Monthly Archives: Agustus 2009

Diskusi tentang ruang – dalam ruang angan arsitek

Artikel untuk praktisi dan akademisi astudioarchitect.com — Baru-baru ini saya melakukan diskusi kecil dengan rekan Samoke dan Suga Ibi disebuah lahan kosong punya Suga Ibi dimana terdapat kolam ikan yang cukup besar berukuran sekitar 15×5 meter. Pada siang hari yang tidak terik, hanya mendung saja, dibawah ruang tenda dengan kursi yang katanya merupakan ‘produk gagal’ hasil desain Samoke, yang menurut saya cukup keren… (hanya perlu sentuhan lagi Sam:). Nama Samoke adalah kebalikan dari “Mas Eko”, karena kebiasaan ‘bahasa walikan’ atau bahasa yang dibalik. Tema kali ini membahas tentang makna ‘ruang’ dari sudut pandang arsitek, berhubung kami bertiga adalah praktisi, jadi kami berdialog dalam ranah praktisi arsitek. Dalam tulisan ini, saya mencoba menambahkan dengan beberapa pandangan lain dari dunia akademis sehingga lebih lengkap.

http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Recently I did a little discussion with colleagues Suga Ibi and Samoke on a vacant land Ibi Suga fish has, where there was a large enough size pond approximately 15×5 meters on the back of the land. The day was not hot, overcast by shadow of clouds, under a tent with a chair that Samoke called ‘failed product’, which I think is cool … (only need a second touch again Sam:). What to talk about this time is the meaning of ‘space’ from the perspective of an architect, since the three of us are practitioners, so we have a dialogue in the domain of architect practitioners. In this writing, I try to add a few other views from the academic world to be more complete.

PENDAPAT SAYA TERKAIT PENGERTIAN RUANG DIKAITKAN DENGAN BEBERAPA FILSUF YANG SUDAH MENDEFINISIKANNYA

“Ruang” adalah sesuatu yang selalu berhubungan dengan arsitektur. Bila Anda seorang arsitek, maka makna ruang adalah termasuk paling penting dalam proses desain, hingga sebuah bangunan terwujud. Karena pada dasarnya kita berhubungan dengan ‘ruang’ bila bicara arsitektur.
Filsuf Leibniz menyatakan bahwa ruang adalah hubungan sebuah obyek dengan obyek lainnya, sehingga tercipta sebuah koneksi. Sebuah obyek individual tanpa relasi dengan obyek lainnya tidak dapat dikatakan memiliki ruang. Setidaknya sebagai sebuah obyek dengan material yang nyata bukan hanya ukuran dimensi, obyek dalam ruang tidak bisa tidak, harus memiliki relasi dengan obyek lainnya dan dengan demikian memiliki parameter untuk dikatakan sebagai ruang (semoga saya tidak salah mengartikan pendapat Leibniz ini ya).
Filsuf yang lebih baru yaitu Emmanuel Kant mengatakan bahwa ruang bukanlah sebuah koneksi antar obyek, melainkan adalah konsep sistematis untuk menjelaskan pengalaman (experiences) melalui pengamatan obyektif. Sedangkan
Fisikawan yang hampir mendekati filsuf melalui teori fisikanya yaitu Einstein mengambil teori relativitas dimana ruang dan waktu adalah tak terpisahkan, dimana hubungan antar obyek itu relatif, berhubungan dengan pergerakannya (pada dasarnya kita berada dalam kosmik yang bergerak). Mudah-mudahan kita bisa memahami apa yang baru saja saya tuliskan:)
Dalam konteks arsitektur, pendapat ketiga tokoh diatas dapat kita jabarkan sebagai berikut:
– Leibniz: Ruang adalah sesuatu yang diakibatkan oleh hubungan antar obyek. Misalnya, saya ada dalam ruangan ini, karena saya sebagai entitas, memiliki hubungan dengan ruang ini sebagai dua obyek yang berbeda.
– Kant: Ruang adalah konsep sistematis yang sebenarnya diciptakan dalam pikiran kita untuk menjelaskan persepsi yang diterima akibat sensasi panca indera dengan hal-hal lain yang berhubungan dengan kita sebagai subyek. Misalnya: Apa yang saya rasakan tentang ruang ini akan berbeda dengan Anda, karena saya memiliki konsep yang berbeda untuk menjelaskan ruang dibandingkan konsep Anda tentang ruang.
– Einstein: Ruang diakibatkan oleh pergerakan obyek dimana konsep ruang sifatnya relatif, yang mengakibatkan perbedaan waktu yang dialami oleh masing-masing obyek. Misalnya: Apa yang saya rasakan dalam ruangan ini, akan berbeda dengan apa yang Anda rasakan, karena masing-masing dari kita bergerak dalam sistem ruang dan waktu yang berbeda.
Bila kita lihat melalui pemahaman saya diatas tentang pendapat beberapa filsuf, maka bisa kita simpulkan bahwa ruang itu selalu berbeda bagi setiap orang, atau setiap manusia yang berada didalamnya. Saat saya berada di hall A, dan Anda juga berada di hall A, apa yang kita alami adalah sama sekali berbeda. Dalam hal ini, pengertian ruang yang lebih kompleks dapat dijabarkan melalui teori relativitas Einstein. Tapi, arsitek bukanlah seorang fisikawan, melainkan seorang yang memperagakan dalam parodi kehidupan, bagaimana membuat filsafat tentang ruang menjadi nyata dalam rancangan arsitektur.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

MY OPINION OF UNDERSTANDING RELATION associated with several SPACE defined by PHILOSOPHERs


“Space” is something that is always associated with the architecture. If you are an architect, then the meaning of space is among the most important thing in the design process, until a building come true. Because we are basically related to ‘space’ when speaking of architecture.


Philosopher Leibniz says that space is an object relationship with other objects, so as to create a connection. Individual objects without relationship with other objects can not be said to have a space. At least as an object with a real material that is not only measure of dimensions, it must have a relationship with other objects and thus can be said having a parameter for space (hopefully my opinion does not misinterpret Leibniz).


More recent philosopher Emmanuel Kant said that space is not a connection between objects, but is a systematic concept to explain the experience (experiences) through objective observation. While


Einstein’s theory of physics is taking the theory of relativity in which space and time are inseparable, in which relations between objects is relative, related to the movement (we are basically moving in the cosmic).


In the context of architecture, those three opinions above can be described as follows:



– Leibniz: Space is something that caused by relationships between objects. For example, I am in this room, because I am as an entity, has a relationship with the space as two different objects.


– Kant: Space is a systematic concept that was created in our minds to explain the perception received by sensory sensations with other matters relating to us as subjects. For example: What do I feel about this space will be different with you, because I have a different concept of space to explain than your concept of space.


– Einstein: space caused by the movement of objects where the concept is in relative nature, which resulted in differences in time experienced by each object. For example: What I feel in this room, will be different from what you feel, because each of us moving in different space systems and different time.



When reading through my understanding of the opinions by several philosophers above, then we can conclude that space is always different for everyone, or every human being who is therein. When I am in Hall A, and you also are in Hall A, what we experience is entirely different. In this case, understanding more complex spaces can be described by Einstein’s relativity theory. But, an architect is not a physicist, but one who demonstrated in a parody of life, how to make the philosophy of space becomes evident in architectural design.

Ruang terbuka lahan kosong Suga Ibi dengan kolam dan tenda biru sederhananya, serta kursi-kursi desain Samoke

DALAM PEMBICARAAN SAYA, SAMOKE DAN SUGA IBI
Dalam dunia arsitektur, ruang lebih diidentifikasi sebagai sebuah kesadaran akan kondisi lokal yang melingkupi pengguna ruang tersebut. Dalam pembicaraan ini, kami mulai mengupas tentang apa itu ruang, yang sangat penting dalam arsitektur. Ruang bisa berarti banyak hal, ruang dalam konteks kamar-kamar rumah, ruang hall, ruang rapat, ruang terbuka hijau, atau mungkin ruang yang tidak nyata, seperti ruang batin, ruang pemikiran, dan sebagainya. Dalam pembicaraan ini, kami ingin mengungkapkan, setidaknya melalui kata-kata, definisi ruang atau space.
Baik saya, Samoke dan Suga Ibi mulai membuat definisi awal tentang ruang.

SUGA IBI
Definisi ruang adalah ”apa yang bisa kita rasakan dengan batas indera kita, indera perasa, indera penglihatan, indera pendengaran dan sebagainya. Dalam contoh ruang yang sedang kami rasakan saat ini, kami bisa mendengar suara burung berkicau, yang melengkapi sebuah ruang. Apakah sebuah ruang itu tinggi, rendah, pendek, atau apapun itu tidak masalah. Misalnya: ruang angkasa tidak bisa terkira, tapi dengan ‘merasakan’ melalui batas nalar kita, kita mengetahui ada yang disebut sebagai ‘ruang’ angkasa.
Suga Ibi ditemani minuman sederhana dan ‘pohung keju’ hangat yang sempat kami beli di jalan sebelum ngobrol disini.
Dalam konteks ruang yang lebih besar ada ruang kota, ruang negeri, dan ruang yang lainnya. Ruang itu pada akhirnya adalah sebuah batas. Bila kita berpikiran ruang dalam rumah, maka berupa kamar kamar. Tapi begitu kita berpikir tentang ruang tata kota, misalnya, maka kita berpikir tentang ruang yang lebih besar, dan begitu seterusnya. Ruang yang dihasilkan bisa dirasakan sebagai sensasi ruang yang diharapkan, secara fisik dan psikologis, dalam skala ruang kecil maupun ruang yang lebih besar seperti ruang kota. Ruang yang dirasakan oleh arsitek lebih bisa terdefinisikan, seperti ruang yang aman, ruang yang nyaman. Hal ini berbeda dari ruang dalam sastra, seni, ekonomi, dan sebagainya.
Adalah merupakan tugas arsitek untuk membuat ruang itu terasa seperti apa. Apakah kita merasa tertekan dengan kehadiran sebuah ruang, ataukah ruang bisa dibuat atau didesain agar ia terasa terbuka, dan sebagainya.

