Monthly Archives: Agustus 2008

Pohsarang, ziarah spiritualisme

https://i1.wp.com/bopswave.googlepages.com/englishflag.jpg English Version

6 Sept 2006

Gereja Pohsarang adalah sebuah gereja katolik di Kediri yang dibangun oleh H. Mclaine Pont pada tahun 1930an, yang terletak tepatnya di lereng gunung Wilis. Gereja ini memiliki bentuk yang unik disemua bagiannya.

Memasuki Pohsarang, serasa memasuki sebuah candi, dengan batu-batu yang sangat banyak. Daerah disekitar gereja ini memang penghasil batu kali, yang bentuknya bulat lonjong. Ini rupanya mengilhami arsitek Belanda yang peduli dengan konteks arsitektur dan budaya setempat, juga pada potensi daerah lokalnya.

Perjalanan di Gereja Pohsarang disambut hangat oleh gereja berbentuk unik tersebut, dengan lonceng gereja dan kelengkapan gereja katolik lainnya, termasuk patung-patung.

Yang unik dari gereja ini adalah, perasaan membumi yang tiada tara, hampir seperti ‘bersujud’ dalam bahasa yang bisa kami gunakan. Tidak bermegah-megahan sebagaimana layaknya gereja katolik yang lain, gereja ini merangkul semua yang bisa didapat dari lingkungan dan konteks sekitarnya, termasuk digunakannya gamelan untuk musik gereja.


foto: Probo Hindarto

Kami tidak dapat menayangkan lebih banyak foto, karena keterbatasan saat pergi kesana, tapi kami yakin, Anda bisa menemukan literatur yang banyak yang bisa membuat Anda ingin mengunjunginya. Namun kami menyarankan, bila pergi ke Jawa Timur, jangan lupa mengunjungi gereja ini untuk menambah khasanah pengalaman ruang Anda.

Didalamnya, juga ada diorama berukuran lebih dari manusia yang menggambarkan ‘Jalan salib’ yang merupakan obyek sangat menarik untuk dirasakan dan diapresiasi, terlepas dari agama apapun yang kita yakini. Diorama ini cukup memberi pengertian tentang apa yang diyakini oleh umat katolik. Keseluruhan area ini sebenarnya merupakan ‘theme park’ dari spiritualisme katolik.


foto: Probo Hindarto


Altar Gereja
Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Artikel simpanan saat mengunjungi Pohsarang waktu kuliah
(kunjungan ke Kediri saat masih kuliah, artikel dibuat sehari setelah kunjungan)

POHSARANG PILGRIMAGE
by bop & andreas


Perjalanan ke Pohsarang dimulai dengan perjalanan cukup jauh, dari Pare ke Kediri setelah menginap satu malam. Dari Kediri, masuk daerah Pohsarang masih sekitar 5 km. Dengan jalan-jalan pedesaan yang masih banyak sawah dan sapi, akhirnya sampai juga di gereja Pohsarang. Sebelumnya kami mendaftar dulu di bagian informasi, dan kemudian masuk.

Dari bagian depan didapati tipe bangunan gereja Pohsarang yang unik, dengan struktur membentuk atap melengkung. Bagian entrance memukau dengan adanya lonceng yang dibunyikan tiap ada misa, atau kematiam, dan setiap jam 12.00, dimana bagi orang katolik, waktu ini adalah waktu berdoa.

Bagian dalam gereja agak mengherankan, karena tidak seperti dalam buku-buku, struktur atap sudah diganti struktur baja.

Kemudian perjalanan langsung dilanjutkan ke ‘jalan salib’, sebuah wahana yang menunjukkan perjalanan Yesus ketika akan disalib.

Jalan setapak menuju ‘jalan salib, tertata dengan rapi dengan bahan batu kali (terus terang, penulis tidak pernah menemui batuan kali sebanyak itu di bangunan apapun.

Sempat keliru jalan dan hampir masuk dapur penduduk setempat, kami akhirnya bisa sampai ke ‘jalan salib’.

