Beberapa sketsa Probo Hindarto


astudioarchitect.com Arsitektur tidak bisa lepas dari seni, dan dari selama saya menjadi arsitek selalu terdapat suatu keinginan untuk mengekspresikan estetika dalam bentuk-bentuk yang lain, seperti misalnya gambar sketsa. Dengan sketsa, ternyata memang lebih cepat untuk menyampaikan keindahan melalui tarikan garis, ini berbeda dari arsitektur yang memang memerlukan banyak pemikiran untuk menarik setiap garis. Seni menggambar, melukis atau seni visual lainnya saya rasakan cukup dekat dengan arsitektur, dengan demikian ternyata bisa menambah dan melatih rasa yang dapat diaplikasikan pada arsitektur. Bagi mereka yang awam mungkin seni tidak terlalu ‘masuk’ dalam kehidupan, namun bagi para seniman, atau yang dekat dengan seni terapan seperti para arsitek, seni semacam ini menghubungkan antara yang ‘terapan’ dan yang lebih ‘dalam’ dari itu. (klik untuk memperbesar gambar)

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Ini sketsa interpretasi saya untuk suatu studi estetika, tidak ada yang benar-benar khusus dari sketsa diatas, hanya sebuah permainan bentuk saja.

Pada banyak kasus, saya dihadapkan pada bagaimana merancang bangunan yang estetikanya seimbang, tidak lebih dan tidak kurang, yang pada tempatnya. Sketsa diatas merupakan suatu pencarian kepada keseimbangan estetis dengan menggunakan warna dan garis-garis yang menyerupai suatu bentukan yang bertumpuk-tumpuk. Ramai namun seperti mencari suatu keseimbangan. 

Ini sketsa interpretatif dan kritis saya untuk kehidupan masyarakat yang konsumtif, disamping berbagai kesulitan yang digambarkan dengan warna hitam dan sebuah benang kusut bernama ego, ternyata masih memuja untuk memiliki begitu banyak benda, begitu bervariasi keinginan manusia, yang muaranya kesemua itu kepada konsumerisme. Mau tidak mau banyak gaya hidup yang akhirnya sedikit banyak terpengaruh, misalnya soal HP dan pakaian yang keren tidak pernah bisa menunjukkan kondisi asli dari seorang manusia yang hidup di jaman modern konsumtif. Demikian juga dengan arsitektur ternyata juga terpengaruh oleh banyak aspek dari konsumerisme, diantaranya adalah keinginan untuk ‘menunjukkan’ dengan arsitektur, bila ditelaah lebih lanjut akan membawa kita pada perkembangan budaya yang masih terpengaruh oleh hal-hal yang kurang esensial. Dasar dari konsumerisme bisa dideteksi dan dijelaskan, belum banyak orang yang memikirkan, dan lebih banyak yang justru memanfaatkan dengan mengambil keuntungan. 

Pada banyak kasus, ini cara pandang saya pada arsitektur, untuk berdiri diatas sesuatu yang indah dan estetis, untuk apa adanya dalam menyikapi fenomena agar estetika hadir tidak hambar, tidak berlebih, tidak mengambil terlalu banyak. Hasilnya adalah ruang yang bermakna. Sederhana adalah esensi dari keindahan, namun ramai adalah simbol dari pikiran yang tidak tenang. 

Bila pernah mengalami ‘musik yang terngiang-ngiang’, mungkin ini adalah ‘visual yang terbayang-bayang’, selama beberapa waktu saya ‘diilhami’ oleh bentukan ini sebelum menggambarkannya. Kadang-kadang pada saat yang tepat dan desain arsitektur yang tepat, estetika yang seperti ini bisa muncul entah dengan cara yang seperti apa. Arsitektur sekali lagi, adalah seni yang teknis. 

Warna ungu kebanyakan digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang transedental, suatu kondisi yang tertinggi dari kesadaran manusia, seperti keheningan dipuncak meditasi, adalah saat kita mencapai suatu kondisi yang tenang, menurut saya adalah pencapaian yang tertinggi dari pikiran manusia. Pada saat itu jiwa melebur menjadi satu dengan raga, lalu bisa merasakan kehidupan dengan lebih baik, lebih sensitif, dan barangkali; lebih bahagia. 

Suatu sketsa interpretasi untuk arsitektur yang indah, bagi saya secara personal mungkin berkaitan dengan elemen arsitektural yang didesain dengan teliti, tepat guna, secara struktural kokoh dan secara estetika juga dipikirkan. 

Sketsa interpretatif untuk ‘arsitektur merupakan elemen-elemen layaknya tubuh manusia’, dimana elemen tersebut seringkali tersebar tidak merata sesuai dengan fungsi yang diembannya. 

robot kepada pohon ceres, hati yang jatuh.
ranting yang patah, untuk tangan besi.
yang tak diam denganku, hanya waktu.
tak mungkin memahami hati, dengan keji.
Masih dengan sketsa kritis untuk struktur pemikiran masyarakat yang berjalan dan mendirikan segala sesuatu untuk keindahannya, meskipun tidak semua, kebanyakan orang masih berpikir bahwa arsitektur adalah suatu pemikiran akan estetika. Sebenarnya guna dan rupa adalah satu dalam arsitektur, tidak melulu adalah rupa, guna yang tepat adalah rupa yang meyakinkan. 

Arsitektur itu dibuat dari alam, dari material yang diambil dari alam. Keindahannya merupakan rekayasa yang banyak meniru prinsip-prinsip alami untuk beradaptasi dengan iklim dan lingkungan. 

Suatu sketsa dengan bentukan-bentukan yang arsitektural, kadang-kadang bisa saja hadir dalam desain dalam sedikit atau banyak fragmen. Sketsa seperti ini seperti biji-bijian yang dapat tumbuh menjadi pohon suatu saat.  

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s