PROBO HINDARTO
“Ruang adalah sesuatu yang bisa diisi”. Arsitektur adalah seni yang bisa diwujudkan (berdimensi). Sebuah ruang dalam arsitektur yang dihasilkan oleh arsitek, tidak bisa begitu saja lahir tanpa pemahaman tentang ruang dan elemen-elemen lain yang berhubungan dengannya. Sebut saja elemen lain ini seperti kondisi sosial, ekonomi maupun kejiwaan dalam hubungan antar individu yang terlibat dan antar individu dan lingkungannya.
Sebelum merancang, sebaiknya arsitek memiliki imajinasi dan pengetahuan tentang ruang, baik imajiner maupun ruang tempat perubahan akibat arsitektur yang akan terjadi. Arsitek harus mereka-reka terlebih dahulu sebuah ruang melalui alat yang didapat dari pengalaman inderawi untuk menghasilkan ruang yang lebih ideal. Inilah yang dilakukan dalam proses desain melalui proses men-sketsa, menggambar dan membuat maket. Sebuah maket merupakan replika ruang dalam bentuk yang kecil, dan lebih mewakili ruang yang ingin kita ciptakan, karena maket berada dalam dimensi yang sama dengan yang kita rasakan saat ini (tidak hanya sekedar gambar).

Stonehenge

Hubungan dengan alam adalah penting, karena alam, memiliki kesan ruang yang un-predictable (tidak terkontrol), sedangkan arsitektur itu dibuat agar ruang menjadi ’predictable’ (terkontrol). Ini adalah sifat dasar manusia untuk mempertahankan teritori atau batasan ruang dengan menciptakan batasan yang dapat dikuasainya, dengan kata lain: ‘diatur’.
Bila kita terlalu membebaskan alam untuk mengejutkan kita dengan kesan2 ruang yang terlalu liar, maka ruang arsitektur yang seharusnya ‘predictable’ itu tidak menjadi ruang yang secure (aman), karena kita sebagai manusia secara biologis membutuhkan ruang untuk membatasi kita dengan berbagai gangguan alam. Tingkat ideal sebuah ruang akhirnya ditentukan oleh gagasan awal dari imajinasi, dan hasil arsitektur terbangun yang dicoba dihasilkan oleh sang arsitek. Hal ini ditentukan oleh pengetahuan dan cara mengimplementasikan sebuah konsep desain yang dimiliki oleh arsitek berdasarkan misi yang diembannya terhadap sebuah project.

SAMOKE
“Ruang adalah dimensi suasana yang batasannya bisa kita jangkau”, itulah logikanya. ”Sesuatu yang tertangkap, melalui indera kita”. Ruang itu batas, apakah itu besar atau kecil, adalah sebatas kita melihat. Semampu kita saat mendengar, menggema, sesuai apa yang bisa tertangkap oleh indera kita. Dalam arsitektur, kita mendefinisikan ruang melalui karya arsitektur. Misalnya ruang ATM itu kecil tapi dia terasa sejuk, atau ruang hall yang besar tapi dia terasa sumpek.
Setelah kita berpraktisi sebagai arsitek, maka pemahaman kita sebagai arsitek akan lebih dalam, tidak lagi seperti saat kita berhadapan dengan kertas dan pena dalam dunia akademis. Hal ini mengingatkan kita bahwa pendidikan arsitektur saat ini masih selalu berkutat pada ruang sebagai ‘bentuk’, bukan ruang dengan ‘skala’. Tradisi dari ruang angan menuju ruang rekaan seharusnya dibarengi dengan bahasa akademis yang sifatnya klausalitas. Mestinya jika diajarkan tentang skala, maka harus diajarkan tentang niskala. Bila diajarkan tentang concrete, maka harus diajarkan yang concave.

Street Barber / Indonesia, Yogyakarta
Ruang yang terjadi, akibat selembar plastik biru yang membentuk sedikit pengatapan yang terlihat rapuh, dan menyandarkan diri pada realitas yang jauh lebih besar dalam ruang publik kota (Space occurs, due to a blue plastic sheet that forms a visible fragile roofing, and leaned back in reality much greater in the public space of the city.)

IN MY CONVERSATION, ME, SAMOKE and SUGA IBI

In the world of architecture, space is identified as an awareness of local conditions surrounding the user. In this conversation, we started to peel about what is space, which is very important in architecture. Space can mean many things, space in the context of house rooms, hall space, meeting rooms, a green open space, or maybe not real space, such as inner space, space of thought, and so on. In this talk, we want to express, at least through the words, the definition of space.

Neither I, and Suga Ibi and Samoke start making initial definition of the space.

Suga IBI

Spatial definition is “what can we feel the limits of our senses, sense of taste, sight, sense of hearing and so on. In the example we’re feeling right now, we could hear birds singing, which complements a room. Was it a space high, low, short, or whatever it does not matter. For example: space can not measure, but with a ‘feel’ through the limits of our reasoning, we know no such thing as ‘space’ space.

In the context of the larger city space, land space, and other spaces. The room was in the end is a limit. When we think of space in the house, the rooms of room. But once we think about the urban planning space, for example, then we think about the larger space, and so on. The resulting space can be perceived as a sensation of space is expected, physically and psychologically, in a small space scale and a larger space such as city hall. Space felt by the architect could be defined more as a safe, comfortable space. This is different from space in literature, art, economics, and so on.

It is the task of architects to create a space that feels like. Do we feel pressured by the presence of a space, or space can be made or designed so that it was open, and so on.

Probo Hindarto

“Space is something that can be filled”. Architecture is the art which can be realized (dimensionless). A space in architecture produced by the architect, could not just born without an understanding of space and other elements associated with it. Call it the other elements like social conditions, economic or psychological in the relationships between the individuals involved and between individuals and the environment.

Before designing, architects should have the imagination and knowledge of space, both imaginary and the space where the architecture changes due to happen. Architect must concoct a space in advance by means of experience gained from the senses to produce a more ideal space. This is done in the design process through a process to sketch, draw and make models. A model is a replica of the space in a smaller form, and more representative of space we want to create, because the model is in the same dimension that we are feeling right now (not just pictures).

Relationship with nature is important, because nature, have the impression of the un-predictable (not controlled), whereas the architecture was created to be the ‘predictable’ (controlled). This is human nature to defend territory or space limitations by creating boundaries that can be mastered, in other words: being ‘set’.

If we are too free the nature to surprise us with impressions of space which is too wild, the architectural space that should be ‘predictable’ will not be secures room (safe), because we as humans are biologically need to limit our space from variety of natural disturbances. The ideal level of a space finally determined by the initial idea of the imagination, and the results are attempted to be in architecture produced by the architect. This is determined by knowledge and how to implement a design concept which is owned by the architect based on their missions to a project.

SAMOKE

“Space is the dimension of the atmosphere within the limit of our reach”, that’s logic. “Something caught, through our senses”. Space is the limit, whether it is big or small, is the extent we see. We know space, when he heard, echoing, as what could be captured by our senses. In architecture, we define space through architecture. For example ATM room was small but it is cool, or a large hall space, but felt scary for claustrophobic.

After we practice as an architect, then our understanding will be deeper, no longer like when we are dealing with paper and pen in the academic world. It reminds us that the current architectural education is always struggling in space as the ‘form’, not the space with the ‘scale’. The tradition of fantasy into the living room should be accompanied by a fictitious academic language clausality of nature. If properly taught, scale should be taught about the timeless. When taught about concrete, it must be taught the concave.

Penehgahnya adalah tingkat rekaan sosial, yaitu sejauh mana secara individual calon arsitek maupun arsitek memiliki rekaan sosial yang bisa diwujudkan dalam desain. Sejauh mana ia memiliki pengetahuan tentang kondisi sosial disekitarnya. Artinya, ruang dalam arsitektur lebih luas saat kita berpraktek. Menurut pak Eko Prawoto, disinilah peran arsitek dalam menghasilkan rancangan arsitektur, seperti memperhatikan arsitektur tropis. Seharusnya arsitektur tropis itu lebih banyak ruang luarnya daripada ruang dalamnya.

Misalnya, sebuah ruang yang kita tempati untuk berbincang saat ini (tanah kosong milik Suga Ibi), bisa membuat kita melakukan sesuatu secara terus menerus karena kondisinya yang tidak mengekang, tidak membuat kita pasif dalam duduk diam, atau tidur, atau tidak melakukan apapun. Wujudnya bisa ruang komunal, ruang genial (ruang yang menghidupkan). Sayangnya saat ini, tidak banyak lagi ruang alun alun, atau jalan yang menampung konsep konsep ruang genial. Ruang genial selalu membangkitkan orang untuk beraktivitas, secara sosial dan saling mendukung.

Terminologi Samoke: Ruang angan dan Ruang rekaan
Ruang angan adalah ruang yang ’dikhayalkan’ dulu oleh perancang (didalam imajinasi perancang), kemudian diawali dalam ruang rekaan (arsitektur yang dilahirkan ke dunia) sebagai sketsa. Ruang angan, untuk menuju ruang rekaan adalah sebuah seni yang diaplikasikan. Perbedaan arsitek dan seniman adalah adanya dimensi yang bisa diwujudkan.
Ruang angan dan ruang rekaan itu menjadi lebih penting, karena itu awal dari sebuah idealisme. Misalnya ada seorang arsitek ingin membuat ruang arsitektur yang seperti stasiun MIRR, maka untuk membuat sebuah arsitektur yang seperti itu kita membutuhkan awalan dalam ruang angan, sebelum ia diwujudkan dalam ruang rekaan.
Seharusnya arsitek akan menemukan ruang rekaan yang ideal ketika ia dalam ber-ruang angan dan ber-ruang rekaan dapat menyerap semaksimal mungkin lokasi desain yang akan dibuat. mendesain sebuah ruang. Artinya; seorang arsitek akan lebih baik dalam mendesain, ketika ia tahu benar kondisi lokasi dimana karya arsitekturnya akan dibangun. Kekuatan rekaan ruang rasa itu menjadi penentu berhasil tidaknya sebuah ruang menjadi ruang rekaan yang ideal.
KESIMPULAN
Ruang, sebagai salah satu dimensi paling berpengaruh dalam arsitektur, terasa sangat berbeda dalam konteks seni yang bisa diwujudkan ini, bila dibandingkan dengan konsep ruang menurut matematika dan filsafat. Untuk membuat sebuah ruang memiliki makna lebih dari sekedar boks 3x4m, dengan plafon dan lantai, adalah merupakan tugas arsitek… Mungkin juga lebih dari itu…. penciptaan ruang batin yang terjadi dalam diri seorang penderita, yaitu pengguna rancangan kita.
Konteks ruang dalam pandangan masing-masing praktisi boleh jadi berbeda, seperti yang terjadi dalam pandangan saya, Samoke dan Suga Ibi. Meskipun pada dasarnya menuju pada sebuah kesimpulan yang tidak jauh berbeda. Barangkali hal ini, karena kami punya ruang pemikiran yang berbeda, dan ruang gerak yang (sempat) berbeda. Meminjam dan mengubah sedikit terminologi Samoke.

