Monthly Archives: Maret 2012

Konstruksi dinding Bambu Plaster, alternatif dinding bata biasa

astudioarchitect.com Dinding bambu digunakan untuk bangunan rumah dan sebagainya yang non permanen (struktur yang dapat dibongkar dengan mudah), kadangkala dibutuhkan untuk membuat bangunan yang cepat jadi dan murah. Konstruksi dinding bambu bisa merupakan dinding anyaman bambu, atau dinding anyaman bambu yang diplaster. Dinding anyaman bambu sangat biasa kita lihat pada rumah-rumah gedhek (dinding bambu) didesa-desa, sedangkan dinding bambu plaster agak jarang kita temui merupakan dinding yang sangat mirip dengan dinding bata dari sisi visualnya.

http://www.bamboocentral.org/emergency_shelter.html
iframe source: http://www.bamboocentral.org/emergency_shelter.html

Terdapat beberapa jenis anyaman bambu menurut cara menganyamnya yang bisa dilihat melalui gambar-gambar berikut [1]:

Anyaman bambu rapat “Mata Wali”

Anyaman bambu rapat “Kepang”

Anyaman bambu rapat “Bilik”

Anyaman bambu agak terbuka “Gedeg”

Anyaman Bambu agak terbuka “Bronjong”

Anyaman bambu agak terbuka “Sasak”

Anyaman bambu silang miring 1

Anyaman bambu silang miring 2

Anyaman bambu silang miring 3

Anyaman bambu dengan lapisan semen yang membentuk dinding bambu plaster, secara visual sangat mirip dengan dinding bata plaster biasa/ konvensional.
Proses pembuatan dinding bambu plaster
 Pembuatan dinding bambu plaster sangat mudah dan perlu kita ketahui bersama. Anyaman bambu biasanya bisa dibeli pada pembuat anyaman bambu (gedhek) yang bisa juga dipesan secara khusus dengan berbagai cara anyamnya. Gambar-gambar berikut merupakan screenshot dari http://www.bamboocentral.org/PDF_files/MODUL_PELATIHAN_MABUTER.pdf yang memberikan gambaran bagaimana cara membuat dinding bambu plaster. Untuk gambaran lebih lengkap, pdf bisa didownload melalui link tersebut. 
Ikhtisar sederhana pembuatan dinding bambu plaster

Adapun konstruksi dan cara pemasangan dinding bambu plaster sangat mudah seperti diagram dibawah ini [2]:

Bibliography dan sumber gambar:
[1] Frick, Heinz. Ilmu Konstruksi Bangunan Bambu. Yogyakarta, 2004.
[2] Widyowijatmoko, Andri. et al. Modul Pelatihan Dinding Bambu Plaster. http://www.bamboocentral.org/PDF_files/MODUL_PELATIHAN_MABUTER.pdf

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

`Indonesian Public Exhibition 2012′

astudioarchitect.com Informasi Pengumuman Hasil Seleksi `Indonesian Public Exhibition 2012′. Artikel ini adalah kumpulan arsitek yang akan berpameran di Belanda dengan beberapa cuplikan hasil karya arsitek dari screenshot Google. Artikel ini adalah informasi dan sekaligus ucapan selamat.

Pengumuman Hasil Seleksi `Indonesian Public Exhibition 2012′

A. Professional
1. ABODAY: Museum Nasional Indonesia

2. AI-CTLA Studio: HUNTARA, Masjid Raya Sriwijaya
3. Andra Matin: Lembang Permata, Potato Head, Taum Kamala

4. Andrew Tirta: Hotel Andora, DK Residence
5. Andri Ferik: kepaduri house, linear house
6. Andy Rahman: Windcatcher House

7. Angga Rosiawan+Mariska Pratimi: Mangrove belt as hybrid shore recovery
8. ANTARA: SS Residence, Swiss Embassy Staff Residence, ES Residence, LS Residence, IPH Residence, Kopo Mosque
9. Atelier riri: House surrounded by trees
10. Atelier Una: Hotel Tusita, Hotel Oracle, Gereja Bangka
11. Budi Pradono Architects [BPA]: Kencana House

