Category Archives: x English version special article

Arsitektur tropis bangunan tinggi Ken Yeang / High Rise tropical Architecture of Ken Yeang

[artikel khusus] astudioarchitect.com Arsitektur yang memperhatikan lingkungan merupakan arsitektur masa depan, karena dalam arsitektur jenis ini akan didapatkan penyelesaian yang baik untuk menanggapi iklim tanpa menggunakan lebih banyak resource sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui seperti minyak bumi untuk mempertahankan kondisi ideal bangunan, misalnya suhu, kelembaban, serta pencahayaan dan penghawaan. Kali ini kita akan mempelajari arsitektur tropis untuk bangunan tingkat tinggi yang dikembangkan oleh arsitek Ken Yeang, seorang arsitek kelahiran Malaysia yang belajar di Inggris dan Amerika. Belum banyak arsitektur high rise yang memperhatikan iklim tropis dan memberdayakannya dalam bangunan seperti Ken Yeang, dan karena itu jenis arsitektur ini menjadi unik untuk dipelajari.


Architecture that cares for the environment is the future of architecture, because architecture of this type will create good solution to respond to climate without using more non renewable resources such as oil to maintain the ideal condition of the building, such as temperature, humidity, and lighting. This time we will study tropical architecture for high rise building by Ken Yeang, a Malaysian-born architect who studied in England and America. Currently many high-rise architecture is concerned to respond to tropical climate and empower them in buildings such as Ken Yeang, and therefore this type of architecture unique to learn.

Sebagaimana jenis arsitektur yang berkembang pada akhir abad 20, Menara Mesiniaga dibuat dari konstruksi baja dan kaca yang prefabricated dan mempercepat masa konstruksi. Memperhatikan iklim tropis, Yeang menempatkan tangga dan lift pada bagian timur menara, dan ruang-ruang pada sisi barat yang dilindungi oleh kisi-kisi penahan panas. Tujuannya agar sinar matahari pagi cukup maksimal dan cahaya sore yang panas bisa ditahan oleh kisi-kisi tersebut.

Perhatian Yeang adalah pada hubungan antara lingkungan binaan (built environment) dengan lingkungan alam yang diwujudkan dalam adaptasi terhadap cahaya matahari dan angin melalui studi yang mendalam untuk mendapatkan bangunan tingkat tinggi dengan pencahayaan dan penghawaan alami. Aliran udara dimasukkan dalam bangunan melalui innercourt dan ‘dinding angin’ yang juga memasukkan cahaya alami.
Beberapa bagian bangunan yang berfungsi sebagai ‘buffer’ atau penahan untuk angin, sinar matahari dan sebagainya diwujudkan dalam kisi-kisi, tabir, balkon, atau buffer tanaman yang disarankan oleh Yeang dalam upaya beradaptasi dengan lingkungan tropis.



As a type of architecture developed in the late 20th century, Mesiniaga tower was made of steel and glass construction of prefabricated materials to accelerate the construction period. Taking into account the tropical climate, Yeang put stairs and elevators on the east side of the tower, and the spaces on the west side is protected by grille retaining heat. The purpose is to get morning sunlight.


Yeang’s attention is on the relationship between the built environment with the natural environment, realized in the adaptation to sun and wind through a deep study to obtain high-rise building with natural lighting and air. The flow of air through the building included in inner court and ‘wall of wind’ which also includes natural light.


Some parts of the building that serves as a buffer or barrier to wind, sunlight and so realized in the lattice, screen, balcony, or buffer of plants recommended by Yeang in an effort to adapt to the tropical environment. 

Konsep Ken Yeang tentang pencakar langit yang disebutnya ‘Artificial Land in the Sky’ merupakan konsep pencakar langit (high rise building) yang dapat ‘hidup’ dan beradaptasi dengan lingkungannya seperti halnya mahluk hidup. Struktur bangunan berfungsi sebagai bingkai dan lantai-lantainya dapat berfungsi berbeda beda, seperti menjadi taman bermain, mall, cafe atau yang lainnya. Konsep ini tak ubahnya seperti mendefinisikan lantai-lantai pencakar langit menjadi seperti sebuah lahan kosong yang bisa diisi berbagai fungsi seperti perumahan, taman, serta tempat-tempat komersial pada umumnya.
“Bangunan akan harus didesain bukan sebagai sistem terbuka berenergi tinggi yang polutan, tapi sebagai tiruan dari ekosistem urban yang berhubungan dengan imput, output dan operasi didalam konteks tersebut dan membawa kapasitas ekosistem dalam biosfer…”

Ken Yeang concept of skyscraper called ‘Artificial Land in the Sky’ is a skyscraper concept (high-rise building) that can be ‘alive’ and adapt to the environment as living beings. The structure serves as a frame building and the floors can vary different functions, such as a playground, mall, cafe or other. This concept is like defining the ground-floor skyscraper to be like an empty lot that can fill a variety of functions such as housing, parks, and commercial places in general.


“Buildings will need to be designed not as high-energy polluting open systems but as mimetic urban ecosystems that relate their inputs, outputs and operations within the context and carrying capacities of the ecosystems in the biosphere…”

Lingkungan binaan (built environment) akan berinteraksi dengan lingkungannya dalam hubungan yang lebih organik dan alami, serta mengurangi dampak dari arsitektur yang inorganik atau artifisial. Hal ini berarti, mendefinisikan kembali sistem-sistem dalam bangunan tinggi yang selama ini banyak menggunakan sistem buatan seperti penghawaan buatan (air conditioning/AC) menjadi penghawaan alami, melalui proses-proses yang biasa didapatkan dari alam secara langsung.
Hal ini bisa berarti membawa unsur tanaman hijau dalam lingkungan vertikal pencakar langit, yaitu memberikan rasio perbandingan antara ruang yang inorganik dan organik agar mencapai keseimbangan layaknya diatas tanah. Inilah yang disebut Ken Yeang sebagai “Artificial Land in the Sky”. Peniruan terhadap ekosistem ini bisa dianalogikan seperti sarang semut diatas tanah yang dalam skala semut berarti adalah sebuah pencakar langit. Analogi lainnya: seseorang yang memakai payung disaat hujan menerpa, yang merupakan perlindungan terhadap variasi perubahan iklim eksternal, disebutnya sebagai ‘cybernetic enclosural system’.

Picture source: http://www.garycolquhoun.com.au/barkly_tableland.htm

Built environment will interact with the natural environment in a more organic and natural relationship, and reduce the impact of the architecture of inorganic or artificial. This means redefining systems in high buildings including uses of artificial systems such as artificial air conditioning into natural air conditioning, through direct use of natural air.


This could mean bringing elements of green plants in a vertical environment skyscrapers, which gives a ratio between the inorganic and the organic in order to achieve a balance as above ground. This is what called by Ken Yeang as “Artificial Land in the Sky”. Impersonation of this ecosystem could be analogous to such as high ground nests of ants, which in the ant scale means is a skyscraper. Another analogy: a person with an umbrella in rain, which is a protection against variations of external climate change, called the ‘enclosural cybernetic system’.

