Refleksi 10 tahun menjadi arsitek


astudioarchitect.com Hari ini saya tidak membuat artikel seperti biasanya tapi saya ingin membuat sebuah refleksi dari perjalanan saya menulis blog selama kurang lebih 10 tahun. Blog ini memiliki beribu ribu fans facebook dan saya sangat mensyukuri hal itu, itu semua tanpa membayar facebook untuk mendapatkan seluruh fans. Bagi anda yang memang mengenal saya secara langsung ataupun tidak langsung melalui blog atau facebook, pasti mengerti bahwa saya sudah melakukan hal ini sejak lama. Tepatnya sejak saya memutuskan untuk menjadi seorang arsitek setelah saya selesai kuliah tahun 2005.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Saya memulai menjadi arsitek dengan menjadi penulis arsitektur lebih dulu.

Memang saya adalah lulusan arsitek seperti teman-teman saya dikuliah dulu, namun sebenarnya tidak semua lulusan jurusan arsitektur menjadi arsitek. Kebanyakan teman saya malah tidak. Ada yang memilih untuk bekerja yang benar benar lain bidang selain arsitektur atau bidang konstruksi. Ada juga yang masih dekat dekat dengan bidang konstruksi. Banyak juga teman teman seangkatan saya yang malah tidak bekerja karena mereka menjadi ibu rumah tangga hehehe. Sementara itu teman temannya yang laki laki juga banyak yang lebih suka untuk mengambil jalur lain dibanding menjadi seorang arsitek.

Ini tidak bisa dipungkiri karena menjadi arsitek sebenarnya bukanlah hal yang mudah terutama apabila anda memulai dari bukan sebagai siapa siapa. Saya sendiri harus memulainya dengan semacam energi yang luar biasa di dalam diri saya untuk memutuskan jadi arsitek. Waktu saya memulainya pada sekitar tahun 2005 tidak ada blog atau website arsitektur seperti sekarang ini. Sekarang ini semua arsitek pasti punya website blog atau mungkin hanya sekedar facebook, dan itu memudahkan bagi mereka yang ingin menghubungi arsitek yang bersangkutan.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Jangan tanya tentang bagaimana memulai menjadi seorang arsitek pada tahun tahun dimana internet itu bukanlah hal yang benar benar dipandang penting. Saat itu website website besar yang bahkan sekarang lebih besar daripada blok Astudio belum ada sama sekali. Saya ingat bahwa browsing data untuk sekedar ingin tahu tentang berbagai hal seputar arsitektur hanya menemukan sedikit sekali sumber sehingga lebih baik mencari dari website website berbahasa inggris. Astudio pada waktu itu adalah sebuah eksperimen bagi saya pribadi karena saya adalah seorang arsitek yang pada waktu itu tidak memiliki studio. Itulah mengapa studio saya dinamakan sebagai Astudio yang artinya kurang lebih “tanpa studio”.  tetapi nama Astudio juga punya makna yang dalam yang juga, berarti sebuah “awalan untuk segala sesuatu”. Disamping bahwa saya sedang mencari nama studio yang benar benar simple dan mudah diingat.

Jadi sebenarnya Astudio pada awalnya tidak bernama Astudio namun nama aslinya adalah Xtrude Design. Nama ini jelas merupakan nama yang susah untuk diucapkan dan susah juga untuk diingat. Extrude adalah sebuah perintah di dalam autocad yaitu memberikan perintah menjadikan 2 dimensi menjadi 3 dimensi. Beberapa rekan seangkatan bergabung di dalam studio ini pada waktu itu, namun sebagai studio awal di mana anggotanya yang tergabung masih punya idealismenya masing masing, sehingga tidak pernah menemukan semacam titik temu, sehingga yang bertahan hanya 3 orang. Diantara kami bertiga ada dua yang sedang berpacaran dan itu bukan saya😉 . Pada saat cinta mereka kandas cerita studio kami juga kandas di tengah jalan.

Alhamdulillah bahwa saya bisa meneruskan Astudio hingga sekarang yang merupakan sebuah perjuangan tanpa henti untuk memberikan wawasan kepada masyarakat secara terus menerus dalam artikel artikel yang jumlahnya sudah 800an lebih pada saat ini. Jadi dalam jangka waktu dari tahun 2005 hingga 2015 ini selama 10 tahun saya tidak pernah berhenti membuat artikel yang isinya tentang bermacam macam hal seputar arsitektur, tentang rumah tinggal maupun tentang idealisme arsitektur lainnya. Dari semua artikel itu saya sebenarnya memberi, namun juga menerima banyak sekali. Menulis memang sangat berarti bagi saya karena saya mungkin tidak bisa hidup tanpa menulis untuk sebuah bidang yang benar benar saya sukai yaitu arsitektur.

