Monthly Archives: Januari 2015

Cara mengatur stand pameran (Bagian 1)

astudioarchitect.com Mungkin ada diantara pembaca astudio yang bergerak di bidang pameran atau memiliki usaha yang kadang harus berpameran. Kadangkala ruang usaha juga membutuhkan pameran barang atau jasa yang ditawarkan. Artikel ini memberikan wawasan tentang stand pameran yang baik. Stand pameran dapat menjadi ujung tombak untuk sebuah perusahaan, dan karenanya harus ada standar yang diperhatikan untuk desain dan penampilannya.

Photo by José Luis Pajares

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sebuah stand pameran bisa memiliki sifat-sifat yaitu:
– mengesankan, tanpa harus terlihat norak
– sesuai dengan pendanaan, tanpa harus terlihat murahan
– mengundang, tanpa terlihat terlalu memaksa
– spektakuler, tanpa berlebihan

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Fungsi area stand
Area stand pameran biasanya terbatas, sesuai dengan yang kita dapatkan sebagai pemilik sementara stand tersebut. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menata sebuah stand pameran, antara lain:

Ruang yang dibutuhkan untuk presentasi. Ruang yang dibutuhkan tergantung dari seberapa banyak dan seberapa besar produk yang ditawarkan, dan tujuan partisipasi; apakah mengenalkan sebagian atau seluruh produk, melakukan penjualan atau tidak, dan sebagainya. Ruang presentasi melingkupi area pameran, papan informasi, video, demonstrasi dan hiburan.

Area diskusi atau mengobrol.
Tergantung dari produk apa yang dipamerkan dan didiskusikan, kita bisa merancang grup meja kursi, booth khusus atau panel konsultasi yang sesuai. Meskipun begitu penataan meja kursi yang baik biasanya membutuhkan ruang yang cukup. Untuk pameran dengan ruang pamer atau stand yang besar, bisa memberikan lebih banyak layanan maupun tempat mengobrol atau berdiskusi.

Area penunjang
Area ini biasanya ada dalam sebuah stand pameran misalnya dibalik meja presentasi atau bagian lain yang tersembunyi, tujuannya adalah menjadi tempat penyimpanan, misalnya loker berkas, keranjang barang, dan sebagainya.

Tujuan Pameran
Untuk pameran yang berfokus pada produk, biasanya dibutuhkan penjelasan langsung tentang produk tersebut kepada pengunjung. Rasio area presentasi dan area diskusi sebaiknya 60:40.


Photo by Display Wizard

Untuk pameran yang berfokus pada informasi, tujuan utamanya adalah memberikan informasi yang bisa ditunjang media, misalnya penjelasan, video informasi, slide show, dan sebagainya. Bentuk presentasi ini biasanya membutuhkan rasio dari area informasi dan area diskusi yaitu 40:60.

Untuk pameran yang berorientasi pada konsultasi, biasanya dibutuhkan lebih banyak area untuk konsultasi pribadi. Mereka yang tertarik biasanya datang untuk berkonsultasi pada spesialis, misalnya arsitek yang sedang melakukan pameran dengan tujuan membuka konsultasi terbuka. Pengaturan tempat duduk adalah prioritas utama. Bagian yang digunakan untuk diskusi lebih banyak daripada area lainnya.

Untuk pameran dengan berbagai tujuan yang beragam, misalnya kombinasi dari berbagai tujuan pameran diatas, maka area yang fungsional harus berimbang.

Tipe Stand
Hal yang mendasar tentang sebuah stand adalah termasuk tipe stand tersebut, karena ini akan berpengaruh pada bagaimana kita mendesain bagian dalam stand pameran.

Stand baris
tipe stand ini biasanya ditengah stand-stand lainnya, artinya di kanan kirinya terdapat stand juga. Stand seperti ini bisa diakses hanya melalui satu sisi saja.

Stand pojok. 
Stand ini berlokasi di bagian akhir dari sebuah baris stand, dan bisa diakses dari dua sisi. Jenis stand pojok lebih efektif untuk mengambil perhatian daripada stand baris.


Photo by José Luis Pajares

Stand Akhir
Stand ini berada di bagian akhir dari sebuah baris stand, dan bisa diakses dari tiga sisi. Ini merupakan jenis stand yang superior dan terlihat mengundang untuk memamerkan.

Stand blok
Tipe stand ini bisa juga disebut stand pulau, adalah betuk stand paling mahal dari semua jenis stand, yang bisa diakses oleh pengunjung dari seluruh sisi dan menarik perhatian karena terpisah dari stand lainnya. Stand ini sebenarnya juga memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Stand luar
Stand luar biasanya dipilih untuk produk yang sangat besar, misalnya batu alam yang besar atau kendaraan. Stand jenis ini juga sesuai untuk jenis produk yang memerlukan dicoba diluar, seperti stand pameran kendaraan.

