Monthly Archives: Oktober 2009

Konsultasi gratis: Menambahkan ruang dapur dan musholla pada rumah 7,2x10m

[konsultasi gratis] astudioarchitect.com Pertanyaan ini disampaikan melalui ‘konsultasi via media’. Berikut ini pertanyaan dari Ukeu Sutrisno: Saya Uke, mempunyai rumah BTN Type 29/72 luas tanah 72 m2 (7.2 m x 10m) ingin memiliki dapur dan tempat sholat. Selain itu ingin memiliki ventilasi yang cukup sedangkan kanan, kiri, dan belakang sudah padat rumah. Perlu bapak ketahui bahwa ada sisa tanah depan, belakang, dan sisi kanan. Rumah saya ini menghadap timur. Mohon saran denah yang efisien dalam masalah biaya. Trima kasih.

Jawaban:

Gambar denah awal yang dikirimkan dengan file .word

Gambar denah saran dari astudio

Berdasarkan keinginan untuk mendapatkan tambahan ruangan yaitu ruang dapur dan ruang musholla, saya membuat dapur berada dibelakang kamar mandi. Musholla di pojok rumah, dan diantaranya ada tempat wudhu. Tempat wudhu ini sebaiknya atapnya dari polycarbonat, sehingga cahaya dan hawa alami bisa masuk. Penting agar rumah tidak menjadi sumpek, sekaligus sebagai tempat cahaya masuk. Akan lebih baik bila area tempat wudhu ini diberi pot-pot bunga, misalnya dengan digantung-gantung atau dibuat taman relief pada dindingnya.

Demikian, semoga membantu =)
_______________________________________________

by Probo Hindarto

ENGLISH VERSION: Adding kitchen and prayer room


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

The question was submitted through ‘consultation via media’. Here’s the question from Ukeu Sutrisno: I am Uke, I have a home BTN 29/72 Type 72 m2 of land area (7.2 mx 10m) wants to have a kitchen and a prayer room. Also want to have adequate ventilation while the right, left, and back of the house was crowded. You need to know that there is some land not used in front and the right side. My house is facing east. Please suggest an efficient plan with cost consideration. thank you.

Answer:

Initial drawings submitted with the file. Word

Figure plan suggestions from astudio

Based on the desire to get the extra room kitchen and living room small mosque, I made the kitchen to be behind the bathroom. The prayer room on the corner of the house. You should use the roof of polycarbonat, so that natural light and air can enter. It is important that the house would not be cramped, as well as a place of light entrance. It would be better if the area was given a ruling in flowerpots, for example by hanging or the hanging gardens created reliefs on the walls.

So, hopefully to help =)

_______________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Konsultasi gratis: Menambahkan ruang dapur dan musholla pada rumah 7,2x10m

[konsultasi gratis] astudioarchitect.com Pertanyaan ini disampaikan melalui ‘konsultasi via media’. Berikut ini pertanyaan dari Ukeu Sutrisno: Saya Uke, mempunyai rumah BTN Type 29/72 luas tanah 72 m2 (7.2 m x 10m) ingin memiliki dapur dan tempat sholat. Selain itu ingin memiliki ventilasi yang cukup sedangkan kanan, kiri, dan belakang sudah padat rumah. Perlu bapak ketahui bahwa ada sisa tanah depan, belakang, dan sisi kanan. Rumah saya ini menghadap timur. Mohon saran denah yang efisien dalam masalah biaya. Trima kasih.

Jawaban:

Gambar denah awal yang dikirimkan dengan file .word

Gambar denah saran dari astudio

Berdasarkan keinginan untuk mendapatkan tambahan ruangan yaitu ruang dapur dan ruang musholla, saya membuat dapur berada dibelakang kamar mandi. Musholla di pojok rumah, dan diantaranya ada tempat wudhu. Tempat wudhu ini sebaiknya atapnya dari polycarbonat, sehingga cahaya dan hawa alami bisa masuk. Penting agar rumah tidak menjadi sumpek, sekaligus sebagai tempat cahaya masuk. Akan lebih baik bila area tempat wudhu ini diberi pot-pot bunga, misalnya dengan digantung-gantung atau dibuat taman relief pada dindingnya.

