Category Archives: pustaka buku arsitektur

Arsitektur yang Lain oleh Avianti Armand

astudioarchitect.com Dari banyak buku yang saya baca, “Arsitektur yang Lain” adalah buku yang berbeda, ditulis dengan bahasa ‘rumpi‘ yang gaul ala wanita dengan usia matang. Pembaca tentu harus membayangkan berbicara dengan wanita bernama Avianti Armand yang sedang jujur dengan pikirannya (pemikirannya?). Buku ini tidaklah terlalu scientific namun mengandung aspek-aspek scientific, dan saat membacanya kita harus seperti membaca novel, siapkan kopi atau teh Anda dan kudapan bila perlu, membacanya ditempat yang tenang seperti bila Anda ingin ngerumpi dengan teman lama dan tidak ingin diganggu. 

Kutipan: Dapur
Untuk rumah barunya, klien saya–seorang socialite yang jarang absen dari majalah-majalah gaya hidup–minta “dapur bersih” yag luas dan lengkap dengan area makan kecil untuk enam orang, oven, kompor listrik berpermukaan rata, dishwasher, microwave, juicer, blender, mini wine cellar, keran air panas dan air dingin, kulkas dua pintu, dan lain-lain.

“Jangan ada yang ketinggalan,” pesannya.

“Anda pasti pandai memasak,” tuduh saya.

“Tidak,” jawabnya.

Lho? Lalu, buat apa segala kitchen appliances dengan teknologi terbaru dan harga supermahal itu? “Kalau saya punya dapur yang bagus, saya akan belajar memasak.”

Benar saja. Sebulan sesudah ia menempati rumah itu, si ibu belajar masak. Ia membayar seorang pensiunak chef hotel bintang lima menjadi gurunya. Sebulan berikutnya, ia sibuk mempraktekkan dan memamerkan keahlian barunya itu dengan mengundang teman-temannya–juga saya–makan siang di dapur bersihnya yang lapang dan nyaman. Dengan gagah berani dan bangga, ia melakukan demo masak solo dan menyuguhkan hasilnya dengan penyajian yang sangat elegan. Tanpa ragu, teman-temannya memuji keindahan dan kecanggihan dapurnya. Tak satu pun yang memuji masakannya yang, maaf-maaf saja, memang sulit ditelan.

Sebulan kemudian, si ibu akhirnya menyerah dan berhenti memasak. Dapur bersih itu tinggal sebagai tempat sarapan dan minum kopi atau teh saja. Sejak itu, kembali “dapur kotor” yang sehari dua kali beroperasi menyuplai makanan untuk seluruh penghuni rumah.

Dapur bersih dan dapur kotor memang fenomena ynik dalam tipologi rumah tinggal kelas menengah atas sejak akhir tahun delapan puluhan. Pemisahan tersebut tidak hanya membagi fungsi tetapi juga pengguna. Dapur bersih dibuat untuk empunya rumah. Selain berfungsi sebagai ruang makan informal, ia juga mengakomodasikan fungsi-fungsi sosial seperti bertukar gosip, mencoba resep bersama, menemani anak belajar, dan lain-lain. Sementara dapur kotor digunakan oleh pembantu rumah tangga untuk memasak makanan sehari-hari. Kadang-kadang juga area tinggal mereka–di mana mereka bisa menonton televisi dan bercegkerama–selain kamar tidur dan area kerja lain.

Kenapa disebut bersih dan kenapa kotor lebih disebabkan dari masakan yang dibuat disitu. Di dapur bersih biasanya nyonya memasak makanan Eropa yang menggunakan sedikit bumbu dengan tahapan yang tak banyak. Scrambled egg dan roti panggang, aglio olio dan segala pasta, greeek salad–juga aneka salad lainnya, adalah masakan yang dibuat di dapur bersih. Atau kue-kue kecil dengan wangi vanila dan kayu manis. Sementara, kita sama-sama tahu bahwa masakan Indonesia, yang sehari-hari sekali pun, cenderung menggunakan banyak bumbu dan bahan-bahan yang beraroma kuat. Cara masaknya juga cukup heboh dan menguras keringat. Sangat sulit memasak sayur asem, balado ikan asin, gepuk dan tetap terlihat cantik. Atau sambel terasi dan tetap wangi sesudahnya.

