Monthly Archives: Maret 2013

Slip House, oleh arsitek Carl Turner

astudioarchitect.com [review rumah] Rumah ini seakan ‘dibungkus’ oleh bahan transparan yang menjadikannya terlihat berbeda dari rumah disekitarnya. Bahan material yang transparan ini merupakan bahan kaca transparan yang diteruskan menjadi bagian dari railing dek lantai atas. Material ini dipadukan dengan berbagai utilitas seperti bak tadah hujan, konsumsi air yang minimum, dan teknologi insulasi menjadikan rumah ini bersistem energi rendah.

This house is ‘wrapped’ by transparent material that makes it look different from the surrounding houses. The transparent material is a transparent glass material which passed a part of view of the deck railing upstairs. This material is combined with a variety of utilities such as water harvesting, minimum water consumption and home insulation technology makes this house a low-energy system house.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Penampilan rumah yang terbungkus kaca transparan memberi kesan transparansi bila dilihat dari depan, menarik minat untuk melihat lebih teliti.

Appearance of the house wrapped in transparent glass gives the impression of transparency when viewed from the front, attracting viewers to look more closely.

Pagar juga dibuat dari frame besi dan kaca. 
Fences are also made ​​of steel and glass frame.

Terlihat bagian atas bangunan memiliki dek untuk menikmati suasana luar yang juga terlihat transparan dan menggoda. 
Visible part of the building has a deck to enjoy the amazing atmosphere that also looks transparent and seductive.
potongan bagian dalam rumah 
(hosted on Archdaily)

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Apabila kita menggunakan kaca untuk keperluan pembungkus bangunan seperti ini, maka kita memerlukan standar yang tinggi yaitu kaca tempered. Bila kita ingin bereksperimen dengan material lain, maka ada jenis material yang serupa lebih ringan dan relatif aman, yaitu bahan polycarbonate.

If we use the glass for the purpose of building envelope like this, then we need a high standard for instance tempered glass. If we want to experiment with other materials, there is a similar type of material that is lighter and relatively safe, the poly-carbonate material.

All images are under creative commons lisence by the mentioned author, except mentioned.
______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Liter of Light; lampu siang dari botol bekas untuk rumah minim listrik

astudioarchitect.com Liter of light adalah organisasi nirlaba yang mengkhususkan diri untuk menyediakan sumber cahaya yang ekologis dan ekonomis untuk mereka yang berpenghasilan rendah yang memiliki kesulitan mendapatkan listrik dan hidup dalam rumah yang memiliki atap logam seperti atap seng. Cara kerja sumber cahaya ini sangat sederhana, dengan cara mengisi botol plastik transparan dengan air dan memasangnya di atap rumah.

Liter of Light is a nonprofit organization that specializes in providing a light source that is ecological and economical for those on low incomes who have difficulty getting electricity and live in a house with a metal roof like a tin roof. The workings of the light source is very simple, in a way transparent plastic bottles filled with water and put on the roof of the house.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Material yang dibutuhkan adalah botol plastik bekas dan sedikit lembaran seng. Air dimasukkan dalam botol plastik dan dipasang diatap. Para penggunanya merasa senang karena lampu alami ini bekerja dengan baik untuk menerangi bagian dalam rumah saat siang hari. Hal ini karena meskipun siang hari, banyak rumah yang tidak dirancang baik atau menggunakan bahan seadanya tidak memperhatikan pencahayaan.

Meskipun sangat sederhana, teknologi tepat guna ini dirasa benar-benar menolong dan dapat dicopy-paste dinegara manapun. Teknologi ini dikembangkan oleh mahasiswa dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) berdasarkan konsep ‘Appropriate Technologies’ sebuah konsep yang dapat ditiru dengan mudah oleh komunitas yang membutuhkan. Para mahasiswa memiliki ide untuk membuat lampu botol ketika mereka membangun sebuah kelas yang dibuat dari botol daur ulang di Filipina, karena mereka mendapati bahwa sekolah tersebut tidak mampu membayar uang listrik. Mereka menyadari bahwa cahaya dapat diteruskan melalui air yang berada dalam botol. Teknologi sederhana ini sangat ramah lingkungan dan tidak menambah polusi.