(bersambung ke bagian 2/ to be continued at part 2)

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

What style are you?

stam - prada skirt[artikel khusus] astudioarchitect.com Gaya atau style, seperti gaya arsitektur modern, gaya arsitektur minimalis, gaya arsitektur klasik, seringkali kita dengar. Esensi dari ‘gaya’ yang dipahami saat ini seringkali dimaksudkan sebagai tampilan, atau cara, atau sesuatu yang memberikan kita image atau gambaran tentang seni, apakah itu arsitektur atau seni lainnya. Artikel ini saya buat untuk memikirkan kembali makna ‘gaya’ dan ‘modern’. Meskipun keduanya tidak secara langsung berhubungan, tapi ‘modern’ seringkali disebut sebagai ‘gaya’, meskipun sebenarnya lebih berkaitan dengan metode dan pola pikir mendesain. Apa yang terpikir disini juga bukan sebuah jawaban atas apakah kita butuh ‘bergaya’ atau tidak.

Gaya modern, terdiri dari dua kata yang melambangkan makna berbeda, dalam kata majemuk ini, modern merupakan keterangan terhadap gaya, seperti ‘klasik’ memberikan keterangan terhadap gaya dalam kata majemuk ‘gaya klasik’. Seseorang yang memiliki gaya atau style, disebut dengan kata sifat ‘stylish’ atau ‘bergaya’. Stylish adalah kata sifat yang diambil dari bahasa Inggris style. Style dapat diartikan sebagai berikut:

Quality that marks out something done or made as superior, fashionable or distinctive (kualitas yang menandai sesuatu dikerjakan atau dibuat sebagai superior, fashionable atau mudah dikenali)
Fashion in dress, etc (fashion dalam pakaian, dan sebagainya)
General appearance, form or design, kind or sort (tampilan secara umum, bentuk atau desain, macam)
(Hornby, 1974)

Arti dari kata tersebut memberi gambaran tentang kualitas rancangan yang sifatnya lebih dari biasanya, kadangkala dihubungkan dengan fashionable, atau modis. Meskipun demikian, gaya tidak selalu sesuai atau selaras dengan keinginan atau interpretasi pengamat. Misalnya: orang yang memakai ‘gaya punk’ dalam fashionnya, mungkin tidak terlalu appealing di mata mereka yang menyukai ‘gaya konvensional’ dalam berpakaian.

Ladies' Conversation
Ingatlah bahwa (kiri): ‘gaya’ tidak selalu terlihat sesuai, tapi digunakan karena disukai. Atau bisa juga (kanan): sebenarnya tidak ingin bergaya, tapi karena sudah ada gaya dalam apa yang fungsional, maka seperti itulah gayanya yang ‘irresistible’

stam - prada skirt
Gaya yang baik, terkadang dikatakan ‘baik’ karena sesuai masa dan tempatnya.

Demikian pula dalam arsitektur, ‘gaya modern’ mungkin bagus atau appealing bagi satu orang, tapi tidak bagi yang lain. ‘Gaya klasik’ mungkin disukai golongan tertentu, tapi tidak untuk golongan lainnya. Seperti musik, ada yang menyukai musik jazz, ada pula yang dangdut. Dalam konteks desain bangunan, rupanya hal ini juga berlaku.

Buka patchworks
Perbedaan pada masing-masing ‘gaya’ arsitektur, yang terkadang mencoba tampil paling ‘wah’ diantara yang lain, banyak dikritik oleh budayawan.

Gaya arsitektur, terlepas dari digunakan atau tidaknya, sebenarnya merupakan faktor tambahan dalam desain, yang seperti jenis baju atau busana yang dipakai. Semua orang memakai baju, tapi dengan gaya yang berbeda-beda. Arsitektur juga memiliki fungsi yang kurang lebih sama melalui proses programatik ruangnya, tapi gaya arsitekturnya dapat berbeda, sebagai finishingnya. Tapi faktor lain disamping gaya arsitektur, sebenarnya cukup banyak.

What style are you?
________________________________________________

by Probo Hindarto

ENGLISH VERSION: What style are you?

Style, like the style of modern architecture, minimalist architecture, classic architectural style, we often hear. The essence of ‘style’ is often understood to be intended as a displayed facade, or something that gives us imagery or picturesque of art, whether it’s architecture or other arts. I created this article to rethink the meaning of ‘style’ and ‘modern’. Although they are not directly related, but the ‘modern’ is often referred to as ‘style’. What occurred here is not an answer to whether we need a ‘style’ or not.

Modern style, consisting of two words that symbolize different meanings, modern in this compound word, is a description of the modern style, such as ‘classic’ provides information of the style in the compound word ‘classic style’. Someone who has a style, called with the adjective ‘stylish’. Style can be defined as follows:

Quality that marks out something done or made as superior, fashionable or Distinctive
Fashion in dress, etc (fashion in clothing, etc.)
General appearance, form or design, kind or sort
(Hornby, 1974)

The meaning of the word stylish is more than usual, sometimes associated with being fashionable. However, style is not always consistent or in harmony with the desire or the interpretation of the observer. For example: people who wear ‘punk’ fashion, probably not too appealing in the eyes of those who love ‘conventional style’ of fashion.

picture: Ladies’ Conversation

Remember that the (left): ‘style’ does not always look appropriate, but is used as preferred. Or it could be (right): really do not want to style, but because there is force in what is functional, then that’s his style which is ‘irresistible’

picture: Stam – prada skirt

Good style, sometimes said to be ‘good’ because it is in appropriate time and place.

Similarly, in architecture, ‘modern style’ may be good or appealing to one person, but not for others. ‘Classical style’ might be for a particular group, but not for other groups. Like music, some like music like jazz, some like dangdut. In the context of building design, this is apparently true.

picture: Open patchworks

Differences in each ‘style’ of architecture, which sometimes tries to appear to be the best among others, much criticized by humanists.

Style of architecture, regardless of whether or not used, is actually an additional factor in designing, which is like the kind of clothes. Everyone dressed, but with a different style. Architecture also has a function more or less the same through the process of programmatic spaces, but may be different architectural styles, as a finish. But other factors besides the architectural style, is actually quite a lot.

What style are you?

____________________________

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Arsitektur Eklektik – Esai Bagian 2

astudioarchitect.com Artikel untuk arsitek dan akademisi
Ornamentasi dari tradisi arsitektur sebuah wilayah di Indonesia (atau di daerah manapun juga) berakar kuat terhadap budaya dan cara hidup masyarakat di suatu tempat. Karena ornamentasi biasanya merupakan kumpulan simbol dari berbagai cara pandang dan kepercayaan adat dari sebuah masyarakat lokal. Ornamentasi dalam arsitektur tradisional, sebagaimana sistem kontruksi bangunan dan nilai-nilai yang termuat dalam arsitektur, merupakan akulturasi dari berbagai budaya arsitektur yang pernah berhubungan dengan masyarakat lokal.

