Author Archives: bopswave

Bambu untuk Rumah Modern

astudioarchitect.com Bambu tersedia sangat melimpah di negeri kita karena bambu sangat sesuai untuk tumbuh didaerah tropis. Bambu banyak digunakan untuk bahan material bangunan yang non permanen karena menurut pemerintah, bambu dianggap sebagai material untuk bangunan non permanen. Bambu jarang dilirik sebagai material bangunan karena dianggap sebagai material non permanen dan tidak dianjurkan pemerintah untuk bangunan permanen. Namun saat ini cara pengawetan sudah beragam dan bisa dipakai hingga berpuluh tahun. Dalam artikel ini, terdapat buku yang ditulis Imelda Akmal: Bambu untuk Rumah Modern.
KUTIPAN: Dari 1500 jenis bambu di dunia, 170 (11%) diantaranya berasal dari Indonesia. Bisa dibayangkan banyaknya varietas bambu yang ada di negeri kita ini! Tak heran jika orangtua kita memakai bambu dalam kehidupan mereka sehari-hari, tak terkecuali sebagai bahan bangunan. Dari 170 jenis bambu asli Indonesia, hanya ada tiga jenis ambu yang direkomendasikan untuk digunakan sebagai konstruksi bangunan, yaitu bambu petung, bambu gombong, dan bambu tali. Sedangkan beberapa jenis lainnya seperti bambu hitam ataiu bambu temen, dapat digunakan sebagai elemen pelengkap dan dekorasi.

Untuk mendapatkan bambu yang kuat dan tahan lama, selain diperhatikan jenisnya, bambu pun harus diplih dari yang tua (3-5) tahun. Sebelum dipakai, bambu diawetkan terlebih dahulu agar tahan lama, baru kemudaian dirangkai dengan teknik yang sesuai dengan karakteristik bambu.

Sampai saat ini, masih banyak mitos yang dipercayai kalangan pembuat bambu tradisional. Mereka memercayai bahwa bambu yang baik hanya boleh ditebang pada hari-hari tertentu, yaitu Senin, Rabu dan Minggu. Bambu tidak boleh ditebang pada Jum’at dan Sabtu. Waktu tebangnya pun tak boleh sembarangan, harus lebih dari jam 10 pagi hingga menjelang senja – karena mereka percaya dengan demikian bambu tidak akan terserang bubuk. Bambu juga tidak boleh ditebang saat musim hujan atau bulan purnama. Hal ini untuk menghindari tingginya kadar air dan gula yang dapat menarik hama. Bambu yang baik juga bukan berasal dari rumpun bambu yang sedang bertunas.

Ukuran Bambu
Dari sekian banyak jenis bambu, hanya ada tiga jenis yang direkomendasikan untuk dipakai sebagai bahan konstruksi:

Bambu Betung/Petung
Bambu ini merupakan bambu yang amat kuat dan tergolong besar dengan diameter 10-15cm. Bambu betung/petung punya jarak ruas yang pendek dan dinding tebal serta bisa tumbuh sangat tinggi hingga 10-20meter. Bambu jenis ini biasanya digunakan sebagai struktur utama bangunan, yaitu kolom dan balok. Bambu betung dijual dengan harga Rp40.000,00/batang.

Bambu Gombong
Bambu ini memiliki diameter 10cm dan berwarna hijau kekuningan. Bambu gombong bisa tumbuh hingga mencapai 20meter. Harganya sama dengan bambu betung/petung.

Bambu Tali
Bambu tali merupakan bambu yang amat liat dengan 6-8cm diameter dengan jarak antar ruas sampai dengan 65cm. Panjang batang maksimal bambu tali berkisar antara 6-13m. Bambu ini dapat digunakan sebagai gording pada konstruksi atap bambu. Bambu tali dihargai Rp6.000,00-Rp8.000,00/batang/

Bambu, material dengan banyak keunggulan
Rumah-rumah tradisional di Indonesia banyak yang menggunakan bambu sebagai material utamanya. Itu karena nenek moyang kita tahu bahwa selain mudah didapat dan murah, bambu juga merupakan material dengan banyak keunggulan.

