Monthly Archives: Desember 2010

>Kenyamanan dalam Bangunan berdasarkan kondisi tubuh dan suhu

>

astudioarchitect.com Apakah ruang tamu atau ruang kerja Anda nyaman? Sebuah ruangan, misalnya didalam rumah, dalam mall, atau di manapun juga, selalu dirasakan oleh tubuh sebagai tingkat kenyamanan. Tingkat kenyamanan dalam ruangan merupakan hal yang relatif, karena bila ditanya tentang ‘apakah sebuah ruangan nyaman atau tidak?’ biasanya tergantung pada kondisi tubuh seseorang dan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Biasanya tingkat kenyamanan berkaitan erat dengan suhu, kelembaban, dan sebagainya.

Tubuh kita bisa ‘merasakan’ bila sebuah ruangan terasa tidak nyaman, terutama dari segi suhu ruangan. Bila suhu ruangan terasa panas, maka akan berkeringat. Bila terlalu dingin, maka pori-pori akan menciut. Tubuh manusia ber-metabolisme agar berfungsi dengan baik, biasanya tubuh akan berusaha mempertahankan suhu didalam (internal) dalam kisaran 37 derajat Celcius. Bila suhu ruangan atau suhu luar tubuh lebih rendah, atau lebih tinggi, maka tubuh akan tetap berusaha membuat suhu internal tubuh tetap dalam kisaran 37 derajat C agar metabolisme normal.

Gambar atas kiri: sebuah bangunan di Nicaragua didesain oleh Marina Gousia, sepertinya menerapkan prinsip desain untuk iklim tropis panas. Atap yang terpisah dari bangunan berfungsi seperti payung yang melindungi bagian bawahnya agar tetap dingin, justru karena dipisahkan dari atap, maka ‘box’ ruangan akan menjadi makin dingin. Adapun ‘secondary skin’ merupakan sarana agar panas luar tersaring di area teras.
Sumber gambar: http://www.worldarchitecture.org/world-students/student-design.asp?position=detail&no=4153

METABOLISME adalah serangkaian proses kimia dalam tubuh, agar tubuh kita bisa berfungsi, bergerak, dan tetap hidup, termasuk tetap nyaman 🙂

Some rights reserved by subcomandanta

Misalnya, bila ruangan terlalu panas, maka tubuh akan mengeluarkan keringat untuk membantu mendinginkan suhu internal. Gunanya agar panas dari evaporasi (penguapan) keringat tersebut bisa terbawa oleh udara. Karena itu akan terasa sejuk bila ada udara mengalir, misalnya memakai kipas angin. Kipas angin membantu mengalirkan udara agar suhu kulit menurun, tapi hal ini tentunya bila udara terasa panas maka keringat bisa keluar. Tidak heran, bila sebuah ruangan terasa panas dan lembab, adanya kipas angin bisa membantu menurunkan suhu pada kulit kita. Udara yang lembab bisa membuat suasana terasa panas karena makin lembab (makin banyak uap air), maka makin susah membuang panas tubuh melalui kulit.

Bila udara ruangan terlalu dingin, atau sedang berada di wilayah dingin seperti pegunungan, maka tubuh kita akan beradaptasi dengan menaikkan suhu agar suhu dalam atau internal tubuh bisa mencapai kisaran 37 derajat Celcius. Hal ini membuat tubuh mengeluarkan panas hingga 4 kali lipat dari panas internal yang dibutuhkan. Bagian tubuh yang paling banyak mengeluarkan panas antara lain belakang leher, ketiak, punggung, dan bagian tubuh lain. Karena itu pada kondisi kedinginan, kita akan merasa nyaman menggunakan syal, sweater, kaos kaki, dan sebagainya. Namun pada kondisi dingin yang sangat ekstrim, bagian kepala kita termasuk bagian tubuh yang paling mengeluarkan panas untuk mempertahankan suhu dalam otak agar fungsi tubuh berjalan sempurna. Pada kondisi yang sangat ekstrim ini, biasanya rambut bisa berdiri untuk membantu mempertahankan / memperhangat suhu dalam ruang antara rambut.

