Category Archives: belajar arsitek

Mengenal gambar gambar kerja

astudioarchitect.com Pada saat mendesain rumah, hasil akhir yang kita dapatkan adalah berupa gambar kerja, dan biasanya juga dilengkapi dengan desain 3 dimensi, maket, atau kelengkapan yang lain. Khusus untuk gambar kerja kita mengenal beberapa jenis gambar yang terdapat di dalam dokumen ini antara lain gambar tampak, potongan, detail konstruksi, rencana instalasi listrik atau perletakan peralatan listrik, rencana sanitasi, serta detail dalam bangunan seperti detail tampak dan juga detail konstruksi, seperti pondasi, kolom dan struktur hingga ke detail masing masing kusen beserta perletakan kusen tersebut.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Dengan adanya gambar dokumen ini kita akan mendapatkan panduan yang baik dalam membangun sebuah rumah. Apabila tidak ada gambar dokumen ini maka biasanya rumah akan dibangun dengan cara sembarangan dan seadanya sehingga tidak terencana baik dari segi konstruksi maupun dari segi estetika. Dokumen gambar kerja juga dibutuhkan untuk pengurusan IMB yang diminta oleh pemerintah daerah selain itu gambar kerja juga bisa digunakan pada saat anda mengajukan kredit renovasi rumah ke bank.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kita bisa mendapatkan gambar kerja melalui beberapa pihak antara lain arsitek, ahli sipil atau bahkan drafter atau yang setara tukang dengan kemampuan lebih. Faktanya adalah sebenarnya setiap orang bisa membuat gambar kerja, namun yang terpenting sebenarnya adalah bukan hanya gambar kerja, namun hasil dari gambar kerja tersebut. Yang dimaksud dengan hasil gambar kerja adalah bagaimana bangunan apabila diwujudkan di dalam kenyataan. Unsur desain sangatlah penting dalam hal ini. Secara umum kita tidak bisa menyerahkan sebuah desain kepada orang yang bukan ahlinya dalam arti bukan arsitek karena arsitek adalah orang yang memang dilatih dan khusus untuk membuat gambar desain dengan estetika yang cukup tinggi. Disamping itu meskipun arsitek tersedia banyak namun tidak semua arsitek bisa memberikan apa yang anda inginkan sepenuhnya. Bahkan mungkin tidak ada arsitek yang mampu mengerti benar apa keinginan anda, tetapi sebenarnya yang memiliki banyak pengetahuan untuk menorehkan karya desain.

Kembali kepada dokumen gambar kerja, berikut ini adalah penjelasan dari masing masing gambar yang biasanya ada di dalam sebuah gambar kerja.

Gambar denah

Gambar denah menunjukkan ukuran dan juga perletakan ruang ruang yang akan dibangun dalam sebuah rumah. Gambar ini mencakup selain peletakan ruang, juga biasanya memuat dimana perletakan alat alat yang berhubungan dengan air atau sanitasi seperti letak dapur, toilet dan wastafel. Adakalanya arsitek memberikan gambar rencana kolom dimana terdapat titik titik kolom yang bisa dilihat di dalam denah. Namun ada pula arsitek yang tidak memberikan rencana perletakan kolom di dalam gambar denahnya. Hal ini karena kebijakan setiap arsitek berbeda dalam arti gambar arsitek adakalanya harus diterjemahkan oleh ahli sipil dalam peletakan kolom kolom di dalam denah. Apabila arsitek memberikan rencana peletakan kolom di dalam denah biasanya arsitek sudah mempertimbangkan tentang faktor konstruksi di dalam gambar denah tersebut.

Gambar potongan

Gambar ini merupakan irisan atau potongan sebuah bangunan yang dapat menunjukkan banyak hal seperti ketinggian lantai, ketinggian atap, maupun material bangunan yang digunakan seperti material atap. Gambar potongan biasanya mencakup ukuran antar dinding yang terlihat di dalam potongan serta ketinggian dari banyak elemen didalam potongan tersebut. Gambar potongan penting untuk kontraktor atau tukang yang mengerjakan di lapangan agar mengetahui banyak aspek dari bangunan yang dibangun seperti ketinggian plafon.

Gambar tampak

Gambar tampak menunjukkan bagaimana tampilan bangunan dalam bentuk 2 dimensi. Gambar ini biasanya memuat ukuran ukuran yang global dari ketinggian bangunan. Hal ini berguna untuk panduan kontraktor atau tukang yang akan memperkirakan ketinggian ketinggian tertentu dari beberapa elemen di dalam tampilan bangunan dalam bentuk 2 dimensi. Gambar tampak juga memuat beberapa elemen seperti letak letak jendela dan kusen serta ventilasi.

Gambar rencana pondasi

Gambar ini menunjukkan bagaimana pondasi terbentuk di bawah bangunan. Tempat biasanya memuat gambar pondasi menerus dan gambar pondasi telapak untuk konstruksi konvensional rumah tinggal biasa. Gambar ini menunjukkan hubungan antara kolom dan konstruksi pondasi di bawahnya jadi kita bisa melihat bagaimana hubungan antara kolom ini meneruskan gaya hingga ke tanah. Rencana pondasi juga biasanya dilengkapi dengan detail pondasi untuk melihat ukuran pondasi yang digunakan. Lebih lengkap lagi gambar rencana pondasi harus juga dilengkapi dengan perhitungan struktur untuk pondasi. Perhitungan struktur dilakukan oleh ahli struktur atau ahli sipil yang berpengalaman. Sedangkan arsitek kadang tidak memberikan perhitungan struktur untuk pondasi.