KUAT
Jika menggunakan jenis bambu yang tepat, bangunan dari bambu dapat bertahan sampai 50 tahun lebih. Ini bisa dilihat dari rumah-rumah tradisional lawas yang masih dapat kita temui. Rumah-rumah tradsional tersebut menggunakan bambu-bambu terbaik dengan teknik pemasangan yang masih digunakan sampai hari ini. Bambu yang sudah dewasa (berumur 3-5tahun) mempunyai kekuatan tarik hingga 480MPa. Ini lebih tinggi daripada kuat tarik baja yang hanya 370MPa. Bambu juga mampu menahan gaya tarik hingga 12.000kg/m2. Dengan kekuatan seperti ii tentu kemampuan bambu tidak perlu diragukan lagi.

LENTUR
Bambu merupakan bahan yang elastis sehingga dapat menjadi material untuk rumah tahan gempa. Tingkat kelenturannya tinggi, sebab bambu merupakan material yang ringan dan sistem rangkanya bekerja sebagai engsel. Semua batang dapat bekerja sedikit tanpa memengaruhi kestabilan konstruksi. Kelenturan ini terdapat pada pasak, kuncian, serta ikatan antarbatang bambu. Bahan bangunan bambu serta strukturnya pun dapat berubah ubah bentuknya. Fleksibilitas inilah yang membuat bangunan bambu dapat bergerak mengikuti guncangan gempa. Karena itu, sistem rangka bambu dapat diterapkan untuk rumah atau bangunan di daerah rawan gempa.

AWET
Banyak yang enggan menggunakan bambu karena dinilai tidak awet. bambu memang tidak tahan terhadap air dan organisme seperti jamur dan serangga. Bambu yang basah dan tidak kering sangat rentan terkena jamur dan hama. Untuk mengakalinya, bambu yang akan digunakan untuk bahan konstruksi harus benar-benar kering. Inilah alasan para tukang bambu tradisional punya waktu waktu khusus untuk menebang pohon bambu, berkaitan dengan kadar air dalam batangnya.

Pengeringan bambu yang baik dilakukan saat penebangan. Bambu yang baru dipotong sebaiknya disandarkan dalam keadaan berdiri pada bambu yang belum dipotong dan dibiarkan selama 1-2bulan. Cara tradisional lainnya adlah dengan meredam batang bambu kering yang belum digunakan selama satu bulan dalam air tawar, payau, atau air laut yang tenang selama kurang lebih 14 minggu. Cara ini amat mudah dilakukan dan masih sering dilakukan sampai saat ini. Cara pengeringan seperti ini akan mengurangi serangan bubuk, namun tidak dapat menahan serangan rayap. Cara tradisional lainnya adalah dengan menggunakan api. Api dan asap akan membasmi hama yang terdapat didalam bambu. Selain itu, cara ini juga dapat dipakai untuk meluruskan atau membengkokkan batang bambu.

Telah banyak eksperimen dan penelitian mengenai pengawetan bambu. Pada dasarnya pengawetan bambu adlah proses memasukkan bahan kimia/pengawet kedalam bambu agar keawetannya bertambah dan lebih tahan terhadap organisme perusak. Salah satu cara pengawetan adalah dengan menggunakan boucherie. Metode ini menggunakan proses pengaliran, yaitu batang bambu yang baru dipotong disambung dengan slang pada ujung kakinya, lalu dihubungkan ke drum besi yang mengandung bahan pengawet. Bahan pengawet dari drum besi akan mengalir didalam bambu mulai dari kaki hingga puncak batang. Proses memakan waktu 2-5hari. Cara yang lebih cepat adalah melalui proses penekanan. Dalam proses ini, drum besi dibuat kedap udara dan dilengkapi pompa udara yang akan menekan bahan pengawet ke dalam batang bambu. Cara ini banyak dipakai untuk skala industri besar dan hanya memerlukan waktu beberapa jam tergantung besarnya tekanan dan kemiringan bambu.

http://books.google.co.id/books?id=YYgdojHYVwkC&lpg=PA40&dq=konstruksi%20rumah&pg=PP1&output=embed ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Arsitek yang menulis

astudioarchitect.com Diantara kesibukan saya dalam dunia desain dan penulisan, saya sering tidak sengaja menemukan ‘serendipity’ dalam pertemuan saya dengan beberapa rekan arsitek. Dari pertemuan-pertemuan itu dan percakapan baik secara santai maupun mendalam saya menemukan adanya keinginan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya sebuah desain hunian. Berdasarkan hasil perjalanan berbagai proyek hunian yang telah ada, saya ingin membawa pengetahuan pragmatis kepada kita bersama tentang bagaimana sebuah hunian didesain dan apa manfaat bila desain rumah dibuat dengan sebaik-baiknya. 

