Monthly Archives: Maret 2012

Desain rumah modern untuk Bapak Nico

astudioarchitect.com Desain rumah ini kami buat untuk Bapak Nico dimana pertama kami menyelesaikan dahulu proses desain hingga tuntas. Setelah proses desain selesai, kami memberikan penawaran pembangunan dengan tim tersendiri sehingga pembangunan renovasi ini memerlukan dua tahap yaitu desain dan pembangunan. Proyek ini merupakan desain renovasi untuk sebuah rumah di perumahan yang sudah dihuni sekitar 6 tahun untuk dikembangkan menjadi dua lantai. Rumah awal merupakan rumah satu lantai meskipun memiliki atap yang teramat tinggi sehingga dari luar nampak seperti dua lantai. Renovasi direncanakan akan merombak bangunan lama menjadi bangunan baru dengan sebagian besar bangunan baru, pada dasarnya merupakan renovasi hampir total. Pada jenis renovasi seperti ini biaya pembangunan lebih tinggi daripada pembangunan rumah baru karena terdapat biaya bongkar sekitar 20% dari total biaya renovasi. Desain yang dipajang pada page ini bukan desain yang akan direalisasikan karena setelah melalui proses desain terdapat perbedaan bentuk atap dan juga perubahan pada tampilan serta denah. Nantikan update setelah selesai dibangun nantinya. 

 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Denah pengembangan rumah tipe 30m2.

astudioarchitect.com Seorang sahabat astudio mengirimkan email kepada kami untuk menanyakan sedikit tentang rencana tambahan untuk rumah tipe 30m2 diatas lahan 6x12m. Berikut ini email beliau:
mas, saya mau minta bantuan konsulting nih , saya baru beli rumah di citra indah , jonggol, cibubur, and ukurannya 30/72 (gambar ada di attachment), maunya sih gak neko2 , namanya juga ukuran terbatas, cuma mau nambahin dapur, gudang kecil, kalo bisa juga ada taman kecil2an and gak ditutup habis belakangnya  (kebanyakan yang saya liat disana pada nutup habis , jadi satu2nya akses udara cuma dari depan)ada saran gak mas? thx banget yah mas,….
thx
charles


Denah awal

Jawaban:
Yth Bapak Charles, terimakasih atas pertanyaan Bapak. Desain untuk perumahan yang dibeli jadi biasanya pengembangannya agak terbatas karena semua ruangan sudah ada pada tempatnya dan kurang bisa diinovasikan. Melalui sedikit proses berpikir saya menambahkan ruang dapur dan ruang makan serta tempat lesehan dibelakang, kemudian ada juga gudang berukuran kecil dibelakang, sementara itu agar maksimal, tetap ada taman kecil didepan gudang yang mustinya untuk menanam sedikit tanaman pot. Berikut ini desain denah yang kami buat:

Taman kering dibelakang memang sangat kecil, usahakan untuk tidak menutup dengan perkerasan seperti lantai keramik, dan tetap diatasnya bila bisa jangan ditutup semua, bila dengan polikarbonat, tetap sisakan udara keluar masuk karena lubang ini harus ‘melayani’ beberapa ruangan yaitu dapur, tempat lesehan, ruang tidur dan gudang.

Demikian, semoga jawaban ini bisa membantu Bapak.

Salam,
Probo Hindarto

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Wastu Citra

astudioarchitect.com Ternyata bangunan punya citra sendiri-sendiri dan menyiratkan jiwa yang dimiliki pembuatnya. Semakin kita berkembang dalam membangun, semakin kita harus memperhatikan citra. Jangan sampai bangsa kita dicap punya keahlian dan keterampilan, tapi jiwanya kosong atau ngawur; itu tampak dari penampilannya, dari citranya (kutipan). Buku Wastu Citra merupakan salah satu buku yang ‘wajib’ dibaca oleh setiap arsitek di Indonesia, mengingat buku ini bisa memberikan wawasan arsitektur yang lebih ‘Indonesia’ dibandingkan buku-buku sejenis yang banyak mengungkapkan sejarah dan wacana arsitektur yang berasal dari barat. Y.B. Mangunwijaya 

Ketika saya kuliah, saya sangat menyukai membaca buku ini dalam format lamanya yang bersampul merah. Buku ini memberikan wawasan yang jernih tetnang arsitektur di seluruh dunia terutama karena buku ini membahas dari sudut pandang yang sangat Indonesia. Saat ini jarang muncul buku dengan pemahaman arsitektur yang sedalam ini. Berikut ini beberapa kutipan dari buku Wastu Citra:


Tiang kuil Mesir

Tiang Kuil India

Perhatikan tiang tiang pada gambar rekonstruksi istana Mesir Kuno. Apakah yang tampak mencolok? Tiang Mesir pada gambar tampak sangat sederhana walaupun garis garis alur melintang pad antara pucuk tiang dan balkok yang ditopangnya cukup memberi kesan hiasan. Bentuk bentuknya serba mengekang diri, stabil, teguh, tenang, tidak banyak cingcong. Bagaikan seorang pengawal raja, yang hanya tahu tugasnya yang pokok, tanpa dapat diselewengkan ke arah ulah yang bukan bukan. Tiang ini bagaikan tokoh wayang Bima (Werkudara) dalam hal keseluruhan wataknya, tidak kenal basa basi dan jujur apa adanya. Tiang ini juga dapat diibaratkan gaya tari atau gamelan Jawa Tengah, yang anggun seperti Arjuna sang jago perang yang sakti tetapi sanat tenang, penuh rasa pasti terhadap diri sendiri.

