Monthly Archives: November 2010

Bangunan yang Iconic / Iconic Buildings

astudioarchitect.com Seringkali sebuah arsitektur bangunan dikatakan sebagai Icon dari sebuah kawasan, menjadi sebuah cara untuk mengungkapkan keberadaan sebuah bangunan yang memberi warna, pengaruh, serta kepentingan di sebuah kawasan. Sebagai contoh: Monas adalah Icon kota Jakarta. Patung Sura (hiu) dan Baya (buaya) adalah Icon kota Surabaya. Burj Dubai merupakan Icon kota Dubai. Icon adalah simbol dari sesuatu yang penting dalam memberi identitas sebuah kawasan, kota, bahkan sebuah negara. Sangat sering orang yang berjalan-jalan atau ‘plesir’ ke tempat atau kota tertentu akan mengunjungi bangunan, tempat, atau kawasan yang menjadi Icon dari sebuah kota, barangkali untuk menandai sebuah kunjungan agar lebih bermakna, ‘bahwa saya pernah ke kota tersebut’.

Desain bangunan oleh astudio architect.

Icon seringkali mengandung peran penting sebagai penanda sebuah kawasan, misalnya: “Bila Anda melewati bangunan dengan bentuk bulat, maka Anda sudah sampai di kota anu”. Artinya bangunan berbentuk bulat memberi penanda yang jelas akan sebuah kota. Bisa dikatakan Icon memberi makna tertentu sehubungan dengan interpretasi dari persepsi visual yang diterima pengamat. Berkaitan dengan semiotika dan simbol, icon merupakan sebuah satuan makna yang harus diinterpretasikan, misalnya, untuk memahami bahwa Monas adalah Icon Jakarta, kita harus memahami proses untuk melihat Monas memiliki makna yang bisa diinterpretasikan bahwa Monas bentuknya seperti itu, dan hanya ada di Jakarta.

Photo by AyAres151 on Flickr

Kadangkala, begitu kuatnya sebuah Icon, maka sebuah bangunan atau arsitektur bisa menjadi simbol dari tempat, kawasan, kota bahkan negara. Monas, atau Suramadu, merupakan simbol kota Jakarta dan Surabaya, bila setiap kali melihat ‘image’ dari bangunan tersebut, diasosiasikan sebagai ‘Jakarta’, atau ‘Surabaya’. Misalnya, dalam sebuah gambar peta, gambar Monas menjadi simbol Jakarta, dan Suramadu, menjadi simbol Surabaya.

Arsitektur memang bisa dan memungkinkan untuk dibuat menjadi sebuah icon, meskipun demikian, setiap Icon akan memberi pengaruh atau peran dalam area tertentu sebagai penanda yang sifatnya terbatas sesuai dengan tingkat pengaruh yang dimilikinya. Setiap orang yang ‘tahu’ tentang patung ‘sura’ dan ‘baya’ sebagai icon dari ‘Wonokromo’ atau ‘Surabaya’ akan mendapat makna setiap kali melihat bentukan atau imagery patung ‘sura dan baya’ untuk dikaitkan dengan kawasan Wonokromo atau kota Surabaya pada umumnya. Arsitektur yang sangat kuat pengaruhnya sebagai icon, bisa menjadi penanda untuk sebuah kawasan, dan banyak contoh yang bisa kita temukan dalam arti arsitektur sebagai ‘bangunan’ bukan sebuah sculpture atau patung.

Banyak arsitek sangat menyukai kesempatan mendapatkan proyek desain yang bisa menjadi Icon bahkan simbol dari sebuah kawasan, misalnya: merancang bangunan yang bernilai tinggi bagi lingkungan. Merancang bangunan dengan tingkat pengaruh yang tinggi bisa mempertinggi tingkat pengaruh arsitek di masyarakat, artinya ego arsitek juga dipengaruhi dalam kondisi ini. Peran arsitek menjadi sangat penting bila ia harus mendesain bangunan yang akan menjadi Icon sebuah kawasan.

Seberapa pentingkah sebuah bangunan menjadi sebuah Icon?
Inilah sebuah jawaban mengapa arsitektur Mall selalu atau kebanyakan didesain dengan warna cerah, menarik, unik, dan menawarkan sesuatu yang berbeda dari lingkungannya. Hal ini bisa dipahami sebagai suatu cara menjadikan Mall sebagai penanda suatu tempat, yaitu lingkungan disekitar mall tersebut. Dari ‘sesuatu yang berbeda’ tersebut setiap orang (pengamat) yang melihat dan memahami perbedaan tersebut bisa membuat asosiasi tertentu berkaitan dengan imagery yang didapatkannya.

“Kamu tahu, mall yang bentuknya kotak-kotak, miring-miring”

Kalimat diatas bisa diasosiasikan sebagai ‘Mall EX’ di Bundaran HI Jakarta, atau bisa jadi mall yang baru rubuh di sebuah kota, tergantung dari asosiasi pengamat 🙂 Arsitek bisa mendesain bangunan menjadi sebuah Icon yang sangat dikenal. Persoalan yang timbul dari arsitektur ‘iconic’ adalah dari dampak arsitektur ‘iconic’ itu sendiri.

Keinginan untuk memiliki bangunan yang iconic sangat menggoda bagi para pemilik bangunan terutama untuk jenis bangunan komersial, sebabnya adalah keberadaan bangunan yang bisa menjadi icon yang bisa mendongkrak sisi komersial. Di tepi jalan komersial, selalu kita dapati berbagai bangunan komersial berlomba-lomba menciptakan bangunan yang iconic, sehingga jalan komersial dipenuhi oleh bangunan dengan desain dan tipe yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Karena setiap bangunan didesain untuk menjadi berbeda maka jalan akan dipenuhi oleh arsitektur yang beragam, bisa jadi cenderung chaos, tanpa regulasi khusus seperti ketinggian bangunan, sempadan, KDB dan KLB, tema atau gaya arsitektur yang digunakan, material, dan sebagainya.

Selain itu arsitektur yang dibuat untuk menjadi iconic sering memiliki kekurangan akibat perhatian arsitek yang terlalu bertujuan memaksimalkan ‘imagery’ yang ditampilkan oleh fasade bangunan. Ruko, mall, restoran, dan sebagainya dibuat dengan arsitektur yang semenarik mungkin agar menjadi icon suatu kawasan, tapi arsiteknya sering melupakan banyak faktor lain, diantaranya adalah tanggung jawab sosial dan lingkungan. Begitu pentingnya untuk mengolah fasade agar menarik, misalnya, bisa membuat banyak hal yang terkait arsitektur lainnya menjadi terbengkalai.

ENGLISH VERSION:


An architectural icon of a region, becomes a way to reveal the existence of a building that gives color, influence, and interests in a region. For example: Monas monument is the Icon of Jakarta. Statue of Sura (shark) and Baya (crocodile) is the Icon of Surabaya. Burj Dubai is an icon of Dubai. Icon is a symbol of something important in giving the identity of a region, city, even a country. Very often people who take a walk or vacation to a place or a particular city will visit the building, place, or area that became icons of a city, perhaps to mark a visit to make it more meaningful, ‘that I’ve been to the city’.




Design an iconic building, by astudio architect.




