Monthly Archives: Januari 2013

Rumah unik 60m2 desain untuk Bapak Agus PS

astudioarchitect.com Desain rumah ini kami buat untuk Bapak Agus Purnomo di Malang, merupakan desain rumah yang cukup inovatif dan non konvensional. Terutama dari bentuk atap bangunan rumah, yang tidak biasa, mengambil dari bentuk tradisional yang dimodifikasi.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Bagian dalam rumah didesain dengan mempertimbangkan pembuatan furniture yang kebanyakan merupakan furniture custom yang sesuai untuk rumah ini. Desain interior dibuat dengan berbagai pertimbangan terutama untuk sarana penyimpanan agar rumah lebih baik organisasi barangnya.

Desain rumah dengan luasan 60m2 seperti ini bisa menjadi desain yang cukup unik dan memiliki karakter arsitektural yang kuat.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bisnis Kos Laba Joss

astudioarchitect.com Artikel kami sebelumnya tentang desain arsitektural rumah kos rasanya tak akan lengkap tanpa penjelasan lebih lanjut tentang berbagai aspek ekonomisnya, mengingat rumah kos merupakan salah satu tipe property yang cukup populer, buku yang kami pilihkan ini ‘Bisnis Kos Laba Joss’ merupakan panduan sederhana berbagai aspek pengelolaan rumah kos, ditulis oleh Aulia.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Kutipan Buku: Penentuan Lahan
Jika Anda memutuskan untuk membangun rumah Anda sendiri, maka hal pertama yang penting untuk dilakukan adalah memilih lokasi yang tentunya lokasi yang bisa memudahkan untuk aktivitas keseharian, begitu juga dengan bisnis kos-kosan dan rumah kontrakan ini. Disini Anda perlu berhati-hati karena tidak semua pihak yang menjual atau menawarkan tanah mau dengan gamblang menjelaskan aasa usul atau sejarah lahan yang akan mereka jual. Apakah bekas areal persawahan, perkebunan, rawa atau bahkan kuburan.

Kenapa ini penting? kKarena dengan mengetahui sejarah tanah tersebut kita dapat memperkirakan kondisi tanah saat ini dan sekaligus menentukan jenis dan tipe pondasi yang akan digunakan, serta menentukan efisiensi biaya dalam membangun rumah.

Kondisi tanah bekas persawahan atau rawa biasanya tidak stabil, sehingga disarankan untuk melakukan pengetesan kekerasan tanah terlebih dahulu guna mendapatkan informasi mengenai kepadatan dan kekuatan tanah. Tanah jenis ini juga seringkali tidak bisa menggunakan pondasi batu kali, apalagi jika kita berencana untuk membangun rumah tingkat. Tidak hanya tingkat atas, untuk pembuatan basement (bangunan bawah tanah) pun agak sulit karena membutuhkan keahlian dan penanganan khusus agar tidak terjadi kebocoran. Dan tentunya perlu juga diperhatikan masalah lantai nantinya, misalnya bagaimana cara poles marmer dan merawatnya, pondasi rumah, dan lain lain.

—————–

Memilih Lokasi Rumah yang ideal
Pilihan lokasi tentu saja tidak sama dengan pemilihan lokasi untuk perumahan. Dalam tahapan rencana pembelian rumah atau tanah, sebaiknya pemilihan lokasi harus lebih dahulu dilakukan sebelum menentukan jenis bangunan yang akan menjadi hunian kos atau kontrakan.

Mencari rumah menjadi urutan kedua setelah Anda memilih lokasi atau daerah sekitarnya. Pemilihan lokasi itu bisa dimulai dari pertimbangan jarak rumah ke kampus, kantor, keberadaan sekolah atau sarana pendidikan, daya dukung perkotaan, potensi banjir, dan sebagainya.

Berbekal survey dan pengetahuan lokasi itulah Anda bisa menentukan dengan cermat pilihan perumahan untuk bisnis ini. Tentu ada beberapa hal yang kiranya baik Anda cermati.

Fungsi
Berdasarkan hukum penawaran, fungsi rumah tempat tinggal berbanding lurus dengan keberadaan lokasi. Kelak, hal tersebut berefek pada harga jualnya. Karena semakin banyak atau tingginya fungsi rumah Anda, semakin besar pula harganya.