12. D-associates: rumah ampera, rumah cipayung, OHD museum, Showroom Ambiente
13. Djuhara+djuhara: Rumah Widjanarko, Equator Jingga, Shining Stars School Bintaro, Rumah Tinggal Vivian Jati
14. DOT-Workshop: Residence Bare Minimalist
15. Dpavilion Architects: Pohon Inn, Habitat Sculptural Building, Contertainer (Container+Entertainment)

16. Evtline Atelier: B House, INDOENERTECH Building

17. Farid Indra Gunawan dan Dyah Ratna Tiaralaksmi: Jajan Denpasar
18. Fransiska Prihadi: Rumah Edo dan Cika
19. HAN AWAL & PARTNERS ARCHITECTS: Waerebo

20. HADIVINCENT architects: Nanny’s Pavillon-Barn, SOHO Park

21. Hari Sunarko: Ijen Villa’s
22. HGT Architects: HOUSE 6, Little Gwen
23. HMP architects: Erha Clinic Surabaya, Erha Clinic Pondok Indah

24. I+A Architects: Cold Storage Facility & Office, Office & Gallery
25. Julian Palapa + Bayu Rismabuana: P(R)AYHOUSE / Baitul A’laa Mosque

26. KIND: Balairung UI, Senopati Penthouse, Masjid Sriwijaya and Islamic Center Masterplan, Menara IA ITB

27. Kusuma Agustianto: Rumah Tinggal Bukit Gading Mediterania, Rumah Tinggal Kebon Sirih,
28. Salim Abdullah, I-NAP Hotel
29. LABO: Revitalisasi Museum Konperensi Asia Afrika Bandung

30. MADcahyo: Green Belt Tower, Semi-finished House
31. Mamostudio: Rumah Kayu Karet, Guest House, Indika Energy HQ, Menanti Reinkarnasi Bumi, Sekolah Maria Regina, Studi-o Cahaya, Tanah Teduh

32. Michael Tambunan Architect Studio: Church Hypersurface – Perancangan Gedung GMIM Betlehem

33. Modernspace: Bina Bangsa Campus, KJ House, pantai mutiara
34. Mukoddas Syuhada dan Yu Sing: Tapak Bumi Village

35. PARAMETR ARCHITECTURE: Balairung Ratenggaro University Of Indonesia, Circus Hotel And Waterpark , Hotel Palangka Raya, Hotel di Sanur
36. Parisauli architect: Omah Dara
37. PDW: Ahlibank Headquarter, Stadion di Taman BMW, Kantor Departemen Agama, All Seasons Hotel, Menara Indonesia
38. PHL Architects: GMT Institute of Property Management, Hotel D’Praboe, Condotel Best Western Premiere Candi

39. Pla+form collaborative: Museum Nasional, Mesjid Suramadu, Bundaran Summarecon Bekasi 1, Bundaran Summarecon Bekasi 2
40. PSUD: Sayembara Koridor Solo
41. PT. Arkonin: JGC Office Building, Integrated Faculty Club-University of Indonesia, Manufacturing Research Center FTUI
42. PUTERA RAHMAT ISMAIL: Menara Suara Merdeka
43. Ruang Dualapan: Penyusunan Model Kawasan Teluk Palu
44. Satrio S. Herlambang: MERC Fakultas Kedokteran UI
45. SHAU: House by the Danube, Energy Gateway
46. Studio83: Royal Kamuela

47. Studiodasar: Rumah Minimal
48. TWS & Partners: INTERTWINE TOWER, ORGANIC HOUSE
49. Urbane: Masjid Al-Irsyad, Senayan Aquatic Stadium, PII (Persatuan Insinyur Indonesia) Head Office, Discovery World TMII

50. Wahana Cipta Selaras: Urban In Harmony, Contemporarily Hidden

51. Wastu Buana Adi Cipta (WASNADIPTA): LABORATORIUM DAUR ULANG SAMPAH UNIVERSITAS GADJAH, MASJID SURAMADU, GEDUNG PERPUSTAKAAN NASIONAL

52. Wastu Cipta Parama: Asas House, BELLAGIO HOUSE, GIGA Hexagonal Office Building, Tree House

53. WILLIS KUSUMA ARCHITECTS: GF House, Z House
54. Yose ferdian Damury&Fedy Trinugroho: Agro Wisata, Gerbang Tol Cikunir, Rumah Yunus
55. Yu Sing: studio akanoma, wika leadership center

