Category Archives: x English version general article

>Atap anyaman dengan struktur kayu dan bambu

>

astudioarchitect.com Dewasa ini material bangunan yang langsung didapat dari alam banyak mencerminkan gerakan kembali ke alam. Material bangunan seperti atap ijuk, alang-alang, tebu, dengan konstruksi sederhana seperti kayu, bambu dan papan mulai diminati sebagai alternatif sangat murah membangun bangunan seperti kafe, teras, gazebo, dan sebagainya. Material ini lumayan banyak yang mulai digunakan karena faktor murahnya. Material penutup atap ini dibuat dari daun tebu, merupakan material alternatif untuk penutup atap, dengan konstruksi yang relatif sederhana. Rangka bangunan bisa dibuat dari kayu dengan penutup bambu anyaman (gedhek), bisa juga menggunakan papan tripleks atau multipleks.

Setelah mengobrol dengan pemilik bangunan beratap anyaman daun ini saya mengetahui beberapa hal tentang atap tersebut. Konstruksinya cukup dibuat dari tiang-tiang dan kuda-kuda kayu seperti biasa, bahkan bisa menggunakan kayu sengon atau jati Jawa. Di bagian yang menumpu pada kuda-kuda bisa diberi usuk yang langsung menumpu pada balok atas dinding dan bubungan.

Diatas usuk, terdapat reng yang juga berfungsi sebagai pengikat anyaman daun bambu, dimana rata-rata bambu plus anyamannya seharga Rp2000 – Rp3000,- dengan panjang beberapa meter, disusun dengan jarak kurang lebih 10 cm antar bambu.

Menurut saya kondisi biofisika yang terjadi dalam ruang dibawah atap ini terlampau sejuk, dibandingkan dengan menggunakan atap asbes atau seng (pabrikan). Hal ini karena adanya ruang antara atau pori-pori, namun sama dengan material murah yang lain, perlu diganti setiap 1-1,5 tahun sekali. sehubungan dengan kemungkinan kebocoran.

Pada gambar ini terdapat lubang-lubang pada atap yang bisa ditangani dengan mudah, yaitu mengganti bilah bambu ber-anyaman daun tebu seharga Rp2000,- tentunya sangat murah.

Satu hal paling ‘keren’ dari struktur sederhana ini adalah kesan ‘resort’ atau kesan alami yang sangat menenangkan, apalagi ditambahkan dengan unsur bambu bilah sebagai kisi-kisi pengganti dinding, sangat sesuai untuk bangunan non permanen untuk menambahkan ruang rumah tinggal, kafe, dan sebagainya. Misalnya digunakan untuk dapur bersuasana alami, atau tempat duduk-duduk, teras, dan sebagainya.

NOTE: Kasus kebakaran atap rumbia/ alang-alang yang terjadi pada tahun 2009 diberitakan oleh Suara Surabaya pada September 2009. Kasus kebakaran atap rumbia atau alang-alang terjadi dengan pemicu arus pendek listrik, cuaca panas dan kemudahan terbakar. Bila membuka artikel di internet seputar ‘atap alang alang terbakar’… sepertinya selalu ada pemicunya… seperti arus pendek, petasan yang dilempar… tapi bukan dari panas langsung membakar materialnya…

Bila material ini disentuh bagian bawahnya, material  memang bawahnya dingin (tidak panas) untuk material daun tebu ini. Sepertinya kita tidak harus berhenti memakai material ini karena takut terbakar… Barangkali terdapat penyelesaian arsitekturalnya… misalnya: tumbuhkan pohon peneduh disekitar atap alang2… he he

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Atap anyaman dengan struktur kayu dan bambu

astudioarchitect.com Dewasa ini material bangunan yang langsung didapat dari alam banyak mencerminkan gerakan kembali ke alam. Material bangunan seperti atap ijuk, alang-alang, tebu, dengan konstruksi sederhana seperti kayu, bambu dan papan mulai diminati sebagai alternatif sangat murah membangun bangunan seperti kafe, teras, gazebo, dan sebagainya. Material ini lumayan banyak yang mulai digunakan karena faktor murahnya. Material penutup atap ini dibuat dari daun tebu, merupakan material alternatif untuk penutup atap, dengan konstruksi yang relatif sederhana. Rangka bangunan bisa dibuat dari kayu dengan penutup bambu anyaman (gedhek), bisa juga menggunakan papan tripleks atau multipleks.

Setelah mengobrol dengan pemilik bangunan beratap anyaman daun ini saya mengetahui beberapa hal tentang atap tersebut. Konstruksinya cukup dibuat dari tiang-tiang dan kuda-kuda kayu seperti biasa, bahkan bisa menggunakan kayu sengon atau jati Jawa. Di bagian yang menumpu pada kuda-kuda bisa diberi usuk yang langsung menumpu pada balok atas dinding dan bubungan.

Diatas usuk, terdapat reng yang juga berfungsi sebagai pengikat anyaman daun bambu, dimana rata-rata bambu plus anyamannya seharga Rp2000 – Rp3000,- dengan panjang beberapa meter, disusun dengan jarak kurang lebih 10 cm antar bambu.

Menurut saya kondisi biofisika yang terjadi dalam ruang dibawah atap ini terlampau sejuk, dibandingkan dengan menggunakan atap asbes atau seng (pabrikan). Hal ini karena adanya ruang antara atau pori-pori, namun sama dengan material murah yang lain, perlu diganti setiap 1-1,5 tahun sekali. sehubungan dengan kemungkinan kebocoran.

Pada gambar ini terdapat lubang-lubang pada atap yang bisa ditangani dengan mudah, yaitu mengganti bilah bambu ber-anyaman daun tebu seharga Rp2000,- tentunya sangat murah.

Satu hal paling ‘keren’ dari struktur sederhana ini adalah kesan ‘resort’ atau kesan alami yang sangat menenangkan, apalagi ditambahkan dengan unsur bambu bilah sebagai kisi-kisi pengganti dinding, sangat sesuai untuk bangunan non permanen untuk menambahkan ruang rumah tinggal, kafe, dan sebagainya. Misalnya digunakan untuk dapur bersuasana alami, atau tempat duduk-duduk, teras, dan sebagainya.

NOTE: Kasus kebakaran atap rumbia/ alang-alang yang terjadi pada tahun 2009 diberitakan oleh Suara Surabaya pada September 2009. Kasus kebakaran atap rumbia atau alang-alang terjadi dengan pemicu arus pendek listrik, cuaca panas dan kemudahan terbakar. Bila membuka artikel di internet seputar ‘atap alang alang terbakar’… sepertinya selalu ada pemicunya… seperti arus pendek, petasan yang dilempar… tapi bukan dari panas langsung membakar materialnya…

Bila material ini disentuh bagian bawahnya, material  memang bawahnya dingin (tidak panas) untuk material daun tebu ini. Sepertinya kita tidak harus berhenti memakai material ini karena takut terbakar… Barangkali terdapat penyelesaian arsitekturalnya… misalnya: tumbuhkan pohon peneduh disekitar atap alang2… he he

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bangunan yang Iconic / Iconic Buildings

astudioarchitect.com Seringkali sebuah arsitektur bangunan dikatakan sebagai Icon dari sebuah kawasan, menjadi sebuah cara untuk mengungkapkan keberadaan sebuah bangunan yang memberi warna, pengaruh, serta kepentingan di sebuah kawasan. Sebagai contoh: Monas adalah Icon kota Jakarta. Patung Sura (hiu) dan Baya (buaya) adalah Icon kota Surabaya. Burj Dubai merupakan Icon kota Dubai. Icon adalah simbol dari sesuatu yang penting dalam memberi identitas sebuah kawasan, kota, bahkan sebuah negara. Sangat sering orang yang berjalan-jalan atau ‘plesir’ ke tempat atau kota tertentu akan mengunjungi bangunan, tempat, atau kawasan yang menjadi Icon dari sebuah kota, barangkali untuk menandai sebuah kunjungan agar lebih bermakna, ‘bahwa saya pernah ke kota tersebut’.