tabel standar saran untuk jumlah pertukaran udara masing-masing ruangan di rumah terlihat bahwa dapur harus mengalami pertukaran udara setidaknya 100x setiap jam, berarti dapur harus benar-benar diperhatikan pertukaran udaranya, sementara itu… masih banyak dapur di rumah-rumah yang kurang ventilasinya. 
sumber gambar: Ilmu Fisika Bangunan, Heinz Frick

Kecepatan angin berpengaruh pada kenyamanan pada kulit tubuh manusia. Bisa dilihat pada tabel diatas kecepatan angin yang bergerak paling nyaman adalah sekitar 0,25-0,5 m/detik merupakan gerakan udara yang paling nyaman. 
sumber gambar: Ilmu Fisika Bangunan, Heinz Frick

Gambaran pergerakan udara dan panas yang terjadi dalam sebuah ruang kerja
sumber gambar: Ilmu Fisika Bangunan, Heinz Frick

Pada bangunan yang berada di daerah panas, bila tidak menggunakan AC, cara terbaik adalah dengan menyediakan ventilasi bangunan yang baik, yaitu jenis ventilasi silang. Turunkan suhu sekitar rumah atau bangunan dengan menanam pohon dan rerumputan, sehingga mengurangi penggunaan AC. dan berbagai tips lain bisa Anda lihat pada artikel bagaimana agar rumah tanpa AC.

Semoga artikel ini bermanfaat 🙂

————————————–

Tambahan diagram (dari buku “Agar Rumah tidak Gelap dan tidak Pengap”, karangan Gatut Susanta)

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Atap anyaman dengan struktur kayu dan bambu

astudioarchitect.com Dewasa ini material bangunan yang langsung didapat dari alam banyak mencerminkan gerakan kembali ke alam. Material bangunan seperti atap ijuk, alang-alang, tebu, dengan konstruksi sederhana seperti kayu, bambu dan papan mulai diminati sebagai alternatif sangat murah membangun bangunan seperti kafe, teras, gazebo, dan sebagainya. Material ini lumayan banyak yang mulai digunakan karena faktor murahnya. Material penutup atap ini dibuat dari daun tebu, merupakan material alternatif untuk penutup atap, dengan konstruksi yang relatif sederhana. Rangka bangunan bisa dibuat dari kayu dengan penutup bambu anyaman (gedhek), bisa juga menggunakan papan tripleks atau multipleks.

Setelah mengobrol dengan pemilik bangunan beratap anyaman daun ini saya mengetahui beberapa hal tentang atap tersebut. Konstruksinya cukup dibuat dari tiang-tiang dan kuda-kuda kayu seperti biasa, bahkan bisa menggunakan kayu sengon atau jati Jawa. Di bagian yang menumpu pada kuda-kuda bisa diberi usuk yang langsung menumpu pada balok atas dinding dan bubungan.

Diatas usuk, terdapat reng yang juga berfungsi sebagai pengikat anyaman daun bambu, dimana rata-rata bambu plus anyamannya seharga Rp2000 – Rp3000,- dengan panjang beberapa meter, disusun dengan jarak kurang lebih 10 cm antar bambu.

Menurut saya kondisi biofisika yang terjadi dalam ruang dibawah atap ini terlampau sejuk, dibandingkan dengan menggunakan atap asbes atau seng (pabrikan). Hal ini karena adanya ruang antara atau pori-pori, namun sama dengan material murah yang lain, perlu diganti setiap 1-1,5 tahun sekali. sehubungan dengan kemungkinan kebocoran.

Pada gambar ini terdapat lubang-lubang pada atap yang bisa ditangani dengan mudah, yaitu mengganti bilah bambu ber-anyaman daun tebu seharga Rp2000,- tentunya sangat murah.