The middle understanding is the level of social invention, namely the extent to which an individual prospective architects and architects have a social invention that can be realized in the design. To what extent he has the knowledge about the social conditions around it. That is, space within the broader architecture when we practice. According to Eko Prawoto, this is where the role of architects in architectural design to produce, such as to implement tropical architecture. Tropical architecture that cares about space than the form outside it.

For example, a space that we are talking in right now (vacant land owned by Suga Ibi), can make us do something continuously because the condition is not reined in, not make us passive in sitting still, or sleep, or do not do anything. The form could be communal space, genial space. Unfortunately today, not much more social space, or the way the concept of space to accommodate the concept of Genial space. Genial space always aroused people to be active, socially and support each other.

Samoke’s terminology: Space imagination and invention of space

Fantasy space is space that is ‘imaginary’ used by the designer (in the designer’s imagination), then starting in the invention (architecturally born into the world) as a sketch. Space we dream, to get to the invention is an applied art. Differences between architects and artists is a dimension that can be realized.

Thought Space and imaginary space becomes more important, because it was the beginning of an idealism. For example there is an architect wants to create architectural spaces such as MIRR station, then to create an architecture like that we need a prefix of the space, before realizing in the invention.

Architect should be to find the ideal imaginary space when he was living in imagination and invention were able to absorb the maximum extent possible for design locations that will be made. designing a space. Means; an architect will be better in the design, when he knew the location where the work conditions of the architecture will be built. Strength fictitious sense of space that determines the success or failure of a space into an ideal fictitious space.

CONCLUSION

Space, as one of the most influential dimension in architecture, is very different in the context of art that can be realized, when compared with the concept of space according to the mathematics and philosophy. To create a space to have more meaning than a 3x4m box, with the ceiling and floor, is a task of the architect … Maybe more than that …. creation of inner space which occurred in a patient, the user of our design.

In the context of each view may be different practitioners, as happened in my view, Suga, and Samoke. Although in principle lead to a conclusion that is not much different. Perhaps this is because we have different thinking space, and space for a (time) is different.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Diskusi tentang ruang – dalam ruang angan arsitek

Artikel untuk praktisi dan akademisi astudioarchitect.com — Baru-baru ini saya melakukan diskusi kecil dengan rekan Samoke dan Suga Ibi disebuah lahan kosong punya Suga Ibi dimana terdapat kolam ikan yang cukup besar berukuran sekitar 15×5 meter. Pada siang hari yang tidak terik, hanya mendung saja, dibawah ruang tenda dengan kursi yang katanya merupakan ‘produk gagal’ hasil desain Samoke, yang menurut saya cukup keren… (hanya perlu sentuhan lagi Sam:). Nama Samoke adalah kebalikan dari “Mas Eko”, karena kebiasaan ‘bahasa walikan’ atau bahasa yang dibalik. Tema kali ini membahas tentang makna ‘ruang’ dari sudut pandang arsitek, berhubung kami bertiga adalah praktisi, jadi kami berdialog dalam ranah praktisi arsitek. Dalam tulisan ini, saya mencoba menambahkan dengan beberapa pandangan lain dari dunia akademis sehingga lebih lengkap.

Recently I did a little discussion with colleagues Suga Ibi and Samoke on a vacant land Ibi Suga fish has, where there was a large enough size pond approximately 15×5 meters on the back of the land. The day was not hot, overcast by shadow of clouds, under a tent with a chair that Samoke called ‘failed product’, which I think is cool … (only need a second touch again Sam:). What to talk about this time is the meaning of ‘space’ from the perspective of an architect, since the three of us are practitioners, so we have a dialogue in the domain of architect practitioners. In this writing, I try to add a few other views from the academic world to be more complete.

PENDAPAT SAYA TERKAIT PENGERTIAN RUANG DIKAITKAN DENGAN BEBERAPA FILSUF YANG SUDAH MENDEFINISIKANNYA

“Ruang” adalah sesuatu yang selalu berhubungan dengan arsitektur. Bila Anda seorang arsitek, maka makna ruang adalah termasuk paling penting dalam proses desain, hingga sebuah bangunan terwujud. Karena pada dasarnya kita berhubungan dengan ‘ruang’ bila bicara arsitektur.
Filsuf Leibniz menyatakan bahwa ruang adalah hubungan sebuah obyek dengan obyek lainnya, sehingga tercipta sebuah koneksi. Sebuah obyek individual tanpa relasi dengan obyek lainnya tidak dapat dikatakan memiliki ruang. Setidaknya sebagai sebuah obyek dengan material yang nyata bukan hanya ukuran dimensi, obyek dalam ruang tidak bisa tidak, harus memiliki relasi dengan obyek lainnya dan dengan demikian memiliki parameter untuk dikatakan sebagai ruang (semoga saya tidak salah mengartikan pendapat Leibniz ini ya).
Filsuf yang lebih baru yaitu Emmanuel Kant mengatakan bahwa ruang bukanlah sebuah koneksi antar obyek, melainkan adalah konsep sistematis untuk menjelaskan pengalaman (experiences) melalui pengamatan obyektif. Sedangkan
Fisikawan yang hampir mendekati filsuf melalui teori fisikanya yaitu Einstein mengambil teori relativitas dimana ruang dan waktu adalah tak terpisahkan, dimana hubungan antar obyek itu relatif, berhubungan dengan pergerakannya (pada dasarnya kita berada dalam kosmik yang bergerak). Mudah-mudahan kita bisa memahami apa yang baru saja saya tuliskan:)
Dalam konteks arsitektur, pendapat ketiga tokoh diatas dapat kita jabarkan sebagai berikut:
– Leibniz: Ruang adalah sesuatu yang diakibatkan oleh hubungan antar obyek. Misalnya, saya ada dalam ruangan ini, karena saya sebagai entitas, memiliki hubungan dengan ruang ini sebagai dua obyek yang berbeda.
– Kant: Ruang adalah konsep sistematis yang sebenarnya diciptakan dalam pikiran kita untuk menjelaskan persepsi yang diterima akibat sensasi panca indera dengan hal-hal lain yang berhubungan dengan kita sebagai subyek. Misalnya: Apa yang saya rasakan tentang ruang ini akan berbeda dengan Anda, karena saya memiliki konsep yang berbeda untuk menjelaskan ruang dibandingkan konsep Anda tentang ruang.
– Einstein: Ruang diakibatkan oleh pergerakan obyek dimana konsep ruang sifatnya relatif, yang mengakibatkan perbedaan waktu yang dialami oleh masing-masing obyek. Misalnya: Apa yang saya rasakan dalam ruangan ini, akan berbeda dengan apa yang Anda rasakan, karena masing-masing dari kita bergerak dalam sistem ruang dan waktu yang berbeda.
Bila kita lihat melalui pemahaman saya diatas tentang pendapat beberapa filsuf, maka bisa kita simpulkan bahwa ruang itu selalu berbeda bagi setiap orang, atau setiap manusia yang berada didalamnya. Saat saya berada di hall A, dan Anda juga berada di hall A, apa yang kita alami adalah sama sekali berbeda. Dalam hal ini, pengertian ruang yang lebih kompleks dapat dijabarkan melalui teori relativitas Einstein. Tapi, arsitek bukanlah seorang fisikawan, melainkan seorang yang memperagakan dalam parodi kehidupan, bagaimana membuat filsafat tentang ruang menjadi nyata dalam rancangan arsitektur.

MY OPINION OF UNDERSTANDING RELATION associated with several SPACE defined by PHILOSOPHERs


“Space” is something that is always associated with the architecture. If you are an architect, then the meaning of space is among the most important thing in the design process, until a building come true. Because we are basically related to ‘space’ when speaking of architecture.


Philosopher Leibniz says that space is an object relationship with other objects, so as to create a connection. Individual objects without relationship with other objects can not be said to have a space. At least as an object with a real material that is not only measure of dimensions, it must have a relationship with other objects and thus can be said having a parameter for space (hopefully my opinion does not misinterpret Leibniz).


More recent philosopher Emmanuel Kant said that space is not a connection between objects, but is a systematic concept to explain the experience (experiences) through objective observation. While


Einstein’s theory of physics is taking the theory of relativity in which space and time are inseparable, in which relations between objects is relative, related to the movement (we are basically moving in the cosmic).


In the context of architecture, those three opinions above can be described as follows:



– Leibniz: Space is something that caused by relationships between objects. For example, I am in this room, because I am as an entity, has a relationship with the space as two different objects.


– Kant: Space is a systematic concept that was created in our minds to explain the perception received by sensory sensations with other matters relating to us as subjects. For example: What do I feel about this space will be different with you, because I have a different concept of space to explain than your concept of space.


– Einstein: space caused by the movement of objects where the concept is in relative nature, which resulted in differences in time experienced by each object. For example: What I feel in this room, will be different from what you feel, because each of us moving in different space systems and different time.