Desain bangunan oleh astudio architect.

Icon seringkali mengandung peran penting sebagai penanda sebuah kawasan, misalnya: “Bila Anda melewati bangunan dengan bentuk bulat, maka Anda sudah sampai di kota anu”. Artinya bangunan berbentuk bulat memberi penanda yang jelas akan sebuah kota. Bisa dikatakan Icon memberi makna tertentu sehubungan dengan interpretasi dari persepsi visual yang diterima pengamat. Berkaitan dengan semiotika dan simbol, icon merupakan sebuah satuan makna yang harus diinterpretasikan, misalnya, untuk memahami bahwa Monas adalah Icon Jakarta, kita harus memahami proses untuk melihat Monas memiliki makna yang bisa diinterpretasikan bahwa Monas bentuknya seperti itu, dan hanya ada di Jakarta.

Photo by AyAres151 on Flickr

Kadangkala, begitu kuatnya sebuah Icon, maka sebuah bangunan atau arsitektur bisa menjadi simbol dari tempat, kawasan, kota bahkan negara. Monas, atau Suramadu, merupakan simbol kota Jakarta dan Surabaya, bila setiap kali melihat ‘image’ dari bangunan tersebut, diasosiasikan sebagai ‘Jakarta’, atau ‘Surabaya’. Misalnya, dalam sebuah gambar peta, gambar Monas menjadi simbol Jakarta, dan Suramadu, menjadi simbol Surabaya.

Arsitektur memang bisa dan memungkinkan untuk dibuat menjadi sebuah icon, meskipun demikian, setiap Icon akan memberi pengaruh atau peran dalam area tertentu sebagai penanda yang sifatnya terbatas sesuai dengan tingkat pengaruh yang dimilikinya. Setiap orang yang ‘tahu’ tentang patung ‘sura’ dan ‘baya’ sebagai icon dari ‘Wonokromo’ atau ‘Surabaya’ akan mendapat makna setiap kali melihat bentukan atau imagery patung ‘sura dan baya’ untuk dikaitkan dengan kawasan Wonokromo atau kota Surabaya pada umumnya. Arsitektur yang sangat kuat pengaruhnya sebagai icon, bisa menjadi penanda untuk sebuah kawasan, dan banyak contoh yang bisa kita temukan dalam arti arsitektur sebagai ‘bangunan’ bukan sebuah sculpture atau patung.

Banyak arsitek sangat menyukai kesempatan mendapatkan proyek desain yang bisa menjadi Icon bahkan simbol dari sebuah kawasan, misalnya: merancang bangunan yang bernilai tinggi bagi lingkungan. Merancang bangunan dengan tingkat pengaruh yang tinggi bisa mempertinggi tingkat pengaruh arsitek di masyarakat, artinya ego arsitek juga dipengaruhi dalam kondisi ini. Peran arsitek menjadi sangat penting bila ia harus mendesain bangunan yang akan menjadi Icon sebuah kawasan.

Seberapa pentingkah sebuah bangunan menjadi sebuah Icon?
Inilah sebuah jawaban mengapa arsitektur Mall selalu atau kebanyakan didesain dengan warna cerah, menarik, unik, dan menawarkan sesuatu yang berbeda dari lingkungannya. Hal ini bisa dipahami sebagai suatu cara menjadikan Mall sebagai penanda suatu tempat, yaitu lingkungan disekitar mall tersebut. Dari ‘sesuatu yang berbeda’ tersebut setiap orang (pengamat) yang melihat dan memahami perbedaan tersebut bisa membuat asosiasi tertentu berkaitan dengan imagery yang didapatkannya.

“Kamu tahu, mall yang bentuknya kotak-kotak, miring-miring”

Kalimat diatas bisa diasosiasikan sebagai ‘Mall EX’ di Bundaran HI Jakarta, atau bisa jadi mall yang baru rubuh di sebuah kota, tergantung dari asosiasi pengamat 🙂 Arsitek bisa mendesain bangunan menjadi sebuah Icon yang sangat dikenal. Persoalan yang timbul dari arsitektur ‘iconic’ adalah dari dampak arsitektur ‘iconic’ itu sendiri.

Keinginan untuk memiliki bangunan yang iconic sangat menggoda bagi para pemilik bangunan terutama untuk jenis bangunan komersial, sebabnya adalah keberadaan bangunan yang bisa menjadi icon yang bisa mendongkrak sisi komersial. Di tepi jalan komersial, selalu kita dapati berbagai bangunan komersial berlomba-lomba menciptakan bangunan yang iconic, sehingga jalan komersial dipenuhi oleh bangunan dengan desain dan tipe yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Karena setiap bangunan didesain untuk menjadi berbeda maka jalan akan dipenuhi oleh arsitektur yang beragam, bisa jadi cenderung chaos, tanpa regulasi khusus seperti ketinggian bangunan, sempadan, KDB dan KLB, tema atau gaya arsitektur yang digunakan, material, dan sebagainya.

Selain itu arsitektur yang dibuat untuk menjadi iconic sering memiliki kekurangan akibat perhatian arsitek yang terlalu bertujuan memaksimalkan ‘imagery’ yang ditampilkan oleh fasade bangunan. Ruko, mall, restoran, dan sebagainya dibuat dengan arsitektur yang semenarik mungkin agar menjadi icon suatu kawasan, tapi arsiteknya sering melupakan banyak faktor lain, diantaranya adalah tanggung jawab sosial dan lingkungan. Begitu pentingnya untuk mengolah fasade agar menarik, misalnya, bisa membuat banyak hal yang terkait arsitektur lainnya menjadi terbengkalai.

ENGLISH VERSION:


An architectural icon of a region, becomes a way to reveal the existence of a building that gives color, influence, and interests in a region. For example: Monas monument is the Icon of Jakarta. Statue of Sura (shark) and Baya (crocodile) is the Icon of Surabaya. Burj Dubai is an icon of Dubai. Icon is a symbol of something important in giving the identity of a region, city, even a country. Very often people who take a walk or vacation to a place or a particular city will visit the building, place, or area that became icons of a city, perhaps to mark a visit to make it more meaningful, ‘that I’ve been to the city’.




Design an iconic building, by astudio architect.




Icon often contain important role as a marker of a region, for example: “When you pass through the building with a round shape, then you’ve arrived at the city”. This means that round-shaped building will provide a clear marker of a town. Icon can be said to give a specific meaning in connection with the interpretation of visual perception received by the observer. In relation to semiotics and symbol, icon is a unit of meaning that must be interpreted, for example, to understand that the Monas is the Icon of Jakarta, we must understand the process to see the monument has a meaning that could be interpreted that the monument shaped like that, and only in Jakarta.


