Category Archives: pustaka buku rumah

BATA; Kuat, awet, indah dan eksotis

astudioarchitect.com Saya beberapa kali mendesain dengan menggunakan bata ekspos, termasuk rumah saya sendiri memiliki bagian bata ekspos pada sebagian dindingnya. Bata ekspos yang bagus tersedia di pasaran, meskipun untuk mencarinya perlu sedikit usaha ekstra. Bata bisa diekspos untuk menghasilkan dinding dengan tekstur yang khas. Tidak hanya untuk desain bertema tradisional atau etnik saja, namun juga yang bergaya modern. Simak buku Bata: Kuat, awet, indah dan eksotis yang ditulis oleh Imelda Akmal ini.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kutipan: Sopi-sopi berongga dengan bata

Tak hanya bangunan bercitra etnik yang cocok menggunakan bata, bangunan modern kontemporer pun pantas menggunakannya asal pos\rsi serta letaknya sesuai.

Bangunan kontemporer karya Adra matin yang berdri di tengah-tengah perkebunan jamu di Jawa Timur ini adalah contoh yang ideal. Perpaduan material bata ekspos dengan kolom-kolom ayu tipis, dinding putih, dan genteng tanah liat yang sederhana menciptakan bangunan yang hening-menyatu dengan alam.

Bata ekspos digunakan sebagai material pembentuk kisi-kisi penyekat ruang serta penutup dinding sopi-sopi. Kisi-kisi tipis penyekat ruang ini disusun menggunakan pola stack bond yang disusun lurus k atas. Sedangkan pada bagian sopi-sopinya, bata disusun dengan pola eksperimen sang arsitek.

Pola penyusunan bata pada sopi-sopi mengambil inspirasi dari pola flemish bond yang mengombinasikan bata memanjang dan melintang dalam satu baris. Disini sang arsitek bereksperimen degan menghilangkan bata yang melintang sehingga terentuk rongga atau celan di antara bata yang memanjang. Melalui rongga atau celah inilah udara segar bisa mengalir masuk dan keluar ruangan.

Pemakaian bata ekspos yang tidak terlalu dominan ini berhasil menjadi elemen dekoratif yang mampu menyeimbangkan unsur-unsur modern dengan suasana alam disekitarnya.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
https://books.google.co.id/books?id=dPOO1JVbckkC&lpg=PA95&dq=budi%20pradono&pg=PA1&output=embed

___
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Paradise By Design [book]

astudioarchitect.com [book] Bagi Anda yang menyukai desain arsitektur dan landscape bertema etnik terutama etnik Bali dan Asia pada umumnya, mungkin membutuhkan referensi yang banyak untuk desain arsitektur rumah atau bangunan, dengan dilengkapi konsep landscapingnya juga. Banyak resort sudah didesain oleh Bensley studio, yang memiliki studio arsitektur dengan konsep landscape architecture yang kental. Kebetulan saya menemukan buku yang ditulis dan dilengkapi karya yang dirancangnya sendiri.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Karya yang dapat kita simak melalui buku ini ditulis mulai dari awal karir Bensley, dengan berbagai hint untuk karya skulptural, arsitektur maupun landscapingnya.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Ragam Desain Pagar Tembok


astudioarchitect.com Pagar bukan hanya merupakan batas teritorial saja, namun juga menjadi faktor keindahan. Kadangkala saat mendesain rumah justru pagar bisa menjadi unsur yang pertama terlihat. Contoh-contoh pagar yang pernah kami muat dapat dilihat disini. Artikel ini, mengulas tentang buku yang ditulis Adityarini Natalisa, berjudul Ragam Desain Pagar Tembok.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kutipan:
Pagar Tembok yang Kokoh dan Variatif

Ada beberapa kiat praktis yang dapat dijadikan panduan dalam menentukan desain pagar tembok sehingga akan efisien, kuat, indah, dan serasi dengan rumah atau lingkungannya. Beberapa hal yang harus Anda ketahui sebelum menentukan pilihan desain apgar tembok, antara lain sebaai berikut.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

A. Selaraskan dengan Desain Rumah.

menyelaraskan pagar tembok dengan desain rumah secara keseluruhan dipandang sebagai satu tema yang ingin ditampilkan. Ukuran panjang lahan, proporsi tinggi dan lebar pagar tipe rumah serta komposisi pagar terhadap rumah harus sesuai sehingga pagar akan terlihat harmonis dan selaras dengan bangunannya. Kelebihan pagar tembok adalah fleksibel atau mudah diikuti berdasarkan desain rumah sehingga dapat diciptakan pagar dengan berbagai variasi yang diinginkan.

