Category Archives: commercial design

Resto ‘Plus’, desain bangunan komersial modern dari astudio


astudioarchitect.com Bangunan ini merupakan resto yang didesain oleh astudio dengan memperhatikan karakteristik pembagian ruang yang jelas, dengan klasifikasi untuk ruang-ruang servis dan hall makan restoran. Terdapat dua massa utama yang juga menjadi gagasan utama desain agar memperjelas pula fungsi didalamnya, demikian juga dengan perbedaan antara massa yang pejal dengan dinding batu dan massa yang transparan dengan kaca-kaca. Secara keseluruhan desain pemilihan bahan bangunan batu, baja, kayu dan kaca memiliki efek arsitektural yang sangat kuat.

This building is a restaurant which is designed by astudio, taking into account the characteristics of a clear division of space, the classification for the service spaces and a dining hall restaurant. There are two main mass which is also the main idea of the design in order to clarify the functions, as well as the difference between a solid stone mass and a transparent glass mass. Overall the selection of building materials of stone, steel, wood and glass have a very powerful architectural effect.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Dari segi teknis, desain bangunan resto ini menggunakan material konstruksi baja yang sebagian dapat dikerjakan di workshop sebelum dipasang di site. Penggunaan material baja untuk bangunan dapat memberikan kesan modern pada bangunan tersebut. Perpaduan material baja, batu dan kaca dapat menimbulkan sensasi yang berbeda dari bangunan bata dan kayu seperti bangunan konvensional. Dengan konstruksi ini pula dapat dicapai ruang dalam bangunan yang transparan, terkesan lega, sekaligus modern. 
From a technical perspective, this restaurant building design using steel construction material that can be partially done in workshop before being installed on site. The use of steel for the building materials can give the impression of a modern building. The combination of material steel, stone and glass may cause a different sensation from brick and wood buildings like conventional buildings. This kind of construction can also achieve a transparent space in the building, impressed with relief, as well as modern.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Architect:
Probo Hindarto
08125244753

type of project: design proposal

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Desain kafe gaya kolonial


astudioarchitect.com Desain kafe ini merupakan desain renovasi untuk sebuah bangunan tua di kota Batu Malang, yang mengambil banyak kosakata arsitektural dari arsitektur kolonial Belanda. Bangunan lama sebenarnya bukan berasal dari bangunan jaman penjajahan Belanda, melainkan bangunan tahun 50an dimana teknisi bangunan masih mengadaptasi dengan baik teknik bangunan jaman penjajahan Belanda. Desain kafe dimaksudkan untuk membawa atmosfer arsitektur kolonial yang diperkuat dengan berbagai aspek estetikanya. 

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Desain kafe gaya kolonial


astudioarchitect.com Desain kafe ini merupakan desain renovasi untuk sebuah bangunan tua di kota Batu Malang, yang mengambil banyak kosakata arsitektural dari arsitektur kolonial Belanda. Bangunan lama sebenarnya bukan berasal dari bangunan jaman penjajahan Belanda, melainkan bangunan tahun 50an dimana teknisi bangunan masih mengadaptasi dengan baik teknik bangunan jaman penjajahan Belanda. Desain kafe dimaksudkan untuk membawa atmosfer arsitektur kolonial yang diperkuat dengan berbagai aspek estetikanya. 

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bangunan yang Iconic / Iconic Buildings

astudioarchitect.com Seringkali sebuah arsitektur bangunan dikatakan sebagai Icon dari sebuah kawasan, menjadi sebuah cara untuk mengungkapkan keberadaan sebuah bangunan yang memberi warna, pengaruh, serta kepentingan di sebuah kawasan. Sebagai contoh: Monas adalah Icon kota Jakarta. Patung Sura (hiu) dan Baya (buaya) adalah Icon kota Surabaya. Burj Dubai merupakan Icon kota Dubai. Icon adalah simbol dari sesuatu yang penting dalam memberi identitas sebuah kawasan, kota, bahkan sebuah negara. Sangat sering orang yang berjalan-jalan atau ‘plesir’ ke tempat atau kota tertentu akan mengunjungi bangunan, tempat, atau kawasan yang menjadi Icon dari sebuah kota, barangkali untuk menandai sebuah kunjungan agar lebih bermakna, ‘bahwa saya pernah ke kota tersebut’.