When reading through my understanding of the opinions by several philosophers above, then we can conclude that space is always different for everyone, or every human being who is therein. When I am in Hall A, and you also are in Hall A, what we experience is entirely different. In this case, understanding more complex spaces can be described by Einstein’s relativity theory. But, an architect is not a physicist, but one who demonstrated in a parody of life, how to make the philosophy of space becomes evident in architectural design.

Ruang terbuka lahan kosong Suga Ibi dengan kolam dan tenda biru sederhananya, serta kursi-kursi desain Samoke

DALAM PEMBICARAAN SAYA, SAMOKE DAN SUGA IBI
Dalam dunia arsitektur, ruang lebih diidentifikasi sebagai sebuah kesadaran akan kondisi lokal yang melingkupi pengguna ruang tersebut. Dalam pembicaraan ini, kami mulai mengupas tentang apa itu ruang, yang sangat penting dalam arsitektur. Ruang bisa berarti banyak hal, ruang dalam konteks kamar-kamar rumah, ruang hall, ruang rapat, ruang terbuka hijau, atau mungkin ruang yang tidak nyata, seperti ruang batin, ruang pemikiran, dan sebagainya. Dalam pembicaraan ini, kami ingin mengungkapkan, setidaknya melalui kata-kata, definisi ruang atau space.
Baik saya, Samoke dan Suga Ibi mulai membuat definisi awal tentang ruang.

SUGA IBI
Definisi ruang adalah ”apa yang bisa kita rasakan dengan batas indera kita, indera perasa, indera penglihatan, indera pendengaran dan sebagainya. Dalam contoh ruang yang sedang kami rasakan saat ini, kami bisa mendengar suara burung berkicau, yang melengkapi sebuah ruang. Apakah sebuah ruang itu tinggi, rendah, pendek, atau apapun itu tidak masalah. Misalnya: ruang angkasa tidak bisa terkira, tapi dengan ‘merasakan’ melalui batas nalar kita, kita mengetahui ada yang disebut sebagai ‘ruang’ angkasa.
Suga Ibi ditemani minuman sederhana dan ‘pohung keju’ hangat yang sempat kami beli di jalan sebelum ngobrol disini.
Dalam konteks ruang yang lebih besar ada ruang kota, ruang negeri, dan ruang yang lainnya. Ruang itu pada akhirnya adalah sebuah batas. Bila kita berpikiran ruang dalam rumah, maka berupa kamar kamar. Tapi begitu kita berpikir tentang ruang tata kota, misalnya, maka kita berpikir tentang ruang yang lebih besar, dan begitu seterusnya. Ruang yang dihasilkan bisa dirasakan sebagai sensasi ruang yang diharapkan, secara fisik dan psikologis, dalam skala ruang kecil maupun ruang yang lebih besar seperti ruang kota. Ruang yang dirasakan oleh arsitek lebih bisa terdefinisikan, seperti ruang yang aman, ruang yang nyaman. Hal ini berbeda dari ruang dalam sastra, seni, ekonomi, dan sebagainya.
Adalah merupakan tugas arsitek untuk membuat ruang itu terasa seperti apa. Apakah kita merasa tertekan dengan kehadiran sebuah ruang, ataukah ruang bisa dibuat atau didesain agar ia terasa terbuka, dan sebagainya.

PROBO HINDARTO
“Ruang adalah sesuatu yang bisa diisi”. Arsitektur adalah seni yang bisa diwujudkan (berdimensi). Sebuah ruang dalam arsitektur yang dihasilkan oleh arsitek, tidak bisa begitu saja lahir tanpa pemahaman tentang ruang dan elemen-elemen lain yang berhubungan dengannya. Sebut saja elemen lain ini seperti kondisi sosial, ekonomi maupun kejiwaan dalam hubungan antar individu yang terlibat dan antar individu dan lingkungannya.
Sebelum merancang, sebaiknya arsitek memiliki imajinasi dan pengetahuan tentang ruang, baik imajiner maupun ruang tempat perubahan akibat arsitektur yang akan terjadi. Arsitek harus mereka-reka terlebih dahulu sebuah ruang melalui alat yang didapat dari pengalaman inderawi untuk menghasilkan ruang yang lebih ideal. Inilah yang dilakukan dalam proses desain melalui proses men-sketsa, menggambar dan membuat maket. Sebuah maket merupakan replika ruang dalam bentuk yang kecil, dan lebih mewakili ruang yang ingin kita ciptakan, karena maket berada dalam dimensi yang sama dengan yang kita rasakan saat ini (tidak hanya sekedar gambar).

Stonehenge

Hubungan dengan alam adalah penting, karena alam, memiliki kesan ruang yang un-predictable (tidak terkontrol), sedangkan arsitektur itu dibuat agar ruang menjadi ’predictable’ (terkontrol). Ini adalah sifat dasar manusia untuk mempertahankan teritori atau batasan ruang dengan menciptakan batasan yang dapat dikuasainya, dengan kata lain: ‘diatur’.
Bila kita terlalu membebaskan alam untuk mengejutkan kita dengan kesan2 ruang yang terlalu liar, maka ruang arsitektur yang seharusnya ‘predictable’ itu tidak menjadi ruang yang secure (aman), karena kita sebagai manusia secara biologis membutuhkan ruang untuk membatasi kita dengan berbagai gangguan alam. Tingkat ideal sebuah ruang akhirnya ditentukan oleh gagasan awal dari imajinasi, dan hasil arsitektur terbangun yang dicoba dihasilkan oleh sang arsitek. Hal ini ditentukan oleh pengetahuan dan cara mengimplementasikan sebuah konsep desain yang dimiliki oleh arsitek berdasarkan misi yang diembannya terhadap sebuah project.

SAMOKE
“Ruang adalah dimensi suasana yang batasannya bisa kita jangkau”, itulah logikanya. ”Sesuatu yang tertangkap, melalui indera kita”. Ruang itu batas, apakah itu besar atau kecil, adalah sebatas kita melihat. Semampu kita saat mendengar, menggema, sesuai apa yang bisa tertangkap oleh indera kita. Dalam arsitektur, kita mendefinisikan ruang melalui karya arsitektur. Misalnya ruang ATM itu kecil tapi dia terasa sejuk, atau ruang hall yang besar tapi dia terasa sumpek.
Setelah kita berpraktisi sebagai arsitek, maka pemahaman kita sebagai arsitek akan lebih dalam, tidak lagi seperti saat kita berhadapan dengan kertas dan pena dalam dunia akademis. Hal ini mengingatkan kita bahwa pendidikan arsitektur saat ini masih selalu berkutat pada ruang sebagai ‘bentuk’, bukan ruang dengan ‘skala’. Tradisi dari ruang angan menuju ruang rekaan seharusnya dibarengi dengan bahasa akademis yang sifatnya klausalitas. Mestinya jika diajarkan tentang skala, maka harus diajarkan tentang niskala. Bila diajarkan tentang concrete, maka harus diajarkan yang concave.

Street Barber / Indonesia, Yogyakarta
Ruang yang terjadi, akibat selembar plastik biru yang membentuk sedikit pengatapan yang terlihat rapuh, dan menyandarkan diri pada realitas yang jauh lebih besar dalam ruang publik kota (Space occurs, due to a blue plastic sheet that forms a visible fragile roofing, and leaned back in reality much greater in the public space of the city.)

IN MY CONVERSATION, ME, SAMOKE and SUGA IBI

In the world of architecture, space is identified as an awareness of local conditions surrounding the user. In this conversation, we started to peel about what is space, which is very important in architecture. Space can mean many things, space in the context of house rooms, hall space, meeting rooms, a green open space, or maybe not real space, such as inner space, space of thought, and so on. In this talk, we want to express, at least through the words, the definition of space.

Neither I, and Suga Ibi and Samoke start making initial definition of the space.

Suga IBI

Spatial definition is “what can we feel the limits of our senses, sense of taste, sight, sense of hearing and so on. In the example we’re feeling right now, we could hear birds singing, which complements a room. Was it a space high, low, short, or whatever it does not matter. For example: space can not measure, but with a ‘feel’ through the limits of our reasoning, we know no such thing as ‘space’ space.

In the context of the larger city space, land space, and other spaces. The room was in the end is a limit. When we think of space in the house, the rooms of room. But once we think about the urban planning space, for example, then we think about the larger space, and so on. The resulting space can be perceived as a sensation of space is expected, physically and psychologically, in a small space scale and a larger space such as city hall. Space felt by the architect could be defined more as a safe, comfortable space. This is different from space in literature, art, economics, and so on.

It is the task of architects to create a space that feels like. Do we feel pressured by the presence of a space, or space can be made or designed so that it was open, and so on.

Probo Hindarto

“Space is something that can be filled”. Architecture is the art which can be realized (dimensionless). A space in architecture produced by the architect, could not just born without an understanding of space and other elements associated with it. Call it the other elements like social conditions, economic or psychological in the relationships between the individuals involved and between individuals and the environment.

Before designing, architects should have the imagination and knowledge of space, both imaginary and the space where the architecture changes due to happen. Architect must concoct a space in advance by means of experience gained from the senses to produce a more ideal space. This is done in the design process through a process to sketch, draw and make models. A model is a replica of the space in a smaller form, and more representative of space we want to create, because the model is in the same dimension that we are feeling right now (not just pictures).

Relationship with nature is important, because nature, have the impression of the un-predictable (not controlled), whereas the architecture was created to be the ‘predictable’ (controlled). This is human nature to defend territory or space limitations by creating boundaries that can be mastered, in other words: being ‘set’.

If we are too free the nature to surprise us with impressions of space which is too wild, the architectural space that should be ‘predictable’ will not be secures room (safe), because we as humans are biologically need to limit our space from variety of natural disturbances. The ideal level of a space finally determined by the initial idea of the imagination, and the results are attempted to be in architecture produced by the architect. This is determined by knowledge and how to implement a design concept which is owned by the architect based on their missions to a project.

