Category Archives: pustaka buku arsitektur

3 Dekade Karya Desain Arsitektur Inspiratif

astudioarchitect.com Buku tiga dekade karya desain arsitektur inspiratif ini saya tulis sebagai kumpulan desain seputar rumah tinggal dan bangunan komersial maupun bangunan publik. Tiga dekade merupakan judul dari buku yang diperuntukkan sebagai sebuah penanda dari karya arsitektur lulusan Universitas Brawijaya yang lulus selama kurun Dekade tahun 80-an 90-an dan tahun 2000an. Terdapat dua bagian utama dalam buku ini yaitu bagian yang mengulas desain rumah tinggal dan bagian yang mengulas bangunan komersial.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Bagian buku yang mengulas desain rumah tinggal mengetengahkan desain desain rumah tinggal baik 1 maupun 2 lantai dengan berbagai variasi desain.  Anda dapat menemukan desain rumah tinggal yang mungil hingga desain rumah tinggal yang cukup besar.  Karya-karya ini memuat nilai arsitektural yang bervariasi pula mulai dari karya rumah modern tinggal serumah dengan sentuhan tradisional.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Salah satu desain rumah yang cukup menarik adalah karya Arta Adi Putra yang memperlihatkan desain rumah dengan gaya arsitektur modern dengan sentuhan tradisional dan vernakular. Desain rumah ini merupakan rumah kost dengan penampilan unik karena pemakaian bahan material terkesan alami yang ekstensif.

Rumah Rose Manggar yang didesain oleh Wahyu Jatmiko juga merupakan desain yang cukup menarik karena mengetengahkan desain rumah di lahan sempit dimana bagian depan digunakan sebagai rumah singgah sedangkan bagian belakang digunakan sebagai tempat bekerja.

Bagian kedua yang memuat desain bangunan komersial  memuat cukup banyak desain bangunan komersial berbagai tipe. Bangunan yang sangat menarik adalah Contertainer yaitu bangunan yang dibuat dari kontainer bekas dialihfungsikan sebagai perpustakaan.

Selain itu desain bangunan kurungan Karya Kamawardhana Heksa Putra juga cukup menarik untuk disimak karena bangunan ini merupakan bangunan dari bambu yang fungsinya sebagai shading.

Buku ini di pasaran dijual dengan harga Rp 92.000 tapi anda bisa mendapatkan harga lebih murah lewat website Penebar Swadaya.
___
by

Arsitek Probo Hindarto
081 252 447 53
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tags generated:
Desain rumah, desain rumah minimalis, desain rumah dijual, beli desain rumah, arsitek, arsitek Indonesia, Arsitek Muda Indonesia, Arsitek Jakarta, Arsitek Bandung, Arsitek Bogor, Arsitek Malang, Arsitek Surabaya, Arsitek Bali, rumah dinding bambu, lanskap mengunakan kayu pallet, pondasi rumah, arsitektur modern indonesia, bangunan baja, bentuk rumah di lahan 6×12 m, buat motorhome indonesia, cara membuat kitchen set sendiri berbahan papan kayu, denah rumah 9×8, lampu halogen putih, arsitek, rumah minimalis, lounge room living room, furniture cafe, retail shop, hospital, restaurant, apartemen, hotel, room office, studio, insulation, stand pameran, kontraktor interior design, rumah rumah minimalis, jasa desain interior : bedroom kitchen set, desain rumah, denah rumah, rumah denah, desain denah rumah, denah desain rumah, gambar rumah, design rumah, rumah model, model rumah, design gambar rumah, gambar design rumah, desain rumah minimalis, denah rumah minimalis, arsitektur rumah, rumah arsitektur, foto design rumah, interior design, green architecture, arsitektur nusantara, arsitektur modern, arsitektur hijau, budi pradono, rumah kindah, r house, indonesia, andra matin, arsitektur, design, desain, house, architecture, jakarta, wishnutama, menarik, unik, tips, revolusi media, dsign, furniture, handcraft, netmediatama, netmedia, net media, net tv, net, trip, eskursi, mini, indonesian, gunadarma, universitas, interior, architect, rumah, home, yu sing, paulus mintarga, popo danes, ary indra, mamo, budi faisal, ridwan kamil, eko prawoto, galih widjil pangarsa, desain, rumah minimalis, rumah, arsitektur, indonesia, interior, rumah 2015, ide, dekorasi rumah, ide rumah, rumah minimalis modern, mendesain rumah, desain interior, desain interior rumah mungil, desain interior rumah idaman, desain interior rumah minimalis modern, desain interior rumah minimalis 2 lantai, desain interior rumah minimalis type 36, desain interior rumah sederhana, desain interior rumah, desain interior rumah minimalis, desain rumah kecil, minimalis, home design, ide desain, disain rumah minimalis, desain minimalis, rumah modern, rumah mewah, rumah sederhana, properti, real estate, ide minimalis, desain rumah, astudio, etnik, tropis, klasik, furniture, handcraft, rumah minimalis, desain rumah minimalis, interior rumah minimalis, denah rumah minimalis, gambar rumah minimalis, rumah idaman, design rumah minimalis, model rumah minimalis, desain rumah, wajar, seperti, modern, minimalis, konsep, dengan, mungkin, senyaman, rumahnya, menghadirkan, lidya, yeyen, artis, jika, apa, maka, beraktivitas, seharian, setelah, lelah, dan, penat, melepaskan, untuk, persinggahan, tempat, merupakan, rumah, desain ruang tamu, desain kamar mandi, desain teras rumah

