Mengenal Orientasi Rumah dan Bangunan


astudioarchitect.com Meskipun topik ini termasuk topik yang agak susah diterjemahkan dalam bahasa awam, saya coba untuk mengulasnya dalam artikel ini. Tentunya untuk rumah tinggal, kita tidak mengenal ‘orientasi’ yang terlalu rumit seperti arah kiblat dan sebagainya, namun lebih ke arah bangunan rumah sebaiknya memiliki suatu orientasi ke arah tertentu yang menjadikan ruangan, pemandangan dan arah hadap sebagai ‘orientasi bangunan’. Orientasi ruang atau bangunan dapat meningkatkan

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sebagai manusia, kita sealu memiliki orientasi atau ‘kliblat’, yang dikenal juga dalam agama masing-masing. Bagi orang Hindu, sebuah pura atau gunung bisa menjadi suatu pusat orientasi atau Pusering Jagad (Pusat Dunia). Orang Muslim memiliki kiblat ke arah Ka’bah, demikian juga orang Kristen ke gunung Golgotha di Yerusalem. Dalam dunia arsitektur, kita mengenal adanya orientasi bangunan, yaitu semacam ‘arah’ atau hadap ruang dan arsitekturnya.

Desain oleh Probo Hindarto

Arah Orientasi
Dalam merancang desain rumah, sebagai arsitek baik disengaja ataupun tidak, disadari ataupun tidak saya selalu merancang dengan membuat rumah memiliki orientasi tertentu. Orientasi dibutuhkan agar ruang dalam rumah memiliki nilai lebih. Nilai lebih ini misalnya adalah pemandangan, kesan rekreatif, dan sebagainya. Tidak mudah untuk merancang dengan memperhatikan arah orientasi. Saya banyak melihat arsitek yang kurang memperhatikan hal ini, dan merancang hanya dalam bentuk 2 dimensi dan menganggap bahwa setelah denah jadi ia tidak harus memperhatikan orientasi yang dapat meningkatkan nilai rumah itu sendiri yang ditingkatkan melalui potensi yang dimiliki orientasi tersebut.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Asal orietasi bangunan
Nah, apa sajakah yang bisa menjadi asal orientasi bangunan? Pada saat awal mendesain, yang pasti diperhatikan adalah lokasi didirikannya bangunan. Dalam skala lahan atau site, kita perlu mempertimbangkan dalam skala besar dulu, misalnya lahan ini berada dimana, dikota mana, dan potensi alam apa yang dapat dipertimbangkan untuk menunjang keindahan bangunan. Apabila ada gunung, danau, hutan, laut atau sejenis keindahan alam, kita bisa mempertimbangkan untuk membuka arah orientasi bangunan melalui jendela, pintu atau menghadapkan ruang atau bangunan ke arah tersebut.

Desain oleh Probo Hindarto

Apabila keindahan yang ‘besar’ seperti pegunungan, danau atau laut tidak ada, coba cari pada sekitar lahan tersebut, misalnya disekitarnya ada sesuatu yang menarik, misalnya bangunan rumah ada didekat pemandangan landscape kota seperti tugu, patung, atau bangunan landmark lain, mungkin kita perlu mempertimbangkan untuk membuka jendela ke arah tersebut.

Apabila orientasi bangunan ke arah luar tidak ada, cobalah cari pada lahan Anda, apakah terdapat sesuatu yang menarik, misalnya pohon eksisting yang sangat indah, ataukah lahan memiliki kontur? Kontur atau pohon dapat juga menjadi orientasi bangunan yang menarik. Kita dapat mempertahankan kontur tanah dengan perbedaan ketinggiannya sehingga bisa kita olah menjadi aspek rumah yang unik. Rumah menjadi tidak rata, ada naik turunnya, dan ada perbedaan ketinggian disatu ruang atau bagian bangunan ke bagian lainnya.

Photo by Axel Drainville 

Yang tak kalah pentingnya adalah orientasi dari pergerakan matahari. Lahan yang menghadap timur, utara, barat dan selatan masing-masing memiliki jam penerimaan sinar matahari yang berbeda. Lahan menghadap timur biasanya lebih terkena matahari pada pagi hari di bagian depan dan pada sore hari tidak. Lahan yang menghadap barat cenderung panas pada sore hari karena bagian depan yang terbuka lebih banyak menerima sinar matahari. Lahan yang orientasinya ke arah utara selatan lebih gampang, apalagi bila berada diantara rumah lain (diapit rumah lain), sehingga bisa terhindar dari sinar menyengat yang meningkatkan suhu secara langsung.