Desain bangunan oleh astudio architect.

Icon seringkali mengandung peran penting sebagai penanda sebuah kawasan, misalnya: “Bila Anda melewati bangunan dengan bentuk bulat, maka Anda sudah sampai di kota anu”. Artinya bangunan berbentuk bulat memberi penanda yang jelas akan sebuah kota. Bisa dikatakan Icon memberi makna tertentu sehubungan dengan interpretasi dari persepsi visual yang diterima pengamat. Berkaitan dengan semiotika dan simbol, icon merupakan sebuah satuan makna yang harus diinterpretasikan, misalnya, untuk memahami bahwa Monas adalah Icon Jakarta, kita harus memahami proses untuk melihat Monas memiliki makna yang bisa diinterpretasikan bahwa Monas bentuknya seperti itu, dan hanya ada di Jakarta.

Photo by AyAres151 on Flickr

Kadangkala, begitu kuatnya sebuah Icon, maka sebuah bangunan atau arsitektur bisa menjadi simbol dari tempat, kawasan, kota bahkan negara. Monas, atau Suramadu, merupakan simbol kota Jakarta dan Surabaya, bila setiap kali melihat ‘image’ dari bangunan tersebut, diasosiasikan sebagai ‘Jakarta’, atau ‘Surabaya’. Misalnya, dalam sebuah gambar peta, gambar Monas menjadi simbol Jakarta, dan Suramadu, menjadi simbol Surabaya.

Arsitektur memang bisa dan memungkinkan untuk dibuat menjadi sebuah icon, meskipun demikian, setiap Icon akan memberi pengaruh atau peran dalam area tertentu sebagai penanda yang sifatnya terbatas sesuai dengan tingkat pengaruh yang dimilikinya. Setiap orang yang ‘tahu’ tentang patung ‘sura’ dan ‘baya’ sebagai icon dari ‘Wonokromo’ atau ‘Surabaya’ akan mendapat makna setiap kali melihat bentukan atau imagery patung ‘sura dan baya’ untuk dikaitkan dengan kawasan Wonokromo atau kota Surabaya pada umumnya. Arsitektur yang sangat kuat pengaruhnya sebagai icon, bisa menjadi penanda untuk sebuah kawasan, dan banyak contoh yang bisa kita temukan dalam arti arsitektur sebagai ‘bangunan’ bukan sebuah sculpture atau patung.

Banyak arsitek sangat menyukai kesempatan mendapatkan proyek desain yang bisa menjadi Icon bahkan simbol dari sebuah kawasan, misalnya: merancang bangunan yang bernilai tinggi bagi lingkungan. Merancang bangunan dengan tingkat pengaruh yang tinggi bisa mempertinggi tingkat pengaruh arsitek di masyarakat, artinya ego arsitek juga dipengaruhi dalam kondisi ini. Peran arsitek menjadi sangat penting bila ia harus mendesain bangunan yang akan menjadi Icon sebuah kawasan.

Seberapa pentingkah sebuah bangunan menjadi sebuah Icon?
Inilah sebuah jawaban mengapa arsitektur Mall selalu atau kebanyakan didesain dengan warna cerah, menarik, unik, dan menawarkan sesuatu yang berbeda dari lingkungannya. Hal ini bisa dipahami sebagai suatu cara menjadikan Mall sebagai penanda suatu tempat, yaitu lingkungan disekitar mall tersebut. Dari ‘sesuatu yang berbeda’ tersebut setiap orang (pengamat) yang melihat dan memahami perbedaan tersebut bisa membuat asosiasi tertentu berkaitan dengan imagery yang didapatkannya.

“Kamu tahu, mall yang bentuknya kotak-kotak, miring-miring”

Kalimat diatas bisa diasosiasikan sebagai ‘Mall EX’ di Bundaran HI Jakarta, atau bisa jadi mall yang baru rubuh di sebuah kota, tergantung dari asosiasi pengamat 🙂 Arsitek bisa mendesain bangunan menjadi sebuah Icon yang sangat dikenal. Persoalan yang timbul dari arsitektur ‘iconic’ adalah dari dampak arsitektur ‘iconic’ itu sendiri.