Kependudukan
Mulai tingkat kepadatan penduduk, persentase tingkat hunian, transportasi, jarak pasar atau tempat belanja, dan lain lain di lokasi calon rumah yang akan Anda jadikan tempat kos serta faktor demografi atau kependudukan yang perlu diperhitungkan. Bagaimana tingkat kepadatan penduduknya? Seberapa padat tingkat huniannya? Bagaimana akses transportasi umumnya?

Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung harus dekat dengan calon lokasi bisnis kos Anda. Ini sangat penting meskipun pertimbangan tersebut masih jauh sebelum Anda memikirkan untuk membangun usaha penunjang untuk bisnis kos Anda.

Lokasi kos yang pas juga perlu diperhatikan. Selain dekat dengan kampus atau tempat kerja, diusahakan memiliki akses yang mudah untuk ke daerah lain. Dengan demikian harga yang ditawarkan ke calon konsumen bisa tinggi.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Berbagai aspek arsitektural dalam membangun rumah kos-kosan

astudioarchitect.com Banyak orang mulai melirik bisnis property sebagai cara untuk meningkatkan pendapatan keluarga, antara lain dengan menambah penghasilan dari passive income dari sewa kamar atau rumah. Banyak pertimbangan perlu dipikirkan untuk membuat rumah kos yang baik, seperti biaya pembangunan rumah kos, perijinan dan administrasi bangunan, lokasi rumah kos, dan sebagainya. Beberapa pertimbangan arsitektural juga perlu dipertimbangkan untuk membuat rumah kos yang baik, sehingga menunjang konsep non arsitektural yang Anda rencanakan.

Gambar: contoh desain rumah kos dua lantai oleh astudio yang dikembangkan dari rumah perumahan biasa. 

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Dari pengalaman membangunkan rumah kos untuk klien astudio, kami memiliki beberapa pengalaman berharga seputar membangun rumah kos.

Video animasi contoh desain rumah kos yang akan segera dibangun – klien: Ibu Alfi di Malang

Rencanakan rumah kos dari awal hingga ke detailnya
Rumah kos akan dihuni oleh banyak penghuni baik dari kalangan pekerja atau mahasiswa yang Anda tuju, yang seluruhnya memiliki kebutuhan-kebutuhan mendasar untuk sebuah tempat tinggal. Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk luasan yang layak untuk tempat tinggal satu orang adalah sekitar 9m2, sehingga luasan kamar sekitar 3×3 meter persegi adalah layak dan cukup umum. Meskipun demikian ada pula kamar-kamar kos yang lebih besar atau lebih kecil tergantung situasi dan kondisi pembangunan.

Kamar kos yang ruang-ruangnya kecil dapat memanfaatkan desain interior untuk membuatnya lebih lega. Hal ini adalah dengan mendesain tiap kamar dengan furniture custom, yang merupakan furniture yang cukup lega karena dibuat berdasarkan luasan ruang, meskipun ruangnya mungil. Tentunya ini akan menambahkan biaya awal yang sedikit lebih besar untuk membuat furniture custom, namun hasilnya akan jauh lebih maksimal dalam penggunaan ruang.

Luasan kamar yang besar tidak selalu menjamin ruangan menjadi lebih baik untuk penghuninya, karena yang dibutuhkan lebih adalah organisasi / penyimpanan benda-benda yang dimiliki penghuni, sehingga tidak berceceran. Kabinet, lemari dan sarana penyimpan lainnya tetap dibutuhkan sebagaimana sebuah rumah pada umumnya. Untuk menghindari pengguna kamar kos merasa sumpek, sediakan sarana penyimpan yang rapi seperti kabinet, rak, meja maupun bagian bawah tempat tidur.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mencapai tiap kamar dalam rumah kos. Rumah kos dengan penataan yang ‘standar’ biasanya lebih disukai. Ruang-ruang kamar sebaiknya ditata dalam tatanan yang mudah dijangkau, tidak berbelok-belok, tidak berbeda satu dengan lainnya sehingga mencerminkan suatu perasaan yang sederajat antara satu penghuni dan lainnya. Penataan yang mudah dijangkau seperti hall yang lurus juga memudahkan interaksi penghuni rumah kos.

Beberapa fasilitas yang perlu disediakan adalah tempat berkumpul penghuni, sarana seperti ruang makan dan dapur kecil, dan tentu saja yang tidak dapat dihilangkan yaitu kamar mandi disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Banyak rumah kos menyediakan musholla lengkap dengan ruang makan dan dapurnya seperti halnya rumah pada umumnya. Kadang-kadang disediakan juga mesin cuci sehingga memerlukan ruang cuci khusus dan juga area basah untuk mencuci baju. Beberapa fasilitas seperti dapur, musholla, tempat wudhu, ruang cuci, kamar mandi sebaiknya disatukan dalam satu area yang memudahkan maintenance dan menghindarkan becek atau kotor.