Dalam sebuah esai saya tentang arsitektur Jawa Timur, saya mengetahui bahwa arsitektur tradisional Jawa Timur memiliki hubungan dengan arsitektur dari wilayah lain seperti Madura, pulau-pulau lain di Indonesia serta kebudayaan lain di belahan dunia, yang tidak pernah dibayangkan bahwa hubungan tersebut bisa terjadi di masa lampau. Arsitektur Jawa Timur bisa dihubungkan dengan arsitektur dari Jepang, Filipina, Mikronesia, bahkan dengan Amerika selatan.

Ornamentation in the architectural tradition of regions in Indonesia (or in any part of the world as well) is firmly rooted to the culture and way of life of citizens in a place. Because the ornamentation is usually a collection of symbols from various world views and beliefs of the indigenous local communities. Ornamentation in traditional architecture, as building construction system and the values embodied in architecture, is the acculturation of the various architectural culture contact with the local community.

In an essay I wrote about the architecture of East Java, I know that the traditional architecture of East Java has a relationship with the architecture of other areas such as Madura, other islands in Indonesia and other cultures around the world, most people will never imagined that such relationship could occur in the past. East Java architecture can be linked with the architecture of Japanese, the Philippines, Micronesia, and even with the South American.

 

Sebuah contoh ekstrim adalah adanya sebuah hubungan dari bentuk arsitektur candi Sukuh di Solo Jawa Tengah dengan bentuk arsitektur Piramid kebudayaan Maya arsitektur di Amerika selatan. Bentuk arsitektur candi yang tidak ditemukan di candi di Jawa, Nusantara dan Asia. Adalah menakjubkan bahwa jenis arsitektur tersebut hanya didapati di Amerika selatan. Hal ini merupakan suatu kemungkinan hubungan kuat dari Jawa dengan Amerika selatan di masa silam.
Arsitektur eklektik, kemudian apabila sebutan tersebut bisa mewakili fenomena arsitektur yang sudah terjadi di zaman lampau, kebanyakan diinterpretasikan sebagai pemilihan secara bebas dari berbagai unsur dalam suatu rancangan arsitektur.

An extreme example is the existence of a relationship of the architectural form of temple “Sukuh” in Solo in Central Java with the architecture of Mayan pyramids culture in the South American. Architectural form of the temple is not found in other temples in Java, Nusantara and Asia. It is amazing that this type of architecture is only found in south America. This is a strong possibility of relationship between Java and South America in the past.

Eclectic architecture, and if it can be represented as architectural phenomenon that has happened in the past, many interpret as an election, independently of various elements in architectural design. The existence of this method when used naively may reduce the value of architecture who produced it, in terms of cultural preservation of archipelago (Nusantara) architecture. How do we connect the European architecture that is used in homes with Indonesian architectur? A quick question that the answer is not simple, can be solved by using the term eclectic architecture as a temporary answer.

Keberadaan metode ini bila digunakan secara naif dapat menurunkan nilai dari arsitektur yang menghasilkannya, ditinjau dari sudut pelestarian kebudayaan arsitektur nusantara. Bagaimana kita menghubungkan arsitektur Eropa yang digunakan di rumah-rumah tinggal dengan arsitektur Indonesia? Sebuah pertanyaan singkat yang jawabannya tidak sederhana, bisa diselesaikan dengan menggunakan istilah arsitektur eklektik sebagai jawaban sementara.
Kebudayaan berornamentasi yang sudah ada sejak jaman dulu dalam arsitektur nusantara digabung dengan materialisme, hedonisme, dan keinginan untuk memperlihatkan kemampuan ekonomi dalam membangun, adalah fenomena yang berkaitan dengan kultural/sosio/ekonomi dan ditunjang oleh arsitektur eklektik sebagai metode untuk mewujudkan keinginan semunya.

Ornamented culture that existed from earlier times in the archipelago (Nusantara) architecture combined with materialism, hedonism, and the desire to show the economy’s ability to build, is a phenomenon related to cultural / social / economy and is supported by an eclectic architecture as a method to realize the quasi desires.

The fact that some parties use different types of architecture that had nothing to do with the traditional architecture of Indonesian architectural culture is an obvious example that tradition still plays an important role, namely as part of the ornamentation of traditional architecture, found its modern form through acculturation or adoption of other architectures such as ornamented architecture of European Classics and Mediterranean architecture.

Kesukaan berbagai pihak untu menggunakan berbagai jenis arsitektur yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan arsitektur tradisional negara kita adalah sebuah contoh nyata sebenarnya bahwa tradisi tetap memegang peranan penting, yaitu ornamentasi sebagai bagian dari arsitektur tradisional menemukan bentuk modernnya melalui akulturasi atau adopsi arsitektur berormentasi lainnya semisal arsitektur mediterania dan klasik.
Sebenarnya adalah suatu yang memungkinkan untuk menggunakan metode eklektik sebagai metode masyarakat yang lebih berwawasan tradisional yaitu apabila perancangan menerapkan arsitektur eklektik dengan menggabungkan unsur-unsur yang tidak jauh dari unsur tradisional arsitektur yang sudah ada. Arsitektur jenis ini dapat lebih diterima dalam konteks pelestarian tradisi. Eklektisme yang berasal dari budaya lokal dapat menjadi bentuk baru dari tradisi yang lebih kontemporer dengan cara menggabungkan berbagai unsur arsitektur tradisional dengan unsur arsitektur baru, yang dapat membawa arsitektur tradisional ke tingkat yang lebih tinggi yang dapat diterima di dunia modern.

Actually it is possible to use an eclectic method as the method that is more traditional-looking design, when implemented by combining eclectic architectural elements that are not far from the traditional elements of the existing architecture. This type of architecture may be more acceptable in the context of preservation of tradition. Eclecticism that comes from the local culture can become a new form of a more contemporary tradition by combining the various elements of traditional architecture with new architectural elements, which can bring the traditional architecture to a higher level that is acceptable in the modern world.

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Arsitektur Eklektik – Esai Bagian 1

astudioarchitect.com Artikel untuk arsitek dan akademisi

Arsitektur eklektik bisa dikatakan sebagai hasil karya arsitektur yang mempergunakan metode merancang secara eklektik. Eklektisme adalah sebuah pergerakan arsitektur dengan metode menggabungkan (kombinasi) berbagai aspek, ide, teori maupun yang ditujukan untuk membuat arsitektur terbaik dengan kombinasi yang ada. Pergerakan ini diawali dari filsafat yang dikaitkan dengan penggabungan berbagai perspektif pondasi filsafat untuk membentuk filsafat baru yang lebih baik. Metodenya kemudian diterapkan dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan yang lain, diantaranya kedalam arsitektur.