Keinginan untuk memiliki bangunan yang iconic sangat menggoda bagi para pemilik bangunan terutama untuk jenis bangunan komersial, sebabnya adalah keberadaan bangunan yang bisa menjadi icon yang bisa mendongkrak sisi komersial. Di tepi jalan komersial, selalu kita dapati berbagai bangunan komersial berlomba-lomba menciptakan bangunan yang iconic, sehingga jalan komersial dipenuhi oleh bangunan dengan desain dan tipe yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Karena setiap bangunan didesain untuk menjadi berbeda maka jalan akan dipenuhi oleh arsitektur yang beragam, bisa jadi cenderung chaos, tanpa regulasi khusus seperti ketinggian bangunan, sempadan, KDB dan KLB, tema atau gaya arsitektur yang digunakan, material, dan sebagainya.

Selain itu arsitektur yang dibuat untuk menjadi iconic sering memiliki kekurangan akibat perhatian arsitek yang terlalu bertujuan memaksimalkan ‘imagery’ yang ditampilkan oleh fasade bangunan. Ruko, mall, restoran, dan sebagainya dibuat dengan arsitektur yang semenarik mungkin agar menjadi icon suatu kawasan, tapi arsiteknya sering melupakan banyak faktor lain, diantaranya adalah tanggung jawab sosial dan lingkungan. Begitu pentingnya untuk mengolah fasade agar menarik, misalnya, bisa membuat banyak hal yang terkait arsitektur lainnya menjadi terbengkalai.

ENGLISH VERSION:


An architectural icon of a region, becomes a way to reveal the existence of a building that gives color, influence, and interests in a region. For example: Monas monument is the Icon of Jakarta. Statue of Sura (shark) and Baya (crocodile) is the Icon of Surabaya. Burj Dubai is an icon of Dubai. Icon is a symbol of something important in giving the identity of a region, city, even a country. Very often people who take a walk or vacation to a place or a particular city will visit the building, place, or area that became icons of a city, perhaps to mark a visit to make it more meaningful, ‘that I’ve been to the city’.




Design an iconic building, by astudio architect.




Icon often contain important role as a marker of a region, for example: “When you pass through the building with a round shape, then you’ve arrived at the city”. This means that round-shaped building will provide a clear marker of a town. Icon can be said to give a specific meaning in connection with the interpretation of visual perception received by the observer. In relation to semiotics and symbol, icon is a unit of meaning that must be interpreted, for example, to understand that the Monas is the Icon of Jakarta, we must understand the process to see the monument has a meaning that could be interpreted that the monument shaped like that, and only in Jakarta.


Sometimes, an Icon can be so strong, then a building or architecture could be a symbol of place, regions, cities and even countries. Monas, or Suramadu, is a symbol of Jakarta and Surabaya, every time we see the ‘images’ of the building, it can be associated as ‘Jakarta’, or ‘Surabaya’. For example, in a map, the image of Monas became a symbol of Jakarta, and Suramadu, became the symbol of Surabaya.


Architecture is able and allowed to be made into an icon, even so, every icon will give the effect or role in certain areas as markers that are limited in accordance with the degree of influence of the building. Every person who ‘knows’ about the statue of ‘Sura’ and ‘Baya’ as an icon of ‘Wonokromo’ or ‘Surabaya’ will have that meaning every time he saw the formation or imagery of the sculpture ‘sura and baya’ to be associated with Wonokromo region or city of Surabaya in general . Architecture is very powerful as an icon, can be a marker for a region, and many examples can be found in the sense of architecture as a ‘building’ rather than a sculpture or statue.


Many architects love the opportunity to get a design project that can become an Icon even symbols of a region, for example: designing buildings of high value for the environment. Designing a building with a high degree of influence that could enhance the influence of the architect in society, meaning the architect’s ego is also affected in this condition. The role of the architect becomes very important when he has to design a building that would become icons of a region.


How important a building became an icon?
This is the answer to why the architecture of malls are always or mostly designed with bright colors, interesting, unique, and offer something different from their surroundings. This can be understood as a way to make the Mall as a place marker, namely the environment around the mall. From the ‘something different’ is any person (observer) who see and understand these differences can make certain associations related to the acquisition of imagery.


“You know, the mall that is shaped tilted boxes”


The sentence above can be associated as the ‘Mall EX’ at Roundabout HI Jakarta, or could be a new mall that collapsed in a city, depending on the associated observer 🙂 The architect can design a building into an icon that is known. Problems arising from architectural ‘iconic’ architecture is the impact of ‘iconic’ itself.