http://books.google.co.id/books?id=oKhSwqTO3wYC&lpg=PA119&dq=arsitektur%20rumah&pg=PP1&output=embed ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Wastu Citra

astudioarchitect.com Ternyata bangunan punya citra sendiri-sendiri dan menyiratkan jiwa yang dimiliki pembuatnya. Semakin kita berkembang dalam membangun, semakin kita harus memperhatikan citra. Jangan sampai bangsa kita dicap punya keahlian dan keterampilan, tapi jiwanya kosong atau ngawur; itu tampak dari penampilannya, dari citranya (kutipan). Buku Wastu Citra merupakan salah satu buku yang ‘wajib’ dibaca oleh setiap arsitek di Indonesia, mengingat buku ini bisa memberikan wawasan arsitektur yang lebih ‘Indonesia’ dibandingkan buku-buku sejenis yang banyak mengungkapkan sejarah dan wacana arsitektur yang berasal dari barat. Y.B. Mangunwijaya 

Ketika saya kuliah, saya sangat menyukai membaca buku ini dalam format lamanya yang bersampul merah. Buku ini memberikan wawasan yang jernih tetnang arsitektur di seluruh dunia terutama karena buku ini membahas dari sudut pandang yang sangat Indonesia. Saat ini jarang muncul buku dengan pemahaman arsitektur yang sedalam ini. Berikut ini beberapa kutipan dari buku Wastu Citra:


Tiang kuil Mesir

Tiang Kuil India

Perhatikan tiang tiang pada gambar rekonstruksi istana Mesir Kuno. Apakah yang tampak mencolok? Tiang Mesir pada gambar tampak sangat sederhana walaupun garis garis alur melintang pad antara pucuk tiang dan balkok yang ditopangnya cukup memberi kesan hiasan. Bentuk bentuknya serba mengekang diri, stabil, teguh, tenang, tidak banyak cingcong. Bagaikan seorang pengawal raja, yang hanya tahu tugasnya yang pokok, tanpa dapat diselewengkan ke arah ulah yang bukan bukan. Tiang ini bagaikan tokoh wayang Bima (Werkudara) dalam hal keseluruhan wataknya, tidak kenal basa basi dan jujur apa adanya. Tiang ini juga dapat diibaratkan gaya tari atau gamelan Jawa Tengah, yang anggun seperti Arjuna sang jago perang yang sakti tetapi sanat tenang, penuh rasa pasti terhadap diri sendiri.

Sebaliknya, tiang India berkesan serba bergerak, penuh ukir ukiran penuh gairah, penuh nafsu haus ulah tinkah. Bahkan orang tidak mudah membedakan apakah ini unsur tiang yang bertugas pokok menopang balok atap, jadi harus kuat dan tguh, stabil dan tenang, ataukan unsur hiasan belaka yang tidak berfungsi memikul apapun. Tiang semacam ini lebih merupakan karangan bunga daripada unsur penopang yang harus kuat. Ia mirip pemuda yang masih bergelora darahnya dan berbuat hal-hal yang sulit diduga sebelumnya. Nafsu dan dinamikanya bagaikan gelombang-gelombang Lautan Selatan yang serba berubah bentuk.

Dinamikanya bagaikan penari dan gong Bali yang serba panas main mata dan mengibas-kibaskan raga dan kipas serba kontras, kian kemari antara gamelan yang ekstrem nyaring serba gerak cepat lalu tiba-tiba ekstrem lembut lamban; penuh kejutan-kejutan yang membuat darah mendidih. Tiang yang bercitra tenang stabil tadi seperasaan dengan tiang arsitektur Yunani gaya Dorik.

Dua watak gaya itu kita temukan dalam banyak wujud arsitektural di mana pun. Keduanya merupakan pola yang sma-sama manusiawi dan sah; dan dapat kita temukan didalam diri kita. Kedua pola itu dapat kita pilih, tergantung pada selera atau kecenderungan citarasa kita, ataupun kehendak situasi. gaya tari Jawa Tengah dan gaya tari Bali, keduanya saling melengkapi. Kita pun membutuhkan orang yang tenang dan stabil untuk kedudukan atau tugas tertentu; namun untuk tugas lain justru sebaliknya; dibutuhkan orang yang penuh gelora dan semagnat berapi-api. Demikian pula dalam pemilihan bentuk-bentuk karya wastu kita harus mempertimbangkannya masak-masak, pola mana yang kita pilih agar selaras dengan sasaran yang ingin kita capai atau yang ditugaskan kepada sang Sthapati.