Sebagaimana bangunan rumah dan bangunan pada umumnya, terutama dengan jumlah penghuni yang banyak, hal yang penting adalah manajemen air bersih, air kotor, sampah dan limbah. Bila menggunakan arsitek dan perencana bangunan, akan lebih memudahkan untuk merencanakan hal-hal seperti ini, sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti air kotor yang bocor, bau yang tidak sedap hingga ke kamar, ruang yang pengap dan lembab, dan sebagainya. Banyak rumah kos yang tidak direncanakan dengan baik akan mengalami berbagai kebocoran dan masalah sanitasi yang menurunkan kualitas kehidupan pengguna kos-kosan.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Pengguna kos saat ini biasanya memiliki kendaraan setidaknya motor, dan sebagian lainnya memiliki mobil yang memerlukan tempat parkir. Jumlah tempat parkir harus disesuaikan dengan jumlah penghuni ditambahkan dengan perkiraan jumlah kendaraan motor dan mobil tamu. Yang ideal adalah memperkirakan bila penghuni kos menerima tamu mereka yang menggunakan kendaraan seperti sepeda motor, maka setidaknya rumah kos harus memiliki tempat parkir yang cukup.

Keamanan juga perlu diperhatikan. Rumah kos untuk pria biasanya memiliki tingkat keamanan yang lebih daripada rumah kos wanita, namun dengan tingkat kebersihan yang berbeda, biasanya kos cowok lebih mudah kotor daripada kos cewek :). Keamanan juga menyangkut penyimpanan kendaraan dengan penutup atau pagar yang aman, dapat dikunci dan sedapat mungkin dapat diawasi, misalnya bila rumah kos bagian bawah memiliki jendela atau akses view ke arah parkir kendaraan, akan lebih baik.

Ingin menambahkan tipsnya?

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

video kitchen set yang sudah jadi by astudioarchitect.com

astudioarchitect.com Desain ini merupakan kitchen set yang sudah pernah kami muat sebelumnya di artikel astudio, dan saat ini kebetulan terdapat video yang diminta oleh salah satu calon klien interior design di Surabaya. Kitchen set ini cukup lengkap dengan kompor Modena, penghisap asap, tempat kulkas, sink dengan penghancur sisa makanan di bagian bawahnya. Bila Anda tertarik, dapat menghubungi astudio untuk membuat kitchen set maupun interior design lain yang Anda butuhkan. Kami menyediakan pembuatan interior design dan pelaksanaan untuk rumah tinggal, kafe, restoran, dan sebagainya meliputi bedset, kitchen set, living room set, dan sebagainya. Desain dibuat secara custom untuk hasil terbaik dengan material terbaik pula.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
This design is a kitchen set that had been previously highlighted in our articles, and currently there is a request by a prospective interior design clients in Surabaya. This set is pretty complete kitchen with Modena stove, fan, a refrigerator, sink with food waste crusher at the bottom. If you are interested, please contact astudio to make a kitchen set and other interior design you need. We provide interior design creation and production for residences, cafes, restaurants, and so includes bedset, kitchen sets, living room sets, and so on. Designs are custom made for the best results with the best materials as well.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Koneksi dalam Kota – Connections in City

astudioarchitect.com Artikel ini tentang salah satu konsep dalam desain urban (perkotaan) yaitu ‘koneksi’, menghubungkan antara satu titik dan titik lainnya, misalnya seperti dari stasiun kereta api ke terminal bis. Bisa juga dari terminal, stasiun dan bandara menuju ke landmark, pusat kota, dan titik-titik pusat lainnya. Di negeri kita hal  semacam ‘koneksi’ atau penghubung antar tempat ini seringkali belum terbangun dengan baik, bagaimana kita mencapai suatu lokasi menuju lokasi lainnya dengan berbagai alternatif.

Memaksimalkan area pejalan kaki dan pergerakannya akan membantu menciptakan lingkungan yang ramah untuk berjalan kaki.