Merencanakan desain interior stand (permulaan)
Untuk melakukan partisipasi pameran, merencanakan benda dan ruang pamer, kebutuhan ruang dan budget, terdapat beberapa hal yang harus direncanakan agar matang. Berikut ini beberapa hal untuk diperhatikan:

  • Apakah stand tersebut disewa, dipinjamkan atau bahkan dijual
  • Bagaimana sebuah stand dirancang bagian interiornya
  • Apakah sebuah stand harus dibangun atau dipasang sendiri atau pemasangan sudah disediakan oleh kontraktor yang ditunjuk.


Stand yang disewakan lebih menguntungkan dalam jangka panjang untuk jenis pameran tertentu karena kita tidak harus membeli sebuah stand. Namun banyak kasus sebuah stand harus dibeli apabila berada di pusat perbelanjaan atau semacamnya. Keduanya memiliki keuntungan dan juga kelemahannya sendiri. Jika sebuah perusahaan memiliki personel yang cukup berpengalaman, dan memiliki pendanaan yang cukup, sangat mungkin juga stand yang dibeli permanen bisa menjadi pilihan.

Photo by Display Wizard

Organizer dan kontraktor mereka, biasanya meyediakan sistem stand yang dapat disewa dengan banyak ukuran dan furnishing. Banyak peserta pameran juga megambil manfaat untuk menyewa stand tersebut.

(bersambung)

___
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

[DIY] Wedge Table

astudioarchitect.com Andreas Kowaleski merancang sebuah furniture meja kecil atau coffee table dengan menggunakan model yang sangat sederhana. Meja tersebut berbahan multipleks yang dicat putih, dengan ukuran tinggi 45cm dan ukuran bagian atasnya 41cm. (via http://andreaskowalewski.com/Wedge-Table). Berikut ini ilustrasinya yang mungkin bisa membuat Anda ingin membuat project ini sendiri pada akhir pekan.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sketsa perancang Andreas Kowaleski

Bagian-bagian meja. 

 Berbagai tekstur permukaan dapat juga diaplikasikan pada meja mungil ini.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Selamat mencoba…

___
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Rumah di Lahan 10 x 30 m2 [Desain siap pakai kode 001]

astudioarchitect.com [DESAIN DIJUAL kode 001] Desain ini bisa Anda beli dengan memperhatikan keterangan dibawah. Merancang rumah dengan luas tanah 10×30 meter persegi, membutuhkan pendekatan yang khusus karena lahan yang luas bagi seorang arsitek memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dengan lahan mungil. Lahan mungil mengharuskan kita untuk menata ruang-ruang sedemikian rupa sehingga kebutuhan mendasar masuk dengan nyaman, dan bahkan kadangkala musti mengorbankan ruang lahan tertentu demi mencapai rumah yang nyaman. Lahan yang lumayan besar seperti ini membutuhkan penyelesaian yang berbeda, tentunya bukan karena kekurangan lahan, justru karena lahannya lumayan berlebih bahkan ada ruang-ruang yang mungkin akan terasa kosong.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Dengan lahan yang luas, kita dapat memasukkan banyak ruangan sesuai dengan kebutuhan, dan adakalanya ruangan yang sifatnya penunjang seperti ruang kerja, ruang studio, ruang usaha, atau kamar bermain anak juga bisa dimasukkan dalam daftar kebutuhan ruang. Rumah utama yang berisi ruang-ruang untuk kebutuhan utama penghuni dapat dipisahkan dengan jelas dari ruang-ruang penunjang atau ‘ruang servis’, yaitu ruang-ruang yang sifatnya menunjang rumah utama. Dalam hal ini, ruang seperti kamar asisten, kamar mandi luar, ruang cuci setrika, dan jemuran dipisahkan dengan jelas. Ini adalah suatu kenyamanan dibandingkan rumah dengan lahan terbatas. Untuk memberi contoh sebuah rumah dengan lahan luas yang mencukupi untuk banyak kebutuhan ruang, saya merancang desain ini untuk Bapak Jentralim Purba di Medan, yang menanyakan tentang desain rumah untuk lahan yang tergolong luas ini.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Pertanyaan:
Dear Bapak Probo, Saya ingin menanyakan tentang pembuatan desain gambar arsitektur rumah tinggal dengan informasi sebagai berikut:
a. Tanah berukuran 10 x 30m dengan rencana dua lantai
b. dibutuhkan di lantai 1 adalah: teras, ruang tamu, ruang keluarga, musholla, ruang makan, dapur bersih, kamar tidur asisten, ruang setrika, jemuran. Kami juga berencana membuat sebuah kolam renang.
c. dibutuhkan di lantai 2: kamar tidur utama, kamar tidur anak 2 unit, ruang keluarga
Demikian, terimakasih atas perhatiannya.
Jentralim Purba
Medan