Eclectic architecture can be regarded as works of architecture that uses design methods that are eclectic. Eclecticism is an architectural movement by combining methods (combinations of) various aspects, ideas, theories and intended to make the best architecture with the existing combination. This movement begins from the philosophy associated with the merger of different perspectives to form the foundation philosophy in a new and better ones. Method and then applied in fields of other sciences, including into the architecture. 

    Penyebaran eklektisisme merambah berbagai bidang dapat diakui sebagai metode baru dalam seni. Arsitektur sebagai cabang seni yang berkaitan erat dengan teknik juga mendapatkan pengaruh dari penyebaran metode eklektisisme ini, meskipun dikritik sebagai metode yang tidak konsisten, disebabkan oleh pergeseran pandangan dalam menentukan berbagai elemen arsitektur yang sebelumnya sangat kuat. Disadari atau tidak apakah arsitektur jenis ini merupakan sebuah metode atau bukan sebenarnya adalah sesuatu yang berjalan dengan sendirinya berkaitan dengan akulturasi berbagai arsitektur yang membentuk tradisi berarsitektur di dalam kebudayaan masyarakat dimana saja. Sebagai sebuah metode yang sering kali dianggap “murahan” karena seakan-akan tidak memiliki dasar-dasar yang kuat untuk membuat sebuah obyek yang memiliki karakter arsitektur tertentu.

Di Indonesia, penyebutannya terkadang merupakan sesuatu yang sedikit menggelikan karena yang disebut sebagai perancangan “eklektik” membawa kita pada pandangan kebanyakan, yaitu kecenderungan untuk menggabungkan arsitektur dari berbagai negara atau wilayah dan ditampilkan begitu saja ke dalam arsitektur sebelumnya, untuk mencapai citra tertentu, bahkan sebuah kesan untuk menggapai prestise.

The spread of eclecticism that penetrated in various fields can be recognized as a new method in art. Architecture as a branch of art which is closely related to engineering are also impacted by the spread of this eclecticism method, although criticized as inconsistent methods, caused by a shift in the view of determining the various elements of the previous architecture which has been very strong. Whether we realize it or not or whether this type of architecture is an actual method or not is something that runs by itself related to the acculturation of traditional architectural forms in the culture of architecture in society anywhere. As a method which is often considered “cheap architecture” because it seemed not to have the basics to create a powerful definition of architecture or certain architectural character.

In Indonesia, it is sometimes a reference to something a little funny because as a design called “eclectic” brings us to the view of many, namely the tendency to combine the architecture of different countries or regions, and displayed just to achieve a certain image, even an impression to reach prestige. 

    Contohnya, bila kita mendapati rumah-rumah di perumahan dirancang dengan arsitektur “bergaya Amerika” atau “bergaya Eropa” dengan suatu citra seakan-akan itu adalah arsitektur Amerika atau Eropa. Adalah sebuah fenomena yang cukup umum terjadi di Indonesia sebagai bagian dari pembentukan jati diri arsitektur yang dicoba dihubungkan dengan arsitektur yang bahkan tidak memiliki kaitan dengan arsitektur di negara kita.

    “Arsitektur eklektik” menjadi sebuah jawaban apabila diberi pertanyaan tentang mengapa menggunakan arsitektur semacam itu, yang sebenarnya merupakan sebuah jawaban untuk membenarkan jenis arsitektur tersebut. Dalam buku saya berjudul “Rumah bergaya arsitektur mediterania dan cenderung klasik” terdapat sebuah keinginan untuk mengidentifikasikan unsur-unsur arsitektur apa saja yang mempengaruhi arsitektur “Gaya Mediterania dan klasik” di Indonesia, dan saya menemukan bahwa arsitektur jenis ini berakar dari banyak sekali arsitektur di wilayah Mediterania yang berbeda-beda, seperti sebuah tambal sulam. Namun kita masih bisa melihat hubungan dengan budaya Indonesia dalam hal ornamentasi. Sebelumnya kita ketahui bahwa ornamentasi adalah bagian integral dari arsitektur tradisional Indonesia karena unsur ornamen ditemukan di semua arsitektur tradisional di Indonesia, apakah itu di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi maupun Papua.

For example, if we find the houses in the residential architecture designed with “American style” or “European style” with an image as if it were American or European architecture. Is a common enough phenomenon in Indonesia as part of identity formation that tested architecture associated with the architecture that does not even have anything to do with the architecture in the country.

“Eclectic Architecture” became an answer if given the question of why using such architecture, which is actually an answer to justify these types of architecture. In my book titled “Mediterranean Home-style architecture” there is a desire to identify architectural elements that affect what the architecture “and the classic Mediterranean style” in Indonesia, and I found that this type of architecture stems from a lot of different architectural elements in the region Mediterranean, like a patchwork. But we still can see the relationship with Indonesian tradition in terms of cultural ornamentation. Earlier we saw that the ornamentation is an integral part of the traditional architecture of Indonesia for ornamental elements found in all of Indonesia’s traditional architecture, whether it is in Java, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi and Papua. 

(bersambung ke bagian 2)

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Diskusi tentang ruang – dalam ruang angan arsitek

Artikel untuk praktisi dan akademisi astudioarchitect.com — Baru-baru ini saya melakukan diskusi kecil dengan rekan Samoke dan Suga Ibi disebuah lahan kosong punya Suga Ibi dimana terdapat kolam ikan yang cukup besar berukuran sekitar 15×5 meter. Pada siang hari yang tidak terik, hanya mendung saja, dibawah ruang tenda dengan kursi yang katanya merupakan ‘produk gagal’ hasil desain Samoke, yang menurut saya cukup keren… (hanya perlu sentuhan lagi Sam :). Nama Samoke adalah kebalikan dari “Mas Eko”, karena kebiasaan ‘bahasa walikan’ atau bahasa yang dibalik. Tema kali ini membahas tentang makna ‘ruang’ dari sudut pandang arsitek, berhubung kami bertiga adalah praktisi, jadi kami berdialog dalam ranah praktisi arsitek. Dalam tulisan ini, saya mencoba menambahkan dengan beberapa pandangan lain dari dunia akademis sehingga lebih lengkap.

Recently I did a little discussion with colleagues Suga Ibi and Samoke on a vacant land Ibi Suga fish has, where there was a large enough size pond approximately 15×5 meters on the back of the land. The day was not hot, overcast by shadow of clouds, under a tent with a chair that Samoke called ‘failed product’, which I think is cool … (only need a second touch again Sam:). What to talk about this time is the meaning of ‘space’ from the perspective of an architect, since the three of us are practitioners, so we have a dialogue in the domain of architect practitioners. In this writing, I try to add a few other views from the academic world to be more complete.