Icon often contain important role as a marker of a region, for example: “When you pass through the building with a round shape, then you’ve arrived at the city”. This means that round-shaped building will provide a clear marker of a town. Icon can be said to give a specific meaning in connection with the interpretation of visual perception received by the observer. In relation to semiotics and symbol, icon is a unit of meaning that must be interpreted, for example, to understand that the Monas is the Icon of Jakarta, we must understand the process to see the monument has a meaning that could be interpreted that the monument shaped like that, and only in Jakarta.


Sometimes, an Icon can be so strong, then a building or architecture could be a symbol of place, regions, cities and even countries. Monas, or Suramadu, is a symbol of Jakarta and Surabaya, every time we see the ‘images’ of the building, it can be associated as ‘Jakarta’, or ‘Surabaya’. For example, in a map, the image of Monas became a symbol of Jakarta, and Suramadu, became the symbol of Surabaya.


Architecture is able and allowed to be made into an icon, even so, every icon will give the effect or role in certain areas as markers that are limited in accordance with the degree of influence of the building. Every person who ‘knows’ about the statue of ‘Sura’ and ‘Baya’ as an icon of ‘Wonokromo’ or ‘Surabaya’ will have that meaning every time he saw the formation or imagery of the sculpture ‘sura and baya’ to be associated with Wonokromo region or city of Surabaya in general . Architecture is very powerful as an icon, can be a marker for a region, and many examples can be found in the sense of architecture as a ‘building’ rather than a sculpture or statue.


Many architects love the opportunity to get a design project that can become an Icon even symbols of a region, for example: designing buildings of high value for the environment. Designing a building with a high degree of influence that could enhance the influence of the architect in society, meaning the architect’s ego is also affected in this condition. The role of the architect becomes very important when he has to design a building that would become icons of a region.


How important a building became an icon?
This is the answer to why the architecture of malls are always or mostly designed with bright colors, interesting, unique, and offer something different from their surroundings. This can be understood as a way to make the Mall as a place marker, namely the environment around the mall. From the ‘something different’ is any person (observer) who see and understand these differences can make certain associations related to the acquisition of imagery.


“You know, the mall that is shaped tilted boxes”


The sentence above can be associated as the ‘Mall EX’ at Roundabout HI Jakarta, or could be a new mall that collapsed in a city, depending on the associated observer 🙂 The architect can design a building into an icon that is known. Problems arising from architectural ‘iconic’ architecture is the impact of ‘iconic’ itself.


The desire to have an iconic building is very tempting for the owners of the building primarily for commercial building types, why is the existence of buildings that could become the icon that could boost the commercial side. On the commercial side of the road, we always find a variety of commercial buildings competing to create an iconic building, so that commercial street full of buildings with different designs and different types of buildings to achieve that goal. Because each building is designed to be different then the street will be fulled by a variety of architecture, which could be inclined chaos, with no special regulations such as building height, border, KDB and outbreaks, theme or style of architecture used, material, and so forth.


Architecture designed to be iconic often have a shortage due to the attention of architects who too aim to maximize the ‘imagery’ that is displayed by the facade of the building. Commercial, shopping malls, restaurants, etc. are made with architecture as attractive as possible in order to become a regional icon, but architects often forget the many other factors, such as social and environmental responsibility. Once the importance to treat the facade in order to attract, for example, can make a lot of things related to other architectural become dormant.

________________________________________________

Picture credit (from top to bottom):
– from http://www.opus-dubai.com
– by AyAres151 on Flickr
– by kersy83 on Flickr.com

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bangunan yang Iconic / Iconic Buildings

astudioarchitect.com Seringkali sebuah arsitektur bangunan dikatakan sebagai Icon dari sebuah kawasan, menjadi sebuah cara untuk mengungkapkan keberadaan sebuah bangunan yang memberi warna, pengaruh, serta kepentingan di sebuah kawasan. Sebagai contoh: Monas adalah Icon kota Jakarta. Patung Sura (hiu) dan Baya (buaya) adalah Icon kota Surabaya. Burj Dubai merupakan Icon kota Dubai. Icon adalah simbol dari sesuatu yang penting dalam memberi identitas sebuah kawasan, kota, bahkan sebuah negara. Sangat sering orang yang berjalan-jalan atau ‘plesir’ ke tempat atau kota tertentu akan mengunjungi bangunan, tempat, atau kawasan yang menjadi Icon dari sebuah kota, barangkali untuk menandai sebuah kunjungan agar lebih bermakna, ‘bahwa saya pernah ke kota tersebut’.

Desain bangunan oleh astudio architect.

Icon seringkali mengandung peran penting sebagai penanda sebuah kawasan, misalnya: “Bila Anda melewati bangunan dengan bentuk bulat, maka Anda sudah sampai di kota anu”. Artinya bangunan berbentuk bulat memberi penanda yang jelas akan sebuah kota. Bisa dikatakan Icon memberi makna tertentu sehubungan dengan interpretasi dari persepsi visual yang diterima pengamat. Berkaitan dengan semiotika dan simbol, icon merupakan sebuah satuan makna yang harus diinterpretasikan, misalnya, untuk memahami bahwa Monas adalah Icon Jakarta, kita harus memahami proses untuk melihat Monas memiliki makna yang bisa diinterpretasikan bahwa Monas bentuknya seperti itu, dan hanya ada di Jakarta.

Photo by AyAres151 on Flickr

Kadangkala, begitu kuatnya sebuah Icon, maka sebuah bangunan atau arsitektur bisa menjadi simbol dari tempat, kawasan, kota bahkan negara. Monas, atau Suramadu, merupakan simbol kota Jakarta dan Surabaya, bila setiap kali melihat ‘image’ dari bangunan tersebut, diasosiasikan sebagai ‘Jakarta’, atau ‘Surabaya’. Misalnya, dalam sebuah gambar peta, gambar Monas menjadi simbol Jakarta, dan Suramadu, menjadi simbol Surabaya.

Arsitektur memang bisa dan memungkinkan untuk dibuat menjadi sebuah icon, meskipun demikian, setiap Icon akan memberi pengaruh atau peran dalam area tertentu sebagai penanda yang sifatnya terbatas sesuai dengan tingkat pengaruh yang dimilikinya. Setiap orang yang ‘tahu’ tentang patung ‘sura’ dan ‘baya’ sebagai icon dari ‘Wonokromo’ atau ‘Surabaya’ akan mendapat makna setiap kali melihat bentukan atau imagery patung ‘sura dan baya’ untuk dikaitkan dengan kawasan Wonokromo atau kota Surabaya pada umumnya. Arsitektur yang sangat kuat pengaruhnya sebagai icon, bisa menjadi penanda untuk sebuah kawasan, dan banyak contoh yang bisa kita temukan dalam arti arsitektur sebagai ‘bangunan’ bukan sebuah sculpture atau patung.

Banyak arsitek sangat menyukai kesempatan mendapatkan proyek desain yang bisa menjadi Icon bahkan simbol dari sebuah kawasan, misalnya: merancang bangunan yang bernilai tinggi bagi lingkungan. Merancang bangunan dengan tingkat pengaruh yang tinggi bisa mempertinggi tingkat pengaruh arsitek di masyarakat, artinya ego arsitek juga dipengaruhi dalam kondisi ini. Peran arsitek menjadi sangat penting bila ia harus mendesain bangunan yang akan menjadi Icon sebuah kawasan.