http://books.google.co.id/books?id=nZgew4Ad-7gC&lpg=PP1&dq=arsitektur&pg=PP1&output=embed ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Pesan dari Wae Rebo: kelahiran kembali arsitektur Nusantara sebuah pelajaran dari masa lalu untuk masa depan

astudioarchitect.com [pustaka arsitektur] Wae Robo adalah satu-satunya kampung adat tradisional yang masih tersisa di ketiga kabupaten Manggarai, yang keasliannya masih tertata rapi oleh warga setempat. Andaikata Wae Robo juga tidak terplihara, selesailah sudah sejarah rumah adat Manggarai. puji Tuhan, warga Wae Rebo masih hidup menurut adat dan budaya yang diwariskan oleh leluhur perdananya, Maro. – Kutipan buku “Pesan dari Wae Rebo: kelahiran kembali arsitektur Nusantara sebuah pelajaran dari masa lalu untuk masa depan”, yang dieditori oleh Yori Antar, Varani Kosasih dan Paskalis Khrisno Ayudiantoro. 

Kutipan: Untuk mencapai Wae Rebo, pengunjung harus melintasi kawasan hutan yang masih terawat dan belum pernah dinodai masyarakat setempat. Kicauan burung burung turut mengiringi langkah para pengunjung, seolah olah menyambut kedatangan mereka. Siulan burung Pachycephala yang amat merdu mampu memeprlambat langkah para pengunjung karena mereka terpesona oleh suara indah itu. Leluhur Wae Rebo mewariskan tujuh buah rumah adat. Tiga rumah diantaranya sudah punah dimakan usia dan kini tinggal empat rumah yang masih berdiri kukuh. Rumah rumah yang sudah hilang itu tidak dapat dibangun kembali karena terbentur masalah finansial. Keterbatasan ekonomi masyarakat sungguh menghambat pemugaran rumah adat yang sarat dengan ritual adat itu. Masyarakat Wae Rebo sangat membutuhkan campur tangan para donatur untuk emngeksiskan kembali tiga buah rumah adat Wae Rebo yang sudah lenyap.

Yayasan T**** U**** dari Jakarta telah memberikan contoh yang sangat baik dengan menyumbangkan dana untuk membangun sebuah rumah tradisional Wae Rebo, menggantikan salah satu rumah yang sudah rusak total. Pengerjaan rumah ini tetap dilaksanakan oleh warga Wae Rebo sendiri sehinga keasliannya terjamin dan mereka dapat melakukan ritual adat.

Rumah adat Wae Rebo lebih dikenal dengan sebutan mbaru niang (rumah bundar berbentuk kerucut). Mbaru naing terdiri atas lima tingkat, yang masing masing mempunyai fungsi sendiri. Tingkat pertama adalah lutur (tenda), yang akan ditempati masyarakat. Tingkat kedua adalah lobo (loteng), yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang barang lainnya. Tingkat ketiga adalah lentar, untuk menyimpan benih benih seperti jagung, padi dan kacang kacangan. Tingkat keempat adlah lempa rae, sebagai tempat stok makanan.

http://books.google.co.id/books?id=qQ93hiafnmUC&lpg=PA75&dq=arsitektur&pg=PP1&output=embed ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Atap bertanaman ekologis dan fungsional

astudioarchitect.com Taman diatas atap adalah jenis atap yang baru-baru ini berkembang dengan pesat, digunakan baik untuk rumah tinggal maupun bangunan komersial. Tujuannya adalah agar bisa memiliki taman meskipun berada diatas bangunan. Dalam merencanakan konstruksi taman diatas atap, kita harus memperhatikan dahulu faktor keamanan berupa beban yang harus dipikul oleh keseluruhan struktur yaitu dak beton itu sendiri, beban tanah dan lapisan taman, tanaman dan juga manusia. Dalam artikel ini saya pilihkan buku yang ditulis Heinz Frick berjudul  ‘Atap bertanaman ekologis dan fungsional’.