Sometimes, an Icon can be so strong, then a building or architecture could be a symbol of place, regions, cities and even countries. Monas, or Suramadu, is a symbol of Jakarta and Surabaya, every time we see the ‘images’ of the building, it can be associated as ‘Jakarta’, or ‘Surabaya’. For example, in a map, the image of Monas became a symbol of Jakarta, and Suramadu, became the symbol of Surabaya.


Architecture is able and allowed to be made into an icon, even so, every icon will give the effect or role in certain areas as markers that are limited in accordance with the degree of influence of the building. Every person who ‘knows’ about the statue of ‘Sura’ and ‘Baya’ as an icon of ‘Wonokromo’ or ‘Surabaya’ will have that meaning every time he saw the formation or imagery of the sculpture ‘sura and baya’ to be associated with Wonokromo region or city of Surabaya in general . Architecture is very powerful as an icon, can be a marker for a region, and many examples can be found in the sense of architecture as a ‘building’ rather than a sculpture or statue.


Many architects love the opportunity to get a design project that can become an Icon even symbols of a region, for example: designing buildings of high value for the environment. Designing a building with a high degree of influence that could enhance the influence of the architect in society, meaning the architect’s ego is also affected in this condition. The role of the architect becomes very important when he has to design a building that would become icons of a region.


How important a building became an icon?
This is the answer to why the architecture of malls are always or mostly designed with bright colors, interesting, unique, and offer something different from their surroundings. This can be understood as a way to make the Mall as a place marker, namely the environment around the mall. From the ‘something different’ is any person (observer) who see and understand these differences can make certain associations related to the acquisition of imagery.


“You know, the mall that is shaped tilted boxes”


The sentence above can be associated as the ‘Mall EX’ at Roundabout HI Jakarta, or could be a new mall that collapsed in a city, depending on the associated observer 🙂 The architect can design a building into an icon that is known. Problems arising from architectural ‘iconic’ architecture is the impact of ‘iconic’ itself.


The desire to have an iconic building is very tempting for the owners of the building primarily for commercial building types, why is the existence of buildings that could become the icon that could boost the commercial side. On the commercial side of the road, we always find a variety of commercial buildings competing to create an iconic building, so that commercial street full of buildings with different designs and different types of buildings to achieve that goal. Because each building is designed to be different then the street will be fulled by a variety of architecture, which could be inclined chaos, with no special regulations such as building height, border, KDB and outbreaks, theme or style of architecture used, material, and so forth.


Architecture designed to be iconic often have a shortage due to the attention of architects who too aim to maximize the ‘imagery’ that is displayed by the facade of the building. Commercial, shopping malls, restaurants, etc. are made with architecture as attractive as possible in order to become a regional icon, but architects often forget the many other factors, such as social and environmental responsibility. Once the importance to treat the facade in order to attract, for example, can make a lot of things related to other architectural become dormant.

________________________________________________

Picture credit (from top to bottom):
– from http://www.opus-dubai.com
– by AyAres151 on Flickr
– by kersy83 on Flickr.com

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bangunan yang Iconic / Iconic Buildings

astudioarchitect.com Seringkali sebuah arsitektur bangunan dikatakan sebagai Icon dari sebuah kawasan, menjadi sebuah cara untuk mengungkapkan keberadaan sebuah bangunan yang memberi warna, pengaruh, serta kepentingan di sebuah kawasan. Sebagai contoh: Monas adalah Icon kota Jakarta. Patung Sura (hiu) dan Baya (buaya) adalah Icon kota Surabaya. Burj Dubai merupakan Icon kota Dubai. Icon adalah simbol dari sesuatu yang penting dalam memberi identitas sebuah kawasan, kota, bahkan sebuah negara. Sangat sering orang yang berjalan-jalan atau ‘plesir’ ke tempat atau kota tertentu akan mengunjungi bangunan, tempat, atau kawasan yang menjadi Icon dari sebuah kota, barangkali untuk menandai sebuah kunjungan agar lebih bermakna, ‘bahwa saya pernah ke kota tersebut’.

Desain bangunan oleh astudio architect.

Icon seringkali mengandung peran penting sebagai penanda sebuah kawasan, misalnya: “Bila Anda melewati bangunan dengan bentuk bulat, maka Anda sudah sampai di kota anu”. Artinya bangunan berbentuk bulat memberi penanda yang jelas akan sebuah kota. Bisa dikatakan Icon memberi makna tertentu sehubungan dengan interpretasi dari persepsi visual yang diterima pengamat. Berkaitan dengan semiotika dan simbol, icon merupakan sebuah satuan makna yang harus diinterpretasikan, misalnya, untuk memahami bahwa Monas adalah Icon Jakarta, kita harus memahami proses untuk melihat Monas memiliki makna yang bisa diinterpretasikan bahwa Monas bentuknya seperti itu, dan hanya ada di Jakarta.

Photo by AyAres151 on Flickr

Kadangkala, begitu kuatnya sebuah Icon, maka sebuah bangunan atau arsitektur bisa menjadi simbol dari tempat, kawasan, kota bahkan negara. Monas, atau Suramadu, merupakan simbol kota Jakarta dan Surabaya, bila setiap kali melihat ‘image’ dari bangunan tersebut, diasosiasikan sebagai ‘Jakarta’, atau ‘Surabaya’. Misalnya, dalam sebuah gambar peta, gambar Monas menjadi simbol Jakarta, dan Suramadu, menjadi simbol Surabaya.

Arsitektur memang bisa dan memungkinkan untuk dibuat menjadi sebuah icon, meskipun demikian, setiap Icon akan memberi pengaruh atau peran dalam area tertentu sebagai penanda yang sifatnya terbatas sesuai dengan tingkat pengaruh yang dimilikinya. Setiap orang yang ‘tahu’ tentang patung ‘sura’ dan ‘baya’ sebagai icon dari ‘Wonokromo’ atau ‘Surabaya’ akan mendapat makna setiap kali melihat bentukan atau imagery patung ‘sura dan baya’ untuk dikaitkan dengan kawasan Wonokromo atau kota Surabaya pada umumnya. Arsitektur yang sangat kuat pengaruhnya sebagai icon, bisa menjadi penanda untuk sebuah kawasan, dan banyak contoh yang bisa kita temukan dalam arti arsitektur sebagai ‘bangunan’ bukan sebuah sculpture atau patung.

Banyak arsitek sangat menyukai kesempatan mendapatkan proyek desain yang bisa menjadi Icon bahkan simbol dari sebuah kawasan, misalnya: merancang bangunan yang bernilai tinggi bagi lingkungan. Merancang bangunan dengan tingkat pengaruh yang tinggi bisa mempertinggi tingkat pengaruh arsitek di masyarakat, artinya ego arsitek juga dipengaruhi dalam kondisi ini. Peran arsitek menjadi sangat penting bila ia harus mendesain bangunan yang akan menjadi Icon sebuah kawasan.

Seberapa pentingkah sebuah bangunan menjadi sebuah Icon?
Inilah sebuah jawaban mengapa arsitektur Mall selalu atau kebanyakan didesain dengan warna cerah, menarik, unik, dan menawarkan sesuatu yang berbeda dari lingkungannya. Hal ini bisa dipahami sebagai suatu cara menjadikan Mall sebagai penanda suatu tempat, yaitu lingkungan disekitar mall tersebut. Dari ‘sesuatu yang berbeda’ tersebut setiap orang (pengamat) yang melihat dan memahami perbedaan tersebut bisa membuat asosiasi tertentu berkaitan dengan imagery yang didapatkannya.

