Hubungan Garis Sempadan dan Kesan Bangunan


astudioarchitect.com Setiap area dalam sebuah kota memiliki garis sempadan bangunan (GSB) yaitu jarak bangunan yang ditentukan dari jalan, dimana jarak GSB ini bervariasi antara satu daerah ke daerah lainnya. Terdapat beberapa GSB yang memberi dampak pada kesan dan fungsi bangunan, misalnya didaerah komersial, seringkali terdapat garis sempadan 0 meter; artinya bangunan boleh dibangun langsung dibelakang trotoar tanpa jarak masuk kedalam lahan. Pemerintah Hindia Belanda dahulu banyak menentukan area-area yang disesuaikan untuk komersial, dengan memberikan sempadan 0, sedangkan untuk area perumahan umumnya sekitar separuh dari lebar jalan.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Garis Sempadan ini menentukan bagaimana sebuah lingkungan terbentuk, yaitu kerapian muka bangunan terhadap jalan yang memberikan dampak visual bagi mereka yang melewati jalan tersebut. Jalan yang terlihat indah biasanya terdapat bangunan-bangunan rumah maupun komersial yang sesuai dengan GSB, dalam arti segaris, dan tidak ada bangunan yang terlihat ingin menonjol atau menang sendiri. Lain halnya bila untuk area komersial yang memang GSBnya 0 meter, maka memang area ini bagus untuk komersial yang sebaiknya memiliki hubungan dekat dengan pengguna jalan. 

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Hal yang cukup penting untuk diperhatikan adalah lahan parkir untuk bangunan yang memiliki sempadan dekat dengan jalan, sebaiknya lahan parkir disediakan dibagian samping atau belakang bangunan. Untuk area komersial, sangat penting untuk memperhatikan hal ini dan dimasukkan dalam peraturan tata kota yang ditegakkan agar lahan parkir tidak menyerobot jalan. Dengan cara ini maka GSB tidak merugikan hak pengguna jalan seperti kendaraan dan pejalan kaki.

Garis sempadan untuk area komersial juga dapat dirancang dengan ‘semi privat’ area untuk memberikan kesempatan digunakan untuk parkir sepeda, teras duduk, dan ornamentasi seperti pot bunga dan pohon. Di banyak kota di Eropa, cara ini efektif untuk menumbuhkan kota yang nyaman untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda, dimana area komersial memiliki semacam teras yang dapat digunakan untuk duduk, berteduh dan sekedar menikmati kota.

Di area perumahan yang ditentukan oleh pemerintah, biasanya garis sempadan sudah ditentukan, misalnya 3m, 4m, dan seterusnya. Garis sempadan ini harus diperhatikan saat mendesain bangunan dan sebaiknya pembangunan diawasi oleh pemerintah secara ketat untuk meyakinkan tidak adanya pelanggaran GSB. Dengan cara ini maka warga dapat berkontribusi untuk menciptakan suasana kota yang baik dan tidak kacau. Disamping itu GSB dapat menjadi suatu cara agar rumah-rumah memiliki lahan terbuka hijau yaitu lahan yang tidak digunakan untuk bangunan.

GSB juga berhubungan dengan ketinggian bangunan yang diperbolehkan Pemerintah Daerah, yaitu KDB (Koefisien dasar bangunan) dan KLB (Koefisien Lantai Bangunan), yang berhubungan dengan luas lahan yang diperbolehkan dibangun hubungannya dengan ketinggian bangunan.

Kesan
Perbedaan GSB memberikan kesan yang berbeda untuk bangunan dan lingkungan.

  • GSB 0 meter (area komersial); memberikan kesan yang dekat dengan pengguna jalan yaitu kendaraan, pengguna sepeda dan pejalan kaki. Kesan dekat ini dapat memberi keuntungan berupa akses kedalam bangunan komersial yang mudah dan menguntungkan bagi pemilik bangunan komersial. Area GSB 0 meter ini banyak ditentukan pemerintah Hindia Belanda jadi saat ini agak jarang terdapat area semacam ini kecuali di area kota tua. 
  • GSB 0 meter dengan tambahan area semi privat; memberikan kesan teduh dan nyaman untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda, karena terdapat area trotoar yang lebar dan bisa digunakan untuk perluasan area komersial namun tidak boleh digunakan untuk bangunan.
  • GSB ‘normal’ biasanya dengan jarak GSB ditentukan oleh pemerintah daerah, bertujuan untuk memberikan kesan teratur dan memenuhi kebutuhan area hijau sebagian. Biasanya area sempadan digunakan warga sebagai taman depan dan juga carport. Namun tak jarang karena tidak ditegakkan, area GSB seringkali digunakan untuk bangunan juga. Sebagai warga yang baik sebaiknya mematuhi jarak GSB ini agar bisa mendukung suasana kota yang sehat. 

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s