B. Mahasiswa
1. Agustina: Transforming Shelter of Jalan Jaksa (UNTAR)
2. Amanda Gracia: Crater for Arts, Extraterrestrial – A house for a cinema enthusiast (UPH)
3. Amelia: Jakarta Independent Film Theatre (UPH)
4. Daka Dahana: Sunda Kelapa Waterfront Citywalk (UI)
5. Devina Andreas: Alghorithmic Skin Halte Transjakarta for Daylighting Issue (UPH)
6. Erlangga Boenawan: Joy to The World Café (UNPAR)
7. Evelyn: Redevelop Gondangdia Station (UPH)
8. Enriko Maradona Thamrin: New HQ Compound Euroasiatic Indonesia, Dorm+Architecture Workshop (UNPAR)
9. Edgina Alvita Indri: playing & learning space for street children (UNTAR)
10. Felicia Sartika: Art space for Bernini’s Apollo and Daphne sculpture, Artist Hut (UPH)
11. Gana Ganesha, Stephanus Theodorus Suhendra, Ignatius: Interaction Intersection : Siliwangi Pedestrian Bridge (UGM)
12. Glenn Hajadi: Winter / Summer Office (Barcelona Institute of Architecture)
13. Hizkia Firsto Giovanni: Dogleg House (ITS-Saxion)
14. Hakim Iskandar: Tanah Abang Connector (UNTAR)
15. Isabella Fitria Andjanie: Zoological Museum Park (UGM)
16. Ike Puspa: Cross Over (UPH)
17. Ignatius Christianto Purnawan: Halte Transjakarta (UPH)
18. Ingrid Dharmawan: Mosaic House of Jakarta (UNTAR)
19. Jonathan Sutanto: Night Wing Project (UNTAR)
20. Juanita Christine: Night Watch & Apollo Daphne Art Space, Artist House (UPH)
21. Jennifer Olga: Ciliwung Health Clinic (UPH)
22. Jessica: SOHO and Business & Entertainment Facilities (UNTAR)
23. Kevin Yugen Theda: Warung Waduk Melati (UNTAR)
24. Melanie Sugiarti: Papan Nama Pemulung Pademangan 5 (UNTAR)
25. Mikhael Johanes: Flex O (UI)
26. Mezano Muhammad: Rendezvous Project (UI)
27. Meidy: Portable Maternal & Children Medical Care (UNTAR)
28. Noeh Rizal Tarigan, dkk: Revitalisasi Kawasan Jalan Merdeka (ITB)
29. Padmana Grady Prabasmara: Revitalisasi Jalur mati Kereta Api Yogyakarta – Magelang (UGM)
30. Ricky Goreta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Produk Pangan di Puspitek (UNTAR)
31. Ricko Pradiantoro: AL – FATTAH Mosque, Modern Tropical House (PPArs-ITS)
32. Shirleen Alvita: Keller’s House, Art Space (UPH)
33. Salman Rimhaldi, Adhi Wibawa, Adam Angkawidja, Raden Ahmad Grenaldi: Borneo Forest Tower (UNPAR)
34. Sylvia: Guerilla Building (UNTAR)
35. Talisa Dwiyani: Interconnection Permaculture (UI)
36. Tania Paramita: Rumah Suwardana Winata (UPH)

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Inspirasi gazebo Bali ditengah taman

astudioarchitect.com Bali selalu menjadi inspirasi bagi desain arsitektur yang bergaya resort, salah satunya adalah desain gazebo yang unik. Di Bali gazebo disebut sebagai bale bengong, dimana setelah melalui tahapan desain yang lebih modern, gazebo menjadi lebih terkesan unik dengan tambahan busa dan bantal-bantal seperti dalam contoh ini. 