Seberapa pentingkah sebuah bangunan menjadi sebuah Icon?
Inilah sebuah jawaban mengapa arsitektur Mall selalu atau kebanyakan didesain dengan warna cerah, menarik, unik, dan menawarkan sesuatu yang berbeda dari lingkungannya. Hal ini bisa dipahami sebagai suatu cara menjadikan Mall sebagai penanda suatu tempat, yaitu lingkungan disekitar mall tersebut. Dari ‘sesuatu yang berbeda’ tersebut setiap orang (pengamat) yang melihat dan memahami perbedaan tersebut bisa membuat asosiasi tertentu berkaitan dengan imagery yang didapatkannya.

“Kamu tahu, mall yang bentuknya kotak-kotak, miring-miring”

Kalimat diatas bisa diasosiasikan sebagai ‘Mall EX’ di Bundaran HI Jakarta, atau bisa jadi mall yang baru rubuh di sebuah kota, tergantung dari asosiasi pengamat 🙂 Arsitek bisa mendesain bangunan menjadi sebuah Icon yang sangat dikenal. Persoalan yang timbul dari arsitektur ‘iconic’ adalah dari dampak arsitektur ‘iconic’ itu sendiri.

Keinginan untuk memiliki bangunan yang iconic sangat menggoda bagi para pemilik bangunan terutama untuk jenis bangunan komersial, sebabnya adalah keberadaan bangunan yang bisa menjadi icon yang bisa mendongkrak sisi komersial. Di tepi jalan komersial, selalu kita dapati berbagai bangunan komersial berlomba-lomba menciptakan bangunan yang iconic, sehingga jalan komersial dipenuhi oleh bangunan dengan desain dan tipe yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Karena setiap bangunan didesain untuk menjadi berbeda maka jalan akan dipenuhi oleh arsitektur yang beragam, bisa jadi cenderung chaos, tanpa regulasi khusus seperti ketinggian bangunan, sempadan, KDB dan KLB, tema atau gaya arsitektur yang digunakan, material, dan sebagainya.

Selain itu arsitektur yang dibuat untuk menjadi iconic sering memiliki kekurangan akibat perhatian arsitek yang terlalu bertujuan memaksimalkan ‘imagery’ yang ditampilkan oleh fasade bangunan. Ruko, mall, restoran, dan sebagainya dibuat dengan arsitektur yang semenarik mungkin agar menjadi icon suatu kawasan, tapi arsiteknya sering melupakan banyak faktor lain, diantaranya adalah tanggung jawab sosial dan lingkungan. Begitu pentingnya untuk mengolah fasade agar menarik, misalnya, bisa membuat banyak hal yang terkait arsitektur lainnya menjadi terbengkalai.

ENGLISH VERSION:


An architectural icon of a region, becomes a way to reveal the existence of a building that gives color, influence, and interests in a region. For example: Monas monument is the Icon of Jakarta. Statue of Sura (shark) and Baya (crocodile) is the Icon of Surabaya. Burj Dubai is an icon of Dubai. Icon is a symbol of something important in giving the identity of a region, city, even a country. Very often people who take a walk or vacation to a place or a particular city will visit the building, place, or area that became icons of a city, perhaps to mark a visit to make it more meaningful, ‘that I’ve been to the city’.




Design an iconic building, by astudio architect.




Icon often contain important role as a marker of a region, for example: “When you pass through the building with a round shape, then you’ve arrived at the city”. This means that round-shaped building will provide a clear marker of a town. Icon can be said to give a specific meaning in connection with the interpretation of visual perception received by the observer. In relation to semiotics and symbol, icon is a unit of meaning that must be interpreted, for example, to understand that the Monas is the Icon of Jakarta, we must understand the process to see the monument has a meaning that could be interpreted that the monument shaped like that, and only in Jakarta.


Sometimes, an Icon can be so strong, then a building or architecture could be a symbol of place, regions, cities and even countries. Monas, or Suramadu, is a symbol of Jakarta and Surabaya, every time we see the ‘images’ of the building, it can be associated as ‘Jakarta’, or ‘Surabaya’. For example, in a map, the image of Monas became a symbol of Jakarta, and Suramadu, became the symbol of Surabaya.


Architecture is able and allowed to be made into an icon, even so, every icon will give the effect or role in certain areas as markers that are limited in accordance with the degree of influence of the building. Every person who ‘knows’ about the statue of ‘Sura’ and ‘Baya’ as an icon of ‘Wonokromo’ or ‘Surabaya’ will have that meaning every time he saw the formation or imagery of the sculpture ‘sura and baya’ to be associated with Wonokromo region or city of Surabaya in general . Architecture is very powerful as an icon, can be a marker for a region, and many examples can be found in the sense of architecture as a ‘building’ rather than a sculpture or statue.


Many architects love the opportunity to get a design project that can become an Icon even symbols of a region, for example: designing buildings of high value for the environment. Designing a building with a high degree of influence that could enhance the influence of the architect in society, meaning the architect’s ego is also affected in this condition. The role of the architect becomes very important when he has to design a building that would become icons of a region.


How important a building became an icon?
This is the answer to why the architecture of malls are always or mostly designed with bright colors, interesting, unique, and offer something different from their surroundings. This can be understood as a way to make the Mall as a place marker, namely the environment around the mall. From the ‘something different’ is any person (observer) who see and understand these differences can make certain associations related to the acquisition of imagery.


“You know, the mall that is shaped tilted boxes”


The sentence above can be associated as the ‘Mall EX’ at Roundabout HI Jakarta, or could be a new mall that collapsed in a city, depending on the associated observer 🙂 The architect can design a building into an icon that is known. Problems arising from architectural ‘iconic’ architecture is the impact of ‘iconic’ itself.


The desire to have an iconic building is very tempting for the owners of the building primarily for commercial building types, why is the existence of buildings that could become the icon that could boost the commercial side. On the commercial side of the road, we always find a variety of commercial buildings competing to create an iconic building, so that commercial street full of buildings with different designs and different types of buildings to achieve that goal. Because each building is designed to be different then the street will be fulled by a variety of architecture, which could be inclined chaos, with no special regulations such as building height, border, KDB and outbreaks, theme or style of architecture used, material, and so forth.


Architecture designed to be iconic often have a shortage due to the attention of architects who too aim to maximize the ‘imagery’ that is displayed by the facade of the building. Commercial, shopping malls, restaurants, etc. are made with architecture as attractive as possible in order to become a regional icon, but architects often forget the many other factors, such as social and environmental responsibility. Once the importance to treat the facade in order to attract, for example, can make a lot of things related to other architectural become dormant.

________________________________________________

Picture credit (from top to bottom):
– from http://www.opus-dubai.com
– by AyAres151 on Flickr
– by kersy83 on Flickr.com

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Mengatasi suhu panas tanpa AC dengan desain yang tepat

Desain karya Probo Hindarto, astudio.


astudioarchitect.com Melanjutkan ketertarikan saya pada
bangunan yang sejuk tanpa AC.
Sebagai orang yang tinggal di daerah beriklim tropis seperti Indonesia, kita perlu memperhatikan desain bangunan yang selaras dengan iklim. Iklim berdampak sangat banyak untuk bangunan, terutama karena iklim tropis memiliki karakter-karakter khusus yang harus diperhatikan agar bangunan (misalnya rumah) menjadi nyaman. Tingkat kenyamanan berada dalam rumah dipengaruhi oleh berbagai hal seperti suhu, kelembaban, sinar matahari, dan sebagainya.