‘Jalan salib’ adalah diorama patung dengan skala manusia, menggambarkan bagaimana sejarah Yesus disalib. Jumlah diorama ada puluhan buah. Penggambaran diorama cukup membuat berdecak kagum. Dan perjalanan ini semacam olahraga naik turun tangga, sebab lokasi ‘jalan salib’ ada ditengah perbukitan (dengan pemandu seekor anjing liar kecil, yang selalu mengikuti kemana kami pergi). Diorama dibuat dengan ekspresif dan realistis, sehingga menggugah apresiasi pengunjung (termasuk bagi penulis yang bukan kristiani).

Selain itu ada juga wahana berupa 3 bangunan yang terkesan luas sekitar 10 x 10 m2. Bisa dicapai setelah naik jalan tangga yang cukup tinggi. Disana terdapat lukisan lukisan Yesus berjumlah 15 buah dan ada banyak ruang untuk istirahat (dan tidur-tiduran).

Setelah rasa lelah terkurangi, tujuan selanjutnya adalah goa Maria Lordes, sebuah wahana buatan, berupa bagunan berbentuk bukit besar, dengan lubang besar detengahnya seperti goa sebagai ruangan untuk misa, dan sebuah patung Bunda Maria yang sangat besar. Di ‘goa’ ini juga ada tempat air cuci muka dan air untuk minum. Lucunya, kran air minum dan cuci muka itu berada di dinding goa, sehingga seakan minum dari alam. Air minumnya terasa alami, tidak seperti air dari PDAM.

Kemudian kami menuju ke gereja Pohsarang yang berbentuk pendopo. Bangunan ini terdiri dari pendopo untuk misa dan pendopo kosong yang terbuka. Struktur bangunan baja dan kawat baja yang menimbulkan bentuk melengkung kedalam pada atap bangunan.

Struktur gereja Pohsarang telah berganti bahan tiga kali. Pertama kali dibuat dengan bahan kayu kelapa atau glugu, kemudian diganti bahan kayu jati, dan terakhir diganti bahan baja. Pemasangan struktur yang terakhir baru saja dilakukan. Untuk memasang genting saja, dibutuhkan waktu sekitar 7 bulan, dengan bahan genting yang kuat dan terpilih, bahkan kuat untuk diinjak-injak.

Gereja ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda (anda dapat membacanya dari buku-buku) atas permintaan pemerintah kolonial untuk membangun sebuah gereja katolik. Sejak pertama dibangun gereja depan, yang merupakan bangunan pertama, saat ini kawasan gereja Pohsarang telah berkembang menjadi kawasan wisata yang cukup luas dan juga sebagai daerah wisata ziarah. Rata-rata pengunjung cukup banyak, tapi situasi ramai biasanya pada hari-hari libur dan pada hari besar Kristen.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Pohsarang, ziarah spiritualisme

https://i1.wp.com/bopswave.googlepages.com/englishflag.jpg English Version

6 Sept 2006

Gereja Pohsarang adalah sebuah gereja katolik di Kediri yang dibangun oleh H. Mclaine Pont pada tahun 1930an, yang terletak tepatnya di lereng gunung Wilis. Gereja ini memiliki bentuk yang unik disemua bagiannya.

Memasuki Pohsarang, serasa memasuki sebuah candi, dengan batu-batu yang sangat banyak. Daerah disekitar gereja ini memang penghasil batu kali, yang bentuknya bulat lonjong. Ini rupanya mengilhami arsitek Belanda yang peduli dengan konteks arsitektur dan budaya setempat, juga pada potensi daerah lokalnya.

Perjalanan di Gereja Pohsarang disambut hangat oleh gereja berbentuk unik tersebut, dengan lonceng gereja dan kelengkapan gereja katolik lainnya, termasuk patung-patung.