“Kamu tahu, mall yang bentuknya kotak-kotak, miring-miring”

Kalimat diatas bisa diasosiasikan sebagai ‘Mall EX’ di Bundaran HI Jakarta, atau bisa jadi mall yang baru rubuh di sebuah kota, tergantung dari asosiasi pengamat 🙂 Arsitek bisa mendesain bangunan menjadi sebuah Icon yang sangat dikenal. Persoalan yang timbul dari arsitektur ‘iconic’ adalah dari dampak arsitektur ‘iconic’ itu sendiri.

Keinginan untuk memiliki bangunan yang iconic sangat menggoda bagi para pemilik bangunan terutama untuk jenis bangunan komersial, sebabnya adalah keberadaan bangunan yang bisa menjadi icon yang bisa mendongkrak sisi komersial. Di tepi jalan komersial, selalu kita dapati berbagai bangunan komersial berlomba-lomba menciptakan bangunan yang iconic, sehingga jalan komersial dipenuhi oleh bangunan dengan desain dan tipe yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Karena setiap bangunan didesain untuk menjadi berbeda maka jalan akan dipenuhi oleh arsitektur yang beragam, bisa jadi cenderung chaos, tanpa regulasi khusus seperti ketinggian bangunan, sempadan, KDB dan KLB, tema atau gaya arsitektur yang digunakan, material, dan sebagainya.

Selain itu arsitektur yang dibuat untuk menjadi iconic sering memiliki kekurangan akibat perhatian arsitek yang terlalu bertujuan memaksimalkan ‘imagery’ yang ditampilkan oleh fasade bangunan. Ruko, mall, restoran, dan sebagainya dibuat dengan arsitektur yang semenarik mungkin agar menjadi icon suatu kawasan, tapi arsiteknya sering melupakan banyak faktor lain, diantaranya adalah tanggung jawab sosial dan lingkungan. Begitu pentingnya untuk mengolah fasade agar menarik, misalnya, bisa membuat banyak hal yang terkait arsitektur lainnya menjadi terbengkalai.

ENGLISH VERSION:


An architectural icon of a region, becomes a way to reveal the existence of a building that gives color, influence, and interests in a region. For example: Monas monument is the Icon of Jakarta. Statue of Sura (shark) and Baya (crocodile) is the Icon of Surabaya. Burj Dubai is an icon of Dubai. Icon is a symbol of something important in giving the identity of a region, city, even a country. Very often people who take a walk or vacation to a place or a particular city will visit the building, place, or area that became icons of a city, perhaps to mark a visit to make it more meaningful, ‘that I’ve been to the city’.




Design an iconic building, by astudio architect.




Icon often contain important role as a marker of a region, for example: “When you pass through the building with a round shape, then you’ve arrived at the city”. This means that round-shaped building will provide a clear marker of a town. Icon can be said to give a specific meaning in connection with the interpretation of visual perception received by the observer. In relation to semiotics and symbol, icon is a unit of meaning that must be interpreted, for example, to understand that the Monas is the Icon of Jakarta, we must understand the process to see the monument has a meaning that could be interpreted that the monument shaped like that, and only in Jakarta.


Sometimes, an Icon can be so strong, then a building or architecture could be a symbol of place, regions, cities and even countries. Monas, or Suramadu, is a symbol of Jakarta and Surabaya, every time we see the ‘images’ of the building, it can be associated as ‘Jakarta’, or ‘Surabaya’. For example, in a map, the image of Monas became a symbol of Jakarta, and Suramadu, became the symbol of Surabaya.


Architecture is able and allowed to be made into an icon, even so, every icon will give the effect or role in certain areas as markers that are limited in accordance with the degree of influence of the building. Every person who ‘knows’ about the statue of ‘Sura’ and ‘Baya’ as an icon of ‘Wonokromo’ or ‘Surabaya’ will have that meaning every time he saw the formation or imagery of the sculpture ‘sura and baya’ to be associated with Wonokromo region or city of Surabaya in general . Architecture is very powerful as an icon, can be a marker for a region, and many examples can be found in the sense of architecture as a ‘building’ rather than a sculpture or statue.


Many architects love the opportunity to get a design project that can become an Icon even symbols of a region, for example: designing buildings of high value for the environment. Designing a building with a high degree of influence that could enhance the influence of the architect in society, meaning the architect’s ego is also affected in this condition. The role of the architect becomes very important when he has to design a building that would become icons of a region.


How important a building became an icon?
This is the answer to why the architecture of malls are always or mostly designed with bright colors, interesting, unique, and offer something different from their surroundings. This can be understood as a way to make the Mall as a place marker, namely the environment around the mall. From the ‘something different’ is any person (observer) who see and understand these differences can make certain associations related to the acquisition of imagery.


“You know, the mall that is shaped tilted boxes”


The sentence above can be associated as the ‘Mall EX’ at Roundabout HI Jakarta, or could be a new mall that collapsed in a city, depending on the associated observer 🙂 The architect can design a building into an icon that is known. Problems arising from architectural ‘iconic’ architecture is the impact of ‘iconic’ itself.


The desire to have an iconic building is very tempting for the owners of the building primarily for commercial building types, why is the existence of buildings that could become the icon that could boost the commercial side. On the commercial side of the road, we always find a variety of commercial buildings competing to create an iconic building, so that commercial street full of buildings with different designs and different types of buildings to achieve that goal. Because each building is designed to be different then the street will be fulled by a variety of architecture, which could be inclined chaos, with no special regulations such as building height, border, KDB and outbreaks, theme or style of architecture used, material, and so forth.


Architecture designed to be iconic often have a shortage due to the attention of architects who too aim to maximize the ‘imagery’ that is displayed by the facade of the building. Commercial, shopping malls, restaurants, etc. are made with architecture as attractive as possible in order to become a regional icon, but architects often forget the many other factors, such as social and environmental responsibility. Once the importance to treat the facade in order to attract, for example, can make a lot of things related to other architectural become dormant.

________________________________________________

Picture credit (from top to bottom):
– from http://www.opus-dubai.com
– by AyAres151 on Flickr
– by kersy83 on Flickr.com

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

man’s cave / Guanya pria

astudioarchitect.com Man’s Cave, atau ‘gua’ para pria merupakan sebuah fenomena dalam rumah tinggal yang biasanya merupakan ruangan khusus tempat seorang pria ingin menyendiri atau melakukan sesuatu sendirian. Normalkah? Konon ruang khusus pria ini bisa membuat pria kreatif, bahkan menyelamatkan sebuah perkawinan. Simak artikel berikut tentang tanya jawab dengan wartawan dari U-Magz dengan saya sebagai narasumber. Bila Anda ingin membaca versi artikel di majalah U-Magz tersebut, klik gambar dibawah ini:

Man’s Cave, or ‘cave’ men are a phenomenon in which a house is usually a special room where a man wants to be alone or do something alone. Is it normal? It is said that special room of a man can make a man more creative, and even save a marriage. Consider the following article about the question and answer with reporters from the U-Magz by me as a resource. If you want to read the article in the magazine version of the U-Magz, click the image above:

1. Seberapa besar kebutuhan akan man’s cave ini di Indonesia, terutama bagi kaum pria?
Mengingat ini adalah kebutuhan psikologis menurut saya setiap pria membutuhkan ruang semacam ini. Tapi bila melihat kondisi dari tatanan sosial dalam masyarakat dan norma keluarga yang ideal, adakalanya man’s cave ini harus diabaikan kebutuhannya dalam penataan sebuah rumah. Tapi biasanya man’s cave tetap hadir meskipun tidak dalam sebuah ruang khusus. Man’s cave boleh jadi merupakan suatu cara agar pria lebih produktif, yaitu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, atau bekerja mandiri secara lebih produktif dengan ruang yang tidak selalu terpisah kadang-kadang juga bercampur dengan ruang lainnya bahkan ruang luar.

