Tentang kelembaban pada dinding bangunan


 astudioarchitect.com Bangunan atau rumah yang sehat adalah dambaan tiap penghuninya, tidak ada seorangpun yang ingin mendapatkan masalah kesehatan akibat bangunan yang kurang baik. Salah satu masalah bisa diakibatkan oleh bangunan yang lembab. Bangunan yang lembab menyebabkan berbagai masalah seperti tumbuhnya jamur abu (Aspergillus) yang dapat menyebabkan penyakit paru dan menimbulkan gejala atsma. Dalam artikel ini dijelaskan tentang sebab-sebab bangunan lembab. 

Rembesan Air dari tanah dan hujan
Masalah yang serius tentang kelembaban terjadi akibat rembesan air tanah ke tembok bangunan, yang dapat diakibatkan tekanan air tanah dari bawah, samping ataupun dari air hujan. Tekanan dari bawah merupakan tekanan air tanah yang normal terjadi, sebenarnya bisa diatasi dengan pondasi, sloof dan dinding bata trasraam yang baik. Bangunan lama yang dibuat orangtua kita kadang masih bisa ditemui memiliki dinding bata yang kurang baik, dalam arti tidak menggunakan sloof diatas pondasi, atau tidak menggunakan dinding trasraam yang baik. Akibatnya pada rumah-rumah tua serinkali masalah air merembes dari bawah dapat terlihat jelas pada dinding rumah.


Air tanah juga bisa merembes secara menyamping apabila kondisi samping rumah tanahnya atau pondasi bangunan sebelah lebih tinggi dari rumah kita. Akibatnya dinding rumah kita juga bisa terkena rembesan air dari samping. Selain dari tanah, air juga bisa melembabkan bagian dalam bangunan melalui rembesan air hujan. Air hujan dapat merembes melalui celah-celah bangunan atau sistem drainase dan talang yang bocor. Sama seperti rembesan air tanah, rembesan air hujan yang berlangsung terus menerus akan menyebabkan dinding kotor dan berjamur.

Air hujan secara khusus juga bisa merembes melalui sela-sela genteng dan membasahi bagian dalam atap, bila kayu atap kurang baik maka akan menyebabkan kayu lembab dan membusuk sehingga mengurangi kekuatan atap.

Material bangunan dan Kelembaban
Berbagai jenis material memiliki ketahanan terhadap kelembaban, dalam arti tidak mudah lembab. Terdapat jenis material yang lebih cepat menghisap air dan kapilaritasnya tinggi (kapilaritas = naik turunnya fluida cair dalam suatu bejana akibat tegangan permukaan).

Bata
Dinding batu bata tanpa acian banyak digunakan untuk rumah atau bangunan dengan gaya etnik, atau yang menonjolkan kesan alami dari material bata. Bata memiliki berat jenis sekitar 1’500-1’900 kg/m3 dengan daya hisap per jam adalah sekitar 8.88-2.70g/cm2 [1].

Dinding bata ekspos biasanya sangat mudah lembab dan karenanya sebaiknya ditutup plaster untuk bagian dalam rumah, dengan demikian tidak memicu perkembangan jamur Aspergillus. Untuk bata yang diekspos di bagian dalam rumah (interior), maka bagian luarnya harus diaci dan akan lebih baik apabila memiliki lapisan kedap air (cat/lapisan kedap air dari bahan bitumen).

Batako
Dinding batako ekspos juga memiliki tingkat penyerapan air yang cukup tinggi, lebih tinggi daripada bata ekspos, dengan berat jenis 1’600-1’850kg/m3, memiliki daya hisap per jam adalah sekitar 1.40-3.00g/cm2 [1]

Batako banyak digunakan untuk bangunan yang memiliki budget kecil, untuk penghematan biaya. Dinding batako biasanya diekspos karena memiliki karakter teratur dan dimensinya lebih besar daripada bata biasa sehingga pemasangannya cepat. Dinding batako juga cenderung dibiarkan diekspos karena untuk acian akan lebih memakan biaya daripada dinding bata acian. Untuk penyelesaian yang lebih baik, dinding batako bisa dicat untuk mengurangi kapilaritasnya.

Beton Aerasi (Beton ringan berpori)
Beton aerasi memiliki berat jenis lebih ringan daripada batako yaitu 600-700kg/m3 dengan daya penghisapan air per jam yang lebih rendah hampir seperti plaster semen pasir dalam kondisi beton aerasi yang baik yaitu sekitar 0.39-0.81g/cm2 [1].

Beton Aerasi merupakan material alternatif selain bata dan batako untuk membuat dinding, dimana beton aerasi merupakan beton yang dicetak dengan memasukkan gelembung-gelembung udara dalam beton sehingga berpori. Kekuatannya lebih baik daripada bata dan batako.

Plesteran kapur-pasir
Plesteran kapur dan pasir digunakan terutama pada rumah-rumah lama jaman dahulu untuk meminimalkan biaya membangun tanpa campuran semen. Plesteran ini dapat melekat pada bata namun tidak terlalu bisa melekat sebaik campuran semen. Berat jenis lapisan ini adalah 1’850-‘950kg/m3 dengan daya penghisapan air sesudah 1 jam adalah 0.83-0.90g/cm2 [1].

Plesteran semen-pasir
Plesteran jenis ini sangat sering kita jumpai dalam konstruksi bangunan yang konvensional seperti rumah tinggal. Jenis plasteran ini disukai karena merupakan gabungan yang baik antara estetika dan penghisapan kelembaban air yang cukup rendah. Berat jenisnya adalah 1’980-2’180kg/m3 dengan daya penghisapan air sesudah 1 jam adalah 0.21-0.27g/cm2 [1].