Yang unik dari gereja ini adalah, perasaan membumi yang tiada tara, hampir seperti ‘bersujud’ dalam bahasa yang bisa kami gunakan. Tidak bermegah-megahan sebagaimana layaknya gereja katolik yang lain, gereja ini merangkul semua yang bisa didapat dari lingkungan dan konteks sekitarnya, termasuk digunakannya gamelan untuk musik gereja.


foto: Probo Hindarto

Kami tidak dapat menayangkan lebih banyak foto, karena keterbatasan saat pergi kesana, tapi kami yakin, Anda bisa menemukan literatur yang banyak yang bisa membuat Anda ingin mengunjunginya. Namun kami menyarankan, bila pergi ke Jawa Timur, jangan lupa mengunjungi gereja ini untuk menambah khasanah pengalaman ruang Anda.

Didalamnya, juga ada diorama berukuran lebih dari manusia yang menggambarkan ‘Jalan salib’ yang merupakan obyek sangat menarik untuk dirasakan dan diapresiasi, terlepas dari agama apapun yang kita yakini. Diorama ini cukup memberi pengertian tentang apa yang diyakini oleh umat katolik. Keseluruhan area ini sebenarnya merupakan ‘theme park’ dari spiritualisme katolik.


foto: Probo Hindarto


Altar Gereja
Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Artikel simpanan saat mengunjungi Pohsarang waktu kuliah
(kunjungan ke Kediri saat masih kuliah, artikel dibuat sehari setelah kunjungan)

POHSARANG PILGRIMAGE
by bop & andreas


Perjalanan ke Pohsarang dimulai dengan perjalanan cukup jauh, dari Pare ke Kediri setelah menginap satu malam. Dari Kediri, masuk daerah Pohsarang masih sekitar 5 km. Dengan jalan-jalan pedesaan yang masih banyak sawah dan sapi, akhirnya sampai juga di gereja Pohsarang. Sebelumnya kami mendaftar dulu di bagian informasi, dan kemudian masuk.

Dari bagian depan didapati tipe bangunan gereja Pohsarang yang unik, dengan struktur membentuk atap melengkung. Bagian entrance memukau dengan adanya lonceng yang dibunyikan tiap ada misa, atau kematiam, dan setiap jam 12.00, dimana bagi orang katolik, waktu ini adalah waktu berdoa.

Bagian dalam gereja agak mengherankan, karena tidak seperti dalam buku-buku, struktur atap sudah diganti struktur baja.

Kemudian perjalanan langsung dilanjutkan ke ‘jalan salib’, sebuah wahana yang menunjukkan perjalanan Yesus ketika akan disalib.

Jalan setapak menuju ‘jalan salib, tertata dengan rapi dengan bahan batu kali (terus terang, penulis tidak pernah menemui batuan kali sebanyak itu di bangunan apapun.

Sempat keliru jalan dan hampir masuk dapur penduduk setempat, kami akhirnya bisa sampai ke ‘jalan salib’.

‘Jalan salib’ adalah diorama patung dengan skala manusia, menggambarkan bagaimana sejarah Yesus disalib. Jumlah diorama ada puluhan buah. Penggambaran diorama cukup membuat berdecak kagum. Dan perjalanan ini semacam olahraga naik turun tangga, sebab lokasi ‘jalan salib’ ada ditengah perbukitan (dengan pemandu seekor anjing liar kecil, yang selalu mengikuti kemana kami pergi). Diorama dibuat dengan ekspresif dan realistis, sehingga menggugah apresiasi pengunjung (termasuk bagi penulis yang bukan kristiani).

Selain itu ada juga wahana berupa 3 bangunan yang terkesan luas sekitar 10 x 10 m2. Bisa dicapai setelah naik jalan tangga yang cukup tinggi. Disana terdapat lukisan lukisan Yesus berjumlah 15 buah dan ada banyak ruang untuk istirahat (dan tidur-tiduran).