Suhu ruangan terasa nyaman. Melalui pengalaman pribadi saya, temperatur yang paling nyaman berkisar antara 28-30 derajat Celcius. Tingkat kenyamanan ini sangat mungkin bervariasi antara satu orang dengan yang lain. Istilah yang banyak digunakan adalah ‘room temperature’ atau temperatur ruangan merujuk pada temperatur paling nyaman yang bisa didapatkan dalam sebuah ruangan.

Siklus air turut mempengaruhi suhu udara disekitar bangunan/ rumah

(sumber gambar: Heinz Frick, Membangun, menghuni, membentuk)


Pada daerah-daerah tertentu di Indonesia terutama kota-kota yang dekat dengan pantai, iklim yang dirasakan merupakan iklim tropis basah yang panas, hal ini karena uap air cukup banyak di daerah pesisir. Kota-kota yang berkarakter iklim semacam ini misalnya Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta. Karakter iklim ini mengandung uap air yang mengikat panas (lihat efek rumah kaca).


Karakter iklim tropis di daerah pegunungan juga masih didukung oleh banyaknya uap air karena pada dasarnya tanaman juga mengikat air dan mendinginkan udara. Karakter iklim pegunungan merupakan iklim basah dan cenderung dingin sekitar 23-26 derajat Celcius. Contoh daerah yang semacam ini seperti Bogor, Bandung, dan Malang.


Kelebihan letak geografis Indonesia dan kondisi alamnya secara umum lebih banyak laut daripada daratannya menjadikan suplai uap air relatif konstan dan mempertahankan suhu udara dengan lebih baik. Perbedaan suhu tidak terlalu besar sehingga bangunan tidak harus didesain untuk mengatasi iklim yang ekstrim seperti negeri 4 musim. Beberapa karakter iklim perlu diperhatikan untuk mencapai tingkat kenyamanan suhu yang baik dalam bangunan.

Pencemaran udara di kota membentuk kanopi kabut polusi yang berpengaruh pada suhu kota, kelembaban, serta kualitas udara. (sumber: Heinz Frick: Membangun, membentuk, menghuni)


Panas Matahari dari pagi hingga sore merupakan faktor utama dari pembentuk iklim tropis, dengan sinar yang konstan dari pagi hingga sore, maka temperatur udara menjadi bisa diprediksi demikian pula dengan arah pergerakannya. Banyak orang merasa perlu mempertimbangkan secara khusus bila memiliki lahan menghadap ke barat karena cahaya dari arah barat seringkali panas dan tidak nyaman. Kondisi ini diakibatkan oleh berkumpulnya panas matahari dalam bangunan pada siang hari dan pada sore hari ditambahkan dengan sinar matahari langsung menghadap wajah bangunan. Biasanya wajah bangunan (tampak muka) merupakan bagian yang banyak dibuka dengan jendela dan pintu sehingga tak ayal hubungannya adalah dengan masuknya banyak sinar matahari.


Pergerakan udara atau angin juga layak mendapatkan perhatian utama, bila kita tidak berencana menggunakan AC. Pergerakan udara yang paling tepat adalah pergerakan udara silang, yaitu bila ada dua bukaan udara atau lebih seperti jendela dan ventilasi untuk mengalirkan udara dalam ruangan.


Secara tradisional banyak penyelesaian ditawarkan oleh leluhur kita untuk mengatasi panas matahari dengan
– membuat atap yang seperti payung,
– material bangunan yang dapat mendinginkan udara,
– menanam banyak pohon,
– memelihara tumbuhan disekitar rumah,
– memperbanyak dan memberdayakan area taman baik taman depan, samping, dalam, atau belakang.

– membuat bukaan-bukaan udara yang cukup untuk pergerakan udara,
– dan sebagainya.

Karakter bangunan yang sesuai iklim untuk daerah Indonesia bisa dilihat dengan mudah pada jenis karakter bangunan yang ‘berhasil’ secara turun temurun di-getok-tular-kan secara tradisional. Atap yang seperti payung menghindarkan dari panas dan hujan sehingga kita merasa nyaman. Payung disini secara harfiah benar-benar seperti payung yang digunakan saat hujan dan panas.


Desain karya Probo Hindarto, astudio. Dalam desain ini saya mencoba membuat alternatif bila sebuah rumah tidak memiliki lahan cukup untuk menanam pohon, bisa menggunakan pergola dan rak-rak tanaman semisal hidroponik untuk menanam tanaman dan menyejukkan udara rumah.


Material bangunan banyak yang memiliki kemampuan mendinginkan udara yang terlalu panas seperti atap ijuk atau susunan bilah bambu yang bisa menahan panas dan karena memiliki bagian-bagian terpisah maka bisa dialiri udara dimana angin ini membawa panas dari bagian tekstur material tersebut. Hal ini bisa kita adopsi dalam desain bangunan dengan memakai material ‘bertekstur’ seperti ijuk, ilalang, potongan-potongan bambu, sirap, dan sebagainya. Material lain yang mudah didapatkan dan diproduksi secara lokal adalah genteng tanah liat dimana genteng ini murah dan semakin banyak yang memproduksi secara lebih baik, lebih kuat dan tahan lama. Genteng tanah liat juga terlihat sangat alami dibandingkan dengan genteng lembaran seperti asbes atau baja.

Jenis atap dak beton semakin banyak digunakan oleh masyarakat kita, memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Dak beton mudah dibuat dengan material pasir, semen dan besi dan bisa dikerjakan oleh tukang lokal. Kesan kuat dan modern seringkali menjadi alasan untuk menggunakan dak beton sebagai atap. Hanya dak beton memiliki kekurangan bila bocor, dan tidak ramah lingkungan karena panas baik memantulkan panas kembali ke angkasa, serta menyebabkan ruang dibawahnya menjadi panas juga. Banyak arsitek menyiasatinya dengan membuat taman diatas atap dak beton atau membuat kolam diatas dak, meskipun ini berarti penambahan biaya pembangunan.


Material lain bisa ‘mendinginkan’ bangunan diaplikasikan pada dinding berupa penambahan lapisan ‘secondary skin’ pada bangunan. Anda bisa melihat tulisan saya tentang secondary skin di web astudio ini. Pada tingkatan paling sederhana, secondary skin bisa dibuat dari tanaman rambat dimana kita menanam tanaman rambat pada dinding bangunan dan dengan demikian akan mendinginkan dinding tersebut. Panas matahari akan dikurangi dengan drastis untuk sampai ke dalam ruangan. Demikian juga dengan penambahan lapisan seperti bilah-bilah bambu didepan dinding yang mendapatkan sinar matahari langsung.


Mengatasi suhu ruangan yang panas dengan meninggikan plafon atau atap juga cara khusus yang alami tanpa AC. Tinggikan plafon lebih dari 3,5 meter yang artinya bisa berarti 4 atau 5 meter yang artinya sebenarnya ada tambahan biaya pembangunan, tapi dalam jangka panjangnya akan menghilangkan atau mengurangi penggunaan AC.

Desain karya Probo Hindarto, astudio. Disini saya memadukan material alami yang mudah didapatkan, permainan bentuk garis dan bidang untuk menambah estetika, serta tidak menutup carport dengan perkerasan, tapi dengan grassblock. Tentunya akan lebih lengkap bila ditambahkan atap carport yang juga berfungsi sebagai media tanaman rambat atau pergola.