Satu hal paling ‘keren’ dari struktur sederhana ini adalah kesan ‘resort’ atau kesan alami yang sangat menenangkan, apalagi ditambahkan dengan unsur bambu bilah sebagai kisi-kisi pengganti dinding, sangat sesuai untuk bangunan non permanen untuk menambahkan ruang rumah tinggal, kafe, dan sebagainya. Misalnya digunakan untuk dapur bersuasana alami, atau tempat duduk-duduk, teras, dan sebagainya.

NOTE: Kasus kebakaran atap rumbia/ alang-alang yang terjadi pada tahun 2009 diberitakan oleh Suara Surabaya pada September 2009. Kasus kebakaran atap rumbia atau alang-alang terjadi dengan pemicu arus pendek listrik, cuaca panas dan kemudahan terbakar. Bila membuka artikel di internet seputar ‘atap alang alang terbakar’… sepertinya selalu ada pemicunya… seperti arus pendek, petasan yang dilempar… tapi bukan dari panas langsung membakar materialnya…

Bila material ini disentuh bagian bawahnya, material  memang bawahnya dingin (tidak panas) untuk material daun tebu ini. Sepertinya kita tidak harus berhenti memakai material ini karena takut terbakar… Barangkali terdapat penyelesaian arsitekturalnya… misalnya: tumbuhkan pohon peneduh disekitar atap alang2… he he

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

>Atap anyaman dengan struktur kayu dan bambu

>

astudioarchitect.com Dewasa ini material bangunan yang langsung didapat dari alam banyak mencerminkan gerakan kembali ke alam. Material bangunan seperti atap ijuk, alang-alang, tebu, dengan konstruksi sederhana seperti kayu, bambu dan papan mulai diminati sebagai alternatif sangat murah membangun bangunan seperti kafe, teras, gazebo, dan sebagainya. Material ini lumayan banyak yang mulai digunakan karena faktor murahnya. Material penutup atap ini dibuat dari daun tebu, merupakan material alternatif untuk penutup atap, dengan konstruksi yang relatif sederhana. Rangka bangunan bisa dibuat dari kayu dengan penutup bambu anyaman (gedhek), bisa juga menggunakan papan tripleks atau multipleks.

Setelah mengobrol dengan pemilik bangunan beratap anyaman daun ini saya mengetahui beberapa hal tentang atap tersebut. Konstruksinya cukup dibuat dari tiang-tiang dan kuda-kuda kayu seperti biasa, bahkan bisa menggunakan kayu sengon atau jati Jawa. Di bagian yang menumpu pada kuda-kuda bisa diberi usuk yang langsung menumpu pada balok atas dinding dan bubungan.

Diatas usuk, terdapat reng yang juga berfungsi sebagai pengikat anyaman daun bambu, dimana rata-rata bambu plus anyamannya seharga Rp2000 – Rp3000,- dengan panjang beberapa meter, disusun dengan jarak kurang lebih 10 cm antar bambu.

Menurut saya kondisi biofisika yang terjadi dalam ruang dibawah atap ini terlampau sejuk, dibandingkan dengan menggunakan atap asbes atau seng (pabrikan). Hal ini karena adanya ruang antara atau pori-pori, namun sama dengan material murah yang lain, perlu diganti setiap 1-1,5 tahun sekali. sehubungan dengan kemungkinan kebocoran.

Pada gambar ini terdapat lubang-lubang pada atap yang bisa ditangani dengan mudah, yaitu mengganti bilah bambu ber-anyaman daun tebu seharga Rp2000,- tentunya sangat murah.

Satu hal paling ‘keren’ dari struktur sederhana ini adalah kesan ‘resort’ atau kesan alami yang sangat menenangkan, apalagi ditambahkan dengan unsur bambu bilah sebagai kisi-kisi pengganti dinding, sangat sesuai untuk bangunan non permanen untuk menambahkan ruang rumah tinggal, kafe, dan sebagainya. Misalnya digunakan untuk dapur bersuasana alami, atau tempat duduk-duduk, teras, dan sebagainya.