Gasebo menjadi nyaman dilengkapi dengan busa dan bantal guling.
Apalagi disekitarnya adalah taman yang tertata, gazebo lebih refreshing.
Bisa pula dilengkapi dengan televisi.
Unsur dan elemen interior dihadirkan dalam bentuk yang alami seperti kursi kayu dan pajangan etnik.
Struktur gazebo bisa menggunakan bambu dengan penutup atap rumbia, atau kayu.
Anda bisa melihat dalam bentuk panorama yang bisa digerak-gerakkan dibawah ini. Gerakkan kursor pada gambar dibawah, dan lihatlah secara ‘fullscreen’.

http://www.360cities.net/javascripts/krpano/krpano.swf
Gazebo in the garden in Indonesia

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Desain [gratis] Bangunan perpustakaan desa dan Balai Pelatihan

astudioarchitect.com Salah seorang sahabat astudio bertanya melalui email (konsultasi via media), tentang desain perpustakaan dan balai pelatihan di kab bekasi di kec sukatani. Berikut ini pertanyaan Beliau: Mayoritas pekerjaan penduduk sini adalah petani tadah hujan, peternak dan penggangguran. Melihat kondisi ini saya berencana mendirikan perpustakaan desa yg rencananya akan saya kelola bersama istri, selain itu mungkin akan mencari teman yg bisa membantu pelatihan untuk penduduk di sini. Kebetulan saya cuma punya tanah kaplingan bekas sawah yang sudah tidak digunakan dan dijual perkapling. luas rata-rata 100 meter persegi. di sebelah kanan kiri dan belakang tanah yg saya punya sudah dibangun perumahan. Sedangkan tanah yg akan saya bangun menghadap jalan raya selebar 8 m. Ada 3 ruang yg ingin saya bangun : ruang pelatihan seluas 5 X 8 m. WC seluas 1,5 X 1,5 Ruang perpustakaan terbuka tanpa pintu seluas 3 X 3,5 m Ruang sekertariat seluas 3 X 3,5 Seperti gambar terlampir. mohon pencerahannya bagaimana sebaiknya. Sudah dua tahun saya cicil membuat pondasi dari batu kali tetapi sloofnya belum dan juga tanah sudah saya tinggikan dengan tanah merah. Saya bingung menentukan materialnya, dinding rencana batako semen. Atap antara asbes dan genteng? Kalo asbes takut efek kesehatannya yg tdk bagus tetapi kalo genteng alternatifnya saya gunakan bambu untuk mengurangi bahan kayu. Ada juga pernah searching sekolah botol di guatemala yg berbahan botol plastik pengganti bata, tetapi perhitungannya saya tdk tahu mahal atau malah lebih murah? Budget sementara yg saya miliki sekitar 30 juta (terlalu sedikit ya) jadi bingung tuch bagaimana supaya cukup. saya kira demikian infonya. Mohon pencerahannya…terima kasih. Salam, Rudi

Jawaban:
Yth Bapak Kukuh Rudianto,
dalam kesempatan ini saya sampaikan desain untuk perpustakaan desa dan balai pelatihan untuk masyarakat desa sebagaimana gambaran Bapak. Saya buat dengan denah yang disesuaikan dengan rencana denah Bapak mengingat pondasi sudah dicicil. 
Di bagian dalam bangunan menggunakan struktur beton bertulang yang sifatnya struktural satu lantai, dengan batako sebagai pengisi dinding. Untuk benar-benar menghemat biaya, saya membuatkan desain atap dari bambu dengan penutup atap dari kain vinyl bekas iklan, sementara mengumpulkan dana untuk bangunan yang lebih permanen. 

Denah yang dibuat bapak Kukuh Rudianto.

Rencana tampilan depan bangunan

sketsa material 

sketsa perspektif ruang perpustakaan

Skema konstruksi bambu sederhana.

Untuk biaya dan material alternatif, saya belum menguasai tentang konstruksi dinding botol karena belum pernah mencobanya. Konstruksi murah yang saya ketahui adalah batako dan bambu sebagaimana tergambar.
Semoga desain ini dapat membantu untuk mewujudkan perpustakaan dan balai pelatihan desa tersebut.
Terimakasih.
Salam,

Probo Hindarto

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tata Cahaya Interior Rumah Tinggal

 astudioarchitect.com Untuk menghindari kesan ruangan yang kusam, membosankan dan tidak memiliki citarasa, kita bisa menggunakan efek pencahayaan (lampu) dengan berbagai tata cahayanya. Berbagai efek cahaya bisa menimbulkan mood dan suasana berbeda pada suatu ruangan. Buku ‘Tata Cahaya Interior Rumah Tinggal’ karangan Putri Dwimirnani dan Mariana Rahman ini saya pilihkan untuk melengkapi pustaka di blog astudio. 