Gambar rencana pembalokan

Rencana pembalokan diperlukan untuk mendisain rumah 2 lantai atau lebih dimana gambar ini memuat rencana peletakan dan ukuran balok balok di lantai 2 lantai 3 dan seterusnya. Apabila bangunan hanya berlantai 1 biasanya tidak usah dilengkapi dengan rencana pembalokan tidak apa apa karena untuk konstruksi konvensional biasanya hanya diperlukan balok ring di bagian atas dinding. Gambar rencana pembalokan mencakup ketinggian dari dak beton dan juga ukuran dari masing masing balok. Ahli sipil biasanya berperan menentukan rencana pembalokan ini disamping itu kadang arsitek juga memberikan gambar ini apabila sudah berpengalaman atau didukung oleh ahli sipil.

Gambar tampak atas dan rencana atap

Gambar gambar ini merupakan gambar untuk memperlihatkan bentuk dan konstruksi atap. Tampak atas memperlihatkan gambar 2 dimensi dari atap sehingga terlihat bagian bagiannya dimana kadang kadang juga dilengkapi dengan material atap tersebut. Adapun gambar rencana atap adalah gambar yang lebih detail mencakup bagian bagian dari atap seperti rangka kuda kuda dan juga bagian penutup atapnya.

Gambar instalasi listrik atau rencana perletakan peralatan listrik

Perbedaan dari gambar instalasi listrik dan rencana perletakan peralatan listrik adalah gambar instalasi listrik biasanya dibuat oleh ahli sipil sedangkan gambar peletakan peralatan listrik dibuat oleh arsitek. Kedua gambar ini berbeda dari segi kelengkapannya dimana gambar instalasi listrik jauh lebih mendetail daripada gambar rencana perawatan peralatan listrik. Keduanya sama sama memperlihatkan perletakan berbagai peralatan listrik di dalam denah ruangan yang biasanya dilengkapi dengan ketinggian standar dan ketinggian khusus dari masing masing peralatan listrik. Untuk gambar kerja rumah konvensional biasanya tidak perlu rumit. Bangunan di atas 3 lantai yang memang harus di rencanakan oleh ahli mekanikal elektrikal.

Gambar rencana sanitasi

Gambar rencana sanitasi mencakup banyak peralatan yang berkaitan dengan sanitasi seperti letak septic tank, sumur dan sumur resapan, juga mencakup perletakan tandon bawah dan atas certa bagaimana jaringan pipa pipa baik pipa air bersih, air kotor maupun aliran alirannya. Ini mencakup bagaimana aliran air bersih atau clean water dibedakan alirannya dari aliran air kotor atau black dan grey water. Blackwater adalah aliran lumpur yang berasal dari wc ke septictank. Sedangkan grey water adalah aliran air kotor yang berasal dari saluran seperti kitchen sink atau bekas air dari kamar mandi. Selain dari aliran pipa gambar rencana sanitasi juga mencakup letak letak peralatan sanitasi seperti wastafel, kloset dan afur ( lubang air di kamar mandi).

Gambar perletakan kusen dan detail kusen

Desain yang baik selalu dilengkapi dengan gambar perletakan kusen dan detail kusen karena gambar gambar ini akan menentukan bagaimana bentuk dari pintu dan jendela serta ventilasi agar sesuai dengan rancangan dan terbangun tempatnya yang sudah dipikirkan sebelumnya. Gambar perletakan kusen menunjukkan letak dari masing masing kusen yang di tentukan oleh kode kode yang mewakili masing masing kusen, jadi tidak ada kusen yang tertukar atau berbeda bentuknya dari desain semula. Adapun detail kusen memuat gambar dari masing masing kusen yang sangat mendetail dengan ukurannya sehingga menunjukkan ketebalan kusen dan jendela serta bagian bagian kaca kayu atau alumunium.

Mengapa harus ada gambar kerja?

Dalam sebagian kasus, rumah rumah harus didesain dan dilengkapi gambar kerja yang lengkap dengan gambar struktur dan konstruksi, terutama bila didesain oleh arsitek agar pekerjaan pembangunan berjalan persis seperti rencana. Gambar struktur konstruksi ini khusus harus dibuat oleh ahli struktur atau ahli sipil yang berpengalaman yang dapat menghitung pembebanan dari masing masing kolom dan balok serta elemen elemen lain seperti besaran baja dan semua komponen yang bersifat struktural atau menerima beban gaya. Ini biasanya umum untuk bangunan yang tidak sederhana atau bangunan di atas 3 lantai dimana bangunan seperti ini biasanya dipersyaratkan harus memiliki dokumen gambar konstruksi atau struktur. Tentunya gambar konstruksi tersebut harus dilengkapi juga dengan perhitungan pembebanan.

Selain dari dokumen dokumen yang sifatnya teknis tersebut diatas ada juga dokumen yang sifatnya melengkapi dokumen gambar kerja yang diajukan sebagai IMB dan sebagai panduan pembangunan atau pelaksanaan di lapangan. Gambar gambar ini mencakup seperti gambar 3 dimensi yaitu bagaimana perkiraan dari bangunan setelah selesai dibangun, untuk menunjukkan bentuk dan juga efek pencahayaan yang akan ada pada sebuah bangunan setelah dibangun. Gambar 3 dimensi juga biasanya bisa mencakup gambar desain interior dalam bentuk tiga dimensi dimana diperlihatkan bagaimana interior design dari sebuah rumah atau bangunan lain setelah dibangun untuk memperlihatkan bagaimana bagian dalam sebuah bangunan apakah sudah terlihat bagus atau belum.

Yang tidak kalah penting dari semua dokumen itu adalah dokumen rencana anggaran bangunan atau RAB. Dokumen rencana anggaran ini merupakan perhitungan dari biaya pembangunan rumah atau bangunan lain yang disesuaikan dengan gambar desain yang sudah jadi. Memperlihatkan hingga ke detail dari material dan harga pembangunan dari masing masing elemen seperti pekerjaan beton, pekerjaan dinding, pekerjaan finishing.

