Monthly Archives: Februari 2014

Perbedaan ruang dalam, ruang antara dan ruang luar

astudioarchitect.com¬†Apabila seorang klien berhadapan dengan seorang arsitek, kadangkala ia akan menyebutkan kata-kata atau terminologi yang kurang dimengerti oleh kliennya. Hal ini lumrah, karena dengan bertahun-tahun bekerja dan selalu merujuk pada dunia akademis yang dipelajarinya, arsitek banyak menggunakan kata-kata ini dalam kepalanya. Salah satu yang umum adalah ‘ruang luar’, ‘ruang antara’ dan ‘ruang dalam’. Agak lucu memang, arsitek memiliki kata-kata khusus untuk bagian dalam, agak luar, dan luar bangunan. Mari kita membahas tentang hal ini ūüôā

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Bila arsitek merancang ruang diluar bangunan, seperti bagaimana taman dan carportnya dibubungkan, seperti pada gambar desain astudio diatas, maka arsitek merancang juga sesuatu yang diluar bangunan yang bisa menunjang arsitektur bangunan keseluruhan.

Ruang luar, biasanya merujuk pada segala hal yang berada diluar bangunan, biasanya bila dalam perancangan akan merujuk pada taman diluar bangunan beserta dengan perkerasan seperti jalan setapak, jalan mobil, dan sebagainya. Bahkan ruang luar juga merujuk pada jalan diluar bangunan, pohon-pohon, kota, negara bahkan semesta alam secara keseluruhan. Sebenarnya, ruang luar bukanlah benar-benar ‘ruang’ seperti yang biasa dipahami orang awam, karena ruang luar dalam benak arsitek biasanya merupakan area disekeliling atau diluar bangunan yang bisa dirancang dengan prinsip-prinsip arsitektur landscape (ini jenis arsitektur khusus untuk ruang luar yang mengatur taman, jalan setapak, jalan mobil, pencahayaan taman, bangunan taman dan sebagainya). Bila arsitek merancang bangunan rumah atau yang lain, maka biasanya ia akan merujuk ‘ruang luar’ sebagai diluar bangunan.

Contoh ruang antara, yaitu diantara ruang dalam dan ruang luar. 
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Ruang antara, merupakan ruang diantara ruang luar dan ruang dalam. Sama seperti ruang luar, ruang antara juga tidak benar-benar merupakan ruangan dalam pandangan awam. Ruang antara biasanya merupakan suatu area yang ada atapnya meskipun tidak ada dindingnya. Contoh ruang antara adalah teras, selasar, area dibawah kanopi, dan sebagainya. Ruang antara ini penting biasanya untuk menghubungkan antara ruang dalam dan ruang luar bangunan. Ruang antara kadangkala merupakan suatu area yang bisa digunakan untuk mengobrol atau bertemu diluar ruangan misalnya teras, selasar, kafe luar ruangan, dan semacam itu. Batas-batasnya seringkali kurang jelas dengan atap maupun tanpa atap, yang penting adalah adanya suatu kelompok kegiatan yang dilakukan pada area itu, misalnya mengobrol di kumpulan kursi dibawah atap pergola.


Contoh ruang dalam, misalnya seperti ruang keluarga ini, bila berhubungan dengan ruang luar atau ruang antara, dibatasi dengan pintu atau jendela yang bisa ditutup. 

Ruang dalam, adalah yang biasa kita kenal sebagai ruangan. Ini bisa berarti ruang kamar tidur, ruang keluarga, ruang tamu dan sebagainya yang keberadaannya tertutup dengan baik oleh pelindung atap dan dinding. Dalam ruang dalam biasanya orang berkegiatan dan melakukan aktivitas sehari-hari.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Hidup dalam Rumah Vertikal (bertingkat)

astudioarchitect.com Rumah vertikal akan menjadi idola saat ini dan dalam waktu-waktu mendatang, karena kemungkinan untuk membangun atau memperluas bangunan hanyalah tersisa keatas, untuk mereka yang berumah di perkotaan. Kebanyakan rumah bertingkat  memiliki tambahan ruang-ruang tidur di bagian atas bangunan. Ruang-ruang bersama diletakkan dibawah.

Interior design by Rosi Rahadi

Interaksi dalam rumah perlu diperhatikan dalam desain rumah. Meskipun bertingkat, tetap bisa berkomunikasi.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ruang bersama seperti ruang keluarga, dapur dan ruang makan menjadi tempat penting dalam kebersamaan keluarga. Ruang-ruang ini menjadi ajang interaksi sehingga keluarga bisa saling berkomunikasi.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Rumah merupakan tempat hidup bagi kita, anak-anak, serta siapapun yang tinggal didalamnya. Didalamnya terdapat keceriaan, kesedihan, serta hal lainnya yang terjadi dalam kehidupan manusia. Sebagai sebuah perlindungan, rumah dituntut untuk memberikan ruang gerak yang manusiawi.