B. Cermat dalam Memilih Bahan Finishing

Kombinasi antara bahan, misalnya semen kamprot, batu alam, profil tali air, aksen besi, kaca atau kayu akan mampu menghasilkan keunikan desain. Sebagai contoh adalah kombinasi semen kamprot, batu alam dengan tanaman, batu bata ekspos dengan kayu, atau cat warna dengan besi. Masing-masing bahan mempunya karakter dan cara perawatan yang berbeda sehingga perlu strategi khusus dalam menggabungkan beberapa jenis bahan pada satu bidang pagar.

Sebagai contoh, besi perlu dilindungi dari karat dan panas matahari yang berlebihan sehingga perlu dilapisi dengan cat yang tahan terhadap karat dan panas matahari. Sementara jika ingin menyandingkan pagar tembok dengan tanaman diperlukan bahan finishing yang tepat karena tanaman membutuhkan tempat yang lembab. Lingkungan yang lembab membuat pagar tembok mudah terkena lumut dan jamur. Dengan demikian, posisi pagar tehadap pengaruh cuaca dan kondisi tanahnya perlu menjadi perhatian dalam pemilihan bahan finishing.

C. Sesuaikan dengan Anggaran

Menyesuaikan desain pagar dengan anggaran dapat dilakukan dengan menghitung biaya meterial permeter persegi dan ongkos pembuatannya. Semakin rumit desain pagar yang diinginkan maka waktu pembuatannya akan semakin lama sehingga otomatis akan menambah pengeluaran anggaran. Demikian pula keanekaragaman material yang digunakan, terutama finishing dengan batu alam dan aksen dengan besi serta kayu, akan berbeda pada perhitungan biaya per meter perseginya.

 Ilustrasi dari buku.

D. Kreativitas dan Keindahan.

Menciptakan pagar tembok yang ekonomis, tetapi tetap fungsional dan indah adalah dengan memperhatikan proporsi antara ketinggian dan ketebalan pagar yang seoptimal mungkin. Idealnya, tinggi pagar adalah 90cm atau setinggi pinggang orang dewasa berdiri tegak sehingga dari arah dalam atau luar secara fisik sudah cukup terbatasi dan sulit dilalui. Namun, tidak menimbulkan halangan visual sehingga jika terjadi gangguan keamanan dapat terlihat dengan jelas dari berbagai arah. Untuk lingkungan masyarakat yang harmonis, ketinggian pagar 90cm dianggap sangat ideal karena pemilik rumah dapat dengan mudah berinteraksi dengan lingkungan.

Dalam memilih bahan, pilihlah yang harganya terjangkau karena keindahan tercipta bukan hanya dari mahalnya bahan, tetapi lebih pada sentuhan kreativitas kita dalam mengolah elemen-elemen yang ada. Bentuk-bentuk yang rumit, terlalu banyak aksesoris, dan mencampuradukkan gaya pada satu desain akan membutuhkan biaya besar atau justru akan merusak rasa estetika.

Ketepatan propersi material yang digunakan, komposisi bentuk yang ada, serta kerapian pada pemasangan dan finishing, adalah aspek penting untuk menghasilkan pagar tembok yang indah.

http://books.google.co.id/books?id=Egj8han7KAsC&lpg=PA9&dq=desain%20rumah&pg=PP1&output=embed