7 Arsitek Indonesia

astudioarchitect.com Secara umum buku ini memuat karya dari tujuh arsitek yang dianggap mewakili suatu generasi arsitek baru yang dimaksud oleh penulis, tampaknya ‘baru’ merupakan suatu pembeda untuk paradigma ber-arsitektur yang sudah ada sebelumnya, dimaksudkan oleh Peter dan Murni. Apakah yang berbeda? Jawabannya terlintas pada prakata Murni “Apa sebabnya arsitektur sebagai komponen kebudayaan material sesudah Indonesia merdeka tidak dengan sengaja dibangun atas pengertian dan pengalaman arsitektur tradisional?” Pertanyaan ini sendiri merupakan pertanyaan ‘abadi’ Heinz Frick tentang arsitektur DI Indonesia. Buku ini merupakan buku yang diperuntukkan arsitek dan kalangan akademisi. Meskipun demikian kalangan awam akan dengan mudah menikmati buku ini karena koleksi foto fotonya yang ekstensif dan estetis. Terimakasih pada Peter yang sudah mengirimkan buku ini sehingga bisa saya review.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Buku ini dalam rangka konteks gerakan pencarian arsitektur Indonesia atau arsitektur nusantara (CMIIW), yang belakangan ini cukup santer menjadi perbincangan arsitek Indonesia. Cukup banyak gerakan gerakan yang sama seperti misalnya di Jepang dan di negara lain dimana arsitek arsitek yang pernah mengalami masa masa pencarian jati diri arsitektur yang paling sesuai untuk diterapkan di negaranya. Entah Apakah hal tersebut cukup untuk menggambarkan keinginan pencarian jati diri yang tampaknya benar benar menjadi sebuah topik yang menggelembung di era diskusi yang ekstensif dari era Arsitek Muda Indonesia.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Jawaban pasti tentunya bila dijelaskan oleh penulisnya sendiri. Peter menyebutkan bahwa arsitektur Nusantara tidak perlu dirumuskan dengan tergesa gesa, kesempatan menakar masih terbuka untuk dibicarakan. Murni memilih untuk mengangkat pertanyaan abadi Heinz Frick, sambil berusaha menginspirasi pembacanya.

Lantas, apakah ada generasi yang ‘baru’, ataukah judul merupakan suatu keinginan berbeda dari publikasi yang lain? Karya-karya dalam buku ini bahkan sudah sering beredar didunia arsitektur Indonesia, dalam publikasi maupun media sosial. Jujur sebagian pembaca mungkin sudah pernah melihat sosok sebagian rumah-rumah itu. Membukukannya juga sudah dilakukan penulis-penulis lain dalam fragmen-fragmen pemikiran buku yang lain. Aha, yang berbeda adalah: buku ini ‘memaku dengan kuat’ kata ‘generasi arsitek baru’ itu dengan lebih kuat. Nailed it, kata orang yang berbahasa Inggris.

Kata pengantar dari Prof. Ir. Triatno Yudo Harjoko, M. Sc, Phd, tampaknya ingin membuat penalaran tertentu tentang tanda dan signum berdasarkan pandangan akan kata ‘desain’ yang dianggap lebih metafisik. Beliau mengambil sudut pandang linguistik yang selalu membuat kita senantiasa wow karena begitu dijelaskan, arsitek ‘biasa’ mungkin hanya bisa diam bingung sambil berusaha mengerti teori linguistik yang notabene rumit itu. Sedikit lega Profesor disengaja atau tidak, kemudian menuju ‘bahasa awam’. Profesor banyak menggunakan kata ‘tektonik’ yang berarti lebih dalam dari sekedar ‘bangunan’, ia adalah suatu konsep manifestasi arsitektur yang memiliki lebih banyak muatan hasil pemikiran atau seni.