NOTE: Kasus kebakaran atap rumbia/ alang-alang yang terjadi pada tahun 2009 diberitakan oleh Suara Surabaya pada September 2009. Kasus kebakaran atap rumbia atau alang-alang terjadi dengan pemicu arus pendek listrik, cuaca panas dan kemudahan terbakar. Bila membuka artikel di internet seputar ‘atap alang alang terbakar’… sepertinya selalu ada pemicunya… seperti arus pendek, petasan yang dilempar… tapi bukan dari panas langsung membakar materialnya…

Bila material ini disentuh bagian bawahnya, material  memang bawahnya dingin (tidak panas) untuk material daun tebu ini. Sepertinya kita tidak harus berhenti memakai material ini karena takut terbakar… Barangkali terdapat penyelesaian arsitekturalnya… misalnya: tumbuhkan pohon peneduh disekitar atap alang2… he he

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Pasar tradisional

astudioarchitect.com pasar seperti ini merupakan pasar rakyat yang makin tergantikan oleh ‘mart’2 yang selalu berusaha menggantikan keberadaan mereka. Kondisinya kurang layak, sempit, terlihat berserakan, becek, tidak modern, terkesan kotor/kumuh, parkir seenaknya, sampah berserakan dan penuh di tong-tongnya. Dengan mudah akan digantikan oleh ‘mart2’ besar ataupun dekat dengan jalan paling dekat dengan permukiman penduduk.
Bila kita lihat sedikit kebijakan pemerintah daerah pasti akan sangat berpengaruh, baik itu kebijakan yang negatif ataupun positif terhadap eksistensi mereka. Kebijakan yang dimaksud adalah jarak minimum untuk pasar tradisional dan pasar modern (kata ganti untuk supermarket), dimana seharusnya terdapat jarak minimum antara kedua jenis pasar tersebut untuk melindungi keberadaan pasar tradisional, sekaligus melindungi heritage kebudayaan dari tangan-tangan kapitalisme.

Contoh kasus pasar ini berada di dekat pusat perbelanjaan kecil dengan tipe supermarket modern dimana pengunjung akan dimanjakan dengan fasilitas modern yang bersih, mudah, dan terlihat jauh lebih elegan.

Kebijakan pemerintah yang seringkali mengabaikan keberadaan pasar tradisional akan berakibat pasar seperti ini tidak laku dengan adanya ‘mart2’ yang berlomba-lomba muncul dan merajai pasar.

Meskipun demikian, masyarakat miskin banyak yang lebih nyaman untuk membeli kebutuhan di pasar tradisional sehubungan dengan beberapa hal seperti adanya kemungkinan menawar, tidak adanya ‘gap’ image kelas ekonomi, dan kebiasaan.

Solusi yang mungkin dibuat secara arsitektural adalah perbaikan sarana dan citra pasar tradisional dengan fasilitas seperti

– selasar yang lebih baik,
– pencahayaan dan penghawaan yang memadai
– sanitasi
– sistem pembuangan sampah
– manajemen pasar tradisional yang terintegrasi dengan pariwisata daerah, dengan mengangkat potensi wisata yang dipadukan dengan citra tradisional yang akan memperkuat keberadaan pasar tradisional tersebut.

Satu faktor yang tak kalah pentingnya: manajemen pasar yang selama ini ada terlihat kasar dan tidak manusiawi, menunjukkan ketidak-seriusan pemerintah dengan berbagai kasus korupsinya.

BEBERAPA GAMBARAN PASAR TRADISIONAL


Pasar tradisional di Seoul, Korea
source: http://blog.bandar360.com


Pasar tradisional di Kaohsiung, Taiwan
source: http://www.travelpod.com

Some rights reserved by [Jezza] on Flickr

Pasar tradisional yang manusiawi bisa menjadi tempat yang sarat dengan unsur kultural, mengingat pasar tradisional adalah peninggalan budaya masing-masing daerah di seluruh dunia. Kebudayaan dan keberagaman terpancar dengan sangat kuat melalui pasar tradisional. 