 Jawaban: 

Yth Bapak Jentralim Purba, Dalam merancang desain dengan luasan yang lumayan besar, kita sebaiknya memahami bahwa ruang-ruang sebaiknya dirancang dengan memperhatikan kebutuhan ruang yang standar, dan apabila diinginkan maka dapat ditambah tanpa terkesan berlebihan. Tentunya kita sering melihat rumah-rumah yang lahannya cukup luas dirancang tanpa memperhatikan besaran yang standar, dalam arti ‘yang enak dipakai’. Karena, menurut pengalaman ruang-ruang yang terlalu besar ternyata juga susah untuk ‘diisi’ dalam arti membutuhkan furniture yang besar-besar juga, agar kesannya tidak kosong. Ruang-ruang yang terlalu besar juga membutuhkan maintenance yang lebih banyak.

Rumah Bapak saya rancang dengan memperhatikan ruang yang saya rasa standar dan ‘enak dipakai’ tersebut. Desain denah memperhatikan kebutuhan ruang Bapak, dengan ruang-ruang yang dipakai berkumpul dan menerima tamu ada di bagian bawah, demikian juga dengan ruang makan dan dapur. Lantai 2 digunakan untuk beristirahat dan berkumpul santai. Untuk tema desain tampilan dan bagian dalam, menggunakan desain bertema modern yang terkesan luas dan bersih, serta perawatannya relatif lebih mudah. Demikian, semoga desain ini bermanfaat.

Salam,
Probo Hindarto
***

Desain ini muncul di Koran Sindo edisi Rabu,
desain ini dapat Anda beli.
(desain ini dihasilkan dari desain gratis via media, dan kami tidak pernah menjual desain yang dihasilkan dari konsultasi profesional)

Bila Anda memiliki lahan yang sesuai, bisa membeli desain ini, adapun dokumen yang Anda dapatkan antara lain:

Dokumen Gambar kerja

 

 

berisi:
– Denah
– Tampak depan, samping
– Potongan jumlah disesuaikan dengan tingkat kesulitan
– Rencana pondasi
– Rencana atap
– Rencana pembalokan (bila ada)
– Rencana sanitasi (air bersih dan kotor)
– Rencana perletakan peralatan listrik
– Rencana perletakan kusen
– Detail kusen (hingga per kusennya digambar)

 

– 3Dimensi desain bangunan (tampilan depan)
– Perspektif rencana perletakan perabot
– Sudah termasuk desain interior untuk ruang tamu dan ruang keluarga

bentuk dokumen: print out A3, dokumen digital PDF.
harga desain: Rp 4jt

Tentunya desain perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi lahan Anda, dengan memiliki gambar kerja, maka pekerjaan pembangunan akan lebih terencana dan rapi hingga ke detailnya.

Cara memesan:
1 SMS atau whatsapp ke 08125244753
atau email ke astudioarchitect.com@gmail.com dengan subyek
“beli desain rumah 001”
2 selanjutnya akan kami pandu untuk proses pembelian dan nomor rekening Mandiri/BCA.

___
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

BATA; Kuat, awet, indah dan eksotis

astudioarchitect.com Saya beberapa kali mendesain dengan menggunakan bata ekspos, termasuk rumah saya sendiri memiliki bagian bata ekspos pada sebagian dindingnya. Bata ekspos yang bagus tersedia di pasaran, meskipun untuk mencarinya perlu sedikit usaha ekstra. Bata bisa diekspos untuk menghasilkan dinding dengan tekstur yang khas. Tidak hanya untuk desain bertema tradisional atau etnik saja, namun juga yang bergaya modern. Simak buku Bata: Kuat, awet, indah dan eksotis yang ditulis oleh Imelda Akmal ini.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kutipan: Sopi-sopi berongga dengan bata

Tak hanya bangunan bercitra etnik yang cocok menggunakan bata, bangunan modern kontemporer pun pantas menggunakannya asal pos\rsi serta letaknya sesuai.

Bangunan kontemporer karya Adra matin yang berdri di tengah-tengah perkebunan jamu di Jawa Timur ini adalah contoh yang ideal. Perpaduan material bata ekspos dengan kolom-kolom ayu tipis, dinding putih, dan genteng tanah liat yang sederhana menciptakan bangunan yang hening-menyatu dengan alam.

