Category Archives: x books

>Hotel-hotel bergaya Asia (inspirasi dari buku)

>

astudioarchitect.com Gaya desain bangunan etnik modern bisa menjadi pilihan bagi Anda yang menyukai jenis arsitektur yang menenangkan dan penuh relaksasi. Bila Anda menyukai desain rumah atau bangunan lain bergaya resort hotel, terdapat buku yang mungkin bisa menginspirasi Anda, setidaknya bila Anda tidak fasih membaca teks bahasa Inggrisnya, masih bisa melihat-lihat gambar dalam buku yang bergenre ‘coffe table book’ ini. 

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.

All rights reserved.

Hotel-hotel bergaya Asia (inspirasi dari buku)

astudioarchitect.com Gaya desain bangunan etnik modern bisa menjadi pilihan bagi Anda yang menyukai jenis arsitektur yang menenangkan dan penuh relaksasi. Bila Anda menyukai desain rumah atau bangunan lain bergaya resort hotel, terdapat buku yang mungkin bisa menginspirasi Anda, setidaknya bila Anda tidak fasih membaca teks bahasa Inggrisnya, masih bisa melihat-lihat gambar dalam buku yang bergenre ‘coffe table book’ ini. 

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.

All rights reserved.

Candi Sewu dan Bangunan Arsitektur Agama Budha di Jawa Tengah / Sewu Temple and Buddhist buildings in Central Java

astudioarchitect.com Budaya arsitektur Indonesia, yang berakar dari nenek moyang adalah budaya arsitektur yang sangat kaya. Kualitas yang ditunjukkan leluhur kita sangat hebat dan setara dengan peradaban-peradaban besar dunia. Banyak penelitian sudah dilakukan pada arsitektur peninggalan masa lalu seperti candi-candi Jawa. Kali ini saya menemukan sebuah buku di Google Books karangan Jaques Dumarcay yang mengetengahkan penelitian yang dilakukannya pada candi Sewu dan candi-candi lain di Jawa Tengah.

Indonesian architectural culture, which stems from our ancestors is a very rich architectural culture. The quality of our ancestors shown very great and the equivalent of the great civilizations of the world. Many studies have been done on the architectural relics of the past such as the temples of Java. This time I found a book on Google Books Jaques Dumarcay essay describing research done on Sewu temple and other temples in Central Java.

Kutipan: Candi adalah bangunan keagamaan yang didirikan ratusan tahun yang lalu. Maka peminat dan peneliti utamanya terbatas kepada para ahli purbakala dan ahli sejarah. Itu pun kalau ahli purbakala itu mengkhususkan diri dalam bidang arkeologi klasik dan ahli sejarah dalam bidang sejarah kuno Indonesia. Dan kedua bidang ini yang ditekuni adalah terutama sekali rnasalah-masalah yang berkenaan dengan keagamaan, perlambangan seni arca serta seni hias, pertulisan kuno. dan berbagai hal lain dalam kerangka kajian filologi atau sejarah kebudayaan.

Jarang terlintas dalam pikiran bahwa candi adalah pertama-tama hasil ilmu bangunan dan seni bangunan. Didirikannya sebuah candi didahului oleh perencanaan konstruksi dan tata letak yang disertai perhitungan-perhitungan dan juga pengukuran yang amat cermat, baik berdasarkan ilmu maternatika maupun ilmu astronomi. Dibangunnya sebuah candi harus disertai penguasaan teknologi khusus dan keterampilan perundagian yang tidak dapat ditawar-tawar. OIeh karenanva, dalarn meneliti dan mempelajari seluk-beluk sebuah candi tidak dapat diabaikan setiap gejala teknis, betapa kecilnya juga, tiada bedanya bila menghadapi gejala arkeologi ataupun historis.

Excerpt: The temple is a religious building founded hundreds of years ago. It is primarily limited to enthusiasts and researchers to the archaeologist and historian. That is, if the archaeologist specializing in the field of classical archeology and historians of ancient history in Indonesia. And both are engaged in this field is particularly issues pertaining to religious symbolism and art decorative art statues, ancient writings and various other things in framework philological studies or cultural history.

Rarely comes to mind that the temples are the first result of building science and art buildings. Preceded by the establishment of a temple construction planning and layout which accompanied by calculations and also very careful measurements, whether based on mathematical science and astronomy. Construction of a temple should be accompanied by special technology and skill mastery that can not be bargained. Reflected in its cause, conducts research and learn the ins and outs of a temple can not be ignored from any technical symptoms, how small, too, there is no difference when dealing with archaeological or historical phenomenon.

