Category Archives: special article

Kampung dan Intuisi

astudioarchitect.com Studio kami pernah mendesain sekaligus membangun rumah tinggal yang letaknya di sebuah kampung. Ia berada di depan sebuah gang sempit. Rumah tersebut unik karena pemiliknya lumayan peduli akan lingkungan sekitarnya. Rumah itu berada di ujung gang kecil. Di belakangnya terdapat puluhan rumah. Gang itu tidak lebar, hanya 1 sampai 1,5 meter. Namun pejalan kaki, motor, gerobak dagangan, bahkan keranda mayat keluar masuk melalui gang tersebut. Pemilik rumah memberikan kontribusi kepada lingkungan dengan mengorbankan tanah miliknya agar gang di samping rumahnya menjadi lebih lebar. Ia merelakan tanah milik keluarganya untuk warga yang berada di belakang rumahnya.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Saya mendapatkan kesan bahwa gang seperti itu tidak direncanakan dengan matang, sebagaimana kita arsitek mendesain bangunan secara mendetail. Hal itu mendorong saya untuk mengamati bagaimana kampung seperti ini berkembang dan bagaimana intuisi berperan.

Saya melakukan pengamatan pada perkampungan padat disekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Tujuannya adalah melihat bagaimana ia mempertahankan diri dan menggunakan sumber daya dari sungai itu sebaik-baiknya. Saya menyukai dan menikmati arsitektur yang terbatas dan penuh resiko, karena justru dari arsitektur seperti ini kita bisa melihat material, konstruksi, penggunaan ruang yang paling optimal dengan berbagai keterbatasan.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Dari pengamatan sederhana mengunjungi daerah aliran sungai yang dimanfaatkan sebagai permukiman, saya melihat tiga hal: pertama, banyak orang terpaksa menggunakan daerah aliran sungai sebagai tempat hidup yang tentunya tidak layak karena berbahaya saat hujan deras. Kedua, terjadi kerusakan lingkungan karena daerah pemukiman menyebabkan tidak adanya penyerapan air dan erosi tanah terus menerus. Ketiga, daerah aliran sungai menimbulkan jenis arsitektur rakyat atau kampung yang memiliki jenis estetika dan penyelesaian arsitekturalnya sendiri yang intuitif.

Saya menganggap yang ketiga adalah bagian terbaik dari fenomena daerah aliran sungai. Bukan berarti saya setuju dengan penggunaan daerah aliran sungai sebagai permukiman, tapi karena pada kondisi tersebut kita bisa melihat nilai-nilai desain muncul karena keterbatasan dan keunikan kondisi lahan.

Daerah aliran sungai yang biasanya berkontur menyebabkan rumah-rumah dibangun mengikuti kontur. Terkadang rumah harus naik dengan tangga yang curam dan karena itu menimbulkan nuansa ruang yang tidak diatur melalui standar standar baku arsitektur. Banyaknya arsitektur dan ruang yang eksperimental ini memberikan pengetahuan arsitektur yang tidak bisa didapatkan dari buku. Seperti misalnya tangga yang tidak memiliki bordes dan anak tangga setinggi 30 sampai 40cm. Saya membayangkan susahnya orang yang sudah tua untuk hidup di daerah seperti ini. Bahan material seadanya juga menjadi jenis arsitektur trial and error yang patut diperhatikan. Arsitektur kampung menyadarkan kita bahwa pada kondisi tertentu, manusia dapat beradaptasi.

Intuisi
Untuk ‘membaca’ fenomena kampung atau permukiman padat, kita bisa melacaknya melalui kecenderungan perkembangan kampung. Contohnya kampung tradisional di Jawa yang biasanya tumbuh dari rumah-rumah yang dibangun dengan jarak cukup berjauhan.

Dinamika kehidupan keluarga membuat bagian dan elemen rumah-rumah tersebut mengalami berbagai pergeseran fungsi. Kelahiran, anak yang beranjak dewasa, menikah, berkeluarga, bahkan meninggal, semua punya konsekuensi terhadap penataan di dalam rumah. Hal itu menyebabkan munculnya berbagai kebutuhan baru yang harus dipecahkan. Anak yang menikah dan kebanyakan masih hidup dengan orang tua mereka akan menempati rumah yang sama. Tak jarang dua tiga keluarga hidup dalam sebuah rumah. Morfologi denah bertambah secara intuitif dengan cara melebar dan menciptakan pintu baru. Adakalanya pintu-pintu tersebut mewakili satu keluarga. Masih berada di bawah satu atap, namun pintu dibuka ke arah yang berbeda sebagai jalan masuk untuk masing-masing keluarga.

Banyak perubahan terjadi seperti kelahiran, pernikahan,kematian, serta kepindahan. Pindah rumah, menjual rumah dan datangnya penghuni baru menimbulkan konsekuensi baru yang tak kalah rumitnya. Pintu-pintu yang menghubungkan rumah bisa ditutup, dibuka, dan dihubungkan untuk mengakomodasi datangnya kehidupan baru ini. Demikian pula warna hidup yang semakin bertambah dengan datangnya karakter manusia yang lain. Contohnya tetangga yang terlalu dekat menimbulkan konflik baik psikologis maupun spasial.

Sebuah rumah dalam kampung campin berkembang dengan cara ini. Misalnya satu rumah dengan dua kamar dan tujuh anak, yang melebar dengan perluasan horizontal dan vertikal dengan masing-masing pintu untuk keluarga yang berbeda. Rumah berkembang dengan ‘cair’ dan intuitif untuk meletakkan ruang-ruang seperti yang dibutuhkan tanpa adanya desain yang secara arsitektural bisa dikatakan matang. Pintu, jendela, dan jalan terhubung sesuai kebutuhan, semuanya berdasarkan intuisi. Belokan-belokan tercipta di antara kepadatan rumah yang disebut kampung.

Perumahan:  Sebuah kampung yang didesain

Apabila kita membaca “kampung” sebagai suatu perkembangan perumahan yang intuitif, jenis perumahan yang ‘didesain’ sejak  awal layak dijadikan pembanding. Perumahan baru adalah cikal bakal kampung dengan morfologi penataan yang lebih tertata. Ia berbeda dari kampung yang berkembang secara intuitif. Perumahan dibeli dengan lahan terpetak-petak. Antara rumah satu dengan lainnya memiliki kesamaan. Bila kita saksikan kecenderungan perumahan saat ini, pola perkembangannya menimbulkan konsekuensi-konsekuensi baru yang pada dasarnya memiliki dinamika sedikit berbeda dari kampung yang intuitif. Namun di antara keduanya tetap ada benang merahnya yaitu intuisi.

Petak-petak lahan yang terbagi dengan jelas menimbulkan perasaan akan teritorial yang lebih kuat daripada dikampung yang tidak didesain sejak awal. Perumahan merupakan template yang dapat dikembangkan sesuai dinamika dalam keluarga yang mendiaminya, terutama untuk perumahan menengah kebawah. Dewasa ini banyak rumah-rumah dijual dengan tipe kecil yang secara umum belum dapat mewadahi kebutuhan ruang keluarga pada umumnya. Tipe 21 dan 36 seringkali dibangun tanpa dapur. Hal itu menyebabkan perubahan morfologi pasti terjadi dengan unik. Template denah rumah akan bertambah sesuai dengan kebutuhan mendasar seperti dapur, tambahan ruang kamar tidur, teras, carport, dan sebagainya.

Rumah di perumahan merupakan cikal bakal dari rumah yang dapat berkembang sebagai bagian dari kampung yang lebih tertata, yang kebanyakan perkembangannya juga dipengaruhi intuisi penghuninya. Tidak ada rumah di perumahan yang dikembangkan dengan cara sama menunjukkan bahwa masing-masing pemilik punya kecenderungan dan karakter berbeda. Tidak ada orang yang ingin disamakan dengan orang lainnya. Mirip seperti fashion, orang cenderung ingin berbeda untuk menunjukkan kepribadian dan cita rasa yang dimilikinya.