Bata ekspos digunakan sebagai material pembentuk kisi-kisi penyekat ruang serta penutup dinding sopi-sopi. Kisi-kisi tipis penyekat ruang ini disusun menggunakan pola stack bond yang disusun lurus k atas. Sedangkan pada bagian sopi-sopinya, bata disusun dengan pola eksperimen sang arsitek.

Pola penyusunan bata pada sopi-sopi mengambil inspirasi dari pola flemish bond yang mengombinasikan bata memanjang dan melintang dalam satu baris. Disini sang arsitek bereksperimen degan menghilangkan bata yang melintang sehingga terentuk rongga atau celan di antara bata yang memanjang. Melalui rongga atau celah inilah udara segar bisa mengalir masuk dan keluar ruangan.

Pemakaian bata ekspos yang tidak terlalu dominan ini berhasil menjadi elemen dekoratif yang mampu menyeimbangkan unsur-unsur modern dengan suasana alam disekitarnya.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
https://books.google.co.id/books?id=dPOO1JVbckkC&lpg=PA95&dq=budi%20pradono&pg=PA1&output=embed

___
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Mengenal Orientasi Rumah dan Bangunan

astudioarchitect.com Meskipun topik ini termasuk topik yang agak susah diterjemahkan dalam bahasa awam, saya coba untuk mengulasnya dalam artikel ini. Tentunya untuk rumah tinggal, kita tidak mengenal ‘orientasi’ yang terlalu rumit seperti arah kiblat dan sebagainya, namun lebih ke arah bangunan rumah sebaiknya memiliki suatu orientasi ke arah tertentu yang menjadikan ruangan, pemandangan dan arah hadap sebagai ‘orientasi bangunan’. Orientasi ruang atau bangunan dapat meningkatkan

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sebagai manusia, kita sealu memiliki orientasi atau ‘kliblat’, yang dikenal juga dalam agama masing-masing. Bagi orang Hindu, sebuah pura atau gunung bisa menjadi suatu pusat orientasi atau Pusering Jagad (Pusat Dunia). Orang Muslim memiliki kiblat ke arah Ka’bah, demikian juga orang Kristen ke gunung Golgotha di Yerusalem. Dalam dunia arsitektur, kita mengenal adanya orientasi bangunan, yaitu semacam ‘arah’ atau hadap ruang dan arsitekturnya.

Desain oleh Probo Hindarto

Arah Orientasi
Dalam merancang desain rumah, sebagai arsitek baik disengaja ataupun tidak, disadari ataupun tidak saya selalu merancang dengan membuat rumah memiliki orientasi tertentu. Orientasi dibutuhkan agar ruang dalam rumah memiliki nilai lebih. Nilai lebih ini misalnya adalah pemandangan, kesan rekreatif, dan sebagainya. Tidak mudah untuk merancang dengan memperhatikan arah orientasi. Saya banyak melihat arsitek yang kurang memperhatikan hal ini, dan merancang hanya dalam bentuk 2 dimensi dan menganggap bahwa setelah denah jadi ia tidak harus memperhatikan orientasi yang dapat meningkatkan nilai rumah itu sendiri yang ditingkatkan melalui potensi yang dimiliki orientasi tersebut.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Asal orietasi bangunan
Nah, apa sajakah yang bisa menjadi asal orientasi bangunan? Pada saat awal mendesain, yang pasti diperhatikan adalah lokasi didirikannya bangunan. Dalam skala lahan atau site, kita perlu mempertimbangkan dalam skala besar dulu, misalnya lahan ini berada dimana, dikota mana, dan potensi alam apa yang dapat dipertimbangkan untuk menunjang keindahan bangunan. Apabila ada gunung, danau, hutan, laut atau sejenis keindahan alam, kita bisa mempertimbangkan untuk membuka arah orientasi bangunan melalui jendela, pintu atau menghadapkan ruang atau bangunan ke arah tersebut.

Desain oleh Probo Hindarto

Apabila keindahan yang ‘besar’ seperti pegunungan, danau atau laut tidak ada, coba cari pada sekitar lahan tersebut, misalnya disekitarnya ada sesuatu yang menarik, misalnya bangunan rumah ada didekat pemandangan landscape kota seperti tugu, patung, atau bangunan landmark lain, mungkin kita perlu mempertimbangkan untuk membuka jendela ke arah tersebut.

Apabila orientasi bangunan ke arah luar tidak ada, cobalah cari pada lahan Anda, apakah terdapat sesuatu yang menarik, misalnya pohon eksisting yang sangat indah, ataukah lahan memiliki kontur? Kontur atau pohon dapat juga menjadi orientasi bangunan yang menarik. Kita dapat mempertahankan kontur tanah dengan perbedaan ketinggiannya sehingga bisa kita olah menjadi aspek rumah yang unik. Rumah menjadi tidak rata, ada naik turunnya, dan ada perbedaan ketinggian disatu ruang atau bagian bangunan ke bagian lainnya.