PENDAPAT SAYA TERKAIT PENGERTIAN RUANG DIKAITKAN DENGAN BEBERAPA FILSUF YANG SUDAH MENDEFINISIKANNYA

“Ruang” adalah sesuatu yang selalu berhubungan dengan arsitektur. Bila Anda seorang arsitek, maka makna ruang adalah termasuk paling penting dalam proses desain, hingga sebuah bangunan terwujud. Karena pada dasarnya kita berhubungan dengan ‘ruang’ bila bicara arsitektur.
Filsuf Leibniz menyatakan bahwa ruang adalah hubungan sebuah obyek dengan obyek lainnya, sehingga tercipta sebuah koneksi. Sebuah obyek individual tanpa relasi dengan obyek lainnya tidak dapat dikatakan memiliki ruang. Setidaknya sebagai sebuah obyek dengan material yang nyata bukan hanya ukuran dimensi, obyek dalam ruang tidak bisa tidak, harus memiliki relasi dengan obyek lainnya dan dengan demikian memiliki parameter untuk dikatakan sebagai ruang (semoga saya tidak salah mengartikan pendapat Leibniz ini ya).
Filsuf yang lebih baru yaitu Emmanuel Kant mengatakan bahwa ruang bukanlah sebuah koneksi antar obyek, melainkan adalah konsep sistematis untuk menjelaskan pengalaman (experiences) melalui pengamatan obyektif. Sedangkan
Fisikawan yang hampir mendekati filsuf melalui teori fisikanya yaitu Einstein mengambil teori relativitas dimana ruang dan waktu adalah tak terpisahkan, dimana hubungan antar obyek itu relatif, berhubungan dengan pergerakannya (pada dasarnya kita berada dalam kosmik yang bergerak). Mudah-mudahan kita bisa memahami apa yang baru saja saya tuliskan 🙂
Dalam konteks arsitektur, pendapat ketiga tokoh diatas dapat kita jabarkan sebagai berikut:
– Leibniz: Ruang adalah sesuatu yang diakibatkan oleh hubungan antar obyek. Misalnya, saya ada dalam ruangan ini, karena saya sebagai entitas, memiliki hubungan dengan ruang ini sebagai dua obyek yang berbeda.
– Kant: Ruang adalah konsep sistematis yang sebenarnya diciptakan dalam pikiran kita untuk menjelaskan persepsi yang diterima akibat sensasi panca indera dengan hal-hal lain yang berhubungan dengan kita sebagai subyek. Misalnya: Apa yang saya rasakan tentang ruang ini akan berbeda dengan Anda, karena saya memiliki konsep yang berbeda untuk menjelaskan ruang dibandingkan konsep Anda tentang ruang.
– Einstein: Ruang diakibatkan oleh pergerakan obyek dimana konsep ruang sifatnya relatif, yang mengakibatkan perbedaan waktu yang dialami oleh masing-masing obyek. Misalnya: Apa yang saya rasakan dalam ruangan ini, akan berbeda dengan apa yang Anda rasakan, karena masing-masing dari kita bergerak dalam sistem ruang dan waktu yang berbeda.
Bila kita lihat melalui pemahaman saya diatas tentang pendapat beberapa filsuf, maka bisa kita simpulkan bahwa ruang itu selalu berbeda bagi setiap orang, atau setiap manusia yang berada didalamnya. Saat saya berada di hall A, dan Anda juga berada di hall A, apa yang kita alami adalah sama sekali berbeda. Dalam hal ini, pengertian ruang yang lebih kompleks dapat dijabarkan melalui teori relativitas Einstein. Tapi, arsitek bukanlah seorang fisikawan, melainkan seorang yang memperagakan dalam parodi kehidupan, bagaimana membuat filsafat tentang ruang menjadi nyata dalam rancangan arsitektur.

MY OPINION OF UNDERSTANDING RELATION associated with several SPACE defined by PHILOSOPHERs


“Space” is something that is always associated with the architecture. If you are an architect, then the meaning of space is among the most important thing in the design process, until a building come true. Because we are basically related to ‘space’ when speaking of architecture.


Philosopher Leibniz says that space is an object relationship with other objects, so as to create a connection. Individual objects without relationship with other objects can not be said to have a space. At least as an object with a real material that is not only measure of dimensions, it must have a relationship with other objects and thus can be said having a parameter for space (hopefully my opinion does not misinterpret Leibniz).


More recent philosopher Emmanuel Kant said that space is not a connection between objects, but is a systematic concept to explain the experience (experiences) through objective observation. While


Einstein’s theory of physics is taking the theory of relativity in which space and time are inseparable, in which relations between objects is relative, related to the movement (we are basically moving in the cosmic).


In the context of architecture, those three opinions above can be described as follows:



– Leibniz: Space is something that caused by relationships between objects. For example, I am in this room, because I am as an entity, has a relationship with the space as two different objects.


– Kant: Space is a systematic concept that was created in our minds to explain the perception received by sensory sensations with other matters relating to us as subjects. For example: What do I feel about this space will be different with you, because I have a different concept of space to explain than your concept of space.


– Einstein: space caused by the movement of objects where the concept is in relative nature, which resulted in differences in time experienced by each object. For example: What I feel in this room, will be different from what you feel, because each of us moving in different space systems and different time.



When reading through my understanding of the opinions by several philosophers above, then we can conclude that space is always different for everyone, or every human being who is therein. When I am in Hall A, and you also are in Hall A, what we experience is entirely different. In this case, understanding more complex spaces can be described by Einstein’s relativity theory. But, an architect is not a physicist, but one who demonstrated in a parody of life, how to make the philosophy of space becomes evident in architectural design.

Ruang terbuka lahan kosong Suga Ibi dengan kolam dan tenda biru sederhananya, serta kursi-kursi desain Samoke

DALAM PEMBICARAAN SAYA, SAMOKE DAN SUGA IBI
Dalam dunia arsitektur, ruang lebih diidentifikasi sebagai sebuah kesadaran akan kondisi lokal yang melingkupi pengguna ruang tersebut. Dalam pembicaraan ini, kami mulai mengupas tentang apa itu ruang, yang sangat penting dalam arsitektur. Ruang bisa berarti banyak hal, ruang dalam konteks kamar-kamar rumah, ruang hall, ruang rapat, ruang terbuka hijau, atau mungkin ruang yang tidak nyata, seperti ruang batin, ruang pemikiran, dan sebagainya. Dalam pembicaraan ini, kami ingin mengungkapkan, setidaknya melalui kata-kata, definisi ruang atau space.
Baik saya, Samoke dan Suga Ibi mulai membuat definisi awal tentang ruang.