Demikian, semoga membantu =)
_______________________________________________

by Probo Hindarto

ENGLISH VERSION: Adding kitchen and prayer room

The question was submitted through ‘consultation via media’. Here’s the question from Ukeu Sutrisno: I am Uke, I have a home BTN 29/72 Type 72 m2 of land area (7.2 mx 10m) wants to have a kitchen and a prayer room. Also want to have adequate ventilation while the right, left, and back of the house was crowded. You need to know that there is some land not used in front and the right side. My house is facing east. Please suggest an efficient plan with cost consideration. thank you.

Answer:

Initial drawings submitted with the file. Word

Figure plan suggestions from astudio

Based on the desire to get the extra room kitchen and living room small mosque, I made the kitchen to be behind the bathroom. The prayer room on the corner of the house. You should use the roof of polycarbonat, so that natural light and air can enter. It is important that the house would not be cramped, as well as a place of light entrance. It would be better if the area was given a ruling in flowerpots, for example by hanging or the hanging gardens created reliefs on the walls.

So, hopefully to help =)

_______________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Rumah mungil tapi lapang?

[artikel umum] astudioarchitect.com Sebagai arsitek, tentunya saya pernah dan sering dihadapkan pada situasi mendesain rumah yang ‘mungil’ karena keterbatasan lahan. Seringkali saya harus memutar otak untuk menemukan formula yang pas agar ruangan terasa lebih nyaman, mungkin lebih tepat disebut lapang. Timbul pertanyaan: Apakah perasaan berada di rumah ‘mungil’ ditentukan oleh luas? Ternyata tidak selalu.

Sebuah rumah menjadi lebih luas bila terdapat ruang yang cukup luas. Misalnya, ruang keluarga 4x6m lebih mungil daripada ruang keluarga 6x8m. Tapi ruang keluarga 4x6m bisa lebih luas bila ia disatukan tanpa sekat permanen dengan ruang dapur dan ruang makan. Ruang keluarga 4x6m ditambahkan dengan ruang makan 4×2,5m, ditambahkan ruang dapur 3x3m, menjadi ruang bersama yang lebih besar.

Disini, ditekankan ‘ruang bersama’ karena ruang-ruang ini bisa digunakan bersama oleh seluruh keluarga.

Membuat ruang lebih lapang tidak berarti membuat ruang lebih luas. Lebih ‘lapang’ bisa dimaksud pandangan lebih leluasa, barangkali dengan meniadakan sekat antar ruang yang tidak perlu. Aliran antar ruang juga akan terasa lebih leluasa. Trik ini banyak dipakai untuk ruang-ruang apartemen yang terbatas, atau rumah studio yang hanya punya satu ruang besar dengan berbagai fungsi ruang dicampur menjadi satu. Bila dahulu kita mengenal dalam arsitektur tradisional, penataan ruang sebaiknya sangat jelas dan memakai batas dinding, saat ini, mungkin justru keterbukaan dan bercampurnya berbagai segi kehidupan, termasuk fungsi-ruang menjadi hal yang sudah biasa.

Tak jarang, dapur berada didepan, dan setelah itu ada ruang tamu, ruang keluarga dan sebagainya. Pada rumah studio, ruang tidur bisa bercampur dengan ruang duduk dan dapur. Pemisahan ruang tidak selalu membutuhkan sekat, karena sekat membuat ruang menjadi terasa terbatas. Kalaupun kita memakai sekat, usahakan agar sekat ini transparan, misalnya sekat dengan bahan kaca bening, atau sekedar lemari hias dengan banyak lubang. Bila secara visual kita merasa bahwa sebuah ruangan itu luas, maka ruang-ruang yang terasa terbatas bisa terasa lapang.

Salah satu rumah yang didesain astudio. Terlihat disini kami memakai sekat antara ruang tamu dan ruang keluarga (pada kasus ini sebenarnya ada ruang keluarga atas untuk menonton TV). Sekat ini bisa dibuka seperti pintu bila dibutuhkan, misalnya ada acara keluarga atau arisan.

Saya harap artikel ini bisa memberikan inspirasi bagi Anda yang sedang merencanakan rumah =)

________________________________________________

by Probo Hindarto

ENGLISH VERSION: Small but ‘large’ house

As an architect, of course I’ve often faced with designing a home situation that ‘limited’ because of limited land. Often I had to rack my brain to find the right formula for a room feel more comfortable, perhaps more accurately called a field. The question arises: Is the feeling at home ‘small’ is determined by the area? Apparently not always.

