[DIY weekend project] Cara membuat meja dapur gaya bar sendiri


astudioarchitect.com Untuk seorang pria, adalah sangat baik bila memiliki waktu luang melakukan hobi dan kesukaannya, menurut teori ‘man’s cave’, bekerja sendiri atau waktu luang sendiri dibutuhkan pria agar dapat meredakan emosi-emosi yang tidak diinginkan dan juga menjernihkan pikiran untuk kemudian menyelesaikan masalah-masalah dengan lebih baik. Kebetulan untuk saya sendiri, cukup hobi untuk membuat benda-benda sendiri dari kecil, dan kebetulan karena rumah yang ditempati belum ada kitchen set dan meja makannya, maka saya berinsiatif untuk membuat sendiri, meskipun dengan cukup banyak kesulitan sebagai amatir. Kitchen set sederhana ini barangkali tidak bisa dibandingkan dengan banyak kitchen set yang dibuat tukang-tukang sewaan saya biasanya. Tapi saya suka memperhatikan bagaimana mereka bekerja dan timbul keinginan untuk membuat sendiri kitchen set dan meja makannya. Ya walaupun tidak sesempurna pekerjaan tukang yang sudah pengalaman, paling tidak setiap kali saya boleh berbangga bahwa ini adalah hasil karya tangan saya sendiri🙂

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Inilah kondisi dapur saya sebelum membuat ruang dapur dibelakang rumah. 

Biasa, rumah baru dengan kondisi belum lengkap dan belum ada kitchen set, sempat membuat sekitar 3 bulan hidup dirumah jadi kurang lengkap. Setelah sering mengerjakan kitchen set untuk klien-klien, meskipun tidak mengerjakan sendiri, saya pun ingin membangun kitchen set saya sendiri karena kebetulan hoby membuat benda-benda hingga sekarang. Baiklah, untuk memulainya, mari kita lihat satu persatu proses pembuatan kitchen set ini.

Pertama yang dibutuhkan adalah ruangan yang akan dipakai sebagai ruang dapur dan ruang makan dalam satu area. Konsep yang akan dibuat adalah konsep dapur yang menyatu dengan ruang makan sekalian, jadi setelah memasak bisa langsung dihidangkan. Berhubung rumah kami adalah rumah mungil di perumahan, maka tidak terlalu sesuai membuat kitchen set besar dengan satu set meja makan, dan karenanya saya memeras otak untuk mendesain kitchen set yang simple dan bisa mewadahi semua aktivitas memasak dan makan untuk keluarga kecil.

Inilah kondisi dapur mungil saya, kebetulan semua ini juga saya buat sendiri dibantu tukang dan sisa-sisa kayu pekerjaan rumah. Dindingnya sebagian menggunakan dinding bata tanpa diplaster, dan tegelnya adalah teraso sisa dari bongkaran rumah ibu saya.

Kitchen set diatas, jelas bukan kitchen set yang sangat canggih, namun saya pikir cukup untuk keluarga kecil saja, dengan perlengkapan sebagai berikut:
1. Sebuah sink merk Royal langsung jadi yang dibeli di Depo Bangunan. Kabinet dibawahnya sudah langsung ada bersama dengan sinknya, jadi kita beli sink ini sudah ada kabinet bawahnya. Harganya dibawah 2 juta, saat saya beli waktu itu sekitar 1,6jt. Websitenya bisa dilihat salah satunya di http://royalkitchenset.com/. Ada banyak yang menjual kitchen set Royal ini dengan berbagai bentuk, fasilitas dan ukuran, dan kebetulan saya beli ini di Depo Bangunan.  
2. Rak atas yang dibuat dari sisa kayu papan untuk meletakkan berbagai keperluan dapur seperti botol bumbu. Rak ini dibuat oleh tukang pekerja biasa tanpa keterampilan kayu yang baik. Karena bentuknya sederhana saja dan fungsional, maka memang tidak terlalu susah. 
3. Kompor listrik. Nah ini adalah pilihan saja, karena kebanyakan orang memasak dengan bahan masakan yang lengkap dan cara memasak yang lama dan ribet, kemungkinan kurang sesuai menggunakan jenis pemanas ini. Kebetulan yang saya pakai ini adalah kompor listrik yang sebenarnya adalah coffee heater saja, dengan kemampuan untuk memanaskan dan menghangatkan. Kompor listrik ini mungil dan tidak butuh banyak tempat. Kompor listrik konduksi Krisbow (beli di Ace Hardware) yang saya punya ini dengan daya 450watt tiap tungkunya. Kompor atau pemanas ini disebut juga hotplate (kalau tidak salah), dan menyerap daya yang sangat hemat. Penggunaan sehari-hari cukup irit listrik. Dibandingkan dengan kompor induksi yang banyak beredar di pasaran (bila belum tahu kompor induksi, coba googling dulu) kompor ini cukup irit, karena kompor induksi biasanya memakan daya 4000-6000watt per tungku. 
Saya memilih hotplate dengan dua tungku seperti ini karena faktor kemudahan dan tidak harus membeli gas. Kompor ini kurang cocok untuk ibu-ibu yang cara memasaknya suka canggih (baca:heboh), namun cocok untuk mereka yang memasak makanan mudah-mudah, atau sekedar untuk berjaga saat gas habis dan tetap ingin memasak. 
Jenis ini sebenarnya merupakan pemasak air dengan dua tombol untuk masing2 tungkunya, tombol merah untuk mendidihkan (panas – 450 watt), tombol hijau untuk menghangatkan (60 watt). Dengan menyalakan kedua tombol terbukti panas lebih cepat. Memiliki juga fungsi mati otomatis bila terlalu panas. Material pemanas cukup solid (bukan kumparan) dan tidak mudah rusak dibandingkan kompor konduksi yang memakai kumparan. 
Tidak ada masalah dengan fungsi menggoreng, bekerja dengan sangat baik seperti kompor gas. Ditambah dengan menggunakan kompor listrik peralatan masak akan selalu bersih tanpa jelaga ataupun bekas gas. 
Kekurangannya adalah kompor listrik ini hanya sesuai untuk peralatan dengan permukaan bawah datar dan berdiameter maksimal sekitar 16cm (bagian bawah). Peralatan tersebut juga harus dari jenis yang solid sehingga ada panas yang menyebar merata di bagian bawahnya. Saya mendapatkan peralatan masak yang bisa digunakan di Informa
4. Bagian lain saya buat dengan material sisa-sisa pembangunan rumah, seperti meja kayu dari palet. 