Semakin lama, sebuah kampung intuitif atau perumahan yang didesain dari awal akan semakin terbentuk secara sosial maupun spasial. Biasanya para penghuni secara intuitif menyelesaikan problem-problem berdasarkan pengalaman dan impuls dari dunia intrinsik individu. Kampung makin ‘mendewasa’ dengan makin banyaknya kejadian, seperti kelahiran, kematian, pencurian, acara bersama, masalah lingkungan, dan sebagainya.

Kampung-kampung kadangkala menjadi arena yang mirip seperti sebuah keluarga besar lengkap dengan orang-orangnya yang menyenangkan, menyebalkan dan segudang hal alami kemanusiaan lainnya. Adanya kelahiran, perkawinan, kematian dan hal-hal yang harus diselesaikan bersama adalah hal-hal yang makin mempererat jalinan dan hubungan antar manusianya itu.

Kampung adalah sebuah konteks kebudayaan yang alami dan intuitif, dimana intuisi ini adalah bagian yang paling sering dipandang ‘primitif’ yang banyak bertentangan atau kurang sesuai dengan standar arsitektur dari pengetahuan yang modern.

Arsitek banyak bekerja dengan standar, petunjuk, dan handbook, berusaha untuk mengeliminasi trial and error dalam bekerja dengan intuisinya saat mendesain. Meski begitu, bila belajar dari kampung yang intuitif, kita akan sering tersenyum karena menyadari bahwa intuisi murni dapat menyelesaikan masalah dengan cara kanak-kanak. Misalnya seperti anak tangga setinggi 40 cm itu.  Dengan membuat asumsi bahwa manusia bisa beradaptasi atau menerima keadaan dan menggunakan pikirannya tanpa henti untuk menyelesaikan masalah.

Nampaknya tubuh kita didesain agar bisa menerima serangkaian penyelesaian arsitektural non standar yang intuitif dan asumtif.  Barangkali untuk mengingatkan bahwa dulu manusia pernah hidup di gua yang tidak memiliki standar arsitektural. Seringkali desain dan konsep modern justru mengabaikan kemungkinan-kemungkinan intuitif itu, namun rasanya bila kembali kepada sifat alami manusia, dorongan intuitif untuk meng’kampung’ akan menemukan jalannya bila diberi kesempatan.

*) Artikel ini juga dimuat dalam konteks, media informasi arsitektur

______________________________
by

Arsitek Probo Hindarto
© Copyright 2014 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Welcome 2014 – Reflection 2013!! – sebuah refleksi arsitek

astudioarchitect.com Di astudio, kami memiliki beberapa cerita untuk setiap proses desain arsitektur, memang sebagai sebuah profesi jasa, kami sedikit banyak pasti berinteraksi dengan klien dan memiliki beberapa cerita untuk dibagi bersama Anda. Beberapa poin menandai perjalanan sebagai arsitek untuk rumah tinggal dan perlu refleksi untuk perjalanan di masa depan agar menjadi semakin baik. Cerita ini barangkali juga bisa menjadi refleksi juga bagi arsitek lainnya di Indonesia dan seluruh dunia.

In astudio, we have some stories to architectural design process, as a professional service provider, we have some interactions with clients and have some stories to share with you. Some of the points mark the passage for us as architects for residential buildings and as a reflection needed to further journey in the future in order to get better in term of process. This story could also be a reflection perhaps also for other architects in Indonesia and around the world.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Refleksi 2013
Sebagai arsitek yang independen, tujuan kami adalah memberikan pelayanan seputar desain rumah tinggal bagi masyarakat umum, dan saat ini progress pembangunan di Indonesia sangat-sangat baik, masyarakat makin membutuhkan arsitek dan jasa arsitek juga semakin berkembang. Kami sebagai salah satu ‘pemain’ dalam usaha jasa ini juga harus memiliki daya saing baik dengan arsitek lokal maupun mancanegara.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Sejak awal tahun 2013, kami mendapatkan beberapa puluh kontak dengan calon klien, dimana sebagian menjadi klien dan sebagian lagi tidak. Banyak anggapan bahwa jasa arsitektur masih terlalu mahal, sehingga barangkali memilih untuk tidak memakai arsitek, atau mencoba untuk mencari arsitek lain dengan ‘harga’ lebih murah bahkan gratisan. Bagi sebagian yang memilih menjadi klien astudio, kami sangat berterimakasih.

Soal harga ini, memang sedikit banyak ditentukan oleh selera pasar akan pandangan tentang arsitek yang seharusnya, kami menghargai ketertarikan makin banyak orang untuk membawa keputusan-keputusan tentang rumah tinggalnya kepada seorang arsitek, karena diantara banyak profesi yang menawarkan jasa, kami para arsitek juga seperti dokter yang berusaha menangani pasien-pasiennya dengan sebaik mungkin. Soal harga desain, merupakan rahasia umum bahwa ini agak sensitif. Sebagai arsitek dan interior designer kami memberikan perkiraan fee design yang memang jauh dibawah ketentuan dari Ikatan Arsitek Indonesia, hingga saat ini. Kira-kira 2-3% dari biaya membangun diperuntukkan untuk arsitek, merupakan sebuah nilai yang sangat kecil dibandingkan dengan besarnya manfaat untuk bangunan dan penghuninya.

Didalam bekerja mendesain, arsitek selalu mencoba mengerti kebutuhan klien disesuaikan dengan pengetahuannya. Sebagai profesi yang dikenal baru saja booming dewasa ini, arsitek memiliki posisi diatas tukang gambar/drafter. Bila diibaratkan dengan tukang cat misalnya, ada tukang cat yang bagus, ada tukang cat biasa-biasa saja, ada tukang cat yang sama sekali ga keren. Tinggal klien menilai seperti apakah seorang arsitek itu.

As an independent architect, our goal is to provide services of houses design for the general public, and the current development progress in Indonesia is very, very good, more and more people are in need of architects and architectural services is also growing . We as one of the ‘players’ in the service business should also have a good competitiveness with local and foreign architects.

Since the beginning of 2013, we get a few dozen contacts with prospective clients, where some become clients and some have not. Many thought that the architectural services are still too expensive, and then perhaps choosing not to use architectural services, or try to find another architect with a lower price or even free of charge. For some who choose to become a client astudio, we are very grateful .

About the price of our services, it is more or less determined by the market that will view the supposed architect, we appreciate our clients’ interest and more people to take decisions about having their home design provided by architects, because among the many professions that offer services, we are architects as well as doctors seeking to address his patients with the best possible services. About the price of design, it is an opened secret that is rather sensitive. As architects and interior designers we provide design fee which is below the provisions of the Indonesian Institute of Architects, until now. Approximately 2-3 % of the cost of building intended for architects, is a value that is very small compared to the benefits to the building’s quality and its occupants’ satisfaction.

In the work of designing, architects always try to understand the needs of clients tailored to their knowledge. As a profession known just booming today in Indonesia, architects have a position above builders / drafters. When compared with wall painters, for example, there are good wall painters, there are mediocre painters, and there are painters who are not good at all. It is the clients to assess whether an architect is to be capable of designing good buildings.

‘Form follow client’ adalah gurauan diantara para arsitek, yang merasa bahwa arsitektur yang mereka rancang ditentukan oleh klien. Memang klien adalah mereka yang memakai jasa kami, pendek kata klien adalah pemilik modal dan kami yang merancang bagaimana modal itu dipakai. Dari beberapa cerita teman yang bekerja di biro arsitek besar, arsitek kadangkala hanyalah ‘sebutir debu’ dalam project skala besar. Semua keputusan tentang besaran dan ukuran ditentukan oleh owner atau pemberi tugas.

Namun lain dengan arsitek yang bekerja untuk proyek-proyek rumah tinggal seperti kami di astudio, keputusan arsitektural sering ada ditangan arsitek, dengan owner yang memberikan batasan dasar untuk rancangan, misalnya banyaknya ruang, luasan ruang, macam ruang, kebutuhan mendasar seperti bagaimana suasananya, dan paling banyak klien akan memberikan saran soal tampilan. Bila di proyek-proyek besar perancangan semua data awal ini diberikan oleh pemberi tugas, namun di proyek yang kecil banyak hal harus dipikirkan.