Kutipan: Lima Teknik dasar Pencahayaan Interior

Dasar pencahayaan interior diawali dengan pengenalan adanya tiga tipe pencahayaan berdasarkan caranya menerangi suatu obyek. untuk selanjutnya perlu dikenal juga berbagai model arah cahaya dari sumber cahaya menuju obyek. Berikut akan diuraikan lebih detail mengenai kedua teknik dasar pencahayaan tersebut.

A. Tiga tipe pencahayaan

Berdasarkan cara menerangi suatu obyek, ada tiga tipe pencahayaan, yaitu pencahayaan langsung, pencahayaan tidak langsung, dan pencahayaan semilangsung.

1. Pencahayaan langsung (direct lighting)
Sesuai dengan namanya pencahayaan ini memanfaatkan pancaran cahaya yang langsung mengenai obyek tanpa penghalang. Pencahayaan ini banyak digunakan oleh masyarakat luas karena pemasangan dan perawatannya yang tergolong mudah. Keunggulannya terlihat dari efektifitas cahaya sehingga tidak ada energi yang terbuang. pancaran cahaya seperti ini cocok sebagai aksen pada ruangan, misalnya spotlight atau downlight. Dengan sorotn cahayanya yang tajam, pencahayaan langsung bisa menghasilkan efek bayangan yang kuat sehingga sangat pas digunakan untuk tujuan dekoratif.

Meskipun unggul dari sisi teknis dan perawatan, pencahyaan jenis ini kurang baik untuk dimanfaatkan sebagai general lighting. Efek buruknya terasa dari silau dan pancaran panas yang mengganggu kenyamanan pengguna. Selain itu, sebaran cahaya yang lurus kebawah menyebabkan bagian atas ruangan (plafon) terlihat gelap atau kusam.

————————

[2. Pencahayaan tak langsung]
pemasangannya yang terpisah (untuk menghindari noda hangus akibat panas dari lampu) sehingga cocok untuk ruangan yang memiliki langit-langit dengan cat dekoratif. Tipe pencahayaan ini cocok untuk diterapkan untuk general lighting karena sebaran cahayanya lebih lembut dan merata sehingga mampu memberikan penerangan yang cukup tanpa memunculkan silau atau bayangan berlebihan.

Kelemahan terbesar pencahayaan tipe ini ada pada efisiensi energi. Cahaya yang dimanfaatkan sebagai sumber penerangan merupakan hasil dari pemantulan pada bidang yang tidak licin. Oleh karena itu, banyaknya cahaya yang dipantulkan tidak mencapai 100% dari apa yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Hal ini membuat energi yang dikeluarkan menjadi sedikit lebih boros dibandingkan dengan direct lighting. Selain itu, jenis pencahayaan ini hanya mampu menciptakan sedikit kontras pada ruangan sehingga tidak terlalu baik dalam menunjukkan detail suatu obyek. Kekurangan ini berkaitan pula dengan kemampuannya dalam membangun suasana. Karena sebaran cahayanya cenderung tipis dan merata, ruangan akan terasa sedikit hambar.

3. Pencahayaan Semilangsung
Pencahayaan jenis ini merupakan perpaduan antara penchayaan langsung dan tak langsung. Salah satu sistemnya antara lain dengan memancarkan sebagian cahayanya secara langsung ke bawah dan sebagian cahaya lainnya dipantulkan ke atas. Dalam pemanfaatan cahaya alami, berarti ada sebagian cahaya yang sengaja dipantulkan menggunakan reflektor, dan selebihnya dibiarkan masuk ruangan secar alami.

Banyaknya cahaya yang diteruskan dan dipantulkan bisa bervariasi, dengan perbandingan antara 40%-60%, 60%-40%, 50%-50%, dan seterusnya. Menurut Francis D.K. Ching dalam bukunya berjudul Ilustrasi Desain interior, perbandingan terbaik adalah 40%cahaya langsung dan 60% cahaya tidak langsung.