Membalik satu per satu halaman di dalam buku ini seperti diajak memahami secara langsung apa yang ingin dikatakan dan latar belakang dari pembangunan sebuah rumah. Saya lebih memandang bahwa penulisan dalam buku ini lebih merupakan ‘jembatan’ daripada ‘hadiah baru yang terbungkus rapi’ untuk -seandainya ada- arsitektur Indonesia. Barangkali yang mengagetkan atau dianggap mewakili generasi ‘baru’ adalah bagaimana 7 arsitek tersebut memakai paradigma-paradigma baru hasil pemikiran kritis mereka, contohnya materialitas untuk dieksplorasi sebagai bahan dalam mendesain, dimana kuantitas pemikiran ini hadir dalam skala berbeda-beda. Generasi sebelum arsitek-arsitek dengan paradigma baru ini, bisa jadi terkaget-kaget; singgasana ‘gaya-gaya’ mereka dihanyutkan oleh ‘arus’ atau stream yang nampaknya cukup kuat, lebih mendasar dan beralasan. Meskipun demikian ‘hadiah-hadiah’ itu sudah dibuka perlahan-lahan dalam kurun satu atau lima tahun terakhir. Demikian juga pasar mungkin masih hati-hati untuk mengadopsi paradigma baru ini, kali-kali ini hanya sepenggal epoch yang akan segera tertiup angin.

Hanya ada satu yang bisa mengalahkan mainstream, dia adalah small-stream yang mirip-mirip seperti ini. Secara umum desain-desain dalam buku 7 adalah modern, ada yang sangat modern, dan ada juga yang merepresentasikan jejak tradisi. Bahkan unsur gaya baru seperti gaya industrial juga tampak laksana eklektisism yang ‘biasanya’, the casual eclecticism. Meskipun demikian, ada ‘substance-x‘ yang memang diekstrak dari kekayaan arsitektur dari masa lalu. Sebuah kearifan yang mengalun dinikmati sebagai mellifluous architecture. Buku ini, memang unik, lugas, dan tidak mendayu-dayu. Tidak ada prosa yang terlalu puitis, bahkan penulisnya menunjukkan dengan baik kemampuan deskriptif dan teknis yang mumpuni, khas bahasa insinyur.

Selasa, 18 Agustus 2015.
(to be concluded, saya coba menutupi angka 7 yang tertera di cover buku ini. Saya merasa lebih tercerahkan. Cobalah)

___

Membahas sebuah buku memerlukan pemikiran dan juga biaya untuk mendapatkan buku tersebut. Saya akan sangat berterima kasih apabila anda berkenan untuk menyumbangkan buku atau mengirim buku ke alamat studio agar dapat dibahas sebagai informasi kita bersama. Atau anda juga bisa membelikan saya segelas kopi atau makan siang dengan cara memberikan donasi. Silahkan email atau whatsapp:

Arsitek Probo Hindarto
081 252 447 53
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Majalah Arcaka edisi Mei 2015

astudioarchitect.com Majalah arsitektur arcaka merupakan majalah yang sifatnya sedikit akademis tetapi memuat karya karya arsitektur yang tampaknya cukup bagus untuk disimak baik akademisi para arsitek maupun masyarakat awam. Tema yang diangkat pada isu bulan mei 2015 adalah tentang time traveller yang mengangkat kata “eureka” sebagai sebuah ungkapan gembira atas menemukan sebuah desain. Eureka berasal dari bahasa yunani yang artinya “aku menemukan” ketika Archimedes meneriakkannya ketika membenamkan dirinya dalam sebuah bak mandi dan menyaksikan sejumlah air tumpah bersamaan dengan tubuhnya yang masuk ke dalamnya. Ia menemukan sebuah formula.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Hal ini yang ditampilkan oleh Realrich Syarief yang mengatakan bahwa eureka ada pada setiap desain. Karyanya yang ditampilkan adalah sebuah perpustakaan mungil dengan seluruh ruangan yang disusun oleh rak buku dengan langit langit berbentuk setengah lingkaran. Desain lainnya adalah sebuah rumah dengan penataan ruang ruang yang sifatnya open space menggabungkan antara ruang keluarga ruang makan dan dapur.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Karya Ben Saraswati diangkat merupakan sebuah karya villa di Bali yang dilengkapi dengan desain denah nya.

Selain itu di dalam majalah ini kita juga menemukan cerita tentang rumah Desa Sasak Sade yang bisa memberikan inspirasi bagi kita semua akan arsitektur yang bertemakan komunitas serta kesederhanaan dalam kehidupan desa. Karya Budi Pradono mengetengahkan desain rumah dengan bentuk atap gergaji dengan material yang sangat ditonjolkan berkesan alami tanpa polesan.