Dalam buku ini penulisnya, Dr. J. Durnarçay, seorang teknikus kawakan yang telah puluhan tahun menggeluti masalah-masalah teknis candi-candi di Asia Tenggara—terutama di Kamboja dan Indonesia—telah berhasil mengungkapkan berbagai hal yang dalam ilmu purbakala dan sejarah selalu merangsang penelitian tetapi belum pernah terselesaikan secara tuntas. Misalnya saja: soal riwayat pembangunan sebuah candi beserta tahapan-tahapannya. Soal kronologi pembangunan candi-candi beserta kaitan budayanya. Soal pemakaian teknik bangunan beserta ukuran-ukuran dasamya, dan banyak lagi soal lainnya yang sifatnya teknis semata-mata.

Meskipun kajian teknis itu tidak selalu sesuai, bahkan ada kalanya bertentangan dengan hasil hasil yang diperoleh dari kajian arkeologi dan histori, tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan teknis itu harus diperhitungkan dan disertakan dalam kajian kajian ulang nantinya yang bagaimanapun juga tetap diperlukan mengingat bahwa pengetahuan kita tentang candi masih sangat fragmentaris. Kajian teknis itu paling tidak merupakan tambahan kalau bukan pelengkap dan cara pendekatan yang sarnpai kini kita lakukan.

In of this book the author, Dr. J. Durnarçay, a veteran technologist who has decades of studying technical aspects of temples in Southeast Asia, especially in Cambodia and Indonesia-have succeeded in expressing a variety of things in archeology and history that are always stimulating research, but has never been completely resolved. For instance: about the history of the construction of a temple and its phase-step. About the chronology of development and its relation to temples culture. Problem use of building techniques and measures of its base, and many other questions that are purely technical in nature.

Although the technical study that was not always consistent, even occasionally in conflict with the results obtained from the study of archeology and history, can not be denied that the technical view must be taken into account and included in the review of studies which, however, will still need to be remembered that our knowledge about the temples are still very fragmentary. Technical study that is at least an additional, if not complementary, and the approach we do now.

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

Candi Sewu dan Bangunan Arsitektur Agama Budha di Jawa Tengah / Sewu Temple and Buddhist buildings in Central Java

astudioarchitect.com Budaya arsitektur Indonesia, yang berakar dari nenek moyang adalah budaya arsitektur yang sangat kaya. Kualitas yang ditunjukkan leluhur kita sangat hebat dan setara dengan peradaban-peradaban besar dunia. Banyak penelitian sudah dilakukan pada arsitektur peninggalan masa lalu seperti candi-candi Jawa. Kali ini saya menemukan sebuah buku di Google Books karangan Jaques Dumarcay yang mengetengahkan penelitian yang dilakukannya pada candi Sewu dan candi-candi lain di Jawa Tengah.

Indonesian architectural culture, which stems from our ancestors is a very rich architectural culture. The quality of our ancestors shown very great and the equivalent of the great civilizations of the world. Many studies have been done on the architectural relics of the past such as the temples of Java. This time I found a book on Google Books Jaques Dumarcay essay describing research done on Sewu temple and other temples in Central Java.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Kutipan: Candi adalah bangunan keagamaan yang didirikan ratusan tahun yang lalu. Maka peminat dan peneliti utamanya terbatas kepada para ahli purbakala dan ahli sejarah. Itu pun kalau ahli purbakala itu mengkhususkan diri dalam bidang arkeologi klasik dan ahli sejarah dalam bidang sejarah kuno Indonesia. Dan kedua bidang ini yang ditekuni adalah terutama sekali rnasalah-masalah yang berkenaan dengan keagamaan, perlambangan seni arca serta seni hias, pertulisan kuno. dan berbagai hal lain dalam kerangka kajian filologi atau sejarah kebudayaan.

Jarang terlintas dalam pikiran bahwa candi adalah pertama-tama hasil ilmu bangunan dan seni bangunan. Didirikannya sebuah candi didahului oleh perencanaan konstruksi dan tata letak yang disertai perhitungan-perhitungan dan juga pengukuran yang amat cermat, baik berdasarkan ilmu maternatika maupun ilmu astronomi. Dibangunnya sebuah candi harus disertai penguasaan teknologi khusus dan keterampilan perundagian yang tidak dapat ditawar-tawar. OIeh karenanva, dalarn meneliti dan mempelajari seluk-beluk sebuah candi tidak dapat diabaikan setiap gejala teknis, betapa kecilnya juga, tiada bedanya bila menghadapi gejala arkeologi ataupun historis.