Tidak sederhana

Seluruh dokumen ini bisa diproduksi dalam pelayanan yang diberikan oleh Arsitek Anda. Tentunya dokumen gambar gambar ini bukanlah suatu pekerjaan yang sederhana karena mencakup seluruh perencanaan dan juga hasilnya. Kadangkala apabila anda menyewa salah satu pihak apakah arsitek atau kontraktor biasanya pihak tersebut tetap memerlukan pihak lainnya untuk membantu terselesaikannya desain tersebut. Contohnya apabila anda menyewa seorang arsitek biasanya arsitek tersebut membutuhkan ahli sipil. Demikian juga bila anda menyewa seorang ahli sipil biasanya akan memerlukan arsitek untuk mendisain. Hal ini biasanya sudah umum terjadi di Indonesia. Tinggal anda menentukan apakah anda akan menyewa seorang arsitek atau seorang ahli sipil untuk memulai design anda. Yang terbaik tentunya adalah menyewa jasa arsitek terlebih dahulu untuk merencanakan bagaimana pembangunan yang akan anda bangun karena ahli sipil bukanlah ahli mendesain. Demikian pula pada saat anda membangun harus terdapat arsitek pengawas

by

Arsitek Probo Hindarto
081 252 447 53
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Kelebihan dan kekurangan rumah 1 lantai dan 2 lantai atau lebih

astudioarchitect.com Kadangkala saat orang membangun atau membeli rumah dirinya terbatas untuk membeli atau membangun rumah 1 lantai. Namun adakalanya rumah 1 lantai juga dimiliki oleh orang yang ber dana cukup dengan catatan bahwa lahannya sangat luas sehingga rumah 1 lantai tersebut sudah mencakup seluruh kebutuhan ruang yang ada. Rumah 1 lantai memiliki kelebihan yaitu bahwa tidak harus ada tangga untuk mengakses ruang ruang di lantai 2 atau 3 dan seterusnya. Rumah 1 lantai juga memudahkan pengawasan buah hati serta memudahkan akses keluar rumah. Rumah 1 lantai memudahkan penghuni yang senior untuk melakukan aktivitas di banyak bagian rumah. Namun rumah 1 lantai biasanya membutuhkan luas lahan yang lebih daripada rumah berlantai dua atau lebih.

Foto: Rumah yang didesain oleh Probo Hindarto

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Rumah satu lantai oleh Probo Hindarto

Apabila lahan terbatas biasanya pemilik akan memikirkan untuk membuat lantai tambahan di atasnya. Sebenarnya adalah potensi yang menarik karena rumah dengan 2 lantai atau lebih biasanya terlihat lebih megah dan juga merupakan jawaban atas kondisi saat ini dimana semakin mahal dan jarang. Pasti ini juga berkaitan dengan ketersediaan lahan yang berkurang dari kondisi dahulu lahan berlimpah dan orang bisa membeli lahan dengan murah dan luas untuk membangun rumah 1 lantai. Dalam perkembangannya ternyata rumah 2 lantai atau lebih juga memiliki tingkat kreativitas yang lebih tinggi dalam hal desainnya.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Rumah berlantai 2 atau lebih memberikan banyak kelebihan diantaranya dengan lahan yang ada kita bisa membangun lebih banyak ruang ruang meskipun begitu kekurangannya juga ada misalnya dibangun harus lebih mahal dengan pondasi yang khusus sehingga untuk desain yang konvensional biasanya harus menambahkan pondasi dan kolom tambahan dimana saat berinovasi membutuhkan banyak biaya dan pada saat itu rumah tidak bisa dihuni.

Dewasa ini penataan untuk rumah 2 lantai dan lebih yang modern cukup menarik untuk mengadopsi penataan ruang ruang yang lebih memisahkan antara zoningnya demikian juga bisa memasukan pemandangan yang lebih bagus di bagian atas bangunan. Trend yang berkembang saat ini untuk rumah di lahan terbatas yang dibangun dengan dua lantai atau lebih biasanya lantai bawah sendiri dipakai sebagai dapur kotor, kamar tidur pembantu, ruang cuci dan jemur. Sedangkan untuk lantai 2 dan lantai atas digunakan untuk kamar kamar dan ruang tamu ruang keluarga yang diperuntukkan penghuni rumah.

Kelemahan dari rumah 2 lantai atau lebih biasanya bahwa untuk mengakses ruang ruang di atas harus melalui tangga dimana ini akan menyulitkan untuk penghuni rumah yang senior. Karena itu biasanya tetap harus ada kamar tidur di lantai bawah sehingga bisa mengakomodasi kebutuhan untuk para senior yang tinggal di rumah tersebut.

___
by

Arsitek Probo Hindarto
081 252 447 53
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Sirkulasi dalam sebuah rumah


astudioarchitect.com Apa yang dimaksud dengan area sirkulasi di dalam sebuah rumah? Area sirkulasi merupakan area untuk berjalan di dalam sebuah rumah, bisa berupa koridor atau sela diantara furniture yang intinya adalah area tersebut tidak dapat digunakan untuk meletakkan furniture atau beraktivitas selain berjalan. Berjalan diantara ruang makan ke dapur atau antara kamar tidur ke ruang keluarga memerlukan area yang disebut sebagai area sirkulasi tersebut. Topik ini mungkin cukup susah untuk diterjemahkan namun saya mencoba untuk membuat artikel ini bisa dipahami oleh kita bersama.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam menentukan area sirkulasi adalah luas yang ada dan juga kebutuhan ruang nya. Apabila luas tanah kita mungil maka ada faktor ekonomi yang harus kita perhatikan pada saat mendesain karena ternyata area sirkulasi ini juga sangat berpengaruh dalam menentukan letak letak ruang sehingga sirkulasi nya menjadi cukup nyaman.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Mempertimbangkan pengalaman dan juga standar arsitektur biasanya lebar yang cukup enak untuk orang berjalan adalah sekitar 70 cm atau lebih. Hal ini terlihat pada lebar pintu yang biasanya 70 cm atau lebih. Apabila kurang dari 70 cm biasanya apabila orang berpapasan maka memiringkan badan. Hal ini berlaku juga untuk lebar tangga karena tetangga adalah termasuk area sirkulasi dimana jarak yang nyaman untuk tangga biasanya berkisar antara 80 cm atau lebih. Hal hal seperti ini yang harus kita perhatikan pada saat mendesain.