A house becomes more widely if there is a wide space. For example, 4x6m living room even smaller than the living room 6x8m. But the family room could be more widely 4x6m when he put together without a permanent partition with the kitchen and dining room.

Here, emphasized as ‘used together’ because these spaces can be shared by the entire family.

Make a bigger space does not mean making a wider space. More ‘roomy’ could mean more freely view, perhaps by eliminating the space unnecessary partition. Flow between the rooms will also feel more free. This trick is widely used for flat spaces are limited, or home studio which only had one large room with various functions are mixed into a single space. When first we knew of traditional architecture, spatial planning should be very clear and put on line the walls, right now, maybe that openness and mixing of various aspects of life, including the function-space into something familiar.

Quite often, the kitchen in front, and after that there is living room, family room and so on. In the home studio, bedrooms can be mixed with the living room and kitchen. Separation of space does not always require insulation, because the screen makes the space was limited. Even if we use the screen, get this transparent screen, such as insulation with clear glass material, or merely decorative cabinets with lots of holes. When visually we feel that a room was spacious, the rooms seem to feel the field is limited.

One of the houses designed astudio. Seen here we use the bulkhead between the living room and family room (in this case there is a family room upstairs to watch TV). This screen can be opened like a door if needed, for example, there is a family event or social gathering.

I hope this article could provide inspiration for you who are planning a house =)

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Rumah mungil tapi lapang?

[artikel umum] astudioarchitect.com Sebagai arsitek, tentunya saya pernah dan sering dihadapkan pada situasi mendesain rumah yang ‘mungil’ karena keterbatasan lahan. Seringkali saya harus memutar otak untuk menemukan formula yang pas agar ruangan terasa lebih nyaman, mungkin lebih tepat disebut lapang. Timbul pertanyaan: Apakah perasaan berada di rumah ‘mungil’ ditentukan oleh luas? Ternyata tidak selalu.

Sebuah rumah menjadi lebih luas bila terdapat ruang yang cukup luas. Misalnya, ruang keluarga 4x6m lebih mungil daripada ruang keluarga 6x8m. Tapi ruang keluarga 4x6m bisa lebih luas bila ia disatukan tanpa sekat permanen dengan ruang dapur dan ruang makan. Ruang keluarga 4x6m ditambahkan dengan ruang makan 4×2,5m, ditambahkan ruang dapur 3x3m, menjadi ruang bersama yang lebih besar.

Disini, ditekankan ‘ruang bersama’ karena ruang-ruang ini bisa digunakan bersama oleh seluruh keluarga.

Membuat ruang lebih lapang tidak berarti membuat ruang lebih luas. Lebih ‘lapang’ bisa dimaksud pandangan lebih leluasa, barangkali dengan meniadakan sekat antar ruang yang tidak perlu. Aliran antar ruang juga akan terasa lebih leluasa. Trik ini banyak dipakai untuk ruang-ruang apartemen yang terbatas, atau rumah studio yang hanya punya satu ruang besar dengan berbagai fungsi ruang dicampur menjadi satu. Bila dahulu kita mengenal dalam arsitektur tradisional, penataan ruang sebaiknya sangat jelas dan memakai batas dinding, saat ini, mungkin justru keterbukaan dan bercampurnya berbagai segi kehidupan, termasuk fungsi-ruang menjadi hal yang sudah biasa.

Tak jarang, dapur berada didepan, dan setelah itu ada ruang tamu, ruang keluarga dan sebagainya. Pada rumah studio, ruang tidur bisa bercampur dengan ruang duduk dan dapur. Pemisahan ruang tidak selalu membutuhkan sekat, karena sekat membuat ruang menjadi terasa terbatas. Kalaupun kita memakai sekat, usahakan agar sekat ini transparan, misalnya sekat dengan bahan kaca bening, atau sekedar lemari hias dengan banyak lubang. Bila secara visual kita merasa bahwa sebuah ruangan itu luas, maka ruang-ruang yang terasa terbatas bisa terasa lapang.

Salah satu rumah yang didesain astudio. Terlihat disini kami memakai sekat antara ruang tamu dan ruang keluarga (pada kasus ini sebenarnya ada ruang keluarga atas untuk menonton TV). Sekat ini bisa dibuka seperti pintu bila dibutuhkan, misalnya ada acara keluarga atau arisan.