Photo by Axel Drainville 

Yang tak kalah pentingnya adalah orientasi dari pergerakan matahari. Lahan yang menghadap timur, utara, barat dan selatan masing-masing memiliki jam penerimaan sinar matahari yang berbeda. Lahan menghadap timur biasanya lebih terkena matahari pada pagi hari di bagian depan dan pada sore hari tidak. Lahan yang menghadap barat cenderung panas pada sore hari karena bagian depan yang terbuka lebih banyak menerima sinar matahari. Lahan yang orientasinya ke arah utara selatan lebih gampang, apalagi bila berada diantara rumah lain (diapit rumah lain), sehingga bisa terhindar dari sinar menyengat yang meningkatkan suhu secara langsung.

Kemudian, bagaimana jika pemadangan atau area disekitar lahan tidak menarik bahkan cenderung tidak menyenangkan? Misalnya bila lahan rumah berada disekitar pasar, area yang kurang aman, atau kuburan? Dalam hal ini, kita perlu menyiasatinya dengan menutup sebisa mungkin orientasi yang tidak menyenangkan itu melalui desain rumah. Apabila mungkin blok pemandangan ke arah pemandangan tidak menyenangkan misalnya seperti kuburan itu, dengan dinding yang tinggi. Sangat terkecuali apabila pemilik menyukainya, misalnya menyukai suasana pasar atau bila memang suasana jalan yang ramai merupakan pemandangan yang menarik. Hanya Anda yang bisa menentukan apakah sebuah pemandangan perlu di blok, dan sampaikan hal itu pada arsitek Anda.

Dalam merancang bagian dalam juga begitu, hadapkan atau orientasikan pintu dan jendela, terutama ke arah taman atau pemandangan menarik. Tentang bagaimana menyelesaikan bentuk detailnya Anda bisa meminta arsitek Anda memeras otak 😉

Khusus perkotaan atau lahan terbatas
Khusus untuk ini, kita perlu mempertimbangkan bahwa pemandangan menarik di kota sudah banyak ditutupi oleh bangunan sekitarnya, namun kita bisa menyiasatinya dengan cara membuka orientasi ke arah taman dalam, bangunan tinggi yang menarik (pencakar langit), atau membuat taman diatas atap yang indah. Ingat bahwa meskipun diatas atap, taman atap bisa juga menjadi sebuah tempat untuk melepaskan ketegangan, melihat langit terbenam pada sore hari, menjadi tempat berkumpul melihat kembang api disekitar saat pergantian tahun, dan sebagainya.

Karena biasanya tingkat kriminalitas di perkotaan lumayan tinggi, banyak yang mempertimbangkan untuk membuat pagar tinggi sebagai konsekuensi. Namun bila lahan berada di area yang relatif aman seperti perumahan yang sudah terbentuk atau pedesaan yang relatif aman, Anda bisa mempertimbangkan untuk membuat pagar rendah dimana orientasi bangunan bisa juga menghadap ke jalan depan.

Hal yang umum adalah orientasi ke taman dalam diutamakan. Adanya taman dalam adalah sebuah kemewahan, karena makin jarang rumah di perkotaan memiliki taman dalam. Karena itu, alih-alih menjadi tempat jemuran, taman dalam musti diperhatikan benar agar terjaga keindahannya, tetap bersih, dan tidak menjadi area penyimpanan atau bahkan gudang untuk barang-barang yang tak terpakai. Taman yang tidak tertata dan tidak bersih mencerminkan penghuni yang kurang peduli.

Tips dalam merancang
Dalam merancang, perhatikan hal-hal seputar orientasi ruang dan bangunan sebagai berikut:

  • Perhatikan apakah lahan berada ditempat yang indah seperti perbukitan, danau, pemandangan kota yang menakjubkan, atau pantai. Pemandangan juga bisa berarti adanya landmark kota atau obyek buatan yang menarik. Buatlah desain yang mengakomodasi pemandangan ke arah alam yang indah itu. 
  • Perhatikan apakah ada area disekitar lahan rumah atau bangunan yang sebaiknya ditutup, seperti kuburan, sekolah, jalanan berdebu, kemacetan, atau kekhawatiran akan tingkat kriminalitas yang tinggi. Namun sebaiknya perhatikan agar desain rumah tidak menjadi egois atau terkesan anti sosial.
  • Perhatikan apakah lahan berada ditempat yang aman seperti perumahan yang sudah terbentuk dengan pengamanan lingkungan dan sebagainya, agar memungkinkan kita membuat rumah yang minim pagar. 
  • Perhatikan potensi dalam lahan. Potensi ini menyangkut kontur lahan, atau pohon yang indah. Beberapa jenis pohon dapat dipertahankan agar dari dalam rumah dapat menikmati pohon tersebut. Rumah dapat dirancang melingkari atau mempertahankan keberadaan pohon yang indah itu, agar kelak anak dapat mengenal alam dan menghargai lingkungan sebagaimana orangtuanya. 
  • Perhatikan arah utara selatan bangunan. Bagian timur apabila disukai bisa memasukkan cahaya matahari pagi hingga jam 10 yang masih enak. Bagian barat mungkin perlu ditutup atau diberi shading device atau secondary skin agar tidak panas. Bagian utara selatan dapat dimaksimalkan untuk mendapatkan view pemandangan yang diinginkan. 
  • Apabila rumah berada di area lahan yang luas, misalnya rumah di pedesaan dengan lahan luas dan rumah ditengahnya atau masih banyak lahan sisa, kita juga perlu memperhatikan arah angin darimana biasanya datang. Ini bisa diperhatikan melalui pengamatan sepanjang tahun atau memperhatikan arah pergerakan angin yang umum di daerah tersebut. Ini dapat mempengaruhi suhu, kelembaban dan juga debu yang masuk melalui ventilasi dan bukaan bangunan. 

Nah, setelah berpanjang lebar tentang arah orientasi bangunan, sekarang kita lebih mengerti tentangnya dan dapat mengimplementasikan pada desain rumah tinggal yang lebih baik.

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Rumah yang Compact: Rapi dan Rapat

astudioarchitect.com Saya sering menyebutkan di blog astudio ini bahwa rumah-rumah makin mengecil dan harus didesain dengan makin pintar, dimana salah satu istilah yang bisa dipakai adalah ‘compact’. Istilah compact berasal dari bahasa Inggris yang artinya ‘closely and neatly packed together, dense’ atau kurang lebih artinya rumah yang semuanya ‘dekat’ satu sama lain dan diatur dengan rapi meskipun cukup rapat, yang artinya banyak benda harus didesain dengan memperhatikan kebutuhan ruang dan juga ketersediaan ruang untuk masing-masing benda. Bagaimana konsep dan cara mengatur rumah agar compact? Simak pertanyaan dan jawaban berikut ini;

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Apakah Rumah Compact itu? Dan mengapa ada fenomena rumah compact?
Rumah compact adalah tipikal desain rumah yang mengedepankan desain sederhana, tepat guna serta dapat memenuhi kebutuhan mendasar, seperti beristirahat, memasak, makan, bersosialisasi dan berkumpul, serta memiliki fitur rekreatif meskipun dalam skala terbatas.

Rumah compact diakibatkan oleh kebutuhan ruang yang mendasar bagi seluruh keluarga, yaitu jumlah kamar tidur, adanya ruang keluarga, dapur dan ruang makan, serta ruang tamu. Bahkan adanya carport pun turut menentukan besaran ruang yang lainnya dalam rumah compact. Desain rumah seperti ini juga berorientasi kedalam, karena banyak permasalahan yang terjadi diluar rumah seperti tingkat kriminalitas yang tinggi yang menyarankan mereka yang tinggal dikota untuk membangun rumah dengan orientasi ‘kedalam’ area rumah, yaitu memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan, serta unsur taman mungil serta tanaman yang memungkinkan.

Dewasa ini banyak arsitek juga sadar bahwa fenomena ini yang mengadopsi konsep rumah compact ini dengan cara cerdas, diantaranya dengan membuat ruang-ruang yang terasa ‘kosong’ dan ‘terbuka’ untuk memaksimalkan perasaan lapang dalam rumah. Memang rumah tidak benar-benar lapang, namun persepsi penghuni dapat dimaksimalkan antara lain dengan cara:

  • membuat bukaan-bukaan ke arah taman mungil atau taman samping memanjang yang lebar, misalnya dengan jendela lebar-lebar
  • taman mungil atau samping bisa dibuat ditengah rumah atau memanjang, dan seluruh ruangan mendapatkan manfaat maksimal dari adanya taman ini. Pendapat lama bahwa taman ditengah rumah atau disamping yang terkesan tidak ada gunanya atau membuang area rumah tidak relevan lagi. 
  • mengecat rumah dan area dinding dengan warna putih namun tidak menutup kemungkinan muncul warna lain yang menjadi aksen. 
  • desain yang sederhana cenderung menghilangkan kemungkinan pemborosan ruang maupun kesan ruang yang ribet. Contoh nyata; taman buatan dengan model gua-gua atau bukit dengan tanaman menjuntai sepertinya tidak relevan lagi. 
  • meniadakan sekat permanen dan menggantinya dengan sekat yang dapat dilipat atau dipindahkan. Bahkan dengan cara ini ruangan dapat diatur dan dimodifikasi dengan cara mendekorasi ulang sebuah ruangan. 
  • memilih dan membuat perabot yang memiliki beberapa fungsi. Sebuah meja dapat berfungsi sebagai kabinet dan lemari penyimpan pada saat bersamaan, serta juga berfungsi sebagai tempat menaruh buku dan pajangan, semua memungkinkan dengan desain interior yang tepat. 
  • mengelompokkan ruang-ruang dalam area yang tepat, dalam hal ini kamar-kamar tidur bisa ditempatkan di lantai dua (kadangkala tidak diperlukan ruang keluarga di lantai atas), sedangkan ruang keluarga, ruang makan dan dapur diletakkan dibawah dalam satu area. Ada pula yang menaikkan level rumah setinggi misalnya 2,5m agar bagian bawah dapat difungsikan sebagai garasi, kamar asisten atau ruang servis lain. 


Ukuran rumah yang compact
Ukuran rumah biasanya mengikuti kebutuhan dasar dari penghuni. Berapa banyak kamar tidur yang dibutuhkan, karenanya ukuran luas mengikuti kebutuhan ruangan. Apabila lahan tidak memungkinkan untuk dibuat satu lantai karena banyaknya ruangan yang dibutuhkan, maka solusinya tentunya didesain untuk pengembangan vertikal.

Dalam menentukan luar bangunan kita memperhatikan standar nasional yang menyarankan sekitar 9m2 untuk setiap kamar dihuni satu orang, sehingga bila satu kamar lebih dari 1 atau 2, maka harus memperhatikan juga luasannya. Namun memang SNI hanya memperhatikan kebutuhan yang sifatnya lebih ke arah fisik, bukan kebutuhan secara psikologis. Dalam hal ini intuisi perancang yaitu arsitek dan interior desainer harus bekerja memanfaatkan ruang yang ada secara maksimal.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Kriteria rumah yang compact dan cara mengaturnya.
Rumah compact biasanya memiliki keterbatasan, terutama dari segi lahan, yang memang tidak besar. Karena itu bila lahannya besar biasanya tidak dikategorikan sebagai rumah compact karena berarti tidak memiliki keterbatasan tersebut. Namun bila lahan yang mungil diselesaikan desainnya menggunakan prinsip desain rumah berlahan luas, tidak akan sesuai bahkan akan terasa sumpek. Karena itu rumah yang compact memiliki jenis desain khusus.

Bila mengacu pada besaran yang disebut rumah compact pada berbagai media blog dan literatur dalam dan luar negeri, kita dapat menggambarkan rumah compact selain dipengaruhi oleh ukuran lahan yang mungil, juga oleh pengaturan ruangan yang rapat dan terorganisir. Karenanya lahan 4x6meter persegi, atau lahan 8x13meter persegi bisa jadi keduanya didesain dengan prinsip rumah compact. Namun lahan 8x13meter persegi tidak bisa didesain dengan cara seperti mendesain diatas lahan 15x25meter persegi, karena akan beda kasusnya dan tidak akan cocok.

Adapun cara mengatur, merupakan topik yang dapat diselesaikan oleh arsitek Anda, tentunya dengan masukan dari Anda sebagai owner dari rumah yang akan didesain tersebut. Cara mengatur rumah compact biasanya unik. Kadangkala dapur benar-benar diletakkan didepan, dan menyusul ruang keluarga merangkap ruang tamu, dan mengutamakan kesan luas dari ruang yang ada ketimbang membuat sekat-sekat. Karena itu rumah compact mungkin membutuhkan kesiapan mental, dalam arti kemungkinan beberapa ruangan yang selama ini dianggap tabu untuk disatukan, misalnya ruang tamu dan ruang keluarga, atau ruang keluarga dan ruang makan, akan disatukan dengan harapan menimbulkan kesan luas tersebut.

Kamar-kamar tidur seringkali diletakkan dalam lantai yang sama, yaitu lantai atas. Mengapa? Karena hal ini akan menyatukannya dalam satu zona. Di lantai 2 tidak perlu memiliki ruang keluarga, mungkin hanya perlu ruang untuk menonton televisi saja. Aktivitas keluarga seperti berkumpul dan makan akan dilakukan di lantai 1.