Pada saat mendesain apabila kita terbatas pada luasan ruang sisi ekonomis dari sebuah bangunan maka yang terbaik adalah merancang area sirkulasi yang cukup ekonomi secara ruang dalam arti jarak terpendek dan langsung, serta menghindari belokan belokan apabila memungkinkan. Biasanya ruang keluarga adalah ruangan yang menghubungkan berbagai ruangan, seperti kamar tidur, dapur, ruang tamu dan juga taman. Hal ini karena masyarakat kita cenderung anggap bahwa ruang keluarga adalah ruang penghubung dan ruang bersama yang dapat digunakan oleh semua keluarga sehingga akses ke ruang ruang yang lain juga mudah. Hal ini sedikit lain dengan misalnya masyarakat di jepang atau di amerika yang cenderung menganut pengaturan denah yang organik, biasanya mengganggap bahwa ruang keluarga merupakan ruang tersendiri sehingga tidak menghubungkan ruang ruang yang lain.

Kadang kadang harus pintar untuk mengatur agar ruangan dalam denah tidak terasa sempit gara gara area sirkulasi. Ini yang sering terjadi dan saya lihat sering nampak di bangunan rumah yang tidak dirancang dengan baik memperhatikan area sirkulasinya. Dalam setiap desain saya selalu berusaha untuk membuat area sirkulasi yang paling efektif terutama apabila lahannya tidak terlalu luas. Namun hal yang sama menjadi berlawanan apabila saya mendesign pembangunan rumah di lahan yang luas. Lahan yang luas disertai dengan kemampuan yang cukup bisa membebaskan seorang arsitek untuk mendesain rumah dengan area sirkulasi yang boleh jadi cukup luas juga bahkan bisa menjadi aksen dari penataan desain denah sebuah rumah.

Disamping penataan ruang ruang ada juga faktor yang juga sangat berpengaruh pada area sirkulasi penataan furnitur nya. Menurut pengalaman adalah hal yang penting untuk memperhatikan area sirkulasi dikaitkan dengan letak jendela dan letak pintu bahkan juga letak taman. Misalnya pada ruang tamu biasanya hari akhir kelas xii dibuat secara langsung dari pintu masuk kedalam ruang tamu langsung ke ruang keluarga agar tidak terasa mengganggu apabila ada orang lewat. Lain halnya dengan kamar tidur dimana area sirkulasi harus memperhatikan letak tempat tidur, jendela dan sebagainya agar area sirkulasi bisa memungkinkan tempat tidur diletakkan di lokasi yang paling tepat, kabinet atau lemari juga diletakkan di area yang juga tepat.

Efisiensi
faktor efisiensi merupakan faktor dimana dalam dna harus diperhatikan berapa persen dari area yang sebenarnya bisa digunakan untuk beraktivitas. Tentunya ini tidak termasuk area sirkulasi seperti hall, tangga, selasar dan juga utilitas lainnya. Meskipun karya sirkulasi ini penting mereka harus dibatasi agar tetap minimum sehingga lahan bisa digunakan untuk keperluan seperti furniture dan aktivitas lainnya. Ini juga menyangkut kejelian arsitek dalam menata sebuah ruangan agar jangan sampai desain rumah terlihat bagus dari luar tapi di dalam banyak area yang tidak bisa dipakai untuk aktivitas karena di pakai untuk area sirkulasi.

Area penyimpanan
Salah satu faktor yang penting yang mempengaruhi karya sirkulasi adalah berapa banyak penyimpanan yang dibuat di dalam sebuah rumah atau bangunan lainnya. Letak area penyimpanan berkaitan dengan area sirkulasi karena dimana letak barang barang yang disimpan juga berpengaruh pada bagaimana kita berjalan dan beraktivitas dalam sebuah ruangan.

___
by

Arsitek Probo Hindarto
081 252 447 53
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Mengenal Orientasi Rumah dan Bangunan

astudioarchitect.com Meskipun topik ini termasuk topik yang agak susah diterjemahkan dalam bahasa awam, saya coba untuk mengulasnya dalam artikel ini. Tentunya untuk rumah tinggal, kita tidak mengenal ‘orientasi’ yang terlalu rumit seperti arah kiblat dan sebagainya, namun lebih ke arah bangunan rumah sebaiknya memiliki suatu orientasi ke arah tertentu yang menjadikan ruangan, pemandangan dan arah hadap sebagai ‘orientasi bangunan’. Orientasi ruang atau bangunan dapat meningkatkan

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sebagai manusia, kita sealu memiliki orientasi atau ‘kliblat’, yang dikenal juga dalam agama masing-masing. Bagi orang Hindu, sebuah pura atau gunung bisa menjadi suatu pusat orientasi atau Pusering Jagad (Pusat Dunia). Orang Muslim memiliki kiblat ke arah Ka’bah, demikian juga orang Kristen ke gunung Golgotha di Yerusalem. Dalam dunia arsitektur, kita mengenal adanya orientasi bangunan, yaitu semacam ‘arah’ atau hadap ruang dan arsitekturnya.