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

The New Indonesian House

astudioarchitect.com Dunia desain arsitektur di Indonesia sudah mengalami banyak perubahan dan pergerakan, seiring dengan modernisme dan makin terbukanya pengetahuan dan minat pengguna jasa arsitek. Perkembangan tersebut perlu dicermati dan diperhatikan pula karya-karyanya karena tidak dapat dipungkiri bahwa warna-warni dunia arsitektur di Indonesia makin banyak, tidak lagi didominasi oleh channel-channel tertentu. Buku ini mengulas banyak karya arsitek yang dianggap menjadi penanda perkembangan arsitektur di Indonesia melalui pergerakan dan pemikiran baru. Sebagian besar pemikiran baru yang memberi warna disebabkan oleh pergeseran paradigma yang melanda arsitek untuk memperkenalkan pengguna jasa kepada warna arsitektur yang lebih kontemporer.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ditulis dengan gaya bahasa yang kontemporer dan cenderung mengambil sampling dari arsitek yang sudah dikenal secara luas di Indonesia, buku ini mengajak pembaca untuk melihat perkembangan arsitektur di Indonesia dengan memperkenalkan suatu sejarah singkat yang merupakan interpretasi terhadap dunia desain arsitektur di Indonesia. Pengenalan sejarah arsitektur di Indonesia dijelaskan dengan menyebutkan pembaharu-pembaharu yang menguji dirinya sendiri melalui kelas dan waktu yang berbeda. Sukarno dengan F. Silaban, kemudian ATAP dengan Soejoedi, Han Awal, dan tokoh lainnya. Pembahasan ini tidak terlalu berbeda dengan manifesto dalam buku Tegang Bentang 100 Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia, karena kemungkinan besar bersumber pada informasi yang sama.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Pendahuluan dilanjutkan dengan membahas AMI atau Arsitek Muda Indonesia yang merupakan gerakan yang awalnya merupakan forum pemikiran yang mengalami suksesi dengan makin diakuinya pemikiran-pemikiran baru tersebut. Gerakan di tempat lain dengan semangat yang kurang lebih sama seperti Forum Arsitek Medan (FAM), BOMBARS (Manado), Spirit Arsitek Muda Malang (SAMM), Desainer Muda Surabaya (DeMaya) juga turut mewarnai pemikiran kontemporer pasca AMI di berbagai tempat.

Buku ini juga memberikan pendahuluan tentang ‘efek Bali’ sebagai tujuan wisata yang memperkenalkan konsep ‘leisure’ sebagai nilai tambah desain yang ternyata diterjemahkan dengan cara yang berbeda-beda, termasuk sangat berbeda dari arsitektur tradisional dan vernakular. Belakangan terjadi pusaran balik yang memusat di beberapa tokoh pemikir dalam arsitektur untuk menggali ulang kelokalan masing-masing melalui berbagai metode, diantaranya yang marak adalah melalui materialisme dan vernakularisme. Ada optimisme bahwa karya-karya yang ditampilkan di media seperti buku semacam ini pada akhirnya akan lebih berwarna lagi dan tidak terpusat pada channel-channel tertentu saja.

http://books.google.co.id/books?id=VpbTAgAAQBAJ&lpg=PP1&dq=arsitek&pg=PP1&output=embed
______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

20 Inspirasi Memadukan Rumah dan Kantor

astudioarchitect.com Rumah dengan tempat usaha merupakan fenomena yang sudah tak asing lagi bagi kita, karena rumah seringkali berubah fungsi menjadi tempat usaha bila memang lokasi cukup menguntungkan, dan ada juga usaha-usaha yang memang sesuai untuk dikerjakan dari rumah. Bentuk rumah usaha musti dipikirkan dari segi arsitektur seperti denah, tampilan dan juga kesan yang dapat dibawa oleh rumah usaha. Simak buku karangan Tedi Supriyadi Hidayat ini.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kutipan: Jika ditilik dari fungsi dan estetika, ada banyak keuntungan yang dapat diperoleh bila tempat kerja disatukan dengan tempat tinggal. Selain biaya transportasi dan waktu dapat dihemat, biaya operasional gedung dapat dikurangi sehingga dapat menekan angka investasi yang harus dikeluarkan.

Hal penting lainnya, keputusan memadukan kantor dan rumah tentu saja dapat meningkatkan kualitas hidup pemilik rumah. Dengan meminimalkan waktu untuk pulang pergi ke tempat kerja, artinya pemilik rumah tidak perlu mengeluarkan banyak energi, maka energi yang ada dapat digunakan untuk melakukan ha hal lain yang lebih berguna. Kesempatan untuk menunggui keluarga dapat dilakukan sambil bekerja.