Plesteran ini populer juga karena dapat dicat dengan berbagai warna serta mencirikan bidang yang halus dan licin mensimbolkan higienitas. Bahan komposit ini memiliki penyerapan yang rendah, namun bukan berarti benar-benar bebas terhadap pengaruh kelembaban, karena masih sering ditemui bercak-bercak pada dinding plaster akibat penyerapan kelembaban.

Mengatasi kelembaban pada dinding
Dewasa ini berkembang pesat produk-produk yang dapat mengatasi dinding lembab dengan cara melapisi dinding lembab dengan lapisan/cat berbahan dasar bitumen (aspal). Cat atau lapisan ini dijual bebas dengan sebutan ‘Aquaproof’ atau ‘waterproof’ pada dasarnya adalah lapisan kedap air yang dioleskan atau disemprot ke dinding, lantai beton, dan sebagainya.

Selain cara populer dengan melapisi dengan lapisan bitumen, lapisan lain adalah lapisan PVC atau PE yang berbentuk lembaran, namun terasa kurang praktis. Cara lain yang mudah adalah diantaranya melapisi dengan keramik, yang menghambat kemungkinan rembesan air, merupakan cara yang sangat jitu terutama untuk dinding basah seperti kamar mandi.

Dinding yang sangat-sangat lembab kemungkinan besar tidak dapat dipertahankan agar bisa memperbaiki tingkat kesehatan bangunan, sebaiknya dinding diganti dengan yang baru untuk hasil terbaik. Pada rumah yang kurang penghawaan atau udara alaminya, dinding yang lembab akan memperburuk kondisi paru-paru, penyakit asma dan dapat memicu terjangkitnya penyakit paru pada anak.

Pencegahan kelembaban pada dinding
Selain mengatasi, kita harus mencegah kelembaban pada dinding akibat penyerapan air sejak dari awal membangun, artinya secara konstruksi dinding harus benar cara membuatnya sehingga air tidak merembes. Konstruksi yang sangat lazim dan konvensional adalah dengan membuat pondasi, sloof dan dinding dimana sloof termasuk mencegah air untuk naik ke dinding bata.

Lapisan trasraam atau lapisan kedap air merupakan lapisan acian semen yang mencegah air naik dari pondasi ke dinding bata diatasnya. Teknologi yang tepat guna sebenarnya adalah dengan menyelipkan lapisan karet atau pelat seng dibagian bawah dinding bata pada waktu pembuatan dinding bata tersebut.

Mencegah kelembaban berlebih dengan desain atap
Atap dengan berbagai desainnya memiliki pengaruh pada tingkat kelembaban pada dinding eksterior (luar) bangunan, karena atap seharusnya bisa mencegah air hujan untuk membasahi dinding luar bangunan. Atap harus tahan terhadap air hujan, tahan cuaca dan tahan lama. Berbagai material yang digunakan berpengaruh pada tingkat penyerapan air juga. Atap yang penyerapannya tinggi sebaiknya dibuat dengan sudut kemiringan atap yang curam.

beberapa jenis atap dapat menyerap air lebih banyak, seperti atap rumbia atau ijuk, sehingga kemiringan atapnya minimal 40derajat. Atap lain seperti genteng biasa yang dibuat dari tanah liat juga sebaiknya diatas 35derajat. Genteng beton bisa lebih landai karena tidak terlalu menyerap air, minimal adalah 25derajat. Atap pelat semen dan seng bisa dipasang dengan sudut antara 10 hingga 15 derajat. Demikian pula atap polycarbonat bisa dipasang dengan sudut 3derajat.

Lapisan kedap air
Lapisan kedap air trasraam (merupakan istilah saduran dari Belanda) merupakan lapisan khusus dibawah pasangan dinding bata dimana diselipkan pelat seng atau pelat lain untuk mencegah masuknya air kebagian dinding atasnya. Cara ini sudah jarang dilakukan mengingat saat ini orang beranggapan bahwa dengan sloof diatas pondasi sudah cukup menghambat kapilaritas air, dengan ditambah acian yang lebih pekat pada dinding hingga 1meter. Sebenarnya perlu diberikan tambahan berupa pelat diantara sloof dan dinding bata, paling tidak diatas sloof atau yang berhubungan dengan dinding sebaiknya diberi lapisan kedap air yang dikuaskan berbahan dasar bitumen.

Lapisan trasraam dapat berupa [1]:
– lapisan bitumen (aspal) baik cair yang dikuaskan ataupun berupa lembaran. Diaplikasikan diatas sloof yang berumur minimal.
– karet talang atau lembaran PE, dengan sambung menyambung dengan tumpang tindih minimum 10cm.
– seng pelat/ datar, dipilih dari jenis anti karat seperti zincalum atau seng galvanisir yang tebal, dengan pemasangan yang baik disolder jarak 2cm dengan seng yang ditekuk ke bawah pada sambungannya.
– plasteran emulsi

Bibliografi:
[1] Frick, Heinz. Ilmu Fisika Bangunan. Yogyakarta: kanisius, 2008.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

4 responses to “Tentang kelembaban pada dinding bangunan

  1. Thanks for sharing the information. That’s a awesome article you posted.

  2. trima kasih infonya, kami akan mencobanya. semoga selalu bermanfaat bagi sesama. sala

  3. kami memasok dan memasarkan Panel EPS yang disempurnakan… ringan, tahan suhu, tahan terhadap kelembapan, merupakan evolusi terbaru dalam material bangunan yg hampir tidak ada kekurangan…
    http://neospanel.blogspot.com

  4. Kerenn, sangat bermanfaat!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s