Fame Fortune Flirt – karya Aboday


Salah satu dari sedikit proyek rumah tinggal yang didesain Aboday, karena kebanyakan project merupakan project corporate dengan skala bangunan cukup besar. Pada desain rumah tinggal seperti ini biasanya arsitek bisa lebih menuangkan idealisme arsitekturalnya. 

astudioarchitect.com “Tidak mudah untuk menjadi arsitek di Indonesia”, kata-kata ini menjadi awal pembuka Fame Fortune Flirt, setebal 600 halaman. Memang kenyataan di lapangan menunjukkan hal itu; tidak mudah menjadi arsitek di Indonesia. Pertama adalah karena banyak masyarakat masih belum menyadari benar kegunaan arsitek sementara mereka membangun, kedua adalah karena regulasi pemerintah yang belum berpihak kepada arsitek. Namun kemudian bagi arsitek menjadi suatu tantangan yang membuat kecanduan. Fame Fortune Flirt memberitahukan kepada kita beberapa hal tersembunyi dan terbuka dari profesi arsitek yang disampaikan dengan baik dengan ilustrasi gambar-gambar proyek.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sebuah hotel yang dirancang Aboday. Disamping tampilannya yang terlihat bagus atau menarik bagi sebagian besar pengamat awam, Aboday mengakui bahwa terdapat beberapa kontradiksi dalam perancangan terkait dengan selera owner dan pandangan baru tentang arsitektur dan interior design oleh Aboday.

Jarang saya mengulas buku tentang karya orang lain dan buku ini juga sudah agak lama terbitnya, namun untuk buku ini adalah sebuah pengecualian, mengingat buku seperti ini mungkin jarang di Indonesia dan memiliki filsafat yang bisa menggugah kesadaran dan merubah pandangan-pandangan tentang arsitek dan profesi ini pada umumnya. Memang tidak terlalu mengubah pandangan, namun memberikan horizon yang cukup luas; profesi arsitek dengan segala macam kekuatan dan ketidak-berdayaannya. Bagi banyak arsitek yang belum ‘berevolusi dengan baik’, buku ini bisa jadi merupakan sebuah bimbingan dengan filsafat ringan yang bisa mengubah cara pandang. Yang ditunjukkan oleh buku ini sebenarnya lebih ke arah kekuatannya dengan sedikit hint pada berbagai kelemahan sebuah biro arsitek. Dengan gaya santai dan serius, Aboday membungkus buku ini menjadi sebuah buku rekam jejak perjalanan berarsitektur, selama kurun waktu beberapa tahun.

Berbagai wawancara dibuat untuk menggali sisi-sisi manusiawi dan yang belum terungkap dalam bagian buku lainnya. Mengetengahkan pewawancara yang cukup mengerti dunia arsitektur di Indonesia. Bisa memberikan banyak gagasan filosofis dari cara pandang mereka. 

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Saya lebih kenal mas Ary Indra, salah satu dari trio Rafael David, Ary Indra dan Johansen Yap, karena beliau adalah kakak kelas saya di Universitas Brawijaya. Beberapa kali kami bertemu dalam beberapa kesempatan seperti seminar dan talkshow. Karakter arsitek-arsitek ini memang diakui berbeda, dan memiliki perannya sendiri-sendiri. Gabungan arsitek memang memiliki semacam ego tension yang cukup tinggi, mengingat ego adalah salah satu karakter arsitek dan profesinya yang cukup kuat.

Terdapat delegasi tugas yang diakui oleh trio arsitek ini; Rafael David yang banyak menggeluti sisi keuangan dan programatik dalam proyek, Ary Indra yang banyak menggeluti sisi media publikasi dan desain arsitektural, dan Johansen Yap yang berkecimpung dibidang intern perusahaan dan desain. Dari penjelasan saat roadshow buku ini diketahui bahwa karakter ketiganya yang membangun biro arsitek ini juga dipengaruhi oleh background karakter yang berbeda pula.

Salah satu karya, misalnya karya ini, diakui dalam buku terasa panas. Menunjukkan keinginan Aboday menunjukkan beberapa aspek rancangan yang boleh jadi tidak sesuai dengan harapan. 

Disampaikan dengan nada berkelakar, diakui oleh ketiganya bahwa karakter kedaerahan dan kultural yang dibawa masing-masing arsitek adalah sebuah kontribusi kepada tim yang solid – yang kadang tidak solid juga di kenyataannya🙂

Uang adalah faktor penentu apakah sebuah biro arsitek akan menerima sebuah proyek atau tidak. Sebagai sebuah profesi, arsitek harus dapat hidup dari profesinya dan itu diutarakan dengan baik oleh Aboday sebagai salah satu aspek yang menentukan banyak segi dalam perancangan maupun penerimaan proyek. 