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

>Pasar tradisional

>

astudioarchitect.com pasar seperti ini merupakan pasar rakyat yang makin tergantikan oleh ‘mart’2 yang selalu berusaha menggantikan keberadaan mereka. Kondisinya kurang layak, sempit, terlihat berserakan, becek, tidak modern, terkesan kotor/kumuh, parkir seenaknya, sampah berserakan dan penuh di tong-tongnya. Dengan mudah akan digantikan oleh ‘mart2’ besar ataupun dekat dengan jalan paling dekat dengan permukiman penduduk.

Bila kita lihat sedikit kebijakan pemerintah daerah pasti akan sangat berpengaruh, baik itu kebijakan yang negatif ataupun positif terhadap eksistensi mereka. Kebijakan yang dimaksud adalah jarak minimum untuk pasar tradisional dan pasar modern (kata ganti untuk supermarket), dimana seharusnya terdapat jarak minimum antara kedua jenis pasar tersebut untuk melindungi keberadaan pasar tradisional, sekaligus melindungi heritage kebudayaan dari tangan-tangan kapitalisme.

Contoh kasus pasar ini berada di dekat pusat perbelanjaan kecil dengan tipe supermarket modern dimana pengunjung akan dimanjakan dengan fasilitas modern yang bersih, mudah, dan terlihat jauh lebih elegan.

Kebijakan pemerintah yang seringkali mengabaikan keberadaan pasar tradisional akan berakibat pasar seperti ini tidak laku dengan adanya ‘mart2’ yang berlomba-lomba muncul dan merajai pasar.

Meskipun demikian, masyarakat miskin banyak yang lebih nyaman untuk membeli kebutuhan di pasar tradisional sehubungan dengan beberapa hal seperti adanya kemungkinan menawar, tidak adanya ‘gap’ image kelas ekonomi, dan kebiasaan.

Solusi yang mungkin dibuat secara arsitektural adalah perbaikan sarana dan citra pasar tradisional dengan fasilitas seperti

– selasar yang lebih baik,
– pencahayaan dan penghawaan yang memadai
– sanitasi
– sistem pembuangan sampah
– manajemen pasar tradisional yang terintegrasi dengan pariwisata daerah, dengan mengangkat potensi wisata yang dipadukan dengan citra tradisional yang akan memperkuat keberadaan pasar tradisional tersebut.

Satu faktor yang tak kalah pentingnya: manajemen pasar yang selama ini ada terlihat kasar dan tidak manusiawi, menunjukkan ketidak-seriusan pemerintah dengan berbagai kasus korupsinya.

BEBERAPA GAMBARAN PASAR TRADISIONAL


Pasar tradisional di Seoul, Korea
source: http://blog.bandar360.com


Pasar tradisional di Kaohsiung, Taiwan
source: http://www.travelpod.com

Some rights reserved by [Jezza] on Flickr

Pasar tradisional yang manusiawi bisa menjadi tempat yang sarat dengan unsur kultural, mengingat pasar tradisional adalah peninggalan budaya masing-masing daerah di seluruh dunia. Kebudayaan dan keberagaman terpancar dengan sangat kuat melalui pasar tradisional. 

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Serba-serbi lantai

astudioarchitect.com Lantai adalah bagian dasar dari rumah, merupakan bidang tempat berpijaknya kaki. Lantai biasanya merujuk pada bidang yang ada pada bangunan disebelah bawah. Taman, perkerasan atau paving block tidak termasuk lantai. Lantai juga merupakan tempat berpijak sebagai landasan atau dasar dari benda-benda dalam rumah, termasuk penghuni didalamnya. Jadi semacam bidang atau permukaan, baik itu permanen ataupun non permanen. Apa saja yang sebenarnya harus kita perhatikan ketika ingin memasang lantai pada sebuah rumah?