This article is about one of the concepts in urban design (urban) ‘connection’, connecting between one point and another point, such as from train station to the bus terminal. It could also be from the terminal, the station and the airport to the landmark, downtown, and other central points. In our country such ‘connection’ or liaison between places are often not developed well, how do we reach other location with various alternatives.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Beberapa jenis alternatif ‘koneksi’ antar titik-titik situs dan lingkungannya antara lain:

Akses dan mobilitas
Bagaimana kita mencapai suatu lokasi dengan memanfaatkan sarana transportasi seperti busway, bis kota, kereta api, bandara dan bahkan pelabuhan.

Pejalan kaki
Perlu diberikan sarana pejalan kaki berupa trotoar sebagai sarana utama ‘koneksi’ untuk pejalan kaki, disetiap sisi jalan terutama di jalan besar, dan tidak digunakan untuk kepentingan lain seperti berjualan atau motor yang masuk ke trotoar. Pejalan kaki juga perlu diberikan sarana berupa tempat beristirahat pejalan kaki, yang akan mendukung konsep kota yang sehat, misalnya seperti alun-alun besar, alun-alun kecil, taman kota, shelter, dan sebagainya. Semakin banyak pejalan kaki maka sarana yang dibutuhkan juga seharusnya makin lengkap, agar makin banyak orang memilih untuk berjalan kaki dan tidak menambah kendaraan bermotor.

Pengendara Sepeda
Pengendara sepeda memerlukan jalur khusus untuk membedakannya dari jalur mobil dan motor, sehingga menjadi aman dan nyaman bagi pengendara sepeda. Semakin banyak orang menggunakan sepeda, maka akan semakin sehat sebuah kota, jumlahnya memperlihatkan tingkat kesehatan sebuah kota. Saat orang merasa nyaman dan aman memakai sepeda, maka makin menjadi tren dan kota makin berkurang polusinya.

Transportasi publik
Memerlukan perhatian dan perancangan yang menyeluruh, sehingga tidak terjadi area yang tidak terjangkau oleh transportasi publik. Macam transportasi publik adalah bis, kereta api, dan lain-lain. Semakin baik penataan dan ketersediaan transportasi publik, akan makin menyehatkan sebuah kota.

Kendaraan pribadi
Untuk konsep kota yang sehat, perlu dibatasi jumlah kendaraan pribadi, dengan cara menaikkan pajak kendaraan dan tidak memberikan keistimewaan untuk kendaraan pribadi melebihi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Hal ini untuk mendukung sebuah konsep kota yang sehat, namun memerlukan perencanaan yang matang dari awal, bukan hanya sebuah upaya untuk ‘mengobati’ kota yang sakit.

Jalan layang
Diperlukan sebagai sarana untuk mengalirkan kendaraan tanpa harus bertemu di satu titik pertemuan, sangat diperlukan untuk jalan-jalan dikota besar sebagai solusi mencegah kemacetan.