//e.issuu.com/embed.js

___
by

Arsitek Probo Hindarto
081 252 447 53
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

25 Tropical Houses in Indonesia

astudioarchitect.com Kutipan: Bagi banyak orang, kata ‘tropis’ dan ‘arsitektur tropis’ berhubungan dengan gambaran tentang landscape yang diterangi oleh sinar matahari dan dihiasi oleh bangunan-bangunan eksotis. Sementara pandangan ini masih banyak dipopulerkan oleh industri turisme di regional ini, didalam tropis Indonesia sendiri arsitektur masih selalu dipengaruhi oleh fenomena yang selalu berubah, khususnya masyarakatnya yang majemuk, dengan sejarah yang kompleks hingga masa modern, dipengaruhi oleh pendudukan kolonial, dan perkembangan ekonomi yang dinamis yang dipicu oleh pergerakan dan mobilitas masyarakatnya menjauh dari lingkungan tradisi dan komunitas-komunitasnya. Buku ini bercerita tentang banyak karya arsitek ternama di Indonesia.

dari buku: 25 Tropical Houses in Indonesia. Halaman ini lebih nyaman dilihat via komputer.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Hidup di daerah tropis adalah lebih dari sekedar hidup di daerah panas, lembab dan basah, atau lingkungan yang hijau. Ini menyangkut negosiasi terus menerus antara tradisi, kekuatan alam, dan perkembangan modernisasi, termasuk tren gaya internasional yang mutakhir. Di Indonesia, negosiasi ini ditandai dengan seperangkat kontradiksi; yang ideal alami berhadapan dengan area permukiman yang padat; temperatur yang nyaman berhadapan dengan kombinasi tak tertahankan dari kelembaban, hujan lebat, dan polusi; rumah-rumah indigenous (vernakular) dan peninggalan arsitektur kolonial berhadapan dengan blok-blok apartemen gaya Amerika yang menjulang tinggi; dan tertutupnya perumahan berpagar berhadapan dengan area slum yang termarginalkan. Hal ini ditambah dengan lingkungan politik yang sering tidak stabil, perkembangan ekonomi yang tidak bisa diperkirakan, sebuah masyarakat yang secara sosial dan ekonomi terpolarisasi, dan tentunya urbanisasi yang tidak terkontrol dan tidak terencana.

source from the book 25 Tropical Houses in Indonesia

Bersamaan dengan kondisi-kondisi tersebut terdapat perkembangan golongan menengah dan atas yang cepat didalam budaya urban yang dinamis dan plural. Rumah-rumah yang disajikan dalam buku ini mengetengahkan sekilas pada aspirasi kedua grup yang paling berpengaruh tersebut – aspirasi yang merangkul gaya hidup baru, kebiasaan aktivitas dan pola keluarga yang berubah, networking yang multi kultural, dan banyak variasi dalam praktek berarsitektur – yang kesemuanya menuntut solusi arsitektur yang inovatif dan inspiratif. Ini adalah sebuah perkembangan yang menggembirakan, sesuatu yang selama ini selalu dibayangi oleh sistem tradisi dan tata nilai sosial yang dikemas melalui sejarah periode identitas kultural dan modern yang dibawa sejarah kolonial. Dalam sebuah perjalanan yang selalu berubah dan penuh tantangan, negeri ‘arsitektur tropis’ ini perlu untuk dilihat lebih dari sekedar sebuah nostalgia, gambaran imaji dari tropis yang eksotis atau sebenarnya sebuah solusi untuk mengontrol iklim.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Nostalgia dan gambaran imaji tentang arsitektur tropis di Indonesia memang sudah, dan sedang, dipengaruhi oleh banyak imajinasi mereka yang berada diluar Indonesia. Dipengaruhi oleh pandangan orientalis tentang tropis Asia yang selalu damai, harmoni, dan eksotis, dan dengan aspirasi turis saat ini untuk mendapatkan pengalaman kehidupan yang lain dari kehidupan barat dan kehidupan yang berakar masa lalu di Indonesia yang diromantiskan sebagai bentuk-bentuk bangunan yang berpadu harmonis dengan landscape yang hijau – sebuah simbol dari surga yang menawan atau pelarian eksotis dari rat race kehidupan urban modern. Lebih jauh lagi, sebagai kontras dari perkembangan arsitektur di dunia barat, gaya arsitektur di tropis Indonesia banyak dipersepsikan sebagai ideal dan sempurna daripada kompleks dan berevolusi, sebuah amalgam dari tradisi berabad-abad dan pengaruhnya.

https://books.google.co.id/books?id=MjrRAgAAQBAJ&lpg=PP1&dq=indonesian%20architect&pg=PP1&output=embed