Menanam pohon dan memperbanyak tumbuhan disekitar rumah bisa mendinginkan udara, karena tanaman berfoto-sintesis dan menyerap air (H2O) dari udara serta kandungan air dalam daun dan batangnya bisa mendinginkan udara disekitar bangunan atau rumah. Memilih untuk menanam rumput dan menggunakan grassblock merupakan pilihan bijak, karena rumput menyerap panas matahari sehingga pantulan panasnya dikurangi dengan drastis. Lain dengan bila lahan disekitar bangunan diperkeras dengan semen, beton atau keramik, maka pantulan sinar matahari akan membuat bangunan makin panas.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Mengatasi suhu panas tanpa AC dengan desain yang tepat

Desain karya Probo Hindarto, astudio.


astudioarchitect.com Melanjutkan ketertarikan saya pada
bangunan yang sejuk tanpa AC.
Sebagai orang yang tinggal di daerah beriklim tropis seperti Indonesia, kita perlu memperhatikan desain bangunan yang selaras dengan iklim. Iklim berdampak sangat banyak untuk bangunan, terutama karena iklim tropis memiliki karakter-karakter khusus yang harus diperhatikan agar bangunan (misalnya rumah) menjadi nyaman. Tingkat kenyamanan berada dalam rumah dipengaruhi oleh berbagai hal seperti suhu, kelembaban, sinar matahari, dan sebagainya.

Suhu ruangan terasa nyaman. Melalui pengalaman pribadi saya, temperatur yang paling nyaman berkisar antara 28-30 derajat Celcius. Tingkat kenyamanan ini sangat mungkin bervariasi antara satu orang dengan yang lain. Istilah yang banyak digunakan adalah ‘room temperature’ atau temperatur ruangan merujuk pada temperatur paling nyaman yang bisa didapatkan dalam sebuah ruangan.

Siklus air turut mempengaruhi suhu udara disekitar bangunan/ rumah

(sumber gambar: Heinz Frick, Membangun, menghuni, membentuk)


Pada daerah-daerah tertentu di Indonesia terutama kota-kota yang dekat dengan pantai, iklim yang dirasakan merupakan iklim tropis basah yang panas, hal ini karena uap air cukup banyak di daerah pesisir. Kota-kota yang berkarakter iklim semacam ini misalnya Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta. Karakter iklim ini mengandung uap air yang mengikat panas (lihat efek rumah kaca).


Karakter iklim tropis di daerah pegunungan juga masih didukung oleh banyaknya uap air karena pada dasarnya tanaman juga mengikat air dan mendinginkan udara. Karakter iklim pegunungan merupakan iklim basah dan cenderung dingin sekitar 23-26 derajat Celcius. Contoh daerah yang semacam ini seperti Bogor, Bandung, dan Malang.


Kelebihan letak geografis Indonesia dan kondisi alamnya secara umum lebih banyak laut daripada daratannya menjadikan suplai uap air relatif konstan dan mempertahankan suhu udara dengan lebih baik. Perbedaan suhu tidak terlalu besar sehingga bangunan tidak harus didesain untuk mengatasi iklim yang ekstrim seperti negeri 4 musim. Beberapa karakter iklim perlu diperhatikan untuk mencapai tingkat kenyamanan suhu yang baik dalam bangunan.

Pencemaran udara di kota membentuk kanopi kabut polusi yang berpengaruh pada suhu kota, kelembaban, serta kualitas udara. (sumber: Heinz Frick: Membangun, membentuk, menghuni)


Panas Matahari dari pagi hingga sore merupakan faktor utama dari pembentuk iklim tropis, dengan sinar yang konstan dari pagi hingga sore, maka temperatur udara menjadi bisa diprediksi demikian pula dengan arah pergerakannya. Banyak orang merasa perlu mempertimbangkan secara khusus bila memiliki lahan menghadap ke barat karena cahaya dari arah barat seringkali panas dan tidak nyaman. Kondisi ini diakibatkan oleh berkumpulnya panas matahari dalam bangunan pada siang hari dan pada sore hari ditambahkan dengan sinar matahari langsung menghadap wajah bangunan. Biasanya wajah bangunan (tampak muka) merupakan bagian yang banyak dibuka dengan jendela dan pintu sehingga tak ayal hubungannya adalah dengan masuknya banyak sinar matahari.


Pergerakan udara atau angin juga layak mendapatkan perhatian utama, bila kita tidak berencana menggunakan AC. Pergerakan udara yang paling tepat adalah pergerakan udara silang, yaitu bila ada dua bukaan udara atau lebih seperti jendela dan ventilasi untuk mengalirkan udara dalam ruangan.


Secara tradisional banyak penyelesaian ditawarkan oleh leluhur kita untuk mengatasi panas matahari dengan
– membuat atap yang seperti payung,
– material bangunan yang dapat mendinginkan udara,
– menanam banyak pohon,
– memelihara tumbuhan disekitar rumah,
– memperbanyak dan memberdayakan area taman baik taman depan, samping, dalam, atau belakang.

– membuat bukaan-bukaan udara yang cukup untuk pergerakan udara,
– dan sebagainya.

Karakter bangunan yang sesuai iklim untuk daerah Indonesia bisa dilihat dengan mudah pada jenis karakter bangunan yang ‘berhasil’ secara turun temurun di-getok-tular-kan secara tradisional. Atap yang seperti payung menghindarkan dari panas dan hujan sehingga kita merasa nyaman. Payung disini secara harfiah benar-benar seperti payung yang digunakan saat hujan dan panas.


Desain karya Probo Hindarto, astudio. Dalam desain ini saya mencoba membuat alternatif bila sebuah rumah tidak memiliki lahan cukup untuk menanam pohon, bisa menggunakan pergola dan rak-rak tanaman semisal hidroponik untuk menanam tanaman dan menyejukkan udara rumah.


Material bangunan banyak yang memiliki kemampuan mendinginkan udara yang terlalu panas seperti atap ijuk atau susunan bilah bambu yang bisa menahan panas dan karena memiliki bagian-bagian terpisah maka bisa dialiri udara dimana angin ini membawa panas dari bagian tekstur material tersebut. Hal ini bisa kita adopsi dalam desain bangunan dengan memakai material ‘bertekstur’ seperti ijuk, ilalang, potongan-potongan bambu, sirap, dan sebagainya. Material lain yang mudah didapatkan dan diproduksi secara lokal adalah genteng tanah liat dimana genteng ini murah dan semakin banyak yang memproduksi secara lebih baik, lebih kuat dan tahan lama. Genteng tanah liat juga terlihat sangat alami dibandingkan dengan genteng lembaran seperti asbes atau baja.

Jenis atap dak beton semakin banyak digunakan oleh masyarakat kita, memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Dak beton mudah dibuat dengan material pasir, semen dan besi dan bisa dikerjakan oleh tukang lokal. Kesan kuat dan modern seringkali menjadi alasan untuk menggunakan dak beton sebagai atap. Hanya dak beton memiliki kekurangan bila bocor, dan tidak ramah lingkungan karena panas baik memantulkan panas kembali ke angkasa, serta menyebabkan ruang dibawahnya menjadi panas juga. Banyak arsitek menyiasatinya dengan membuat taman diatas atap dak beton atau membuat kolam diatas dak, meskipun ini berarti penambahan biaya pembangunan.