Desain oleh Probo Hindarto

Arah Orientasi
Dalam merancang desain rumah, sebagai arsitek baik disengaja ataupun tidak, disadari ataupun tidak saya selalu merancang dengan membuat rumah memiliki orientasi tertentu. Orientasi dibutuhkan agar ruang dalam rumah memiliki nilai lebih. Nilai lebih ini misalnya adalah pemandangan, kesan rekreatif, dan sebagainya. Tidak mudah untuk merancang dengan memperhatikan arah orientasi. Saya banyak melihat arsitek yang kurang memperhatikan hal ini, dan merancang hanya dalam bentuk 2 dimensi dan menganggap bahwa setelah denah jadi ia tidak harus memperhatikan orientasi yang dapat meningkatkan nilai rumah itu sendiri yang ditingkatkan melalui potensi yang dimiliki orientasi tersebut.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Asal orietasi bangunan
Nah, apa sajakah yang bisa menjadi asal orientasi bangunan? Pada saat awal mendesain, yang pasti diperhatikan adalah lokasi didirikannya bangunan. Dalam skala lahan atau site, kita perlu mempertimbangkan dalam skala besar dulu, misalnya lahan ini berada dimana, dikota mana, dan potensi alam apa yang dapat dipertimbangkan untuk menunjang keindahan bangunan. Apabila ada gunung, danau, hutan, laut atau sejenis keindahan alam, kita bisa mempertimbangkan untuk membuka arah orientasi bangunan melalui jendela, pintu atau menghadapkan ruang atau bangunan ke arah tersebut.

Desain oleh Probo Hindarto

Apabila keindahan yang ‘besar’ seperti pegunungan, danau atau laut tidak ada, coba cari pada sekitar lahan tersebut, misalnya disekitarnya ada sesuatu yang menarik, misalnya bangunan rumah ada didekat pemandangan landscape kota seperti tugu, patung, atau bangunan landmark lain, mungkin kita perlu mempertimbangkan untuk membuka jendela ke arah tersebut.

Apabila orientasi bangunan ke arah luar tidak ada, cobalah cari pada lahan Anda, apakah terdapat sesuatu yang menarik, misalnya pohon eksisting yang sangat indah, ataukah lahan memiliki kontur? Kontur atau pohon dapat juga menjadi orientasi bangunan yang menarik. Kita dapat mempertahankan kontur tanah dengan perbedaan ketinggiannya sehingga bisa kita olah menjadi aspek rumah yang unik. Rumah menjadi tidak rata, ada naik turunnya, dan ada perbedaan ketinggian disatu ruang atau bagian bangunan ke bagian lainnya.

Photo by Axel Drainville 

Yang tak kalah pentingnya adalah orientasi dari pergerakan matahari. Lahan yang menghadap timur, utara, barat dan selatan masing-masing memiliki jam penerimaan sinar matahari yang berbeda. Lahan menghadap timur biasanya lebih terkena matahari pada pagi hari di bagian depan dan pada sore hari tidak. Lahan yang menghadap barat cenderung panas pada sore hari karena bagian depan yang terbuka lebih banyak menerima sinar matahari. Lahan yang orientasinya ke arah utara selatan lebih gampang, apalagi bila berada diantara rumah lain (diapit rumah lain), sehingga bisa terhindar dari sinar menyengat yang meningkatkan suhu secara langsung.

Kemudian, bagaimana jika pemadangan atau area disekitar lahan tidak menarik bahkan cenderung tidak menyenangkan? Misalnya bila lahan rumah berada disekitar pasar, area yang kurang aman, atau kuburan? Dalam hal ini, kita perlu menyiasatinya dengan menutup sebisa mungkin orientasi yang tidak menyenangkan itu melalui desain rumah. Apabila mungkin blok pemandangan ke arah pemandangan tidak menyenangkan misalnya seperti kuburan itu, dengan dinding yang tinggi. Sangat terkecuali apabila pemilik menyukainya, misalnya menyukai suasana pasar atau bila memang suasana jalan yang ramai merupakan pemandangan yang menarik. Hanya Anda yang bisa menentukan apakah sebuah pemandangan perlu di blok, dan sampaikan hal itu pada arsitek Anda.

Dalam merancang bagian dalam juga begitu, hadapkan atau orientasikan pintu dan jendela, terutama ke arah taman atau pemandangan menarik. Tentang bagaimana menyelesaikan bentuk detailnya Anda bisa meminta arsitek Anda memeras otak😉

Khusus perkotaan atau lahan terbatas
Khusus untuk ini, kita perlu mempertimbangkan bahwa pemandangan menarik di kota sudah banyak ditutupi oleh bangunan sekitarnya, namun kita bisa menyiasatinya dengan cara membuka orientasi ke arah taman dalam, bangunan tinggi yang menarik (pencakar langit), atau membuat taman diatas atap yang indah. Ingat bahwa meskipun diatas atap, taman atap bisa juga menjadi sebuah tempat untuk melepaskan ketegangan, melihat langit terbenam pada sore hari, menjadi tempat berkumpul melihat kembang api disekitar saat pergantian tahun, dan sebagainya.

Karena biasanya tingkat kriminalitas di perkotaan lumayan tinggi, banyak yang mempertimbangkan untuk membuat pagar tinggi sebagai konsekuensi. Namun bila lahan berada di area yang relatif aman seperti perumahan yang sudah terbentuk atau pedesaan yang relatif aman, Anda bisa mempertimbangkan untuk membuat pagar rendah dimana orientasi bangunan bisa juga menghadap ke jalan depan.

Hal yang umum adalah orientasi ke taman dalam diutamakan. Adanya taman dalam adalah sebuah kemewahan, karena makin jarang rumah di perkotaan memiliki taman dalam. Karena itu, alih-alih menjadi tempat jemuran, taman dalam musti diperhatikan benar agar terjaga keindahannya, tetap bersih, dan tidak menjadi area penyimpanan atau bahkan gudang untuk barang-barang yang tak terpakai. Taman yang tidak tertata dan tidak bersih mencerminkan penghuni yang kurang peduli.