Pengaturan kendaraan
Meliputi penyediaan lahan parkir yang cukup luas untuk berbagai kendaraan, disesuaikan dengan area dan lingkup yang dilayaninya, misalnya pembangunan sebuah gedung harus disertai dengan pengaturan tempat parkir yang cukup untuk seluruh gedung, demikian juga dengan taman kota, pusat perbelanjaan, landmark, dan sebagainya. Pengaturan ini juga menyangkut pengelolaan kendaraan seperti pengelolaan tempat parkir dari segi manajemen sumber daya manusianya. Jenis pengaturan lain adalah manajemen lalu lintas, merupakan pengaturan jalan raya dengan rambu-rambu lalu lintasnya.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Analisa kontekstual yang akan menyediakan dasar untuk merencanakan ‘koneksi’ dalam sebuah kota menyangkut berbagai hal yang harus diwujudkan:
– bagaimana rute dari satu tempat ke tempat lainnya berhubungan dan punya koneksi dengan infrastruktur yang ada berupa jalan, gedung dan fasilitas lainnya.
– Pemikiran tentang bagaimana menyediakan sarana untuk semua pengguna baik pejalan kaki, pengendara sepeda, motor, mobil dan kereta, tanpa harus mengorbankan salah satu elemen pengguna ini. Misalnya: pemikiran bagaimana pengendara sepeda tidak dikalahkan oleh pengendara mobil, merupakan aspek pemikiran yang lebih adil.
– Bagaimana setiap bangunan yang baru dibangun akan memberikan kontribusi bagi lingkungan secara keseluruhan, misalnya setiap ruko atau gedung baru harus membangun landscape depan dan mempertahankan drainase. Ini dapat dicapai melalui peraturan Pemda yang didukung kuat.
– Bagaimana pergerakan pejalan kaki, pengendara sepeda, motor, mobil dan sebagainya dapat tetap dipertahankan meskipun terdapat perubahan-perubahan dalam pembangunan berkelanjutan.
Untuk mengintegrasikan akses dari satu tempat ketempat lainnya, diperlukan analisa titik akses dan penghubung dari pergerakan pengguna dan infrastrukturnya. Dalam hal ini, pertama harus diperhatikan adalah bagaimana orang bergerak melalui sebuah area baik dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun berkendara, untuk menentukan berbagai fasilitas yang harus dibuat. Ini bukan merupakan sebuah konsep yang umum namun lebih kepada konsep yang lebih sensitif terhadap kebutuhan masyarakat.
Bagaimana merencanakan ‘koneksi’ dalam suatu lingkungan?
Diperlukan banyak pertimbangan, peran pemerintah, maupun masyarakat sekitar sebagai berikut:
Lokasi
Bagaimana lokasi yang ada, misalnya sebuah area merupakan area dengan banyak pekerja, atau pelajar, atau kota tua. Beberapa area khusus seperti area dengan banyak pelajar ditemukan disekitar kampus universitas. Area lain seperti area perdagangan dan hiburan juga memerlukan perhatian khusus seputar ke-khasan daerah tersebut. Lokasi seperti pasar memerlukan perencanaan matang yang sebaiknya menjadi desain yang meningkatkan kualitas lokasi, bukan ‘sekedarnya’.
Desainer/Arsitek/Perencana Wilayah
Bertugas untuk merencanakan kota dengan memperhatikan lokasi dan variabelnya untuk menghasilkan sintesa berupa perencanaan kota yang berwawasan lingkungan.
Developer
merupakan pihak yang ditunjuk untuk membangun ‘koneksi’ sesuai dengan peraturan daerah.
Luas Area
Berkaitan dengan lokasi, jumlah perencana dan developer.
Tingkat hunian (density)
berapa penghuni atau pengguna yang menggunakan area untuk aktivitas, merupakan jumlah masyarakat yang tinggal di area tersebut dan yang menggunakannya.
Detail
Dalam desain perlu diperhatikan beberapa hal seperti:
– kualitas bangunan dan sarana ‘koneksi’ yang dibangun
– ketinggian bangunan, sempadan dan tata massa akan menyangkut peraturan daerah misalnya GSB
– Penggunaan material yang dapat meningkatkan sensibilitas pengguna (meningkatkan keindahan) seperti batu alam untuk penahan longsor, pemilihan paving block, railing, dan sebagainya yang secara umum dapat meningkatkan kualitas dan sensibilitas sarana kota. Secara tidak langsung akan memberikan citra yang pantas dikenang oleh penggunanya.
– bangunan tidak mengganggu, demikian pula kendaraan tidak menganggu pejalan kaki dan pengendara sepeda.
– akses seperti trotoar dibangun untuk menyediakan sarana pejalan kaki menuju lokasi atau tempat yang sering dikunjungi seperti toko kelontong, apotek, dan taman lokal, yang secara umum menambahkan vitalitas dan viabilitas sebuah pusat kota.
– Desain lebih memperhatikan bagaimana kesan saat melalui bangunan dan berbagai sarana ‘koneksi’ yang mengekspresikan citarasa sebuah area lokal.
– Desain lingkungan memperhatikan aliran kendaraan dan meminimalkan dampaknya terhadap pejalan kaki dan pengendara sepeda.
– Kualitas area lokal ditunjang oleh penyediaan sarana seperti tempat sampah, halte, tiang lampu berdekorasi, furniture outdoor, dan sebagainya.
‘Koneksi’ merupakan suatu aspek menyeluruh yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan, sangat bermanfaat untuk dijadikan pedoman pembangunan baik oleh pemerintah daerah dan masyarakat yang akan membangun.

English Version:

Some types of alternative ‘connection’ between the dots and the environment:

Access and mobility
How do we reach a location by using means of transport such as busways, buses, trains, airports and even a port.

Pedestrian
Pedestrian facilities should be provided in the form of sidewalks as a major means ‘connection’ for pedestrians, every side street, especially in a big way, and is not used for other purposes such as selling or bike into the curb. Pedestrians also need to be given the means hikers resting place, which would support the concept of a healthy city, such as the large square, small square, parks, shelters, and so on. The more the pedestrian facilities required should also be more complete, so that more and more people choose to walk away and not add vehicles.