___
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

The New Indonesian House

astudioarchitect.com Dunia desain arsitektur di Indonesia sudah mengalami banyak perubahan dan pergerakan, seiring dengan modernisme dan makin terbukanya pengetahuan dan minat pengguna jasa arsitek. Perkembangan tersebut perlu dicermati dan diperhatikan pula karya-karyanya karena tidak dapat dipungkiri bahwa warna-warni dunia arsitektur di Indonesia makin banyak, tidak lagi didominasi oleh channel-channel tertentu. Buku ini mengulas banyak karya arsitek yang dianggap menjadi penanda perkembangan arsitektur di Indonesia melalui pergerakan dan pemikiran baru. Sebagian besar pemikiran baru yang memberi warna disebabkan oleh pergeseran paradigma yang melanda arsitek untuk memperkenalkan pengguna jasa kepada warna arsitektur yang lebih kontemporer.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ditulis dengan gaya bahasa yang kontemporer dan cenderung mengambil sampling dari arsitek yang sudah dikenal secara luas di Indonesia, buku ini mengajak pembaca untuk melihat perkembangan arsitektur di Indonesia dengan memperkenalkan suatu sejarah singkat yang merupakan interpretasi terhadap dunia desain arsitektur di Indonesia. Pengenalan sejarah arsitektur di Indonesia dijelaskan dengan menyebutkan pembaharu-pembaharu yang menguji dirinya sendiri melalui kelas dan waktu yang berbeda. Sukarno dengan F. Silaban, kemudian ATAP dengan Soejoedi, Han Awal, dan tokoh lainnya. Pembahasan ini tidak terlalu berbeda dengan manifesto dalam buku Tegang Bentang 100 Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia, karena kemungkinan besar bersumber pada informasi yang sama.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Pendahuluan dilanjutkan dengan membahas AMI atau Arsitek Muda Indonesia yang merupakan gerakan yang awalnya merupakan forum pemikiran yang mengalami suksesi dengan makin diakuinya pemikiran-pemikiran baru tersebut. Gerakan di tempat lain dengan semangat yang kurang lebih sama seperti Forum Arsitek Medan (FAM), BOMBARS (Manado), Spirit Arsitek Muda Malang (SAMM), Desainer Muda Surabaya (DeMaya) juga turut mewarnai pemikiran kontemporer pasca AMI di berbagai tempat.

Buku ini juga memberikan pendahuluan tentang ‘efek Bali’ sebagai tujuan wisata yang memperkenalkan konsep ‘leisure’ sebagai nilai tambah desain yang ternyata diterjemahkan dengan cara yang berbeda-beda, termasuk sangat berbeda dari arsitektur tradisional dan vernakular. Belakangan terjadi pusaran balik yang memusat di beberapa tokoh pemikir dalam arsitektur untuk menggali ulang kelokalan masing-masing melalui berbagai metode, diantaranya yang marak adalah melalui materialisme dan vernakularisme. Ada optimisme bahwa karya-karya yang ditampilkan di media seperti buku semacam ini pada akhirnya akan lebih berwarna lagi dan tidak terpusat pada channel-channel tertentu saja.

http://books.google.co.id/books?id=VpbTAgAAQBAJ&lpg=PP1&dq=arsitek&pg=PP1&output=embed
______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

[buku teori] Sejarah Arsitektur; Sebuah Pengantar oleh Setiadi Sopandi.

astudioarchitect.com Siapa yang sekarang membaca sejarah? Pentingkah untuk membaca sejarah? Membaca dalam arti menarik pelajaran dari masa lalu untuk masa kini dan masa depan. Belajar sejarah bukan berarti menghafal kejadian-kejadian, namun lebih kepada membaca fenomena dan menarik kesimpulan untuk arsitektur yang lebih baik. Barangkali ini yang hendak diantarkan oleh Setiadi Sopandi melalui buku ‘Sejarah Arsitektur; Sebuah Pengantar’.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Buku ini merupakan buku sejarah yang tidak ditulis berdasarkan perjalanan waktu atau ketokohan, namun membahas lebih jauh kepada tipologi bangunan dan perkembangannya. Kita bisa membaca adanya 4 bagian arsitektur yaitu

  • Arsitektur gundukan dan tumpukan, semacam kubur, piramida, bentang alam, ruang dan puncak, stupa, candi dan sebagainya. 
  • Tiang dan Balok. Merupakan jenis arsitektur yang menggunakan konstruksi tiang dan balok seperti yang ada di Asia dan Austronesia banyak menggunakan jenis konstruksi ini. 
  • Busur dan Kubah, merupakan arsitektur yang mengandalkan pada kekuatan batu, bata atau massa, contohnya adalah bangunan-bangunan di Romawi, seperti colosseum dan gereja-gereja, serta masjid. 
  • Geometri dan teori. Ini merupakan masa dari berbagai teori yang beragam dan mempengaruhi arsitektur dari segi filsafat desain maupun hasil akhirnya. 

