Kampung dan Intuisi


astudioarchitect.com Studio kami pernah mendesain sekaligus membangun rumah tinggal yang letaknya di sebuah kampung. Ia berada di depan sebuah gang sempit. Rumah tersebut unik karena pemiliknya lumayan peduli akan lingkungan sekitarnya. Rumah itu berada di ujung gang kecil. Di belakangnya terdapat puluhan rumah. Gang itu tidak lebar, hanya 1 sampai 1,5 meter. Namun pejalan kaki, motor, gerobak dagangan, bahkan keranda mayat keluar masuk melalui gang tersebut. Pemilik rumah memberikan kontribusi kepada lingkungan dengan mengorbankan tanah miliknya agar gang di samping rumahnya menjadi lebih lebar. Ia merelakan tanah milik keluarganya untuk warga yang berada di belakang rumahnya.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Saya mendapatkan kesan bahwa gang seperti itu tidak direncanakan dengan matang, sebagaimana kita arsitek mendesain bangunan secara mendetail. Hal itu mendorong saya untuk mengamati bagaimana kampung seperti ini berkembang dan bagaimana intuisi berperan.

Saya melakukan pengamatan pada perkampungan padat disekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Tujuannya adalah melihat bagaimana ia mempertahankan diri dan menggunakan sumber daya dari sungai itu sebaik-baiknya. Saya menyukai dan menikmati arsitektur yang terbatas dan penuh resiko, karena justru dari arsitektur seperti ini kita bisa melihat material, konstruksi, penggunaan ruang yang paling optimal dengan berbagai keterbatasan.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Dari pengamatan sederhana mengunjungi daerah aliran sungai yang dimanfaatkan sebagai permukiman, saya melihat tiga hal: pertama, banyak orang terpaksa menggunakan daerah aliran sungai sebagai tempat hidup yang tentunya tidak layak karena berbahaya saat hujan deras. Kedua, terjadi kerusakan lingkungan karena daerah pemukiman menyebabkan tidak adanya penyerapan air dan erosi tanah terus menerus. Ketiga, daerah aliran sungai menimbulkan jenis arsitektur rakyat atau kampung yang memiliki jenis estetika dan penyelesaian arsitekturalnya sendiri yang intuitif.

Saya menganggap yang ketiga adalah bagian terbaik dari fenomena daerah aliran sungai. Bukan berarti saya setuju dengan penggunaan daerah aliran sungai sebagai permukiman, tapi karena pada kondisi tersebut kita bisa melihat nilai-nilai desain muncul karena keterbatasan dan keunikan kondisi lahan.

Daerah aliran sungai yang biasanya berkontur menyebabkan rumah-rumah dibangun mengikuti kontur. Terkadang rumah harus naik dengan tangga yang curam dan karena itu menimbulkan nuansa ruang yang tidak diatur melalui standar standar baku arsitektur. Banyaknya arsitektur dan ruang yang eksperimental ini memberikan pengetahuan arsitektur yang tidak bisa didapatkan dari buku. Seperti misalnya tangga yang tidak memiliki bordes dan anak tangga setinggi 30 sampai 40cm. Saya membayangkan susahnya orang yang sudah tua untuk hidup di daerah seperti ini. Bahan material seadanya juga menjadi jenis arsitektur trial and error yang patut diperhatikan. Arsitektur kampung menyadarkan kita bahwa pada kondisi tertentu, manusia dapat beradaptasi.

Intuisi
Untuk ‘membaca’ fenomena kampung atau permukiman padat, kita bisa melacaknya melalui kecenderungan perkembangan kampung. Contohnya kampung tradisional di Jawa yang biasanya tumbuh dari rumah-rumah yang dibangun dengan jarak cukup berjauhan.

Dinamika kehidupan keluarga membuat bagian dan elemen rumah-rumah tersebut mengalami berbagai pergeseran fungsi. Kelahiran, anak yang beranjak dewasa, menikah, berkeluarga, bahkan meninggal, semua punya konsekuensi terhadap penataan di dalam rumah. Hal itu menyebabkan munculnya berbagai kebutuhan baru yang harus dipecahkan. Anak yang menikah dan kebanyakan masih hidup dengan orang tua mereka akan menempati rumah yang sama. Tak jarang dua tiga keluarga hidup dalam sebuah rumah. Morfologi denah bertambah secara intuitif dengan cara melebar dan menciptakan pintu baru. Adakalanya pintu-pintu tersebut mewakili satu keluarga. Masih berada di bawah satu atap, namun pintu dibuka ke arah yang berbeda sebagai jalan masuk untuk masing-masing keluarga.

Banyak perubahan terjadi seperti kelahiran, pernikahan,kematian, serta kepindahan. Pindah rumah, menjual rumah dan datangnya penghuni baru menimbulkan konsekuensi baru yang tak kalah rumitnya. Pintu-pintu yang menghubungkan rumah bisa ditutup, dibuka, dan dihubungkan untuk mengakomodasi datangnya kehidupan baru ini. Demikian pula warna hidup yang semakin bertambah dengan datangnya karakter manusia yang lain. Contohnya tetangga yang terlalu dekat menimbulkan konflik baik psikologis maupun spasial.