SUGA IBI
Definisi ruang adalah ”apa yang bisa kita rasakan dengan batas indera kita, indera perasa, indera penglihatan, indera pendengaran dan sebagainya. Dalam contoh ruang yang sedang kami rasakan saat ini, kami bisa mendengar suara burung berkicau, yang melengkapi sebuah ruang. Apakah sebuah ruang itu tinggi, rendah, pendek, atau apapun itu tidak masalah. Misalnya: ruang angkasa tidak bisa terkira, tapi dengan ‘merasakan’ melalui batas nalar kita, kita mengetahui ada yang disebut sebagai ‘ruang’ angkasa.
Suga Ibi ditemani minuman sederhana dan ‘pohung keju’ hangat yang sempat kami beli di jalan sebelum ngobrol disini.
Dalam konteks ruang yang lebih besar ada ruang kota, ruang negeri, dan ruang yang lainnya. Ruang itu pada akhirnya adalah sebuah batas. Bila kita berpikiran ruang dalam rumah, maka berupa kamar kamar. Tapi begitu kita berpikir tentang ruang tata kota, misalnya, maka kita berpikir tentang ruang yang lebih besar, dan begitu seterusnya. Ruang yang dihasilkan bisa dirasakan sebagai sensasi ruang yang diharapkan, secara fisik dan psikologis, dalam skala ruang kecil maupun ruang yang lebih besar seperti ruang kota. Ruang yang dirasakan oleh arsitek lebih bisa terdefinisikan, seperti ruang yang aman, ruang yang nyaman. Hal ini berbeda dari ruang dalam sastra, seni, ekonomi, dan sebagainya.
Adalah merupakan tugas arsitek untuk membuat ruang itu terasa seperti apa. Apakah kita merasa tertekan dengan kehadiran sebuah ruang, ataukah ruang bisa dibuat atau didesain agar ia terasa terbuka, dan sebagainya.

PROBO HINDARTO
“Ruang adalah sesuatu yang bisa diisi”. Arsitektur adalah seni yang bisa diwujudkan (berdimensi). Sebuah ruang dalam arsitektur yang dihasilkan oleh arsitek, tidak bisa begitu saja lahir tanpa pemahaman tentang ruang dan elemen-elemen lain yang berhubungan dengannya. Sebut saja elemen lain ini seperti kondisi sosial, ekonomi maupun kejiwaan dalam hubungan antar individu yang terlibat dan antar individu dan lingkungannya.
Sebelum merancang, sebaiknya arsitek memiliki imajinasi dan pengetahuan tentang ruang, baik imajiner maupun ruang tempat perubahan akibat arsitektur yang akan terjadi. Arsitek harus mereka-reka terlebih dahulu sebuah ruang melalui alat yang didapat dari pengalaman inderawi untuk menghasilkan ruang yang lebih ideal. Inilah yang dilakukan dalam proses desain melalui proses men-sketsa, menggambar dan membuat maket. Sebuah maket merupakan replika ruang dalam bentuk yang kecil, dan lebih mewakili ruang yang ingin kita ciptakan, karena maket berada dalam dimensi yang sama dengan yang kita rasakan saat ini (tidak hanya sekedar gambar).

Stonehenge

Hubungan dengan alam adalah penting, karena alam, memiliki kesan ruang yang un-predictable (tidak terkontrol), sedangkan arsitektur itu dibuat agar ruang menjadi ’predictable’ (terkontrol). Ini adalah sifat dasar manusia untuk mempertahankan teritori atau batasan ruang dengan menciptakan batasan yang dapat dikuasainya, dengan kata lain: ‘diatur’.
Bila kita terlalu membebaskan alam untuk mengejutkan kita dengan kesan2 ruang yang terlalu liar, maka ruang arsitektur yang seharusnya ‘predictable’ itu tidak menjadi ruang yang secure (aman), karena kita sebagai manusia secara biologis membutuhkan ruang untuk membatasi kita dengan berbagai gangguan alam. Tingkat ideal sebuah ruang akhirnya ditentukan oleh gagasan awal dari imajinasi, dan hasil arsitektur terbangun yang dicoba dihasilkan oleh sang arsitek. Hal ini ditentukan oleh pengetahuan dan cara mengimplementasikan sebuah konsep desain yang dimiliki oleh arsitek berdasarkan misi yang diembannya terhadap sebuah project.

SAMOKE
“Ruang adalah dimensi suasana yang batasannya bisa kita jangkau”, itulah logikanya. ”Sesuatu yang tertangkap, melalui indera kita”. Ruang itu batas, apakah itu besar atau kecil, adalah sebatas kita melihat. Semampu kita saat mendengar, menggema, sesuai apa yang bisa tertangkap oleh indera kita. Dalam arsitektur, kita mendefinisikan ruang melalui karya arsitektur. Misalnya ruang ATM itu kecil tapi dia terasa sejuk, atau ruang hall yang besar tapi dia terasa sumpek.
Setelah kita berpraktisi sebagai arsitek, maka pemahaman kita sebagai arsitek akan lebih dalam, tidak lagi seperti saat kita berhadapan dengan kertas dan pena dalam dunia akademis. Hal ini mengingatkan kita bahwa pendidikan arsitektur saat ini masih selalu berkutat pada ruang sebagai ‘bentuk’, bukan ruang dengan ‘skala’. Tradisi dari ruang angan menuju ruang rekaan seharusnya dibarengi dengan bahasa akademis yang sifatnya klausalitas. Mestinya jika diajarkan tentang skala, maka harus diajarkan tentang niskala. Bila diajarkan tentang concrete, maka harus diajarkan yang concave.

Street Barber / Indonesia, Yogyakarta
Ruang yang terjadi, akibat selembar plastik biru yang membentuk sedikit pengatapan yang terlihat rapuh, dan menyandarkan diri pada realitas yang jauh lebih besar dalam ruang publik kota (Space occurs, due to a blue plastic sheet that forms a visible fragile roofing, and leaned back in reality much greater in the public space of the city.)

IN MY CONVERSATION, ME, SAMOKE and SUGA IBI

In the world of architecture, space is identified as an awareness of local conditions surrounding the user. In this conversation, we started to peel about what is space, which is very important in architecture. Space can mean many things, space in the context of house rooms, hall space, meeting rooms, a green open space, or maybe not real space, such as inner space, space of thought, and so on. In this talk, we want to express, at least through the words, the definition of space.

Neither I, and Suga Ibi and Samoke start making initial definition of the space.

Suga IBI

Spatial definition is “what can we feel the limits of our senses, sense of taste, sight, sense of hearing and so on. In the example we’re feeling right now, we could hear birds singing, which complements a room. Was it a space high, low, short, or whatever it does not matter. For example: space can not measure, but with a ‘feel’ through the limits of our reasoning, we know no such thing as ‘space’ space.

In the context of the larger city space, land space, and other spaces. The room was in the end is a limit. When we think of space in the house, the rooms of room. But once we think about the urban planning space, for example, then we think about the larger space, and so on. The resulting space can be perceived as a sensation of space is expected, physically and psychologically, in a small space scale and a larger space such as city hall. Space felt by the architect could be defined more as a safe, comfortable space. This is different from space in literature, art, economics, and so on.