Saya harap artikel ini bisa memberikan inspirasi bagi Anda yang sedang merencanakan rumah =)

________________________________________________

by Probo Hindarto

ENGLISH VERSION: Small but ‘large’ house

As an architect, of course I’ve often faced with designing a home situation that ‘limited’ because of limited land. Often I had to rack my brain to find the right formula for a room feel more comfortable, perhaps more accurately called a field. The question arises: Is the feeling at home ‘small’ is determined by the area? Apparently not always.

A house becomes more widely if there is a wide space. For example, 4x6m living room even smaller than the living room 6x8m. But the family room could be more widely 4x6m when he put together without a permanent partition with the kitchen and dining room.

Here, emphasized as ‘used together’ because these spaces can be shared by the entire family.

Make a bigger space does not mean making a wider space. More ‘roomy’ could mean more freely view, perhaps by eliminating the space unnecessary partition. Flow between the rooms will also feel more free. This trick is widely used for flat spaces are limited, or home studio which only had one large room with various functions are mixed into a single space. When first we knew of traditional architecture, spatial planning should be very clear and put on line the walls, right now, maybe that openness and mixing of various aspects of life, including the function-space into something familiar.

Quite often, the kitchen in front, and after that there is living room, family room and so on. In the home studio, bedrooms can be mixed with the living room and kitchen. Separation of space does not always require insulation, because the screen makes the space was limited. Even if we use the screen, get this transparent screen, such as insulation with clear glass material, or merely decorative cabinets with lots of holes. When visually we feel that a room was spacious, the rooms seem to feel the field is limited.

One of the houses designed astudio. Seen here we use the bulkhead between the living room and family room (in this case there is a family room upstairs to watch TV). This screen can be opened like a door if needed, for example, there is a family event or social gathering.

I hope this article could provide inspiration for you who are planning a house =)

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

[Buku Interior] At Home With Yuni Jie

[Buku Interior] astudioarchitect.com At home with Yuni Jie adalah karya buku coffee table yang menarik untuk menjadi inspirasi desain interior Anda. Ditulis dengan bahasa inspiratif yang sangat mudah dipahami, serta dengan contoh yang berasal dari karya-karya Yuni Jie sendiri. Gabungan antara bahasan desain, gaya hidup modern dan berbagai elemen desain dikemas dengan contoh desain berkualitas.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Kutipan: Melalui buku ini. saya ngin menunjukkan bahwa rumah yang ideal dapat diwujudkan tanpa harus terlihat berlebihan. Terkadang hal kecil yang mendetail rnalah meniadi hal terpenting. Hal-hal seperti bagaimana wama tertentu dapat memengaruhi suasana hati Anda atau bagaimana permainan cahaya dapat rnembenkan nuansa yang berbeda di mata Anda. Pada akhirnya. saya sungguh berharap untuk dapat berbagi kenIkmatan suatu bentuk kehidupan yang dijalani dengan baik, tempat tnggal yang rnerupakan sebuah rumah dan pada akhirnya sesuatu yang dapat membuat hati kita berdebar. – Yuni Jie

Buku ini seingat saya sudah agak lama, tapi bila Anda ingin membeli, coba saja di toko buku atau di toko buku online dengan klik ‘buy this book’.

http://books.google.com/books?id=MvscQhDWZd4C&lpg=PA9&dq=idea%20rumah&lr=&as_brr=3&pg=PA6&output=embed

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Disclaimer:
Preview buku ini disediakan oleh Google Books. Tujuan display dalam blog ini adalah membantu penulis dan penerbit memasarkan bukunya. Astudio tidak men-scan ataupun membuat file derivatif dari buku yang bersangkutan.
ENGLISH VERSION: “At Home With Yuni Jie”

At home with Yuni Jie is the work of a coffee table book of interest to inspire your interior design. Written with inspirational and very easy to understand, and with examples from the works by Yuni Jie herself. Combination of discussion of design, modern lifestyle and various design elements, packed with examples of quality design.

Excerpt: Through this book. My cold shows that the ideal home can be realized without having to look over. Sometimes the little things detailed rnalah meniadi the most important thing. Things like how certain colors can affect your mood or how the game can light rnembenkan different nuances in your eyes. In the end. I really hope to be able to share the pleasures of a form of life well lived, a place that rnerupakan tnggal a house and ultimately something that can make our hearts pounding. – Yuni Jie

This book I recall was a bit long, but if you want to buy, try it in bookstores or at online bookstores to click ‘buy this book’.