Ide ini cukup berharga untuk diketengahkan agar profesi arsitek semakin populer, yaitu dengan membawa pengetahuan tentang peran arsitek dan bagaimana sebuah bangunan dihasilkan melalui sebuah proses pemikiran. Pada dasarnya, arsitek adalah fasilitator dari keinginan klien, dimana desain yang dibuat dihasilkan berdasarkan kebutuhan dan keinginan dari klien, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, sosial, budaya dan faktor-faktor lainnya.

Mengamati sebuah desain meja gambar dan bagaimana hasilnya di lapangan, merupakan hal yang menarik. Saya menemukan ‘jiwa’ dalam setiap tempat, yang diinginkan melalui gubahan rancangan-rancangan tersebut. Jiwa ini melekat disana didalam setiap sudut ruangan yang tercipta, dan jiwa ini yang memberikan pengaruhnya pada penghuni. Mungkin inilah yang dinamakan ‘kita mencipta ruang, ruang mempengaruhi kita’, dengan cara yang sedemikian sederhana.

Kepentingan sesungguhnya dari penulisan buku, artikel, kolom di koran, wawancara radio, tabloid dan sebagainya ini adalah kembali merenungkan makna desain sejak saat kita menggambarnya diatas meja gambar, menemukan hubungan antara desain dan ruang-ruang yang dihasilkannya dan melihat konsekuensi dari sebuah gagasan tentang tata ruang dan berbagai faktor dalam desain hunian. Kita tidak bisa menutup mata akan penciptaan ruang-ruang yang menghasilkan ‘jiwa’ hunian tersebut. Kita memiliki kuasa atas alam untuk merencanakan dan menggunakan sebaik-baiknya potensi lahan, sumber daya alam dan manusia untuk kepentingan hidup kita.

Inspirasi Rumah Indah

Rumah adalah sebuah tempat dimana kita pulang, kita selalu mendambakan sebuah rumah yang indah, agar kita bisa merasa nyaman didalamnya. Keindahan selalu dicari oleh manusia, karena kita mendapatkan kenikmatan panca indera melalui keindahan. Segala hal yang indah akan memberikan perasaan senang ketika kita menikmatinya, dengan melihat, mendengar, serta mencium, atau menggunakan indera yang lain.

Keindahan adalah pelengkap bagi kehidupan manusia, karena itu selalu dicari dan diupayakan. Sebuah rumah dapat diupayakan agar menjadi indah dengan berbagai cara, antara lain dengan mendesain rumah tersebut sehingga nampak estetis (indah). Estetika adalah topik yang sangat menarik bagi manusia, yang dicari melalui proses desain. Hal ini bisa berarti desain grafis, desain rumah, desain interior, desain produk, dan sebagainya.

Arsitektur merupakan wadah kreativitas dari penerapan teori estetika bangunan, sehingga keindahan bisa dibangun melalui desain yang direncanakan. Teori estetika juga pada akhirnya membantu memperkirakan keindahan desain rumah. Meskipun demikian, pandangan tentang keindahan berbeda bagi satu orang dengan orang lainnya. Adakalanya sesuatu yang indah bagi seseorang bukanlah indah bagi orang lain. Hal ini yang disebut sebagai subyektifitas estetika (keindahan itu subyektif atau relatif bagi setiap orang).

Pada awalnya sebuah hunian yang dibangun oleh manusia merupakan hunian apa adanya. Lambat laun kita memiliki kebutuhan akan keindahan desain, yang juga diterapkan dalam desain rumah. Berbagai cara dilakukan agar keindahan rumah ini tercipta, antara lain dengan mengeksplorasi desain rumah sehingga terlihat estetis. Para desainer rumah atau arsitek, serta pemilik rumah memiliki pandangan yang juga berbeda-beda tentang keindahan sebuah rumah, sehingga desain rumah yang disebut ‘indah’ menjadi berbeda-beda.