The desire to have an iconic building is very tempting for the owners of the building primarily for commercial building types, why is the existence of buildings that could become the icon that could boost the commercial side. On the commercial side of the road, we always find a variety of commercial buildings competing to create an iconic building, so that commercial street full of buildings with different designs and different types of buildings to achieve that goal. Because each building is designed to be different then the street will be fulled by a variety of architecture, which could be inclined chaos, with no special regulations such as building height, border, KDB and outbreaks, theme or style of architecture used, material, and so forth.


Architecture designed to be iconic often have a shortage due to the attention of architects who too aim to maximize the ‘imagery’ that is displayed by the facade of the building. Commercial, shopping malls, restaurants, etc. are made with architecture as attractive as possible in order to become a regional icon, but architects often forget the many other factors, such as social and environmental responsibility. Once the importance to treat the facade in order to attract, for example, can make a lot of things related to other architectural become dormant.

________________________________________________

Picture credit (from top to bottom):
– from http://www.opus-dubai.com
– by AyAres151 on Flickr
– by kersy83 on Flickr.com

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Bangunan yang Iconic / Iconic Buildings

astudioarchitect.com Seringkali sebuah arsitektur bangunan dikatakan sebagai Icon dari sebuah kawasan, menjadi sebuah cara untuk mengungkapkan keberadaan sebuah bangunan yang memberi warna, pengaruh, serta kepentingan di sebuah kawasan. Sebagai contoh: Monas adalah Icon kota Jakarta. Patung Sura (hiu) dan Baya (buaya) adalah Icon kota Surabaya. Burj Dubai merupakan Icon kota Dubai. Icon adalah simbol dari sesuatu yang penting dalam memberi identitas sebuah kawasan, kota, bahkan sebuah negara. Sangat sering orang yang berjalan-jalan atau ‘plesir’ ke tempat atau kota tertentu akan mengunjungi bangunan, tempat, atau kawasan yang menjadi Icon dari sebuah kota, barangkali untuk menandai sebuah kunjungan agar lebih bermakna, ‘bahwa saya pernah ke kota tersebut’.

Desain bangunan oleh astudio architect.

Icon seringkali mengandung peran penting sebagai penanda sebuah kawasan, misalnya: “Bila Anda melewati bangunan dengan bentuk bulat, maka Anda sudah sampai di kota anu”. Artinya bangunan berbentuk bulat memberi penanda yang jelas akan sebuah kota. Bisa dikatakan Icon memberi makna tertentu sehubungan dengan interpretasi dari persepsi visual yang diterima pengamat. Berkaitan dengan semiotika dan simbol, icon merupakan sebuah satuan makna yang harus diinterpretasikan, misalnya, untuk memahami bahwa Monas adalah Icon Jakarta, kita harus memahami proses untuk melihat Monas memiliki makna yang bisa diinterpretasikan bahwa Monas bentuknya seperti itu, dan hanya ada di Jakarta.

Photo by AyAres151 on Flickr

Kadangkala, begitu kuatnya sebuah Icon, maka sebuah bangunan atau arsitektur bisa menjadi simbol dari tempat, kawasan, kota bahkan negara. Monas, atau Suramadu, merupakan simbol kota Jakarta dan Surabaya, bila setiap kali melihat ‘image’ dari bangunan tersebut, diasosiasikan sebagai ‘Jakarta’, atau ‘Surabaya’. Misalnya, dalam sebuah gambar peta, gambar Monas menjadi simbol Jakarta, dan Suramadu, menjadi simbol Surabaya.

Arsitektur memang bisa dan memungkinkan untuk dibuat menjadi sebuah icon, meskipun demikian, setiap Icon akan memberi pengaruh atau peran dalam area tertentu sebagai penanda yang sifatnya terbatas sesuai dengan tingkat pengaruh yang dimilikinya. Setiap orang yang ‘tahu’ tentang patung ‘sura’ dan ‘baya’ sebagai icon dari ‘Wonokromo’ atau ‘Surabaya’ akan mendapat makna setiap kali melihat bentukan atau imagery patung ‘sura dan baya’ untuk dikaitkan dengan kawasan Wonokromo atau kota Surabaya pada umumnya. Arsitektur yang sangat kuat pengaruhnya sebagai icon, bisa menjadi penanda untuk sebuah kawasan, dan banyak contoh yang bisa kita temukan dalam arti arsitektur sebagai ‘bangunan’ bukan sebuah sculpture atau patung.