Sebuah rumah dalam kampung campin berkembang dengan cara ini. Misalnya satu rumah dengan dua kamar dan tujuh anak, yang melebar dengan perluasan horizontal dan vertikal dengan masing-masing pintu untuk keluarga yang berbeda. Rumah berkembang dengan ‘cair’ dan intuitif untuk meletakkan ruang-ruang seperti yang dibutuhkan tanpa adanya desain yang secara arsitektural bisa dikatakan matang. Pintu, jendela, dan jalan terhubung sesuai kebutuhan, semuanya berdasarkan intuisi. Belokan-belokan tercipta di antara kepadatan rumah yang disebut kampung.

Perumahan:  Sebuah kampung yang didesain

Apabila kita membaca “kampung” sebagai suatu perkembangan perumahan yang intuitif, jenis perumahan yang ‘didesain’ sejak  awal layak dijadikan pembanding. Perumahan baru adalah cikal bakal kampung dengan morfologi penataan yang lebih tertata. Ia berbeda dari kampung yang berkembang secara intuitif. Perumahan dibeli dengan lahan terpetak-petak. Antara rumah satu dengan lainnya memiliki kesamaan. Bila kita saksikan kecenderungan perumahan saat ini, pola perkembangannya menimbulkan konsekuensi-konsekuensi baru yang pada dasarnya memiliki dinamika sedikit berbeda dari kampung yang intuitif. Namun di antara keduanya tetap ada benang merahnya yaitu intuisi.

Petak-petak lahan yang terbagi dengan jelas menimbulkan perasaan akan teritorial yang lebih kuat daripada dikampung yang tidak didesain sejak awal. Perumahan merupakan template yang dapat dikembangkan sesuai dinamika dalam keluarga yang mendiaminya, terutama untuk perumahan menengah kebawah. Dewasa ini banyak rumah-rumah dijual dengan tipe kecil yang secara umum belum dapat mewadahi kebutuhan ruang keluarga pada umumnya. Tipe 21 dan 36 seringkali dibangun tanpa dapur. Hal itu menyebabkan perubahan morfologi pasti terjadi dengan unik. Template denah rumah akan bertambah sesuai dengan kebutuhan mendasar seperti dapur, tambahan ruang kamar tidur, teras, carport, dan sebagainya.

Rumah di perumahan merupakan cikal bakal dari rumah yang dapat berkembang sebagai bagian dari kampung yang lebih tertata, yang kebanyakan perkembangannya juga dipengaruhi intuisi penghuninya. Tidak ada rumah di perumahan yang dikembangkan dengan cara sama menunjukkan bahwa masing-masing pemilik punya kecenderungan dan karakter berbeda. Tidak ada orang yang ingin disamakan dengan orang lainnya. Mirip seperti fashion, orang cenderung ingin berbeda untuk menunjukkan kepribadian dan cita rasa yang dimilikinya.

Semakin lama, sebuah kampung intuitif atau perumahan yang didesain dari awal akan semakin terbentuk secara sosial maupun spasial. Biasanya para penghuni secara intuitif menyelesaikan problem-problem berdasarkan pengalaman dan impuls dari dunia intrinsik individu. Kampung makin ‘mendewasa’ dengan makin banyaknya kejadian, seperti kelahiran, kematian, pencurian, acara bersama, masalah lingkungan, dan sebagainya.

Kampung-kampung kadangkala menjadi arena yang mirip seperti sebuah keluarga besar lengkap dengan orang-orangnya yang menyenangkan, menyebalkan dan segudang hal alami kemanusiaan lainnya. Adanya kelahiran, perkawinan, kematian dan hal-hal yang harus diselesaikan bersama adalah hal-hal yang makin mempererat jalinan dan hubungan antar manusianya itu.

Kampung adalah sebuah konteks kebudayaan yang alami dan intuitif, dimana intuisi ini adalah bagian yang paling sering dipandang ‘primitif’ yang banyak bertentangan atau kurang sesuai dengan standar arsitektur dari pengetahuan yang modern.

Arsitek banyak bekerja dengan standar, petunjuk, dan handbook, berusaha untuk mengeliminasi trial and error dalam bekerja dengan intuisinya saat mendesain. Meski begitu, bila belajar dari kampung yang intuitif, kita akan sering tersenyum karena menyadari bahwa intuisi murni dapat menyelesaikan masalah dengan cara kanak-kanak. Misalnya seperti anak tangga setinggi 40 cm itu.  Dengan membuat asumsi bahwa manusia bisa beradaptasi atau menerima keadaan dan menggunakan pikirannya tanpa henti untuk menyelesaikan masalah.

Nampaknya tubuh kita didesain agar bisa menerima serangkaian penyelesaian arsitektural non standar yang intuitif dan asumtif.  Barangkali untuk mengingatkan bahwa dulu manusia pernah hidup di gua yang tidak memiliki standar arsitektural. Seringkali desain dan konsep modern justru mengabaikan kemungkinan-kemungkinan intuitif itu, namun rasanya bila kembali kepada sifat alami manusia, dorongan intuitif untuk meng’kampung’ akan menemukan jalannya bila diberi kesempatan.

*) Artikel ini juga dimuat dalam konteks, media informasi arsitektur

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s