Bagaimana estetika timbul dalam kehidupan manusia dan mempengaruhi proses mendesain rumah? Kebutuhan dasar manusia akan rumah antara lain;
· Mendapatkan rumah tinggal untuk tinggal didalamnya sebagai kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan untuk mengatasi lingkungan
· Rumah tinggal memenuhi harapan kita akan keinginan dan impian tentang rumah tinggal yang ideal.
· Rumah tinggal harus sesuai dengan berbagai faktor yang mempengaruhi desain tersebut, misalnya faktor ekonomi, social expectations, dan sebagainya

Dalam berbagai kesempatan, menulis dan berpikir adalah proses yang merupakan daur ulang untuk pengetahuan dan keterampilan dalam mendesain.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Konstruksi dinding Bambu Plaster, alternatif dinding bata biasa

astudioarchitect.com Dinding bambu digunakan untuk bangunan rumah dan sebagainya yang non permanen (struktur yang dapat dibongkar dengan mudah), kadangkala dibutuhkan untuk membuat bangunan yang cepat jadi dan murah. Konstruksi dinding bambu bisa merupakan dinding anyaman bambu, atau dinding anyaman bambu yang diplaster. Dinding anyaman bambu sangat biasa kita lihat pada rumah-rumah gedhek (dinding bambu) didesa-desa, sedangkan dinding bambu plaster agak jarang kita temui merupakan dinding yang sangat mirip dengan dinding bata dari sisi visualnya.

http://www.bamboocentral.org/emergency_shelter.html
iframe source: http://www.bamboocentral.org/emergency_shelter.html

Terdapat beberapa jenis anyaman bambu menurut cara menganyamnya yang bisa dilihat melalui gambar-gambar berikut [1]:

Anyaman bambu rapat “Mata Wali”

Anyaman bambu rapat “Kepang”

Anyaman bambu rapat “Bilik”

Anyaman bambu agak terbuka “Gedeg”

Anyaman Bambu agak terbuka “Bronjong”

Anyaman bambu agak terbuka “Sasak”

Anyaman bambu silang miring 1

Anyaman bambu silang miring 2

Anyaman bambu silang miring 3

Anyaman bambu dengan lapisan semen yang membentuk dinding bambu plaster, secara visual sangat mirip dengan dinding bata plaster biasa/ konvensional.
Proses pembuatan dinding bambu plaster
 Pembuatan dinding bambu plaster sangat mudah dan perlu kita ketahui bersama. Anyaman bambu biasanya bisa dibeli pada pembuat anyaman bambu (gedhek) yang bisa juga dipesan secara khusus dengan berbagai cara anyamnya. Gambar-gambar berikut merupakan screenshot dari http://www.bamboocentral.org/PDF_files/MODUL_PELATIHAN_MABUTER.pdf yang memberikan gambaran bagaimana cara membuat dinding bambu plaster. Untuk gambaran lebih lengkap, pdf bisa didownload melalui link tersebut. 
Ikhtisar sederhana pembuatan dinding bambu plaster

Adapun konstruksi dan cara pemasangan dinding bambu plaster sangat mudah seperti diagram dibawah ini [2]:

Bibliography dan sumber gambar:
[1] Frick, Heinz. Ilmu Konstruksi Bangunan Bambu. Yogyakarta, 2004.
[2] Widyowijatmoko, Andri. et al. Modul Pelatihan Dinding Bambu Plaster. http://www.bamboocentral.org/PDF_files/MODUL_PELATIHAN_MABUTER.pdf

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

`Indonesian Public Exhibition 2012′

astudioarchitect.com Informasi Pengumuman Hasil Seleksi `Indonesian Public Exhibition 2012′. Artikel ini adalah kumpulan arsitek yang akan berpameran di Belanda dengan beberapa cuplikan hasil karya arsitek dari screenshot Google. Artikel ini adalah informasi dan sekaligus ucapan selamat.

Pengumuman Hasil Seleksi `Indonesian Public Exhibition 2012′

A. Professional
1. ABODAY: Museum Nasional Indonesia

2. AI-CTLA Studio: HUNTARA, Masjid Raya Sriwijaya
3. Andra Matin: Lembang Permata, Potato Head, Taum Kamala

4. Andrew Tirta: Hotel Andora, DK Residence
5. Andri Ferik: kepaduri house, linear house
6. Andy Rahman: Windcatcher House

7. Angga Rosiawan+Mariska Pratimi: Mangrove belt as hybrid shore recovery
8. ANTARA: SS Residence, Swiss Embassy Staff Residence, ES Residence, LS Residence, IPH Residence, Kopo Mosque
9. Atelier riri: House surrounded by trees
10. Atelier Una: Hotel Tusita, Hotel Oracle, Gereja Bangka
11. Budi Pradono Architects [BPA]: Kencana House

