Memahami Efek Rumah Kaca dan Hubungannya dengan Arsitektur


astudioarchitect.com Memahami mekanisme

Efek Rumah Kaca

dan hubungannya dengan arsitektur dan konstruksi bangunan bisa membuat kita makin jeli dalam mendesain bangunan. Efek rumah kaca merupakan efek yang ditimbulkan oleh gas yang berada di atmosfer, keberadaannya merupakan sesuatu yang positif dalam level normal, tapi menjadi negatif ketika ada gas-gas tertentu yang mengganggu keseimbangan. Efek rumah kaca diperlukan untuk mempertahankan suhu diatas kerak bumi atau di udara tempat kita hidup dalam ambang normal, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Bila gas tertentu makin banyak, maka suhu bumi akan meningkat. Sejak terjadinya revolusi industri, emisi gas yang berpengaruh pada efek rumah kaca menjadi makin tinggi.



Gas-gas yang dimaksud adalah sebagai berikut:


– Uap air (H2O)
– Karbon dioksida (CO2)
– gas Metan (CH4)
– Ozon (O3)


Gas-gas diatas berkontribusi untuk mempertahankan suhu diatas bumi menjadi nyaman ditinggali manusia dalam arti tidak terlalu panas. Gas-gas ini memiliki kemampuan menyerap dan memancarkan radiasi panas gelombang infrared panjang (Long Wavelength Infrared) yang dimiliki oleh gas-gas tersebut.


Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan suhu karena ketidak-seimbangan gas-gas yang berkontribusi pada efek rumah kaca, namun perubahan terbesar disebabkan oleh emisi karbon dioksida (CO2) yang ditimbulkan oleh hasil pembakaran bahan bakar fosil, atau minyak dan gas bumi. Peningkatan CO2 juga disebabkan oleh pembakaran hutan untuk pertanian dan industrialisasi.





Terutama dari hasil pembakaran bahan bakar fosil, CO2 menyumbang peningkatan suhu dalam efek rumah kaca yang terbesar, terutama setelah adanya revolusi industri. Selama 800.000 tahun, kadar CO2 dalam udara diatas bumi selalu konstan dalam kisaran 180ppm dan 280ppm, dan meningkat dengan drastis dalam 250 tahun terakhir (wikipedia).


Peningkatan suhu disebabkan perubahan efek rumah kaca menyebabkan banyak perubahan dalam sistem biologis dan ekologis diatas bumi yang kebanyakan merupakan perubahan bersifat destruktif. Antara lain: peningkatan suhu menyebabkan es kutub menncair dan mempertinggi level permukaan air laut, dalam 30 tahun kedepan akan mengakibatkan banyak pulau dan bagian daratan tenggelam.


Beberapa penyebab utama dari peningkatan kadar CO2 disebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca dalam berbagai sektor:


– Pembangkit tenaga listrik berbahan bakar minyak (21,3%)
– Proses Industri ((16,8%)
– Transportasi (14%)
– Agroindustri (12,5%)
– Pemrosesan minyak dan distribusinya (11,3%)
– Rumah tinggal, bangunan komersil, dsb (10,3%)
– Penggunaan tanah dan pembakaran tanaman (10%)
– Pengolahan sampah (3,4%)


Bisa diperhatikan bahwa bidang konstruksi menyumbang sekitar 10% dari emisi CO2 yang meningkatkan suhu dalam efek rumah kaca. Sumber dari rumah tinggal dan bangunan banyak disebabkan oleh penggunaan AC, konsumsi listrik, dan transportasi. Jangan lupa bahwa dengan faktor uap air yang bisa meningkatkan suhu bumi dalamefek rumah kaca, maka menguapnya air yang lebih banyak berarti juga mempengaruhi subu bumi, dalam hal ini adalah agroindustri, meningkatnya uap air dari meningkatnya lahan sawah dan kebun.

Indonesia termasuk 5 besar
penyumbang emisi karbon dioksida

dengan peringkat sebagai berikut:


– China, per tahun menyumbang 17%
– USA, per tahun menyumbang 16%
– Uni Eropa, pertahun menyumbang 11%
– Indonesia, pertahun menyumbang 6%
– India, pertahun menyumbang 5%


Jadi bagaimana sebuah negara yang ‘berkembang’ seperti Indonesia menyumbang 6% dari kadar CO2 dalam udara di bumi?