It is the task of architects to create a space that feels like. Do we feel pressured by the presence of a space, or space can be made or designed so that it was open, and so on.

Probo Hindarto

“Space is something that can be filled”. Architecture is the art which can be realized (dimensionless). A space in architecture produced by the architect, could not just born without an understanding of space and other elements associated with it. Call it the other elements like social conditions, economic or psychological in the relationships between the individuals involved and between individuals and the environment.

Before designing, architects should have the imagination and knowledge of space, both imaginary and the space where the architecture changes due to happen. Architect must concoct a space in advance by means of experience gained from the senses to produce a more ideal space. This is done in the design process through a process to sketch, draw and make models. A model is a replica of the space in a smaller form, and more representative of space we want to create, because the model is in the same dimension that we are feeling right now (not just pictures).

Relationship with nature is important, because nature, have the impression of the un-predictable (not controlled), whereas the architecture was created to be the ‘predictable’ (controlled). This is human nature to defend territory or space limitations by creating boundaries that can be mastered, in other words: being ‘set’.

If we are too free the nature to surprise us with impressions of space which is too wild, the architectural space that should be ‘predictable’ will not be secures room (safe), because we as humans are biologically need to limit our space from variety of natural disturbances. The ideal level of a space finally determined by the initial idea of the imagination, and the results are attempted to be in architecture produced by the architect. This is determined by knowledge and how to implement a design concept which is owned by the architect based on their missions to a project.

SAMOKE

“Space is the dimension of the atmosphere within the limit of our reach”, that’s logic. “Something caught, through our senses”. Space is the limit, whether it is big or small, is the extent we see. We know space, when he heard, echoing, as what could be captured by our senses. In architecture, we define space through architecture. For example ATM room was small but it is cool, or a large hall space, but felt scary for claustrophobic.

After we practice as an architect, then our understanding will be deeper, no longer like when we are dealing with paper and pen in the academic world. It reminds us that the current architectural education is always struggling in space as the ‘form’, not the space with the ‘scale’. The tradition of fantasy into the living room should be accompanied by a fictitious academic language clausality of nature. If properly taught, scale should be taught about the timeless. When taught about concrete, it must be taught the concave.

Penehgahnya adalah tingkat rekaan sosial, yaitu sejauh mana secara individual calon arsitek maupun arsitek memiliki rekaan sosial yang bisa diwujudkan dalam desain. Sejauh mana ia memiliki pengetahuan tentang kondisi sosial disekitarnya. Artinya, ruang dalam arsitektur lebih luas saat kita berpraktek. Menurut pak Eko Prawoto, disinilah peran arsitek dalam menghasilkan rancangan arsitektur, seperti memperhatikan arsitektur tropis. Seharusnya arsitektur tropis itu lebih banyak ruang luarnya daripada ruang dalamnya.

Misalnya, sebuah ruang yang kita tempati untuk berbincang saat ini (tanah kosong milik Suga Ibi), bisa membuat kita melakukan sesuatu secara terus menerus karena kondisinya yang tidak mengekang, tidak membuat kita pasif dalam duduk diam, atau tidur, atau tidak melakukan apapun. Wujudnya bisa ruang komunal, ruang genial (ruang yang menghidupkan). Sayangnya saat ini, tidak banyak lagi ruang alun alun, atau jalan yang menampung konsep konsep ruang genial. Ruang genial selalu membangkitkan orang untuk beraktivitas, secara sosial dan saling mendukung.

Terminologi Samoke: Ruang angan dan Ruang rekaan
Ruang angan adalah ruang yang ’dikhayalkan’ dulu oleh perancang (didalam imajinasi perancang), kemudian diawali dalam ruang rekaan (arsitektur yang dilahirkan ke dunia) sebagai sketsa. Ruang angan, untuk menuju ruang rekaan adalah sebuah seni yang diaplikasikan. Perbedaan arsitek dan seniman adalah adanya dimensi yang bisa diwujudkan.
Ruang angan dan ruang rekaan itu menjadi lebih penting, karena itu awal dari sebuah idealisme. Misalnya ada seorang arsitek ingin membuat ruang arsitektur yang seperti stasiun MIRR, maka untuk membuat sebuah arsitektur yang seperti itu kita membutuhkan awalan dalam ruang angan, sebelum ia diwujudkan dalam ruang rekaan.
Seharusnya arsitek akan menemukan ruang rekaan yang ideal ketika ia dalam ber-ruang angan dan ber-ruang rekaan dapat menyerap semaksimal mungkin lokasi desain yang akan dibuat. mendesain sebuah ruang. Artinya; seorang arsitek akan lebih baik dalam mendesain, ketika ia tahu benar kondisi lokasi dimana karya arsitekturnya akan dibangun. Kekuatan rekaan ruang rasa itu menjadi penentu berhasil tidaknya sebuah ruang menjadi ruang rekaan yang ideal.
KESIMPULAN
Ruang, sebagai salah satu dimensi paling berpengaruh dalam arsitektur, terasa sangat berbeda dalam konteks seni yang bisa diwujudkan ini, bila dibandingkan dengan konsep ruang menurut matematika dan filsafat. Untuk membuat sebuah ruang memiliki makna lebih dari sekedar boks 3x4m, dengan plafon dan lantai, adalah merupakan tugas arsitek… Mungkin juga lebih dari itu…. penciptaan ruang batin yang terjadi dalam diri seorang penderita, yaitu pengguna rancangan kita.
Konteks ruang dalam pandangan masing-masing praktisi boleh jadi berbeda, seperti yang terjadi dalam pandangan saya, Samoke dan Suga Ibi. Meskipun pada dasarnya menuju pada sebuah kesimpulan yang tidak jauh berbeda. Barangkali hal ini, karena kami punya ruang pemikiran yang berbeda, dan ruang gerak yang (sempat) berbeda. Meminjam dan mengubah sedikit terminologi Samoke.

The middle understanding is the level of social invention, namely the extent to which an individual prospective architects and architects have a social invention that can be realized in the design. To what extent he has the knowledge about the social conditions around it. That is, space within the broader architecture when we practice. According to Eko Prawoto, this is where the role of architects in architectural design to produce, such as to implement tropical architecture. Tropical architecture that cares about space than the form outside it.

For example, a space that we are talking in right now (vacant land owned by Suga Ibi), can make us do something continuously because the condition is not reined in, not make us passive in sitting still, or sleep, or do not do anything. The form could be communal space, genial space. Unfortunately today, not much more social space, or the way the concept of space to accommodate the concept of Genial space. Genial space always aroused people to be active, socially and support each other.

Samoke’s terminology: Space imagination and invention of space

Fantasy space is space that is ‘imaginary’ used by the designer (in the designer’s imagination), then starting in the invention (architecturally born into the world) as a sketch. Space we dream, to get to the invention is an applied art. Differences between architects and artists is a dimension that can be realized.