Materials needed are plastic bottles and a few roofing sheets. Water is put inside plastic bottles and then roof mounted. The users feel good because the natural light works well to illuminate the inside of the house during the day. This is because even during the day, many homes are not designed properly or using cheap materials and they do not pay attention to lighting.

Although very simple, appropriate technology is considered really help and can be copied-paste in any country. This technology was developed by students from the Massachusetts Institute of Technology (MIT) based on the concept of ‘Appropriate Technologies’ a concept that can be replicated easily by a community in need. The students had the idea to make a bottle lights when they build a class that is made from recycled bottles in Philippines, because they found that the school could not afford electricity. They realized that the light can be transmitted through water that was in the bottle. Simple technologies are environmentally friendly and do not add to pollution.

Picture source from http://aliteroflight.org/

[external link]:
http://aliteroflight.org/ situs organisasi a liter of light
http://en.wikipedia.org/wiki/Liter_of_Light Halaman Wikipedia untuk liter of light

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Pertanyaan tentang whirlpool di kamar mandi dan mendesain rumah melalui developer

astudioarchitect.com Pertanyaan bapak Munawwar MS:
Perkenalkan nama saya Munawwar MS. saya butuh advice untuk rencana pengembangan rumah tipe 40 dengan luas tanah 160 m2. berikut saya kirimkan rencana pengembangan untuk rumah tersebut. saya sangat butuh advice untuk rencana pembuatan kamar mandi utama yang menggunakan bathtub whirpol, apakah dengan rencana saya tersebut bisa diterapkan dengan dimensi ruangan yang berukuran 2.2 m x 2.25 m. saya berencana ingin bathtub yang berbentuk bulat atau persegi namun untuk 2 orang. dan rencana untuk pintu kamar mandi ini menggunakan sliding door. dan apabila saya ingin membuat kolam renang mini dibelakang kira-kira bagaimana ya apakah bisa diterapkan dengan rencana saya?
atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

jawaban:

salah satu alternatif denah yang dikembangkan. 

Posisi whirlpool besar, ada pula whirlpool yang kecil dan bahkan seukuran bathtub. Untuk yang model lingkaran juga ada.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Saya sudah membuat sedikit sketsa dengan software di komputer saya dan mendapati kemungkinan besar kamar mandi Bapak bisa memakai whirlpool, namun yang berukuran kecil, dan untuk menghemat tempat, bisa juga whirlpool tersebut juga berfungsi sebagai penampung air saat mandi dengan shower. Saran saya adalah belilah terlebih dahulu whirlpool idaman Bapak sehingga bisa diperkirakan apakah cukup. Adapun untuk kolam renang mini menurut saya agak susah untuk diwujudkan dengan denah Bapak, namun bisa apabila dibuat lebih besar, dan jangan lupa menyisakan lahan untuk filter air kolam dan mesinnya.

——————————————————–

Bapak Arintoko dari Jakarta mengajukan pertanyaan berikut:
Apa kabar? saya sedang mengajukan kpr untuk rumah yang tanahnya luas sekitar 138m ( 8 x 17 ), luas bangunan 76m, saya ingin jadi 2 lantai.

bagaimana mengoptimalkannya? dan design yang tropical modern.

saya tunggu advicenya, terima kasih.

salam
Arintoko

Jawaban:

Yth Bapak Arintoko, untuk membangun rumah dengan KPR, tentunya ada syarat khusus dari developer yang berkaitan dengan biaya pembangunan per meter yang sudah ditetapkan oleh developer dan karena itu desain biasanya memiliki semacam pakem atau yang diperbolehkan untuk dibangun.

Untuk mengoptimalkan Bapak sebaiknya turut serta mendesain bangunan tersebut baik melalui arsitek inhouse developer maupun arsitek freelance yang bisa Bapak sewa jasanya.