Mengobrol dengan rekan arsitek dan sharing adalah sangat berharga

Dari proses menulis saya juga mendapatkan semacam siklus pengetahuan yang tiada henti. Karena pada waktu anda menulis, anda tidak akan berhenti berpikir. Menulis adalah berpikir yang sering kali malah membutuhkan lebih banyak kesadaran daripada berbicara secara langsung. Sebagian besar isi dari blog Astudio saya tulis dengan menggunakan pikiran pribadi yang ditunjang oleh pengetahuan yang didapatkan dari berbagai sumber. Saya yakin hampir semua arsitek atau penulis yang intensif dengan bidang ini benar benar harus menggali sedalam mungkin pengetahuan karena pada dasarnya arsitektur adalah sebuah bidang yang sangat luas yang berhubungan dengan banyak bidang lainnya. Bahkan mungkin semua bidang yang pernah ada di muka bumi. Pada saat anda mendesain rumah sakit maka anda harus mengerti sedikit banyak tentang kedokteran. Bila anda mendisain sebuah rumah untuk orang yang punya bisnis online banyak stok barang maka anda sedikit banyak harus mengerti tentang bisnis online dan barang barang yang bersangkutan. Hal itu juga berarti seorang arsitek paling tidak harus mengerti tentang kehidupan orang yang sedang menjadi kliennya.

Cerita suka dan duka banyak terjadi seiring 10 tahun berkarya ini, bahkan saya sendiri baru sadar bahwa saya sudah berkarya selama 10 tahun. Cerita duka biasanya saat desain yang dikerjakan susah payah dan membutuhkan berhari-hari tidak dibayar atau dibawa pergi. Namun cerita sukanya juga banyak; misalnya banyak klien yang menjadi terasa lebih dari saudara, sehingga nambah klien berarti nambah saudara.

Menulis buku dan blog tetap saya lakukan hingga saat ini. Itu adalah sumber inspirasi.

Sejak tahun 2005 dimana buku saya pertama kali terbit yaitu berjudul “rumah bergaya arsitektur mediterania dan klasik”, hingga saat ini di mana saya mulai menjadikan profesi menulis sebagai profesi yang saya jalankan bersama sama dengan menjadi arsitek, banyak hal yang menjadikan saya semakin dewasa dalam berkarya. Saya tidak menampik bahwa banyak arsitek yang lebih sukses dari pada saya atau dengan karya yang di akui oleh dunia internasional. Apa yang saya lakukan adalah unik untuk diri saya sendiri.

Astudio adalah sebuah studio mini dimana saya bekerja dengan orang orang yang berkompeten dan memiliki keterampilan di bidangnya. Beberapa pihak yang selalu terkait dengan arsitek adalah kontraktor ahli sipil bahkan hingga ke tukang kayu. Mereka semua adalah sahabat saya hingga saat ini karena tanpa mereka mungkin keahlian saya sebagai arsitek tidaklah ada gunanya. Mereka yang menjadikan karya karya itu menjadi kenyataan.

Rumah ini sangat memuaskan pemiliknya. Dia saya rancang dengan penuh perasaan. 

Klien juga adalah orang orang yang sangat memotivasi. Saya mengakui bahwa ada saat saat atau waktu waktu tertentu dimana saya mendapatkan klien yang tidak senang atau tidak gembira dengan desain saya. Namun pada sebagian besar kasus klien merasa puas dengan desain saya. Hingga saat ini saya menyadari bahwa klien adalah partner untuk mewujudkan arsitektur yang nyaman bagi diri mereka. Mereka adalah pihak yang sangat penting. Ini mungkin terdengar agak klise tapi inilah yang saya sadari sebenarnya saat ini. Perhatikan benar kebutuhan mereka dan jangan merasa bahwa mereka harus 100 persen menerima desain yang sudah susah payah dibuat. Ini adalah sebuah tarik ulur yang unik karena kadangkala client tidak mengerti apa yang mereka butuhkan.. Pada saat mereka mengatakan keinginan keinginannya pada saat yang sama seorang arsitek yang sudah tahu bahwa hal itu kurang bagus atau ada sesuatu yang lebih bagus daripada yang diinginkan oleh kliennya.

Disamping permasalahan yang kadang kadang terjadi dengan klien ada juga problem problem yang lain yang bisa saja dirasakan oleh arsitek manapun. Profesi arsitek adalah bukan profesi yang dilindungi atau diatur dengan baik oleh pemerintah. Dalam sebuah negara dimana birokrasinya masih belum sempurna seorang arsitek mungkin agak bingung menempatkan dirinya di dalam berperan secara penuh dalam masyarakat. Dengan sertifikasi ikatan arsitek indonesia seorang arsitek akan lebih suka masuk ke dalam proyek pemerintah bahkan kebanyakan atau mungkin seluruhnya minus sedikit arsitek dengan sertifikasi akan bekerja dalam proyek pemerintah. Hal ini karena proyek swasta seperti rumah tinggal belum mensyaratkan arsitek sebagai perencana nya.

Saat ini saya dipercaya oleh koran Sindo untuk menjadi kolumnis dan pengasuh rubrik konsultasi rumah. Selain itu saya sering dihubungi pihak lain untuk menjadi kontributor atau diwawancara. Dengan tetap memohon perlindungan sang Kuasa, sambil selalu berniat baik, semoga dengan menjadi arsitek dapat menjadi jalan hidup yang bermanfaat bagi negara, agama dan sesama.
___
by

Arsitek Probo Hindarto
081 252 447 53
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s