Menggunakan material lama untuk bangunan baru (re-used material)


Foto didepan material kayu bekas bantalan rel kereta api dalam kafe yang dirancang teman arsitek: Agus Samsudin. Material ini terlihat sangat eksotis dan setelah dibersihkan sangat menarik teksturnya. 

astudioarchitect.com Apa itu material reused? Pertama, harus dipahami dahulu terminologi ‘recycled’ dan ‘reused’, yaitu didaur ulang atau digunakan kembali. Perbedaan recycled dan reuse adalah: recycle atau daur ulang membutuhkan proses untuk membuat material baru dari material lama, misalnya mengolah kembali kaca lama menjadi kaca baru. Sedangkan reuse atau menggunakan kembali berarti memakai material bekas untuk bangunan baru. Material reused, bisa dikatakan sebagai material bekas bangunan lain atau material dari benda/barang dengan kegunaan lain yang bisa digunakan kembali sebagai material bangunan. Artikel ini dibuat berdasarkan wawancara dengan wartawan Koran Seputar Indonesia (Sindo).

Meskipun dalam masyarakat kita, material bangunan baru dianggap lebih ‘menterang’ atau OK, sebenarnya banyak dari material bekas yang masih bisa dipakai sebagai bahan bangunan, misalnya material-material sebagai berikut:

– Kayu, misalnya kayu dari atap
– Kusen pintu dan jendela dengan kacanya.
– genteng bongkaran
– material bongkaran yaitu bata dan tembok yang dirobohkan dari rumah lama
– kayu dari bekas peti kemas
– kontainer baja bekas pengangkutan barang
– besi bongkaran struktur/konstruksi bangunan lain, misalnya bekas pabrik
– paving blok bekas
– dan sebagainya

Jika merencanakan untuk memanfaatkan material reused, sebaiknya apa saja yg perlu untuk diperhatikan?

Dalam mempergunakan material reused, kita perlu memperhatikan fungsi dari material tersebut, apakah bisa difungsikan sebagai material dengan fungsi struktural, atau hanya bahan material pengisi bangunan. Dalam hal ini, kita perlu memperhatikan apakah material tersebut kuat atau tidak, rapuh atau tidak, sekiranya tidak bisa digunakan karena kualitas bahan sudah menurun drastis, maka tidak disarankan menggunakan material tersebut. Misalnya: kayu dari struktur atap, barangkali bisa digunakan sebagai material untuk bekisting (cetakan) saat merenovasi rumah/ bangunan, bisa juga digunakan untuk fungsi lain seperti diolah untuk bahan material penutup dinding, misalnya dengan memotong kayu kecil-kecil dan memakainya sebagai elemen dekoratif.

Rumah diatas menggunakan material bekas kayu bongkaran rumah lama, terlihat agak kusam karena dipakai outdoor, meskipun begitu kualitas kayu jati ini lebih bagus daripada kayu yang banyak beredar saat ini. Disamping itu, dibagian dalam terlihat sangat menarik. 

Biasanya untuk menggunakan bahan material ini kta harus merinci bagian desain yg dpt mempergunakan material ini. Menurut Anda desain mana yg dapat atau pas?

Beberapa jenis / tema desain berkaitan dengan material yang terkesan ‘tua’, misalnya bila ingin membangun sebuah kafe dengan gaya ‘tua’ atau ‘rustic’, maka dengan memakai material bekas dengan kesan yang mendukung, yaitu memang menggunakan material yang sudah tua, akan lebih menarik. Meskipun begitu, desain rumah dan bangunan dewasa ini banyak yang menggunakan material ‘rustic’ meskipun dengan gaya modern. Hal ini karena material yang ‘tua’ seperti kayu tua, terlihat lebih baik dan menarik daripada kayu olahan baru yang dicat, misalnya. Maka desain yang ada bisa menggunakan pendekatan tema yang sesuai, baik itu tema gaya modern, klasik, minimalis, dan sebagainya. Sudah saatnya kita juga tidak melihat arsitektur sebagai ‘gaya’ bangunan, tapi sebagai desain yang berkaitan dengan ‘rasa’ saat melihatnya. Dalam hal ini banyak material bekas yang justru dicari karena keaslian dan nilai materialnya, misalnya kusen dari bongkaran bangunan bekas Belanda.