Cyclist
Cyclists need a special line to distinguish it from the path of cars and motorcycles, making it safe and convenient for cyclists. More and more people use bikes, the more healthy a city, the numbers show the health of a city. When people feel comfortable and safe to wear a bicycle, the city is increasingly becoming the trend and the less pollution.

Public Transport
Require attention and comprehensive design, so there is no area that is not covered by public transport. Kinds of public transport are buses, trains, and others. The better arrangement and availability of public transportation, the more healthy a city.

Private vehicles
For a healthy city concept, should be limited to the number of private vehicles, by raising taxes on the vehicle and does not give privileges to private vehicles exceeding pedestrians and cyclists. This is to support a healthy city concept, but it requires careful planning from the beginning, not just an attempt to ‘cure’ sick city.

Interchanges
Necessary as a means to drain the vehicle without having to meet in one point of contact, it is necessary for the city streets as a solution to prevent congestion.

Traffic management
Parking provision covers a pretty broad range of vehicles, adapted to the area and scope it serves, such as the construction of a building shall be accompanied by ample parking arrangements for the entire building, as well as parks, shopping malls, landmarks, and so on. This arrangement also involves the management of vehicles such as the management of the car park in terms of human resource management. Another type of arrangement is traffic management, is setting a highway with traffic signs.

Contextual analysis that will provide the basis for planning a ‘connection’ in a city of the different things that have to be realized:
– How to route from one place to other related and connected to existing infrastructure such as roads, buildings and other facilities.
– Thoughts on how to provide a means for all users both pedestrians, bicycles, motorcycles, cars and trains, without having to sacrifice one element to this user. For example: the idea of ​​how cyclists are not defeated by the driver of the car, an aspect that is more just thinking.
– How each newly constructed building will contribute to the overall environment, such as every shop or a new building to build and maintain drainage front landscape. This can be achieved through strong-backed government regulations.
– How is the movement of pedestrians, bicycles, motorcycles, cars and so on can be maintained despite changes in sustainable development.

To integrate access from one city to another, the analysis required access points and bridges of the movement of users and infrastructure. In this case, the first to be aware of is how people move through an area either by foot, bike, or drive, to determine which facilities should be made. This is not a common concept, but rather the concept is more sensitive to the needs of the community.

How to plan a ‘connection’ in an environment?
Required much deliberation, the role of government, and the communities as follows:

Location
How can existing location, such an area is an area with many workers, or students, or old town. Some specific areas such as areas with many students found around the university campus. Other areas such as trade and entertainment area also requires special attention around the Khasan area. Locations such as the market requires careful planning should be a design that improves the quality of the location, not the ‘modest’.

Designers / Architects / Planners Region
Tasked to plan the city with respect to location and variables to produce a synthesis in the form of environmentally sound urban planning.

Developer
is a party designated to establish a ‘connection’ in accordance with local regulations.

Site area
With regard to the location, number of planners and developers.

The occupancy (density)
number of occupants or users who use the area for the event, a number of people who live in the area and is using it.

Details
In the design to note a few things such as:
– Quality of construction and means ‘connection’ built
– Height of buildings, borders and layout of local regulations regarding the masses as GSB
– The use of materials that can enhance the user’s sensibility (enhance beauty) like natural stone for retaining landslide election of block paving, railings, etc., that generally means improving the quality and sensibility of the city. Will indirectly provide an appropriate image remembered by users.
– The building is not intrusive, so the vehicle does not disturb pedestrians and cyclists.
– Access such as sidewalks constructed to provide pedestrian facilities to the location or place frequented such as grocery stores, pharmacies, and local parks, which generally adds vitality and viability of the town center.
– Design more attention to how the current impression through the building and means ‘connection’ that expresses the flavor of the local area.
– Design of the attention to the flow of vehicles and minimize the impact on pedestrians and cyclists.
– Quality of the local area is supported by the provision of facilities such as garbage cans, bus stops, lampposts decorated, outdoor furniture, and so on.