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Berikut ini kutipan dari buku tersebut:
Sejauh ini sudah ada beberapa tulisan mengenai sejarah arsitektur maupun teori atau metode perancangan arsitektur yang dihasilkan didalam negeri, namun kebanyakan akhirnya menemui hambatan hambatan dalam menjembatani ranah wawaan dan pemahaman mahasiswa menuju ranah keterampilan yang diajarkan di studio perancangan arsitektur. Hal ini ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang belum terpuaskan. Diantaranya mengenai apa peran dan hubungan praktik dan sejarah arsitektur yang ada di suatu tempat atau negara tertentu dengan wacana dari sejarah arsitektur di dunia. Bagaimana pengetahuan mengenai sejarah arsitektur di dunia memengaruhi dan dipengaruhi oleh berbagai gagasan dari praktik membangun disuatu tempat tertentu; bagaimana sebah gagasan arsitektural dipersepsikan sekelompok masyarakat tertentu namun berbeda bagi kelompok masyaraakt lain; bagaimana gagasan itu berkembang, menyebar, maupun dilupakan orang.

Kemungkinan lain adlah kegamangan posisi kajian sejarah dan teori arsitektur terhadap praktiknya. Adakalanya sejarah dan teori arsitektur belum dapat secara sempurna membedakan dirinya dari kajian sejarah dalam ilmu ilmu sosial budaya, dan mungkin masih dianggap sebagai sebuah cabang ilmu sejarah atau ilmu sosial budaya yang pada hakikatnya mencoba menelaah obyek arsitektur (bangunan, interior, kota lanskap) dari sudut pandang kontekstual (kondisi sosial, politik, budaya, ekonomi, estetika, geografi, topografi, klimatologi, dan lain lain) tanpa berusaha memosisikan diri kedalam peran perancang didalam konteks tersebut.

Kemungkinan lainnya adlah anggapan bahwa pendidikan perancangan (desain) adalah pendidikan yang melulu membahas isu isu kontemporer bahkan futuristik, sehingga konteks sejarah dianggap tidak lagi relevan. Seringkali topik teori bahkan diberikan secara terpisah tegas dengan topik sejarah sehingga mematikan hubungan dan relevansi kajian sejarah dengan aktivitas perancangan.

Bahkan selalu ada kecenderungan pengajar teori dan sejarah arsitektur tenggelam dalam suatu teori atau gagasan atau periode sejarah tertentu dan mengajarkannya seperti sebagai moralitas atau idealisme bagi perancangan. Kekaguman berlebihan pada suatu gagasan, lokalitas, ataupun arsitektur pada periode tertentu secara belebihan tentunya mengakibatkan sempitnya wawasan. Kekaguman berlebihan pada suatu obyek ataupun subyek menghilangkan daya kritis dan potensi pengetahuan didalamnya.

Hambatan hambatan semacam ini seringkali menghasilkan langkah yang tidak tepat sasaran menjadikan materi teori dan sejarah kembali sebagai gincu pendidikan arsitektur ataupun sebagai bahasa sandi penuh misteri yang tidak mudah dimengerti oleh kebanyakan mahasiswa maupun awam. Upaya menjembatani kesenjangan teori dan aktivitas perancangan juga dapat berujung pada salah kaprah dan semakin menambah kebingungan. Misalnya dengan menugasi mahasiswa menerapkan dan meramu langam arsitektur tertentu pada studio perancangan arsitektur tentunya semakin mengaburkan tujuan utama pengajaran teori dan sejarah arsitektur. Pendekatan formalistik dari penggunaan jargon jargon puitis tertentu misalnya dengan mengaplikasikan bentuk bentuk dan mengasosiasikannya dengan berbagai muatan simbolik pada karya karya perancangan – juga merupakan slah satu gejala yang lazim diloloskan begitu saja untuk dicerna oleh masyarakat luas.

Maka dari itu pendidikan perancangan arsitektur di Indonesia seyogyanya menempatkan kembali pengajaran teori dan sejarah pada posisinya yaitu menjadi dasar peletakan berbagai perangkat dan pandangan dasar sebagai bekal keterampilan analitis untuk terlibat dalam perancangan arsitektur. Pengajaran teori dan sejarah seyogyanya menampilkan dan menghasilkan model model atau kasus kasus lintas konteks sehingga kemudian mahasiswa diharapkan untuk merefleksikan berbagai model atau kasus tersebut dalam kasus kasus perancangan dan memiliki pilihan pilihan yang luas dan bernas.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Fame Fortune Flirt – karya Aboday

Salah satu dari sedikit proyek rumah tinggal yang didesain Aboday, karena kebanyakan project merupakan project corporate dengan skala bangunan cukup besar. Pada desain rumah tinggal seperti ini biasanya arsitek bisa lebih menuangkan idealisme arsitekturalnya. 