2. Biasanya, bagaimana bentuk yang umum dari pojok pribadi kaum lelaki ini?
Ruang paling umum yang diminta untuk didesain dengan kebutuhan khusus untuk seorang pria umumnya adalah ruang kerja, dimana didalamnya terdapat suatu cara atau kondisi dimana seorang pria bisa menyibukkan diri dengan kegemaran atau hobi pribadi. Ruang ini juga biasanya harus dapat diakses pula oleh teman-teman seorang pria, misalnya untuk melihat film atau acara TV bersama.

Ruang ini bisa berarti sebuah ruang kerja yang umum, workshop atau studio pribadi dengan perlengkapan hobi atau entertainment, bisa juga ruang yang punya konotasi maskulin seperti bengkel mobil pribadi yang biasanya didalam garasi atau terpisah, atau mungkin sebuah ruang terbuka di taman untuk mengerjakan hobi seperti membuat do-it-yourself furniture.

3. Biasanya, ruang apa saja yang bisa disulap menjadi ‘sarang’ para pria? Dan bagaimana mewujudkannya?
Ruang yang paling sering menjadi man’s cave adalah ruang kerja, karena disini tidak terlalu ekstrim pengertian untuk mendapatkan ‘sarang’ bagi seorang pria, ruang lain yang biasa menjadi ‘man’s cave’ adalah ruang entertainment atau ruang berkumpul khusus untuk pria dan teman-temannya dimana ia bersosialisasi dengan teman-temannya.

Ruang yang paling sesuai untuk mewujudkan sebuah man’s cave adalah ruang yang didesain atau ditata sendiri oleh pria tersebut dengan perlengakapan apapun yang dibutuhkannya, misalnya peralatan olahraga, sofa, TV, dan komputer. Pria yang percaya diri cenderung memiliki keinginan untuk mengatur sebuah area ini dengan apapun yang diinginkannya, seperti pemilihan cat, bahan material pelapis dinding, ukuran bed, bentuk sofa, maupun benda-benda yang ingin diletakkan didalamnya.

4. Jika kita bicara soal desain interior, produk-produk interior apa sajakah yang bisa dimasukkan di dalamnya? Jika harus ada penyesuaian, seperti apa bentuknya?

Produk interior yang sesuai untuk kebutuhan ini biasanya yang memiliki karakter maskulin yang kuat seperti furniture dengan garis garis kuat non ornamental, furniture dan wallpaper dengan gaya rustic, benda-benda limited edition dengan nilai jual tinggi atau langka, perlengkapan yang sifatnya fungsional non dekoratif misalnya seperti lemari pajangan koleksi, dan sebagainya. Benda yang sifatnya entertaining seperti televisi, audio set, dan papan permainan adalah perlengkapan yang harus ada dalam ruang khusus pria.

Penyesuaian yang ada, kemungkinan yang terpenting adalah sebuah benda yang dimasukkan dalam ruang ini sebaiknya memiliki fungsi khusus dan bukan sekedar pajangan, dan bila merupakan pajangan biasanya memiliki nilai yang tinggi.

1. How big is the need for what’s called man’s cave?
Considering this is a psychological need in my opinion every man needs a space like this. But when looking at the condition of social order in society and the norm of the ideal family, sometimes a man’s cave is to be ignored in the arrangement needs a home. But usually the man’s cave still present, although not in a special room. Man’s cave may be a way to make men more productive, that is the problem with a head cold, or work independently in a more productive with a separate space that is not always sometimes also mixed with other space and even outer space.

2. Usually, how a common form of male private corner of this?
The most common space required for the designed with special needs for a man generally is a work space, in which there is a way or a condition where a man can occupy himself with passion or personal hobbies. This space also typically must be accessible also by friends of a man, for example, to see a movie or TV show together.

This space can mean a common workspace, workshops or private studio with a hobby or entertainment equipment, can also have the connotation of masculine spaces such as private car garage which is usually in the garage or separate, or perhaps an open space in the park to work on hobbies such as making do-it-yourself furniture.

3. Usually, any space can be transformed into a ‘nest’ of men? And how did it happen?
Space that most often become man’s cave is the den, because here is not too extreme sense to get a ‘nest’ for a man, another room used to be a ‘man’s cave’ is room entertainment or space gathered specifically for the man and his friends where he socializing with friends.

The most appropriate space to fulfill a man’s cave is a space that is designed or arranged by the man himself with whatever he needed equipment, such as sports equipment, sofa, TV, and computers. Men who are confident tend to have a desire to regulate this area with whatever they want, like choosing the paint, siding materials, size bed, a sofa, or objects that want to be placed therein.

4. If we are talking about interior design, interior products What could be included in it? If there should be adjustments, such as what form?

Interior product that is suitable for this requirement is usually that have a strong masculine characteristics such as furniture with a strong line-line non-ornamental, furniture and wallpaper with a rustic style, limited edition items with high selling value or the rare, non-functional nature of equipment such as decorative showcase collections, and so forth. Objects that are entertaining such as televisions, audio sets, and board games is the equipment that must exist in a special room guy.

Adjustment of existing, possibly the most important is an object that is inserted in this space should have a specific function and not merely ornamental, and if it were a display usually have high value.

5. Bagi mereka yang belum memiliki ruangan sendiri, bagaimana tips kepada mereka bagaimana membuat ruangan itu? Bukan saja mendekorasinya, tapi juga membuat lay-out ruangan yang mereka bisa betah di dalamnya.

Ruangan tersebut tidak harus diwujudkan dalam ruang yang benar-benar terpisah apalagi bila luasan rumah tidak terlalu besar, karena bisa jadi merupakan sebuah bagian dari ruang yang memberi keleluasaan bagi pria untuk melakukan hal-hal tertentu seperti bekerja atau menikmat hiburan dan memiliki fasilitas yang dibutuhkan untuk itu.

Bagi mereka yang memiliki lahan dan dana cukup untuk membuat ruang semacam ini agar lebih produktif juga sebaiknya dibuat menjadi ruang kerja sehingga tidak hanya bersifat hiburan semata. Lay out ruangan sebaiknya didesain dengan memperhatikan bagaimana kebutuhan dalam aktivitasnya terpenuhi, misalnya dengan menyediakan fasilitas hiburan, penyimpanan makanan, penyimpanan file, serta furniture yang cukup baik untuk bekerja atau menerima tamu dari sahabat dekatnya.

Akan lebih baik bila ruang ini bisa produktif dengan tidak hanya membuatnya sebagai ruang menyendiri atau berkumpul dengan teman semata, tapi yang produktif dengan fasilitas kerja, lebih baik lagi dengan mengadopsi konsep SOHO (Small Office Home Office).