Excerpt: The temple is a religious building founded hundreds of years ago. It is primarily limited to enthusiasts and researchers to the archaeologist and historian. That is, if the archaeologist specializing in the field of classical archeology and historians of ancient history in Indonesia. And both are engaged in this field is particularly issues pertaining to religious symbolism and art decorative art statues, ancient writings and various other things in framework philological studies or cultural history.

Rarely comes to mind that the temples are the first result of building science and art buildings. Preceded by the establishment of a temple construction planning and layout which accompanied by calculations and also very careful measurements, whether based on mathematical science and astronomy. Construction of a temple should be accompanied by special technology and skill mastery that can not be bargained. Reflected in its cause, conducts research and learn the ins and outs of a temple can not be ignored from any technical symptoms, how small, too, there is no difference when dealing with archaeological or historical phenomenon.

Dalam buku ini penulisnya, Dr. J. Durnarçay, seorang teknikus kawakan yang telah puluhan tahun menggeluti masalah-masalah teknis candi-candi di Asia Tenggara—terutama di Kamboja dan Indonesia—telah berhasil mengungkapkan berbagai hal yang dalam ilmu purbakala dan sejarah selalu merangsang penelitian tetapi belum pernah terselesaikan secara tuntas. Misalnya saja: soal riwayat pembangunan sebuah candi beserta tahapan-tahapannya. Soal kronologi pembangunan candi-candi beserta kaitan budayanya. Soal pemakaian teknik bangunan beserta ukuran-ukuran dasamya, dan banyak lagi soal lainnya yang sifatnya teknis semata-mata.

Meskipun kajian teknis itu tidak selalu sesuai, bahkan ada kalanya bertentangan dengan hasil hasil yang diperoleh dari kajian arkeologi dan histori, tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan teknis itu harus diperhitungkan dan disertakan dalam kajian kajian ulang nantinya yang bagaimanapun juga tetap diperlukan mengingat bahwa pengetahuan kita tentang candi masih sangat fragmentaris. Kajian teknis itu paling tidak merupakan tambahan kalau bukan pelengkap dan cara pendekatan yang sarnpai kini kita lakukan.

In of this book the author, Dr. J. Durnarçay, a veteran technologist who has decades of studying technical aspects of temples in Southeast Asia, especially in Cambodia and Indonesia-have succeeded in expressing a variety of things in archeology and history that are always stimulating research, but has never been completely resolved. For instance: about the history of the construction of a temple and its phase-step. About the chronology of development and its relation to temples culture. Problem use of building techniques and measures of its base, and many other questions that are purely technical in nature.

Although the technical study that was not always consistent, even occasionally in conflict with the results obtained from the study of archeology and history, can not be denied that the technical view must be taken into account and included in the review of studies which, however, will still need to be remembered that our knowledge about the temples are still very fragmentary. Technical study that is at least an additional, if not complementary, and the approach we do now.

http://books.google.com/books?id=YkcoAWPrW5cC&lpg=PA1&dq=arsitektur&as_brr=3&pg=PA1&output=embed

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

74 Inspirasi Pintu Utama Rumah Tinggal / 74 Inspirations of Main Door for House

astudioarchitect.com Mirip dengan buku tentang gapura yang saya update di blog astudio tempo hari, ada pula buku yang mirip yang membahas tentang ragam pintu, judulnya adalah “74 Inspirasi Pintu Utama Rumah Tinggal” yang ditulis oleh Tim Penulis Griya Kreasi. Buku ini merupakan koleksi dari berbagai contoh pintu yang bisa menjadi inspirasi Anda dalam mendesain pintu rumah. Memang mungkin merupakan bagian kecil dari rumah, tapi cukup penting bukan? Bila desain pintu tidak sesuai dengan tema rumah misalnya, maka keseluruhan tampilan rumah bisa menjadi ‘korban’ dari ketidak cocokan desainnya.

Similar to the books on astudio blog updated the other day, there is a similar books that discuss various doors, the title is “74 Inspirations of Main Door for House” written by Griya Kreasi Writing Team. This book is a collection of various examples of doors that can be your inspiration in designing a door. It may be a small part of the house, but it is important enough. If the door does not match the design with the theme of the house, for example, the overall facade of the house can be a ‘victim’ of the lack of a bad design.