Hal ini karena di Indonesia tidak ada regulasi untuk mengatur jumlah emisi karbon dengan peraturan perindustrian yang tidak jelas dan tidak adanya pembatasan kendaraan bermotor. Selain itu beberapa faktor lain berkaitan dengan arsitektur dan bangunan
adalah sebagai berikut:



– Pemakaian bahan material ‘mahal’ yang membutuhkan energi fosil lebih banyak dalam proses produksi dan distribusinya. Contohnya: ‘Marmer Italy’, mengapa harus dari Italy bila dari lokal sudah ada? Proses produksi di negara yang tidak memiliki energi fosil yang melimpah, contohnya: Indonesia mengekspor baja, diproduksi oleh Jepang, Jepang mendapatkan minyak dari Indonesia, kemudian dikirim kembali ke Indonesia dalam bentuk material atau barang. Keseluruhan produksi memakan energi yang sangat besar dan emisi karbonnya juga jauh lebih tinggi.
– Penggunaan AC untuk mengkondisikan udara, baik menjadi lebih dingin atau lebih hangat, merupakan proses yang mengeluarkan O3 atau gas ozon yang berdampak pada peningkatan suhu bumi. Satu AC di rumah kita mungkin berpengaruh sangat besar bagi peningkatan suhu bumi, karena itu, dari awal sebaiknya dipikirkan bagaimana membuat rumah yang bisa sejuk tanpa AC





– Proses konstruksi yang tidak efisien energi, menghasilkan lebih banyak CO2, misalnya: renovasi yang tidak diperlukan atau tanpa perencanaan, proses renovasi menimbulkan emisi CO2 dari gas buang kendaraan dalam proses produksi dan distribusi material.
– Pemakaian barang elektronik membutuhkan energi listrik, dan banyak energi listrik dibangkitkan oleh pembangkit listrik berbahan minyak / fosil. Proses menghasilkan energi listrik menimbulkan pencemaran CO2.
– Arsitektur bangunan yang tidak didesain dengan baik membutuhkan penerangan dan penghawaan buatan yang membutuhkan energi dari pembakaran fosil untuk menghasilkan listrik tersebut.
– Pemilihan jenis rumah, dimana jenis rumah yang berdiri sendiri menurut penelitian memerlukan listrik lebih banyak daripada jenis rumah-rumah townhouse
– Tidak adanya pepohonan dan tanaman yang mencukupi di area bangunan atau rumah tinggal menyebabkan panas yang dipantulkan ke udara dan ditangkap oleh gas rumah kaca yaitu H2O, CO2, CH4, dan O3. Disamping itu kurangnya pepohonan berarti berkurangnya H2O atau uap air dan CO2 yang ditangkap oleh daun tanaman dalam proses fotosintesis.
– Menutupi area tanah dengan bangunan dan perkerasan, menyebabkan tidak adanya tanaman.

________________________________________________

by Probo Hindarto (artikel ini mungkin belum lengkap)
Picture credit (from top to bottom):
– by Daryl Marquardt
– by chooyutshing
– by rockriver
Pictures are used under Creative Commons Lisence.

© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

2 responses to “Memahami Efek Rumah Kaca dan Hubungannya dengan Arsitektur

  1. Terimakasih sebelumnya Pak. sudah banyak berbagi ilmu arsitektur di sini.saya sebagai mahasiswa juga belajar dari tulisan-tulisan Bapak.saya ingin berkomentar.setahu saya. penggunaan AC untuk mengkondisikan udara bukan merupakan proses yang mengeluarkan O3 atau gas ozon, melainkan mengeluarkan CFC (Chloro Fluoro Carbon) atau gas freon. CFC dapat menipiskan hingga melubangi lapisan Ozon (O3) di atmosfer. Lapisan ozon di atmosfer melindungi bumi dari sinar-sinar berbahaya. jadi CFC-lah yg termasuk gas perusak yg memperparah peningkatan suhu bumi.

  2. Terimakasih informasinya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s