Welcome 2014 – Reflection 2013!! – sebuah refleksi arsitek


astudioarchitect.com Di astudio, kami memiliki beberapa cerita untuk setiap proses desain arsitektur, memang sebagai sebuah profesi jasa, kami sedikit banyak pasti berinteraksi dengan klien dan memiliki beberapa cerita untuk dibagi bersama Anda. Beberapa poin menandai perjalanan sebagai arsitek untuk rumah tinggal dan perlu refleksi untuk perjalanan di masa depan agar menjadi semakin baik. Cerita ini barangkali juga bisa menjadi refleksi juga bagi arsitek lainnya di Indonesia dan seluruh dunia.

In astudio, we have some stories to architectural design process, as a professional service provider, we have some interactions with clients and have some stories to share with you. Some of the points mark the passage for us as architects for residential buildings and as a reflection needed to further journey in the future in order to get better in term of process. This story could also be a reflection perhaps also for other architects in Indonesia and around the world.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Refleksi 2013
Sebagai arsitek yang independen, tujuan kami adalah memberikan pelayanan seputar desain rumah tinggal bagi masyarakat umum, dan saat ini progress pembangunan di Indonesia sangat-sangat baik, masyarakat makin membutuhkan arsitek dan jasa arsitek juga semakin berkembang. Kami sebagai salah satu ‘pemain’ dalam usaha jasa ini juga harus memiliki daya saing baik dengan arsitek lokal maupun mancanegara.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Sejak awal tahun 2013, kami mendapatkan beberapa puluh kontak dengan calon klien, dimana sebagian menjadi klien dan sebagian lagi tidak. Banyak anggapan bahwa jasa arsitektur masih terlalu mahal, sehingga barangkali memilih untuk tidak memakai arsitek, atau mencoba untuk mencari arsitek lain dengan ‘harga’ lebih murah bahkan gratisan. Bagi sebagian yang memilih menjadi klien astudio, kami sangat berterimakasih.

Soal harga ini, memang sedikit banyak ditentukan oleh selera pasar akan pandangan tentang arsitek yang seharusnya, kami menghargai ketertarikan makin banyak orang untuk membawa keputusan-keputusan tentang rumah tinggalnya kepada seorang arsitek, karena diantara banyak profesi yang menawarkan jasa, kami para arsitek juga seperti dokter yang berusaha menangani pasien-pasiennya dengan sebaik mungkin. Soal harga desain, merupakan rahasia umum bahwa ini agak sensitif. Sebagai arsitek dan interior designer kami memberikan perkiraan fee design yang memang jauh dibawah ketentuan dari Ikatan Arsitek Indonesia, hingga saat ini. Kira-kira 2-3% dari biaya membangun diperuntukkan untuk arsitek, merupakan sebuah nilai yang sangat kecil dibandingkan dengan besarnya manfaat untuk bangunan dan penghuninya.

Didalam bekerja mendesain, arsitek selalu mencoba mengerti kebutuhan klien disesuaikan dengan pengetahuannya. Sebagai profesi yang dikenal baru saja booming dewasa ini, arsitek memiliki posisi diatas tukang gambar/drafter. Bila diibaratkan dengan tukang cat misalnya, ada tukang cat yang bagus, ada tukang cat biasa-biasa saja, ada tukang cat yang sama sekali ga keren. Tinggal klien menilai seperti apakah seorang arsitek itu.

As an independent architect, our goal is to provide services of houses design for the general public, and the current development progress in Indonesia is very, very good, more and more people are in need of architects and architectural services is also growing . We as one of the ‘players’ in the service business should also have a good competitiveness with local and foreign architects.

Since the beginning of 2013, we get a few dozen contacts with prospective clients, where some become clients and some have not. Many thought that the architectural services are still too expensive, and then perhaps choosing not to use architectural services, or try to find another architect with a lower price or even free of charge. For some who choose to become a client astudio, we are very grateful .