Yang harus diperhatikan dan dihindari
Yang harus diperhatikan adalah menyatukan ruang-ruang dengan hanya memisahkannya melalui kelompok-kelompok furniture. Sedapat mungkin jangan menggunakan sekat masif seperti dinding bata. Sebuah taman memanjang bisa jadi menjadi sumber cahaya dan hawa yang berlimpah. Meskipun memanjang, misalnya 1 meter memanjang ke belakang, tapi karena tetap difungsikan sebagai taman, maka akan sangat berpengaruh dan memberi dampak positif untuk seluruh ruangan. Jangan menyepelekan fungsi taman meskipun mungil, karena itu bisa menyelamatkan seluruh desain rumah Anda, dan mungkin juga menyelamatkan anggota keluarga dari kemungkinan penyakit pernafasan karena kurangnya cahaya dan hawa alami.

Hindari berpikir denah dengan cara lama. Ingatlah bahwa arsitek Anda mungkin memiliki visi yang tidak bisa Anda lihat sebelumnya.

images via Dezeen
______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Cara membuat Lampu Gantung dari Sangkar Burung

astudioarchitect.com [DIY weekend Project] Sangkar burung mungkin sesuatu yang sederhana, dan dapat dibeli di banyak tempat mulai dari pasar burung hingga toko perlengkapan peliharaan burung. Nah, bagi Anda yang mungkin sedang mencari ide untuk membuat sangkar burung menjadi lampu unik yang cantik tak kalah dengan yang dipajang di kafe-kafe favorit Anda, kali ini saya perlihatkan bagaimana caranya. Kebetulan lampu sangkar ini saya buat sendiri untuk teras rumah saya yang kebetulan bertema etnik kontemporer. Pasti asyik untuk proyek akhir pekan Anda hari Minggu ini.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Bahan yang dibutuhkan sangat sederhana, disini saya membuat tiga buah lampu sangkar, yang artinya saya membutuhkan tiga buah sangkar dimana harganya sangat murah, dibawah Rp 20.000,-

Bahan lain yang dibutuhkan adalah polikarbonat yang bisa Anda beli di toko bangunan, biasanya untuk keperluan menutup pagar. Pilih polikarbonat yang buram, dan mungkin juga dengan sedikit motif seperti yang saya pilih ini. Bahan lainnya termasuk kawat, kabel, fitting lampu, dan sebagainya seperti pada contoh.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Pertama, kita memotong polikarbonat dengan ukuran sisi luar yang melingkar, karena kita akan membuat lampu sangkar terlihat seperti lampion dengan sisi yang tertutup polikarbonat.


Dalam contoh ini saya memotong polikarbonat dengan ukuran tinggi 33cm karena sangkarnya berukuran tinggi 33cm. Adapun lebarnya menyesuaikan dapat dikira-kira, nanti akan dipotong dengan ukuran pas setelah dipasang.


Ambil kawat secukupnya untuk membuat ikatan antara batang-batang sangkar dengan polikarbonat.


Beginilah cara untuk mengikat polikarbonat kepada batang-batang jeruji sangkar. Lubangi polikarbonat dan kemudian ikat dengan kawat menggunakan bantuan tang.


Beginilah ikatan kawat untuk mengikat polikarbonat pada jeruji. Kita bisa menyembunyikan ikatan kawat dengan memutarnya ke bagian dalam sangkar agar tidak mengenai tangan.


Setelah selesai dengan memasukkan polikarbonat di bagian dalam sangkar dengan ditali memakai kawat, maka langkah selanjutnya adalah memasang fitting bohlam. Langkahnya sederhana, karena sangkar ini relatif ringan, maka kita bisa menggunakan kabel untuk menjadi tali sangkarnya juga. Caranya dengan melilitkan sedikit kawat untuk mengikat cantolan sangkar ke kabel.


Sebetulnya langkah ini dibuat sebelum merakit bohlam, sangkar dan kabel, yaitu pasang fitting bohlam pada kabel seperti pada foto ini.


nah, cobalah dahulu nyala bohlam agar seandainya ada problem bisa kita betulkan dulu.


Nyala unik dari dalam sangkar. Untuk kesan seperti lampu lama gunakan lampu dengan nyala kuning (warm white).


Dalam contoh ini saya memasang lampu sangkar pada sebuah papan yang digantung di atap teras rumah saya.

Bentuknya seperti ini, lumayan manis berpadu dengan elemen yang lain. Memang disini saya membuat desain teras dengan tema rustic yang berpadu manis dengan kesan etnik kontemporer. 
Kesan manis dan menarik dari bahan-bahan yang relatif murah. 

Kesan etnik tradisional didapatkan dari sangkar burung bundar. 

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.