‘Connections’ is an aspect that can improve the overall quality of the environment, it is very useful to be used to guide the development of both the local government and communities will build.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Aneka Desain Pagar Kayu

astudioarchitect.com Pagar kayu merupakan jenis pagar yang cukup populer, karena keunikannya dan sementara ini banyak digunakan juga untuk rumah dengan gaya modern. Pagar jenis ini mengingatkan kita pada suasana pedesaan yang ‘dimodernkan’, dalam arti secara material tetap kayu, namun secara desain sudah menjadi desain yang menyatu dengan tipikal bangunan rumah saat ini. Buku yang saya pilihkan ini karangan Wemby S. Chan dan Titut Wibisono berjudul “Aneka Desain Pagar Kayu”.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Bentuk desain pagar telah mengalami perubaan mengikuti bentuk dan gaya desain rumah yang semakin menarik. Selain itu, semakin meningkatnya apresiasi selera citarasa seni yang tinggi mendorong fungsi pagar tidak sekedar pembatas dan pengaman, tetapi lebih dari itu telah memposisikan diri sebagai salah satu bagian dekorasi rumah secara keseluruhan. Berbagai bentuk pagar yang selaras dengan konsep gaya bangunan rumah pun diciptakan untuk memenuhi selera penghuni rumah.

Sebagai elemen rumah yang letaknya paling depan, pagar memegang peranan penting bagi tampilan rumah. Berbagai jenis pagar dengan model, bahan dan warna yang bervariasi menambah semarak lingkungan tempat tinggal. Masing-masing jenis pagar memiliki ciri khas tersendiri. Salah satu contoh adalah pagar kayu yang memberi kesan natural dan sederhana.

Alami dan Cantik
Salah satu dari beberapa jenis pagar yang sedang tren saat ini adalah pagar kayu. Berbagai alasan orang menjatuhkan pilihan pada pagar jenis ini antara lain memberi kesan alami, membuat tampilan rumah bergaya country, dan memberi kesan ringan. Tonjolan tekstur serat kayu yang dipelitur dengan dominasi warna coklat menambah alami suasana luar rumah. Terlebih lagi jika pagar kayu dikombinasikan dengan elemen lain seperti besi, tembok, batu alam, dan tanaman.

Selain warna coklat, pagar juga dapat diberi berbagai corak warna, asalkan serasi dengan tampilan atau warna eksterior rumah, misalnya warna abu-abu, hijau, hitam, hingga merah. Dengan begitu, kayu akan terlihat lebih cantik.

Material Kuat dan tahan cuaca
berbagai macam bahan telah banyak digunakan untuk membuat pagar, masing masing bahan menentukan karakter bentuk pagar yang diinginkan. Agar terlihat harmonis, bentuk dan gaya pagar hendaknya serasi dengan bentuk bangunan rumah. Ada tiga syarat utama dalam membuat pagar, yakni kokoh, aman, dan indah, baik dari segi bahan maupun struktur konstruksi pagar. Pemilihan bentuk, model, tinggi, panjang dan lebar pagar harus disesuaikan dengan kondisi luas lahan, fungsi, proporsi dan kompisisi bangunan serta lokasinya.

Pagar berbagah kayu memang enak dipandang, apalagi jika disandingkan dengan hijaunya daun dan variasi warna bunga. Akan tetapi, pernahkah terbersit di pikiran Anda jika bahan kayu mempunyai beberapa kekurangan? Tidak seperti bahan lain, bahan kayu memiliki daya tahan yang lebih kecil dan harganya pun relatif lebih mahal dari bahan lainnya seperti besi, tembok, dan batu alam. Oleh karena itu, kayu yang digunakan jangan dari jenis yang ‘sembarangan’, tetapi yang kuat dan tahan terhadap cuaca. Jenis kayu demikian umumnya jumlahnya terbatas sehingga harganya pun tidak main main. Bahkan ada beberapa jenis kayu yang tidak boleh digunakan untuk bahan pagar karena status kayu tersebut langka dan dilindungi, misalnya kayu merbau dari Papua.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Desain kafe yang mendukung konsep ‘place’ sebuah kota

Kopitiam88 – kafe bernuansa tempo dulu

astudioarchitect.com Sebagai bagian dari kehidupan kota, kafe dan resto dianggap sebagai sebuah penghubung ‘hub’ untuk berbagai kepentingan, seperti bisnis, acara kantor diluar, maupun sekedar ngobrol dengan teman, keluarga dan pasangan hidup. Bagian dari desain bangunan yang urban ini merupakan bagian dari ‘genius loci’ sebuah perasaan yang kuat tentang suatu tempat. Sebuah tempat seperti ini sebaiknya sedikit banyak memberikan kontribusi untuk suatu kota dengan cara menyediakan tempat-tempat untuk berinteraksi dengan lebih banyak orang.