Adapun untuk ‘gaya’ bangunan, bisa menggunakan gaya apa saja, yang penting sesuai dengan iklim tropis, maka akan sesuai dengan iklim kita, dan dapat disebut memiliki embel-embel ‘tropical’.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

"Rumah Daun" desain proposal untuk Dewi Tanjung dan Rhenald Kasali

astudioarchitect.com Desain bangunan ini merupakan desain komersial untuk Dewi Tanjung dan Rhenald Kasali, merupakan desain proposal yang dibuat sementara melalui konsultasi via media. Ceritanya Dewi Tanjung diminta untuk membuat proposal desain untuk diajukan sebagai bangunan yang akan berada dalam ‘Rumah Perubahan’ binaan Rhenald Kasali, sementara itu Dewi Tanjung datang ke studio kami untuk meminta referensi desain.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Desain bangunan ini dibuat dengan kesan terbuka, memiliki atap dengan bentuk seperti daun yang ditangkupkan diatas bangunan, merupakan bangunan galeri yang akan diisi dengan display produk kerajinan dan industri kecil daun-daun yang dipelopori Dewi Tanjung. Simak videonya diatas.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

10 Inspirasi Menata Ruang Rumah Real Estat [buku]

astudioarchitect.com Memang, membeli rumah melalui real estate developer banyak membantu masyarakat yang belum mampu membeli rumah secara kontan, sehingga keberadaan rumah-rumah real estate semakin menjadi primadona dengan bisa dikredit. Tak pelak penataan rumah dari developer cenderung banyak yang seragam, bahkan cenderung kosong dan memerlukan sentuhan lebih banyak. Seri Rumah Ide mengeluarkan buku 10 Inspirasi menata Ruang Rumah Real Estat yang dapat membantu Anda mendapatkan inspirasi menata hunian yang Anda beli melalui developer.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Kutipan: Selama kuran lebih 40 tahun setelah kemunculan pertamanya, desain rumah real estat telah mengalami banyak perkembangan. Awalnya rumah real estat diperuntukkan bagi masyarakat menengah keatas sehingga pembagian kaveling dibuat cukup besar. Luas satu kaveling berkisar antara 200-500m2. Bangunannya pun didesain mengikuti luas kavelingnya dan rata-rata memiliki dua lantai penuh. Desain rumah sedikit banyak dipengaruhi kondisi iklim tropis Indonesia dengan atap pelana yang lebar, lubang angin disetiap dinding, dan balkon didepan serta belakang bangunan. Tipikal rumah real estat tahun 1970-1980 masih bisa kita temui di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Menjelang akhir tahun 1990-an, saat lahan yang ada semakin terbatas, luas kaveling pun mengecil. Apalagi setelah krisis ekonomi melanda Indonesa. Luas kaveling yang ditawarkan juga tidak lebih dari 200m2 dengan luas bangunan yang juga mengecil. Rumah dibangun satu lantai dengan pembagian ruang yang efektif dan efisien. Rumah-rumah tersebut diperuntukkan bagi keluarga kecil dan keluarga muda sehingga jumlah ruangnya pun terbatas — hanya ruang-ruang utama. Dengan layout ruang dalam yang hampir sama antara satu perumahan dengan perumahan lainnya, para pengembang pun bersaing dalam hal tampilan luar bangunan. Segala macam eksperimen fasade dilakukan untuk menaikkan harga jual.
Salah satu eksperimen yang sempat dilakukan adalah membuat facade dengan tema negara-negara. Fasade didesain layaknya rumah-rumah dibelahan dunia lain, misalnya rumah ebrgaya Ameruka, Eropa, Jepang, dan sebagainya. Pengemang seolah-oleh membawa penghuni berfantasi tinggal dinegara-negara itu. Tentu saja desain tersebut jauh dari konsep tropis. Kecenderungan ini tak berlangsung lama karena masyarakat menyadari bahwa gaya tersebut tidak cocok dengan kondisi lingkungan serta budaya Indonesia.
Pertengahan tahun 2000, saat keadaan ekonomi Indonesia mulai membaik, beberapa pengembang mulai membuat rumah dengan luas yang lebih besar, dengan luas kaveling yang sama. Bangunan dibuat bertingkat tapi tidak penuh — menyisakan lahan untuk pengembangan lebih lanjut. Walaupun desain layoutnya tidak mengalami perubahan, namun yang melegakan, tema negara-negara tidak lagi menjadi tren. Saat intu, tren modern minimalis yang melanda dunia banyak memengaruhi desain rumah real estat. Rumah boks dengan baris geometri yang kuat, bernuansa monokrom dan simple sempat menghiasi wajah rumah-