Jika kita ingin aplikasikan pada bagian interior menurut anda, bagian mana dari interior yg dpt kita aplikasikan material reused?

Material yang terkesan ‘rustic’ seperti kayu bekas bantalan rel, sangat diminati sebagai aksen untuk interior. Meja yang dibuat dari kayu bekas kadang terlihat sangat menarik, seperti meja dari kayu tua, misalnya dari bekas pintu kayu utuh. Bagian lain seperti kayu bekas atap bisa dipotong-potong dan dibuat elemen dekoratif yang menarik dalam ruangan, misalnya dengan menyusun potongan-potongan kayu kecil menjadi mozaik atau disusun sirih. Elemen lain seperti kusen lama kadang terlihat sangat menarik, karena banyak kusen lama memiliki jenis kaca yang lebih berkualitas daripada kaca-kaca yang dijual saat ini, terutama dari yang berjenis kaca patri.

Bagaimana pula soal eksterior, biasanya di bagian mananya yg dpt kta terapkan bagian ini? Jelaskan dan beri contoh?

Pada bagian eksterior bagian bangunan yang bisa menggunakan material reused antara lain penutup atap atau genteng, kusen pintu dan jendela eksterior, beberapa jenis kreativitas juga bisa diterapkan yang belum ada batasnya, seperti arsitek Adi Purnomo menggunakan pecahan genteng sebagai material penutup dinding eksterior.

Biasanya untuk memilih bagian2 tersebut, apa2 saja sih yg perlu dipertimbangkan si penghuni?

Pertimbangan utama adalah apakah material bisa digunakan untuk fungsi struktural atau konstruksi, karena material lama bisa lapuk, rusak sehingga tidak bisa digunakan kembali. Bila kualitasnya sudah turun, kita bisa memakainya untuk material non struktural, seperti pelapis dinding, elemen dekoratif, dan elemen pelengkap lainnya.

Terdapat jenis bahan bangunan reused yang kadang memiliki kualitas tinggi, misalnya kusen kayu jati, paving block, dan sebagainya. Material tersebut karena kualitasnya bisa bertahan lebih lama bahkan daripada material baru.

Bisa tidak kita padukan material reused dgn material lain? 

Tergantung digunakan untuk apa, tentunya bisa disesuaikan dengan kondisinya. Seperti material pada umumnya, material reused juga bisa memiliki tingkat kesesuaian yang tinggi atau rendah disandingkan dengan material lainnya, semua tergantung desain.

Sebutkan beberapa kelebihan dan kekurangan material reused?

Kelebihannya: material ini merupakan pilihan yang ramah lingkungan, biasanya lebih murah karena merupakan material yang biasanya tidak digunakan lagi oleh pemilik lama. Kelebihan lainnya adalah material ini seringkali merupakan material yang dipilih karena kualitasnya, meskipun kadang kualitasnya sudah menurun, tapi masih layak pakai, bahkan sebagian benar-benar lebih baik untuk dipakai.

Kekurangannya: material seringkali mengalami penurunan kualitas sehingga harus dipilah sesuai kebutuhan. Material juga harus diolah sesuai dengan kebutuhan, beberapa bagian seperti kusen yang ada menyebabkan kita harus menyesuaikan desain baru berdasarkan material lama tersebut.

Tips memilih jenis material reused yang tepat?

  • Sesuaikan dengan fungsinya, jangan dipakai untuk fungsi yang tidak tepat.
  • Periksa apakah masih layak digunakan
  • Bisa juga digunakan untuk pengganti material yang berbeda dari fungsi sebelumnya.
  • Bicarakan dengan arsitek, kontraktor atau tukang Anda.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.

All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s