Thought Space and imaginary space becomes more important, because it was the beginning of an idealism. For example there is an architect wants to create architectural spaces such as MIRR station, then to create an architecture like that we need a prefix of the space, before realizing in the invention.

Architect should be to find the ideal imaginary space when he was living in imagination and invention were able to absorb the maximum extent possible for design locations that will be made. designing a space. Means; an architect will be better in the design, when he knew the location where the work conditions of the architecture will be built. Strength fictitious sense of space that determines the success or failure of a space into an ideal fictitious space.

CONCLUSION

Space, as one of the most influential dimension in architecture, is very different in the context of art that can be realized, when compared with the concept of space according to the mathematics and philosophy. To create a space to have more meaning than a 3x4m box, with the ceiling and floor, is a task of the architect … Maybe more than that …. creation of inner space which occurred in a patient, the user of our design.

In the context of each view may be different practitioners, as happened in my view, Suga, and Samoke. Although in principle lead to a conclusion that is not much different. Perhaps this is because we have different thinking space, and space for a (time) is different.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Water and Soil Utopia – A concept for cities 20 years from now

https://i1.wp.com/bopswave.googlepages.com/indonesiaflag.jpg Bahasa Indonesia
This was actually my thought that I presented in a seminar held by Holcim and SAMM (Spirit of Malang Young Architect) about sustainable construction in November 2007. I hear recently more similar concept developed afterwards, many claims this concept, and I realize there is no original concept in architecture. And all I can say is that a ‘concept’ is something very fluid and can be copied and pasted in copycat culture. But then I have to claim that this thought is something I share and guarantee coming from my thought. After thinking so much about life in cities and how everything goes in very bad way, including disturbed water cycle, this concept is something that I thought will be the best concept for 20 years from now.

The origin of this is because we have to think in a different way from now and save the potential of water and soil for the future. Buildings must be in different manner, and water + soil potential should be preserved. The best way is actually not to use the soil at all, and this will mean that land will be a forest and buildings must be raised to certain height that will allow small plants to live below buildings, big trees between buildings and raised streets.

Water cycle is very vital in earth life as well as the continuity of all beings on earth. And this cycle become unstable because we put too much interruption to nature, like building too many buildings, streets, trotoars that cover the land and cut the water cycle. If water can not be absorbed by land, there will be flood, discontinuity of ground water stream, and dryness in more place above earth. The lack of water vapour (because water is too quickly flown to river and not vapoured much) will increase earth’s temperature.

There are three steps we should do in preserving land and soil;

  • preserve water absorbtion by soil
  • plant more forest cities
  • avoid soil erotion

This will be preventing us from making similar mistakes happened in EVERY city on earth. There has to be an utopia, and we should make it true. We already know there are architects who think about urban utopia; Tony Garnier with Cite Industrielle, Le Corbusier with Ville Radieus, and this concept I call “Water and Soil Utopia”, is not something really related to urban design, but a concept of healthier urban city.

The utopia of future cities of the world:
give more water and soil preservation for nature and mankind
area of building as biggest erosion source of problem should be given attention
flood free urban cities, 20 years from now
New cities have to be different from now.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Rasuna Epicentrum Revisited

https://i1.wp.com/bopswave.googlepages.com/indonesiaflag.jpg Bahasa Indonesia

This article is written by Ade Yudirianto – early September 2008.
Two years after my last visit to Superblock Rasuna Epicentrum, finally I have the chance to visit again to know how far the building process.

Bakrie Tower and lifestyle


Bakrie Tower
Entering Rasuna Said street in Jakarta, we can already see a tower height 48 storey that looks like it is going to be broken because some of its side is tilted. This is the Bakrie Tower designed by foreign consultant HOK (Helmut Obatta Kassabaum), a 48 floor with each floor tilted 1 degree horizontally.

Last month, the tower has been finished topping off, even not all building is covered by glass facade, we can see that the first 10 floor has been covered by glass with triangle pattern. It looks different from my first presumption, there is a different because the pattern that was planned was honeycomb pattern and now it is replaced with triangle pattern.

If this is not a wrong judgement, then the 48 level tower will be the first tower in Indonesia that has public space as the first level. While the form will be the second tower in Indonesia that has plastic form after Regatta Tower in Pantai Indah Kapuk. Seeing all the appearance of bakrie Tower it seems that the calculation of efficiency value is below 80% because of its sculptural/iconic form. Some of the outer collums also tilted following displacement of every floor.


Look up and see it soaring

Running for 35 days
Other part of Superblock Rasuna Epicentrum that is being rushly buit, is LifeStyle Center or what people will call it Mall Rasuna Epicentrum. If we see it from above the siluet of the building plan will be like a human’s feet (some call it like socks). This mall will be a center of activities in the blocks after the working hours. In here the building is being rushed in 35 days ahead because it has to be operated before Idul Fitri day (biggest holiday in Islam). The progress is so quick, regarding the construction now. This judgement is considering there are at least 2 facilities inside the mall that need to be done with care. One is Media Walk where visitors will walk with trams above that will be running around the entire Superblock. The second is the Galeri Neon that has fluorescent lights on the building skin. Two big national contractors hold the progress building of this facilities.


Lifestyle center RE


Lifestyle and Bakrie Tower

MORE (Marketing Office Rasuna Epicentrum)
After visiting the two buildings that is still dusty, filled with scaffolding, and concrete works everywhere, finally our eyes can be relax to see MORE that is planned in cleane and tidy space. MORE is where every visitors see to be introduced to promotion and latest development of the superblock. Here presented the model and mock-up apartment to visualize the real situation, but there is something different. The model of Rasuna Epicentrum has been bigger and for each building it has its own exhibition units. For this very big masterpiece Rasuna Epicentrum has got an award from MURi (National Record Museum of Indonesia) for the largest building model in Indonesia.


Gondola track


Rasuna complex block A model

What’s so special in this revisited?
First, it is owned by the richest person in Indonesia. Then in years ahead Jakarta will be full by other properties and big superblocks. A lot of promotion and advertising filled Indonesian media. Some big players also play in this crowd such as Bakrie Group, Agung Podomoro, Duta Anggada, Ciputra and others. Jakarta will be the place where phisical construction and building is the everyday life of the urban people. A city of signboard construction. Rasuna Epicentrum will be a part of it. This superblock offers integration with the environment, can be accessed from all direction without boundaries or fence. It is said that this superblock offers a healthy public space, where social activities and public space belongs to the people.

Indonesia Jakarta will be the place where developers will make competition. If there is no new offer and innovation, then in some years ahead many investment projects will be just a dream and vanished along with the rise of the new ones. This will be the competition and life of the metropolitan. Will Indonesia be just Jakarta? or will there be media expose that Indonesia consist of other thousands of islands and cities, not just Jakarta…
________________________________________________
by Ade Yudirianto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.