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

[video] Membangun rumah dengan material styrofoam

astudioarchitect.com Video ini diupload di youtube tentang pembuatan rumah dengan material styrofoam sebagai material pengganti bata dinding. Saya disini hanya sedikit menceritakan saja berdasarkan apa yang terlihat melalui video. Metodenya dimulai dengan membuat pondasi batu kali yang tidak dalam dan diatasnya dibuat sloof. Sloof saja sudah cukup karena beban dinding yang tidak berat. Pada saat pembuatan sloof juga dipasang kusen-kusen, setelah itu styrofoam juga dipasang dengan diperkuat wiremesh (kawat ayam besar). Dengan adanya kawat ayam tersebut memudahkan untuk memasang styrofoam sekaligus menempelkan adukan acian.

Sumber foto: printscreen dari video

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Menurut apa yang terlihat dalam video, pondasi dibuat setempat dan diatasnya ada sloof, jadi pondasi tidak semahal bila memakai pondasi batu kali menerus seperti halnya menggunakan bata. Lebih irit di biaya pembuatan pondasi adalah salah satu keuntungannya. Sedangkan untuk biaya pembangunan dinding, lebih mahal karena memakai besi, namun lebih cepat dan praktis.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

‘Mengunjungi’ apartemen studio dengan beragam fungsi

astudioarchitect.com Graham Hill adalah seorang founder Treehugger, sebuah blog yang memberikan informasi tentang hidup yang lebih selaras lingkungan, memiliki sebuah apartemen kecil yang memiliki banyak fungsi. Kesemua fungsi itu dimungkinkan melalui desain perabot yang sangat pintar, dengan tempat tidur yang bisa dilipat, meja makan untuk 10 orang yang juga bisa dilipat, serta sebuah kamar tidur yang juga ‘dilipat’.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Sebagai orang yang membanjiri dirinya dan semua orang yang tertarik dengan kesadaran lingkungan, Graham Bell memiliki 6 pakaian yang tahan lama tidak dicuci. Gaya hidupnya sedikit berbeda, dan banyak diantara kita mungkin tidak berpikir untuk menjalani gaya hidup semacam ini. Graham memiliki anggapan bahwa ‘rumah kecil, hidup besar’.

Kursi sofa ini dapat dipakai pada siang hari jika bukan waktu tidur. 

Dengan penyimpanan dibawah sofa.

Bila malam hari dapat berubah menjadi tempat tidur karena ada tempat tidur lipat dibalik sofa.


Meja lipat yang sementara dapat berfungsi sebagai bufet, dapat menjadi meja makan untuk 10 orang.

Bila ada keperluan berkumpul, meja makan lipat dapat diatur didalam ruangan. 

Dua buah ‘bunk bed’ lipat tidak terlihat saat tidak digunakan. 

bila dibuka, menjadi dua buah bunk bed untuk tamu. 

Kabinet penyimpan sepeda juga disediakan. 

Sebuah area komputer dengan meja yang dapat dilipat kedalam kabinet. 

Dengan menambahkan sebuah kursi sudah menjadi area home office. 

Kursi-kursi dapat disimpan didalam kabinet, dengan typical kursi susun yang sekarang juga makin marak. 

Banyak orang mulai berpikir untuk menggunakan jasa interior designer untuk mendesain bagian dalam rumah mereka seperti yang dilakukan Graham Hill dengan perusahaannya ‘Life Edited’. Anda tertarik mendesain rumah atau apartemen seperti ini?
All pictures/photos by Graham Hill

under Creative Commons Lisence

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.