Material lain bisa ‘mendinginkan’ bangunan diaplikasikan pada dinding berupa penambahan lapisan ‘secondary skin’ pada bangunan. Anda bisa melihat tulisan saya tentang secondary skin di web astudio ini. Pada tingkatan paling sederhana, secondary skin bisa dibuat dari tanaman rambat dimana kita menanam tanaman rambat pada dinding bangunan dan dengan demikian akan mendinginkan dinding tersebut. Panas matahari akan dikurangi dengan drastis untuk sampai ke dalam ruangan. Demikian juga dengan penambahan lapisan seperti bilah-bilah bambu didepan dinding yang mendapatkan sinar matahari langsung.


Mengatasi suhu ruangan yang panas dengan meninggikan plafon atau atap juga cara khusus yang alami tanpa AC. Tinggikan plafon lebih dari 3,5 meter yang artinya bisa berarti 4 atau 5 meter yang artinya sebenarnya ada tambahan biaya pembangunan, tapi dalam jangka panjangnya akan menghilangkan atau mengurangi penggunaan AC.

Desain karya Probo Hindarto, astudio. Disini saya memadukan material alami yang mudah didapatkan, permainan bentuk garis dan bidang untuk menambah estetika, serta tidak menutup carport dengan perkerasan, tapi dengan grassblock. Tentunya akan lebih lengkap bila ditambahkan atap carport yang juga berfungsi sebagai media tanaman rambat atau pergola.


Menanam pohon dan memperbanyak tumbuhan disekitar rumah bisa mendinginkan udara, karena tanaman berfoto-sintesis dan menyerap air (H2O) dari udara serta kandungan air dalam daun dan batangnya bisa mendinginkan udara disekitar bangunan atau rumah. Memilih untuk menanam rumput dan menggunakan grassblock merupakan pilihan bijak, karena rumput menyerap panas matahari sehingga pantulan panasnya dikurangi dengan drastis. Lain dengan bila lahan disekitar bangunan diperkeras dengan semen, beton atau keramik, maka pantulan sinar matahari akan membuat bangunan makin panas.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Memahami Efek Rumah Kaca dan Hubungannya dengan Arsitektur

astudioarchitect.com Memahami mekanisme

Efek Rumah Kaca

dan hubungannya dengan arsitektur dan konstruksi bangunan bisa membuat kita makin jeli dalam mendesain bangunan. Efek rumah kaca merupakan efek yang ditimbulkan oleh gas yang berada di atmosfer, keberadaannya merupakan sesuatu yang positif dalam level normal, tapi menjadi negatif ketika ada gas-gas tertentu yang mengganggu keseimbangan. Efek rumah kaca diperlukan untuk mempertahankan suhu diatas kerak bumi atau di udara tempat kita hidup dalam ambang normal, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Bila gas tertentu makin banyak, maka suhu bumi akan meningkat. Sejak terjadinya revolusi industri, emisi gas yang berpengaruh pada efek rumah kaca menjadi makin tinggi.

Gas-gas yang dimaksud adalah sebagai berikut:


– Uap air (H2O)
– Karbon dioksida (CO2)
– gas Metan (CH4)
– Ozon (O3)


Gas-gas diatas berkontribusi untuk mempertahankan suhu diatas bumi menjadi nyaman ditinggali manusia dalam arti tidak terlalu panas. Gas-gas ini memiliki kemampuan menyerap dan memancarkan radiasi panas gelombang infrared panjang (Long Wavelength Infrared) yang dimiliki oleh gas-gas tersebut.


Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan suhu karena ketidak-seimbangan gas-gas yang berkontribusi pada efek rumah kaca, namun perubahan terbesar disebabkan oleh emisi karbon dioksida (CO2) yang ditimbulkan oleh hasil pembakaran bahan bakar fosil, atau minyak dan gas bumi. Peningkatan CO2 juga disebabkan oleh pembakaran hutan untuk pertanian dan industrialisasi.





Terutama dari hasil pembakaran bahan bakar fosil, CO2 menyumbang peningkatan suhu dalam efek rumah kaca yang terbesar, terutama setelah adanya revolusi industri. Selama 800.000 tahun, kadar CO2 dalam udara diatas bumi selalu konstan dalam kisaran 180ppm dan 280ppm, dan meningkat dengan drastis dalam 250 tahun terakhir (wikipedia).


Peningkatan suhu disebabkan perubahan efek rumah kaca menyebabkan banyak perubahan dalam sistem biologis dan ekologis diatas bumi yang kebanyakan merupakan perubahan bersifat destruktif. Antara lain: peningkatan suhu menyebabkan es kutub menncair dan mempertinggi level permukaan air laut, dalam 30 tahun kedepan akan mengakibatkan banyak pulau dan bagian daratan tenggelam.


Beberapa penyebab utama dari peningkatan kadar CO2 disebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca dalam berbagai sektor:


– Pembangkit tenaga listrik berbahan bakar minyak (21,3%)
– Proses Industri ((16,8%)
– Transportasi (14%)
– Agroindustri (12,5%)
– Pemrosesan minyak dan distribusinya (11,3%)
– Rumah tinggal, bangunan komersil, dsb (10,3%)
– Penggunaan tanah dan pembakaran tanaman (10%)
– Pengolahan sampah (3,4%)


Bisa diperhatikan bahwa bidang konstruksi menyumbang sekitar 10% dari emisi CO2 yang meningkatkan suhu dalam efek rumah kaca. Sumber dari rumah tinggal dan bangunan banyak disebabkan oleh penggunaan AC, konsumsi listrik, dan transportasi. Jangan lupa bahwa dengan faktor uap air yang bisa meningkatkan suhu bumi dalamefek rumah kaca, maka menguapnya air yang lebih banyak berarti juga mempengaruhi subu bumi, dalam hal ini adalah agroindustri, meningkatnya uap air dari meningkatnya lahan sawah dan kebun.

Indonesia termasuk 5 besar
penyumbang emisi karbon dioksida

dengan peringkat sebagai berikut:


– China, per tahun menyumbang 17%
– USA, per tahun menyumbang 16%
– Uni Eropa, pertahun menyumbang 11%
– Indonesia, pertahun menyumbang 6%
– India, pertahun menyumbang 5%


Jadi bagaimana sebuah negara yang ‘berkembang’ seperti Indonesia menyumbang 6% dari kadar CO2 dalam udara di bumi?


Hal ini karena di Indonesia tidak ada regulasi untuk mengatur jumlah emisi karbon dengan peraturan perindustrian yang tidak jelas dan tidak adanya pembatasan kendaraan bermotor. Selain itu beberapa faktor lain berkaitan dengan arsitektur dan bangunan
adalah sebagai berikut:



– Pemakaian bahan material ‘mahal’ yang membutuhkan energi fosil lebih banyak dalam proses produksi dan distribusinya. Contohnya: ‘Marmer Italy’, mengapa harus dari Italy bila dari lokal sudah ada? Proses produksi di negara yang tidak memiliki energi fosil yang melimpah, contohnya: Indonesia mengekspor baja, diproduksi oleh Jepang, Jepang mendapatkan minyak dari Indonesia, kemudian dikirim kembali ke Indonesia dalam bentuk material atau barang. Keseluruhan produksi memakan energi yang sangat besar dan emisi karbonnya juga jauh lebih tinggi.
– [Mohon perhatikan komentar pengunjung blog dibawah, terdapat kritik membangun pada masalah gas buang AC] Penggunaan AC untuk mengkondisikan udara, baik menjadi lebih dingin atau lebih hangat, merupakan proses yang mengeluarkan O3 atau gas ozon yang berdampak pada peningkatan suhu bumi. Satu AC di rumah kita mungkin berpengaruh sangat besar bagi peningkatan suhu bumi, karena itu, dari awal sebaiknya dipikirkan bagaimana membuat rumah yang bisa sejuk tanpa AC