6. Bagimana meletakkan hal-hal penting seperti toilet, akses (pintu mungkin harus lebih dari satu), sofa besar untuk istirahat dan tidur, sarana hiburan agar tidak bosan, peralatan kerja dan sambungan internet, buku, dll?

Agar produktif sebaiknya ruang khusus ini tidak terisolasi dari ruang lainnya. Hal ini agar seorang pria tidak terpisah dari sosialisasi dengan anggota keluarga lainnya. Namun bila memang dibutuhkan karena kondisi, misalnya agar memudahkan proses bekerja atau hobi khususnya makan perlu adanya tempat istirahat khusus seperti sofa bed, sarana hiburan dsb. Akan lebih baik bila dilengkapi dengan peralatan bekerja dan sambungan internet bila ia membutuhkan informasi.

7. Bagaimana membuat sebuah ruangan itu menjadi enak dibuat kerja, bisa dijadikan tempat istirahat (semi kamar tidur), menghibur, dan independen (mungkin perlu pantry kecil dan kulkas)?

Tingkat kenyamanan perlu diperhatikan yaitu furniture yang ada sebaiknya dibuat pas, ergonomis, dalam ruang yang ada. Ruang tersebut juga sebaiknya bisa menampung kebutuhan akan seberapa luas yang dibutuhkan. Kadangkala, ruang tersebut harus besar karena hobi tertentu seperti bilyard, bisa juga hanya kecil seperti ruang kerja bila ia menyukai bekerja didepan komputer.

Bila tempat tersebut diinginkan agar menjadi tempat yang ‘independen’ dari keseluruhan rumah maka perlu diberi fasilitas khusus seperti pantry, kulkas, dan kamar mandi. 

5. For those who do not yet have their own room, how to tips to them how to make the room? Not only decorate, but also makes room lay-out which they can feel at home in it.

The room was not to be realized in the space completely separate area of the house, especially when not too large, because it could have been a part of space that gives more flexibility for men to do certain things such as work or menikmat entertainment and have the facilities needed for it.

For those who own land and sufficient funds to make this kind of space to be more productive space should also be made to work so that not only is the entertainment only. Lay out of the room should be designed with attention to how those needs are met in their activity, for example by providing entertainment facilities, food storage, file storage, and furniture that was good enough to work or receive visitors from nearby companions.

It would be better if this space could be productive by not only make it as a space to be alone or just hanging out with friends, but productive with work facilities, better yet, by adopting the concept of SOHO (Small Office Home Office).

6. How do put important things like toilets, access (doors may need more than one), a large sofa to rest and sleep, so as not to get bored entertainment facilities, equipment and working internet connection, books, etc.?

To be productive in this special space should not isolated from other rooms. This is so a man is not separate from socializing with other family members. But if it is required because of conditions, eg in order to simplify the process of work or hobbies, especially to eat there should be a special resting place, such as sofa bed, entertainment facilities etc.. It would be better if it is equipped with working equipment and Internet connection when she needed information.

7. How to make a nice room to be made to work, could be a place to rest (semi-bedrooms), entertaining, and independent (may need a small pantry and fridge)?

Level of comfort should be noted that the existing furniture should be made to fit, ergonomic design, the existing space. The space should also be able to accommodate the need for the necessary extent. Sometimes, that space must be big because of certain hobbies such as pool, could also just as small as work space when he likes working in front of the computer.

If the place wants to be a place that ‘independent’ of the whole house will need to be given special facilities like pantry, refrigerator, and bathroom.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

man’s cave / Guanya pria

astudioarchitect.com Man’s Cave, atau ‘gua’ para pria merupakan sebuah fenomena dalam rumah tinggal yang biasanya merupakan ruangan khusus tempat seorang pria ingin menyendiri atau melakukan sesuatu sendirian. Normalkah? Konon ruang khusus pria ini bisa membuat pria kreatif, bahkan menyelamatkan sebuah perkawinan. Simak artikel berikut tentang tanya jawab dengan wartawan dari U-Magz dengan saya sebagai narasumber. Bila Anda ingin membaca versi artikel di majalah U-Magz tersebut, klik gambar dibawah ini:

Man’s Cave, or ‘cave’ men are a phenomenon in which a house is usually a special room where a man wants to be alone or do something alone. Is it normal? It is said that special room of a man can make a man more creative, and even save a marriage. Consider the following article about the question and answer with reporters from the U-Magz by me as a resource. If you want to read the article in the magazine version of the U-Magz, click the image above:

1. Seberapa besar kebutuhan akan man’s cave ini di Indonesia, terutama bagi kaum pria?
Mengingat ini adalah kebutuhan psikologis menurut saya setiap pria membutuhkan ruang semacam ini. Tapi bila melihat kondisi dari tatanan sosial dalam masyarakat dan norma keluarga yang ideal, adakalanya man’s cave ini harus diabaikan kebutuhannya dalam penataan sebuah rumah. Tapi biasanya man’s cave tetap hadir meskipun tidak dalam sebuah ruang khusus. Man’s cave boleh jadi merupakan suatu cara agar pria lebih produktif, yaitu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, atau bekerja mandiri secara lebih produktif dengan ruang yang tidak selalu terpisah kadang-kadang juga bercampur dengan ruang lainnya bahkan ruang luar.

2. Biasanya, bagaimana bentuk yang umum dari pojok pribadi kaum lelaki ini?
Ruang paling umum yang diminta untuk didesain dengan kebutuhan khusus untuk seorang pria umumnya adalah ruang kerja, dimana didalamnya terdapat suatu cara atau kondisi dimana seorang pria bisa menyibukkan diri dengan kegemaran atau hobi pribadi. Ruang ini juga biasanya harus dapat diakses pula oleh teman-teman seorang pria, misalnya untuk melihat film atau acara TV bersama.

Ruang ini bisa berarti sebuah ruang kerja yang umum, workshop atau studio pribadi dengan perlengkapan hobi atau entertainment, bisa juga ruang yang punya konotasi maskulin seperti bengkel mobil pribadi yang biasanya didalam garasi atau terpisah, atau mungkin sebuah ruang terbuka di taman untuk mengerjakan hobi seperti membuat do-it-yourself furniture.

3. Biasanya, ruang apa saja yang bisa disulap menjadi ‘sarang’ para pria? Dan bagaimana mewujudkannya?
Ruang yang paling sering menjadi man’s cave adalah ruang kerja, karena disini tidak terlalu ekstrim pengertian untuk mendapatkan ‘sarang’ bagi seorang pria, ruang lain yang biasa menjadi ‘man’s cave’ adalah ruang entertainment atau ruang berkumpul khusus untuk pria dan teman-temannya dimana ia bersosialisasi dengan teman-temannya.

Ruang yang paling sesuai untuk mewujudkan sebuah man’s cave adalah ruang yang didesain atau ditata sendiri oleh pria tersebut dengan perlengakapan apapun yang dibutuhkannya, misalnya peralatan olahraga, sofa, TV, dan komputer. Pria yang percaya diri cenderung memiliki keinginan untuk mengatur sebuah area ini dengan apapun yang diinginkannya, seperti pemilihan cat, bahan material pelapis dinding, ukuran bed, bentuk sofa, maupun benda-benda yang ingin diletakkan didalamnya.