12. D-associates: rumah ampera, rumah cipayung, OHD museum, Showroom Ambiente
13. Djuhara+djuhara: Rumah Widjanarko, Equator Jingga, Shining Stars School Bintaro, Rumah Tinggal Vivian Jati
14. DOT-Workshop: Residence Bare Minimalist
15. Dpavilion Architects: Pohon Inn, Habitat Sculptural Building, Contertainer (Container+Entertainment)

16. Evtline Atelier: B House, INDOENERTECH Building

17. Farid Indra Gunawan dan Dyah Ratna Tiaralaksmi: Jajan Denpasar
18. Fransiska Prihadi: Rumah Edo dan Cika
19. HAN AWAL & PARTNERS ARCHITECTS: Waerebo

20. HADIVINCENT architects: Nanny’s Pavillon-Barn, SOHO Park

21. Hari Sunarko: Ijen Villa’s
22. HGT Architects: HOUSE 6, Little Gwen
23. HMP architects: Erha Clinic Surabaya, Erha Clinic Pondok Indah

24. I+A Architects: Cold Storage Facility & Office, Office & Gallery
25. Julian Palapa + Bayu Rismabuana: P(R)AYHOUSE / Baitul A’laa Mosque

26. KIND: Balairung UI, Senopati Penthouse, Masjid Sriwijaya and Islamic Center Masterplan, Menara IA ITB

27. Kusuma Agustianto: Rumah Tinggal Bukit Gading Mediterania, Rumah Tinggal Kebon Sirih,
28. Salim Abdullah, I-NAP Hotel
29. LABO: Revitalisasi Museum Konperensi Asia Afrika Bandung

30. MADcahyo: Green Belt Tower, Semi-finished House
31. Mamostudio: Rumah Kayu Karet, Guest House, Indika Energy HQ, Menanti Reinkarnasi Bumi, Sekolah Maria Regina, Studi-o Cahaya, Tanah Teduh

32. Michael Tambunan Architect Studio: Church Hypersurface – Perancangan Gedung GMIM Betlehem

33. Modernspace: Bina Bangsa Campus, KJ House, pantai mutiara
34. Mukoddas Syuhada dan Yu Sing: Tapak Bumi Village

35. PARAMETR ARCHITECTURE: Balairung Ratenggaro University Of Indonesia, Circus Hotel And Waterpark , Hotel Palangka Raya, Hotel di Sanur
36. Parisauli architect: Omah Dara
37. PDW: Ahlibank Headquarter, Stadion di Taman BMW, Kantor Departemen Agama, All Seasons Hotel, Menara Indonesia
38. PHL Architects: GMT Institute of Property Management, Hotel D’Praboe, Condotel Best Western Premiere Candi

39. Pla+form collaborative: Museum Nasional, Mesjid Suramadu, Bundaran Summarecon Bekasi 1, Bundaran Summarecon Bekasi 2
40. PSUD: Sayembara Koridor Solo
41. PT. Arkonin: JGC Office Building, Integrated Faculty Club-University of Indonesia, Manufacturing Research Center FTUI
42. PUTERA RAHMAT ISMAIL: Menara Suara Merdeka
43. Ruang Dualapan: Penyusunan Model Kawasan Teluk Palu
44. Satrio S. Herlambang: MERC Fakultas Kedokteran UI
45. SHAU: House by the Danube, Energy Gateway
46. Studio83: Royal Kamuela

47. Studiodasar: Rumah Minimal
48. TWS & Partners: INTERTWINE TOWER, ORGANIC HOUSE
49. Urbane: Masjid Al-Irsyad, Senayan Aquatic Stadium, PII (Persatuan Insinyur Indonesia) Head Office, Discovery World TMII

50. Wahana Cipta Selaras: Urban In Harmony, Contemporarily Hidden

51. Wastu Buana Adi Cipta (WASNADIPTA): LABORATORIUM DAUR ULANG SAMPAH UNIVERSITAS GADJAH, MASJID SURAMADU, GEDUNG PERPUSTAKAAN NASIONAL

52. Wastu Cipta Parama: Asas House, BELLAGIO HOUSE, GIGA Hexagonal Office Building, Tree House

53. WILLIS KUSUMA ARCHITECTS: GF House, Z House
54. Yose ferdian Damury&Fedy Trinugroho: Agro Wisata, Gerbang Tol Cikunir, Rumah Yunus
55. Yu Sing: studio akanoma, wika leadership center