SAMOKE

“Space is the dimension of the atmosphere within the limit of our reach”, that’s logic. “Something caught, through our senses”. Space is the limit, whether it is big or small, is the extent we see. We know space, when he heard, echoing, as what could be captured by our senses. In architecture, we define space through architecture. For example ATM room was small but it is cool, or a large hall space, but felt scary for claustrophobic.

After we practice as an architect, then our understanding will be deeper, no longer like when we are dealing with paper and pen in the academic world. It reminds us that the current architectural education is always struggling in space as the ‘form’, not the space with the ‘scale’. The tradition of fantasy into the living room should be accompanied by a fictitious academic language clausality of nature. If properly taught, scale should be taught about the timeless. When taught about concrete, it must be taught the concave.

Penehgahnya adalah tingkat rekaan sosial, yaitu sejauh mana secara individual calon arsitek maupun arsitek memiliki rekaan sosial yang bisa diwujudkan dalam desain. Sejauh mana ia memiliki pengetahuan tentang kondisi sosial disekitarnya. Artinya, ruang dalam arsitektur lebih luas saat kita berpraktek. Menurut pak Eko Prawoto, disinilah peran arsitek dalam menghasilkan rancangan arsitektur, seperti memperhatikan arsitektur tropis. Seharusnya arsitektur tropis itu lebih banyak ruang luarnya daripada ruang dalamnya.

Misalnya, sebuah ruang yang kita tempati untuk berbincang saat ini (tanah kosong milik Suga Ibi), bisa membuat kita melakukan sesuatu secara terus menerus karena kondisinya yang tidak mengekang, tidak membuat kita pasif dalam duduk diam, atau tidur, atau tidak melakukan apapun. Wujudnya bisa ruang komunal, ruang genial (ruang yang menghidupkan). Sayangnya saat ini, tidak banyak lagi ruang alun alun, atau jalan yang menampung konsep konsep ruang genial. Ruang genial selalu membangkitkan orang untuk beraktivitas, secara sosial dan saling mendukung.

Terminologi Samoke: Ruang angan dan Ruang rekaan
Ruang angan adalah ruang yang ’dikhayalkan’ dulu oleh perancang (didalam imajinasi perancang), kemudian diawali dalam ruang rekaan (arsitektur yang dilahirkan ke dunia) sebagai sketsa. Ruang angan, untuk menuju ruang rekaan adalah sebuah seni yang diaplikasikan. Perbedaan arsitek dan seniman adalah adanya dimensi yang bisa diwujudkan.
Ruang angan dan ruang rekaan itu menjadi lebih penting, karena itu awal dari sebuah idealisme. Misalnya ada seorang arsitek ingin membuat ruang arsitektur yang seperti stasiun MIRR, maka untuk membuat sebuah arsitektur yang seperti itu kita membutuhkan awalan dalam ruang angan, sebelum ia diwujudkan dalam ruang rekaan.
Seharusnya arsitek akan menemukan ruang rekaan yang ideal ketika ia dalam ber-ruang angan dan ber-ruang rekaan dapat menyerap semaksimal mungkin lokasi desain yang akan dibuat. mendesain sebuah ruang. Artinya; seorang arsitek akan lebih baik dalam mendesain, ketika ia tahu benar kondisi lokasi dimana karya arsitekturnya akan dibangun. Kekuatan rekaan ruang rasa itu menjadi penentu berhasil tidaknya sebuah ruang menjadi ruang rekaan yang ideal.
KESIMPULAN
Ruang, sebagai salah satu dimensi paling berpengaruh dalam arsitektur, terasa sangat berbeda dalam konteks seni yang bisa diwujudkan ini, bila dibandingkan dengan konsep ruang menurut matematika dan filsafat. Untuk membuat sebuah ruang memiliki makna lebih dari sekedar boks 3x4m, dengan plafon dan lantai, adalah merupakan tugas arsitek… Mungkin juga lebih dari itu…. penciptaan ruang batin yang terjadi dalam diri seorang penderita, yaitu pengguna rancangan kita.
Konteks ruang dalam pandangan masing-masing praktisi boleh jadi berbeda, seperti yang terjadi dalam pandangan saya, Samoke dan Suga Ibi. Meskipun pada dasarnya menuju pada sebuah kesimpulan yang tidak jauh berbeda. Barangkali hal ini, karena kami punya ruang pemikiran yang berbeda, dan ruang gerak yang (sempat) berbeda. Meminjam dan mengubah sedikit terminologi Samoke.

The middle understanding is the level of social invention, namely the extent to which an individual prospective architects and architects have a social invention that can be realized in the design. To what extent he has the knowledge about the social conditions around it. That is, space within the broader architecture when we practice. According to Eko Prawoto, this is where the role of architects in architectural design to produce, such as to implement tropical architecture. Tropical architecture that cares about space than the form outside it.

For example, a space that we are talking in right now (vacant land owned by Suga Ibi), can make us do something continuously because the condition is not reined in, not make us passive in sitting still, or sleep, or do not do anything. The form could be communal space, genial space. Unfortunately today, not much more social space, or the way the concept of space to accommodate the concept of Genial space. Genial space always aroused people to be active, socially and support each other.

Samoke’s terminology: Space imagination and invention of space

Fantasy space is space that is ‘imaginary’ used by the designer (in the designer’s imagination), then starting in the invention (architecturally born into the world) as a sketch. Space we dream, to get to the invention is an applied art. Differences between architects and artists is a dimension that can be realized.

Thought Space and imaginary space becomes more important, because it was the beginning of an idealism. For example there is an architect wants to create architectural spaces such as MIRR station, then to create an architecture like that we need a prefix of the space, before realizing in the invention.

Architect should be to find the ideal imaginary space when he was living in imagination and invention were able to absorb the maximum extent possible for design locations that will be made. designing a space. Means; an architect will be better in the design, when he knew the location where the work conditions of the architecture will be built. Strength fictitious sense of space that determines the success or failure of a space into an ideal fictitious space.

CONCLUSION

Space, as one of the most influential dimension in architecture, is very different in the context of art that can be realized, when compared with the concept of space according to the mathematics and philosophy. To create a space to have more meaning than a 3x4m box, with the ceiling and floor, is a task of the architect … Maybe more than that …. creation of inner space which occurred in a patient, the user of our design.

In the context of each view may be different practitioners, as happened in my view, Suga, and Samoke. Although in principle lead to a conclusion that is not much different. Perhaps this is because we have different thinking space, and space for a (time) is different.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

"Bocoran" buku arsitektur rumah tinggal Probo Hindarto yang akan segera terbit

astudioarchitect.com — Mungkin banyak diantara pembaca astudio yang bertanya-tanya mengapa artikel di astudio tidak banyak diupload akhir-akhir ini. Baiklah, saya juga sudah rindu bertegur sapa dengan pembaca blog astudio. Kali ini sekedar update saja tentang apa yang saya lakukan belakangan ini. Menulis buku. Buku saya yang lalu tentang “Rumah Bergaya Arsitektur Mediterania”, “Warna untuk desain interior”, dan “Inspirasi Rumah Sehat di Perkotaan“. Ya, mungkin sudah lama saya tidak menulis buku lagi. Jadi senggangnya waktu saya coba untuk pakai menulis tentang rumah dan arsitektur.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Maybe a lot of readers of astudio blog wondered why the articles are not much updated lately. Well, I’ve missed to greet astudio blog readers. This time it just updates about what I’m doing lately. Write a book. My last book about the “House with Mediterranean Architecture style”, “Color for interior design”, and “Inspiration for Healthy Urban House”. Yes, maybe it’s been long for me to write another book. So I spare my time to write about architecture.

Topik buku arsitektur ini adalah tentang rumah tinggal, seperti buku-buku saya sebelumnya. Dua hari lalu, saya sudah selesai menuliskan buku tentang rumah tinggal, yang merupakan kumpulan banyak artikel yang dibendel, dan diformat dalam format yang segar. Bila Anda tahu buku-buku saya sebelumnya, mungkin tak asing dengan gaya menulis saya untuk buku-buku yang selanjutnya.
Gambar kiri: buku-buku saya sebelumnya. Sepertinya di pasaran sudah jarang. Hanya buku “Inspirasi Rumah Sehat di Perkotaan” yang dicetak ulang.
Oh ya, sebelum saya meneruskan, pada artikel ini sengaja saya menggunakan banyak kata ‘saya’ sebagai orang pertama (dalam blog, biasanya memang kita menulis dengan sudut pandang ‘saya’). Jarang-jarang rupanya saya menggunakan kata ‘saya’ dalam artikel-artikel saya. Mungkin perubahan ini lebih banyak diterapkan dalam artikel-artikel yang lainnya setelah ini. Mengapa? Mungkin, saya ingin lebih dekat dengan para pembaca astudio ya:)

Topic of this book is about architecture of houses, like my books before. Two days ago, I had finished writing a book about home design, which is a collection of many articles, and formatted in a fresh format. If you know my books before, probably you are familiar with my writing style of this book.

Oh yes, before I continue, in this article I deliberately use a lot of the word ‘I’ as the writing style (in blogs, usually we write it with the point of view ‘I’). Apparently it is rare that I use the word ‘I’ in my articles. Perhaps this change is going to be in the articles others after this. Why? Maybe, I wanted to be closer to my readers in astudio:)

Kembali tentang penulisan buku. Memang dalam 1 tahun belakangan ini (sejak terakhir buku “Inspirasi Rumah Sehat di Perkotaan” terbit) saya punya beberapa draft buku, seputar arsitektur rumah tinggal dan beberapa tentang topik lain seperti ilmu komputer atau jaringan sosial seperti facebook. Entah kenapa, beberapa draft buku, mungkin 3-4 draft menganggur begitu saja dalam laptop saya. Meskipun sudah selesai, atau separuh, atau 3/4 selesai. Kebiasaan saya yang suka berpikir meloncat-loncat menjadi penyebab utama saya menuliskan beberapa draft buku dalam waktu bersamaan.