Pintu utama rurnah tinggal memiliki model yang lebih bervariasi daripada pintu pintu lain di rumab. Variasi model ini terkait dengan tipe bukaan, bentuk, dan sistem bukaan yang digunakan.

Berdasarkan tipe bukaan, pintu utama lazimnya memiliki tiga alternatif, yaitu bukaan tunggal (single), bukaan ganda (double), dan bukaan majemuk. Bukaan ganda sendiri dibagi menjadi bukaan ganda sama lebar dan bukaan ganda beda lebar. Sementara bukaan majemuk biasanya terdapat pada pintu lipat yang memiliki lebih dan dua bukaan.

Berdasarkan bentuk: pintu utama lazimnya memiliki dua bentuk populer, yaitu bentuk persegi dan gabungan antara bentuk persegi dan kurva. Pada beberapa rumah ada pula yang menggunakan bentuk bentuk yang kurang lazim seperti bentuk bentuk kontemporer yang asimetris.

Berdasarkan sistem bukaan, pintu utama ada yang menggunakan model pintu ayun (swing door), pintu geser (sliding door), atau pintu lipat (folding door). Pemilihan model sistem bukaan ini ditentukan oleh besaran rumah/ruang tamu dan lebar bukaan pntu.

A main door has a more variable models than other doors in a house. Variations of this model associated with the type of openings, shape, and exposure system used.


Based on the type of opening, the main doors usually have three alternatives, namely a single exposure (single), double exposure (double), and multiple openings. Double Exposure itself is divided into multiple openings as wide and double openings wide difference. While there are multiple openings on the folding doors that have more and two openings.


Based on the form: the main door typically has two popular forms, the square shape and a combination of square shapes and curves. In some houses there is also the use of less common forms such as contemporary forms of asymmetry.


Based on exposure system, the main door there is a model swinging door (swing door), the sliding door (sliding door), or a folding door (folding door). The selection of this opening system model determined by the amount of house / living room and the wide openings.

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

74 Inspirasi Pintu Utama Rumah Tinggal / 74 Inspirations of Main Door for House

astudioarchitect.com Mirip dengan buku tentang gapura yang saya update di blog astudio tempo hari, ada pula buku yang mirip yang membahas tentang ragam pintu, judulnya adalah “74 Inspirasi Pintu Utama Rumah Tinggal” yang ditulis oleh Tim Penulis Griya Kreasi. Buku ini merupakan koleksi dari berbagai contoh pintu yang bisa menjadi inspirasi Anda dalam mendesain pintu rumah. Memang mungkin merupakan bagian kecil dari rumah, tapi cukup penting bukan? Bila desain pintu tidak sesuai dengan tema rumah misalnya, maka keseluruhan tampilan rumah bisa menjadi ‘korban’ dari ketidak cocokan desainnya.

Similar to the books on astudio blog updated the other day, there is a similar books that discuss various doors, the title is “74 Inspirations of Main Door for House” written by Griya Kreasi Writing Team. This book is a collection of various examples of doors that can be your inspiration in designing a door. It may be a small part of the house, but it is important enough. If the door does not match the design with the theme of the house, for example, the overall facade of the house can be a ‘victim’ of the lack of a bad design.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

Pintu utama rurnah tinggal memiliki model yang lebih bervariasi daripada pintu pintu lain di rumab. Variasi model ini terkait dengan tipe bukaan, bentuk, dan sistem bukaan yang digunakan.

Berdasarkan tipe bukaan, pintu utama lazimnya memiliki tiga alternatif, yaitu bukaan tunggal (single), bukaan ganda (double), dan bukaan majemuk. Bukaan ganda sendiri dibagi menjadi bukaan ganda sama lebar dan bukaan ganda beda lebar. Sementara bukaan majemuk biasanya terdapat pada pintu lipat yang memiliki lebih dan dua bukaan.

Berdasarkan bentuk: pintu utama lazimnya memiliki dua bentuk populer, yaitu bentuk persegi dan gabungan antara bentuk persegi dan kurva. Pada beberapa rumah ada pula yang menggunakan bentuk bentuk yang kurang lazim seperti bentuk bentuk kontemporer yang asimetris.

Berdasarkan sistem bukaan, pintu utama ada yang menggunakan model pintu ayun (swing door), pintu geser (sliding door), atau pintu lipat (folding door). Pemilihan model sistem bukaan ini ditentukan oleh besaran rumah/ruang tamu dan lebar bukaan pntu.