B. Mahasiswa
1. Agustina: Transforming Shelter of Jalan Jaksa (UNTAR)
2. Amanda Gracia: Crater for Arts, Extraterrestrial – A house for a cinema enthusiast (UPH)
3. Amelia: Jakarta Independent Film Theatre (UPH)
4. Daka Dahana: Sunda Kelapa Waterfront Citywalk (UI)
5. Devina Andreas: Alghorithmic Skin Halte Transjakarta for Daylighting Issue (UPH)
6. Erlangga Boenawan: Joy to The World Café (UNPAR)
7. Evelyn: Redevelop Gondangdia Station (UPH)
8. Enriko Maradona Thamrin: New HQ Compound Euroasiatic Indonesia, Dorm+Architecture Workshop (UNPAR)
9. Edgina Alvita Indri: playing & learning space for street children (UNTAR)
10. Felicia Sartika: Art space for Bernini’s Apollo and Daphne sculpture, Artist Hut (UPH)
11. Gana Ganesha, Stephanus Theodorus Suhendra, Ignatius: Interaction Intersection : Siliwangi Pedestrian Bridge (UGM)
12. Glenn Hajadi: Winter / Summer Office (Barcelona Institute of Architecture)
13. Hizkia Firsto Giovanni: Dogleg House (ITS-Saxion)
14. Hakim Iskandar: Tanah Abang Connector (UNTAR)
15. Isabella Fitria Andjanie: Zoological Museum Park (UGM)
16. Ike Puspa: Cross Over (UPH)
17. Ignatius Christianto Purnawan: Halte Transjakarta (UPH)
18. Ingrid Dharmawan: Mosaic House of Jakarta (UNTAR)
19. Jonathan Sutanto: Night Wing Project (UNTAR)
20. Juanita Christine: Night Watch & Apollo Daphne Art Space, Artist House (UPH)
21. Jennifer Olga: Ciliwung Health Clinic (UPH)
22. Jessica: SOHO and Business & Entertainment Facilities (UNTAR)
23. Kevin Yugen Theda: Warung Waduk Melati (UNTAR)
24. Melanie Sugiarti: Papan Nama Pemulung Pademangan 5 (UNTAR)
25. Mikhael Johanes: Flex O (UI)
26. Mezano Muhammad: Rendezvous Project (UI)
27. Meidy: Portable Maternal & Children Medical Care (UNTAR)
28. Noeh Rizal Tarigan, dkk: Revitalisasi Kawasan Jalan Merdeka (ITB)
29. Padmana Grady Prabasmara: Revitalisasi Jalur mati Kereta Api Yogyakarta – Magelang (UGM)
30. Ricky Goreta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Produk Pangan di Puspitek (UNTAR)
31. Ricko Pradiantoro: AL – FATTAH Mosque, Modern Tropical House (PPArs-ITS)
32. Shirleen Alvita: Keller’s House, Art Space (UPH)
33. Salman Rimhaldi, Adhi Wibawa, Adam Angkawidja, Raden Ahmad Grenaldi: Borneo Forest Tower (UNPAR)
34. Sylvia: Guerilla Building (UNTAR)
35. Talisa Dwiyani: Interconnection Permaculture (UI)
36. Tania Paramita: Rumah Suwardana Winata (UPH)

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Inspirasi gazebo Bali ditengah taman

astudioarchitect.com Bali selalu menjadi inspirasi bagi desain arsitektur yang bergaya resort, salah satunya adalah desain gazebo yang unik. Di Bali gazebo disebut sebagai bale bengong, dimana setelah melalui tahapan desain yang lebih modern, gazebo menjadi lebih terkesan unik dengan tambahan busa dan bantal-bantal seperti dalam contoh ini. 

Gasebo menjadi nyaman dilengkapi dengan busa dan bantal guling.
Apalagi disekitarnya adalah taman yang tertata, gazebo lebih refreshing.
Bisa pula dilengkapi dengan televisi.
Unsur dan elemen interior dihadirkan dalam bentuk yang alami seperti kursi kayu dan pajangan etnik.
Struktur gazebo bisa menggunakan bambu dengan penutup atap rumbia, atau kayu.
Anda bisa melihat dalam bentuk panorama yang bisa digerak-gerakkan dibawah ini. Gerakkan kursor pada gambar dibawah, dan lihatlah secara ‘fullscreen’.