Sehingga, beberapa waktu lalu, salah satu draft saya yang saya kirimkan dengan agak malas-malasan diterima penerbit Andi, dan diputuskan untuk dimuat. Perlu diketahui, penerbit Andi lebih mengkhususkan diri ke buku-buku komputer seperti yang Anda lihat di toko-toko buku. Jadi, untuk genre buku arsitektur rumah agak lama diputuskannya. Tapi itu tidak apa-apa, lagipula saya juga terlambat mengirimkan softcopy akibat kesibukan yang lain.
Gambar kiri: “Bocoran” cover buku yang saya buat sebagai saran untuk cover buku berformat semi majalah kepada penerbit. Tulisan judulnya saya buat kabur agar lebih misterius… hehe. Perlu diketahui, penerbit selalu merevisi ulang format cover dan format buku yang dikirimkan penulis.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Jadi, kesibukan saya akhir-akhir ini selain menggambar desain rumah untuk klien, juga mencoba kembali menulis dengan lebih fokus, untuk menyelesaikan beberapa project buku yang tertunda. Saya harap buku tentang rumah, taman dan tren arsitektur yang berformat semi majalah baru-baru ini akan bisa diterima oleh pembaca sekalian… dan semoga saya bisa segera menyelesaikan salah satu buku arsitektur rumah tinggal selanjutnya. Mengapa berformat majalah? Karena sebenarnya cita-cita saya adalah membuat majalah dengan topik arsitektur rumah tinggal. Apakah cita-cita ini bisa berhasil? Sepertinya saya membutuhkan investor… hehehe … Memang selama ini saya sudah ‘kenyang’ menulis tentang arsitektur rumah tinggal, dan menjadi narasumber serta pengasuh rubrik konsultasi rumah tinggal di majalah dan koran-koran di seluruh Indonesia.
Buku selanjutnya, topiknya tentang keindahan atau estetika dalam arsitektur rumah tinggal, dengan referensi berbagai project saya, hasil hunting foto, serta dari karya rekan-rekan sejawat arsitek yang ‘nitip’ atau saya untuk ‘dititip’ hasil karyanya dalam buku. Tentang judul bukunya, belum diputuskan.
Selamat pagi, siang, sore, malam Indonesia. Semoga tetap tersenyum… dan mari kita tetap berkarya membangun bangsa:)

Back about writing a book. Indeed in recent 1 year (since the last book, “Inspiration of Healthy Urban House” rising) I have a few drafts of books, about the architecture of houses and a few other topics such as computer science or social networks like facebook. For some reason, several drafts of books, maybe 3-4 draft just idle in my laptop. Although already finished, or half, or 3 / 4 finished. My habit of thinking like jumping up and down the main cause me to write several drafts of books at the same time.

Thus, some time ago, one of my draft that I sent a little lazy publishers received Andi, and decided to load. Please note, Andi publishers to more specialized computer books as you can see in bookstores. So, for the genre of architecture books home for a while decided. But it was not anything, furthermore I am also late to send softcopy from other activities.
 

book cover that I made a suggestion for a semi-formatted book covers to magazine publishers. Writing the title I made vague to be more mysterious … hehe. Please note, the publisher is always revise and re-cover format book format sent authors.

So, my busy these days other than home design drawing for the client, also tried to re-write with more focus, to complete a pending book project. I hope the book about home, garden and architectural trends of semi-formatted magazine recently will be accepted by readers as well … and hopefully soon I can finish one book the next residential architecture. Why the magazine format? Because actually my goal is to create a magazine with the topic of residential architecture. Are these ideals can be successful? Looks like I need an investor … hehehe … It’s been my already ‘full’ writing about residential architecture, and the resource persons and caregivers stay home consultation section in magazines and newspapers throughout Indonesia.

The next book, the topic of beauty or aesthetics in residential architecture, with reference to my various projects, the hunting photos, as well as from the work of colleagues architects ‘nitip’ or my ‘dititip’ handiwork in the book. About the title of his book, not yet been decided.
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

"Bocoran" buku arsitektur rumah tinggal Probo Hindarto yang akan segera terbit

astudioarchitect.com — Mungkin banyak diantara pembaca astudio yang bertanya-tanya mengapa artikel di astudio tidak banyak diupload akhir-akhir ini. Baiklah, saya juga sudah rindu bertegur sapa dengan pembaca blog astudio. Kali ini sekedar update saja tentang apa yang saya lakukan belakangan ini. Menulis buku. Buku saya yang lalu tentang “Rumah Bergaya Arsitektur Mediterania”, “Warna untuk desain interior”, dan “Inspirasi Rumah Sehat di Perkotaan“. Ya, mungkin sudah lama saya tidak menulis buku lagi. Jadi senggangnya waktu saya coba untuk pakai menulis tentang rumah dan arsitektur.

Maybe a lot of readers of astudio blog wondered why the articles are not much updated lately. Well, I’ve missed to greet astudio blog readers. This time it just updates about what I’m doing lately. Write a book. My last book about the “House with Mediterranean Architecture style”, “Color for interior design”, and “Inspiration for Healthy Urban House”. Yes, maybe it’s been long for me to write another book. So I spare my time to write about architecture.

Topik buku arsitektur ini adalah tentang rumah tinggal, seperti buku-buku saya sebelumnya. Dua hari lalu, saya sudah selesai menuliskan buku tentang rumah tinggal, yang merupakan kumpulan banyak artikel yang dibendel, dan diformat dalam format yang segar. Bila Anda tahu buku-buku saya sebelumnya, mungkin tak asing dengan gaya menulis saya untuk buku-buku yang selanjutnya.
Gambar kiri: buku-buku saya sebelumnya. Sepertinya di pasaran sudah jarang. Hanya buku “Inspirasi Rumah Sehat di Perkotaan” yang dicetak ulang.
Oh ya, sebelum saya meneruskan, pada artikel ini sengaja saya menggunakan banyak kata ‘saya’ sebagai orang pertama (dalam blog, biasanya memang kita menulis dengan sudut pandang ‘saya’). Jarang-jarang rupanya saya menggunakan kata ‘saya’ dalam artikel-artikel saya. Mungkin perubahan ini lebih banyak diterapkan dalam artikel-artikel yang lainnya setelah ini. Mengapa? Mungkin, saya ingin lebih dekat dengan para pembaca astudio ya:)

Topic of this book is about architecture of houses, like my books before. Two days ago, I had finished writing a book about home design, which is a collection of many articles, and formatted in a fresh format. If you know my books before, probably you are familiar with my writing style of this book.

Oh yes, before I continue, in this article I deliberately use a lot of the word ‘I’ as the writing style (in blogs, usually we write it with the point of view ‘I’). Apparently it is rare that I use the word ‘I’ in my articles. Perhaps this change is going to be in the articles others after this. Why? Maybe, I wanted to be closer to my readers in astudio:)

Kembali tentang penulisan buku. Memang dalam 1 tahun belakangan ini (sejak terakhir buku “Inspirasi Rumah Sehat di Perkotaan” terbit) saya punya beberapa draft buku, seputar arsitektur rumah tinggal dan beberapa tentang topik lain seperti ilmu komputer atau jaringan sosial seperti facebook. Entah kenapa, beberapa draft buku, mungkin 3-4 draft menganggur begitu saja dalam laptop saya. Meskipun sudah selesai, atau separuh, atau 3/4 selesai. Kebiasaan saya yang suka berpikir meloncat-loncat menjadi penyebab utama saya menuliskan beberapa draft buku dalam waktu bersamaan.

Sehingga, beberapa waktu lalu, salah satu draft saya yang saya kirimkan dengan agak malas-malasan diterima penerbit Andi, dan diputuskan untuk dimuat. Perlu diketahui, penerbit Andi lebih mengkhususkan diri ke buku-buku komputer seperti yang Anda lihat di toko-toko buku. Jadi, untuk genre buku arsitektur rumah agak lama diputuskannya. Tapi itu tidak apa-apa, lagipula saya juga terlambat mengirimkan softcopy akibat kesibukan yang lain.
Gambar kiri: “Bocoran” cover buku yang saya buat sebagai saran untuk cover buku berformat semi majalah kepada penerbit. Tulisan judulnya saya buat kabur agar lebih misterius… hehe. Perlu diketahui, penerbit selalu merevisi ulang format cover dan format buku yang dikirimkan penulis.

Jadi, kesibukan saya akhir-akhir ini selain menggambar desain rumah untuk klien, juga mencoba kembali menulis dengan lebih fokus, untuk menyelesaikan beberapa project buku yang tertunda. Saya harap buku tentang rumah, taman dan tren arsitektur yang berformat semi majalah baru-baru ini akan bisa diterima oleh pembaca sekalian… dan semoga saya bisa segera menyelesaikan salah satu buku arsitektur rumah tinggal selanjutnya. Mengapa berformat majalah? Karena sebenarnya cita-cita saya adalah membuat majalah dengan topik arsitektur rumah tinggal. Apakah cita-cita ini bisa berhasil? Sepertinya saya membutuhkan investor… hehehe … Memang selama ini saya sudah ‘kenyang’ menulis tentang arsitektur rumah tinggal, dan menjadi narasumber serta pengasuh rubrik konsultasi rumah tinggal di majalah dan koran-koran di seluruh Indonesia.
Buku selanjutnya, topiknya tentang keindahan atau estetika dalam arsitektur rumah tinggal, dengan referensi berbagai project saya, hasil hunting foto, serta dari karya rekan-rekan sejawat arsitek yang ‘nitip’ atau saya untuk ‘dititip’ hasil karyanya dalam buku. Tentang judul bukunya, belum diputuskan.
Selamat pagi, siang, sore, malam Indonesia. Semoga tetap tersenyum… dan mari kita tetap berkarya membangun bangsa:)

Back about writing a book. Indeed in recent 1 year (since the last book, “Inspiration of Healthy Urban House” rising) I have a few drafts of books, about the architecture of houses and a few other topics such as computer science or social networks like facebook. For some reason, several drafts of books, maybe 3-4 draft just idle in my laptop. Although already finished, or half, or 3 / 4 finished. My habit of thinking like jumping up and down the main cause me to write several drafts of books at the same time.