– Proses konstruksi yang tidak efisien energi, menghasilkan lebih banyak CO2, misalnya: renovasi yang tidak diperlukan atau tanpa perencanaan, proses renovasi menimbulkan emisi CO2 dari gas buang kendaraan dalam proses produksi dan distribusi material.
– Pemakaian barang elektronik membutuhkan energi listrik, dan banyak energi listrik dibangkitkan oleh pembangkit listrik berbahan minyak / fosil. Proses menghasilkan energi listrik menimbulkan pencemaran CO2.
– Arsitektur bangunan yang tidak didesain dengan baik membutuhkan penerangan dan penghawaan buatan yang membutuhkan energi dari pembakaran fosil untuk menghasilkan listrik tersebut.
– Pemilihan jenis rumah, dimana jenis rumah yang berdiri sendiri menurut penelitian memerlukan listrik lebih banyak daripada jenis rumah-rumah townhouse
– Tidak adanya pepohonan dan tanaman yang mencukupi di area bangunan atau rumah tinggal menyebabkan panas yang dipantulkan ke udara dan ditangkap oleh gas rumah kaca yaitu H2O, CO2, CH4, dan O3. Disamping itu kurangnya pepohonan berarti berkurangnya H2O atau uap air dan CO2 yang ditangkap oleh daun tanaman dalam proses fotosintesis.
– Menutupi area tanah dengan bangunan dan perkerasan, menyebabkan tidak adanya tanaman.

________________________________________________

by Probo Hindarto (artikel ini mungkin belum lengkap)
Picture credit (from top to bottom):
– by Daryl Marquardt
– by chooyutshing
– by rockriver
Pictures are used under Creative Commons Lisence.

© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Memahami Efek Rumah Kaca dan Hubungannya dengan Arsitektur

astudioarchitect.com Memahami mekanisme

Efek Rumah Kaca

dan hubungannya dengan arsitektur dan konstruksi bangunan bisa membuat kita makin jeli dalam mendesain bangunan. Efek rumah kaca merupakan efek yang ditimbulkan oleh gas yang berada di atmosfer, keberadaannya merupakan sesuatu yang positif dalam level normal, tapi menjadi negatif ketika ada gas-gas tertentu yang mengganggu keseimbangan. Efek rumah kaca diperlukan untuk mempertahankan suhu diatas kerak bumi atau di udara tempat kita hidup dalam ambang normal, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Bila gas tertentu makin banyak, maka suhu bumi akan meningkat. Sejak terjadinya revolusi industri, emisi gas yang berpengaruh pada efek rumah kaca menjadi makin tinggi.



Gas-gas yang dimaksud adalah sebagai berikut:


– Uap air (H2O)
– Karbon dioksida (CO2)
– gas Metan (CH4)
– Ozon (O3)


Gas-gas diatas berkontribusi untuk mempertahankan suhu diatas bumi menjadi nyaman ditinggali manusia dalam arti tidak terlalu panas. Gas-gas ini memiliki kemampuan menyerap dan memancarkan radiasi panas gelombang infrared panjang (Long Wavelength Infrared) yang dimiliki oleh gas-gas tersebut.


Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan suhu karena ketidak-seimbangan gas-gas yang berkontribusi pada efek rumah kaca, namun perubahan terbesar disebabkan oleh emisi karbon dioksida (CO2) yang ditimbulkan oleh hasil pembakaran bahan bakar fosil, atau minyak dan gas bumi. Peningkatan CO2 juga disebabkan oleh pembakaran hutan untuk pertanian dan industrialisasi.





Terutama dari hasil pembakaran bahan bakar fosil, CO2 menyumbang peningkatan suhu dalam efek rumah kaca yang terbesar, terutama setelah adanya revolusi industri. Selama 800.000 tahun, kadar CO2 dalam udara diatas bumi selalu konstan dalam kisaran 180ppm dan 280ppm, dan meningkat dengan drastis dalam 250 tahun terakhir (wikipedia).


Peningkatan suhu disebabkan perubahan efek rumah kaca menyebabkan banyak perubahan dalam sistem biologis dan ekologis diatas bumi yang kebanyakan merupakan perubahan bersifat destruktif. Antara lain: peningkatan suhu menyebabkan es kutub menncair dan mempertinggi level permukaan air laut, dalam 30 tahun kedepan akan mengakibatkan banyak pulau dan bagian daratan tenggelam.


Beberapa penyebab utama dari peningkatan kadar CO2 disebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca dalam berbagai sektor:


– Pembangkit tenaga listrik berbahan bakar minyak (21,3%)
– Proses Industri ((16,8%)
– Transportasi (14%)
– Agroindustri (12,5%)
– Pemrosesan minyak dan distribusinya (11,3%)
– Rumah tinggal, bangunan komersil, dsb (10,3%)
– Penggunaan tanah dan pembakaran tanaman (10%)
– Pengolahan sampah (3,4%)


Bisa diperhatikan bahwa bidang konstruksi menyumbang sekitar 10% dari emisi CO2 yang meningkatkan suhu dalam efek rumah kaca. Sumber dari rumah tinggal dan bangunan banyak disebabkan oleh penggunaan AC, konsumsi listrik, dan transportasi. Jangan lupa bahwa dengan faktor uap air yang bisa meningkatkan suhu bumi dalamefek rumah kaca, maka menguapnya air yang lebih banyak berarti juga mempengaruhi subu bumi, dalam hal ini adalah agroindustri, meningkatnya uap air dari meningkatnya lahan sawah dan kebun.

Indonesia termasuk 5 besar
penyumbang emisi karbon dioksida

dengan peringkat sebagai berikut:


– China, per tahun menyumbang 17%
– USA, per tahun menyumbang 16%
– Uni Eropa, pertahun menyumbang 11%
– Indonesia, pertahun menyumbang 6%
– India, pertahun menyumbang 5%


Jadi bagaimana sebuah negara yang ‘berkembang’ seperti Indonesia menyumbang 6% dari kadar CO2 dalam udara di bumi?


Hal ini karena di Indonesia tidak ada regulasi untuk mengatur jumlah emisi karbon dengan peraturan perindustrian yang tidak jelas dan tidak adanya pembatasan kendaraan bermotor. Selain itu beberapa faktor lain berkaitan dengan arsitektur dan bangunan
adalah sebagai berikut:



– Pemakaian bahan material ‘mahal’ yang membutuhkan energi fosil lebih banyak dalam proses produksi dan distribusinya. Contohnya: ‘Marmer Italy’, mengapa harus dari Italy bila dari lokal sudah ada? Proses produksi di negara yang tidak memiliki energi fosil yang melimpah, contohnya: Indonesia mengekspor baja, diproduksi oleh Jepang, Jepang mendapatkan minyak dari Indonesia, kemudian dikirim kembali ke Indonesia dalam bentuk material atau barang. Keseluruhan produksi memakan energi yang sangat besar dan emisi karbonnya juga jauh lebih tinggi.
– Penggunaan AC untuk mengkondisikan udara, baik menjadi lebih dingin atau lebih hangat, merupakan proses yang mengeluarkan O3 atau gas ozon yang berdampak pada peningkatan suhu bumi. Satu AC di rumah kita mungkin berpengaruh sangat besar bagi peningkatan suhu bumi, karena itu, dari awal sebaiknya dipikirkan bagaimana membuat rumah yang bisa sejuk tanpa AC