Hal-hal ini tentunya semacam berapa luas atau dimensi ruangan yang sesuai untuk kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga dan sebagainya. Biasanya arsitek dapat memperkirakan berapa luas yang dibutuhkan, bagaimana ruang sebaiknya ditata didalam denah. Yang biasa menjadi perhatian para arsitek adalah bagaimana menciptakan ruang-ruang yang ‘bagus’, dimana ada beberapa kualitas yang tidak tergantikan dalam hal ini. Lalu apa susahnya menciptakan ruang yang ‘bagus’?

Ruang yang ‘bagus’ memang relatif, ada ruang yang terasa enak, nyaman, bisa bikin tenteram, bisa bikin si empunya bangunan merasa ini rumah yang enak. Tidak hanya ditentukan oleh seberapa bagus furniture yang dimiliki, seberapa mahal, atau seberapa banyak, namun juga seberapa bernilai arsitektur yang melingkupinya, arsitektur adalah sebuah furniture besar. Arsitek akan merasa senang apabila klien peduli dengan ‘bagian dalam’ dari sebuah rumah. Meskipun demikian tidak semua arsitek berpandangan sama tentang ruang dalam, karena banyak arsitek yang merancang dengan denah 2D tanpa memperhitungkan aspek-aspek 3Dnya.

Hal yang masih mengganjal hingga saat ini, sepertinya fungsi arsitek masih banyak dipandang sebagai semacam ahli tata rias. Tata rias yang membuat rumah atau bangunan tampil cantik dan menarik, semacam kosmetik tebal. Tentunya ada yang lebih yang bisa dilakukan arsitek dan interior designer, namun banyak arsitek yang memang kurang bisa memberitahukan hal ini, atau bahkan belum punya kemampuan dan keahlian ini. Kami di astudio berusaha menjembatani kekurangan ini dengan terus memberitahukan pada masyarakat tentang berbagai aspek arsitektural, sekaligus untuk membuat arsitektur kami lebih matang.

Sebagai arsitek, kami biasa memberikan pendapat-pendapat yang sifatnya solusi, meskipun tidak selalu merupakan keinginan penghuni namun dibalik itu pendapat-pendapat ini biasanya dipandang bernilai karena bisa meningkatkan nilai desain arsitektur. Penghuni adalah mereka yang akan menempati ruang-ruang dan bangunan yang kami rancang, dan mereka adalah partner untuk menentukan bagaimana mereka tinggal dan hidup (dari sudut pandang arsitek).

Sebagai arsitek juga kami tidak sungkan untuk membeberkan beberapa rahasia umum tentang bekerja dengan arsitek, karena kami berpendapat sebaiknya kebenaran tentang arsitek bekerja itu layak diketahui oleh umum, dan kami tahu bahwa kemungkinan besar dengan mengetahui lebih banyak justru orang lebih mempercayai keahlian dan kemampuan seorang arsitek. Seorang arsitek sebaiknya tidak melebih-lebihkan kemampuannya dan mengatakan bahwa ia bisa menyelesaikan semua hal tentang arsitektur. Namun seorang arsitek seperti halnya manusia dalam profesi lainnya adalah orang yang terus belajar untuk menghasilkan karya arsitektur yang lebih bernilai bagi Anda.

‘Form follow client’ was a joke among the architects , who feel that their architectural design is to be specified by the client. It is the clients who will use our services , in short, the client is the owner of capital and we are designing how the capital is to be used. Some friends who work in the greater architects firm have their opinion; architects sometimes just ‘a grain of dust’ in a large -scale project. All decisions regarding the size and dimensions is determined by the owner or assignor.

Yet it is different for architects who worked on residensial projects such as astudio, often architectural decisions are in the hands of architects, with the owner providing the basis for the design constraints, such as the amount of space, area, dimensions, and basic needs such as how the intended ‘facade’, and most clients will give you advice about the look. When in big projects all these preliminary data provided by the assignor, in a small project many things are to think about by the architect.

These things certainly sort of room dimensions are appropriate for the bedroom, bathroom, living room, etc. Usually architects will estimate how much is enough, how the space should be laid out in the blueprints. Common to the attention of architects is to create spaces that are ‘good’, where there are some qualities that are not replaceable in this regard. Then what is so hard for creating a space that is ‘good’?

‘Good’ space is relative, there are space that feels good, comfortable, may bring peace, or may make the owner feel a comfortable home. Not only determined by how well the furniture you have, how expensive, or how much, but also how valuable the surrounding architecture, architecture as a large furniture. Architects will feel happy when clients concerned with ‘the inside’ of a home. However not all architects share similar views about designing, because many architects  designs the 2D floor plan regardless 3D aspects .

It is still up to date, it looks like the function of architects are still widely viewed as a kind of makeup artists. The makeup they provide that make your home or building look beautiful and attractive, sort of cosmetics. Surely there is more that can be done by architects and interior designers, but there are many architects who are less able to tell you this, or even have not got the ability and expertise of doing that. We at astudio always try to bridge this shortfall by continuing to inform the public about various architectural aspects, as well as to make us more mature in architecture business.

As architects, we used to give the opinions that are solutions, though not always the same as desire of the occupants but behind these opinions are usually deemed valuable because it increases the value of architectural design. Occupants are those who will occupy the spaces and buildings that we have designed, and they are partners to determine how they live (from the point of view of the architect).

As architects we also do not hesitate to reveal some common knowledge about working with architects, because we believe the truth about how architects work should be known to the public, and we know that it is likely to trust an architect if the client know more precisely and then to trust the expertise and ability of an architect. An architect should not overestimate his abilities and said that he could finish all problems regarding architecture. But an architect should be as well as other people in the profession are those who continue to learn to produce a work of architecture that is more valuable to the public.

Masa depan 2014

Di masa depan kami ingin menjadi arsitek yang lebih awas terhadap lingkungan, dimana setelah belajar lebih jauh tentang peran arsitek kami ingin memberikan kontribusi bagi perkembangan arsitektur Indonesia yang lebih baik. Beberapa teori kami siapkan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik ini, dengan terus awas memperhatikan kecenderungan dan kebutuhan masyarakat akan arsitektur. Dibalik karya-karya desain kami yang sudah dibuat, terasa memang adanya perubahan dalam pola pikir dan kematangan desain. Dengan pengetahuan, arsitektur yang didesain akan menjadi lebih terencana, kontekstual dan teratur.

Akan ada perubahan dalam proses desain dan evolusi dalam pandangan-pandangan dalam konteks desain ini. Semua ini diakibatkan perkembangan jaman dan melihat evolusi dalam dunia desain memang mengharuskan tiap arsitek untuk berubah mengikuti jaman, menjawab pertanyaan yang ada pada jaman itu sendiri. Hal ini karena kami mempelajari beberapa hal tentang arsitektur di Indonesia dalam 100 tahun dan dari jaman purba, yang memberikan beberapa fakta penting:

Indonesia ternyata memiliki peradaban arsitektur yang sangat indah dan menarik, diantaranya adalah Candi Borobudur, candi Loro Jonggrang, dan candi-candi lainnya. Fakta bahwa kita memiliki artefak arsitektur dari jaman 3500 tahun lalu, sejak jaman nabi-nabi, di suku Sasak, Lombok, sama purbanya dengan peradaban di Mesir purba. Rumah dengan arsitektur Joglo dan berbagai jenis atap pernaungannya merupakan aset yang sangat indah untuk diaplikasikan dalam bangunan masa kini dengan mengambil banyak unsur dari arsitektur vernakular, dengan metode pembangunan modern.

Source: Wikipedia

Beberapa hal yang akan semakin diperhatikan adalah:

  • Kontekstual rancangan terhadap jaman, tempat dan keberlanjutan.
  • Pembelajaran tentang konteks bangunan yang lebih baik untuk Indonesia.
  • Penggunaan material lokal yang lebih banyak dengan teknologi sederhana dan advanced dalam pertukangan
  • Beberapa produk kemungkinan akan diluncurkan sebagai tantangan baru dalam dinamika masyarakat.
  • Beberapa penulisan semoga bisa diselesaikan untuk turut mewarnai perkembangan arsitektur di Indonesia.