Thus, some time ago, one of my draft that I sent a little lazy publishers received Andi, and decided to load. Please note, Andi publishers to more specialized computer books as you can see in bookstores. So, for the genre of architecture books home for a while decided. But it was not anything, furthermore I am also late to send softcopy from other activities.
 

book cover that I made a suggestion for a semi-formatted book covers to magazine publishers. Writing the title I made vague to be more mysterious … hehe. Please note, the publisher is always revise and re-cover format book format sent authors.

So, my busy these days other than home design drawing for the client, also tried to re-write with more focus, to complete a pending book project. I hope the book about home, garden and architectural trends of semi-formatted magazine recently will be accepted by readers as well … and hopefully soon I can finish one book the next residential architecture. Why the magazine format? Because actually my goal is to create a magazine with the topic of residential architecture. Are these ideals can be successful? Looks like I need an investor … hehehe … It’s been my already ‘full’ writing about residential architecture, and the resource persons and caregivers stay home consultation section in magazines and newspapers throughout Indonesia.

The next book, the topic of beauty or aesthetics in residential architecture, with reference to my various projects, the hunting photos, as well as from the work of colleagues architects ‘nitip’ or my ‘dititip’ handiwork in the book. About the title of his book, not yet been decided.
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Furniture Tempat Tidur (Bed) yang ramah lingkungan

I built a bed.astudioarchitect.com Furniture bed saat ini dibuat dari beragam material yang eco-friendly. Mulai dari kayu daur ulang, bambu, anyaman eceng gondok, dan sebagainya. Kriteria material furniture bed yang berwawasan lingkungan sebenarnya simple saja, misalnya tidak memakai kayu dengan menebang pohon, atau memiliki andil terhadap kerusakan lingkungan. Jikalau memakai kayu pun, harus dipikirkan untuk menggunakan kayu yang dapat dibudidayakan dengan cepat, atau dapat ditebang, kemudian ditanam kembali dalam waktu relatif singkat.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Furniture beds currently made of various materials that are eco-friendly. Starting from recycled wood, bamboo, woven water hyacinth, and so on. Criteria of furniture materials are environmental friendly bed simple fact alone, for example, do not use wood to cut down trees, or have contributed to environmental damage. If using wood too, should be considered for the use of wood can be grown quickly, or can be logged and then replanted in a relatively short time.

Hanging

Bila kita memakai bed dari bambu, misalnya, yang merupakan material dari tanaman bambu yang mudah ditanam dan dipanen dalam lima tahun, maka kita membantu mengurangi penggunaan kayu. Selain itu, bambu juga dapat ditanam di mana saja di daerah tropis, tidak seperti kayu-kayu tertentu yang membutuhkan lebih banyak treatment khusus. Bambu bisa didapatkan di mana saja, sehingga ia lebih ramah lingkungan. Mengapa? Salah satu faktornya adalah karena untuk mendapatkan bambu, kita tidak perlu memindahkannya dari tempat yang jauh. Namun bambu yang baik untuk furniture bed harus diolah dengan pengawetan yang memadai, sehingga tidak mudah lapuk.
Faktor yang menentukan bahan material furniture bed dikatakan ramah lingkungan atau tidak, bisa juga dilihat dari cara mendapatkannya. Bila kita memakai kayu Kalimantan, misalnya, maka kita akan menebang pohon di Kalimantan, memindahkannya dari Kalimantan ke pulau tempat kita tinggal, dan baru menggunakannya. Proses ini membutuhkan kita menebang, kemudian mencemari lingkungan dengan polusi kendaraan yang dibutuhkan untuk memindahkannya.
I built a bed.
Material bekas seperti kayu bekas bisa juga dibuat menjadi furniture menarik
Dari segi desain, tidak mengherankan bahwa bed yang dibuat dari bahan selain kayu banyak yang terlihat lebih eksotis, menarik, bahkan modern. Hal ini karena kebanyakan bed dibuat dari kayu, sehingga material lain akan terasa beda. Material kayu bekas memiliki corak kayu yang tua dan terlihat garis-garis kuatnya, dengan sedikit sentuhan desain modern, akan tampil gaya dengan tampilan retro dan terlihat tua. Material rotan, terkenal dengan tekstur kuatnya yang digemari karena dibuat dengan cara dianyam dan butuh kerajinan khusus yang tidak semua orang bisa membuatnya. Dewasa ini, juga dikembangkan bed yang dibuat dari material sintetis yang berasal dari plastik. Bahan sintetis yang mirip rotan ini tidak kalah menariknya dan merupakan bahan alternatif selain kayu.
Dari sisi material, bed yang ramah lingkungan juga dibuat agar tidak menimbulkan polusi dalam ruang tidur. Polusi apakah yang bisa timbul dari material furniture bed? Biasanya kayu olahan dibuat dengan bahan lem sintetis, melamin, cat berbahan dasar minyak, dan beragam material berbahaya lainnya. Bahan konvensional untuk material bed ini tidak ramah lingkungan karena menghasilkan gas berbahaya yang dapat menimbulkan kangker. Untuk lebih amannya, pilihlah bed yang berbahan dasar bahan ramah lingkungan seperti kayu (lebih diutamakan kayu bekas, karena mengurangi penebangan pohon), dan finishing berbahan dasar air dan tidak mengeluarkan gas berbahaya.

If we use bed of bamboo, for instance, which is the material of bamboo plants easily grown and harvested within five years, then we help reduce the use of wood. In addition, bamboo can also be planted anywhere in the tropics, not like a particular wood that require more specialized treatment. Bamboo can be found anywhere, so he is more environmentally friendly. Why? One factor is that to get the bamboo, we do not have to move it from afar. But a good bamboo for furniture beds should be treated with adequate preservation, so to avoid getting rotten.

The factors that determine the bed furniture materials say environmentally friendly or not, can also be seen from how to get it. If we use the wood of Borneo, for example, then we will cut down trees in Borneo, move it to the island of Borneo where we live, and just use it. This process requires us to cut down, and then pollute the environment with pollution vehicles needed to move it.

Materials such as lumber used can also be made into attractive furniture

In terms of design, not surprising that the beds are made of materials other than wood that looks much more exotic, interesting, and even modern. This is because most of the beds made of wood, other materials that will feel different. Wood materials used have an old wooden style and looks strong lines, with a little touch of modern design, will look stylish with a retro look and look old. Materials: rattan, famous for its strong texture is favored because it is made by woven and need special craft not everyone can make it. Today, also developed bed made from synthetic materials derived from plastic. Synthetic materials like rattan is no less interesting and is an alternative material other than wood.

In terms of material, environment-friendly beds are also made so as not to cause pollution in the bedroom. What pollution can arise from the material bed furniture? Wood processing is usually made with synthetic glue, melamine, oil-based paint, and various other hazardous materials. Conventional materials for the bed material is not environmentally friendly because it produces harmful gases which can cause cancer. For more on the safe side, choose a bed-based eco-friendly materials such as wood (wood preferred the former, because it reduces the cutting of trees), and water-based finishing and makes no dangerous gases.

ambiece avec violon...

Desain bed pun harus disesuaikan dengan gaya hidup saat ini yang modern dan dinamis. Furniture dari bahan alternatif selain kayu dapat tampil memukau asalkan didesain dengan baik. Dipadukan dengan matras yang baik dari bahan ramah lingkungan. Dewasa ini, banyak material matras dibuat dari katun dan karet alami yang tidak mengeluarkan gas berbahaya, serta dapat menangkal bakteria secara alami.
Bagaimana kita memilih bed yang baik untuk ruang tidur kita, adalah sebuah pilihan yang menentukan tingkat kesehatan, dan hubungan dengan konsep green design. Alangkah baiknya bila kita memiliki preferensi khusus dalam memilih furniture bed yang ramah lingkungan, sehingga kualitas hidup dan alam menjadi meningkat.

Design of the bed must be adjusted to this lifestyle of a modern and dynamic. Furniture of materials other than wood alternatives can be provided fascinating look well designed. Coupled with a good mattress from environmentally friendly materials. Today, many materials made of cotton mattresses and natural rubber are not hazardous gases out, and can counteract the natural bacteria.

How do we choose a good bed for our bedroom, is a choice that determines the level of health, and relationships with the concept of green design. It would be nice if we have a special preference in choosing furniture eco-friendly beds, so the quality of life and nature to be increased.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Furniture Tempat Tidur (Bed) yang ramah lingkungan

I built a bed.astudioarchitect.com Furniture bed saat ini dibuat dari beragam material yang eco-friendly. Mulai dari kayu daur ulang, bambu, anyaman eceng gondok, dan sebagainya. Kriteria material furniture bed yang berwawasan lingkungan sebenarnya simple saja, misalnya tidak memakai kayu dengan menebang pohon, atau memiliki andil terhadap kerusakan lingkungan. Jikalau memakai kayu pun, harus dipikirkan untuk menggunakan kayu yang dapat dibudidayakan dengan cepat, atau dapat ditebang, kemudian ditanam kembali dalam waktu relatif singkat.

Furniture beds currently made of various materials that are eco-friendly. Starting from recycled wood, bamboo, woven water hyacinth, and so on. Criteria of furniture materials are environmental friendly bed simple fact alone, for example, do not use wood to cut down trees, or have contributed to environmental damage. If using wood too, should be considered for the use of wood can be grown quickly, or can be logged and then replanted in a relatively short time.