About the price of our services, it is more or less determined by the market that will view the supposed architect, we appreciate our clients’ interest and more people to take decisions about having their home design provided by architects, because among the many professions that offer services, we are architects as well as doctors seeking to address his patients with the best possible services. About the price of design, it is an opened secret that is rather sensitive. As architects and interior designers we provide design fee which is below the provisions of the Indonesian Institute of Architects, until now. Approximately 2-3 % of the cost of building intended for architects, is a value that is very small compared to the benefits to the building’s quality and its occupants’ satisfaction.

In the work of designing, architects always try to understand the needs of clients tailored to their knowledge. As a profession known just booming today in Indonesia, architects have a position above builders / drafters. When compared with wall painters, for example, there are good wall painters, there are mediocre painters, and there are painters who are not good at all. It is the clients to assess whether an architect is to be capable of designing good buildings.

‘Form follow client’ adalah gurauan diantara para arsitek, yang merasa bahwa arsitektur yang mereka rancang ditentukan oleh klien. Memang klien adalah mereka yang memakai jasa kami, pendek kata klien adalah pemilik modal dan kami yang merancang bagaimana modal itu dipakai. Dari beberapa cerita teman yang bekerja di biro arsitek besar, arsitek kadangkala hanyalah ‘sebutir debu’ dalam project skala besar. Semua keputusan tentang besaran dan ukuran ditentukan oleh owner atau pemberi tugas.

Namun lain dengan arsitek yang bekerja untuk proyek-proyek rumah tinggal seperti kami di astudio, keputusan arsitektural sering ada ditangan arsitek, dengan owner yang memberikan batasan dasar untuk rancangan, misalnya banyaknya ruang, luasan ruang, macam ruang, kebutuhan mendasar seperti bagaimana suasananya, dan paling banyak klien akan memberikan saran soal tampilan. Bila di proyek-proyek besar perancangan semua data awal ini diberikan oleh pemberi tugas, namun di proyek yang kecil banyak hal harus dipikirkan.

Hal-hal ini tentunya semacam berapa luas atau dimensi ruangan yang sesuai untuk kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga dan sebagainya. Biasanya arsitek dapat memperkirakan berapa luas yang dibutuhkan, bagaimana ruang sebaiknya ditata didalam denah. Yang biasa menjadi perhatian para arsitek adalah bagaimana menciptakan ruang-ruang yang ‘bagus’, dimana ada beberapa kualitas yang tidak tergantikan dalam hal ini. Lalu apa susahnya menciptakan ruang yang ‘bagus’?

Ruang yang ‘bagus’ memang relatif, ada ruang yang terasa enak, nyaman, bisa bikin tenteram, bisa bikin si empunya bangunan merasa ini rumah yang enak. Tidak hanya ditentukan oleh seberapa bagus furniture yang dimiliki, seberapa mahal, atau seberapa banyak, namun juga seberapa bernilai arsitektur yang melingkupinya, arsitektur adalah sebuah furniture besar. Arsitek akan merasa senang apabila klien peduli dengan ‘bagian dalam’ dari sebuah rumah. Meskipun demikian tidak semua arsitek berpandangan sama tentang ruang dalam, karena banyak arsitek yang merancang dengan denah 2D tanpa memperhitungkan aspek-aspek 3Dnya.

Hal yang masih mengganjal hingga saat ini, sepertinya fungsi arsitek masih banyak dipandang sebagai semacam ahli tata rias. Tata rias yang membuat rumah atau bangunan tampil cantik dan menarik, semacam kosmetik tebal. Tentunya ada yang lebih yang bisa dilakukan arsitek dan interior designer, namun banyak arsitek yang memang kurang bisa memberitahukan hal ini, atau bahkan belum punya kemampuan dan keahlian ini. Kami di astudio berusaha menjembatani kekurangan ini dengan terus memberitahukan pada masyarakat tentang berbagai aspek arsitektural, sekaligus untuk membuat arsitektur kami lebih matang.

Sebagai arsitek, kami biasa memberikan pendapat-pendapat yang sifatnya solusi, meskipun tidak selalu merupakan keinginan penghuni namun dibalik itu pendapat-pendapat ini biasanya dipandang bernilai karena bisa meningkatkan nilai desain arsitektur. Penghuni adalah mereka yang akan menempati ruang-ruang dan bangunan yang kami rancang, dan mereka adalah partner untuk menentukan bagaimana mereka tinggal dan hidup (dari sudut pandang arsitek).