Top photo: Some rights reserved by *n*o*o*r* on Flickr

Untuk memasang material lantai seperti keramik, parket, dan sebagainya memerlukan penanganan yang berbeda pada masing-masing material tersebut. Benang merahnya adalah landasan dari lantai harus kuat tapi bisa bergerak, karena ada kecenderungan material seperti keramik memiliki muai susut sehingga bagian bawah lantai sebaiknya bisa bergerak. Yang paling sering digunakan adalah pasir sebagai landasan untuk keramik. Adapun material lain seperti kayu parket, membutuhkan lapisan untuk dasar parket yaitu plesteran dan papan komposit. Sedangkan untuk material flooring kayu olahan, lebih mudah biasanya menggunakan dasar bidang yang disediakan oleh penyedia material flooring tersebut.

Jenis-jenis lantai pada rumah?

Jenis lantai bisa dibedakan dari ruang, jenis material, ketinggian lantai, dan sebagainya.
Dari ruang, lantai bisa berfungsi sebagai dasar dari sebuah ruangan, seperti ruang tamu, ruang tidur dan sebagainya, keberadaannya ditentukan oleh dinding-dinding yang melingkupinya. Sedangkan untuk lantai ruang yang tidak disekat, seperti lantai ruang dapur dan ruang makan, bisa dibedakan dari jenis, warna, atau material lantai.

Ketinggian lantai juga bisa memberi perbedaan pada lantai, misalnya, ruang keluarga ditinggikan dari ruang tamu, dan sebagainya sehingga dengan beda level lantai, akan lebih terasa perbedaan ruangnya.
Kekurangan dan juga kelebihan dari jenis-jenis lantai tersebut?

Some rights reserved by roger_mommaerts on Flickr

Material keramik termasuk material yang paling mudah didapatkan, dan tersedia di banyak toko bangunan, serta merupakan material yang kuat sekali dan tahan lama, karena itu paling sering dipakai.

Material kayu asli yaitu parket merupakan material yang elok dipandang, hangat, terasa alami bila dirasakan kulit. Tapi material kayu asli makin mahal dan jarang.

Material kayu olahan yaitu flooring atau parket olahan, merupakan material pabrikan dengan finishing permukaan kayu asli yang tipis, terlihat seperti kayu yang alami dan cukup sesuai digunakan sebagai pengganti kayu asli.

Material terakota bisa digunakan seperti susunan bata bisa lebih murah, terkesan alami namun mudah pecah.

Material paving block, ubin atau beton prefab, adalah beton yang dicetak dengan ukuran tertentu, material ini sangat kuat dan tahan lama, namun coraknya hampir tidak ada dan sangat jarang dibuat. Biasanya ada di rumah-rumah Belanda.

Material lain seperti susunan atau anyaman bambu, plastik, dan sebagainya dewasa ini banyak dikembangkan.
 
Bagaimana seharusnya menggunakan / memilih lantai pada rumah dengan tepat?

Pertama, berapa dana yang ada dan tersedia untuk membeli material yang tepat dan sesuai dengan budget.
Kedua, material apa yang sesuai, dan motifnya bagaimana. Kebanyakan, memilih motif keramik sangat penting karena harus sesuai warnanya dengan warna dari keseluruhan tema rumah.
Ketiga, cara memasangnya harus benar, demikian juga dengan perawatannya.

Apa saja trend saat ini yang berkembang, berkaitan dengan lantai pada rumah?

Material baru yang berkembang sangat pesat dan dibuat dari macam-macam bahan, seperti plastik, kayu olahan, bahan alami seperti eceng gondok atau bambu, juga makin dikembangkan. Adapun coraknya makin bervariasi sehingga bisa disesuaikan dengan tema rumah.

Some rights reserved by Dieselbug2007 @ flickr

Bagaimana seharusnya apabila ingin menciptakan suatu lantai yang indah tetapi dengan budget yang minim?

Kita bisa bermain dengan motif, dengan selang-seling keramik lantai, atau dengan pengaturan yang terlihat berseni, misalnya memasang secara diagonal. Banyak juga alternatif menggunakan material untuk lantai, misalnya seperti keramik pecah yang disusun, seperti artikel saya ini:

http://astudioarchitect.com/2008/09/mozaik-keramik-pecah.html

Kerusakan-kerusakan apa saja yang sering terjadi pada lantai pada rumah?