Hanging

Bila kita memakai bed dari bambu, misalnya, yang merupakan material dari tanaman bambu yang mudah ditanam dan dipanen dalam lima tahun, maka kita membantu mengurangi penggunaan kayu. Selain itu, bambu juga dapat ditanam di mana saja di daerah tropis, tidak seperti kayu-kayu tertentu yang membutuhkan lebih banyak treatment khusus. Bambu bisa didapatkan di mana saja, sehingga ia lebih ramah lingkungan. Mengapa? Salah satu faktornya adalah karena untuk mendapatkan bambu, kita tidak perlu memindahkannya dari tempat yang jauh. Namun bambu yang baik untuk furniture bed harus diolah dengan pengawetan yang memadai, sehingga tidak mudah lapuk.
Faktor yang menentukan bahan material furniture bed dikatakan ramah lingkungan atau tidak, bisa juga dilihat dari cara mendapatkannya. Bila kita memakai kayu Kalimantan, misalnya, maka kita akan menebang pohon di Kalimantan, memindahkannya dari Kalimantan ke pulau tempat kita tinggal, dan baru menggunakannya. Proses ini membutuhkan kita menebang, kemudian mencemari lingkungan dengan polusi kendaraan yang dibutuhkan untuk memindahkannya.
I built a bed.
Material bekas seperti kayu bekas bisa juga dibuat menjadi furniture menarik
Dari segi desain, tidak mengherankan bahwa bed yang dibuat dari bahan selain kayu banyak yang terlihat lebih eksotis, menarik, bahkan modern. Hal ini karena kebanyakan bed dibuat dari kayu, sehingga material lain akan terasa beda. Material kayu bekas memiliki corak kayu yang tua dan terlihat garis-garis kuatnya, dengan sedikit sentuhan desain modern, akan tampil gaya dengan tampilan retro dan terlihat tua. Material rotan, terkenal dengan tekstur kuatnya yang digemari karena dibuat dengan cara dianyam dan butuh kerajinan khusus yang tidak semua orang bisa membuatnya. Dewasa ini, juga dikembangkan bed yang dibuat dari material sintetis yang berasal dari plastik. Bahan sintetis yang mirip rotan ini tidak kalah menariknya dan merupakan bahan alternatif selain kayu.
Dari sisi material, bed yang ramah lingkungan juga dibuat agar tidak menimbulkan polusi dalam ruang tidur. Polusi apakah yang bisa timbul dari material furniture bed? Biasanya kayu olahan dibuat dengan bahan lem sintetis, melamin, cat berbahan dasar minyak, dan beragam material berbahaya lainnya. Bahan konvensional untuk material bed ini tidak ramah lingkungan karena menghasilkan gas berbahaya yang dapat menimbulkan kangker. Untuk lebih amannya, pilihlah bed yang berbahan dasar bahan ramah lingkungan seperti kayu (lebih diutamakan kayu bekas, karena mengurangi penebangan pohon), dan finishing berbahan dasar air dan tidak mengeluarkan gas berbahaya.

If we use bed of bamboo, for instance, which is the material of bamboo plants easily grown and harvested within five years, then we help reduce the use of wood. In addition, bamboo can also be planted anywhere in the tropics, not like a particular wood that require more specialized treatment. Bamboo can be found anywhere, so he is more environmentally friendly. Why? One factor is that to get the bamboo, we do not have to move it from afar. But a good bamboo for furniture beds should be treated with adequate preservation, so to avoid getting rotten.

The factors that determine the bed furniture materials say environmentally friendly or not, can also be seen from how to get it. If we use the wood of Borneo, for example, then we will cut down trees in Borneo, move it to the island of Borneo where we live, and just use it. This process requires us to cut down, and then pollute the environment with pollution vehicles needed to move it.

Materials such as lumber used can also be made into attractive furniture

In terms of design, not surprising that the beds are made of materials other than wood that looks much more exotic, interesting, and even modern. This is because most of the beds made of wood, other materials that will feel different. Wood materials used have an old wooden style and looks strong lines, with a little touch of modern design, will look stylish with a retro look and look old. Materials: rattan, famous for its strong texture is favored because it is made by woven and need special craft not everyone can make it. Today, also developed bed made from synthetic materials derived from plastic. Synthetic materials like rattan is no less interesting and is an alternative material other than wood.

In terms of material, environment-friendly beds are also made so as not to cause pollution in the bedroom. What pollution can arise from the material bed furniture? Wood processing is usually made with synthetic glue, melamine, oil-based paint, and various other hazardous materials. Conventional materials for the bed material is not environmentally friendly because it produces harmful gases which can cause cancer. For more on the safe side, choose a bed-based eco-friendly materials such as wood (wood preferred the former, because it reduces the cutting of trees), and water-based finishing and makes no dangerous gases.

ambiece avec violon...

Desain bed pun harus disesuaikan dengan gaya hidup saat ini yang modern dan dinamis. Furniture dari bahan alternatif selain kayu dapat tampil memukau asalkan didesain dengan baik. Dipadukan dengan matras yang baik dari bahan ramah lingkungan. Dewasa ini, banyak material matras dibuat dari katun dan karet alami yang tidak mengeluarkan gas berbahaya, serta dapat menangkal bakteria secara alami.
Bagaimana kita memilih bed yang baik untuk ruang tidur kita, adalah sebuah pilihan yang menentukan tingkat kesehatan, dan hubungan dengan konsep green design. Alangkah baiknya bila kita memiliki preferensi khusus dalam memilih furniture bed yang ramah lingkungan, sehingga kualitas hidup dan alam menjadi meningkat.

Design of the bed must be adjusted to this lifestyle of a modern and dynamic. Furniture of materials other than wood alternatives can be provided fascinating look well designed. Coupled with a good mattress from environmentally friendly materials. Today, many materials made of cotton mattresses and natural rubber are not hazardous gases out, and can counteract the natural bacteria.

How do we choose a good bed for our bedroom, is a choice that determines the level of health, and relationships with the concept of green design. It would be nice if we have a special preference in choosing furniture eco-friendly beds, so the quality of life and nature to be increased.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Konsep Green Design untuk Furniture masa depan

built-in media cabinetastudioarchitect.com Konsep green design adalah topik yang sangat menarik untuk dibicarakan, karena tuntutan jaman semakin membuka mata kita akan pentingnya melestarikan alam dan sumber daya yang makin menipis. Tidak terkecuali dalam dunia desain furniture dan interior. Terutama karena Indonesia berada di daerah khatulistiwa yang kaya akan sinar matahari, sumber daya alam dan hasil bumi yang melimpah. Sumber daya alam seperti kayu, bambu dan rotan menghasilkan beragam furniture yang sangat menarik khas daerah khatulistiwa.

Bahan furniture yang didapat dari daerah tropis sangat terkenal diseluruh belahan dunia, dimana ekspor material furniture seperti rotan, baik dalam bentuk jadi maupun mentahnya, adalah andalan sumber devisa.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Green design concept is a very interesting topic to be discussed, because the demands of time getting open our eyes to the importance of preserving nature and the resources diminishing. No exception in the world of furniture and interior design. Especially because Indonesia was in the equatorial region is rich in sunshine, natural resources and abundant crops. Natural resources such as wood, bamboo and rattan furniture that produces a variety of very interesting characteristic equatorial regions.

Desain furniture seperti bed atau tempat tidur misalnya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh desain dalam ruang-ruang rumah. Bila dalam konsep green design kita mengenal konsep ruang hemat energi dan tropis untuk diimplementasikan dalam desain, kita juga mengenal desain furniture yang ‘green’ pula. Bila kedua konsep, yaitu konsep ‘mikro’ dalam bahan pembuat furniture, dan konsep ‘makro’ dalam desain ruangan digabungkan, kita akan mendapatkan konsep desain interior yang ‘green’ dan berwawasan lingkungan.
my room
Dewasa ini, furniture dengan label ‘eco-label’ atau produk berwawasan lingkungan termasuk produk yang banyak dicari. Tampaknya kesadaran akan dampak lingkungan akibat industri furniture sudah sangat meningkat di mata konsumen. Konsumen tidak lagi melihat jenis furniture berdasarkan bentuk, nilai estetika atau harganya saja. Konsumen juga melihat nilai dari peran saat ia memilih produk berwawasan lingkungan.

Furniture materials acquired from the tropics is well known throughout the world, where the export of materials such as rattan furniture, both in raw form so as well, is a mainstay source of foreign exchange.

Design of furniture such as beds or beds for example, is an integral part of the whole design of the home spaces. If the concepts we are familiar with green design concepts and energy-efficient space to be implemented in a tropical design, we also know that furniture design ‘green’ too. If the two concepts, namely the concept of ‘micro’ in furniture fabric, and the concept of ‘macro’ in the room design together, we will get the concept of interior design ‘green’ and environmentally friendly.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

built-in media cabinet
Furniture yang dibuat dari kayu asli semakin langka, karena itu lapisan “seperti” kayu bisa diaplikasikan pada material furniture berbahan dasar kayu olahan yang lebih murah untuk mencapai tampilan yang seperti kayu asli.
Berbicara furniture, tentunya tak lepas dari berbicara bahan material furniture tersebut. Selama ini, furniture yang biasa dibuat adalah furniture berbahan dasar kayu. Material kayu menjadi semakin mahal dan langka seiring makin langkanya tanaman kayu seperti jati. Seperti kita ketahui, umur kayu siap tebang seperti kayu jati biasa membutuhkan waktu hingga 15 sampai 20 tahun untuk ditebang. Jati emas bisa ditebang dalam jangka 5-7 tahun. Akibatnya, persediaan material yang makin menipis mengharuskan kita memilih bahan sintetis, daur ulang, dan terbarukan.

Today, the furniture with the label ‘eco-label’ or environmentally sound products, including products that are sought after. Apparently awareness of the environmental impact of furniture industry has greatly increased in the eyes of consumers. Consumers no longer look at types of furniture based on the shape, aesthetic value or price alone. Consumers also see the value of the role when he chose environmentally sound products.

[picture]
Furniture made from native wood is increasingly scarce, because it layers “like” wood materials can be applied to wood-based furniture cheaper processed to achieve that look like real wood.

Talking furniture, must not get out of talking furniture such materials. During this time, furniture is usually made of wood based furniture. Wood materials become more expensive and increasingly rare as the scarcity of plants such as teak wood. As we know, the age of ready-cut wood such as teak wood used to take up to 15 to 20 years to cut down. Golden teak can be harvested within 5-7 years. As a result, supplies of material thinning requires us to choose synthetic materials, recycling, and renewable.
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.