Tips dalam merancang
Dalam merancang, perhatikan hal-hal seputar orientasi ruang dan bangunan sebagai berikut:

  • Perhatikan apakah lahan berada ditempat yang indah seperti perbukitan, danau, pemandangan kota yang menakjubkan, atau pantai. Pemandangan juga bisa berarti adanya landmark kota atau obyek buatan yang menarik. Buatlah desain yang mengakomodasi pemandangan ke arah alam yang indah itu. 
  • Perhatikan apakah ada area disekitar lahan rumah atau bangunan yang sebaiknya ditutup, seperti kuburan, sekolah, jalanan berdebu, kemacetan, atau kekhawatiran akan tingkat kriminalitas yang tinggi. Namun sebaiknya perhatikan agar desain rumah tidak menjadi egois atau terkesan anti sosial.
  • Perhatikan apakah lahan berada ditempat yang aman seperti perumahan yang sudah terbentuk dengan pengamanan lingkungan dan sebagainya, agar memungkinkan kita membuat rumah yang minim pagar. 
  • Perhatikan potensi dalam lahan. Potensi ini menyangkut kontur lahan, atau pohon yang indah. Beberapa jenis pohon dapat dipertahankan agar dari dalam rumah dapat menikmati pohon tersebut. Rumah dapat dirancang melingkari atau mempertahankan keberadaan pohon yang indah itu, agar kelak anak dapat mengenal alam dan menghargai lingkungan sebagaimana orangtuanya. 
  • Perhatikan arah utara selatan bangunan. Bagian timur apabila disukai bisa memasukkan cahaya matahari pagi hingga jam 10 yang masih enak. Bagian barat mungkin perlu ditutup atau diberi shading device atau secondary skin agar tidak panas. Bagian utara selatan dapat dimaksimalkan untuk mendapatkan view pemandangan yang diinginkan. 
  • Apabila rumah berada di area lahan yang luas, misalnya rumah di pedesaan dengan lahan luas dan rumah ditengahnya atau masih banyak lahan sisa, kita juga perlu memperhatikan arah angin darimana biasanya datang. Ini bisa diperhatikan melalui pengamatan sepanjang tahun atau memperhatikan arah pergerakan angin yang umum di daerah tersebut. Ini dapat mempengaruhi suhu, kelembaban dan juga debu yang masuk melalui ventilasi dan bukaan bangunan. 

Nah, setelah berpanjang lebar tentang arah orientasi bangunan, sekarang kita lebih mengerti tentangnya dan dapat mengimplementasikan pada desain rumah tinggal yang lebih baik.

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2015 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tidak harus besar untuk hidup mewah (rumah trailer kecil)

astudioarchitect.com Seperti apa bagian dalam rumah super kecil? Apakah rumah kecil tidak nyaman? Nah, untuk melihat bahwa ada pilihan-pilihan meskipun hanya memiliki rumah atau lahan terbatas, saya mengangkat artikel ini sebagai referensi kita semua. Rumah kecil ini merupakan sebuah trailer yang dapat dipindah dari satu tempat ke tempat lainnya, memungkinkan penghuni untuk menikmati suasana berbeda dari kehidupan.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Penampilan luar rumah trailer ini tidak terlalu mencolok, hanya merupakan kotak kostruksi baja yang dilapis dengan cladding. Dari luar tampak hanya jendela-jendela dan pintu. Tentunya ini karena tampilan luar merupakan bungkus saja, untuk suatu kenyamanan berada didalam rumah kecil ini.

Inti dari desain interior adalah penataan dan organisasi barang-barang yang baik. Sebagus apapun furniture Anda, bila tidak dapat berfungsi mengorganisasikan dan menyimpan barang dengan baik, akan membuat rumah terlihat sumpek dan kecil. Dapur ini sederhana dengan kompor besar dan kabinet-kabinet. 

Toilet duduk model ‘composting toilet’ yang tidak menggunakan tangki septik, namun menggunakan wadah yang diberi sekam atau pasir, dan kemudian didaur menjadi kompos. 

Suasana tempat tidur yang berada di bagian atas kabin. 

wardrobe terbuka yang juga berfungsi sebagai tangga naik ke kamar tidur, dapat diisi dengan berbagai barang dan pakaian.

Sudut nyaman untuk membaca, makan atau belajar. Bila cukup jeli, ide ini bisa diterapkan di kamar tidur anak atau kamar kos. 

Penampilan interior keseluruhan dari rumah trailer bagian dalam.

source: imgur
______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Membuat mezzanine dari rangka besi hollow

astudioarchitect.com Mezzanine adalah sebutan untuk lantai tambahan didalam ruangan, yang bisa membuat perluasan ruangan di bagian atas sebuah ruangan, bila plafon ruangan Anda cukup tinggi. Misalnya bila sebuah ruangan seperti kamar tidur atau ruang keluarga cukup tinggi plafonnya, misalnya 5 meter keatas, maka bisa dibuat mezzanine untuk memberi tambahan lantai dan luas ruangan. Kebetulan saya sempat memotret beberapa sudut dari contoh mezzanine menggunakan rangka besi hollow ini di pameran Indobuildtech.

(Kami tidak menjual barang display dalam artikel ini, dimana artikel ini hanya untuk tujuan memberikan informasi saja)

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tangga dan konstruksi mezzanine dibuat dari besi hollow. Bahan yang mirip seperti yang banyak digunakan untuk pagar-pagar. 
Mezzanine seperti ini bisa dipakai untuk tambahan kamar tidur diatas kamar sebelumnya, atau tambahan ruang baca, dan sebagainya. Bisa dibuat dengan dinding partisi seperti pada gambar ini, atau tanpa dinding. 
Ini contoh mezzanine terbuka, bisa dipakai bila ruangan cukup tinggi plafonnya, dan butuh tambahan ruang, seperti kamar anak yang selama ini dipakai untuk dua orang, bisa ada lantai tambahan untuk salah satu anak. Bisa juga untuk tambahan ruang bermain atau belajar. 
Bagian bawah mezzanine dan tangga. Tangga dalam contoh ini merupakan tangga besi melingkar biasa. 
contoh konstruksi tangga ringan yang lain. Tangga ini terlihat lebih elegan dan bisa diletakkan diruang keluarga, tentunya dengan material dan penyelesaian yang lebih halus. 
Detail tangga. 