Rafael lebih mengarah kepada sisi keuangan dan memiliki ‘Gen Chinese’ yang dibutuhkan untuk membuat biro ini memiliki kekuatan-kekuatan dari masyarakat Tionghoa. Rafael cukup banyak membicarakan tentang ‘hoki’ atau keberuntungan dalam terminologi orang Chinese dan bisa jadi mempermudah untuk masuk kedalam komunitas-komunitas Tionghoa yang mengarah ke kedekatan pada kapitalis yang berminat memberikan project. Rafael juga pandai dalam membuat programatik dan merencanakan hal-hal seputar ekonomi keuangan baik dalam perusahaan Aboday maupun dalam project. Pendek kata Rafael adalah ‘the economy expert’. Dia yang bertugas untuk menentukan kelangsungan ekonomi perusahaan dan project, serta memiliki visi yang terarah berdasarkan kondisi keuangan. Hal ini tidak banyak dimiliki arsitek kebanyakan, karena bisnis dan ekonomi memang sesuatu yang berbeda dari arsitektur.

Untuk Ary Indra, saya lihat memiliki karakter arsitek dengan kecakapan media yang cukup baik. Ary dekat dengan media dan buku ini juga merupakan prakarsa Ary Indra dengan sistematika publikasi yang terstruktur dengan baik. Dari segi desain, Ary Indra juga dengan mudah mengimplementasikan karakter-karakter desain dalam bentuk tampilan arsitektural secara keseluruhan, meskipun ketiganya merupakan arsitek, namun sepertinya Ary yang lebih konsen ke arah pembentukan karakter bangunan. Ary juga cukup banyak melakukan tour dan mempublikasikan karya Aboday dalam berbagai kesempatan termasuk media dan universitas. Kecakapannya dengan persona merupakan kelebihan Ary yang banyak diakui bermanfaat ketika bertemu dengan klien. Dari background Ary yang merupakan orang Jawa, ke-Jawa-annya barangkali adalah kekuatannya yang terbesar, karena orang Jawa dikenal ramah dan membumi, baik hati dan mampu memberikan unsur keramah-tamahan dan pengertian kepada orang lain.

Sementara Johansen Yap, berada di sisi yang lebih manusiawi dan merepresentasikan ‘Flirt’, menurut versi yang beredar. Johansen dianggap sebagai gen ‘Batak’ yang ambisius, meskipun demikian pada awalnya Johansen justru sedang merasa tidak bergairah dalam dunia arsitektur ketika mereka membentuk Aboday. Barangkali Johansen yang memberikan unsur flirt itu dalam publikasi trio ini merupakan unsur introvert yang baik, dan memiliki kekuatan untuk digunakan didalam intern perusahaan Aboday.

Salah satu lagi, desain rumah tinggal oleh Aboday. Dalam hal ini totalitas mendesain dibarengi dengan keleluasaan secara ekonomi dan idealisme akan menghasilkan rancangan yang sesuai dengan imajinasi arsitek maupun keinginan pemiliknya. 

Benar atau salahnya interpretasi saya, saya kumpulkan melalui beberapa media dan juga cara menyampaikan presentasi dalam roadshow Aboday. Buku ini dengan berbagai isinya yang menggugah selera merupakan suatu cara pandang yang unik karena Aboday dengan sengaja mengekspos karya-karya maupun cerita dibalik karya dan buku. Tidak semua muncul dalam buku ini karena beberapa hal unik tentang sisi yang biasanya ditutupi oleh arsitek juga diberitahukan secara gamblang, dan sebagian lagi secara verbal melalui little chat dengan Ary Indra.

Dalam buku Fame Fortune Flirt, diselipkan juga segmen komik yang menunjukkan kehidupan dalam studio aboday beserta beberapa hint tentang problem sehari-hari. Peran masing-masing trio juga ditunjukkan melalui cara grafis yang humoris. Hal ini menunjukkan salah satu semangat ‘santai’ yang banyak disebutkan oleh Ary Indra. 

Aboday yang merupakan biro arsitek yang dibentuk oleh tiga orang yang keluar dari pekerjaan mereka di Singapore bertahun-tahun lalu adalah sosok biro arsitek yang realistis, dan mengajarkan kita untuk berpikir realistis pada suatu project. Jangan melupakan pelajaran bahwa project haruslah realistis, dan profesi ini juga harus demikian. Realistis itu harus dapat dipecah menjadi konsep-konsep yang bisa dilakukan secara nyata dilapangan, baik dari segi desain, sisi ekonomi perusahaan maupun project, ataupun dari sisi yang sangat humanistik.

Ada kemungkinan ‘Fame Fortune Flirt’ merupakan suatu cara untuk mengungkapkan ‘Harta Tahta dan Wanita’ dalam bentuk yang sangat Abodayish. Konsep-konsep ini dicitrakan dengan cukup manis melalui sebongkah buku tebal yang bisa dibaca habis hanya dalam waktu 1-2 hari saja. Mereka memberikan ruang-ruang yang cukup banyak untuk sebuah kelegaan dan kontemplasi, yang mungkin merupakan suatu cara memeditasikan perjalanan berarsitektur mereka.

“Play House” yang merupakan rumah tinggal Ary Indra, tak kalah juga ditampilkan sebagai icon yang menunjukkan banyak prinsip desain dan idealisme berarsitektur yang diusung Ary Indra dan Aboday secara keseluruhan. 

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s