Pengetahuan Sistem Bangunan Tinggi [1]


astudioarchitect.com [belajar arsitek] Bangunan tinggi merupakan jawaban atas permasalahan lahan yang semakin mahal dan langka, sehingga memiliki aspek ekonomis yang tinggi dan merupakan solusi bila tidak mungkin membangun secara horizontal. Bangunan tinggi termasuk didalamnya gedung perkantoran, apartemen, hotel dan sebagainya dengan multi lantai dalam hal ini lebih dari 4 lantai. Dalam sistem bangunan tinggi (high rise building), terdapat beberapa sistem utama yang bekerja secara terpadu demi terbentuknya bangunan tinggi utuh yang berdaya guna, sistem tersebut mirip seperti tubuh manusia dengan fungsi-fungsi seperti struktur (tulang), arsitektural (kulit dan pembungkus, barangkali termasuk otot beserta keindahan bentuknya), mekanikal dan elektrikal (semisal sistem respirasi, peredaran darah dan sistem getah bening), meskipun tidak benar-benar sama, fungsi-fungsi ini mirip organisme yang memang berfungsi untuk tujuan kehidupan manusia didalamnya. 

Kesemua fungsi dalam bangunan tinggi melalui berbagai sistemnya haruslah terpadu dan mengatasi berbagai permasalahan seputar struktur, arsitektur, mekanikal electrical dan sebagainya. Terutama saat ini sistem-sistem bangunan tinggi harus bisa bertahan selain dari gaya-gaya alami seperti gravitasi, angin dan guncangan gempa, juga harus punya kualitas penggunaan energi yang baik, sistem transportasi vertikal, tata udara, pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran, listrik dan pemipaan. Bangunan tinggi saat ini dan di masa depan juga harus  dipikirkan tentang biaya operasionalnya agar lehih hemat energi serta mampu mengolah limbahnya agar lebih ramah lingkungan.

Beberapa fungsi utama yang harus diperhatikan dalam perancangan bangunan tinggi [1]:

  • Struktural (dan metode konstruksi). Sistem struktur merupakan kerangka penyangga keseluruhan bangunan tinggi, contohnya sistem konstruksi beton bertulang yang diperkuat dengan sistem core. 
  • Mekanikal (transportasi vertikal dan tata udara). Sistem mekanis yang menggerakkan benda-benda seperti lift, elevator, ramp berjalan, dan sebagainya. Termasuk didalamnya tata udara yang membutuhkan turbin, sistem air dengan mesin penggerak, dan sebagainya. 
  • Elektrikal (Daya listrik dan penerangan). Mencakup segala hal berkaitan dengan kelistrikan, tata perletakan peralatan listrik, pengkabelan, penerangan. 
  • Arsitektural (estetika). Fungsi arsitektural merupakan fungsi paling humanis yang berkaitan dengan manusia yang tinggal didalamnya, yaitu estetika, pengaturan ruangan, perletakan shaft, dan sebagainya.

Beberapa fungsi tambahan dari berbagai sistem bangunan tinggi adalah sebagai berikut [1]

  • sistem aliran udara dan penghawaan, termasuk penghawaan buatan
  • sistem air bersih, plumbing dan fixtures
  • sistem pengolah limbah
  • sistem privasi dan keamanan psikologis dalam bangunan (parking, security)
  • sistem komunikasi (telepon, radio, televisi, internet)
  • sistem pengangkutan barang dan transportasi manusia (elevator, lift, ramp berjalan)
  • sistem keamanan fisik (tangga darurat, pintu darurat)
  • sistem penanggulangan kebakaran
  • sistem penangkal petir
  • dan sebagainya

Perancangan bangunan tinggi [2]
Tahapan perancangan bangunan tinggi atau high rise building biasanya melalui beberapa tahap perancangan yang meliputi:

  1. Tahap arsitektural
    Tahapan ini harus melalui proses programatik yang meliputi dengar pendapat dengan pemilik proyek, kelayakan proyek, Planning Advice dari Pemerintah daerah, batasan dan lingkup proyek beserta potensi lahan yang bisa digali dari sebuah proyek bangunan tinggi. Proses programatik juga merencanakan dan menganalisa berbagai kegiatan dan fungsi ruang yang berujung pada perencanaan luasan dan pembagian ruang dalam lantai-lantainya. Dalam perencanaan arsitektural ini juga diperhatikan tentang prinsip-prinsip struktural yang harus dipenuhi, dalam arti secara arsitektural perancangan struktur bangunan tinggi sudah harus memperhatikan prinsip-prinsip struktural.
    Tahap arsitektural akan menghasilkan dokumen-dokumen gambar kerja seperti denah semua lantai tingkat, potongan, tampak, perspektif, detail, fasilitas gedung, Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan bestek (Rencana Kerja dan Syarat/RKS).
  2. Tahap Struktural
    Tahap ini akan memperluas cakupan desain kedalam perancangan struktural yang mencakup perhitungan pembebanan, perencanaan desain struktur seperti portal, core, kolom dan balok, termasuk analisa mekanikal elektrikal yang bekerja dalam sistem arsitektural. Penyelidikan tanah untuk menentukan pondasi juga berlangsung dalam tahap ini.
  3. Tahap Finishing
    Sentuhan akhir dalam desain.
Berbeda dengan sistem bangunan rendah (1-2 lantai) dimana pembebanan dan gaya yang bekerja pada bangunan dapat diprediksi secara umum melalui pengetahuan konvensional, sistem bangunan tinggi harus melalui analisa pembebanan dan mekanika gayanya, sehingga dapat diperoleh sistem struktur yang handal dan proporsional. Penyelidikan tanah harus dilakukan untuk mengetahui potensi lahan agar dapat ditentukan jenis, ukuran, letak dan kedalaman pondasi. Selain gaya vertikal, juga harus diperhatikan gaya horizontal berupa tekanan angin dan getaran gempa. Pada bangunan tinggi agak berbeda dari bangunan rendah, dari segi kekuatan struktur seringkali tidak dibuat maksimal mengingat maksimal seringkali identik dengan berat dan non ekonomis. Untuk tujuan ekonomis kekuatan adalah ‘kekuatan yang diijinkan’ untuk bekerja secara optimal, ekonomis dan proporsional beratnya. 
Macam-macam bangunan bertingkat
Bangunan bertingkat terbagi menjadi dua jenis [2]:
  • Bangunan bertingkat penuh, merupakan bangunan bertingkat dengan lantai-lantai yang identik luasnya dari bawah ke atas
  • Bangunan bertingkat sebagian, merupakan bangunan bertingkat dengan lantai yang tidak identik, biasanya bagian bawah memiliki luasan lebih daripada bagian atas. 

Bibliografi dan sumber gambar:
[1] Juwana, Jimmy S. Ir. Panduan Sistem Bangunan Tinggi. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.
[2] Puspantoro, Ign. Benny, Ir, Msc. Konstruksi Bangunan Gedung Bertingkat Rendah. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atmajaya, 1987


 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s