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Konstruksi besi bisa dipesan melalui pembuat konstruksi besi seperti tukang bikin pagar, kanopi dan sebagainya. Konstruksi bisa dibuat dari besi hollow atau besi berat (WF) sesuai pilihan, dengan penutup lantai seperti papan, multipleks, kalsifloor atau bahan lain. Konstruksi seperti ini relatif lebih murah dan mudah dibandingkan dengan membuat konstruksi dak beton untuk tambahan lantai. Satu-satunya kekurangan adalah lantai mezzanine dengan lantainya suka berbunyi bila diinjak. Bila plafon ruang Anda cukup tinggi, pertimbangkan untuk membuat konstruksi ini.

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Kampung dan Intuisi

astudioarchitect.com Studio kami pernah mendesain sekaligus membangun rumah tinggal yang letaknya di sebuah kampung. Ia berada di depan sebuah gang sempit. Rumah tersebut unik karena pemiliknya lumayan peduli akan lingkungan sekitarnya. Rumah itu berada di ujung gang kecil. Di belakangnya terdapat puluhan rumah. Gang itu tidak lebar, hanya 1 sampai 1,5 meter. Namun pejalan kaki, motor, gerobak dagangan, bahkan keranda mayat keluar masuk melalui gang tersebut. Pemilik rumah memberikan kontribusi kepada lingkungan dengan mengorbankan tanah miliknya agar gang di samping rumahnya menjadi lebih lebar. Ia merelakan tanah milik keluarganya untuk warga yang berada di belakang rumahnya.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Saya mendapatkan kesan bahwa gang seperti itu tidak direncanakan dengan matang, sebagaimana kita arsitek mendesain bangunan secara mendetail. Hal itu mendorong saya untuk mengamati bagaimana kampung seperti ini berkembang dan bagaimana intuisi berperan.

Saya melakukan pengamatan pada perkampungan padat disekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Tujuannya adalah melihat bagaimana ia mempertahankan diri dan menggunakan sumber daya dari sungai itu sebaik-baiknya. Saya menyukai dan menikmati arsitektur yang terbatas dan penuh resiko, karena justru dari arsitektur seperti ini kita bisa melihat material, konstruksi, penggunaan ruang yang paling optimal dengan berbagai keterbatasan.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Dari pengamatan sederhana mengunjungi daerah aliran sungai yang dimanfaatkan sebagai permukiman, saya melihat tiga hal: pertama, banyak orang terpaksa menggunakan daerah aliran sungai sebagai tempat hidup yang tentunya tidak layak karena berbahaya saat hujan deras. Kedua, terjadi kerusakan lingkungan karena daerah pemukiman menyebabkan tidak adanya penyerapan air dan erosi tanah terus menerus. Ketiga, daerah aliran sungai menimbulkan jenis arsitektur rakyat atau kampung yang memiliki jenis estetika dan penyelesaian arsitekturalnya sendiri yang intuitif.

Saya menganggap yang ketiga adalah bagian terbaik dari fenomena daerah aliran sungai. Bukan berarti saya setuju dengan penggunaan daerah aliran sungai sebagai permukiman, tapi karena pada kondisi tersebut kita bisa melihat nilai-nilai desain muncul karena keterbatasan dan keunikan kondisi lahan.

Daerah aliran sungai yang biasanya berkontur menyebabkan rumah-rumah dibangun mengikuti kontur. Terkadang rumah harus naik dengan tangga yang curam dan karena itu menimbulkan nuansa ruang yang tidak diatur melalui standar standar baku arsitektur. Banyaknya arsitektur dan ruang yang eksperimental ini memberikan pengetahuan arsitektur yang tidak bisa didapatkan dari buku. Seperti misalnya tangga yang tidak memiliki bordes dan anak tangga setinggi 30 sampai 40cm. Saya membayangkan susahnya orang yang sudah tua untuk hidup di daerah seperti ini. Bahan material seadanya juga menjadi jenis arsitektur trial and error yang patut diperhatikan. Arsitektur kampung menyadarkan kita bahwa pada kondisi tertentu, manusia dapat beradaptasi.

Intuisi
Untuk ‘membaca’ fenomena kampung atau permukiman padat, kita bisa melacaknya melalui kecenderungan perkembangan kampung. Contohnya kampung tradisional di Jawa yang biasanya tumbuh dari rumah-rumah yang dibangun dengan jarak cukup berjauhan.

Dinamika kehidupan keluarga membuat bagian dan elemen rumah-rumah tersebut mengalami berbagai pergeseran fungsi. Kelahiran, anak yang beranjak dewasa, menikah, berkeluarga, bahkan meninggal, semua punya konsekuensi terhadap penataan di dalam rumah. Hal itu menyebabkan munculnya berbagai kebutuhan baru yang harus dipecahkan. Anak yang menikah dan kebanyakan masih hidup dengan orang tua mereka akan menempati rumah yang sama. Tak jarang dua tiga keluarga hidup dalam sebuah rumah. Morfologi denah bertambah secara intuitif dengan cara melebar dan menciptakan pintu baru. Adakalanya pintu-pintu tersebut mewakili satu keluarga. Masih berada di bawah satu atap, namun pintu dibuka ke arah yang berbeda sebagai jalan masuk untuk masing-masing keluarga.