Tentunya dalam proses perancangan, kami akan memperhatikan banyak hal seputar kebutuhan dan apa yang bisa kami berikan sebagai desain dan produk terbaik. Semoga tahun depan menjadi tahun yang makin baik bagi kita semua dengan adanya perubahan kepemimpinan di negeri ini, dan semoga Anda mendapatkan kebaikan-kebaikan dari dunia arsitektur dan budaya pada umumnya.

Salam,

Probo Hindarto

The future 2014

In the future we would like to become architect who is more aware to the environment, where after learning more about the role of architects in society we want to contribute to the better development of Indonesian architecture. Some theories we prepare for the better future, by continually having vigilant attention to the trends and needs of the society. Behind our design works that have been made, there is indeed a change in the mindset and maturity of designing. With more knowledge, architecture be better designed or planned, to be more contextual and organized.

There will be changes in the design and evolution in the views of design context. All this is due to the changing times and design evolution in the design world that is indeed required by each architect to change with times, to answer the question that is in his own era. This is because we learn a few things about architecture in Indonesia in 100 years and from ancient times, which gives some important facts :

Indonesian architectural civilization is indeed a very beautiful and interesting architecture, such as Borobudur temple, the temple of Loro Jonggrang, and other temples. The fact that we have architectural artifacts dated from the era of 3500 years ago, from the days of the prophets, in Sasak, Lombok Indonesia, the same age with civilization of ancient Egypt. Joglo house architecture and various types of roofing shelters are wonderful assets to be applied in the present buildings by taking many elements from vernacular architecture, with modern construction methods .

Some things that will be considered are:

  • Contextual design of present times, place and sustainability.
  • Learning about building a better context for Indonesia.
  • The use of local materials with more simple or advanced technology in carpentry.
  • Some products are likely to be launched as a new challenge in a dynamic society.
  • Some writing may be resolved to also influence the development of architecture in Indonesia.

Surely in the design process, we will pay attention to a lot of things about the society’s needs and what we can provide in designing and the best products. May the next year be the year that will be better for us all with the change of leadership in this country, and hopefully you get the virtues in the world of architecture and culture in general.

Regards, 
Probo Hindarto

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Konteks Permukiman Urban / Urban Housing Context

astudioarchitect.com Dalam konteks urban housing, masalah-masalah yang harus dipecahkan arsitek bisa jadi sangatlah beragam, dimana cara untuk memecahkannya juga bisa jadi beragam antar arsitek. Rumah di daerah perkotaan seringkali memerlukan pemikiran yang rumit berkenaan dengan infrastruktur dan sistem kehidupan didalamnya, yang kadang telah tidak lagi memadai. Memberikan saran bagi desain rumah urban dan mempersiapkan kota-kota urban baru merupakan hal yang penting untuk dilakukan saat ini.

In Indonesia, and in some countries in the world, in the context of urban housing, problems to be solved by architects are varied, in which the way to deal with these problems could also be varied between different architect. Houses in the urban area needs complicated thoughts due to infrastructure and life system inside the city, which sometimes are no longer enough to support the city. Giving advices to urban houses design and prepare new urban cities is an important thing to do right now.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Salah satu masalah paling krusial yang dihadapi kota-kota urban adalah perencanaan kota yang buruk dan tumpang-tindihnya kepentingan-kepentingan yang seringkali menyebabkan kekacauan kota (harga yang harus dibayar dari kekacauan adalah; kecelakan-kecelakaan yang tidak perlu terjadi). Bisa jadi perencanaan kota telah dilakukan dengan baik, sayangnya implementasinya tidak memadai karena sistem dalam organisasi manusianya juga tidak mendukung.

Banyak ditemukan, sistem-sistem hidup dan penunjang kehidupan ataupun lingkungan sekitar hunian tidak cukup mampu menyediakan fasilitas bagi terciptanya hunian yang sehat, hal ini bisa disebabkan oleh;

  • Infrastruktur kota urban tidak atau kurang terencana dengan baik (berbagai sistem seperti sistem transportasi, sistem jaringan kabel listrik, sistem air, sistem pertanahan dan rencana guna tanah, pengairan dan irigasi, dan sebagainya)
  • Pola hidup disekitar lahan hunian tidak memberikan dampak positif bagi hunian tersebut
  • Ketiadaan aset-aset kesehatan hunian seperti udara bersih, air bersih
  • Perpotongan, perebutan, pengambil-alihan 

One of the most crucial problem that an urban city has to deal with is the lack of city planning and the crosswires of needs that often causes urban chaos (the price to pay for the chaos are; unnecessary accidents). The arrangement of the city could have been done, unfortunately the implementation is not good enough because the human organisation is not supporting.
Oftenly found, life systems and life supporters or the environment around the dwellings are not capable enough to facilitate a healthy dwelling, which can be caused by;

  • Infrastructure of the urban area are not well planned (many systems like transportation, electrical cables, water, land use, irrigation, etc)
  • The environmental social life around the dwellings are not giving positive impact to the dwellings
  • The unexistence of healthy dwelling assets like clean air, clean water
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
sumber-sumber daya alam terbatas untuk digunakan secara bersama-sama maupun pribadi, mengakibatkan makin sulit dan terbatasnya sumber daya tersebut. Kota-kota urban, baik yang telah menjadi urban ataupun urban baru memerlukan rancangan hunian yang spesifik yang dapat memberikan efisiensi dan kenyamanan hidup (pernyataan ini subyektif). Bila pada sebuah kota urban tidak ada atau jarang ditemukan kemungkinan terciptanya hunian layak, perlu dipikirkan untuk menganggap kota tersebut bukan lagi kota urban yang sehat dan desain hunian pada kondisi ini akan sarat dengan berbagai keterbatasan. Kita perlu untuk membangun kota urban yang lebih sehat, dengan perencanaan yang lebih baik.

Arsitek tidak bertanggung-jawab terhadap masalah keuangan rakyat, namun arsitek bertanggung-jawab atas desain yang berkenaan (berhubungan) dengan keuangan rakyat. Bagi arsitek, menjawab tantangan untuk menghasilkan rancangan yang menguntungkan pengguna, sumber daya alam dan lingkungan adalah beban yang dipikulnya melalui profesi ini. Seringkali karena keterbatasan lahan (atau dana, atau keduanya), arsitek terjebak kenyataan bahwa ia harus menggunakan ruang terbatas untuk mewadahi sebanyak mungkin ruang yang dibutuhkan penghuni. Kaidah-kaidah desain hunian yang sehat sebaiknya tetap diperhatikan dalam hal ini.

Namun bila yang terjadi sebaliknya (tidak ada keterbatasan), lahan yang luas dan dana yang memadai merupakan kemungkinan yang menarik dari eksplorasi desain, karena arsitek akan memiliki pilihan-pilihan lebih banyak. Namun hal ini juga bukan berarti memberi pilihan pada kita untuk mendesain hunian dengan ruang-ruang yang tidak diperlukan dan membuang sumber daya alam. Keindahan desain tidak hanya berarti skala bangunan dan gaya bangunan semata. Hunian yang besar dengan banyak ruang dan besaran ruang yang berlebihan sebenarnya adalah godaan, dan bukanlah hal yang menguntungkan, baik bagi penghuni, bagi ketersediaan sumber daya, dan bagi lingkungan. Justru dengan adanya lahan luas dan dana memadai di perkotaan, kita dapat mengambil pilihan untuk menjadikannya hunian yang berwawasan lingkungan. Keindahan hunian dapat pula berarti keindahan hubungan dengan alam dan lingkungan. Dengan mengambil luasan bangunan yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna secara wajar dan normal, ruang sisa lahan dapat digunakan untuk menghubungkan diri dengan alam dan lingkungan.

Urban cities, wheter it has became urban or new urban ciies need specific dwelling designs that gives efficiency and the comfort of life (this is subjective). If in an urban city there is none or rare anymore to be found the possibility to create proper dwelling, it might be needed to think abput the possibility to create better urban cities. Architects do not bear the responsible of people’s financial problems, but architects have the responsibility of designs due to people’s finance. For architects, answering the challenge to produce designs that benefit the users, natural resources and the environment are the burden of the profession.

Mostly because of the lack of site space (or because of financial problems, or both), architects are trapped on the reality that he has to use limited space to contain as many rooms needed by users as possible. Healthy house facilities should always be considered.