Setelah rasa lelah terkurangi, tujuan selanjutnya adalah goa Maria Lordes, sebuah wahana buatan, berupa bagunan berbentuk bukit besar, dengan lubang besar detengahnya seperti goa sebagai ruangan untuk misa, dan sebuah patung Bunda Maria yang sangat besar. Di ‘goa’ ini juga ada tempat air cuci muka dan air untuk minum. Lucunya, kran air minum dan cuci muka itu berada di dinding goa, sehingga seakan minum dari alam. Air minumnya terasa alami, tidak seperti air dari PDAM.

Kemudian kami menuju ke gereja Pohsarang yang berbentuk pendopo. Bangunan ini terdiri dari pendopo untuk misa dan pendopo kosong yang terbuka. Struktur bangunan baja dan kawat baja yang menimbulkan bentuk melengkung kedalam pada atap bangunan.

Struktur gereja Pohsarang telah berganti bahan tiga kali. Pertama kali dibuat dengan bahan kayu kelapa atau glugu, kemudian diganti bahan kayu jati, dan terakhir diganti bahan baja. Pemasangan struktur yang terakhir baru saja dilakukan. Untuk memasang genting saja, dibutuhkan waktu sekitar 7 bulan, dengan bahan genting yang kuat dan terpilih, bahkan kuat untuk diinjak-injak.

Gereja ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda (anda dapat membacanya dari buku-buku) atas permintaan pemerintah kolonial untuk membangun sebuah gereja katolik. Sejak pertama dibangun gereja depan, yang merupakan bangunan pertama, saat ini kawasan gereja Pohsarang telah berkembang menjadi kawasan wisata yang cukup luas dan juga sebagai daerah wisata ziarah. Rata-rata pengunjung cukup banyak, tapi situasi ramai biasanya pada hari-hari libur dan pada hari besar Kristen.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Pohsarang, the pilgrimage of spiritualism

https://i1.wp.com/bopswave.googlepages.com/indonesiaflag.jpg Bahasa Indonesia

6 Sept 2006
Pohsarang Church is a catholic church in Kediri, Indonesia built by H. Mclaine Pont in the 1930’s, located right at the slope of mount Wilis. The church is unique, in every way.

Entering Pohsarang, like entering a temple complex, with many stones. The area around this church complex is indeed the producer of building stones, which is having long, round shape. This was likely the thing inspired the Dutch architect who has an awareness of local architecture and culture context, also to the potential of the surrounding area.

The journey inside the Pohsarang Church complex was welcomed by the unique church, with church bells and all catholic stuff, including statues.

The unique thing about the church was; the ‘down to earth feeling’ which is amazing, humble in a language we could use. Not big, tall and typical catholic churches, this church embrace all the potential and context of the area, including the use of gamelan (traditional Javanese music instrument) for the church music.


foto: Probo Hindarto

We can not show many photos, due to some limitations when visiting the place, but we are sure, you can find many literature that will make you want to visit the site. But we suggest, if you go to East Java, don’t forget to visit the church to add your spatial experience.

Inside, there are dioramas in size bigger than human picturing ‘the road of the Cross’ (sorry if we’re wrong to translate this) which is a very interesting object to appreciate, aside of whatever religion (or atheism) you have. This diorama show the meaning of what the Catholic people believe. The whole area is actually ‘a theme park’ of catholic spiritualism.


foto: Probo Hindarto


Altar Gereja
Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright astudio Indonesia. All rights reserved.

Pohsarang, the pilgrimage of spiritualism

https://i1.wp.com/bopswave.googlepages.com/indonesiaflag.jpg Bahasa Indonesia

6 Sept 2006
Pohsarang Church is a catholic church in Kediri, Indonesia built by H. Mclaine Pont in the 1930’s, located right at the slope of mount Wilis. The church is unique, in every way.

Entering Pohsarang, like entering a temple complex, with many stones. The area around this church complex is indeed the producer of building stones, which is having long, round shape. This was likely the thing inspired the Dutch architect who has an awareness of local architecture and culture context, also to the potential of the surrounding area.