Kutipan: Beban tambahan yang perlu diperhitungkan dalam tahap desain meliputi:

  • beban mati yang meliputi berat dari kotak tanaman atau dinding pembatas taman lainnya. Untuk bahan beton bertulang, berat lazimnya mencapai 24 kN/m2. Berat ini tentunya dapat bervariasi tergantung apakah struktur beton ini dalam keadaan basah atau kering. 
  • Beban hidup dapat terdiri atas berat kering dan bash dari media tanam (tanah), pepohonan, air, dan juga orang yang menggunakan atap bertanaman ini.
  • Beban hidup yang diperhitungkan untuk penggunaan (untuk atap datar yang dapat dipergunakan tidak hanya untuk pemeliharan taman) adalah sekitar 1.5 kN/m2 denah.
  • Berat dari tanah yang basah mencapai sekitar 22 kN/m3. Tanah pada atap bertanaman ini beratnya tentu bervariasi tergantung pada ketebalan lapisan tanah yang dipakai. Sebagai gambaran umum, kedalaman lapisan tanah ini berkisar antara 0.3-0.5 m untuk jenis taman yang ditanami oleh rumput dan perdu dan berkisar antara 1-1.5m untuk pohon pelindung yang berukuran kecil dan sedang. 
  • Beban angin harus dipertimbangkan dengan matang dalam desain atap bertanaman dengan jalan memasukkan angka yang sesuai untuk beban tekanan yang disebabkan oleh angin. Beban tekanan (tiupan) angin ini tergantung pada ketinggian tempat, bentuk pohon (rimbun tidaknya) dan tipe struktur bangunan yang menopang atap bertaman tersebut. 
  • Posisi dari beban terpusat di suatu lokasi atap bangunan yang ditimbulkan oleh pohon dan beban tambahan struktural lainnya sangat penting untuk dipikirkan sejak awal sehingga pekerjaan kedap air (waterproofing) telah dipersiapkan sebelumnya dan pelat atap mempunyai kekuatan yang memadai untuk diberi beban tekanan akibat dari tambahan berat ini. 
  • Sangat penting bagi para pemilik, pengguna, dan pihak manajemen gedung untuk memperhatikan kterbatasan beban atap yang diizinkan dengan cara tidak membuat taman di sembarang lokasi pada atap. Hal ini perlu diperhatikan untuk menghindari hal-hal yang dapat membahayakan keamanan struktur bangunan akibat diletakkannya taman dan pepohonan yang berat pada atap yang seharusnya tidak boleh dibebani. 
  • Secara alamiah, setiap pohon dan tanaman akan tumbuh dan bertambah berat sejalan dengan perkembangannya. Hal ini juga harus diperhatikan dalam perhitungan struktur sebagai beban tambahan yang akan terkumpul seiring dengan bertambahnya usia bangunan. 

Aspek Konstruksi dan Susunannya

  • Atap bertanaman pada dasarnya disusun sebagai berikut:
  • Atap pelat beton bertulang dengan plesteran finishing semen; atau
  • atap konstruksi kayu dengan lapisan papan atau multipleks;
  • lapisan kedap air yang tahan terhadap akar tanaman;
  • lapisan pelindung lapisan kedap air terhadap kerusakan mekanis;
  • lapisan drainase (pengaliran air);
  • lapisan penyaring;
  • lapisan media tanam (tanah dan sebagainya); serta
  • vegetasi (tanaman/pepohonan)

Ketebalan dari konstruksi taman diatas atap akan bervariasi tergantung pada tanaman yang akan ditanam, rancangan sistem, dan fungsi tambahan lainnya disekitar taman.

http://books.google.co.id/books?id=q5VK8df79_cC&lpg=PA45&dq=atap%20bertanaman%20ekologis&pg=PP1&output=embed
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Atap bertanaman ekologis dan fungsional

astudioarchitect.com Taman diatas atap adalah jenis atap yang baru-baru ini berkembang dengan pesat, digunakan baik untuk rumah tinggal maupun bangunan komersial. Tujuannya adalah agar bisa memiliki taman meskipun berada diatas bangunan. Dalam merencanakan konstruksi taman diatas atap, kita harus memperhatikan dahulu faktor keamanan berupa beban yang harus dipikul oleh keseluruhan struktur yaitu dak beton itu sendiri, beban tanah dan lapisan taman, tanaman dan juga manusia. Dalam artikel ini saya pilihkan buku yang ditulis Heinz Frick berjudul  ‘Atap bertanaman ekologis dan fungsional’.

sumber gambar: http://www.thaigardendesign.com 

Kutipan: Beban tambahan yang perlu diperhitungkan dalam tahap desain meliputi:

  • beban mati yang meliputi berat dari kotak tanaman atau dinding pembatas taman lainnya. Untuk bahan beton bertulang, berat lazimnya mencapai 24 kN/m2. Berat ini tentunya dapat bervariasi tergantung apakah struktur beton ini dalam keadaan basah atau kering. 
  • Beban hidup dapat terdiri atas berat kering dan bash dari media tanam (tanah), pepohonan, air, dan juga orang yang menggunakan atap bertanaman ini.
  • Beban hidup yang diperhitungkan untuk penggunaan (untuk atap datar yang dapat dipergunakan tidak hanya untuk pemeliharan taman) adalah sekitar 1.5 kN/m2 denah.
  • Berat dari tanah yang basah mencapai sekitar 22 kN/m3. Tanah pada atap bertanaman ini beratnya tentu bervariasi tergantung pada ketebalan lapisan tanah yang dipakai. Sebagai gambaran umum, kedalaman lapisan tanah ini berkisar antara 0.3-0.5 m untuk jenis taman yang ditanami oleh rumput dan perdu dan berkisar antara 1-1.5m untuk pohon pelindung yang berukuran kecil dan sedang. 
  • Beban angin harus dipertimbangkan dengan matang dalam desain atap bertanaman dengan jalan memasukkan angka yang sesuai untuk beban tekanan yang disebabkan oleh angin. Beban tekanan (tiupan) angin ini tergantung pada ketinggian tempat, bentuk pohon (rimbun tidaknya) dan tipe struktur bangunan yang menopang atap bertaman tersebut. 
  • Posisi dari beban terpusat di suatu lokasi atap bangunan yang ditimbulkan oleh pohon dan beban tambahan struktural lainnya sangat penting untuk dipikirkan sejak awal sehingga pekerjaan kedap air (waterproofing) telah dipersiapkan sebelumnya dan pelat atap mempunyai kekuatan yang memadai untuk diberi beban tekanan akibat dari tambahan berat ini. 
  • Sangat penting bagi para pemilik, pengguna, dan pihak manajemen gedung untuk memperhatikan kterbatasan beban atap yang diizinkan dengan cara tidak membuat taman di sembarang lokasi pada atap. Hal ini perlu diperhatikan untuk menghindari hal-hal yang dapat membahayakan keamanan struktur bangunan akibat diletakkannya taman dan pepohonan yang berat pada atap yang seharusnya tidak boleh dibebani. 
  • Secara alamiah, setiap pohon dan tanaman akan tumbuh dan bertambah berat sejalan dengan perkembangannya. Hal ini juga harus diperhatikan dalam perhitungan struktur sebagai beban tambahan yang akan terkumpul seiring dengan bertambahnya usia bangunan. 

Aspek Konstruksi dan Susunannya

  • Atap bertanaman pada dasarnya disusun sebagai berikut:
  • Atap pelat beton bertulang dengan plesteran finishing semen; atau
  • atap konstruksi kayu dengan lapisan papan atau multipleks;
  • lapisan kedap air yang tahan terhadap akar tanaman;
  • lapisan pelindung lapisan kedap air terhadap kerusakan mekanis;
  • lapisan drainase (pengaliran air);
  • lapisan penyaring;
  • lapisan media tanam (tanah dan sebagainya); serta
  • vegetasi (tanaman/pepohonan)

Ketebalan dari konstruksi taman diatas atap akan bervariasi tergantung pada tanaman yang akan ditanam, rancangan sistem, dan fungsi tambahan lainnya disekitar taman.

http://books.google.co.id/books?id=q5VK8df79_cC&lpg=PA45&dq=atap%20bertanaman%20ekologis&pg=PP1&output=embed
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bahasa Pohon Selamatkan Bumi [buku]

astudioarchitect.com Memahami apa yang ada disekitar kita, berkaitan dengan arsitektur dan lingkungan, bisa kita temukan saat membaca buku yang ditulis oleh Nirwono Joga dan Yori Antar ini. Sebuah buku dengan paparan sederhana tentang berbagai fakta dan problema sehari-hari yang menghimpit kota besar Jakarta. Dituturkan dalam bahasa yang mudah dimengerti untuk membuat kita berpikir tentang banyak hal, Nirwono Joga dan Yori Antar mengambil banyak kasus yang tidak mencoba untuk menyelesaikan semua masalah, namun kadang memberi sebuah pencerahan. 