Kebanyakan adalah pecah, terkelupas, menyusut atau memuai, retak dan sebagainya.

Bagaimana cara mengatasinya?

Mengganti material lantainya adalah yang terbaik. Tapi cara murah bisa juga dengan menambal atau mengganti materialnya, seperti mengganti keramik, tapi kadang tidak bagus secara estetika karena bila tidak sesuai atau tidak pas memasang, baik corak, dimensi dan sebagainya akan berpengaruh.

Hal lain tentang “Lantai pada rumah”?

Lantai harus disesuaikan temanya dengan ruangan, misalnya dari segi pemilihan material, warna maupun corak. Ada corak atau pola material yang sangat kuat sehingga tidak terlalu cocok diaplikasikan untuk tema rumah tertentu. Untuk material lantai yang coraknya lembut bisa diaplikasikan pada tema yang cenderung lembut juga. Untuk rumah modern, lebih sesuai menggunakan material lantai dengan kesan dan warna natural seperti warna hitam, putih, coklat, abu-abu dengan berbagai gradasi warna dan corak materialnya.

Jangan takut mencoba untuk mengaplikasikan desain lantai yang unik, misalnya dengan membuat perbedaan motif dan warna keramik, tapi jangan sampai terlihat norak juga karena pemilihan yang keliru. Dalam hal ini desain warna dan interior akan sangat membantu merencanakannya.

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

>Serba-serbi lantai

>

astudioarchitect.com Lantai adalah bagian dasar dari rumah, merupakan bidang tempat berpijaknya kaki. Lantai biasanya merujuk pada bidang yang ada pada bangunan disebelah bawah. Taman, perkerasan atau paving block tidak termasuk lantai. Lantai juga merupakan tempat berpijak sebagai landasan atau dasar dari benda-benda dalam rumah, termasuk penghuni didalamnya. Jadi semacam bidang atau permukaan, baik itu permanen ataupun non permanen. Apa saja yang sebenarnya harus kita perhatikan ketika ingin memasang lantai pada sebuah rumah?

Top photo: Some rights reserved by *n*o*o*r* on Flickr

Untuk memasang material lantai seperti keramik, parket, dan sebagainya memerlukan penanganan yang berbeda pada masing-masing material tersebut. Benang merahnya adalah landasan dari lantai harus kuat tapi bisa bergerak, karena ada kecenderungan material seperti keramik memiliki muai susut sehingga bagian bawah lantai sebaiknya bisa bergerak. Yang paling sering digunakan adalah pasir sebagai landasan untuk keramik. Adapun material lain seperti kayu parket, membutuhkan lapisan untuk dasar parket yaitu plesteran dan papan komposit. Sedangkan untuk material flooring kayu olahan, lebih mudah biasanya menggunakan dasar bidang yang disediakan oleh penyedia material flooring tersebut.

Jenis-jenis lantai pada rumah?

Jenis lantai bisa dibedakan dari ruang, jenis material, ketinggian lantai, dan sebagainya.
Dari ruang, lantai bisa berfungsi sebagai dasar dari sebuah ruangan, seperti ruang tamu, ruang tidur dan sebagainya, keberadaannya ditentukan oleh dinding-dinding yang melingkupinya. Sedangkan untuk lantai ruang yang tidak disekat, seperti lantai ruang dapur dan ruang makan, bisa dibedakan dari jenis, warna, atau material lantai.

Ketinggian lantai juga bisa memberi perbedaan pada lantai, misalnya, ruang keluarga ditinggikan dari ruang tamu, dan sebagainya sehingga dengan beda level lantai, akan lebih terasa perbedaan ruangnya.
Kekurangan dan juga kelebihan dari jenis-jenis lantai tersebut?