4. Jika kita bicara soal desain interior, produk-produk interior apa sajakah yang bisa dimasukkan di dalamnya? Jika harus ada penyesuaian, seperti apa bentuknya?

Produk interior yang sesuai untuk kebutuhan ini biasanya yang memiliki karakter maskulin yang kuat seperti furniture dengan garis garis kuat non ornamental, furniture dan wallpaper dengan gaya rustic, benda-benda limited edition dengan nilai jual tinggi atau langka, perlengkapan yang sifatnya fungsional non dekoratif misalnya seperti lemari pajangan koleksi, dan sebagainya. Benda yang sifatnya entertaining seperti televisi, audio set, dan papan permainan adalah perlengkapan yang harus ada dalam ruang khusus pria.

Penyesuaian yang ada, kemungkinan yang terpenting adalah sebuah benda yang dimasukkan dalam ruang ini sebaiknya memiliki fungsi khusus dan bukan sekedar pajangan, dan bila merupakan pajangan biasanya memiliki nilai yang tinggi.

1. How big is the need for what’s called man’s cave?
Considering this is a psychological need in my opinion every man needs a space like this. But when looking at the condition of social order in society and the norm of the ideal family, sometimes a man’s cave is to be ignored in the arrangement needs a home. But usually the man’s cave still present, although not in a special room. Man’s cave may be a way to make men more productive, that is the problem with a head cold, or work independently in a more productive with a separate space that is not always sometimes also mixed with other space and even outer space.

2. Usually, how a common form of male private corner of this?
The most common space required for the designed with special needs for a man generally is a work space, in which there is a way or a condition where a man can occupy himself with passion or personal hobbies. This space also typically must be accessible also by friends of a man, for example, to see a movie or TV show together.

This space can mean a common workspace, workshops or private studio with a hobby or entertainment equipment, can also have the connotation of masculine spaces such as private car garage which is usually in the garage or separate, or perhaps an open space in the park to work on hobbies such as making do-it-yourself furniture.

3. Usually, any space can be transformed into a ‘nest’ of men? And how did it happen?
Space that most often become man’s cave is the den, because here is not too extreme sense to get a ‘nest’ for a man, another room used to be a ‘man’s cave’ is room entertainment or space gathered specifically for the man and his friends where he socializing with friends.

The most appropriate space to fulfill a man’s cave is a space that is designed or arranged by the man himself with whatever he needed equipment, such as sports equipment, sofa, TV, and computers. Men who are confident tend to have a desire to regulate this area with whatever they want, like choosing the paint, siding materials, size bed, a sofa, or objects that want to be placed therein.

4. If we are talking about interior design, interior products What could be included in it? If there should be adjustments, such as what form?

Interior product that is suitable for this requirement is usually that have a strong masculine characteristics such as furniture with a strong line-line non-ornamental, furniture and wallpaper with a rustic style, limited edition items with high selling value or the rare, non-functional nature of equipment such as decorative showcase collections, and so forth. Objects that are entertaining such as televisions, audio sets, and board games is the equipment that must exist in a special room guy.

Adjustment of existing, possibly the most important is an object that is inserted in this space should have a specific function and not merely ornamental, and if it were a display usually have high value.

5. Bagi mereka yang belum memiliki ruangan sendiri, bagaimana tips kepada mereka bagaimana membuat ruangan itu? Bukan saja mendekorasinya, tapi juga membuat lay-out ruangan yang mereka bisa betah di dalamnya.

Ruangan tersebut tidak harus diwujudkan dalam ruang yang benar-benar terpisah apalagi bila luasan rumah tidak terlalu besar, karena bisa jadi merupakan sebuah bagian dari ruang yang memberi keleluasaan bagi pria untuk melakukan hal-hal tertentu seperti bekerja atau menikmat hiburan dan memiliki fasilitas yang dibutuhkan untuk itu.

Bagi mereka yang memiliki lahan dan dana cukup untuk membuat ruang semacam ini agar lebih produktif juga sebaiknya dibuat menjadi ruang kerja sehingga tidak hanya bersifat hiburan semata. Lay out ruangan sebaiknya didesain dengan memperhatikan bagaimana kebutuhan dalam aktivitasnya terpenuhi, misalnya dengan menyediakan fasilitas hiburan, penyimpanan makanan, penyimpanan file, serta furniture yang cukup baik untuk bekerja atau menerima tamu dari sahabat dekatnya.

Akan lebih baik bila ruang ini bisa produktif dengan tidak hanya membuatnya sebagai ruang menyendiri atau berkumpul dengan teman semata, tapi yang produktif dengan fasilitas kerja, lebih baik lagi dengan mengadopsi konsep SOHO (Small Office Home Office).

6. Bagimana meletakkan hal-hal penting seperti toilet, akses (pintu mungkin harus lebih dari satu), sofa besar untuk istirahat dan tidur, sarana hiburan agar tidak bosan, peralatan kerja dan sambungan internet, buku, dll?

Agar produktif sebaiknya ruang khusus ini tidak terisolasi dari ruang lainnya. Hal ini agar seorang pria tidak terpisah dari sosialisasi dengan anggota keluarga lainnya. Namun bila memang dibutuhkan karena kondisi, misalnya agar memudahkan proses bekerja atau hobi khususnya makan perlu adanya tempat istirahat khusus seperti sofa bed, sarana hiburan dsb. Akan lebih baik bila dilengkapi dengan peralatan bekerja dan sambungan internet bila ia membutuhkan informasi.

7. Bagaimana membuat sebuah ruangan itu menjadi enak dibuat kerja, bisa dijadikan tempat istirahat (semi kamar tidur), menghibur, dan independen (mungkin perlu pantry kecil dan kulkas)?

Tingkat kenyamanan perlu diperhatikan yaitu furniture yang ada sebaiknya dibuat pas, ergonomis, dalam ruang yang ada. Ruang tersebut juga sebaiknya bisa menampung kebutuhan akan seberapa luas yang dibutuhkan. Kadangkala, ruang tersebut harus besar karena hobi tertentu seperti bilyard, bisa juga hanya kecil seperti ruang kerja bila ia menyukai bekerja didepan komputer.

Bila tempat tersebut diinginkan agar menjadi tempat yang ‘independen’ dari keseluruhan rumah maka perlu diberi fasilitas khusus seperti pantry, kulkas, dan kamar mandi. 

5. For those who do not yet have their own room, how to tips to them how to make the room? Not only decorate, but also makes room lay-out which they can feel at home in it.

The room was not to be realized in the space completely separate area of the house, especially when not too large, because it could have been a part of space that gives more flexibility for men to do certain things such as work or menikmat entertainment and have the facilities needed for it.

For those who own land and sufficient funds to make this kind of space to be more productive space should also be made to work so that not only is the entertainment only. Lay out of the room should be designed with attention to how those needs are met in their activity, for example by providing entertainment facilities, food storage, file storage, and furniture that was good enough to work or receive visitors from nearby companions.

It would be better if this space could be productive by not only make it as a space to be alone or just hanging out with friends, but productive with work facilities, better yet, by adopting the concept of SOHO (Small Office Home Office).

6. How do put important things like toilets, access (doors may need more than one), a large sofa to rest and sleep, so as not to get bored entertainment facilities, equipment and working internet connection, books, etc.?