Kutipan:
Menginginkan Jakarta dan kota besar lainnya yang bebas
banjir adalah keinginan sederhana dan wajar. Namun banjir
di Jakarta sejatinya berhulu pada masalah kepemimpinan
(politik), visi, dan pemahaman pada skala prioritas.
Fenomena alam akan selalu menimbulkan permasalahan
berupa musibah atau bencana manakala kehidupan manusia
terganggu atau jiwa mereka terancam. Bencana hanya
berlaku pada kawasan tempat manusia tinggal dan
menyebabkan korban jiwa. Kehilangan harta benda, atau
telah mengganggu perikehidupan aktivitas manusia.

Sebab akibat
Dahulu kala Jakarta masih berpenduduk sedikit dan
menyediakan begitu luas ruang terbuka hijau (RTH).
Namun. pembangunan fisik struktur kota yang menuju
arah maksimal telah menggerogoti RTH yang notabene
daerah resapan air. Semua warga lakarta harus sadar bahwa
banjir adalah soal tata kota yang semrawut yang lebih
mementingkan pembangunan sarana fisik, baik itu berupa
hotel, apartemen, mal, jalan tol, maupun lahan parkir.
Pembangunan sarana baik ini rnenghabiskan ruang terbuka
hijau (RTH) dalam area yang sangat luas dan tidak berfokus
dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Luasan RTH yang juga berfungsi sebagai daerah resapan
air terus berkurang secara sistematis

Bumi dan perempuan adalah ratu. Kata bumi sendiri
berkonotasi perempuan. Bumi tempat pohon berpijak
rnenghujamkan akarnya. Bumi, pohon, dan perempuan
menginspirasi Garin Nugroho untuk membuat film
terbarunya berjudul Under The Tree. Bagi Garin, pohon
mempunyai banyak makna yang menjadi bagian tak
terlupakan dalam kehidupan semua orang di Bumi. Pohon
dan perempuan juga telah mendorong Gerakan Perempuan
Tanam dan Pelihara Sepuluh Juta Pohon setiap tanggal I
Desember) untuk menyelamatkan Bumi.

Pohon beringin dipilih sebagai lambang
Persatuan lndonesia, sila ketiga Pancasila Pohon kalpataru
, pohon kehidupan. dijadikan simbol
penghargaan bagi pahlawan pelestarian lingkungan hidup.
Meski bukan partai hijau, sebuah partai politik besar justru
memakai lambang pohon beringin untuk mencitrakan
partai yang memberi keteduhan kepada rakyat.
Pusat-pusat kota di Jawa ditandai dengan dua pohon
beringin kurung di alun-alun sebagai titik nol kota. Pohon
kamboja banyak ditanam di pura-pura suci
di Bali atau di tanah pemakaman di Jawa.
Sebutan kota-kota kita juga ada yang berasal dari ciri khas
pohon-pohonnya. seperti Semarang (pohon asem yang
ditanam jarang-jarang). Bogor yang identik dengan pohon
kenari. Begitu pula sejumlah kawasan di Jakarta dulu Sunda

United Nations Environment Programme (UNEP. 2007)
berkampanye ‘Plant for the Planet: Billion Tree Campaign’.
sebagai salah satu upaya memulihkan kembali kondisi Bumi
dari pemanasan global melalui gerakan menanam pohon. Di negara kita.
gerakan penghijauan masih sekadar seremonial belaka.
Terbengkalai, tidak dipelihara, dan mati.

Menanam pohon ada aturannya, tidak asal tanam.
Penanaman pohon mensyaratkan kecocokan jenis pohon
(pantai, dataran rendah, pegunungan), fungsi (ekologis.
ekonomis, estetis), ketepatan cara (standar keamanan dan
keselamatan), waktu penanaman, penyediaan, pemilihan.
dan pendistribusian (dalam jumlah besar), serta
pemeliharaan. Penanaman memperhatikan
segi estetika arsitektural, lanskap visual kota, peran
maksimal terhadap lingkungan, keamanan konstruksi,
batang yang tidak mudah patah, dan umur yang panjang,
yaitu sampai ratusan tahun.

Pohon-pohon pengikat tanah dan penyimpan air tanah
ditanam di lahan kritis yang rawan longsor dan erosi. Pohon
bakau mernagari kawasan tepian pantai menyusup
ke jantung kota melalui bantaran kali untuk mencegah
intrusi air laut, menahan abrasi pantai, menahan air pasang,
angin. dan gelombang besar dari lautan lepas, mencegah
pendangkalan dan penyempitan badan air, menyerap
limpahan air dari daratan (saat banjir), menetralisasi
pencemaran air laut. dan melestarikan habitat tiga ekosistem
hutan bakau yang kaya keanekaragaman hayati.