As part of city life, cafes and restaurants are considered as a ‘hub’ for various purposes, such as business, events outside the office, or just chat with friends, family and spouses. Part of the design of urban buildings is part of the ‘genius loci’ a strong feeling about a place. A place like this should be a bit much to contribute to a city by providing places to interact with more people.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Salah satu contoh kafe yang cukup menarik konsepnya seperti Kopitiam88 di Surabaya ini dapat menjadi alternatif untuk menjajal sebuah gaya baru dalam bertemu teman dan kolega. Kafe seperti ini menawarkan suatu atmosfer yang kental dengan suasana jaman dahulu dengan tema ‘peranakan Tionghoa’. Sesuatu yang esensial seperti ini bisa menjadi tema untuk sebuah kafe sebagai identitas yang diangkat sedemikian rupa dari sekedar ide, gagasan, dan ‘menangkap situasi sekitar’ menjadi sebuah pengalaman.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Sebuah pendekatan perancangan kafe yang baik biasanya memiliki hubungan kuat dengan bagaimana cara hidup dan pandangan hidup mereka yang ada disekitar kafe tersebut. Biasanya ide didapatkan dari identitas regional suatu kawasan untuk ditangkap dan dijadikan ide desain, misalnya seperti Kopitiam88 tersebut diatas atau bahkan yang lainnya seperti gaya hidup yang membutuhkan suasana lain dari keseharian.

Menghubungkan lingkungan sosial sekitar
Koneksi antar manusia yang diharapkan dalam pertemuan baik disengaja ataupun tidak dalam sarana tempat seperti ini sebaiknya memiliki hubungan kuat dengan sekitarnya, misalnya latar belakang pengunjung yang biasanya hadir, apakah dari kalangan pekerja, mahasiswa, atau keluarga.

Karakter lokal seperti bangunan kolonial yang dialihfungsikan menjadi kafe atau resto sangat populer akhir-akhir ini. Bangunan kolonial memiliki aksentuasi arsitektural yang kuat, disamping masih dapat dikembangkan sebagai ‘bahan mentahan’ dengan hubungan sejarah yang kuat dengan masa lalu sebuah kota. Pengunjung kafe dapat menikmati bangunan kolonial sekaligus merencanakan masa depan, dan menikmati masa sekarang dengan teman dan kolega.

Yang cukup penting dalam desain kafe adalah kondisi socio-ekonomi masyarakat atau pengguna (pengunjung) kafe apakah yang dibidik? Area dengan demografi yang berbeda antara satu dengan lainnya tampaknya akan sangat mempengaruhi pasar yang ingin dituju. Tradisi ‘ngobrol diluar’ misalnya, sementara ini masih banyak dikembangkan dikota-kota besar dan mereka yang berjiwa muda yang menghendaki untuk menikmati suasana berbeda dari yang mereka dapatkan sehari-hari.

English version:

One example of an interesting cafe concept as Kopitiam88 in Surabaya can be an alternative to try out a new style to meet your friends and colleagues. It offers a café like atmosphere which is thick with the atmosphere of ancient times to the theme of ‘Peranakan’. Something like this could be essential to a cafe as the theme of identity raised in such a way than just ideas, ideas, and ‘capture the situation around’ into an experience.

An approach to designing a good cafe usually has a strong relationship with how ordinary people live their lives and views that exist around the cafe. Usually the idea of ​​regional identity obtained from an area to be captured and used as design ideas, such as Kopitiam88 above or any other such lifestyle takes another atmosphere of everyday life.

Linking social environment around
Connections between people are expected at the meeting whether intentional or not in a place like this means you should have a strong relationship with its surroundings, such as the background of visitors who usually attend, whether from among workers, students, or family.

Local character as colonial building converted into a cafe or restaurant is very popular these days. Colonial buildings have a strong architectural accents, in addition to still be developed as a ‘material mentahan’ with strong historical ties to the past of a city. Visitors can enjoy the cafe colonial buildings as well as plan for the future and enjoy the present with friends and colleagues.

That is quite important in the design of the cafe is the socio-economic conditions of the community or the user (visitor) whether the targeted cafe? Areas with different demographics with one another would seem to greatly affect the market who want to target. Tradition ‘talk out’ for example, while there are still many developed big city and those young at heart who want to enjoy a different atmosphere than they get everyday.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.