Banyak perubahan terjadi seperti kelahiran, pernikahan,kematian, serta kepindahan. Pindah rumah, menjual rumah dan datangnya penghuni baru menimbulkan konsekuensi baru yang tak kalah rumitnya. Pintu-pintu yang menghubungkan rumah bisa ditutup, dibuka, dan dihubungkan untuk mengakomodasi datangnya kehidupan baru ini. Demikian pula warna hidup yang semakin bertambah dengan datangnya karakter manusia yang lain. Contohnya tetangga yang terlalu dekat menimbulkan konflik baik psikologis maupun spasial.

Sebuah rumah dalam kampung campin berkembang dengan cara ini. Misalnya satu rumah dengan dua kamar dan tujuh anak, yang melebar dengan perluasan horizontal dan vertikal dengan masing-masing pintu untuk keluarga yang berbeda. Rumah berkembang dengan ‘cair’ dan intuitif untuk meletakkan ruang-ruang seperti yang dibutuhkan tanpa adanya desain yang secara arsitektural bisa dikatakan matang. Pintu, jendela, dan jalan terhubung sesuai kebutuhan, semuanya berdasarkan intuisi. Belokan-belokan tercipta di antara kepadatan rumah yang disebut kampung.

Perumahan:  Sebuah kampung yang didesain

Apabila kita membaca “kampung” sebagai suatu perkembangan perumahan yang intuitif, jenis perumahan yang ‘didesain’ sejak  awal layak dijadikan pembanding. Perumahan baru adalah cikal bakal kampung dengan morfologi penataan yang lebih tertata. Ia berbeda dari kampung yang berkembang secara intuitif. Perumahan dibeli dengan lahan terpetak-petak. Antara rumah satu dengan lainnya memiliki kesamaan. Bila kita saksikan kecenderungan perumahan saat ini, pola perkembangannya menimbulkan konsekuensi-konsekuensi baru yang pada dasarnya memiliki dinamika sedikit berbeda dari kampung yang intuitif. Namun di antara keduanya tetap ada benang merahnya yaitu intuisi.

Petak-petak lahan yang terbagi dengan jelas menimbulkan perasaan akan teritorial yang lebih kuat daripada dikampung yang tidak didesain sejak awal. Perumahan merupakan template yang dapat dikembangkan sesuai dinamika dalam keluarga yang mendiaminya, terutama untuk perumahan menengah kebawah. Dewasa ini banyak rumah-rumah dijual dengan tipe kecil yang secara umum belum dapat mewadahi kebutuhan ruang keluarga pada umumnya. Tipe 21 dan 36 seringkali dibangun tanpa dapur. Hal itu menyebabkan perubahan morfologi pasti terjadi dengan unik. Template denah rumah akan bertambah sesuai dengan kebutuhan mendasar seperti dapur, tambahan ruang kamar tidur, teras, carport, dan sebagainya.

Rumah di perumahan merupakan cikal bakal dari rumah yang dapat berkembang sebagai bagian dari kampung yang lebih tertata, yang kebanyakan perkembangannya juga dipengaruhi intuisi penghuninya. Tidak ada rumah di perumahan yang dikembangkan dengan cara sama menunjukkan bahwa masing-masing pemilik punya kecenderungan dan karakter berbeda. Tidak ada orang yang ingin disamakan dengan orang lainnya. Mirip seperti fashion, orang cenderung ingin berbeda untuk menunjukkan kepribadian dan cita rasa yang dimilikinya.

Semakin lama, sebuah kampung intuitif atau perumahan yang didesain dari awal akan semakin terbentuk secara sosial maupun spasial. Biasanya para penghuni secara intuitif menyelesaikan problem-problem berdasarkan pengalaman dan impuls dari dunia intrinsik individu. Kampung makin ‘mendewasa’ dengan makin banyaknya kejadian, seperti kelahiran, kematian, pencurian, acara bersama, masalah lingkungan, dan sebagainya.

Kampung-kampung kadangkala menjadi arena yang mirip seperti sebuah keluarga besar lengkap dengan orang-orangnya yang menyenangkan, menyebalkan dan segudang hal alami kemanusiaan lainnya. Adanya kelahiran, perkawinan, kematian dan hal-hal yang harus diselesaikan bersama adalah hal-hal yang makin mempererat jalinan dan hubungan antar manusianya itu.

Kampung adalah sebuah konteks kebudayaan yang alami dan intuitif, dimana intuisi ini adalah bagian yang paling sering dipandang ‘primitif’ yang banyak bertentangan atau kurang sesuai dengan standar arsitektur dari pengetahuan yang modern.

Arsitek banyak bekerja dengan standar, petunjuk, dan handbook, berusaha untuk mengeliminasi trial and error dalam bekerja dengan intuisinya saat mendesain. Meski begitu, bila belajar dari kampung yang intuitif, kita akan sering tersenyum karena menyadari bahwa intuisi murni dapat menyelesaikan masalah dengan cara kanak-kanak. Misalnya seperti anak tangga setinggi 40 cm itu.  Dengan membuat asumsi bahwa manusia bisa beradaptasi atau menerima keadaan dan menggunakan pikirannya tanpa henti untuk menyelesaikan masalah.

Nampaknya tubuh kita didesain agar bisa menerima serangkaian penyelesaian arsitektural non standar yang intuitif dan asumtif.  Barangkali untuk mengingatkan bahwa dulu manusia pernah hidup di gua yang tidak memiliki standar arsitektural. Seringkali desain dan konsep modern justru mengabaikan kemungkinan-kemungkinan intuitif itu, namun rasanya bila kembali kepada sifat alami manusia, dorongan intuitif untuk meng’kampung’ akan menemukan jalannya bila diberi kesempatan.

*) Artikel ini juga dimuat dalam konteks, media informasi arsitektur

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.