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Disclaimer:

Preview this book is provided by Google Books. Purpose of displaying in this blog is to help authors and publishers market their books. Astudio not scan or create derivative files from the book in question.

[Buku Interior] At Home With Yuni Jie

[Buku Interior] astudioarchitect.com At home with Yuni Jie adalah karya buku coffee table yang menarik untuk menjadi inspirasi desain interior Anda. Ditulis dengan bahasa inspiratif yang sangat mudah dipahami, serta dengan contoh yang berasal dari karya-karya Yuni Jie sendiri. Gabungan antara bahasan desain, gaya hidup modern dan berbagai elemen desain dikemas dengan contoh desain berkualitas.

Kutipan: Melalui buku ini. saya ngin menunjukkan bahwa rumah yang ideal dapat diwujudkan tanpa harus terlihat berlebihan. Terkadang hal kecil yang mendetail rnalah meniadi hal terpenting. Hal-hal seperti bagaimana wama tertentu dapat memengaruhi suasana hati Anda atau bagaimana permainan cahaya dapat rnembenkan nuansa yang berbeda di mata Anda. Pada akhirnya. saya sungguh berharap untuk dapat berbagi kenIkmatan suatu bentuk kehidupan yang dijalani dengan baik, tempat tnggal yang rnerupakan sebuah rumah dan pada akhirnya sesuatu yang dapat membuat hati kita berdebar. – Yuni Jie

Buku ini seingat saya sudah agak lama, tapi bila Anda ingin membeli, coba saja di toko buku atau di toko buku online dengan klik ‘buy this book’.

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Disclaimer:
Preview buku ini disediakan oleh Google Books. Tujuan display dalam blog ini adalah membantu penulis dan penerbit memasarkan bukunya. Astudio tidak men-scan ataupun membuat file derivatif dari buku yang bersangkutan.
ENGLISH VERSION: “At Home With Yuni Jie”

At home with Yuni Jie is the work of a coffee table book of interest to inspire your interior design. Written with inspirational and very easy to understand, and with examples from the works by Yuni Jie herself. Combination of discussion of design, modern lifestyle and various design elements, packed with examples of quality design.

Excerpt: Through this book. My cold shows that the ideal home can be realized without having to look over. Sometimes the little things detailed rnalah meniadi the most important thing. Things like how certain colors can affect your mood or how the game can light rnembenkan different nuances in your eyes. In the end. I really hope to be able to share the pleasures of a form of life well lived, a place that rnerupakan tnggal a house and ultimately something that can make our hearts pounding. – Yuni Jie

This book I recall was a bit long, but if you want to buy, try it in bookstores or at online bookstores to click ‘buy this book’.

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Disclaimer:

Preview this book is provided by Google Books. Purpose of displaying in this blog is to help authors and publishers market their books. Astudio not scan or create derivative files from the book in question.

Rumah dibangun tim astudio. Dua lantai dengan luas sekitar 258 m2

[karya terbangun] astudioarchitect.com Rumah ini didesain oleh tim astudio dengan sekitar 30% saran dari ahli struktur berkaitan dengan segi ekonomis bangunan. Desain dibuat dengan mempertimbangkan segi ekonomis sekaligus keindahan, yang menghasilkan kolaborasi menarik dari kedua sisi tersebut. Rumah ini didesain kemudian dibangun oleh tim kami untuk Ibu Valentina, dengan luasan bangunan sekitar 258m2 dan dikerjakan selama kurang lebih 8 bulan. Lamanya waktu pembangunan disebabkan oleh tingginya spesifikasi bahan dalam situasi lokal Malang.

 Tampilan rumah

Tampilan rumah merupakan permainan bentuk geometris dalam volume 3 dimensi, bidang dan garis.

________________________________________________

Design by Arif Sugiantoro,
writing by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

ENGLISH VERSION: House built by astudio team

This house was designed by astudio design team with about 30% of expert advice related to the structure of the building to gain more economically building design. The design is made by considering the economic aspect as well as beauty, which produces interesting collaboration from both sides of it. The house was designed and built by our team for Mss Valentina, with around 258m2 building area and worked for about 8 months. The length of construction time due to the high specification of materials in the local situation of Malang.

[Display home]

View the house as a geometric shape of 3-dimensional volume, areas and lines.

________________________________________________

Design by Arif Sugiantoro,

writing by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.