apa saja…. tapi lebih dari itu, sebagai manusia tentunya memiliki sisi-sisi kemanusiaan yang diharapkan muncul dari desain tersebut.

Jawaban yang saya berikan juga termasuk jawaban yang sangat ideal dalam arti saya harus sejujur mungkin untuk jujur pada Bapak bahwa dalam komunikasi dengan klien kadang2 terdapat semacam ‘ekspektasi yang berlebih’ untuk mendapatkan desain yang paling diinginkan, bisa muncul menjadi kekecewaan karena faktor2 berikut:

– dominasi salah satu pihak terlalu besar; baik dari sisi arsitek ataupun dari sisi pengguna layanan.
– waktu yang diberikan kurang untuk mencapai hasil yang baik
– dari dana yang ada ternyata dipandang hasil karya arsitek terlalu mahal atau tidak sesuai untuk diwujudkan.
– kesalahan persepsi dan komunikasi yang menjadikan proses desain kurang nyaman namun dengan komunikasi yang baik bisa mencapai kesepakatan desain.
– arsitek atau klien kurang memiliki waktu untuk meneliti atau mempelajari berbagai aspek rancangan.
– Hasil karya dan kinerja arsitek tidak memuaskan


Demikian pak Surya, jawaban saya.
Semoga membantu Bapak.

________________________________________________

by Probo Hindarto© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s