Jenis pohon yang terpilih sebagai pobon penyelamatan
(escape trees) ditanam di sepanjang jalur evakuasi bencana
(escape route) menuju taman atau bangunan penyelamatan
(escape building) lainnya. Penanaman pohon besar di
sepanjang jalur hijau jalan. jalur pedestrian. bantaran rel
kereta api, jalur tegangan tinggi, serta jalur tepian air
bantaran kali, situ, waduk, tepi pantai, dan rawa-rawa akan
membentuk infrastruktur hijau raksasa yang berfungsi
ekologis. Kota pohon memberikan keteduhan pada pejalan
kaki dan pengendara sepeda.

Berbagai penelitian membuktikan satu hektar ruang terbuka
hijau (RTH) yang dipenuhi pohon besar menghasilkan 0.6
ton O2 untuk 1500 penduduk/hari, menyerap 2.5 ton
02/tahun, menyimpan 900 ml air tanah/tahun, mentransfer air 4.000 liter/hari,
menurunkan suhu 5-8 derajat Celsius, meredam kebisingan
25-80 persen, dan mengurangi kekuatan angin 75-80 persen.
Setiap mobil mengeluarkan gas emisi yang dapat diserap
oleh 4 pohon dewasa (tinggi I0 meter ke atas, diameter
batang lebih dari 10 sentimeter, tajuk lebar, berdaun lebat).
Pemerintah perlu mensurvei ulang mendeteksi tingkat
kesehatan dan keamanan, serta mengambil tindakan
perawatan, pemeliharaan, dan asuransi pohon.

 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bahasa Pohon Selamatkan Bumi [buku]

astudioarchitect.com Memahami apa yang ada disekitar kita, berkaitan dengan arsitektur dan lingkungan, bisa kita temukan saat membaca buku yang ditulis oleh Nirwono Joga dan Yori Antar ini. Sebuah buku dengan paparan sederhana tentang berbagai fakta dan problema sehari-hari yang menghimpit kota besar Jakarta. Dituturkan dalam bahasa yang mudah dimengerti untuk membuat kita berpikir tentang banyak hal, Nirwono Joga dan Yori Antar mengambil banyak kasus yang tidak mencoba untuk menyelesaikan semua masalah, namun kadang memberi sebuah pencerahan. 

Kutipan:
Menginginkan Jakarta dan kota besar lainnya yang bebas
banjir adalah keinginan sederhana dan wajar. Namun banjir
di Jakarta sejatinya berhulu pada masalah kepemimpinan
(politik), visi, dan pemahaman pada skala prioritas.
Fenomena alam akan selalu menimbulkan permasalahan
berupa musibah atau bencana manakala kehidupan manusia
terganggu atau jiwa mereka terancam. Bencana hanya
berlaku pada kawasan tempat manusia tinggal dan
menyebabkan korban jiwa. Kehilangan harta benda, atau
telah mengganggu perikehidupan aktivitas manusia.

Sebab akibat
Dahulu kala Jakarta masih berpenduduk sedikit dan
menyediakan begitu luas ruang terbuka hijau (RTH).
Namun. pembangunan fisik struktur kota yang menuju
arah maksimal telah menggerogoti RTH yang notabene
daerah resapan air. Semua warga lakarta harus sadar bahwa
banjir adalah soal tata kota yang semrawut yang lebih
mementingkan pembangunan sarana fisik, baik itu berupa
hotel, apartemen, mal, jalan tol, maupun lahan parkir.
Pembangunan sarana baik ini rnenghabiskan ruang terbuka
hijau (RTH) dalam area yang sangat luas dan tidak berfokus
dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Luasan RTH yang juga berfungsi sebagai daerah resapan
air terus berkurang secara sistematis

Bumi dan perempuan adalah ratu. Kata bumi sendiri
berkonotasi perempuan. Bumi tempat pohon berpijak
rnenghujamkan akarnya. Bumi, pohon, dan perempuan
menginspirasi Garin Nugroho untuk membuat film
terbarunya berjudul Under The Tree. Bagi Garin, pohon
mempunyai banyak makna yang menjadi bagian tak
terlupakan dalam kehidupan semua orang di Bumi. Pohon
dan perempuan juga telah mendorong Gerakan Perempuan
Tanam dan Pelihara Sepuluh Juta Pohon setiap tanggal I
Desember) untuk menyelamatkan Bumi.