Hasil pendaran cahaya dari sistem ini merupakan yang paling ideal karena menggunakan segala kelebihan dari kedua sistem sebaran cahaya diatas. Pencahayaan jenis ini menghasilkan cahaya yang cukup terang, tetapi tidak terlalu silau serta cukup efektif dalam pemanfaatan energi, termasuk ketika digunakan pada ruangan yang besar. Kelemahan hanyalah pada biaya instalasi dan perawatan yang mahal. Selain itu, pencahayaan tipe ini juga jauh lebih rumit dibandingkan kedua jenis pencahayaan sebelumnya.

http://books.google.co.id/books?id=4WXieQSgshgC&lpg=PA74&dq=arsitektur%20rumah&pg=PP1&output=embed
 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tentang kelembaban pada dinding bangunan

 astudioarchitect.com Bangunan atau rumah yang sehat adalah dambaan tiap penghuninya, tidak ada seorangpun yang ingin mendapatkan masalah kesehatan akibat bangunan yang kurang baik. Salah satu masalah bisa diakibatkan oleh bangunan yang lembab. Bangunan yang lembab menyebabkan berbagai masalah seperti tumbuhnya jamur abu (Aspergillus) yang dapat menyebabkan penyakit paru dan menimbulkan gejala atsma. Dalam artikel ini dijelaskan tentang sebab-sebab bangunan lembab. 

Rembesan Air dari tanah dan hujan
Masalah yang serius tentang kelembaban terjadi akibat rembesan air tanah ke tembok bangunan, yang dapat diakibatkan tekanan air tanah dari bawah, samping ataupun dari air hujan. Tekanan dari bawah merupakan tekanan air tanah yang normal terjadi, sebenarnya bisa diatasi dengan pondasi, sloof dan dinding bata trasraam yang baik. Bangunan lama yang dibuat orangtua kita kadang masih bisa ditemui memiliki dinding bata yang kurang baik, dalam arti tidak menggunakan sloof diatas pondasi, atau tidak menggunakan dinding trasraam yang baik. Akibatnya pada rumah-rumah tua serinkali masalah air merembes dari bawah dapat terlihat jelas pada dinding rumah.


Air tanah juga bisa merembes secara menyamping apabila kondisi samping rumah tanahnya atau pondasi bangunan sebelah lebih tinggi dari rumah kita. Akibatnya dinding rumah kita juga bisa terkena rembesan air dari samping. Selain dari tanah, air juga bisa melembabkan bagian dalam bangunan melalui rembesan air hujan. Air hujan dapat merembes melalui celah-celah bangunan atau sistem drainase dan talang yang bocor. Sama seperti rembesan air tanah, rembesan air hujan yang berlangsung terus menerus akan menyebabkan dinding kotor dan berjamur.

Air hujan secara khusus juga bisa merembes melalui sela-sela genteng dan membasahi bagian dalam atap, bila kayu atap kurang baik maka akan menyebabkan kayu lembab dan membusuk sehingga mengurangi kekuatan atap.

Material bangunan dan Kelembaban
Berbagai jenis material memiliki ketahanan terhadap kelembaban, dalam arti tidak mudah lembab. Terdapat jenis material yang lebih cepat menghisap air dan kapilaritasnya tinggi (kapilaritas = naik turunnya fluida cair dalam suatu bejana akibat tegangan permukaan).

Bata
Dinding batu bata tanpa acian banyak digunakan untuk rumah atau bangunan dengan gaya etnik, atau yang menonjolkan kesan alami dari material bata. Bata memiliki berat jenis sekitar 1’500-1’900 kg/m3 dengan daya hisap per jam adalah sekitar 8.88-2.70g/cm2 [1].

Dinding bata ekspos biasanya sangat mudah lembab dan karenanya sebaiknya ditutup plaster untuk bagian dalam rumah, dengan demikian tidak memicu perkembangan jamur Aspergillus. Untuk bata yang diekspos di bagian dalam rumah (interior), maka bagian luarnya harus diaci dan akan lebih baik apabila memiliki lapisan kedap air (cat/lapisan kedap air dari bahan bitumen).