The journey inside the Pohsarang Church complex was welcomed by the unique church, with church bells and all catholic stuff, including statues.

The unique thing about the church was; the ‘down to earth feeling’ which is amazing, humble in a language we could use. Not big, tall and typical catholic churches, this church embrace all the potential and context of the area, including the use of gamelan (traditional Javanese music instrument) for the church music.


foto: Probo Hindarto

We can not show many photos, due to some limitations when visiting the place, but we are sure, you can find many literature that will make you want to visit the site. But we suggest, if you go to East Java, don’t forget to visit the church to add your spatial experience.

Inside, there are dioramas in size bigger than human picturing ‘the road of the Cross’ (sorry if we’re wrong to translate this) which is a very interesting object to appreciate, aside of whatever religion (or atheism) you have. This diorama show the meaning of what the Catholic people believe. The whole area is actually ‘a theme park’ of catholic spiritualism.


foto: Probo Hindarto


Altar Gereja
Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993


Sumber gambar: The Wilds of East Java, Indonesia Government Tourism Service, 1993

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright astudio Indonesia. All rights reserved.

Anatomi suatu tempat

https://i1.wp.com/bopswave.googlepages.com/englishflag.jpg English Version

Anatomi adalah sebuah bagian ilmu yang mempelajari struktur bagian-bagian. Di Indonesia, muncul buku yang membahas anatomi tampak, anatomi denah, anatomi potongan dan lain-lain.

Anatomi ruang perpustakaan

Bagaimana orang-orang bertingkah laku dalam sebuah ruangan perpustakaan?


Anatomy Sight view of Lake

Ketika melewati sebuah danau dalam perjalanan ke kota lain sebelum malam datang dengan kendaraan kami, kami mendapati banyak orang sedang duduk di batas jembatan. Alasannya makin jelas setelah kami duduk di batas jembatan dengan alasan yang sama, pemandangan danau di kala matahari tenggelam sungguh hebat. Bagaimana orang-orang bersikap ketika mereka mendapati keindahan pemandangan ini? ketika mereka sebenarnya hanya berjalan melewati jembatan ini dan tiba-tiba mendapati pemandangan sunset ini? Beberapa orang segera berhenti dan bergabung seperti yang kami lakukan, sedangkan yang lain tidak begitu tertarik. Beberapa mungkin telah memiliki rencana untuk mengunjungi danau dan melihat pemandangannya.


Anatomi rumah tua

Sebuah rumah tua yang ingin kami potret dengan pena kami (ketika kita tidak membawa kamera, apa lagi yang kita bisa perbuat selain membuat catatan-catatan ini?)


Anatomi perjalanan/

Setelah sebuah perjalanan diantara beberapa kota di Indonesia, dengan masih membawa image-image bergerak dalam pikiran saya yang meninggalkan vertigo, saya mencoba menangkap image-image ini dengan pena, dan hasilnya adalah … itu semua memang vertigo … yang digambarkan diatas kertas (gambar ini juga akan membuat Anda pusing. Tanya kenapa?). Rumah-rumah, pom bensin, pohon-pohon, jembatan, kuburan, dan banyak lagi.

Keponakan yang berumur 11 tahun menanyakan pada saya, ‘Apa itu, om?’. Saya menjawab bahwa itu adalah gambar dari perjalanan yang barusan saya lakukan dan dia berkata bahwa gambar itu lumayan bagus (dan Anda mungkin melihat bahwa gambar itu juga cukup naif, anak-anak mungkin menyukainya). Kemudian dia bercerita pada saya tentang perjalanannya tiap hari kesekolah, yang kemudian saya minta untuk digambarkan, dan gambar diatas adalah gambarnya.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Anatomi suatu tempat

https://i1.wp.com/bopswave.googlepages.com/englishflag.jpg English Version

Anatomi adalah sebuah bagian ilmu yang mempelajari struktur bagian-bagian. Di Indonesia, muncul buku yang membahas anatomi tampak, anatomi denah, anatomi potongan dan lain-lain.