Sebaliknya, tiang India berkesan serba bergerak, penuh ukir ukiran penuh gairah, penuh nafsu haus ulah tinkah. Bahkan orang tidak mudah membedakan apakah ini unsur tiang yang bertugas pokok menopang balok atap, jadi harus kuat dan tguh, stabil dan tenang, ataukan unsur hiasan belaka yang tidak berfungsi memikul apapun. Tiang semacam ini lebih merupakan karangan bunga daripada unsur penopang yang harus kuat. Ia mirip pemuda yang masih bergelora darahnya dan berbuat hal-hal yang sulit diduga sebelumnya. Nafsu dan dinamikanya bagaikan gelombang-gelombang Lautan Selatan yang serba berubah bentuk.

Dinamikanya bagaikan penari dan gong Bali yang serba panas main mata dan mengibas-kibaskan raga dan kipas serba kontras, kian kemari antara gamelan yang ekstrem nyaring serba gerak cepat lalu tiba-tiba ekstrem lembut lamban; penuh kejutan-kejutan yang membuat darah mendidih. Tiang yang bercitra tenang stabil tadi seperasaan dengan tiang arsitektur Yunani gaya Dorik.

Dua watak gaya itu kita temukan dalam banyak wujud arsitektural di mana pun. Keduanya merupakan pola yang sma-sama manusiawi dan sah; dan dapat kita temukan didalam diri kita. Kedua pola itu dapat kita pilih, tergantung pada selera atau kecenderungan citarasa kita, ataupun kehendak situasi. gaya tari Jawa Tengah dan gaya tari Bali, keduanya saling melengkapi. Kita pun membutuhkan orang yang tenang dan stabil untuk kedudukan atau tugas tertentu; namun untuk tugas lain justru sebaliknya; dibutuhkan orang yang penuh gelora dan semagnat berapi-api. Demikian pula dalam pemilihan bentuk-bentuk karya wastu kita harus mempertimbangkannya masak-masak, pola mana yang kita pilih agar selaras dengan sasaran yang ingin kita capai atau yang ditugaskan kepada sang Sthapati.

http://books.google.co.id/books?id=nZgew4Ad-7gC&lpg=PP1&dq=arsitektur&pg=PP1&output=embed ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Pengetahuan Sistem Bangunan Tinggi [1]

astudioarchitect.com [belajar arsitek] Bangunan tinggi merupakan jawaban atas permasalahan lahan yang semakin mahal dan langka, sehingga memiliki aspek ekonomis yang tinggi dan merupakan solusi bila tidak mungkin membangun secara horizontal. Bangunan tinggi termasuk didalamnya gedung perkantoran, apartemen, hotel dan sebagainya dengan multi lantai dalam hal ini lebih dari 4 lantai. Dalam sistem bangunan tinggi (high rise building), terdapat beberapa sistem utama yang bekerja secara terpadu demi terbentuknya bangunan tinggi utuh yang berdaya guna, sistem tersebut mirip seperti tubuh manusia dengan fungsi-fungsi seperti struktur (tulang), arsitektural (kulit dan pembungkus, barangkali termasuk otot beserta keindahan bentuknya), mekanikal dan elektrikal (semisal sistem respirasi, peredaran darah dan sistem getah bening), meskipun tidak benar-benar sama, fungsi-fungsi ini mirip organisme yang memang berfungsi untuk tujuan kehidupan manusia didalamnya. 

Kesemua fungsi dalam bangunan tinggi melalui berbagai sistemnya haruslah terpadu dan mengatasi berbagai permasalahan seputar struktur, arsitektur, mekanikal electrical dan sebagainya. Terutama saat ini sistem-sistem bangunan tinggi harus bisa bertahan selain dari gaya-gaya alami seperti gravitasi, angin dan guncangan gempa, juga harus punya kualitas penggunaan energi yang baik, sistem transportasi vertikal, tata udara, pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran, listrik dan pemipaan. Bangunan tinggi saat ini dan di masa depan juga harus  dipikirkan tentang biaya operasionalnya agar lehih hemat energi serta mampu mengolah limbahnya agar lebih ramah lingkungan.