Sebagai arsitek juga kami tidak sungkan untuk membeberkan beberapa rahasia umum tentang bekerja dengan arsitek, karena kami berpendapat sebaiknya kebenaran tentang arsitek bekerja itu layak diketahui oleh umum, dan kami tahu bahwa kemungkinan besar dengan mengetahui lebih banyak justru orang lebih mempercayai keahlian dan kemampuan seorang arsitek. Seorang arsitek sebaiknya tidak melebih-lebihkan kemampuannya dan mengatakan bahwa ia bisa menyelesaikan semua hal tentang arsitektur. Namun seorang arsitek seperti halnya manusia dalam profesi lainnya adalah orang yang terus belajar untuk menghasilkan karya arsitektur yang lebih bernilai bagi Anda.

‘Form follow client’ was a joke among the architects , who feel that their architectural design is to be specified by the client. It is the clients who will use our services , in short, the client is the owner of capital and we are designing how the capital is to be used. Some friends who work in the greater architects firm have their opinion; architects sometimes just ‘a grain of dust’ in a large -scale project. All decisions regarding the size and dimensions is determined by the owner or assignor.

Yet it is different for architects who worked on residensial projects such as astudio, often architectural decisions are in the hands of architects, with the owner providing the basis for the design constraints, such as the amount of space, area, dimensions, and basic needs such as how the intended ‘facade’, and most clients will give you advice about the look. When in big projects all these preliminary data provided by the assignor, in a small project many things are to think about by the architect.

These things certainly sort of room dimensions are appropriate for the bedroom, bathroom, living room, etc. Usually architects will estimate how much is enough, how the space should be laid out in the blueprints. Common to the attention of architects is to create spaces that are ‘good’, where there are some qualities that are not replaceable in this regard. Then what is so hard for creating a space that is ‘good’?

‘Good’ space is relative, there are space that feels good, comfortable, may bring peace, or may make the owner feel a comfortable home. Not only determined by how well the furniture you have, how expensive, or how much, but also how valuable the surrounding architecture, architecture as a large furniture. Architects will feel happy when clients concerned with ‘the inside’ of a home. However not all architects share similar views about designing, because many architects  designs the 2D floor plan regardless 3D aspects .

It is still up to date, it looks like the function of architects are still widely viewed as a kind of makeup artists. The makeup they provide that make your home or building look beautiful and attractive, sort of cosmetics. Surely there is more that can be done by architects and interior designers, but there are many architects who are less able to tell you this, or even have not got the ability and expertise of doing that. We at astudio always try to bridge this shortfall by continuing to inform the public about various architectural aspects, as well as to make us more mature in architecture business.

As architects, we used to give the opinions that are solutions, though not always the same as desire of the occupants but behind these opinions are usually deemed valuable because it increases the value of architectural design. Occupants are those who will occupy the spaces and buildings that we have designed, and they are partners to determine how they live (from the point of view of the architect).

As architects we also do not hesitate to reveal some common knowledge about working with architects, because we believe the truth about how architects work should be known to the public, and we know that it is likely to trust an architect if the client know more precisely and then to trust the expertise and ability of an architect. An architect should not overestimate his abilities and said that he could finish all problems regarding architecture. But an architect should be as well as other people in the profession are those who continue to learn to produce a work of architecture that is more valuable to the public.

Masa depan 2014

Di masa depan kami ingin menjadi arsitek yang lebih awas terhadap lingkungan, dimana setelah belajar lebih jauh tentang peran arsitek kami ingin memberikan kontribusi bagi perkembangan arsitektur Indonesia yang lebih baik. Beberapa teori kami siapkan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik ini, dengan terus awas memperhatikan kecenderungan dan kebutuhan masyarakat akan arsitektur. Dibalik karya-karya desain kami yang sudah dibuat, terasa memang adanya perubahan dalam pola pikir dan kematangan desain. Dengan pengetahuan, arsitektur yang didesain akan menjadi lebih terencana, kontekstual dan teratur.