Walaupun dapat disatukan, kegiatan kantor harus tetap dipisahkan dengan kegiatan rumah secara tegas karena masing masing memiliki karakter aktivitas yang berbeda. Jika rumah merupakan bangunan tempat tinggal yang cenderung privat kantor merupakan bangunan tempat mengurus suatu pekerjaan yang cenderung bebas diakses oleh publik. Hal ini tentu membawa konsekuensi tersendiri bagi desain bangunan rumah, baik pada pertimbangan fungsional maupun estetisnya.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bali by Design – 25 Contemporary Houses [buku]

astudioarchitect.com Bali, pulau yang menjadi tujuan wisata di Indonesia dengan turis dari berbagai negara, patut untuk disimak perkembangannya, terutama dari segi pembangunan dan desain rumah-rumah modernnya. Buku ini menyajikan perkembangan terkini dari desain villa dan rumah modern di Bali yang banyak dimiliki para ekspatriat, yang memiliki dana untuk membeli dan membangun di Bali. Meskipun tidak selalu berupa desain yang mengadaptasi ciri bangunan lokal, namun terdapat banyak aspek desain yang berciri khas resort, sesuai dengan semangat Bali.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Terlepas dari aspek negatif yang ditimbulkan oleh pembangunan, memang Bali selalu menjadi magnet yang membius, mengundang orang untuk datang dan menikmatinya. Simak buku ini dengan sedikit pengantar yang sudah dibahasakan berikut ini:

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
THE NEW BALI 

Bagi pengunjung pertama datang, pengunjung yang kembali, orang-orang yang telah membuat Bali rumah mereka, dan orang Bali sendiri, tidak dapat disangkal perubahan yang cepat yang terjadi di pulau ini dalam beberapa tahun terakhir. Apa yang dulu romantis, liburan berbudaya dengan sawah dan candi yang mendominasi telah bertransformasi menjadi sebuah sodoran metropolis, terutama di daerah selatan yang berkembang. Lambatnya kehidupan Bali-dalam kehidupan wisata dan pusat-pusat perumahan pula-adalah sesuatu dari masa lalu.

Seperti semua perubahan, ada positif dan negatifnya. Peningkatan kemakmuran tentu adalah nilai lebih; kemacetan lalu lintas, polusi dan pembangunan yang tidak direncanakan adalah pengingat yang menyedihkan dari biaya “kemajuan”. Namun, di antara kekacauan, Anda masih dapat menemukan lanskap yang kaya dan budaya yang telah menarik pengunjung selama berabad-abad. Hal ini terus menarik orang luar-banyak dari mereka membangun rumah yang luar biasa.

Setelah satu tahun penelitian, kami telah sampai pada kesimpulan bahwa merek Bali masih kuat seperti biasa. Karena pulau ini menyambut baik, orang-orang adalah beberapa yang paling indah di planet ini, iklim yang menyehatkan, ekonomi investasi asing terus meningkat, tumbuh dan berkembang biak. Semakin banyak orang luar-dari Australia, bagian lain di Asia, Eropa dan bahkan Amerika-membuat Bali rumah mereka, dan banyak lagi berinvestasi di vila-vila yang cocok untuk pasar sewa liburan.

Untuk sebagian besar, buku ini berkonsentrasi pada rumah, meskipun ada satu atau dua hotel juga. Hampir semua baru dibangun tempat tinggal. Kami menganggap mereka krim dari tanaman, wakil dari arah arsitektur baru yang menarik bahwa Bali adalah saksi, namun tidak berarti norma.

Kami telah meninggalkan Villa bertingkat, perkebunan, pita perkembangan, kondominium kecil; kami menampilkan hanya yang sangat high-end, bersifat inovatif. Beberapa diantaranya di pedesaan-laut, di bukit-bukit, menghadap sawah-tetapi banyak yang di daerah berkembang yang semakin umum.