Pohon beringin dipilih sebagai lambang
Persatuan lndonesia, sila ketiga Pancasila Pohon kalpataru
, pohon kehidupan. dijadikan simbol
penghargaan bagi pahlawan pelestarian lingkungan hidup.
Meski bukan partai hijau, sebuah partai politik besar justru
memakai lambang pohon beringin untuk mencitrakan
partai yang memberi keteduhan kepada rakyat.
Pusat-pusat kota di Jawa ditandai dengan dua pohon
beringin kurung di alun-alun sebagai titik nol kota. Pohon
kamboja banyak ditanam di pura-pura suci
di Bali atau di tanah pemakaman di Jawa.
Sebutan kota-kota kita juga ada yang berasal dari ciri khas
pohon-pohonnya. seperti Semarang (pohon asem yang
ditanam jarang-jarang). Bogor yang identik dengan pohon
kenari. Begitu pula sejumlah kawasan di Jakarta dulu Sunda

United Nations Environment Programme (UNEP. 2007)
berkampanye ‘Plant for the Planet: Billion Tree Campaign’.
sebagai salah satu upaya memulihkan kembali kondisi Bumi
dari pemanasan global melalui gerakan menanam pohon. Di negara kita.
gerakan penghijauan masih sekadar seremonial belaka.
Terbengkalai, tidak dipelihara, dan mati.

Menanam pohon ada aturannya, tidak asal tanam.
Penanaman pohon mensyaratkan kecocokan jenis pohon
(pantai, dataran rendah, pegunungan), fungsi (ekologis.
ekonomis, estetis), ketepatan cara (standar keamanan dan
keselamatan), waktu penanaman, penyediaan, pemilihan.
dan pendistribusian (dalam jumlah besar), serta
pemeliharaan. Penanaman memperhatikan
segi estetika arsitektural, lanskap visual kota, peran
maksimal terhadap lingkungan, keamanan konstruksi,
batang yang tidak mudah patah, dan umur yang panjang,
yaitu sampai ratusan tahun.

Pohon-pohon pengikat tanah dan penyimpan air tanah
ditanam di lahan kritis yang rawan longsor dan erosi. Pohon
bakau mernagari kawasan tepian pantai menyusup
ke jantung kota melalui bantaran kali untuk mencegah
intrusi air laut, menahan abrasi pantai, menahan air pasang,
angin. dan gelombang besar dari lautan lepas, mencegah
pendangkalan dan penyempitan badan air, menyerap
limpahan air dari daratan (saat banjir), menetralisasi
pencemaran air laut. dan melestarikan habitat tiga ekosistem
hutan bakau yang kaya keanekaragaman hayati.

Jenis pohon yang terpilih sebagai pobon penyelamatan
(escape trees) ditanam di sepanjang jalur evakuasi bencana
(escape route) menuju taman atau bangunan penyelamatan
(escape building) lainnya. Penanaman pohon besar di
sepanjang jalur hijau jalan. jalur pedestrian. bantaran rel
kereta api, jalur tegangan tinggi, serta jalur tepian air
bantaran kali, situ, waduk, tepi pantai, dan rawa-rawa akan
membentuk infrastruktur hijau raksasa yang berfungsi
ekologis. Kota pohon memberikan keteduhan pada pejalan
kaki dan pengendara sepeda.

Berbagai penelitian membuktikan satu hektar ruang terbuka
hijau (RTH) yang dipenuhi pohon besar menghasilkan 0.6
ton O2 untuk 1500 penduduk/hari, menyerap 2.5 ton
02/tahun, menyimpan 900 ml air tanah/tahun, mentransfer air 4.000 liter/hari,
menurunkan suhu 5-8 derajat Celsius, meredam kebisingan
25-80 persen, dan mengurangi kekuatan angin 75-80 persen.
Setiap mobil mengeluarkan gas emisi yang dapat diserap
oleh 4 pohon dewasa (tinggi I0 meter ke atas, diameter
batang lebih dari 10 sentimeter, tajuk lebar, berdaun lebat).
Pemerintah perlu mensurvei ulang mendeteksi tingkat
kesehatan dan keamanan, serta mengambil tindakan
perawatan, pemeliharaan, dan asuransi pohon.

 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.