To be productive in this special space should not isolated from other rooms. This is so a man is not separate from socializing with other family members. But if it is required because of conditions, eg in order to simplify the process of work or hobbies, especially to eat there should be a special resting place, such as sofa bed, entertainment facilities etc.. It would be better if it is equipped with working equipment and Internet connection when she needed information.

7. How to make a nice room to be made to work, could be a place to rest (semi-bedrooms), entertaining, and independent (may need a small pantry and fridge)?

Level of comfort should be noted that the existing furniture should be made to fit, ergonomic design, the existing space. The space should also be able to accommodate the need for the necessary extent. Sometimes, that space must be big because of certain hobbies such as pool, could also just as small as work space when he likes working in front of the computer.

If the place wants to be a place that ‘independent’ of the whole house will need to be given special facilities like pantry, refrigerator, and bathroom.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

‘Konsep rumah tumbuh’ artikel di koran Sindo / ‘Growing house’ concept

astudioarchitect.com Membangun rumah dengan bertahap atau lazimnya disebut ‘konsep rumah tumbuh‘ merupakan pilihan yang tidak tergantikan dewasa ini, mengingat banyak keluarga memiliki lahan terbatas dan luas rumah yang terbatas pula. Perbedaan dengan rumah ‘tambal sulam’ adalah rumah ‘tambal sulam’ tidak didesain dengan baik dari awal sehingga proses tambal sulamnya seringkali tidak menghasilkan desain yang baik dan sehat. Dalam artikel ini saya sertakan hasil wawancara Koran Sindo dengan saya sebagai narasumber. 

Building a house gradually or commonly called ‘the concept of growing home’ is an irreplaceable option nowadays, because many families have limited land and limited area of the house as well. The difference with a ‘patchwork’ home concept is that ‘patchwork’ home is not well designed from the beginning so that the process often not patch a good and healthy design. In this article I include the results of my interview with the newspaper Sindo as a resource.

Trik Mengaplikasikan Konsep Rumah Tumbuh

ANDA ingin membangun rumah, tetapi dana terbatas? Caranya dengan mengaplikasikan konsep rumah tumbuh yang telah direncanakan dengan baik sejak awal membangun rumah.

Rumah tumbuh sesuai dengan namanya adalah pengembangan atau pembangunan rumah secara bertahap atau bertumbuh. Secara umum, konsep pengembangan rumah tumbuh dibagi menjadi dua, yakni tumbuh secara vertikal dan horizontal.

Ada beberapa alasan orang ingin mengaplikasikan konsep ini ke dalam huniannya. Arsitek Probo Hindarto menyebutkan, alasan pertama, biasanya karena keterbatasan biaya.

Beberapa penghuni mungkin saat membangun rumah terhambat dengan biaya pembangunan yang terbatas, sementara rumah tetap perlu dibangun. Akhirnya bujet yang ada hanya cukup untuk membangun sebagian rumah. Karena itu, konsep rumah tumbuh yang harus dipilih.

Alasan kedua, konon karena kebutuhan belum mendesak sehingga konsep ini kerap diaplikasikan saat membangun rumah. Biasanya hal ini terjadi pada keluarga muda yang saat membangun atau membeli rumah belum terpikirkan nantinya rumah itu akan ditempati berapa jumlah anggota keluarga. Begitu pun rumah untuk masa depannya. Alasan yang terakhir, konsep ini sesuai untuk perencanaan sematang mungkin, tapi tidak menutup kemungkinan adanya perubahan rencana. Perencanaan atau konsep rumah tumbuh sejak awal yang baik adalah kunci sukses dari konsep ini. Karena itu, banyak orang memilih merencanakan rumah tumbuh.

“Inilah yang menjadi pembeda konsep rumah tumbuh dengan konsep rumah tambal sulam adalah kalau rumah tambal sulam itu tidak direncanakan dengan baik dari awal, sementara rumah tumbuh sebaliknya, perencanaan awalnya selalu dipikirkan secara matang dan baik,” katanya.

Menilik kelebihannya, konsep rumah tumbuh bisa memprediksi kebutuhan ruang, sistem konstruksi, dan biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan bertahap. Sementara, kekurangannya cenderung tidak ada.

YOU want to build a house, but limited funds? You can do this by applying the concept of ‘growing home’ which has been well planned from the beginning of building the house.

‘Growing House’ as the name implies is the development or construction of houses which is growing gradually. In general, the concept of  ‘growing home’ development is divided into two, namely to grow vertically and horizontally.

There are several reasons why people want to apply this concept into their house. Architect Probo Hindarto mention, the first reason, usually due to limited funds.

Some residents may now build the home hampered by the limited development costs, while the house still needs to be built. Finally there was only enough budget to build some part of the house. Therefore, the concept of ‘growing home’ can be selected.

The second reason, presumably because the need of more space is not urgent, so the concept is often applied when building houses. Usually this happens to young families when building or buying a home that they never thought the house would be occupied later with how many family members. The last reason, this concept is suitable for planning as good as possible, but not closing the possibility of changing plans. Planning ‘growing home’ since the beginning is the key to success of this concept. Therefore, many people choose to build this way.

“This is the distinguishing concept of ‘growing home’ with the concept of ‘patchwork home’ in sense of patchwork if the house was not well planned from the beginning, while ‘growing home’ is on the contrary, early planning is always mature and well thought out,” he said.

Given its advantages, the concept of ‘growing home’ can predict the space requirement, the system construction, and cost required to develop gradually. Meanwhile, the less likely does not exist.

Probo menyebutkan, konsep ini sebenarnya merupakan sebutan yang lebih khusus untuk “merencanakan rumah yang baik dan bisa dikembangkan sejak awal hingga perubahan selanjutnya sesuai dengan kondisi penghuni”.

Pada pola perencanaannya, konsep rumah tumbuh berbeda dengan konsep rumah pada umumnya. Dalam hal ini, pola perencanaan biasanya memperhatikan perkembangan dari jumlah atau umur anggota keluarga. Menurut Probo, bila berubah atau bertambah, baik dari jumlah maupun umur, tentu akan memengaruhi kebutuhan akan ruang.

Karena itu, pola perencanaan yang terbaik adalah dengan merencanakan sedini mungkin untuk memperkirakan pengembangan yang mungkin terjadi pada masa depan.

Misalnya, saat jumlah anak bertambah, atau umurnya bertambah, maka biasanya anak membutuhkan kamar sendiri. Demikian pula bila ada tambahan anggota keluarga dari sanak famili atau lain-lainnya.

”Pola perencanaannya bisa pengembangan secara horizontal atau mengikuti besar lahan dan ketersediaan lahan. Untuk pengembangan secara vertikal, berarti penambahan ruang ke atas atau tingkat,” katanya.

Probo mentioned, this concept is actually a more specific term for “plotting a good home and can be developed from the beginning till the next change in accordance with the conditions of the inhabitants.”

In its design pattern, different from the concept of house development concept in general. In this case, the pattern usually pay attention to the development planning of the number or ages of family members. According to Probo, if changed or added, the number and age, will certainly influence the need for space.

Therefore, it is best to design patterns with a plan as early as possible to forecast the development that may occur in the future.

For example, when the number of children increases, or age increases, then the child usually needs his own room. Similarly, if there are additional family members from relatives or others.

“The pattern of development planning can be horizontally or following land availability. To develop vertically, means additional space up or level, “he said.
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.