But if the opposite condition happens (there’s no limitation), wide space of site and sufficient fund might bring interesting possibilites from design exploration, because architect will have more choices. BUt it doesn’t mean that it gives us the choice to design dwelling with unneeded spaces and waste natural sources. The beauty of design won’t mean only by the scale of the building or the style of it. Big dwelling building with too many rooms and unneeded spaces are temptations, and not a useful thing, for the users, for the amount of natural resources, and for the environment. In the case of sufficient land space and fund in the urban areas, we can take the choice to create environmentaly friendly dwellings. The beauty of dwellings can also be mean the beauty of relationship between nature and the environment. By taking spaces for rooms to contain the needs of the users to be used normally, the rest of the site could be used to connect the users of the house more to nature and environment.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Tentang tukang yang bekerja di lapangan, arsitek dan kontraktor

astudioarchitect.com Tulisan uneg2 tentang tukang dan arsitek, uneg2 yang bila tidak dikeluarkan bisa meledak didalam, tapi bukan standar tertinggi sebuah kebenaran

—————————————————

Bekerja dengan otot, tidak sama dengan bekerja dengan otak. Bekerja dengan otot memerlukan keberadaan fisik dan kontak fisik dengan material. Bekerja dengan suatu keterampilan yang didapatkan dengan menyentuh, memperkirakan, mengukur, semua dengan fisika naluriah (perhitungan fisika yang diterapkan dalam gerakan, dan sebagainya). Untuk membelah batu, diperlukan sekian energi yang disalurkan melalui tangan, untuk menata bata diperlukan energi sekian untuk tepat.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Saat arsitek mendesain sebuah imajinasi beku yang disebut arsitektur, ia memperkirakan hasil akhir yang pada akhirnya harus diupayakan melalui pekerjaan fisik para tukang. Arsitek memotong jalur menuju realita melalui imajinasi dan kertas-kertas bergambar imajinasi yang membeku. Potongan gambaran realitas ini kemudian menjadi sebuah tuntunan, bahkan tuntutan, untuk dipenuhi dengan berbagai cara.

Para tukang memahami gambaran realitas yang disebut ‘gambar kerja’ ini seakan seperti sebuah dogma, yang harus diwujudkan melalui tangan tangan terampil mereka. Kadang gambar kerja hampir seperti sebuah kitab suci untuk proyek, semua bekerja berdasarkan kitab suci itu. Arsitek atau kontraktor yang datang ke proyek, menggunakan dogma itu untuk menata, membangun dan memperkirakan hasil jadi arsitektur.

Bekerja dengan tangan bagi para tukang adalah sebuah keniscayaan, bukan spekulasi, lebih banyak tukang beranggapan bahwa keterampilan cukup untuk membuat sesuatu yang terbangun, sesuatu yang bagi arsitek merupakan ‘tanpa perencanaan’. Namun bagi tukang sewaan di kampung-kampung, spekulasi adalah saat perencanaan bersama pemilik rumah atau bangunan saat akan menyewa tukang, maka arsitektur didefinisikan melalui keterampilan tangan yang setara dengan kerajinan tangan. “Seperti ini bagus, pak/bu”, kata tukang sambil berbicara dengan sesekali menggambar ala kadarnya, tidak dengan meja kerja, tidak dengan komputer.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Bagi tukang kampung, untuk mewujudkan arsitektur yang ‘baik’, atau ‘buruk’ kurang lebih seringkali adalah spekulasi. ‘Tahu benar’ akan material dan cara membangun adalah titik tolak para tukang ‘kampung’ untuk mendefinisikan sesuatu yang disebut ‘arsitektur’ entah bisa disebut demikian atau tidak — cara membangun adalah inti dari arsitektur kampung. Arsitektur yang muncul adalah konsekuensi material ditambah cara memperlakukan material tersebut, minimal untuk menyerupai anggapan-anggapan non akademis tentang bangunan yang baik. Tidak ada jargon-jargon seperti ‘estetika’, ‘proporsi’, ‘harmoni’ dan sebagainya. Bagus adalah bagus, jelek adalah jelek, semua didefinisikan melalui satuan terkecil yaitu pekerjaan tangan.

Semakin lama, semakin modern, semakin tukang kehilangan kemampuan berarsitektur dengan cara-cara vernakular, untuk kemudian menjadi semakin modern — artinya adalah semakin bekerja seperti mesin. Kolom kayu dengan ukiran dan detail sambungan yang langka tradisional digantikan oleh alumunium, besi dan beton buatan pabrik, untuk menjadi cara membangun berdasarkan presisi mesin, adalah konsekuensi dari industrialisme. Tukang kota berbeda dari tukang desa, dan tukang yang ikut sistem organisasi kontraktor modern berbeda dari tukang kampung. Tukang beradaptasi dengan kebutuhan, material dan cara membangun yang makin melicin. Tukang akan selalu berusaha memahami cara membangun dengan memahami cara memperlakukan material, mereka selalu ingin tahu dengan keberadaan material baru untuk memahami cara kerjanya.

Saat ada orang-orang yang merupakan jebolan perguruan tinggi dan disebut ‘perencana bangunan’, ‘kontraktor’ atau ‘arsitek’, para tukang cenderung merasa aman dari konsekuensi spekulasi mereka atas arsitektur apa yang mungkin timbul dari cara membangun. Sudah ada pihak yang disebut ‘arsitek’ atau ‘kontraktor’ untuk bertanggungjawab akan bagus atau jeleknya arsitektur. Anehnya arsitek juga merasa aman dari ketidaktahuan mereka dengan cara membangun. Bagi tukang-tukang, ungkapan yang tepat kurang lebih: Arsitek kebanyakan adalah seperti seorang dewa yang tiba-tiba jatuh dari entitas yang disebut ‘kuliahan’. Mereka bersayap dan hebat, dapat naik turun kahyangan untuk mendoktrinkan kitab suci mereka yaitu gambar kerja.

Arsitek disatu sisi keluar dari universitas untuk merasa mengetahui tentang desain, lalu untuk menyimpulkan bongkahan-bongkahan imajinasi dalam bentuk gambar. Tapi jarang mereka diajarkan di kampus untuk memegang pasir, menata bata, mencampur semen dan air. Mereka sibuk untuk merumuskan programatik, dan lebih parahnya sesuatu yang disebut bentuk. Facade, muka, topeng, depan, dalam, interior design, minimalis, klasik, mediterania, desain plafon, kursi malas, sofa, kabinet TV, perumahan, atap, dinding, lantai, kolam renang, pagar depan, pohon kamboja, rumput. Jargon-jargon yang akan mengantarkannya untuk ‘lebih mengetahui daripada sekedar tukang’, dengan cara menginjak pijakan yang lebih tinggi, namun tidak tahu cara berada dibawah, seperti memegang bata dengan serpihan debunya, kelilipan semen saat bekerja, atau memiliki baju yang kotor dengan debu bangunan.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Street furniture atau furniture jalan

astudioarchitect.com Street furniture atau furniture jalanan merupakan jenis furniture outdoor yang digunakan biasanya sebagai fasilitas umum misalnya tempat duduk, pagar, lampu jalan, shelter atau tempat berteduh, telepon umum, penanda jalan, dan sebagainya. Semua furniture jalan atau street furniture ini membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat yang menggunakannya. Saat ini dinegara kita banyak street furniture yang kurang terjaga maupun kurang lengkap. Tempat sampah kurang banyak disediakan sehingga banyak orang cenderung membuang sampah sembarangan diiringi dengan kesadaran yang masih rendah.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Street furniture biasanya dibiarkan kurang terawat sehingga banyak yang tidak layak lagi digunakan. Street furniture yang baik sebaiknya slalu dirawat dan dijaga dari berbagai kerusakan yang bisa terjadi. Street furniture sebaiknya disediakan bagi masyarakat umum secara luas dan tidak hanya digunakan untuk pengguna tertentu saja misalnya didepan bangunan mall atau perkantoran khusus tetapi juga harus disediakan untuk tempat tempat lainnya sebagai pelayanan kepada masyarakat.