astudioarchitect.com “Tidak mudah untuk menjadi arsitek di Indonesia”, kata-kata ini menjadi awal pembuka Fame Fortune Flirt, setebal 600 halaman. Memang kenyataan di lapangan menunjukkan hal itu; tidak mudah menjadi arsitek di Indonesia. Pertama adalah karena banyak masyarakat masih belum menyadari benar kegunaan arsitek sementara mereka membangun, kedua adalah karena regulasi pemerintah yang belum berpihak kepada arsitek. Namun kemudian bagi arsitek menjadi suatu tantangan yang membuat kecanduan. Fame Fortune Flirt memberitahukan kepada kita beberapa hal tersembunyi dan terbuka dari profesi arsitek yang disampaikan dengan baik dengan ilustrasi gambar-gambar proyek.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sebuah hotel yang dirancang Aboday. Disamping tampilannya yang terlihat bagus atau menarik bagi sebagian besar pengamat awam, Aboday mengakui bahwa terdapat beberapa kontradiksi dalam perancangan terkait dengan selera owner dan pandangan baru tentang arsitektur dan interior design oleh Aboday.

Jarang saya mengulas buku tentang karya orang lain dan buku ini juga sudah agak lama terbitnya, namun untuk buku ini adalah sebuah pengecualian, mengingat buku seperti ini mungkin jarang di Indonesia dan memiliki filsafat yang bisa menggugah kesadaran dan merubah pandangan-pandangan tentang arsitek dan profesi ini pada umumnya. Memang tidak terlalu mengubah pandangan, namun memberikan horizon yang cukup luas; profesi arsitek dengan segala macam kekuatan dan ketidak-berdayaannya. Bagi banyak arsitek yang belum ‘berevolusi dengan baik’, buku ini bisa jadi merupakan sebuah bimbingan dengan filsafat ringan yang bisa mengubah cara pandang. Yang ditunjukkan oleh buku ini sebenarnya lebih ke arah kekuatannya dengan sedikit hint pada berbagai kelemahan sebuah biro arsitek. Dengan gaya santai dan serius, Aboday membungkus buku ini menjadi sebuah buku rekam jejak perjalanan berarsitektur, selama kurun waktu beberapa tahun.

Berbagai wawancara dibuat untuk menggali sisi-sisi manusiawi dan yang belum terungkap dalam bagian buku lainnya. Mengetengahkan pewawancara yang cukup mengerti dunia arsitektur di Indonesia. Bisa memberikan banyak gagasan filosofis dari cara pandang mereka. 

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Saya lebih kenal mas Ary Indra, salah satu dari trio Rafael David, Ary Indra dan Johansen Yap, karena beliau adalah kakak kelas saya di Universitas Brawijaya. Beberapa kali kami bertemu dalam beberapa kesempatan seperti seminar dan talkshow. Karakter arsitek-arsitek ini memang diakui berbeda, dan memiliki perannya sendiri-sendiri. Gabungan arsitek memang memiliki semacam ego tension yang cukup tinggi, mengingat ego adalah salah satu karakter arsitek dan profesinya yang cukup kuat.

Terdapat delegasi tugas yang diakui oleh trio arsitek ini; Rafael David yang banyak menggeluti sisi keuangan dan programatik dalam proyek, Ary Indra yang banyak menggeluti sisi media publikasi dan desain arsitektural, dan Johansen Yap yang berkecimpung dibidang intern perusahaan dan desain. Dari penjelasan saat roadshow buku ini diketahui bahwa karakter ketiganya yang membangun biro arsitek ini juga dipengaruhi oleh background karakter yang berbeda pula.

Salah satu karya, misalnya karya ini, diakui dalam buku terasa panas. Menunjukkan keinginan Aboday menunjukkan beberapa aspek rancangan yang boleh jadi tidak sesuai dengan harapan. 

Disampaikan dengan nada berkelakar, diakui oleh ketiganya bahwa karakter kedaerahan dan kultural yang dibawa masing-masing arsitek adalah sebuah kontribusi kepada tim yang solid – yang kadang tidak solid juga di kenyataannya 🙂

Uang adalah faktor penentu apakah sebuah biro arsitek akan menerima sebuah proyek atau tidak. Sebagai sebuah profesi, arsitek harus dapat hidup dari profesinya dan itu diutarakan dengan baik oleh Aboday sebagai salah satu aspek yang menentukan banyak segi dalam perancangan maupun penerimaan proyek. 

Rafael lebih mengarah kepada sisi keuangan dan memiliki ‘Gen Chinese’ yang dibutuhkan untuk membuat biro ini memiliki kekuatan-kekuatan dari masyarakat Tionghoa. Rafael cukup banyak membicarakan tentang ‘hoki’ atau keberuntungan dalam terminologi orang Chinese dan bisa jadi mempermudah untuk masuk kedalam komunitas-komunitas Tionghoa yang mengarah ke kedekatan pada kapitalis yang berminat memberikan project. Rafael juga pandai dalam membuat programatik dan merencanakan hal-hal seputar ekonomi keuangan baik dalam perusahaan Aboday maupun dalam project. Pendek kata Rafael adalah ‘the economy expert’. Dia yang bertugas untuk menentukan kelangsungan ekonomi perusahaan dan project, serta memiliki visi yang terarah berdasarkan kondisi keuangan. Hal ini tidak banyak dimiliki arsitek kebanyakan, karena bisnis dan ekonomi memang sesuatu yang berbeda dari arsitektur.