Banyak arsitek sangat menyukai kesempatan mendapatkan proyek desain yang bisa menjadi Icon bahkan simbol dari sebuah kawasan, misalnya: merancang bangunan yang bernilai tinggi bagi lingkungan. Merancang bangunan dengan tingkat pengaruh yang tinggi bisa mempertinggi tingkat pengaruh arsitek di masyarakat, artinya ego arsitek juga dipengaruhi dalam kondisi ini. Peran arsitek menjadi sangat penting bila ia harus mendesain bangunan yang akan menjadi Icon sebuah kawasan.

Seberapa pentingkah sebuah bangunan menjadi sebuah Icon?
Inilah sebuah jawaban mengapa arsitektur Mall selalu atau kebanyakan didesain dengan warna cerah, menarik, unik, dan menawarkan sesuatu yang berbeda dari lingkungannya. Hal ini bisa dipahami sebagai suatu cara menjadikan Mall sebagai penanda suatu tempat, yaitu lingkungan disekitar mall tersebut. Dari ‘sesuatu yang berbeda’ tersebut setiap orang (pengamat) yang melihat dan memahami perbedaan tersebut bisa membuat asosiasi tertentu berkaitan dengan imagery yang didapatkannya.

“Kamu tahu, mall yang bentuknya kotak-kotak, miring-miring”

Kalimat diatas bisa diasosiasikan sebagai ‘Mall EX’ di Bundaran HI Jakarta, atau bisa jadi mall yang baru rubuh di sebuah kota, tergantung dari asosiasi pengamat 🙂 Arsitek bisa mendesain bangunan menjadi sebuah Icon yang sangat dikenal. Persoalan yang timbul dari arsitektur ‘iconic’ adalah dari dampak arsitektur ‘iconic’ itu sendiri.

Keinginan untuk memiliki bangunan yang iconic sangat menggoda bagi para pemilik bangunan terutama untuk jenis bangunan komersial, sebabnya adalah keberadaan bangunan yang bisa menjadi icon yang bisa mendongkrak sisi komersial. Di tepi jalan komersial, selalu kita dapati berbagai bangunan komersial berlomba-lomba menciptakan bangunan yang iconic, sehingga jalan komersial dipenuhi oleh bangunan dengan desain dan tipe yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Karena setiap bangunan didesain untuk menjadi berbeda maka jalan akan dipenuhi oleh arsitektur yang beragam, bisa jadi cenderung chaos, tanpa regulasi khusus seperti ketinggian bangunan, sempadan, KDB dan KLB, tema atau gaya arsitektur yang digunakan, material, dan sebagainya.

Selain itu arsitektur yang dibuat untuk menjadi iconic sering memiliki kekurangan akibat perhatian arsitek yang terlalu bertujuan memaksimalkan ‘imagery’ yang ditampilkan oleh fasade bangunan. Ruko, mall, restoran, dan sebagainya dibuat dengan arsitektur yang semenarik mungkin agar menjadi icon suatu kawasan, tapi arsiteknya sering melupakan banyak faktor lain, diantaranya adalah tanggung jawab sosial dan lingkungan. Begitu pentingnya untuk mengolah fasade agar menarik, misalnya, bisa membuat banyak hal yang terkait arsitektur lainnya menjadi terbengkalai.

ENGLISH VERSION:


An architectural icon of a region, becomes a way to reveal the existence of a building that gives color, influence, and interests in a region. For example: Monas monument is the Icon of Jakarta. Statue of Sura (shark) and Baya (crocodile) is the Icon of Surabaya. Burj Dubai is an icon of Dubai. Icon is a symbol of something important in giving the identity of a region, city, even a country. Very often people who take a walk or vacation to a place or a particular city will visit the building, place, or area that became icons of a city, perhaps to mark a visit to make it more meaningful, ‘that I’ve been to the city’.




Design an iconic building, by astudio architect.




