10 Inspirasi Menata Ruang Rumah Real Estat [buku]


astudioarchitect.com Memang, membeli rumah melalui real estate developer banyak membantu masyarakat yang belum mampu membeli rumah secara kontan, sehingga keberadaan rumah-rumah real estate semakin menjadi primadona dengan bisa dikredit. Tak pelak penataan rumah dari developer cenderung banyak yang seragam, bahkan cenderung kosong dan memerlukan sentuhan lebih banyak. Seri Rumah Ide mengeluarkan buku 10 Inspirasi menata Ruang Rumah Real Estat yang dapat membantu Anda mendapatkan inspirasi menata hunian yang Anda beli melalui developer.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Kutipan: Selama kuran lebih 40 tahun setelah kemunculan pertamanya, desain rumah real estat telah mengalami banyak perkembangan. Awalnya rumah real estat diperuntukkan bagi masyarakat menengah keatas sehingga pembagian kaveling dibuat cukup besar. Luas satu kaveling berkisar antara 200-500m2. Bangunannya pun didesain mengikuti luas kavelingnya dan rata-rata memiliki dua lantai penuh. Desain rumah sedikit banyak dipengaruhi kondisi iklim tropis Indonesia dengan atap pelana yang lebar, lubang angin disetiap dinding, dan balkon didepan serta belakang bangunan. Tipikal rumah real estat tahun 1970-1980 masih bisa kita temui di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Menjelang akhir tahun 1990-an, saat lahan yang ada semakin terbatas, luas kaveling pun mengecil. Apalagi setelah krisis ekonomi melanda Indonesa. Luas kaveling yang ditawarkan juga tidak lebih dari 200m2 dengan luas bangunan yang juga mengecil. Rumah dibangun satu lantai dengan pembagian ruang yang efektif dan efisien. Rumah-rumah tersebut diperuntukkan bagi keluarga kecil dan keluarga muda sehingga jumlah ruangnya pun terbatas — hanya ruang-ruang utama. Dengan layout ruang dalam yang hampir sama antara satu perumahan dengan perumahan lainnya, para pengembang pun bersaing dalam hal tampilan luar bangunan. Segala macam eksperimen fasade dilakukan untuk menaikkan harga jual.
Salah satu eksperimen yang sempat dilakukan adalah membuat facade dengan tema negara-negara. Fasade didesain layaknya rumah-rumah dibelahan dunia lain, misalnya rumah ebrgaya Ameruka, Eropa, Jepang, dan sebagainya. Pengemang seolah-oleh membawa penghuni berfantasi tinggal dinegara-negara itu. Tentu saja desain tersebut jauh dari konsep tropis. Kecenderungan ini tak berlangsung lama karena masyarakat menyadari bahwa gaya tersebut tidak cocok dengan kondisi lingkungan serta budaya Indonesia.
Pertengahan tahun 2000, saat keadaan ekonomi Indonesia mulai membaik, beberapa pengembang mulai membuat rumah dengan luas yang lebih besar, dengan luas kaveling yang sama. Bangunan dibuat bertingkat tapi tidak penuh — menyisakan lahan untuk pengembangan lebih lanjut. Walaupun desain layoutnya tidak mengalami perubahan, namun yang melegakan, tema negara-negara tidak lagi menjadi tren. Saat intu, tren modern minimalis yang melanda dunia banyak memengaruhi desain rumah real estat. Rumah boks dengan baris geometri yang kuat, bernuansa monokrom dan simple sempat menghiasi wajah rumah-

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s