Maksudnya, bila kita merasa nyaman dalam sebuah rumah, tentunya kita merasa rumah itu adalah rumah yang indah, atau berkesan. Seiring dengan budaya kota yang makin masuk dalam kehidupan kita, ruang yang paling sepi atau privat, pada akhirnya adalah kamar-kamar dalam rumah tinggal yang biasa disekat dari ruang lainnya. Kita membutuhkan ruang dengan sekat ini, namun sekat yang terlalu banyak jelas akan mengurangi interaksi dan komunikasi antar penghuni rumah.

Karenanya, dalam proses mendesain rumah, akan sangat bijak untuk memperhatikan dan memperkirakan berapa kira-kira luas ruang bersama yang dibutuhkan. Sebaiknya tidak membuat ruang-ruang tidur yang terlalu banyak bila tidak dibutuhkan, dan jangan menjejalkan kamar-kamar tidur di lantai 1. Seandainya dana belum cukup, jangan membuat kamar tidur yang tidak Anda butuhkan di lantai 1, tunggu hingga waktunya untuk membangun lantai 2 dengan jumlah kamar yang dibutuhkan. Banyak sekali contoh rumah besar yang tidak efektif. Penghuninya hanya 2-3 orang, namun kamar tidurnya 4-6 buah dan terlalu besar.

Ruang interaksi ini pada akhirnya akan menghilangkan individualitas, serta mempererat kebersamaan. Letak kamar tidur yang baik adalah dengan mudah bisa bertemu di ruang keluarga. Ruang tidur yang terisolasi bisa menyebabkan komunikasi dengan anak atau orang tua kurang baik. Apalagi, bila di masing-masing kamar sudah ada fasilitas hiburan seperti televisi, game, dan sebagainya. Adapun untuk rumah dua lantai, void atau lubang seperti lubang antar lantai dan lubang tangga adalah sarana efektif berkomunikasi antar lantai.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Membandingkan desain interior yang berbeda

astudioarchitect.com Dua interior design diatas, adalah sebuah project interior dari astudio, untuk sebuah rumah tinggal dimana setelah membuat dua buah alternatif desain interior, rasanya cukup menarik untuk memajangnya di blog astudio, sambil memperlihatkan adanya perbedaan nuansa dengan adanya dua pendekatan berbeda dalam merancang. Desain atas, adalah desain ruang keluarga dengan dominan warna netral yaitu coklat kayu. Sedangkan yang dibawahnya adalah desain ruang keluarga dengan warna aksen merah. Kedua desain ini menggunakan ide dasar denah yang sama, namun dengan hasil akhir yang berbeda.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Bila kita lihat lebih jauh, perbedaan warna saja sudah menjadi perbedaan yang mencolok diantara kedua desain. Desain yang atasnya, terasa lebih ‘kalem’ dengan warna-warna yang netral seperti coklat dan putih, sedangkan yang dibawahnya lebih berani dengan warna merah. Untuk interior yang lebih menenangkan kita bisa menggunakan warna netral seperti desain yang atas, sedangkan untuk interior yang lebih ‘berani’ dan ceria, kita bisa menggunakan warna yang lebih berani seperti merah, orange, atau kuning.

Dalam mendesain interior, ingat bahwa pemilihan warna saja sudah merupakan suatu perbedaan yang besar. Menggunakan jasa interior designer adalah salah satu cara untuk meminimalkan kesan yang keliru. Selebihnya, adalah kreativitas dalam memilih perabot dan penataannya.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

[Ide] Rumah dengan pohon didalam courtyardnya

astudioarchitect.com¬†Pintu yang setinggi 7 meter, dimana sebuah pohon sudah menunggu disebuah ‘ruangan’ seperti courtyard. Benar, rumah ini memiliki pohon ditengah ruangan yang dapat dilihat dari semua sisinya, dengan sebuah atap kaca diatasnya. Karya TACHA Design dari Thailand ini memberikan sebuah ide meletakkan pohon didalam rumah.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Pohon ini menjulang hingga ke lantai 2 yang dapat dinikmati bila melalui area lantai 2. 
Inilah area lantai 2 itu yang merupakan ruang duduk. 
Pohon juga bisa dinikmati dari ruang keluarga, seperti dalam foto ini, selain itu juga bisa dinikmati dari ruang tidur dan area lain disekelilingnya. 
Inilah foto ruang keluarga itu, yang memiliki set sofa dan juga sebuah ‘amben’, semacam tempat tidur yang digunakan untuk bersantai ria. Suasana santai ini didesain untuk keluarga dari tiga generasi yang tinggal dirumah ini.¬†
Foto ruang keluarga yang bisa dibuka juga kearah taman depan, lengkap dengan teras memanjang dan kursi tamannya. Sangat sesuai untuk hari libur berkumpul bersama keluarga. 
Area ruang makan, juga didesain untuk membuat penghuni merasa nyaman dan tetap terhubung dengan alam dan udara luar.  
Ide untuk penataan dapur, dengan meja tambahan untuk breakfast seperti ini. 
Denah lantai 1
Denah lantai 2
Potongan menunjukkan lokasi pohon didalam rumah.

Potongan menunjukkan lokasi pohon didalam rumah.
Arsitektur rumah difoto dari luar. 
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Via  Dezeen

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.