Beberapa fungsi utama yang harus diperhatikan dalam perancangan bangunan tinggi [1]:

  • Struktural (dan metode konstruksi). Sistem struktur merupakan kerangka penyangga keseluruhan bangunan tinggi, contohnya sistem konstruksi beton bertulang yang diperkuat dengan sistem core. 
  • Mekanikal (transportasi vertikal dan tata udara). Sistem mekanis yang menggerakkan benda-benda seperti lift, elevator, ramp berjalan, dan sebagainya. Termasuk didalamnya tata udara yang membutuhkan turbin, sistem air dengan mesin penggerak, dan sebagainya. 
  • Elektrikal (Daya listrik dan penerangan). Mencakup segala hal berkaitan dengan kelistrikan, tata perletakan peralatan listrik, pengkabelan, penerangan. 
  • Arsitektural (estetika). Fungsi arsitektural merupakan fungsi paling humanis yang berkaitan dengan manusia yang tinggal didalamnya, yaitu estetika, pengaturan ruangan, perletakan shaft, dan sebagainya.

Beberapa fungsi tambahan dari berbagai sistem bangunan tinggi adalah sebagai berikut [1]

  • sistem aliran udara dan penghawaan, termasuk penghawaan buatan
  • sistem air bersih, plumbing dan fixtures
  • sistem pengolah limbah
  • sistem privasi dan keamanan psikologis dalam bangunan (parking, security)
  • sistem komunikasi (telepon, radio, televisi, internet)
  • sistem pengangkutan barang dan transportasi manusia (elevator, lift, ramp berjalan)
  • sistem keamanan fisik (tangga darurat, pintu darurat)
  • sistem penanggulangan kebakaran
  • sistem penangkal petir
  • dan sebagainya

Perancangan bangunan tinggi [2]
Tahapan perancangan bangunan tinggi atau high rise building biasanya melalui beberapa tahap perancangan yang meliputi:

  1. Tahap arsitektural
    Tahapan ini harus melalui proses programatik yang meliputi dengar pendapat dengan pemilik proyek, kelayakan proyek, Planning Advice dari Pemerintah daerah, batasan dan lingkup proyek beserta potensi lahan yang bisa digali dari sebuah proyek bangunan tinggi. Proses programatik juga merencanakan dan menganalisa berbagai kegiatan dan fungsi ruang yang berujung pada perencanaan luasan dan pembagian ruang dalam lantai-lantainya. Dalam perencanaan arsitektural ini juga diperhatikan tentang prinsip-prinsip struktural yang harus dipenuhi, dalam arti secara arsitektural perancangan struktur bangunan tinggi sudah harus memperhatikan prinsip-prinsip struktural.
    Tahap arsitektural akan menghasilkan dokumen-dokumen gambar kerja seperti denah semua lantai tingkat, potongan, tampak, perspektif, detail, fasilitas gedung, Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan bestek (Rencana Kerja dan Syarat/RKS).
  2. Tahap Struktural
    Tahap ini akan memperluas cakupan desain kedalam perancangan struktural yang mencakup perhitungan pembebanan, perencanaan desain struktur seperti portal, core, kolom dan balok, termasuk analisa mekanikal elektrikal yang bekerja dalam sistem arsitektural. Penyelidikan tanah untuk menentukan pondasi juga berlangsung dalam tahap ini.
  3. Tahap Finishing
    Sentuhan akhir dalam desain.
Berbeda dengan sistem bangunan rendah (1-2 lantai) dimana pembebanan dan gaya yang bekerja pada bangunan dapat diprediksi secara umum melalui pengetahuan konvensional, sistem bangunan tinggi harus melalui analisa pembebanan dan mekanika gayanya, sehingga dapat diperoleh sistem struktur yang handal dan proporsional. Penyelidikan tanah harus dilakukan untuk mengetahui potensi lahan agar dapat ditentukan jenis, ukuran, letak dan kedalaman pondasi. Selain gaya vertikal, juga harus diperhatikan gaya horizontal berupa tekanan angin dan getaran gempa. Pada bangunan tinggi agak berbeda dari bangunan rendah, dari segi kekuatan struktur seringkali tidak dibuat maksimal mengingat maksimal seringkali identik dengan berat dan non ekonomis. Untuk tujuan ekonomis kekuatan adalah ‘kekuatan yang diijinkan’ untuk bekerja secara optimal, ekonomis dan proporsional beratnya. 
Macam-macam bangunan bertingkat
Bangunan bertingkat terbagi menjadi dua jenis [2]:
  • Bangunan bertingkat penuh, merupakan bangunan bertingkat dengan lantai-lantai yang identik luasnya dari bawah ke atas
  • Bangunan bertingkat sebagian, merupakan bangunan bertingkat dengan lantai yang tidak identik, biasanya bagian bawah memiliki luasan lebih daripada bagian atas. 

Bibliografi dan sumber gambar:
[1] Juwana, Jimmy S. Ir. Panduan Sistem Bangunan Tinggi. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.
[2] Puspantoro, Ign. Benny, Ir, Msc. Konstruksi Bangunan Gedung Bertingkat Rendah. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atmajaya, 1987


 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.