http://www.360cities.net/javascripts/krpano/krpano.swf
Gazebo in the garden in Indonesia

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Desain [gratis] Bangunan perpustakaan desa dan Balai Pelatihan

astudioarchitect.com Salah seorang sahabat astudio bertanya melalui email (konsultasi via media), tentang desain perpustakaan dan balai pelatihan di kab bekasi di kec sukatani. Berikut ini pertanyaan Beliau: Mayoritas pekerjaan penduduk sini adalah petani tadah hujan, peternak dan penggangguran. Melihat kondisi ini saya berencana mendirikan perpustakaan desa yg rencananya akan saya kelola bersama istri, selain itu mungkin akan mencari teman yg bisa membantu pelatihan untuk penduduk di sini. Kebetulan saya cuma punya tanah kaplingan bekas sawah yang sudah tidak digunakan dan dijual perkapling. luas rata-rata 100 meter persegi. di sebelah kanan kiri dan belakang tanah yg saya punya sudah dibangun perumahan. Sedangkan tanah yg akan saya bangun menghadap jalan raya selebar 8 m. Ada 3 ruang yg ingin saya bangun : ruang pelatihan seluas 5 X 8 m. WC seluas 1,5 X 1,5 Ruang perpustakaan terbuka tanpa pintu seluas 3 X 3,5 m Ruang sekertariat seluas 3 X 3,5 Seperti gambar terlampir. mohon pencerahannya bagaimana sebaiknya. Sudah dua tahun saya cicil membuat pondasi dari batu kali tetapi sloofnya belum dan juga tanah sudah saya tinggikan dengan tanah merah. Saya bingung menentukan materialnya, dinding rencana batako semen. Atap antara asbes dan genteng? Kalo asbes takut efek kesehatannya yg tdk bagus tetapi kalo genteng alternatifnya saya gunakan bambu untuk mengurangi bahan kayu. Ada juga pernah searching sekolah botol di guatemala yg berbahan botol plastik pengganti bata, tetapi perhitungannya saya tdk tahu mahal atau malah lebih murah? Budget sementara yg saya miliki sekitar 30 juta (terlalu sedikit ya) jadi bingung tuch bagaimana supaya cukup. saya kira demikian infonya. Mohon pencerahannya…terima kasih. Salam, Rudi

Jawaban:
Yth Bapak Kukuh Rudianto,
dalam kesempatan ini saya sampaikan desain untuk perpustakaan desa dan balai pelatihan untuk masyarakat desa sebagaimana gambaran Bapak. Saya buat dengan denah yang disesuaikan dengan rencana denah Bapak mengingat pondasi sudah dicicil. 
Di bagian dalam bangunan menggunakan struktur beton bertulang yang sifatnya struktural satu lantai, dengan batako sebagai pengisi dinding. Untuk benar-benar menghemat biaya, saya membuatkan desain atap dari bambu dengan penutup atap dari kain vinyl bekas iklan, sementara mengumpulkan dana untuk bangunan yang lebih permanen. 

Denah yang dibuat bapak Kukuh Rudianto.

Rencana tampilan depan bangunan

sketsa material 

sketsa perspektif ruang perpustakaan

Skema konstruksi bambu sederhana.

Untuk biaya dan material alternatif, saya belum menguasai tentang konstruksi dinding botol karena belum pernah mencobanya. Konstruksi murah yang saya ketahui adalah batako dan bambu sebagaimana tergambar.
Semoga desain ini dapat membantu untuk mewujudkan perpustakaan dan balai pelatihan desa tersebut.
Terimakasih.
Salam,

Probo Hindarto

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tata Cahaya Interior Rumah Tinggal

 astudioarchitect.com Untuk menghindari kesan ruangan yang kusam, membosankan dan tidak memiliki citarasa, kita bisa menggunakan efek pencahayaan (lampu) dengan berbagai tata cahayanya. Berbagai efek cahaya bisa menimbulkan mood dan suasana berbeda pada suatu ruangan. Buku ‘Tata Cahaya Interior Rumah Tinggal’ karangan Putri Dwimirnani dan Mariana Rahman ini saya pilihkan untuk melengkapi pustaka di blog astudio. 

Kutipan: Lima Teknik dasar Pencahayaan Interior

Dasar pencahayaan interior diawali dengan pengenalan adanya tiga tipe pencahayaan berdasarkan caranya menerangi suatu obyek. untuk selanjutnya perlu dikenal juga berbagai model arah cahaya dari sumber cahaya menuju obyek. Berikut akan diuraikan lebih detail mengenai kedua teknik dasar pencahayaan tersebut.