Street furniture yang baik biasanya didesain oleh arsitek landscape dan diimplementasikan didalam pengaturan tata kota secara menyeluruh dan konsekuen, mulai dari desain, instalasi, manajemen hingga maintenance memerlukan strategi agar street furniture bisa terjaga fungsi dan kondisinya. Ini mengharuskan partisipasi dari berbagai pihak yaitu pemerintah kota, masyarakat sekitar dan pengguna jalan yang masing masing tidak berkaitan langsung tetapi memiliki dampaknya terhadap keberlanjutan fasilitas ini. Berbagai hal yang harus dilakukan untuk mempertahankan street furniture agar tetap berguna antara lain:

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //

  • Bersihkan dari sampah dan hal hal yang mengganggu seperti coretan dan lakukan banyak cara untuk mencegah pengrusakan terhadap fasilitas umum.
  • Mendesain ruang ruang publik sehingga fungsinya menjadi jelas bahwa fasilitas umum adalah milik umum dimana terdapat pagar tetapi juga terdapat akses yang baik sehingga memperbaiki dan memperjelas perbedaannya dengan fasilitas lain seperti jalan umum
  • Apabila letaknya agak tersembunyi, fasilitas umum memerlukan penanda jalan atau petunjuk agar dapat terlihat dengan baik oleh calon penggunanya.
  • Mendesain fasilitas publik dan steet furniture yang komprehnsif dan dikoordinaskan secara startegis untuk berbagai fasilitas publik sehubungan dengan bangunan, landscape dan area areanya.
  • Desain yang baik dapat meningkatka nilai dari fasilitas publik tersebut

Karya seni dan Sculpture
Karya karya seni dapat dimasukkan sebagai penanda untuk ruang publik yang menarik. Patung patung, sculpture, da sebagainya dapat ditempatkan diruang publik dimana orang bisa menikmatinya dengan duduk, berdiri dan berjalan pada fasilitas fasilitas yang sudah disediakan, misalnya trotoar, tempat duduk, dan sebagainya. Seni dan istalasi ini juga bisa menjadi suatu penanda yang dapat meningkatkan kualitas lingkunga dan kota secara keseluruhan (sebagai landmark).

Penanda
Penanda diperluakan untuk memberikan petunjuk bagi pengguna jalan, Pejalan kaki, dan pengguna fasilitas publik yang lain. Penanda jalan atau signage seperti penunjuk arah, petunjuk fasilitas, petunjuk toilet, petunjuk tangga, petunjuk taman dan sebagainya akan membantu pengguna berbagai fasilitas dalam kota sehingga menjadikan kota lebih bersahaabat. Penanda ini perlu didesain juga dimana letaknya, jarak-jaraknya dan memberikan petunjuk apa kepada masyarakat. Membuat struktur signage lebih baik dengan meminimalkan petunjuk arah terlebih kepada hubungannya dengan arah lalu lintas dan kontrol.

Pencahayaan buatan
Pencahayaan buatan biasanya dibuat untuk menerangi jalan namun tidak hanya itu juga bisa membuat kota leb ih cantik. Pencahayaan sebaiknya dibuat dengan skala yang tepat misalnya berapa titik yang diperlukan dan berapa kuat pencahayaannya. Pencahayaan yang baik tidak terlalu terang dan juga tidak terlalu gelap. Pencahayaan buatan untuk jalan bisa dibuat dengan menempatkan lampu lampu jalan, kadang kadang bisa ditempelkan pada bangunan demikian juga sebagai lampu untuk memberikan pencahayaan pada bangunan sehingga tampil lebih estetik dan memiliki bentuk yang lebih tiga dimensional. Hal ini akan meningkatkan persepsi terhadap tempat dan secara dramatis akan meningkatkan kesan landscape pada malam hari.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Koneksi dalam Kota – Connections in City

astudioarchitect.com Artikel ini tentang salah satu konsep dalam desain urban (perkotaan) yaitu ‘koneksi’, menghubungkan antara satu titik dan titik lainnya, misalnya seperti dari stasiun kereta api ke terminal bis. Bisa juga dari terminal, stasiun dan bandara menuju ke landmark, pusat kota, dan titik-titik pusat lainnya. Di negeri kita hal  semacam ‘koneksi’ atau penghubung antar tempat ini seringkali belum terbangun dengan baik, bagaimana kita mencapai suatu lokasi menuju lokasi lainnya dengan berbagai alternatif.

Memaksimalkan area pejalan kaki dan pergerakannya akan membantu menciptakan lingkungan yang ramah untuk berjalan kaki.

This article is about one of the concepts in urban design (urban) ‘connection’, connecting between one point and another point, such as from train station to the bus terminal. It could also be from the terminal, the station and the airport to the landmark, downtown, and other central points. In our country such ‘connection’ or liaison between places are often not developed well, how do we reach other location with various alternatives.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 468×15, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "2860787264"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 15; //

Beberapa jenis alternatif ‘koneksi’ antar titik-titik situs dan lingkungannya antara lain:

Akses dan mobilitas
Bagaimana kita mencapai suatu lokasi dengan memanfaatkan sarana transportasi seperti busway, bis kota, kereta api, bandara dan bahkan pelabuhan.

Pejalan kaki
Perlu diberikan sarana pejalan kaki berupa trotoar sebagai sarana utama ‘koneksi’ untuk pejalan kaki, disetiap sisi jalan terutama di jalan besar, dan tidak digunakan untuk kepentingan lain seperti berjualan atau motor yang masuk ke trotoar. Pejalan kaki juga perlu diberikan sarana berupa tempat beristirahat pejalan kaki, yang akan mendukung konsep kota yang sehat, misalnya seperti alun-alun besar, alun-alun kecil, taman kota, shelter, dan sebagainya. Semakin banyak pejalan kaki maka sarana yang dibutuhkan juga seharusnya makin lengkap, agar makin banyak orang memilih untuk berjalan kaki dan tidak menambah kendaraan bermotor.

Pengendara Sepeda
Pengendara sepeda memerlukan jalur khusus untuk membedakannya dari jalur mobil dan motor, sehingga menjadi aman dan nyaman bagi pengendara sepeda. Semakin banyak orang menggunakan sepeda, maka akan semakin sehat sebuah kota, jumlahnya memperlihatkan tingkat kesehatan sebuah kota. Saat orang merasa nyaman dan aman memakai sepeda, maka makin menjadi tren dan kota makin berkurang polusinya.

Transportasi publik
Memerlukan perhatian dan perancangan yang menyeluruh, sehingga tidak terjadi area yang tidak terjangkau oleh transportasi publik. Macam transportasi publik adalah bis, kereta api, dan lain-lain. Semakin baik penataan dan ketersediaan transportasi publik, akan makin menyehatkan sebuah kota.

Kendaraan pribadi
Untuk konsep kota yang sehat, perlu dibatasi jumlah kendaraan pribadi, dengan cara menaikkan pajak kendaraan dan tidak memberikan keistimewaan untuk kendaraan pribadi melebihi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Hal ini untuk mendukung sebuah konsep kota yang sehat, namun memerlukan perencanaan yang matang dari awal, bukan hanya sebuah upaya untuk ‘mengobati’ kota yang sakit.

Jalan layang
Diperlukan sebagai sarana untuk mengalirkan kendaraan tanpa harus bertemu di satu titik pertemuan, sangat diperlukan untuk jalan-jalan dikota besar sebagai solusi mencegah kemacetan.

Pengaturan kendaraan
Meliputi penyediaan lahan parkir yang cukup luas untuk berbagai kendaraan, disesuaikan dengan area dan lingkup yang dilayaninya, misalnya pembangunan sebuah gedung harus disertai dengan pengaturan tempat parkir yang cukup untuk seluruh gedung, demikian juga dengan taman kota, pusat perbelanjaan, landmark, dan sebagainya. Pengaturan ini juga menyangkut pengelolaan kendaraan seperti pengelolaan tempat parkir dari segi manajemen sumber daya manusianya. Jenis pengaturan lain adalah manajemen lalu lintas, merupakan pengaturan jalan raya dengan rambu-rambu lalu lintasnya.