———-

Gaya, Substansi dan Keberlanjutan

Jadi apa perubahan besar dalam arsitektur dan desain di Bali? Pertama, peningkatan tingkat kecanggihan yang semakin dicari-dan disediakan. Pekerjaan-tangan selalu menjadi salah satu kekuatan Bali, tetapi lebih sering ada bila dikatakan tidak tetap dalam vernakularnya. Sekarang, kita lihat penyelesaian high-end furniture dan artefak, serta penyelesaian permukaan mengkilap dan bahan bangunan. Peralatan dapur modern yang diimpor, pengetahuan teknis dalam pencahayaan, pipa dan ventilasi, bahan-semua kualitas yang tinggi menjadi tersedia di Bali.

http://books.google.co.id/books?id=8I_QAgAAQBAJ&lpg=PT28&dq=%22indonesian%20architect%22&pg=PP1&output=embed

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

10 Inspirasi Menata Ruang Rumah Real Estat [buku]

astudioarchitect.com Memang, membeli rumah melalui real estate developer banyak membantu masyarakat yang belum mampu membeli rumah secara kontan, sehingga keberadaan rumah-rumah real estate semakin menjadi primadona dengan bisa dikredit. Tak pelak penataan rumah dari developer cenderung banyak yang seragam, bahkan cenderung kosong dan memerlukan sentuhan lebih banyak. Seri Rumah Ide mengeluarkan buku 10 Inspirasi menata Ruang Rumah Real Estat yang dapat membantu Anda mendapatkan inspirasi menata hunian yang Anda beli melalui developer.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Kutipan: Selama kuran lebih 40 tahun setelah kemunculan pertamanya, desain rumah real estat telah mengalami banyak perkembangan. Awalnya rumah real estat diperuntukkan bagi masyarakat menengah keatas sehingga pembagian kaveling dibuat cukup besar. Luas satu kaveling berkisar antara 200-500m2. Bangunannya pun didesain mengikuti luas kavelingnya dan rata-rata memiliki dua lantai penuh. Desain rumah sedikit banyak dipengaruhi kondisi iklim tropis Indonesia dengan atap pelana yang lebar, lubang angin disetiap dinding, dan balkon didepan serta belakang bangunan. Tipikal rumah real estat tahun 1970-1980 masih bisa kita temui di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Menjelang akhir tahun 1990-an, saat lahan yang ada semakin terbatas, luas kaveling pun mengecil. Apalagi setelah krisis ekonomi melanda Indonesa. Luas kaveling yang ditawarkan juga tidak lebih dari 200m2 dengan luas bangunan yang juga mengecil. Rumah dibangun satu lantai dengan pembagian ruang yang efektif dan efisien. Rumah-rumah tersebut diperuntukkan bagi keluarga kecil dan keluarga muda sehingga jumlah ruangnya pun terbatas — hanya ruang-ruang utama. Dengan layout ruang dalam yang hampir sama antara satu perumahan dengan perumahan lainnya, para pengembang pun bersaing dalam hal tampilan luar bangunan. Segala macam eksperimen fasade dilakukan untuk menaikkan harga jual.
Salah satu eksperimen yang sempat dilakukan adalah membuat facade dengan tema negara-negara. Fasade didesain layaknya rumah-rumah dibelahan dunia lain, misalnya rumah ebrgaya Ameruka, Eropa, Jepang, dan sebagainya. Pengemang seolah-oleh membawa penghuni berfantasi tinggal dinegara-negara itu. Tentu saja desain tersebut jauh dari konsep tropis. Kecenderungan ini tak berlangsung lama karena masyarakat menyadari bahwa gaya tersebut tidak cocok dengan kondisi lingkungan serta budaya Indonesia.
Pertengahan tahun 2000, saat keadaan ekonomi Indonesia mulai membaik, beberapa pengembang mulai membuat rumah dengan luas yang lebih besar, dengan luas kaveling yang sama. Bangunan dibuat bertingkat tapi tidak penuh — menyisakan lahan untuk pengembangan lebih lanjut. Walaupun desain layoutnya tidak mengalami perubahan, namun yang melegakan, tema negara-negara tidak lagi menjadi tren. Saat intu, tren modern minimalis yang melanda dunia banyak memengaruhi desain rumah real estat. Rumah boks dengan baris geometri yang kuat, bernuansa monokrom dan simple sempat menghiasi wajah rumah-

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.