Anatomi ruang perpustakaan

Bagaimana orang-orang bertingkah laku dalam sebuah ruangan perpustakaan?


Anatomy Sight view of Lake

Ketika melewati sebuah danau dalam perjalanan ke kota lain sebelum malam datang dengan kendaraan kami, kami mendapati banyak orang sedang duduk di batas jembatan. Alasannya makin jelas setelah kami duduk di batas jembatan dengan alasan yang sama, pemandangan danau di kala matahari tenggelam sungguh hebat. Bagaimana orang-orang bersikap ketika mereka mendapati keindahan pemandangan ini? ketika mereka sebenarnya hanya berjalan melewati jembatan ini dan tiba-tiba mendapati pemandangan sunset ini? Beberapa orang segera berhenti dan bergabung seperti yang kami lakukan, sedangkan yang lain tidak begitu tertarik. Beberapa mungkin telah memiliki rencana untuk mengunjungi danau dan melihat pemandangannya.


Anatomi rumah tua

Sebuah rumah tua yang ingin kami potret dengan pena kami (ketika kita tidak membawa kamera, apa lagi yang kita bisa perbuat selain membuat catatan-catatan ini?)


Anatomi perjalanan/

Setelah sebuah perjalanan diantara beberapa kota di Indonesia, dengan masih membawa image-image bergerak dalam pikiran saya yang meninggalkan vertigo, saya mencoba menangkap image-image ini dengan pena, dan hasilnya adalah … itu semua memang vertigo … yang digambarkan diatas kertas (gambar ini juga akan membuat Anda pusing. Tanya kenapa?). Rumah-rumah, pom bensin, pohon-pohon, jembatan, kuburan, dan banyak lagi.

Keponakan yang berumur 11 tahun menanyakan pada saya, ‘Apa itu, om?’. Saya menjawab bahwa itu adalah gambar dari perjalanan yang barusan saya lakukan dan dia berkata bahwa gambar itu lumayan bagus (dan Anda mungkin melihat bahwa gambar itu juga cukup naif, anak-anak mungkin menyukainya). Kemudian dia bercerita pada saya tentang perjalanannya tiap hari kesekolah, yang kemudian saya minta untuk digambarkan, dan gambar diatas adalah gambarnya.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Anatomy of a place (architecture)

https://i1.wp.com/bopswave.googlepages.com/indonesiaflag.jpg Bahasa Indonesia

Anatomy is a part of science that study the structures of parts. In Indonesia, there are books about elevation anatomy, plan anatomy, cut/slice anatomy and others.

Anatomy of Library plan and behaviour

How people behave inside a library room?

Anatomy Sight view of Lake

When passing trough a lake on a way to other city early before night with our vehicle, we found there are a lot of people sitting at the border of the lake’s bridge. The reason is more definite after a few moment we sit on the border of the lake by the same reason we think they have, the view of the sunset is fantastic. How do people behave when they encounter the beauty of the sight? While they are just passing by the bridge with vehicle and suddenly encounter this beautiful sunset? Some people are stopping right away and join like what we did, while others are not really interested. Some might have a plan to visit the lake and enjoy the sight.

Old house anatomy


An old house that we’re tying to capture with our pen (when we don’t bring a camera, what else will we do but making these notes?).



Journey anatomy

After some long journey between some cities in Indonesia, under some moving images inside my head leaving a bit vertigo, I was trying to capture the images with my pen, and the result is … it was a vertigo … drawn on a paper (the image will also make you dizzy, Wonder why?). Houses, gas stations, people, trees, bridges, cemetery, and lot more.

My 11 years old nephew ask me, ‘What’s that uncle?’. I said that it was my drawing of the journey I just have, and she think it’s quite nice drawing (and you might see that the drawing is really naïve, kids might like it). Then she told me about the journey she has everyday to her school nearby, that I then ask her to draw what she think about the ‘journey’ to her school, and there it was, the above drawing is the drawing.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.