Batako
Dinding batako ekspos juga memiliki tingkat penyerapan air yang cukup tinggi, lebih tinggi daripada bata ekspos, dengan berat jenis 1’600-1’850kg/m3, memiliki daya hisap per jam adalah sekitar 1.40-3.00g/cm2 [1]

Batako banyak digunakan untuk bangunan yang memiliki budget kecil, untuk penghematan biaya. Dinding batako biasanya diekspos karena memiliki karakter teratur dan dimensinya lebih besar daripada bata biasa sehingga pemasangannya cepat. Dinding batako juga cenderung dibiarkan diekspos karena untuk acian akan lebih memakan biaya daripada dinding bata acian. Untuk penyelesaian yang lebih baik, dinding batako bisa dicat untuk mengurangi kapilaritasnya.

Beton Aerasi (Beton ringan berpori)
Beton aerasi memiliki berat jenis lebih ringan daripada batako yaitu 600-700kg/m3 dengan daya penghisapan air per jam yang lebih rendah hampir seperti plaster semen pasir dalam kondisi beton aerasi yang baik yaitu sekitar 0.39-0.81g/cm2 [1].

Beton Aerasi merupakan material alternatif selain bata dan batako untuk membuat dinding, dimana beton aerasi merupakan beton yang dicetak dengan memasukkan gelembung-gelembung udara dalam beton sehingga berpori. Kekuatannya lebih baik daripada bata dan batako.

Plesteran kapur-pasir
Plesteran kapur dan pasir digunakan terutama pada rumah-rumah lama jaman dahulu untuk meminimalkan biaya membangun tanpa campuran semen. Plesteran ini dapat melekat pada bata namun tidak terlalu bisa melekat sebaik campuran semen. Berat jenis lapisan ini adalah 1’850-‘950kg/m3 dengan daya penghisapan air sesudah 1 jam adalah 0.83-0.90g/cm2 [1].

Plesteran semen-pasir
Plesteran jenis ini sangat sering kita jumpai dalam konstruksi bangunan yang konvensional seperti rumah tinggal. Jenis plasteran ini disukai karena merupakan gabungan yang baik antara estetika dan penghisapan kelembaban air yang cukup rendah. Berat jenisnya adalah 1’980-2’180kg/m3 dengan daya penghisapan air sesudah 1 jam adalah 0.21-0.27g/cm2 [1].

Plesteran ini populer juga karena dapat dicat dengan berbagai warna serta mencirikan bidang yang halus dan licin mensimbolkan higienitas. Bahan komposit ini memiliki penyerapan yang rendah, namun bukan berarti benar-benar bebas terhadap pengaruh kelembaban, karena masih sering ditemui bercak-bercak pada dinding plaster akibat penyerapan kelembaban.

Mengatasi kelembaban pada dinding
Dewasa ini berkembang pesat produk-produk yang dapat mengatasi dinding lembab dengan cara melapisi dinding lembab dengan lapisan/cat berbahan dasar bitumen (aspal). Cat atau lapisan ini dijual bebas dengan sebutan ‘Aquaproof’ atau ‘waterproof’ pada dasarnya adalah lapisan kedap air yang dioleskan atau disemprot ke dinding, lantai beton, dan sebagainya.

Selain cara populer dengan melapisi dengan lapisan bitumen, lapisan lain adalah lapisan PVC atau PE yang berbentuk lembaran, namun terasa kurang praktis. Cara lain yang mudah adalah diantaranya melapisi dengan keramik, yang menghambat kemungkinan rembesan air, merupakan cara yang sangat jitu terutama untuk dinding basah seperti kamar mandi.

Dinding yang sangat-sangat lembab kemungkinan besar tidak dapat dipertahankan agar bisa memperbaiki tingkat kesehatan bangunan, sebaiknya dinding diganti dengan yang baru untuk hasil terbaik. Pada rumah yang kurang penghawaan atau udara alaminya, dinding yang lembab akan memperburuk kondisi paru-paru, penyakit asma dan dapat memicu terjangkitnya penyakit paru pada anak.

Pencegahan kelembaban pada dinding
Selain mengatasi, kita harus mencegah kelembaban pada dinding akibat penyerapan air sejak dari awal membangun, artinya secara konstruksi dinding harus benar cara membuatnya sehingga air tidak merembes. Konstruksi yang sangat lazim dan konvensional adalah dengan membuat pondasi, sloof dan dinding dimana sloof termasuk mencegah air untuk naik ke dinding bata.