Icon often contain important role as a marker of a region, for example: “When you pass through the building with a round shape, then you’ve arrived at the city”. This means that round-shaped building will provide a clear marker of a town. Icon can be said to give a specific meaning in connection with the interpretation of visual perception received by the observer. In relation to semiotics and symbol, icon is a unit of meaning that must be interpreted, for example, to understand that the Monas is the Icon of Jakarta, we must understand the process to see the monument has a meaning that could be interpreted that the monument shaped like that, and only in Jakarta.


Sometimes, an Icon can be so strong, then a building or architecture could be a symbol of place, regions, cities and even countries. Monas, or Suramadu, is a symbol of Jakarta and Surabaya, every time we see the ‘images’ of the building, it can be associated as ‘Jakarta’, or ‘Surabaya’. For example, in a map, the image of Monas became a symbol of Jakarta, and Suramadu, became the symbol of Surabaya.


Architecture is able and allowed to be made into an icon, even so, every icon will give the effect or role in certain areas as markers that are limited in accordance with the degree of influence of the building. Every person who ‘knows’ about the statue of ‘Sura’ and ‘Baya’ as an icon of ‘Wonokromo’ or ‘Surabaya’ will have that meaning every time he saw the formation or imagery of the sculpture ‘sura and baya’ to be associated with Wonokromo region or city of Surabaya in general . Architecture is very powerful as an icon, can be a marker for a region, and many examples can be found in the sense of architecture as a ‘building’ rather than a sculpture or statue.


Many architects love the opportunity to get a design project that can become an Icon even symbols of a region, for example: designing buildings of high value for the environment. Designing a building with a high degree of influence that could enhance the influence of the architect in society, meaning the architect’s ego is also affected in this condition. The role of the architect becomes very important when he has to design a building that would become icons of a region.


How important a building became an icon?
This is the answer to why the architecture of malls are always or mostly designed with bright colors, interesting, unique, and offer something different from their surroundings. This can be understood as a way to make the Mall as a place marker, namely the environment around the mall. From the ‘something different’ is any person (observer) who see and understand these differences can make certain associations related to the acquisition of imagery.


“You know, the mall that is shaped tilted boxes”


The sentence above can be associated as the ‘Mall EX’ at Roundabout HI Jakarta, or could be a new mall that collapsed in a city, depending on the associated observer 🙂 The architect can design a building into an icon that is known. Problems arising from architectural ‘iconic’ architecture is the impact of ‘iconic’ itself.


The desire to have an iconic building is very tempting for the owners of the building primarily for commercial building types, why is the existence of buildings that could become the icon that could boost the commercial side. On the commercial side of the road, we always find a variety of commercial buildings competing to create an iconic building, so that commercial street full of buildings with different designs and different types of buildings to achieve that goal. Because each building is designed to be different then the street will be fulled by a variety of architecture, which could be inclined chaos, with no special regulations such as building height, border, KDB and outbreaks, theme or style of architecture used, material, and so forth.


Architecture designed to be iconic often have a shortage due to the attention of architects who too aim to maximize the ‘imagery’ that is displayed by the facade of the building. Commercial, shopping malls, restaurants, etc. are made with architecture as attractive as possible in order to become a regional icon, but architects often forget the many other factors, such as social and environmental responsibility. Once the importance to treat the facade in order to attract, for example, can make a lot of things related to other architectural become dormant.

________________________________________________

Picture credit (from top to bottom):
– from http://www.opus-dubai.com
– by AyAres151 on Flickr
– by kersy83 on Flickr.com

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Desain masterplan perumahan/ Housing Masterplan Design Gadang Residence

This housing masterplan design by astudio was done thoroughly, starting from designing masterplan, to designing each house, environment gate, site ornaments, etc to the making of marketing brochure.

Desain perumahan ini dikerjakan secara menyeluruh, mulai dari perencanaan masterplan, hingga desain rumah, desain pagar kawasan, ornamentasi site, dan sebagainya hingga pembuatan brosur perumahan.

________________________________________________
by Rosi Rahadi
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

housing complex design

Houses in housing site are common to have certain type, which is made for commercial purpose. But it is always important to show a good design touch.

Rumah di perumahan memang khas, memiliki tipe-tipe khusus yang dibuat untuk tujuan komersial. Namun memang selalu perlu untuk memberi sentuhan seni agar rumah tidak sekedar dibeli saja.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.