– Proses konstruksi yang tidak efisien energi, menghasilkan lebih banyak CO2, misalnya: renovasi yang tidak diperlukan atau tanpa perencanaan, proses renovasi menimbulkan emisi CO2 dari gas buang kendaraan dalam proses produksi dan distribusi material.
– Pemakaian barang elektronik membutuhkan energi listrik, dan banyak energi listrik dibangkitkan oleh pembangkit listrik berbahan minyak / fosil. Proses menghasilkan energi listrik menimbulkan pencemaran CO2.
– Arsitektur bangunan yang tidak didesain dengan baik membutuhkan penerangan dan penghawaan buatan yang membutuhkan energi dari pembakaran fosil untuk menghasilkan listrik tersebut.
– Pemilihan jenis rumah, dimana jenis rumah yang berdiri sendiri menurut penelitian memerlukan listrik lebih banyak daripada jenis rumah-rumah townhouse
– Tidak adanya pepohonan dan tanaman yang mencukupi di area bangunan atau rumah tinggal menyebabkan panas yang dipantulkan ke udara dan ditangkap oleh gas rumah kaca yaitu H2O, CO2, CH4, dan O3. Disamping itu kurangnya pepohonan berarti berkurangnya H2O atau uap air dan CO2 yang ditangkap oleh daun tanaman dalam proses fotosintesis.
– Menutupi area tanah dengan bangunan dan perkerasan, menyebabkan tidak adanya tanaman.

________________________________________________

by Probo Hindarto (artikel ini mungkin belum lengkap)
Picture credit (from top to bottom):
– by Daryl Marquardt
– by chooyutshing
– by rockriver
Pictures are used under Creative Commons Lisence.

© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Memilih arsitek yang baik

astudioarchitect.com Sebuah email pertanyaan dari sahabat astudio Bapak Surya Adi Setiawan: Saya berencana membangun rumah dan saya bermaksud menggunakan jasa arsitek. Berdasarkan apa yang saya pernah dengar, bahwa jasa arsitek sebenarnya nggak perlu2 amat karena mereka cuman membantu kita menggambar 3D ruang2 yang telah kita rencanakan dari awal. Dan setelah saya lihat hasilnya (rumahnya ketika jadi) memang lebih banyak menggunakan ide dasar dari pemilik rumah dan tukang tanpa ada sentuhan2 ilmu arsitektur. Rumahnya juga menurut saya biasa2 aja dalam artian nggak ada bedanya pake arsitek ataupun tidak. Namun demikian saya masih yakin bahwasannya ilmu akan membedakan hasil dan saya menganggap mungkin saja seseorang tersebut dapat arsitek yang kurang bagus. 




Pertanyaan…
1. Apa yang perlu kita pertimbangkan sebelum kita memutuskan bekerja dengan atau memilih satu arsitek dibandingkan arsitek yang lain?
2. Bagaimana kita meyakinkan diri (dalam tahap pra kontrak) bahwa arsitek yang kita pilih ini akan memperkaya konsep kita tentang rumah idaman yang kita impikan dengan sentuhan2 ilmu arsitektur (bukan hanya sebagai tukang gambar 3D dari ruang2 yang telah kita rencanakan sebelumnya), hal tersebut berkaitan dengan DP yang harus kita setor dulu sebelum desain dikerjakan.

Terima kasih atas masukannya.

Salam Hangat,
Surya Adi Setiawan

Jawaban:


Dear pak Surya,
Memilih arsitek bisa berarti memilih orang yang akan membuatkan desain rumah buat kita, artinya selera yang kita miliki dicoba untuk diselaraskan dengan selera arsitek dalam mendesain, adakalanya tidak sesuai selera, adakalanya malah melebihi selera. Arsitek sebagai manusia seperti profesi lainnya memiliki banyak kelebihan dan kekurangan, kalau kekurangannya banyak ya hasil desainnya kurang bagus, kalau kelebihannya banyak boleh jadi sesuai atau lebih dari keinginan.

Kemampuan dan Pengetahuan
Untuk pertanyaan Bapak:
1. yang perlu dipertimbangkan adalah kemampuan dan contoh hasil kerja arsitek, serta apa arsitek tersebut bisa membantu dalam arti waktunya ada, kemampuan ada, dan bersedia membantu. Kadangkala ada arsitek yang mampu, tapi tidak ada waktu. Kadangkala ada arsitek yang mau dan ada waktu, tapi kemampuannya dibawah keinginan kita. Cara terbaik adalah melihat hasil karya arsitek yang bersangkutan. Tidak ada cara yang terbaik untuk mengetahui kemampuan seorang arsitek selain yang saya sebutkan ini.

2. Arsitek yang baik biasanya memiliki pengetahuan dan naluri yang baik untuk ‘ruang’ bukan ‘bentuk’, dalam arti dia tidak melihat ‘bentuk’ dari bangunan saja, tapi juga mampu memprediksikan aspek-aspek ruang bila bangunan tersebut diwujudkan. Jadi arsitektur yang dihasilkan itu bukan hanya 3D atau gambar kerja saja, tapi juga merupakan prediksi dari ruang dan bagaimana ruang tersebut berpengaruh pada kehidupan kita, tidak hanya dari sisi tampilan saja atau ‘terlihat bagus’ tapi juga ‘nyaman dihuni’ dimana kita bisa beraktivitas dengan baik.

Aspek lainnya seperti pengetahuan tentang penataan ruang, hubungan dengan ruang luar, material, bentuk, ruang, rasa, vegetasi, dan sebagainya, serta tidak kalah penting yang Bapak sebutkan sebagai ‘bagus’ bisa diartikan secara visual ‘menarik’ tidak hanya dari depan, tapi juga dari dalam terutama saat kita merasakan dan menghuni ruang tersebut.

‘Bagus’ bukan berarti tampilan sajatapi juga kualitas dari berbagai aspek, bukan hanya terlihat ‘cling’, megah, mewah, minimalis, atau apa saja…. tapi lebih dari itu, sebagai manusia tentunya memiliki sisi-sisi kemanusiaan yang diharapkan muncul dari desain tersebut.

Jawaban yang saya berikan juga termasuk jawaban yang sangat ideal dalam arti saya harus sejujur mungkin untuk jujur pada Bapak bahwa dalam komunikasi dengan klien kadang2 terdapat semacam ‘ekspektasi yang berlebih’ untuk mendapatkan desain yang paling diinginkan, bisa muncul menjadi kekecewaan karena faktor2 berikut:

– dominasi salah satu pihak terlalu besar; baik dari sisi arsitek ataupun dari sisi pengguna layanan.
– waktu yang diberikan kurang untuk mencapai hasil yang baik
– dari dana yang ada ternyata dipandang hasil karya arsitek terlalu mahal atau tidak sesuai untuk diwujudkan.
– kesalahan persepsi dan komunikasi yang menjadikan proses desain kurang nyaman namun dengan komunikasi yang baik bisa mencapai kesepakatan desain.
– arsitek atau klien kurang memiliki waktu untuk meneliti atau mempelajari berbagai aspek rancangan.
– Hasil karya dan kinerja arsitek tidak memuaskan


Demikian pak Surya, jawaban saya.
Semoga membantu Bapak.

________________________________________________

by Probo Hindarto© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.