Lapisan trasraam atau lapisan kedap air merupakan lapisan acian semen yang mencegah air naik dari pondasi ke dinding bata diatasnya. Teknologi yang tepat guna sebenarnya adalah dengan menyelipkan lapisan karet atau pelat seng dibagian bawah dinding bata pada waktu pembuatan dinding bata tersebut.

Mencegah kelembaban berlebih dengan desain atap
Atap dengan berbagai desainnya memiliki pengaruh pada tingkat kelembaban pada dinding eksterior (luar) bangunan, karena atap seharusnya bisa mencegah air hujan untuk membasahi dinding luar bangunan. Atap harus tahan terhadap air hujan, tahan cuaca dan tahan lama. Berbagai material yang digunakan berpengaruh pada tingkat penyerapan air juga. Atap yang penyerapannya tinggi sebaiknya dibuat dengan sudut kemiringan atap yang curam.

beberapa jenis atap dapat menyerap air lebih banyak, seperti atap rumbia atau ijuk, sehingga kemiringan atapnya minimal 40derajat. Atap lain seperti genteng biasa yang dibuat dari tanah liat juga sebaiknya diatas 35derajat. Genteng beton bisa lebih landai karena tidak terlalu menyerap air, minimal adalah 25derajat. Atap pelat semen dan seng bisa dipasang dengan sudut antara 10 hingga 15 derajat. Demikian pula atap polycarbonat bisa dipasang dengan sudut 3derajat.

Lapisan kedap air
Lapisan kedap air trasraam (merupakan istilah saduran dari Belanda) merupakan lapisan khusus dibawah pasangan dinding bata dimana diselipkan pelat seng atau pelat lain untuk mencegah masuknya air kebagian dinding atasnya. Cara ini sudah jarang dilakukan mengingat saat ini orang beranggapan bahwa dengan sloof diatas pondasi sudah cukup menghambat kapilaritas air, dengan ditambah acian yang lebih pekat pada dinding hingga 1meter. Sebenarnya perlu diberikan tambahan berupa pelat diantara sloof dan dinding bata, paling tidak diatas sloof atau yang berhubungan dengan dinding sebaiknya diberi lapisan kedap air yang dikuaskan berbahan dasar bitumen.

Lapisan trasraam dapat berupa [1]:
– lapisan bitumen (aspal) baik cair yang dikuaskan ataupun berupa lembaran. Diaplikasikan diatas sloof yang berumur minimal.
– karet talang atau lembaran PE, dengan sambung menyambung dengan tumpang tindih minimum 10cm.
– seng pelat/ datar, dipilih dari jenis anti karat seperti zincalum atau seng galvanisir yang tebal, dengan pemasangan yang baik disolder jarak 2cm dengan seng yang ditekuk ke bawah pada sambungannya.
– plasteran emulsi

Bibliografi:
[1] Frick, Heinz. Ilmu Fisika Bangunan. Yogyakarta: kanisius, 2008.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Imaji-imaji Ruang

astudioarchitect.com Bagi Anda yang menyukai interior design untuk berbagai ruangan dengan desain berkelas, Anda bisa mendapatkan sebuah buku yang akan menggugah imajinasi tentang desain interior dan segala perniknya. Buku ini merupakan kompilasi dari karya desainer interior yang tergabung dalam Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII). Saat artikel ini ditulis buku masih beredar di toko buku Gramedia.

Sebagai satu dari sedikit buku desain interior yang berkualitas, buku ini merupakan etalase dari karya interior desainer dengan teks yang ditulis oleh desainernya sendiri. Beberapa imaji dalam buku tersebut:
 
Karya Bambang Suyono, sebuah klinik kecantikan dermatologi waralaba dari Singapura. Dibuat untuk menciptakan kesan nyaman dan hangat. 
Karya Ayu Sawitri Joddy, fasilitas untuk aak-anak dengan tema dan gaya interior desain yang ceria penuh dengan imajinasi. 
Karya Sakundria Satya M.W. merupakan bagian rumah dengan pojok duduk yang cozy (nyaman), dengan cushion penutup sofa tanpa dudukan berwarna-warni corak strip, menjadikan ruangan terkesan ceria dan modern. 

Sketsa Erwin Hawawinata untuk desain interior rumah tinggal bergaya klasik mewah yang mengetengahkan warna-warna seputar coklat kayu dan merah tua.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.