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Foto diatas menunjukkan kitchen set yang menggunakan material biasa saja. Kebetulan saya tidak punya foto-foto saat pembuatannya, jadi hasil akhirnya saja yang saya tampilkan.  Berikutnya menginjak ke pembuatan meja makan dan rak dalam satu kesatuan yang bentuknya saya buat mirip seperti meja bar saja, dengan material sederhana yang mudah didapatkan.

Awalnya adalah 4 lembar multipleks dengan tebal 1,5cm.
Multipleks diukur dengan bantuan meteran untuk dipotong.

Kadang kita perlu mengukur dengan detail.

Klem dibutuhkan untuk menyatukan papan yang akan dipotong dengan jigsaw sebagai relnya. 

Klem digunakan kadang-kadang untuk membuat hasil gergaji jigsaw lebih lurus dengan menggunakan papan lain sebagai rel. 

Tahap pemotongan dengan jigsaw machine, gergaji mesin. Anda juga bisa menggunakan gergaji manual atau gergaji mesin tipe bundar. 

Ini hasil potongan-potongan bagian meja. 
lapisi permukaan yang diinginkan dengan sheet plastik motif kayu. 

Bagian multipleks bisa dilapis dengan sheet dengan motif kayu. Sheet ini harganya murah sekitar Rp30rb/meter. 

Proses pemasangan meja, diatasnya diberi granit tile ukuran 60x60cm dengan motif granit merah. Cara ini alternatif mudah dan cepat dibandingkan dengan memesan granit batu alam yang sebenarnya, namun kekurangannya adalah adanya garis antar granit tile. 

Bagian siku dalam, untuk mempermudah menyusun lembaran-lembaran bagian meja, dihubungkan dengan siku-siku kecil. 

Cara memasang sikunya dengan disekrup. Ini akan menjadi bagian dalam yang tidak terlihat dari ‘luar’ atau bagian yang dipakai sebagai area makan. 
Ini adalah hasil akhir dari meja makan sekaligus meja bantu untuk pekerjaan memasak, dengan modul 60x180cm, diatasnya memiliki topping granit tile. Meja bisa digunakan untuk 2 orang di sisi yang ada daun mejanya. Biasanya bila ada tamu atau lebih dari 2, saya atau istri akan duduk dibagian dapur dan makan disini. 
Belakangan saya membuat lampu hias untuk melengkapi meja ini dengan menggunakan bekas kaleng dan stiker kaca. Bagian dalamnya ada lampu. 
Lampu-lampu yang belum dipasang terlihat menggelantung kabel, dibawah atap sederhana yang dibuat dari bambu-bambu yang ditutup polycarbonate diatasnya. Kelebihan dari atap polycarbonat adalah dia bisa meneruskan cahaya dan tidak terasa panas karena sengaja sisi lain yang menghadap taman ditutup hanya dengan tirai bambu. 

Bila tirai bambu dibuka dan ditambahkan elemen lain, misalnya seperti karpet dan tempat duduk, bisa menjadi area baru untuk bersantai. Project pembuatan meja dapur ini memakan sekitar 4 weekend, dan dikerjakan pada waktu luang saja di waktu weekend. 
Nah, bagi pembaca sekalian, apa project akhir minggu Anda? 

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s