<!– google_ad_client = "pub-6839243879103232"; /* astudio post 200×200, created 20/05/10 */ google_ad_slot = "3926784136"; google_ad_width = 200; google_ad_height = 200; //
Analisa kontekstual yang akan menyediakan dasar untuk merencanakan ‘koneksi’ dalam sebuah kota menyangkut berbagai hal yang harus diwujudkan:
– bagaimana rute dari satu tempat ke tempat lainnya berhubungan dan punya koneksi dengan infrastruktur yang ada berupa jalan, gedung dan fasilitas lainnya.
– Pemikiran tentang bagaimana menyediakan sarana untuk semua pengguna baik pejalan kaki, pengendara sepeda, motor, mobil dan kereta, tanpa harus mengorbankan salah satu elemen pengguna ini. Misalnya: pemikiran bagaimana pengendara sepeda tidak dikalahkan oleh pengendara mobil, merupakan aspek pemikiran yang lebih adil.
– Bagaimana setiap bangunan yang baru dibangun akan memberikan kontribusi bagi lingkungan secara keseluruhan, misalnya setiap ruko atau gedung baru harus membangun landscape depan dan mempertahankan drainase. Ini dapat dicapai melalui peraturan Pemda yang didukung kuat.
– Bagaimana pergerakan pejalan kaki, pengendara sepeda, motor, mobil dan sebagainya dapat tetap dipertahankan meskipun terdapat perubahan-perubahan dalam pembangunan berkelanjutan.
Untuk mengintegrasikan akses dari satu tempat ketempat lainnya, diperlukan analisa titik akses dan penghubung dari pergerakan pengguna dan infrastrukturnya. Dalam hal ini, pertama harus diperhatikan adalah bagaimana orang bergerak melalui sebuah area baik dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun berkendara, untuk menentukan berbagai fasilitas yang harus dibuat. Ini bukan merupakan sebuah konsep yang umum namun lebih kepada konsep yang lebih sensitif terhadap kebutuhan masyarakat.
Bagaimana merencanakan ‘koneksi’ dalam suatu lingkungan?
Diperlukan banyak pertimbangan, peran pemerintah, maupun masyarakat sekitar sebagai berikut:
Lokasi
Bagaimana lokasi yang ada, misalnya sebuah area merupakan area dengan banyak pekerja, atau pelajar, atau kota tua. Beberapa area khusus seperti area dengan banyak pelajar ditemukan disekitar kampus universitas. Area lain seperti area perdagangan dan hiburan juga memerlukan perhatian khusus seputar ke-khasan daerah tersebut. Lokasi seperti pasar memerlukan perencanaan matang yang sebaiknya menjadi desain yang meningkatkan kualitas lokasi, bukan ‘sekedarnya’.
Desainer/Arsitek/Perencana Wilayah
Bertugas untuk merencanakan kota dengan memperhatikan lokasi dan variabelnya untuk menghasilkan sintesa berupa perencanaan kota yang berwawasan lingkungan.
Developer
merupakan pihak yang ditunjuk untuk membangun ‘koneksi’ sesuai dengan peraturan daerah.
Luas Area
Berkaitan dengan lokasi, jumlah perencana dan developer.
Tingkat hunian (density)
berapa penghuni atau pengguna yang menggunakan area untuk aktivitas, merupakan jumlah masyarakat yang tinggal di area tersebut dan yang menggunakannya.
Detail
Dalam desain perlu diperhatikan beberapa hal seperti:
– kualitas bangunan dan sarana ‘koneksi’ yang dibangun
– ketinggian bangunan, sempadan dan tata massa akan menyangkut peraturan daerah misalnya GSB
– Penggunaan material yang dapat meningkatkan sensibilitas pengguna (meningkatkan keindahan) seperti batu alam untuk penahan longsor, pemilihan paving block, railing, dan sebagainya yang secara umum dapat meningkatkan kualitas dan sensibilitas sarana kota. Secara tidak langsung akan memberikan citra yang pantas dikenang oleh penggunanya.
– bangunan tidak mengganggu, demikian pula kendaraan tidak menganggu pejalan kaki dan pengendara sepeda.
– akses seperti trotoar dibangun untuk menyediakan sarana pejalan kaki menuju lokasi atau tempat yang sering dikunjungi seperti toko kelontong, apotek, dan taman lokal, yang secara umum menambahkan vitalitas dan viabilitas sebuah pusat kota.
– Desain lebih memperhatikan bagaimana kesan saat melalui bangunan dan berbagai sarana ‘koneksi’ yang mengekspresikan citarasa sebuah area lokal.
– Desain lingkungan memperhatikan aliran kendaraan dan meminimalkan dampaknya terhadap pejalan kaki dan pengendara sepeda.
– Kualitas area lokal ditunjang oleh penyediaan sarana seperti tempat sampah, halte, tiang lampu berdekorasi, furniture outdoor, dan sebagainya.
‘Koneksi’ merupakan suatu aspek menyeluruh yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan, sangat bermanfaat untuk dijadikan pedoman pembangunan baik oleh pemerintah daerah dan masyarakat yang akan membangun.

English Version:

Some types of alternative ‘connection’ between the dots and the environment:

Access and mobility
How do we reach a location by using means of transport such as busways, buses, trains, airports and even a port.

Pedestrian
Pedestrian facilities should be provided in the form of sidewalks as a major means ‘connection’ for pedestrians, every side street, especially in a big way, and is not used for other purposes such as selling or bike into the curb. Pedestrians also need to be given the means hikers resting place, which would support the concept of a healthy city, such as the large square, small square, parks, shelters, and so on. The more the pedestrian facilities required should also be more complete, so that more and more people choose to walk away and not add vehicles.

Cyclist
Cyclists need a special line to distinguish it from the path of cars and motorcycles, making it safe and convenient for cyclists. More and more people use bikes, the more healthy a city, the numbers show the health of a city. When people feel comfortable and safe to wear a bicycle, the city is increasingly becoming the trend and the less pollution.

Public Transport
Require attention and comprehensive design, so there is no area that is not covered by public transport. Kinds of public transport are buses, trains, and others. The better arrangement and availability of public transportation, the more healthy a city.

Private vehicles
For a healthy city concept, should be limited to the number of private vehicles, by raising taxes on the vehicle and does not give privileges to private vehicles exceeding pedestrians and cyclists. This is to support a healthy city concept, but it requires careful planning from the beginning, not just an attempt to ‘cure’ sick city.

Interchanges
Necessary as a means to drain the vehicle without having to meet in one point of contact, it is necessary for the city streets as a solution to prevent congestion.

Traffic management
Parking provision covers a pretty broad range of vehicles, adapted to the area and scope it serves, such as the construction of a building shall be accompanied by ample parking arrangements for the entire building, as well as parks, shopping malls, landmarks, and so on. This arrangement also involves the management of vehicles such as the management of the car park in terms of human resource management. Another type of arrangement is traffic management, is setting a highway with traffic signs.

Contextual analysis that will provide the basis for planning a ‘connection’ in a city of the different things that have to be realized:
– How to route from one place to other related and connected to existing infrastructure such as roads, buildings and other facilities.
– Thoughts on how to provide a means for all users both pedestrians, bicycles, motorcycles, cars and trains, without having to sacrifice one element to this user. For example: the idea of ​​how cyclists are not defeated by the driver of the car, an aspect that is more just thinking.
– How each newly constructed building will contribute to the overall environment, such as every shop or a new building to build and maintain drainage front landscape. This can be achieved through strong-backed government regulations.
– How is the movement of pedestrians, bicycles, motorcycles, cars and so on can be maintained despite changes in sustainable development.

To integrate access from one city to another, the analysis required access points and bridges of the movement of users and infrastructure. In this case, the first to be aware of is how people move through an area either by foot, bike, or drive, to determine which facilities should be made. This is not a common concept, but rather the concept is more sensitive to the needs of the community.

How to plan a ‘connection’ in an environment?
Required much deliberation, the role of government, and the communities as follows:

Location
How can existing location, such an area is an area with many workers, or students, or old town. Some specific areas such as areas with many students found around the university campus. Other areas such as trade and entertainment area also requires special attention around the Khasan area. Locations such as the market requires careful planning should be a design that improves the quality of the location, not the ‘modest’.

Designers / Architects / Planners Region
Tasked to plan the city with respect to location and variables to produce a synthesis in the form of environmentally sound urban planning.