Some rights reserved by roger_mommaerts on Flickr

Material keramik termasuk material yang paling mudah didapatkan, dan tersedia di banyak toko bangunan, serta merupakan material yang kuat sekali dan tahan lama, karena itu paling sering dipakai.

Material kayu asli yaitu parket merupakan material yang elok dipandang, hangat, terasa alami bila dirasakan kulit. Tapi material kayu asli makin mahal dan jarang.

Material kayu olahan yaitu flooring atau parket olahan, merupakan material pabrikan dengan finishing permukaan kayu asli yang tipis, terlihat seperti kayu yang alami dan cukup sesuai digunakan sebagai pengganti kayu asli.

Material terakota bisa digunakan seperti susunan bata bisa lebih murah, terkesan alami namun mudah pecah.

Material paving block, ubin atau beton prefab, adalah beton yang dicetak dengan ukuran tertentu, material ini sangat kuat dan tahan lama, namun coraknya hampir tidak ada dan sangat jarang dibuat. Biasanya ada di rumah-rumah Belanda.

Material lain seperti susunan atau anyaman bambu, plastik, dan sebagainya dewasa ini banyak dikembangkan.
 
Bagaimana seharusnya menggunakan / memilih lantai pada rumah dengan tepat?

Pertama, berapa dana yang ada dan tersedia untuk membeli material yang tepat dan sesuai dengan budget.
Kedua, material apa yang sesuai, dan motifnya bagaimana. Kebanyakan, memilih motif keramik sangat penting karena harus sesuai warnanya dengan warna dari keseluruhan tema rumah.
Ketiga, cara memasangnya harus benar, demikian juga dengan perawatannya.

Apa saja trend saat ini yang berkembang, berkaitan dengan lantai pada rumah?

Material baru yang berkembang sangat pesat dan dibuat dari macam-macam bahan, seperti plastik, kayu olahan, bahan alami seperti eceng gondok atau bambu, juga makin dikembangkan. Adapun coraknya makin bervariasi sehingga bisa disesuaikan dengan tema rumah.

Some rights reserved by Dieselbug2007 @ flickr

Bagaimana seharusnya apabila ingin menciptakan suatu lantai yang indah tetapi dengan budget yang minim?

Kita bisa bermain dengan motif, dengan selang-seling keramik lantai, atau dengan pengaturan yang terlihat berseni, misalnya memasang secara diagonal. Banyak juga alternatif menggunakan material untuk lantai, misalnya seperti keramik pecah yang disusun, seperti artikel saya ini:

http://astudioarchitect.com/2008/09/mozaik-keramik-pecah.html

Kerusakan-kerusakan apa saja yang sering terjadi pada lantai pada rumah?

Kebanyakan adalah pecah, terkelupas, menyusut atau memuai, retak dan sebagainya.

Bagaimana cara mengatasinya?

Mengganti material lantainya adalah yang terbaik. Tapi cara murah bisa juga dengan menambal atau mengganti materialnya, seperti mengganti keramik, tapi kadang tidak bagus secara estetika karena bila tidak sesuai atau tidak pas memasang, baik corak, dimensi dan sebagainya akan berpengaruh.

Hal lain tentang “Lantai pada rumah”?

Lantai harus disesuaikan temanya dengan ruangan, misalnya dari segi pemilihan material, warna maupun corak. Ada corak atau pola material yang sangat kuat sehingga tidak terlalu cocok diaplikasikan untuk tema rumah tertentu. Untuk material lantai yang coraknya lembut bisa diaplikasikan pada tema yang cenderung lembut juga. Untuk rumah modern, lebih sesuai menggunakan material lantai dengan kesan dan warna natural seperti warna hitam, putih, coklat, abu-abu dengan berbagai gradasi warna dan corak materialnya.

Jangan takut mencoba untuk mengaplikasikan desain lantai yang unik, misalnya dengan membuat perbedaan motif dan warna keramik, tapi jangan sampai terlihat norak juga karena pemilihan yang keliru. Dalam hal ini desain warna dan interior akan sangat membantu merencanakannya.

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.