Akan ada perubahan dalam proses desain dan evolusi dalam pandangan-pandangan dalam konteks desain ini. Semua ini diakibatkan perkembangan jaman dan melihat evolusi dalam dunia desain memang mengharuskan tiap arsitek untuk berubah mengikuti jaman, menjawab pertanyaan yang ada pada jaman itu sendiri. Hal ini karena kami mempelajari beberapa hal tentang arsitektur di Indonesia dalam 100 tahun dan dari jaman purba, yang memberikan beberapa fakta penting:

Indonesia ternyata memiliki peradaban arsitektur yang sangat indah dan menarik, diantaranya adalah Candi Borobudur, candi Loro Jonggrang, dan candi-candi lainnya. Fakta bahwa kita memiliki artefak arsitektur dari jaman 3500 tahun lalu, sejak jaman nabi-nabi, di suku Sasak, Lombok, sama purbanya dengan peradaban di Mesir purba. Rumah dengan arsitektur Joglo dan berbagai jenis atap pernaungannya merupakan aset yang sangat indah untuk diaplikasikan dalam bangunan masa kini dengan mengambil banyak unsur dari arsitektur vernakular, dengan metode pembangunan modern.

Source: Wikipedia

Beberapa hal yang akan semakin diperhatikan adalah:

  • Kontekstual rancangan terhadap jaman, tempat dan keberlanjutan.
  • Pembelajaran tentang konteks bangunan yang lebih baik untuk Indonesia.
  • Penggunaan material lokal yang lebih banyak dengan teknologi sederhana dan advanced dalam pertukangan
  • Beberapa produk kemungkinan akan diluncurkan sebagai tantangan baru dalam dinamika masyarakat.
  • Beberapa penulisan semoga bisa diselesaikan untuk turut mewarnai perkembangan arsitektur di Indonesia.

Tentunya dalam proses perancangan, kami akan memperhatikan banyak hal seputar kebutuhan dan apa yang bisa kami berikan sebagai desain dan produk terbaik. Semoga tahun depan menjadi tahun yang makin baik bagi kita semua dengan adanya perubahan kepemimpinan di negeri ini, dan semoga Anda mendapatkan kebaikan-kebaikan dari dunia arsitektur dan budaya pada umumnya.

Salam,

Probo Hindarto

The future 2014

In the future we would like to become architect who is more aware to the environment, where after learning more about the role of architects in society we want to contribute to the better development of Indonesian architecture. Some theories we prepare for the better future, by continually having vigilant attention to the trends and needs of the society. Behind our design works that have been made, there is indeed a change in the mindset and maturity of designing. With more knowledge, architecture be better designed or planned, to be more contextual and organized.

There will be changes in the design and evolution in the views of design context. All this is due to the changing times and design evolution in the design world that is indeed required by each architect to change with times, to answer the question that is in his own era. This is because we learn a few things about architecture in Indonesia in 100 years and from ancient times, which gives some important facts :

Indonesian architectural civilization is indeed a very beautiful and interesting architecture, such as Borobudur temple, the temple of Loro Jonggrang, and other temples. The fact that we have architectural artifacts dated from the era of 3500 years ago, from the days of the prophets, in Sasak, Lombok Indonesia, the same age with civilization of ancient Egypt. Joglo house architecture and various types of roofing shelters are wonderful assets to be applied in the present buildings by taking many elements from vernacular architecture, with modern construction methods .

Some things that will be considered are:

  • Contextual design of present times, place and sustainability.
  • Learning about building a better context for Indonesia.
  • The use of local materials with more simple or advanced technology in carpentry.
  • Some products are likely to be launched as a new challenge in a dynamic society.
  • Some writing may be resolved to also influence the development of architecture in Indonesia.

Surely in the design process, we will pay attention to a lot of things about the society’s needs and what we can provide in designing and the best products. May the next year be the year that will be better for us all with the change of leadership in this country, and hopefully you get the virtues in the world of architecture and culture in general.

Regards, 
Probo Hindarto

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s