Kemudian, bagaimana jika pemadangan atau area disekitar lahan tidak menarik bahkan cenderung tidak menyenangkan? Misalnya bila lahan rumah berada disekitar pasar, area yang kurang aman, atau kuburan? Dalam hal ini, kita perlu menyiasatinya dengan menutup sebisa mungkin orientasi yang tidak menyenangkan itu melalui desain rumah. Apabila mungkin blok pemandangan ke arah pemandangan tidak menyenangkan misalnya seperti kuburan itu, dengan dinding yang tinggi. Sangat terkecuali apabila pemilik menyukainya, misalnya menyukai suasana pasar atau bila memang suasana jalan yang ramai merupakan pemandangan yang menarik. Hanya Anda yang bisa menentukan apakah sebuah pemandangan perlu di blok, dan sampaikan hal itu pada arsitek Anda.

Dalam merancang bagian dalam juga begitu, hadapkan atau orientasikan pintu dan jendela, terutama ke arah taman atau pemandangan menarik. Tentang bagaimana menyelesaikan bentuk detailnya Anda bisa meminta arsitek Anda memeras otak😉

Khusus perkotaan atau lahan terbatas
Khusus untuk ini, kita perlu mempertimbangkan bahwa pemandangan menarik di kota sudah banyak ditutupi oleh bangunan sekitarnya, namun kita bisa menyiasatinya dengan cara membuka orientasi ke arah taman dalam, bangunan tinggi yang menarik (pencakar langit), atau membuat taman diatas atap yang indah. Ingat bahwa meskipun diatas atap, taman atap bisa juga menjadi sebuah tempat untuk melepaskan ketegangan, melihat langit terbenam pada sore hari, menjadi tempat berkumpul melihat kembang api disekitar saat pergantian tahun, dan sebagainya.

Karena biasanya tingkat kriminalitas di perkotaan lumayan tinggi, banyak yang mempertimbangkan untuk membuat pagar tinggi sebagai konsekuensi. Namun bila lahan berada di area yang relatif aman seperti perumahan yang sudah terbentuk atau pedesaan yang relatif aman, Anda bisa mempertimbangkan untuk membuat pagar rendah dimana orientasi bangunan bisa juga menghadap ke jalan depan.

Hal yang umum adalah orientasi ke taman dalam diutamakan. Adanya taman dalam adalah sebuah kemewahan, karena makin jarang rumah di perkotaan memiliki taman dalam. Karena itu, alih-alih menjadi tempat jemuran, taman dalam musti diperhatikan benar agar terjaga keindahannya, tetap bersih, dan tidak menjadi area penyimpanan atau bahkan gudang untuk barang-barang yang tak terpakai. Taman yang tidak tertata dan tidak bersih mencerminkan penghuni yang kurang peduli.

Tips dalam merancang
Dalam merancang, perhatikan hal-hal seputar orientasi ruang dan bangunan sebagai berikut:

  • Perhatikan apakah lahan berada ditempat yang indah seperti perbukitan, danau, pemandangan kota yang menakjubkan, atau pantai. Pemandangan juga bisa berarti adanya landmark kota atau obyek buatan yang menarik. Buatlah desain yang mengakomodasi pemandangan ke arah alam yang indah itu. 
  • Perhatikan apakah ada area disekitar lahan rumah atau bangunan yang sebaiknya ditutup, seperti kuburan, sekolah, jalanan berdebu, kemacetan, atau kekhawatiran akan tingkat kriminalitas yang tinggi. Namun sebaiknya perhatikan agar desain rumah tidak menjadi egois atau terkesan anti sosial.
  • Perhatikan apakah lahan berada ditempat yang aman seperti perumahan yang sudah terbentuk dengan pengamanan lingkungan dan sebagainya, agar memungkinkan kita membuat rumah yang minim pagar. 
  • Perhatikan potensi dalam lahan. Potensi ini menyangkut kontur lahan, atau pohon yang indah. Beberapa jenis pohon dapat dipertahankan agar dari dalam rumah dapat menikmati pohon tersebut. Rumah dapat dirancang melingkari atau mempertahankan keberadaan pohon yang indah itu, agar kelak anak dapat mengenal alam dan menghargai lingkungan sebagaimana orangtuanya. 
  • Perhatikan arah utara selatan bangunan. Bagian timur apabila disukai bisa memasukkan cahaya matahari pagi hingga jam 10 yang masih enak. Bagian barat mungkin perlu ditutup atau diberi shading device atau secondary skin agar tidak panas. Bagian utara selatan dapat dimaksimalkan untuk mendapatkan view pemandangan yang diinginkan. 
  • Apabila rumah berada di area lahan yang luas, misalnya rumah di pedesaan dengan lahan luas dan rumah ditengahnya atau masih banyak lahan sisa, kita juga perlu memperhatikan arah angin darimana biasanya datang. Ini bisa diperhatikan melalui pengamatan sepanjang tahun atau memperhatikan arah pergerakan angin yang umum di daerah tersebut. Ini dapat mempengaruhi suhu, kelembaban dan juga debu yang masuk melalui ventilasi dan bukaan bangunan. 

Nah, setelah berpanjang lebar tentang arah orientasi bangunan, sekarang kita lebih mengerti tentangnya dan dapat mengimplementasikan pada desain rumah tinggal yang lebih baik.

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s