Developer
is a party designated to establish a ‘connection’ in accordance with local regulations.

Site area
With regard to the location, number of planners and developers.

The occupancy (density)
number of occupants or users who use the area for the event, a number of people who live in the area and is using it.

Details
In the design to note a few things such as:
– Quality of construction and means ‘connection’ built
– Height of buildings, borders and layout of local regulations regarding the masses as GSB
– The use of materials that can enhance the user’s sensibility (enhance beauty) like natural stone for retaining landslide election of block paving, railings, etc., that generally means improving the quality and sensibility of the city. Will indirectly provide an appropriate image remembered by users.
– The building is not intrusive, so the vehicle does not disturb pedestrians and cyclists.
– Access such as sidewalks constructed to provide pedestrian facilities to the location or place frequented such as grocery stores, pharmacies, and local parks, which generally adds vitality and viability of the town center.
– Design more attention to how the current impression through the building and means ‘connection’ that expresses the flavor of the local area.
– Design of the attention to the flow of vehicles and minimize the impact on pedestrians and cyclists.
– Quality of the local area is supported by the provision of facilities such as garbage cans, bus stops, lampposts decorated, outdoor furniture, and so on.

‘Connections’ is an aspect that can improve the overall quality of the environment, it is very useful to be used to guide the development of both the local government and communities will build.

______________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2012 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Gaya arsitektur modern di Indonesia

diposting di http://www.astudio.id.or.id pada Mar 2006


Arsitektur modern tidak mengalami perkembangannya di Indonesia, karena sebagaimana gaya arsitektur lain yang diimpor dari negara-negara barat, gaya ini masuk ke Indonesia sebagai pengaruh globalisasi. Gaya arsitektur modern muncul sebagai gaya internasional yang cukup memiliki kemiripan di semua tempat, semua negara. Setidaknya, gaya modern tetap mengusung fungsi ruang sebagai titik awal desain. Di Indonesia, gaya modern dipandang sebagai gaya dimana fungsi ruang juga merupakan titik awal desain.

Modern architecture in Indonesia doesn’t have its develpoment in the country. As other architectural style that is imported from the western countries, This style coming to Indonesia because of influence of globalization the modern architecture style developed as an international style that has similar appearance and concept in all coutries. At least modern style keep having a similarity that function as the beginning of design. In Indonesia, modern style is considered as a style where functionality is also the beginning of design






Gaya modern adalah gaya yang simple, bersih, fungsional, stylish, trendy, up-to-date yang berkaitan dengan gaya hidup modern yang sedang berkembang pesat. Gaya hidup modern ditopang oleh kemajuan teknologi, dimana banyak hal yang sebelumnya tidak bisa dibuat dan didapatkan menjadi tersedia bagi banyak orang.

Dalam gaya hidup modern, masyarakat didalamnya cenderung menyukai hal-hal yang mudah dan cepat, karena berbagai alat dibuat secara industrial untuk kemudahan manusia. Sifat dasar gaya hidup modern adalah tuntutan untuk bergerak dan melakukan segala sesuatu dengan lebih cepat, yang didukung oleh teknologi dan industrialisasi. Teknologi dikembangkan untuk membuat pekerjaan dan kehidupan sehari-hari lebih cepat dan mudah, misalnya perkembangan teknologi informasi yang memudahkan manusia berkomunikasi menggunakan alat semacam telepon dan komputer.


The modern design has a character of a simple style, clean, functional, stylish, trendy up to date, and have a connection with modern lifestyle . The modern lifestyle is supported by development of technology, whereas many things that were not applicable or available become more availabe for many people.

In the modern lifestyle, the society seems to like things that are easier and quicker because of many tools are made industrially. The basic character of modern lifestyle is a demand to move faster, and do everything faster, that is supported by technology and industrialization.

Technology is developed to make work and daily life easier like the development of information technology that enable people to communicate using devices like telephones and computers.



Kualitas dan kecepatan menjadi hal yang penting dalam gaya hidup modern, sehingga terdapat kecenderungan untuk melihat nilai benda-benda berdasarkan besar fungsi atau banyaknya fungsi benda tersebut, serta berdasarkan kesesuaiannya dengan gaya hidup yang menuntut serba cepat, mudah dan fungsional.

Dalam arsitektur, gaya hidup modern berimbas kepada keinginan untuk memiliki bangunan yang simple, bersih dan fungsional, sebagai simbol dari semangat modern. Namun, gaya hidup semacam ini hanya dimiliki oleh sebagian masyarakat saja, terutama yang berada di kota besar, dimana kehidupan menuntut gaya hidup yang lebih cepat, fungsional dan efisien.

Di Indonesia, gaya modern yang diterapkan terkadang masih memiliki unsur-unsur estetika yang diusung dari gaya klasik ataupun etnik, sedangkan sebagian lagi telah memenuhi kaidah desain modern murni. Masih sering didengar istilah arsitektur klasik modern, arsitektur modern etnik, arsitektur tradisional modern, arsitektur bali modern, dan sebagainya. Di Indonesia, terdapat kecenderungan untuk memasukkan unsur tradisi ornamen yang menjadikannya sebuah kategori arsitektur yang ambigu, apakah modern, ataukah postmodern?

Untuk menyebut gaya modern yang berornamen tersebut sebagai gaya modern murni bukanlah hal yang tepat, lagipula proses berkembang gaya ini tidak terjadi di Indonesia. Untuk menyebutnya sebagai gaya postmodern, apalagi, di Indonesia bahkan istilah ini cenderung dihindari untuk menghindari ketidak-fahaman masyarakat. Sehingga gaya arsitektur modern di Indonesia akan muncul sebagai gaya khas “Modern Indonesia” dengan karakter sebagai berikut:

q Memiliki perhatian yang besar terhadap fungsi ruang, yang didapatkan dari pola aktivitas penghuni
q Memiliki perhatian yang besar terhadap material bangunan yang digunakan untuk mendapatkan hasil akhir (estetika) yang diinginkan
q Memiliki analogi mesin dalam penataan dan pengembangan ruang-ruang
q Menghindari ornamen (bila murni gaya modern), atau menggunakan ornamen (bila postmodern, atau diberi embel-embel semacam: arsitektur modern etnik, arsitektur modern Bali, dan sebagainya)
q Penyederhanaan bentuk dan ornamentasi dan penghilangan detail yang ‘tidak diperlukan’ sejauh keinginan desainer (atau pemilik bangunan)



Quality and speed have become important factors in modern lifestyle. There is an intention to see the value of devices based on the function value or how many function that a device has, and based on its support to modern lifestyle that demand easier and fuctional devices.

In architecture, the modern lifestyle has its impact to the will to own simple building, clean, and functional as a symbol of modern spirit. But this kind of lifestyle (in Indonesia) can only be owned only by high class, especially they who live in big cities, where life demands faster lifestyle, functional and efficient.

In Indonesia, modern lifestyle that is implemented sometimes still has aesthetic ornaments that is brought from classic or ethnic style, while other parts of the building is designed in pure modern design. It is often for us to hear ‘modern classical architecture’, ‘ethnic modern architecture’, ‘modern traditional architecture’, ‘modern Balinese architecture’, etc. In Indonesia, it seeems to be obvious that ornaments is still implemented in modern design, but this will make this kind of architecture to be ‘blurr’, whether it is modern or postmodern?

To call this modern architecture style that has ornaments as pure modern style, is not appropriate, beside the process of development of this kind is not happening in Indonesia. To call this as postmodern style, nonetheless, in Indonesia this term is often avoided to anticipate a misunderstanding in society. So this ‘modern’ architecture style in Indonesia will appear as ‘Indonesian modern architecture style’ with characters as follows:

  • It pays big attention to function, based on the activity pattern of the dweller or user
  • It has a big attention to building materials that are used to bring the desired aesthetic
  • It has the analogy of machine in the arrangement and development of space
  • It avoid ornaments (if it is modern style), or use ornaments (if postmodern), or being called ‘modern ethnic architecture’, ‘modern Balinese architecture’, etc.
  • It simple shape and ornamentation or vanishing ‘unnecesssary’d details as far as desired by the designer or the owner of the building


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.