Untuk Ary Indra, saya lihat memiliki karakter arsitek dengan kecakapan media yang cukup baik. Ary dekat dengan media dan buku ini juga merupakan prakarsa Ary Indra dengan sistematika publikasi yang terstruktur dengan baik. Dari segi desain, Ary Indra juga dengan mudah mengimplementasikan karakter-karakter desain dalam bentuk tampilan arsitektural secara keseluruhan, meskipun ketiganya merupakan arsitek, namun sepertinya Ary yang lebih konsen ke arah pembentukan karakter bangunan. Ary juga cukup banyak melakukan tour dan mempublikasikan karya Aboday dalam berbagai kesempatan termasuk media dan universitas. Kecakapannya dengan persona merupakan kelebihan Ary yang banyak diakui bermanfaat ketika bertemu dengan klien. Dari background Ary yang merupakan orang Jawa, ke-Jawa-annya barangkali adalah kekuatannya yang terbesar, karena orang Jawa dikenal ramah dan membumi, baik hati dan mampu memberikan unsur keramah-tamahan dan pengertian kepada orang lain.

Sementara Johansen Yap, berada di sisi yang lebih manusiawi dan merepresentasikan ‘Flirt’, menurut versi yang beredar. Johansen dianggap sebagai gen ‘Batak’ yang ambisius, meskipun demikian pada awalnya Johansen justru sedang merasa tidak bergairah dalam dunia arsitektur ketika mereka membentuk Aboday. Barangkali Johansen yang memberikan unsur flirt itu dalam publikasi trio ini merupakan unsur introvert yang baik, dan memiliki kekuatan untuk digunakan didalam intern perusahaan Aboday.

Salah satu lagi, desain rumah tinggal oleh Aboday. Dalam hal ini totalitas mendesain dibarengi dengan keleluasaan secara ekonomi dan idealisme akan menghasilkan rancangan yang sesuai dengan imajinasi arsitek maupun keinginan pemiliknya. 

Benar atau salahnya interpretasi saya, saya kumpulkan melalui beberapa media dan juga cara menyampaikan presentasi dalam roadshow Aboday. Buku ini dengan berbagai isinya yang menggugah selera merupakan suatu cara pandang yang unik karena Aboday dengan sengaja mengekspos karya-karya maupun cerita dibalik karya dan buku. Tidak semua muncul dalam buku ini karena beberapa hal unik tentang sisi yang biasanya ditutupi oleh arsitek juga diberitahukan secara gamblang, dan sebagian lagi secara verbal melalui little chat dengan Ary Indra.

Dalam buku Fame Fortune Flirt, diselipkan juga segmen komik yang menunjukkan kehidupan dalam studio aboday beserta beberapa hint tentang problem sehari-hari. Peran masing-masing trio juga ditunjukkan melalui cara grafis yang humoris. Hal ini menunjukkan salah satu semangat ‘santai’ yang banyak disebutkan oleh Ary Indra. 

Aboday yang merupakan biro arsitek yang dibentuk oleh tiga orang yang keluar dari pekerjaan mereka di Singapore bertahun-tahun lalu adalah sosok biro arsitek yang realistis, dan mengajarkan kita untuk berpikir realistis pada suatu project. Jangan melupakan pelajaran bahwa project haruslah realistis, dan profesi ini juga harus demikian. Realistis itu harus dapat dipecah menjadi konsep-konsep yang bisa dilakukan secara nyata dilapangan, baik dari segi desain, sisi ekonomi perusahaan maupun project, ataupun dari sisi yang sangat humanistik.

Ada kemungkinan ‘Fame Fortune Flirt’ merupakan suatu cara untuk mengungkapkan ‘Harta Tahta dan Wanita’ dalam bentuk yang sangat Abodayish. Konsep-konsep ini dicitrakan dengan cukup manis melalui sebongkah buku tebal yang bisa dibaca habis hanya dalam waktu 1-2 hari saja. Mereka memberikan ruang-ruang yang cukup banyak untuk sebuah kelegaan dan kontemplasi, yang mungkin merupakan suatu cara memeditasikan perjalanan berarsitektur mereka.

“Play House” yang merupakan rumah tinggal Ary Indra, tak kalah juga ditampilkan sebagai icon yang menunjukkan banyak prinsip desain dan idealisme berarsitektur yang diusung Ary Indra dan Aboday secara keseluruhan. 

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.