A main door has a more variable models than other doors in a house. Variations of this model associated with the type of openings, shape, and exposure system used.


Based on the type of opening, the main doors usually have three alternatives, namely a single exposure (single), double exposure (double), and multiple openings. Double Exposure itself is divided into multiple openings as wide and double openings wide difference. While there are multiple openings on the folding doors that have more and two openings.


Based on the form: the main door typically has two popular forms, the square shape and a combination of square shapes and curves. In some houses there is also the use of less common forms such as contemporary forms of asymmetry.


Based on exposure system, the main door there is a model swinging door (swing door), the sliding door (sliding door), or a folding door (folding door). The selection of this opening system model determined by the amount of house / living room and the wide openings.

http://books.google.com/books?id=cbsq-d-Oby8C&lpg=PP1&dq=rumah%20tinggal&as_brr=3&pg=PP1&output=embed
________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.

Gapura untuk Rumah Tinggal / Gate for a House

[buku rumah] Sebuah gapura mungkin bukan merupakan kebutuhan mendasar dalam desain sebuah rumah. Gapura merupakan gerbang yang memberikan batas antara luar dan dalam, sehingga bisa menjadi sarana untuk memperbaiki tampilan rumah. Tapi apakah yang terjadi bila kita tidak mendesain gapura dengan baik? Adakalanya gapura atau bagian dari pagar tersebut terlihat tidak serasi atau tidak mendukung tampilan rumah secara keseluruhan. Rupanya hal itu menjadi ide dasar dari penulis dan arsitek Aditya Wardhana untuk mengangkat topik ini sebagai topik buku yang menarik.

A gate may not be a fundamental requirement in a house design. A Gate provides the boundary between outside and inside, so can be a means to improve the look of the house. But what happens if we do not design the gate in the best way? Sometimes a gate or part of the fence is not suitable for the overall look of the house. Apparently it’s a basic idea of the author and architect Aditya Wardhana to raise this topic as the topic of an interesting book.


http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

KUTIPAN: Dalam buku:”Gapura untuk Rumah Tinggal”, dikutip sebagai berikut: Gapura akan aman bagi yang melewatinya jika ukurannya memenuhi persyaratan untuk jenis alat transportasi yang melaluinya. Misalnya jalan yang dlperuntukkan hanya untuk lewat satu buah kendaraan mobil maka ukurannya jangan disesuaikan dengan ukuran sebuah mobil, tetapi diberi kelebihan minimal 0.5—1 m urituk lebar gerbang di sebelah kin dan kanan jalan dan 1— 2 m untuk tinggi gapura Jadi, apabila lebar standar sebuah mobil adalah 2,25 m maka lebar gapura sebaiknya 3,25 — 4.25 m. Oleh karena tinggi standar sebuah mobil adalah 2 m maka tinggi gapura sebaiknya 3—4 m.

Pada kenyataannya gapura sering menjadi korban vandalisme, hal itu merupakan ancaman besar bagi kelangsungan sebuah gapura. Sering terlihat gapura menjadi ajang corat-coret, baik menggunakan spidol ataupun cat semprot. Terkadang gapura menjadi mading dadakan yang isinya berbagai macam selebaran ikian yang ditempelkan secara sembarangan. Hal ini berbeda derigan sebuah gapura rumah atau kawasan lingkungan yang memang dibuat dengan biaya sponsor sebuah produk dan ditampilkan klan produk yang sudah dikonsep.

In the book: “Gapura (Gate) untuk Rumah Tinggal”, was quoted as follows: Gate will be safe to past if it is eligible for which type of transportation to go through. For example if it is designed just to pass one car the size of vehicles not adapted to the size of a car, but given the advantages for at least 0.5-1 m wide gate on the right path and and 1 – 2 m high to the gate. So, if the standard width of a car is 2.25 m, gate width should be 3.25 – 4:25 m. Because of the high standards of a car is 2 m high then the gate should be 3-4 m.


In fact, often gate can be the victim of vandalism, it was a big threat for the survival of a gate. A gate often turned into graffiti scene, either using a marker or spray paint. Sometimes the gate can be a media for irresponsible people to turn into improperly stickers of leaflets attached. This is different with a gate house or neighborhood area that are designed with properly.

http://books.google.com/books?id=rSQ7dBVJ0c8C&lpg=PP1&dq=rumah%20tinggal&as_brr=3&pg=PP1&output=embed

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2010 astudio Indonesia. All rights reserved.