A. Tiga tipe pencahayaan

Berdasarkan cara menerangi suatu obyek, ada tiga tipe pencahayaan, yaitu pencahayaan langsung, pencahayaan tidak langsung, dan pencahayaan semilangsung.

1. Pencahayaan langsung (direct lighting)
Sesuai dengan namanya pencahayaan ini memanfaatkan pancaran cahaya yang langsung mengenai obyek tanpa penghalang. Pencahayaan ini banyak digunakan oleh masyarakat luas karena pemasangan dan perawatannya yang tergolong mudah. Keunggulannya terlihat dari efektifitas cahaya sehingga tidak ada energi yang terbuang. pancaran cahaya seperti ini cocok sebagai aksen pada ruangan, misalnya spotlight atau downlight. Dengan sorotn cahayanya yang tajam, pencahayaan langsung bisa menghasilkan efek bayangan yang kuat sehingga sangat pas digunakan untuk tujuan dekoratif.

Meskipun unggul dari sisi teknis dan perawatan, pencahyaan jenis ini kurang baik untuk dimanfaatkan sebagai general lighting. Efek buruknya terasa dari silau dan pancaran panas yang mengganggu kenyamanan pengguna. Selain itu, sebaran cahaya yang lurus kebawah menyebabkan bagian atas ruangan (plafon) terlihat gelap atau kusam.

————————

[2. Pencahayaan tak langsung]
pemasangannya yang terpisah (untuk menghindari noda hangus akibat panas dari lampu) sehingga cocok untuk ruangan yang memiliki langit-langit dengan cat dekoratif. Tipe pencahayaan ini cocok untuk diterapkan untuk general lighting karena sebaran cahayanya lebih lembut dan merata sehingga mampu memberikan penerangan yang cukup tanpa memunculkan silau atau bayangan berlebihan.

Kelemahan terbesar pencahayaan tipe ini ada pada efisiensi energi. Cahaya yang dimanfaatkan sebagai sumber penerangan merupakan hasil dari pemantulan pada bidang yang tidak licin. Oleh karena itu, banyaknya cahaya yang dipantulkan tidak mencapai 100% dari apa yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Hal ini membuat energi yang dikeluarkan menjadi sedikit lebih boros dibandingkan dengan direct lighting. Selain itu, jenis pencahayaan ini hanya mampu menciptakan sedikit kontras pada ruangan sehingga tidak terlalu baik dalam menunjukkan detail suatu obyek. Kekurangan ini berkaitan pula dengan kemampuannya dalam membangun suasana. Karena sebaran cahayanya cenderung tipis dan merata, ruangan akan terasa sedikit hambar.

3. Pencahayaan Semilangsung
Pencahayaan jenis ini merupakan perpaduan antara penchayaan langsung dan tak langsung. Salah satu sistemnya antara lain dengan memancarkan sebagian cahayanya secara langsung ke bawah dan sebagian cahaya lainnya dipantulkan ke atas. Dalam pemanfaatan cahaya alami, berarti ada sebagian cahaya yang sengaja dipantulkan menggunakan reflektor, dan selebihnya dibiarkan masuk ruangan secar alami.

Banyaknya cahaya yang diteruskan dan dipantulkan bisa bervariasi, dengan perbandingan antara 40%-60%, 60%-40%, 50%-50%, dan seterusnya. Menurut Francis D.K. Ching dalam bukunya berjudul Ilustrasi Desain interior, perbandingan terbaik adalah 40%cahaya langsung dan 60% cahaya tidak langsung.

Hasil pendaran cahaya dari sistem ini merupakan yang paling ideal karena menggunakan segala kelebihan dari kedua sistem sebaran cahaya diatas. Pencahayaan jenis ini menghasilkan cahaya yang cukup terang, tetapi tidak terlalu silau serta cukup efektif dalam pemanfaatan energi, termasuk ketika digunakan pada ruangan yang besar. Kelemahan hanyalah pada biaya instalasi dan perawatan yang mahal. Selain itu, pencahayaan tipe ini juga jauh lebih rumit dibandingkan kedua jenis pencahayaan sebelumnya.

http://books.google.co.id/books?id=4WXieQSgshgC&lpg=PA74&dq=arsitektur%20rumah&pg=PP1&output=embed
 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.